Maaf, Terima kasih, Cinta

"Oh astaga, mereka berdua benar-benar keterlaluan! Dasar! Masa hari bahagia seperti ini disembunyikan? Mereka pikir kita ini siapa?!"

"Sa-sakura, sshhh!"

"Ohhhh! Astaga! Awas saja si bodoh itu!"

Kegaduhan disalah satu sudut tempat itu menyita perhatian beberapa tamu undangan. Membuat salah satu gadis yang terpaksa meladeni omongan gila sahabatnya semakin menunduk malu karena beberapa tatapan intens terarah padanya. Apa yang mereka lakukan? Mungkin itu lah sebagian pemikiran pemilik beberapa pasang mata itu.

"Astaga! Bagaimana mungkin! Ini membuatku gila!"

"Ya! Kau gila. Jadi diamlah! Aku tidak ingin terlibat lebih dalam lagi pada kegilaanmu!"

"Hei!"

"Ck! Berhentilah bersikap heboh hanya karena hal yang sudah sewajarnya Sakura?"

Lagi, gadis yang mencoba menutupi wajahnya itu berujar gusar. Siapa yang tidak akan gusar jika kau berada diposisinya. Maka, orang itu pasti sama gilanya dengan perempuan yang masih juga bergumam 'astaga' di hadapannya.

Hinata, gadis yang menunduk malu itu, mulai jengah dengan tingkah ababil sahabatnya. Ia terpaksa menyeret gadis yang kala itu mengenakan terusan berwarna biru dengan corak polkadot itu untuk menyingkir dari sana. Bayangkan saja, ia disuguhi oleh berbagai racauan antah berantah begitu tangannya ingin mengambil segelas minuman berwarna ungu. Jengah, tentu saja. Kesal, apalagi. Jadi, dengan seluruh kemampuan bela diri yang pernah dipelajarinya saat masih high school ia menggeret lengan sahabat berambut pink-nya kasar. Membawanya menyingkir dari beberapa pasang mata yang masih saja menatapnya dengan pemikiran yang bisa ditaksir sama sekali tak berubah.

"Apa yang kau lakukan?!", bentak sahabatnya marah.

"Menurutmu?"

"Gah! Kau menyebalkan Hinata!"

"Kau lebih menyebalkan Sakura!"

Dan gadis berambut pink dengan pakaian terusan berwarna biru bercorak polkadot, yang diketahui bernama Sakura, hanya menggembungkan pipinya. Kesal dengan sikap Hinata yang dengan seenak udelnya, menyeret ia yang saat itu sedang mengambil makanan.

Tidak lama berselang. Setelah acara saling melempar ejekan 'menyebalkan', datang lagi satu perempuan yang sama hebohnya dengan Sakura. Yamanaka Ino namanya. Gadis yang dikenal Hinata dengan sangat baik, karena keahliannya membeberkan segala jenis informasi. Mulai dari issue sampai fakta mendalam, alias tukang gosip. Yamanaka Ino datang dengan pemuda berparas pucat yang langsung ia tinggalkan begitu matanya menangkap dua sahabatnya tengah menggembungkan pipi berjamaah.

"Sakura! Hinata!"

Ditambah dengan lambaian tangan yang kelewat semangat, suara cemprengnya sukses menarik perhatian beberapa orang. Kali ini malah lebih banyak. Gadis itu berlari kecil menghampiri Sakura dan Hinata. Berbeda dengan Hinata yang hanya menepuk jidat, Sakura membalas lambaian tangan Ino dengan sama semangatnya. Membuat beberapa orang yang seharusnya tak memperhatikan mereka lagi malah melirik dengan tanda tanya yang lebih besar.

'Aku harap tidak akan terjadi masalah disini. Yare-yare!', batin Hinata gusar.

"Kukira kalian tidak akan datang", kalimat Ino mengalir bersamaan dengan hela nafas akibat kelewat semangat saat menghampiri Hinata dan Sakura. Ia asal comot minuman yang masih digenggam Hinata. Membuat pemiliknya berteriak tak kalah nyaring dari dua wanita yang semula dianggapnya menarik perhatian.

"Aku langsung datang kemari begitu jam jagaku selesai. Hari ini aku pulang lebih sore dari biasanya. Dan lihat saking tergesanya, aku bahkan tak merapikan make-up-ku". Sakura menunjukkan wajah putihnya pada Ino. Memang benar kalau ia tidak sempat membenahi riasannya. Alhasil, gurat lelah setelah bekerja di rumah sakit masih terpantul dari wajahnya.

"Nice! Kau masih tetap cantik Sakura. Yah, walaupun jidatmu masih lebar sejak terakhir kita bertemu. Hahaha...". Tawa yang sangat merdu. Mendecakkan beberapa orang yang masih juga mencuri-curi pandang pada tiga gadis disana. "Kau sendiri, bagaimana Hinata?"

"Aku terbang dari Suna dua hari yang lalu. Satu hari setelah kau memberi informasi padaku tentang mereka", jawabnya sembari telunjuknya mengarah pada dua orang yang agak jauh dari mereka, yang masih setia dengan senyum bahagia. Hinata adalah satu-satunya gadis kalem dari mereka bertiga. Jadi jangan harap kalau ia akan menjawab heboh seperti bagaimana jawaban Sakura. "Kau?"

"Aku sudah disini sejak seminggu yang lalu. Karena itulah aku bisa dapat informasi ini", ucapnya bangga. Tak mengetahui kalau ada mimik wajah temannya yang berubah. Katanya menambahkan, "Hmm mereka itu, kalau ini kabar bahagia kenapa harus disembunyikan? Dasar pasangan bodoh", bersungut-sungut.

Hinata menghembus nafas maklum. Pada dua sosok yang masih saja bersalaman dengan beberapa tamu undangan. Terlihat juga Sai, laki-laki yang datang bersama Ino tadi. Ia sedikit bercengkerama sepertinya. Buktinya, meski gilirannya sudah tapi laki-laki itu masih berdiri disana. Entah apa yang mereka bicarakan. Sejenak Hinata ingin tahu. Tapi pikiran itu ditepisnya jauh-jauh, bukan saatnya bermuram durja ditengah acara yang membahagiakan ini. Baginya, kalaupun bukan dengannya sosok itu bahagia, maka pasti ada sosok lain yang bisa lebih membuatnya bahagia. Dan tentu saja, orang itu lah yang saat ini tengah bersanding dengannya disana.

"Ayo! Kita juga harus bergiliran memberinya pelajaran. Kita ini temannya kan?"

"Kau benar. Paling tidak satu jitakan di kepala Naruto. Dan dua cubitan di pipi Sasuke-kun. Kyaa... aku baru tahu kalau Sasuke-kun manis".

"Lihat wajah meronanya. Ohh astaga! Aku bahkan hampir berpikir, apa itu benar Sasuke?"

Obrolan ringan duo cerewet itu, menyentak lamunan Hinata. Ia tersenyum tipis, sebelum berbalik. Benar, Sasuke-kun sangat manis, kurasa dia memang cocok bersanding dengan Naruto-kun. Kembali hatinya bicara.

"Ayo Hinata! Kita tidak boleh ketinggalan momen ini!"

Sakura menarik tangannya. Sepertinya ia lebih dari siap untuk kembali bertemu dengan mantan calon suaminya. Hhhh masa lalu.

.

.

Flashback.

Enam bulan pasca sembuhnya Sasuke. Naruto datang ke kediaman Hyuuga guna bertemu dengan putri bangsawan tersebut. Disana, ia berlutut dihadapan Hinata yang enggan menolehkan wajahnya. Ia hiraukan aura kemarahan yang menguar dari Hiashi Hyuuga sejak kakinya menyentuh pelataran rumah bergaya tradisional itu.

"Gomen ne, Hinata-chan".

Hinata masih enggan menatap wajah menyedihkan Naruto. Ia terus-terusan terdiam dengan air mata yang menganak pinak mendengar penuturan Naruto.

"Gomen ne Hinata-chan. Aku tidak tahu berapa ratus kali lagi kata itu kuucapkan agar kau, mau memaafkanku. Ribuan bahkan puluhan ribu kali. Aku tidak peduli. Asal kau mau memafkanku. Aku tahu ini tak sebanding dengan apa yang pernah kuperbuat padamu".

Hinata tetap saja bergeming. Meski hatinya perlahan luluh mendengar pengakuan Naruto. Tapi karena rasa gengsi sebagai salah satu bangsawan terpandang membuat bibir tipisnya tak mampu mengucap kata 'aku memaafkanmu'. Tidak selama ia masih menyandang nama Hyuuga di belakang namanya. Setidaknya ia masih menjadi gadis berdarah biru yang menjunjung tinggi kehormatan keluarganya. Memafkan orang yang telah mencoreng arang di wajah Hyuuga tepat disaat hari pernikahan. Tentunya itu akan menjadi aib dan tak semudah itu dimaafkan.

"Kumohon Hinata-chan. Kalaupun kau tetap bersikeukeuh tak ingin memafkanku, setidaknya... jangan benci Sasuke. Jangan pernah membencinya".

Sasuke Uchiha. Hinata kenal siapa dia. Putra bungsu keluarga Uchiha yang bekerja di bawah pimpinan Namikaze Minato, ayah Naruto. Teman sedari kecil Naruto. Keluarga mereka bahkan sangatlah dekat, lebih dari kedekatan antara Hyuuga dan Namikaze. Pemuda yang membuat Naruto lari tunggang langgang demi bertemu dengannya. Pemuda yang dengan kejamnya menggunakan alasan kematian untuk membuat Naruto berbalik arah dari wajah ayunya. Tentunya itu tidak benar. Hinata tahu, kalau Sasuke memang sekarat saat itu. Tapi, lagi-lagi karena harga diri yang bersanding dengan nama Hyuuga lah yang membuatnya menjadi wanita egois. Wanita yang enggan mengakui, kalau ia telah kalah bermain cinta dengan seorang pemuda yang kastanya jauh dibawah nama Hyuuga.

"Jangan pernah membencinya. Jangan pernah membuatnya menanggung luka kebencian. Jangan pernah membuatnya merasa, kalau ia adalah alasan mengapa kita berpisah. Kumohon, jangan. Hinata-chan!"

Entah mengapa, melihat Naruto yang ia cintai sepenuh hati berlutut hanya demi memohon maaf untuk seseorang seperti Sasuke membuat hatinya berdenyut sakit. Apalagi kata-kata Naruto yang menambahinya, tambah membuatnya terpuruk tak berdaya.

"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri, seandainya melihatnya kembali tersakiti. Sudah cukup bagiku. Sungguh. Kejadian yang lalu sudah lebih dari cukup membuatku sadar bahwa Sasuke adalah orang yang amat berharga bagiku. Aku tidak ingin lagi membuat luka di hatinya karena kebodohanku. Kebodohan yang membuat hatiku tumpul sampai-sampai tak bisa merasakan cinta yang ia simpan sejak lama. Kebodohan yang membuatku buta dengan kondisinya yang hampir uh...".

Pada kalimat ini bahkan seorang Naruto, pemuda tegar nan ceria tak sanggup melanjutkannya. Lelaki itu bahkan sampai berurai air mata. Apakah seorang Sasuke begitu berarti baginya? Apakah seorang Sasuke yang hanya memiliki ekspresi dingin bisa membuatnya rela menjatuhkan harga diri di depan mata Hinata? Apakah...?

Hati Hinata semakin sakit. Sebegitu berharganyakah Sasuke bagi Naruto. Apa sekarang sudah tak ada ruang lagi banginya untuk menelusup masuk. Mencelahi hati Naruto dengan sosok dirinya. Walau sedikit saja, tidakkah ada?

Hinata benci, sangat benci menyadari dirinya telah kalah telak oleh Sasuke. Tak seharusnya wanita lemah lembut dengan senyum menawan sepertinya kalah. Apalagi kekuasaan ayahnya yang dia yakini dapat bersanding dengan nama Namikaze, marga Naruto. Tentunya akan menjadi sangat luar biasa. Tapi mengapa?

Sekali lagi, Hinata hanya dapat menyembunyikan manik antik miliknya. Menambah berliter-liter air mata membasahi pipi meronanya. Hinata sadar. Ia bukan lagi wanita yang dicintai Naruto. Ia akan mundur. Tapi bukan kalah atau mengalah. Semua ini karena ia adalah wanita Hyuuga, perempuan tangguh yang tidak akan lagi menagis karena kegagalan cintanya.

Dan kalimat yang sejak tadi ditunggu Naruto, akhirnya terucap bersamaan hembus nafas Hinata.

"Aku memaafkanmu, Naruto-kun".

Flashback end

.

.

Naruto cukup terkejut, melihat kedatangan mantan calon istrinya ke acara pernikahannya dengan Sasuke. Sudah susah-susah ia menyembunyikan kabar ini darinya, bagaimana gadis itu bisa tahu. Kemudian keterkejutannya bertambah, saat ada siluet berwarna merah muda dan pirang pucat yang ada di balik punggung Hinata. Mereka...

Pantas kalau Hinata bisa tahu pernikahannya dengan Sasuke. Yamanaka Ino. Sahabatnya yang paling pandai mencari informasi itu rupanya. Siapa lagi kalau bukan dia? Naruto sudah sangat tahu sepak terjang gadis itu. Entahlah, sepertinya ia tahu kenapa kabar ini bocor pada mereka. Mata birunya sontak melirik lelaki berwajah pucat yang masih setia mengajak bicara Sasuke. Ia yakin Ino melakukan sesuatu, sampai Sai yang dikenalnya sebagai pemuda yang tidak akan mudah mengatakan rahasia itu buka mulut.

"Yo, Naruto. Jangan menatap Sai begitu. Dia cukup berguna untuk kukelabui. Hihihi", kata Ino sedikit berteriak. Ia sudah hampir sampai di tempat Naruto. Seperti saat bertemu Sakura tadi, tangannya juga melambai semangat. Sedang Sakura langsung saja berlari kecil kearah Sasuke dan Sai. Ia menjerit membuat dua pemuda itu terkaget sambil membelalakan matanya.

"Jauh-jauh Sai! Kau merusak pemandangan saja!". Tangan Sakura berlagak mengusir Sai! Mata hijaunya mendelik galak pada pemuda itu yang masih berdiri di sebelah Sasuke.

"Hei!", Sai tidak terima. Sakura pikir dirinya apa? Dasar perempuan.

"Kyaa Sasuke-kun, astaga! Astaga! Astaga! Cubit pipiku Sai! Katakan ini bukan mimpi!". Sasuke berjengit. Pria itu tidak menyangka kalau Sakura masih semenyaramkan dulu ketika mereka berada di sekolah menengah yang sama. "Auch! Apa yang kau lakukan!". Jeritnya kemudian. Tangan Sai baru saja mencubit pipinya sesuai permintaan.

"Aku hanya melakukan apa yang kau minta Sakura", lelaki pucat itu menjawab santai. Wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.

"Itu hanya perumpaan! Kau tidak harus melakukannya!". Sakura yang menyuruhnya Sakura yang marah-marah. Sampai saat ini Sai tidak tahu bagaimana jalan pikir gadis ini.

Dasar orang aneh!

"Hai, Naruto-kun, Sasuke-kun", Hinata menyapa belakangan. Ia yang paling normal diantara ketiganya. Gadis itu juga sedikit banyak menarik perhatian beberapa pasang mata.

Naruto dan Sasuke sedikit salah tingkah. Disapa oleh Hinata sebegitu akrabnya, Sasuke tersenyum tipis, wajahnya merona malu. Naruto sendiri tidak menyangka Hinata akan datang padahal ia tahu kalau apa yang pernah diperbuatnya belumlah bisa dimaafkan. Meski dengan mulut Hinata sendiri, ia telah resmi dimaafkan. "H-hai, Hinata-chan."

Hinata tersenyum simpul. Tambahan lagi pukulan ringan di pundaknya. Naruto jadi semakin merasa sungkan. Mungkin bersalah pada gadis itu.

PLAKK

Sasuke, Sai, Ino dan Hinata membelalakan matanya. Mereka tidak menyangka kalau apa yang dikatakan Sakura benar-benar gadis itu lakukan. Suara geplakkan itu menggema. Naruto mengaduh sampai memegangi belakang kepalanya. Mendapat hadiah pernikahan sebuah telapak tangan yang mendarat di belakang kepalamu, tak pernah disangkanya. Rupanya gadis berambut merah muda itu belumlah berkurang tenaga kudanya.

"Apa yang kau lakukan Sakura!", jeritnya. Sumpah! Tadi itu benar-benar terasa dahsyatnya. Bagaimana seorang wanita bisa memiliki tenaga super seperti itu? Sasukenya saja tak pernah membuat kepala pirangnya nyut-nyutan saat memukulnya, padahal Sasuke itukan laki-laki.

"Idiot! Tentu saja memukul kepala pirangmu. Apalagi?"

"Bukan itu maksudku!"

Keempat orang disana bingung mau berbuat apa. Ikut campur sama saja cari perkara. Tidak ikut campur maka Naruto menderita. Mana yang mereka pilih? Tentu saja cari aman. Teman semasa SMA mereka satu ini terkenal sadis dan tak pandang bulu saat memukul orang.

"Hhhh", Sakura menghela nafas sebelum melanjutkan, "Kau sengaja menyembunyikannya ya! Kabar bahagia seperti ini tak seharusnya kau tutup-tutupi, Baka! Kau sengaja tak ingin menunjukkan kemanisan Sasuke pada orang lain ya!".

Dituduh begitu, Naruto tidak terima. Tapi untuk sekadar membalas kata-kata Sakura ia tidak bisa. Akibatnya, wajah tan itu memerah marah. Seperti hendak meledak.

"Mengakulah! Dasar idiot. Kau juga Sasuke-kun! Kau anggap kami ini apa, HAH! Untung Ino mengabari kami, kalau tidak? Muka zombinya kupastikan membiru dengan pukulanku", telunjuk Sakura mengarah tepat pada Sai. Sai berpikir salah apa dia?

Sasuke kikuk, Sai merinding disko. Mereka membatin, bagaimana wanita bertenaga kingkong ini mengatasi pasien di rumah sakit. Mengingat betapa mengerikannya ia saat marah. Bisa dipastikan si pasien langsung terkena serangan jantung jika tak mau minum obat. Dan keduanya sepakat untuk tidak memikirkannya lebih jauh.

"Dimana yang lainnya?". Hinata celingak-celinguk. Mencari empat pemuda lain yang biasanya menempel pada Naruto. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru, Kiba, Gaara dan juga Shino si maniak serangga.

"Mereka sibuk dengan makanan", Sasuke yang angkat bicara. Setelah sejak tadi terdiam. Suaranya lebih lembut dari biasanya, pancaran matanya penuh cinta dan menatap Hinata dengan banyak terima kasih. Hinata tentu tahu, untuk apa rasa terima kasih itu.

"Hinata... terima kasih", katanya kemudian. Lirih, sengaja agar tak didengar orang lain. Meski nyatanya Naruto mendengar itu. Lelaki yang kini resmi menjadi suami Sasuke itu tersenyum simpul. Ia menggiring Sakura, Ino dan Sai menjauh. Membiarkan Hinata dan Sasuke memulai obrolan privasi mereka.

"Untuk?"

"Semuanya. Terima kasih karena kau mau melepas Naruto."

Hinata tersenyum. Senyum khas keluarga bangsawan yang bisa meluluhkan hati pemuda manapun. "Kau tahu Sasuke-kun, apa yang membuatku akhirnya memilih untuk merelakan Naruto-kun?", diucapkannya dengan mata menerawang. Hinata menatap sosok Naruto yang masih bercengkerama dengan Ino, Sai dan juga Sakura, kali ini malah empat kawan lain Naruto ikut dalam pembicaraan absurd itu. "Kau."

Sasuke menoleh pada wanita yang masih saja menjatuhkan pandangannya pada sosok Naruto, gurat-gurat tanya terlihat sekali di wajah putihnya. Ia gagal paham dengan apa yang sudah dikatakan Hinata.

"Sudahlah. Lagipula, dua tahun sudah berlalu. Kurasa, saat ini pun aku sudah saatnya mencari lelaki lain yang pantas denganku. Bukan laki-laki bodoh berambut pirang yang bahkan tak mengerti kepada siapa hatinya berlabuh".

Sasuke tersenyum sangat tulus. Beban yang bercokol di hatinya terangkat sudah. Bayang-bayang rasa bersalah hilang tak berbekas setelah mendengar apa yang dituturkan Hinata. Hinata benar. Sudah dua tahun berlalu. Sudah saatnya membangun hidup yang baru. Hinata sudah melakukannya. Sekarang gilirannya, membangun biduk rumah tangga dengan Naruto. Seseorang yang akan dan selalu dicintai dan mencintainya. "Ya, kau benar. Sekali lagi, arigatou Hinata".

.

.

Pesta perayaan pernikahan itu sangat meriah. Banyak tamu undangan yang datang. Baik dari kolega keluarga Namikaze maupun Uchiha. Sasuke dan Naruto berdiri di panggung yang memang telah desediakan khusus untuk pengantin. Mereka terlihat sangat serasi dengan setelan putih-putih. Tidak sedikit dari para tamu yang memuji keserasian mereka berdua.

"Apa aku sudah mengatakan ini?". Naruto tiba-tiba berbisik di keramaian acara. Sasuke yang mendengarnya membalas dengan gumaman yang sama lirihnya. Dirinya masih setia tersenyum dan sesekali bersalaman dengan para tamu undangan. Teman-teman mereka, sudah pergi entah kemana. Mungkin mencari makanan mengingat bagaimana kebiasaan mereka saat SMA yang tak bisa jauh dari makanan lezat.

"Aku sangat mencintaimu, Sasuke".

Suara itu bergaung disekitarnya. Mengalahkan riuh rendah suara-suara para tamu undangan. Pipi Sasuke merona hebat. Matanya membola mendengar penuturan Naruto yang tepat melewati gendang telinganya. Sampai 'Cuup', sebuah kecupan mesra mendarat di pipi kiri Sasuke .

"Idiot! Aku juga mencintaimu, Naruto."

-silahkan tinggalkan pesan dan kesan-

.

.

*sekedar cuap-cuap:

Saya mengucapkan terimakasih atas apresiasi para readers. Saya bersyukur karena para readers menyukai karya saya #hiks... oh ya, fic ini hanya kumpulan oneshoot, sequel salah satu fic saya yang kemarin. Tapi takutnya malah gak nyambung. Jadi ya, di summary gak dicantumin kalau ini sequel. Tiap juga kayaknya gak nyambung, tapi masih saling berkaitan, tapi gak tahu juga(?), soalnya saya bingung ini pantes disebut sequel atau gak.

Hehehe... ya pokoknya kayak gitu lah. Sekali lagi makasih.