Chapter 1

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuhina and other slight

Warning : OOC, Typo, dll

Memories

.

.

2 tahun kemudian…

Cklek..

"Sasuke, apa yang kau lakukan?"

Gadis itu,~ Seira~ begitu ia menyebutnya, memasukkan setengah badannya ke sebuah ruangan dan membiarkan kakinya diluar pintu. Itu adalah kamar Sasuke. Kamar laki-laki yang sudah setahun ini mengisi kekosongan hatinya. Apa tidak salah setahun? Ya, memang baru setahun lalu ia menyadari perasaannya.

"Hn" hanya itu jawaban yang keluar. Sebenarnya lebih mirip dengan 'menggumam' dari pada menjawab. Bagaimanapun juga gadis dengan surai indigo itu sudah terbiasa dengan hal itu. Selama setahun ini ia sudah mengenal betul karakter pujaan hatinya. Dingin. Datar. Tidak berperasaan. Tapi entah bagaimana Seira menyukainya.

Tanpa meminta izin dari empunya kamar, ia langsung melongos masuk begitu saja dan menjatuhkan dirinya dikasur empuk milik Sasuke. Ia memandang langit-langit kamar, membentangkan tangannya.

Dan Sasuke? Ia tidak beranjak dari posisinya di meja kerja. Ia masih tetap menatap layar laptop yang ada di depannya. Dengan kacamata tanpa bingkai yang dipakainya, sungguh malah menambah kesan ketampanannya. Ia tidak menghiraukan Seira.

"Apa kau tidak bosan? Apa kau tidak lelah? Seharian kau hanya berada di kamar dan terus bekerja!" Seira membuka suara dengan nada agak kesal.

"…"

"Kau tidak pernah mempedulikanku"

"…"

Sasuke menghentikan kegiatannya. Ia melepaskan kacamata yang sedari tadi ia pakai dan meletakkan tangan kirinya untuk menopang dagu. Ia memandang gadis 18 tahun itu.

"Jadi…Apa yang kau inginkan?" Sasuke menghela nafas menghadapi Seira yang seperti ini. Ia tahu kalau sudah seperti ini, ia pasti menginginkan sesuatu.

Seira tersenyum menang lalu segera bangkit.

"Ayo kita berlibur! Sudah lama sejak terakhir kali kita jalan-jalan. Tenangkan pikiranmu dan ayo pergi jalan-jalan. Belakangan ini kau selalu sibuk bekerja. Ayolah, kita ini masih muda. Kita baru saja merayakan kelulusan kita." Seira harap-harap cemas dengan wajah puppy eyes.

Kenyataannya memang benar baru dua bulan lalu mereka lulus dari Konoha Senior High. Setelah kelulusannya, Sasuke lebih memilih untuk mengurus perusahaan selama masa liburan. Ia ingin melakukannya sebelum kuliah bisnisnya dimulai. Seira? Sasuke melarangnya kuliah dengan alasan kesehatan. Alhasil Seira menangis setelahnya. Tetapi Sasuke berjanji untuk memperbolehkannya kuliah tahun depan.

'Sial' umpat Sasuke dalam hati. Kalau sudah begini ia tidak bisa menolaknya. Sasuke memang keras, tapi ia tidak pernah berhasil menolak permintaan gadis itu.

"Tidak" Sepertinya Sasuke sedang badmood.

"Tapi kenapa?"

"Aku bilang tidak." Terdengar penekanan pada setiap katanya. Sasuke kembali menatap layarnya dan kembali mengetik.

"Kau tahu kan? Aku tidak suka dibantah." Jelasnya.

"Baiklah" jawab Seira dengan suara lirih yang bahkan hampir hilang. Ia berjalan keluar dengan wajah murung. Ia benar-benar kecewa. Ia hanya ingin Sasuke istirahat dan melupakan pekerjaannya sejenak. Belakangan ini Sasuke tampak seperti workaholic. Ia bekerja tanpa mengenal waktu. Sejak saat itu. Sejak Kakashi, salah satu karyawan kepercayaan Sasuke datang kerumahnya dan membicarakan sesuatu beberapa waktu yang lalu. Seira tidak tahu apa itu, yang jelas itu membuat Sasuke-nya jadi gila kerja.

Sejak kelulusan memang Sasuke sudah memutuskan untuk mengisi liburannya dengan mengurus bisnis keluarga. Tapi ini tidak benar sejak 3 minggu lalu! Biasanya Sasuke hanya akan bekerja beberapa jam saja dalam sehari. Setelah itu menemani Seira. Tapi sekarang ia bahkan tidak pernah keluar dari kamarnya. Tahukah kau Sasuke? Itu membuatnya sangat sedih.

Flashback On

3 minggu yang lalu…

Kediaman Sasuke…

.

"Apa kau yakin?"

"Tentu saja, Tuan. Mereka kembali memulai aksi curangnya. Setelah bertahun-tahun tidak ada kabar. Mereka benar-benar berambisi kali ini. Tidak seperti sebelumnya, mereka berani menyerang kita habis-habisan. Tentunya dengan cara kotor. Mereka berusaha menjatuhkan Uchiha Corp lagi." terang pria bermasker dengan rambut perak itu, Kakashi yang menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Sasuke di Uchiha Corp.

Kakashi pulalah yang merawatnya semenjak kejadian itu. Kejadian yang merenggut nyawa kedua orang tuanya 7 tahun lalu. Kakak pertamanya, Itachi pergi keluar negeri dan belajar disana. Ia tidak menetap disuatu tempat. Karena selain belajar, Itachi juga mengurus cabang perusahaannya di luar negeri. Dan tentunya ada alasan lain kenapa ia kesana. Alasan yang menyangkut kematian kedua orang tuanya. Itachi menitipkan sasuke pada Kakashi di Konoha. Ia tidak mau adik kesayangannya terlibat dalam misi berbahayanya.

"Apa yang akan Anda lakukan, Tuan Sasuke?"

"Singkirkan mereka. Aku tidak suka pengganggu. Aku ingin melakukan ini sejak lama. Aku rasa inilah saatnya."

"Baik, Tuan.."

"dan… Tuan! Kenapa Anda tidak menyuruhnya pulang dan meminta bantuannya saja?

"Maksudmu si brengsek itu?"

"Ya, maksud saya Tuan S-.."

"Tidak! Jangan menyebutkan namanya! Aku benar-benar muak dengan si gila itu. Dan aku tidak akan pernah mau meminta bantuannya lebih dulu!" sasuke menjawab dengan ketus. Dia memang agak sensitif kalau menyangkut orang itu.

"Astaga Kakashi! Kau jadi mengingatkanku pada senyumannya yang menjijikkan itu!" Tambahnya.

"…" mendengar jawaban atasannya, Kakashi sedikit menyunggingkan senyum dibalik maskernya. Menggelikan melihat Sasuke yang seperti ini. Dia sudah hafal watak Sasuke. Baginya, Sasuke bukanlah orang yang berkepribadian dingin dan tidak berperasaan seperti yang orang-orang pikir, ia merasa sifat dingin Sasuke hanyalah tameng dari dalam dirinya yang rapuh. Bagaimanapun juga Sasuke tetaplah masih anak remaja biasa. Dan tidak seharusnya di usianya, ia menopang tugas seberat ini.

'Kau memang tidak berubah, Sasuke. Kau masih tetap sama seperti anak kecil yang aku temui dulu.' Kata Kakashi dalam hati.

Flashback Off

.

.

Tak tak tak tak.

Suara ketikan menggema dalam ruangan yang cukup besar ini. Mewah. Mungkin ini kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Yah, memang bisa dibilang tidak ada barang murah di mansion Uchiha. Kamar dengan nuansa dark blue. Dihiasi dengan ornamen klasik. Sebuah ranjang king size dan di seberangnya terdapat jendela besar dengan gorden yang berwarna biru dongker pula. Sepertinya pemiliknya memang pecinta biru.

Dan ternyata pemiliknya sedang berada di sudut kamar. Tepatnya ia sedang berada di meja kerjanya. Ia tidak tampak baik-baik saja.

Tak taak t-tak. Ia menghentikan aksi mengetiknya.

'Apa yang kau mau sebenarnya Hinata? Kau tahu aku tidak bisa menolakmu.'

TBC

Maaf sebelumya para readers, karena mungkin saya belum banyak menampilkan Hinata. Untuk chap awal saya ingin lebih menceritakan Sasuke. Dan saya cuma pengen alurnya nggak kecepetan aja. Saya newbie dan ini fic pertama saya. Mohon dimaklumi untuk kesalahan" yang mungkin saya buat. Terima kasih sudah membaca. Jangan bosan-bosan ya :D