Title: The Time

Author: Besajoy

Disclaimer: The poster and the story belong to ME and the casts belong to GOD.

Genre: Romance, Friendship, AU, etc.

Rating: T

Cast:

Main cast:

Cho Kyuhyun (Namja)

Lee Sungmin (Yeoja)

Support cast: Find by yourself.

Summary: Ketika pertemuan antara Kyuhyun dengan Sungmin menjadi suatu malapetaka bagi keduanya, namun akankah anggapan itu akan berlaku untuk selamanya di kehidupan mereka?

Warning:

This is a genderswitch fanfiction that changes the uke's gender from "boy" to "girl". So if you don't like this kind of fanfiction, better you don't read this and then go away.

Important note: the characters have different age gaps with others in a few characters.


Kedua mata onyx milik Kyuhyun menyala-nyala saat melihat daftar hasil ulangan siswa di kelasnya yang diselenggarakan tempo hari. Ia tidak tahu mukanya harus ditaruh di mana saat melihat posisi namanya di sana. Hatinya mendidih saat tahu peringkatnya yang diperoleh pada ulangan kali ini.

Lagi-lagi ia dikalahkan oleh murid baru itu.

Ini tidak bisa dibiarkan, batin Kyuhyun yang kemarahannya sudah memuncak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi pada Sungmin. Meski yeoja itu memiliki wajah yang kadar imutnya di atas rata-rata, namun bagi Kyuhyun, Sungmin bagaikan hewan buas yang berbahaya. Bagaimana tidak? Sungmin baru saja menjadi murid di kelasnya—bahkan di sekolahnya—saat memasuki tahun ajaran baru yang dibuka belum lama ini, namun ia sudah dua kali mengalahkan Kyuhyun yang selama dua tahun menduduki peringkat satu paralel. Sebelumnya tidak ada yang bisa—bahkan saingannya terdahulu, walaupun hanya beda sangat tipis.

Sungmin yang baru saja memasuki kelas dikejutkan dengan kemunculan Kyuhyun di hadapannya, dan langsung mendorong tubuhnya ke belakang dengan kuat. Untung saja Sungmin tidak terjungkal. "Heh manusia sok imut! Rupanya kau benar-benar menantangku untuk menyaingiku, hah?!" teriak Kyuhyun.

"Apa maksudmu?" tanya Sungmin seraya menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak pernah menantangmu, Cho Kyuhyun si manusia sombong! Kau—"

Belum selesai Sungmin berkilah, Kyuhyun sudah kembali mendorongnya—bahkan kali ini lebih kuat. Akan tetapi Sungmin mampu memperkuat keseimbangan tubuhnya sehingga ia tak juga terjatuh. "Heh! Yang sombong itu kau! Dasar manusia sok pintar! Kau masih baru di sini tapi kau sudah macam-macam denganku! Kau masih belum apa-apanya denganku!"

"Macam-macam apa? Kau yang kasar terhadap yeoja, babo! Seenaknya main dorong orang!" seru Sungmin yang tak kalah pedasnya. Perdebatan panas diantara mereka berduapun sudah tak terelakkan lagi.

"Heh!—"

"Mwoya?!" bentak Sungmin yang tak membiarkan Kyuhyun untuk angkat suara kali ini. Dengan memasang gaya angkuhnya ia pun memelototkan matanya kepada namja itu seraya berkata lagi, "Dengar! Bukankah kau yang mengajakku waktu itu untuk bersaing, hah?! Lalu, bukankah di dalam persaingan itu pasti ada yang kalah dan ada yang menang? Jikalau aku menang dan kau kalah, itu memang hal yang wajar, bukan?! Begitupun sebaliknya. Dan faktalah yang akan memutuskan perkara ini, jadi mau tidak mau kita harus menerima—"

"Kau pikir aku bisa sepasrah itu, begitu?! Cih," kini giliran Kyuhyun yang memotong pembicaraan Sungmin. Ia pun semakin mengintimidasi Sungmin dengan mendekatinya seraya menyipitkan kedua matanya. "Aku tak sudi jika harus kalah denganmu, wahai anak baru! Jangan berpuas diri dulu kau, persaingan kita belum selesai! Kita lihat siapa yang akan menjadi sampah dan siapa yang akan jadi juaranya pada akhirnya!" desisnya.

Kyuhyun kemudian pergi berlalu darinya diiringi dengan nafas lega yang dihembuskan Sungmin. Sungmin lantas segera beranjak ke bangkunya untuk duduk, seraya menenangkan dirinya. Sejujurnya ia sangat tidak betah dengan situasi tadi. Ia merasa terpojokkan oleh seorang namja—oh ayolah, itu sangat menyebalkan! Apalagi sambil marah-marah. Baru menginjakkan kakinya di sekolah baru selama beberapa minggu saja ia sudah merasakan kerasnya dunia sekolahnya itu. Tidak disangka bagi dirinya, karena pada awalnya ia tidak menggambarkan alur kehidupannya dalam bersekolah di tempat ini sesuai dengan apa yang ia alami sekarang. Ia hanya ingin menikmati proses belajarnya tanpa diganggu oleh pihak manapun.

Namun ternyata, pertemuannya dengan Cho Kyuhyun telah merubah semua rencananya.

Entah apakah Kyuhyun memang keras kepala atau apa—tetapi pada awalnya Sungmin telah menolak ajakan Kyuhyun untuk bersaing dalam memperebutkan prestasi, dengan alasan ia memang tidak bertujuan untuk bersaing dalam menjalani karirnya sebagai pelajar—tetapi hanya untuk belajar. Dan Sungmin memang kebetulan sempat mengungguli Kyuhyun dalam perolehan nilai pertama yang diumumkan tidak lama sebelum ajakan Kyuhyun untuk bersaing dengannya lahir. Tetapi Kyuhyun tetap saja memaksa. Dan ketika Sungmin pada akhirnya menerimanya dengan alasan karena ia gerah atas sikap Kyuhyun yang seakan menyombongkan dirinya dengan mengatakan bahwa dirinya peringkat satu se-angkatan selama empat semester berturut-turut, Kyuhyun tetap saja protes akan hasil persaingan yang ia peroleh karena ia dalam posisi sebagai yang terkalahkan. Akhirnya caci-makianlah yang didapat. Padahal awalnya Kyuhyun sendirilah yang melahirkan adanya persaingan ini.

Sebenarnya, apa maumu? batin Sungmin seraya menarik nafas dalam-dalam, mendinginkan kepalanya kembali yang sempat panas karena menghadapi orang yang sangat menyebalkan menurutnya tadi.

—o0o—

Jari-jemari Kyuhyun sedari tadi asik menekan tombol-tombol pada PSP hitam miliknya. Ia sendiri pun saat ini tengah duduk di salah satu dari sekian kursi yang tersedia di ruang aula sekolah, bersama dengan teman-teman teaternya yang lain untuk menunggu sang ketua ekskul datang karena dialah yang biasanya memulai kegiatan. Para anggota sudah hadir semua di dalam ruangan ini—termasuk yang biasanya datang terlambat sekalipun termasuk Kyuhyun sendiri, dan seharusnya memang ekskul sudah dimulai sedari tadi, namun entah mengapa untuk pertemuan kali ini sang ketua sepertinya sedikit lalai dalam ketepatan waktu. Namun hal itu bukan merupakan masalah yang berarti bagi Kyuhyun, karena ia sendiri memiliki pekerjaan tersendiri selagi menunggu, jadi ia tak merasa bosan.

Tiba-tiba bunyi decitan pintu aula memekik, mengundang orang-orang yang ada di dalam ruangan itu menolehkan kepala mereka, termasuk Kyuhyun usai mem-pause game-nya. Rupanya Zhoumi selaku ketua ekskul teater baru saja datang dengan membawa seseorang yaitu—

—Sungmin?

Spontan kedua manik mata Kyuhyun membelalak begitu ia tahu siapa orang yang mengekori sang ketua masuk. Apa-apaan ini dia ikut ekskul ini juga! batin Kyuhyun menggebu-gebu, sungguh ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ternyata si hewan buas yang berbahaya itu satu ekskul dengannya sekarang.

Rupanya Sungmin benar-benar menantang Kyuhyun untuk bersaing dalam bidang apapun. Mau itu prestasi akademis maupun non-akademis.

Sungmin pun terkaget begitu ia mendapati sosok Kyuhyun di ruang aula ini. Lagi-lagi takdir mempertemukan dirinya dengan Kyuhyun. Rupanya selain sekelas, Kyuhyun satu ekskul dengannya pula, dan ini di luar dugaannya.

Neraka seakan jatuh menimpa tubuhnya. Perang akan terjadi lagi, dan mau tidak mau Sungmin harus segera untuk membangun benteng pertahanan terhadap dirinya, atau ia akan semakin diinjak-injak oleh seorang Kyuhyun.

Begitu Zhoumi bersama Sungmin sudah berada di depan para anggota ekskul teater, sang ketua mulai angkat suara. "Selamat siang. Maaf saya sedikit terlambat—" ucapnya yang kemudian mendelik ke arah Sungmin, yang berdiri di sebelahnya. "—karena saya membawa satu orang anggota baru, yang akan menjadi teman kalian. Dia ini memang termasuk murid baru di sekolah ini. Kalau begitu silahkan, Sungmin, perkenalkan dirimu."

Dari sekian banyak anggota yang berada di ruangan ini, hanya Kyuhyun yang tidak mendengarkan sesi perkenalan Sungmin sebagai anggota baru. Ia malah kembali memainkan PSP-nya dengan salah satu kakinya terangkat layaknya seorang bos. Mengapa harus menyimak orang memuakkan itu? Buang-buang waktu bagi Kyuhyun, lebih baik ia berkencan dengan benda kesayangannya itu. Lagipula, yang berada di sini semuanya merupakan teman-teman serta adek-adek kelasnya.

"Gamsahamnida," ucap Sungmin seraya memberikan senyumnya dan menganggukan kepalanya. Lalu ia memperkenalkan dirinya kepada teman baru satu ekskulnya yang lain seraya memandang ke arah mereka satu persatu, dan begitu sampai ke titik dimana Kyuhyun berada, ia merasa sedikit kesal. Disaat yang lain begitu serius, orang itu malah asik bermain dengan PSP-nya. Lebih-lebih sang ketua tidak menegurnya. Dasar sombong! batinnya dalam hati.

"Baiklah, kau boleh duduk di kursi yang tersedia ne, Sungmin," ucap sang ketua. Sungmin mengangguk lantas dirinya segera mencari kursi yang bisa dipakai untuk duduk—yang tentunya jauh-jauh dari Kyuhyun.

Zhoumi kemudian ikut mengambil posisi duduk pada sebuah kursi yang terletak terpisah dari deretan kursi-kursi yang lain namun masih berdekatan. "Oke langsung saja, saya akan mengumumkan suatu hal kepada kalian," ucapnya yang tatapan matanya mengitari sekitar posisi duduk anggota bawahannya. Namun Kyuhyun tetap saja masih asik dalam dunianya sendiri. Sang ketua yang tahu tabiat Kyuhyun membiarkan saja, karena ia yakin si maniak PSP itu tahu apa yang hendak dibicarakannya. "Jadi, pada akhir tahun nanti, untuk perayaan natal serta tahun baru seperti pada program kerja tahun-tahun sebelumnya, teater kita ini akan menampilkan suatu pentas drama di luar sekolah yang diselenggarakan secara terbuka—bukan hanya untuk sekolah, melainkan sampai kepada masyarakat. Untuk itu, dalam menjalankan program kerja kali ini, saya sudah membuat rencana-rencananya. Yaitu—tentu saja—kita harus membuat jalan cerita drama itu sendiri, terlebih dahulu. Namun untuk kali ini, saya akan menempuh cara yang berbeda. Kalau pada tahun-tahun kemarin, hanya pihak pengurus teater yang berwenang untuk itu, sekarang saya akan menyerahkan kewenangan itu kepada kalian. Jadi—bisa kalian simpulkan sendiri—bahwa saya akan meminta kalian untuk membuat alur cerita tentang natal serta tahun baru pada drama ini. Nanti pihak pengurus dan juga instruktur teater kita akan memilih satu dari cerita kalian—tentunya yang paling pantas untuk ditampilkan. Dan ada hadiahnya bagi kalian yang ceritanya terpilih—"

Suasana yang tadinya hening kini mulai gaduh. Berita yang dibawakan oleh ketua ekskul disambut hangat oleh mereka. Kyuhyun mendelik sebentar ke arah Sungmin yang hanya diam saja itu dengan berbagai prasangka. Ia penasaran dengan dugaan Sungmin apakah ia akan mengira bahwa dirinya akan bersaing dengan Kyuhyun—lagi, padahal tidak sama sekali. Kyuhyun menjabat sebagai pengurus teater dan ia tidak mengemban tugas untuk membuat cerita, melainkan memilih cerita yang akan digunakan untuk drama. Jadi—persetan dengan bakat Sungmin untuk mengarang, karena sebagus apapun kemampuan itu, tetap saja tidaklah berguna untuk digunakan sekarang, karena pasti cerita darinya tidak akan Kyuhyun pilih, dan itu berakibatkan pada kekalahan cerita Sungmin dalam memperebutkan hadiah itu. Ia menorehkan seringaian kepada Sungmin mengingat hal itu.

"—hadiahnya itu adalah, 20 persen keuntungan dari pementasan teater kita akan diserahkan kepada pemenang itu. Lumayan, bukan?"

Hati Sungmin semakin tergugah mendengar kabar gembira dari ketua ekskul yang berujung pada hadiah bagi yang beruntung. Ia optimis bisa meraih posisi sebagai yang beruntung itu, tanpa takut jika ada pihak yang berusaha untuk menghalanginya—siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Mengingat nama Kyuhyun membuat ia melirik sekilas ke arah sang pemilik nama.

Ketika tatapan mereka bertemu, mereka saling melempar aura sinis mereka satu sama lain lewat kedua mata mereka, dengan maksud yang berbeda tanpa mereka ketahui.

—o0o—

Seongsae saat ini tengah mengisi jam pelajaran fisika di kelas Sungmin dan Kyuhyun. Beliau sedang menerangkan suatu pembahasan bab secara mendalam, dan tak jarang pula tangan beliau bekerja pada papan tulis putih dengan menggunakan spidol bertinta hitam. Sungmin beserta murid lainnya pun tak kalah sibuk. Otak, telinga, dan tangan mereka sibuk bekerja demi mendapatkan ilmu yang diberikan.

Merasa lelah, jemari Sungmin melepas pegangannya pada pulpen dan memilih untuk menyimak penjelasan guru saja. Dan memang apa yang harus dicatat sudah Sungmin tulis semua di buku tulisnya, jadi bukan masalah berarti jika ia memilih untuk rehat sementara. Sejenak ia melirik ke arah Kyuhyun untuk melihat proses belajarnya seperti apa sehingga ia begitu tidak bisa menerima kekalahannya kala ada orang yang memperoleh nilai lebih tinggi daripadanya, seperti apa yang ia lakukan pada Sungmin. Tapi—

—Apa?!

Sungmin mempertajam penglihatannya untuk memastikan apa yang ia lihat salah. Namun ternyata kedua mata foxy-nya masih berfungsi dengan baik. Ia tidak percaya mengetahui kenyataan, bahwa Kyuhyun saat ini tengah asik bermain PSP.

Bahkan disaat jam pelajaran seperti ini—apalagi ada guru dan KBM sedang berlangsung, manusia itu lebih memilih benda tidak berguna itu ketimbang mempelajari ilmu fisika yang jelas-jelas lebih berguna?!

Dan lagi, Kyuhyun duduk pada barisan yang tergolong bagian depan—meski tidak persis, tetapi cukup strategis untuk dilihat oleh guru. Sementara apabila guru mengetahui ada siswa yang tidak menyimak penjelasannya, maka cap sikap buruk akan diberikan. Apalagi sambil main PSP seperti Kyuhyun.

Sungmin semakin tidak habis pikir akan sifat Kyuhyun. Mengapa Kyuhyun protes ketika nilainya tersaingi sementara ia sendiri tidak memanfaatkan waktu KBM dengan baik? Bukankah itu hal yang aneh?

Because what you serve is what you get.

Apa yang anda korbankan, itulah yang akan anda petik hasilnya.

"Wook—" panggil Sungmin kepada teman di sebelahnya, Ryeowook, tanpa melepas arah pandangnya pada Kyuhyun.

Merasa dipanggil, pemilik nama yang bermarga Kim itu segera menyahut. "Ne, ada apa, Sungmin?

"Apa orang itu memang terbiasa main PSP disaat jam pelajaran?" ucap Sungmin dengan nada datar seolah tidak ada rasa kesal sedikit pun. Namun apabila ditelisik lagi, kata-katanya pada kalimat tanyanya sudah menunjukkan kesinisannya.

Kedua manik mata Ryeowook mengikuti arah pandang Sungmin, dan ia langsung tahu siapa orang yang dimaksud dalam pertanyaan yang dilontarkannya beberapa detik yang lalu. "Kyuhyun, maksudmu? Ne, dia memang sudah biasa seperti itu. Tapi dia tidak pernah ketahuan oleh seongsae. Dia pandai sekali menyembunyikannya."

Alis Sungmin mengernyit heran. Ia menengok ke arah Ryeowook. "Tapi posisi Kyuhyun itu jelas-jelas menunjukkan kalau dia main PSP. Sebelah kakinya terangkat ke atas, dan kepalanya terlihat menengok ke bawah. Dan PSP itu sebesar itu—memangnya apa benda sebesar itu masih tidak terlihat juga?!"

Ryeowook menghela nafasnya seraya mengendikkan bahu. "Eoh—molla. Yang jelas untuk urusan itu dia tidak pernah kena kasus. Mungkin para seongsae sudah menaruh kepercayaan padanya kalau Kyuhyun sudah pasti bisa mengikuti pelajaran, makanya tidak ada masalah untuk hal itu hingga saat ini."

"Cih, persetan," ucap Sungmin muak. Beruntung sekali anak itu.

Pada akhirnya Sungmin memutuskan untuk menyimak kembali pelajaran, daripada pusing memikirkan si namja sombong itu. Sekarang seongsae sedang menulis sebuah soal yang kelihatannya cukup rumit untuk diselesaikan di papan tulis—Sungmin saja yang sedari tadi menyimak berpendapat seperti itu.

"Cho Kyuhyun," panggil seongsae usai beliau menulis soal. Begitu indra pendengaran Kyuhyun menangkap suara seongsae menyebut namanya, ia langsung mem-pause game-nya pada PSP dan segera menaruh benda kesayangannya itu di dalam sebuah buku yang berada di atas meja. "Silahkan kerjakan soal ini."

Kyuhyun memperhatikan sejenak soal yang disuruh dikerjakan olehnya sebelum ia maju ke depan kelas. Dan tidak lama kemudian ia beranjak dari kursinya dan segera mendekati papan tulis dengan rasa percaya diri. Membuat Sungmin yang melihatnya semakin muak saja. "Cih, memangnya apa dia bisa? Bukankah dari tadi dia hanya main PSP?"

Ryeowook yang mendengar siluet umpatan yang keluar dari mulut Sungmin tak kuasa untuk menyahut. "Minnie, asal kau tahu saja, meski dia tidak terlihat serius belajar di kelas—bahkan setiap hari dia hanya main PSP dan PSP, tapi dia tetap saja memegang predikat sebagai orang terpintar seangkatan empat semester berturut-turut. Kalau kau bingung bagaimana bisa dia seperti itu, bukan hanya kau, tapi aku dan juga teman-teman yang lain yang sudah satu sekolah dengannya sejak lama lebih bingung lagi."

Sungmin mendengus mendengarnya. Baru kali ini ia menemukan orang seabstrak Kyuhyun. Dan ia tiba-tiba berpikiran untuk mencoba mengerjakan soal yang dikerjakan oleh Kyuhyun di papan tulis pada buku tulisnya. Selain untuk mengasah otaknya, ia juga ingin menguji perbandingan kecepatannya dalam menjawab dengan Kyuhyun, mana yang lebih cepat.

Namun—sial, Sungmin merasa kinerja otaknya melambat. Langkah kerjanya terhenti ketika ia mulai bingung dengan jalan penyelesaian yang seharusnya. Begitu rumit baginya. Padahal ia baru mengerjakan sedikit. Ia mulai berpikiran bahwa jika fisika sudah mencapai kepada tahap soal maka penyelesaiannya tidak semudah dengan pembahasan bab yang diterangkan, dan itu membuatnya jengkel. Dan saat ia memalingkan pandangan ke arah papan tulis, ia terbengong. Rupanya Kyuhyun dapat menjawab soal itu dengan cukup lancar sampai detik ini.

"Astaga—" ucap Sungmin yang memperhatikan hasil pekerjaan Kyuhyun di papan tulis yang masih dalam proses penyelesaian. "—bagaimana bisa dia berpikiran sampai sejauh itu?" lanjutnya. Sejujurnya ia mulai kagum dengan sosok Kyuhyun sekarang. Soal itu memang termasuk rumit untuk dikerjakan, tulisan rumus-rumus yang dijabarkan Kyuhyun saja cukup banyak dan panjang, dan Sungmin tidak memikirkannya. Nalar Kyuhyun jauh lebih luas dibanding dirinya.

"Terbukti kalau Kyuhyun memang genius," sahut Ryeowook yang mendengar ocehan Sungmin di sebelahnya. Membuat Sungmin menoleh ke arahnya. "Tapi dia sombong. Memangnya di dunia ini hanya dia saja yang pintar," umpatnya. Pujian yang ditorehkan kepada orang yang berada di papan tulis itu semakin membuatnya mual.

Ketika Sungmin memperhatikan kembali papan tulis, seongsae mulai menulis soal baru di sebelah soal milik Kyuhyun, dengan bentuk yang berbeda. Ia tentunya berharap semoga ia diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengerjakan soal yang diberikan itu. Dan ternyata seongsae melempar soal kepada siapa saja yang ingin maju. Otomatis ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera berjalan ke depan kelas. Sesekali ia mendengar celetukan dari teman-teman yang lain sehingga rasa percaya dirinya semakin bertambah. "Ehem—anak baru yang maju! Ehem!"

Tangan kanan Sungmin meraih spidol yang dipegang oleh seongsae dan langsung ia gunakan untuk menulis jawaban soal. Sementara Kyuhyun sudah hampir selesai menjawab dan ia mendelik sebentar ke arah orang di sebelahnya itu. "Ehem—mau unjuk kepintaran ya? Sayang sekali tadi seongsaenim tidak menunjukmu, kau sendiri yang berinisiatif. Jadi, sayang sekali ya babo yeoja!" ucapnya seraya berseringai.

"Heh! Jaga bicaramu!" ucap Sungmin yang menegur Kyuhyun dengan memelototkan matanya. Bahkan orang genius itu tidak tahu sopan santun. "Ada seongsaenim di sa—"

Tadinya Sungmin ingin menunjuk ke arah seongsae yang ia kira berada di dekat meja guru seperti pada saat ia maju. Namun ternyata orangnya malah tidak ada di tempat. "Ck! Babo! Kalau seongsaenim ada di depan, mana mungkin aku berani bicara begini. Makanya jangan sok!"

Sungguh Sungmin merasa malu di depan Kyuhyun.

Dan kekesalannya semakin bertambah saja pada si sombong itu.

TBC