Disclaimer : Beauty Pop © 2004 Arai Kiyoko

o

*:..oO#..::oOo#..:*

Star Drop

by Kiri-chan

Twinkle 2 : Unforgettable Day

*:..oO#..::oOo#..:*

o

- Karuizawa's Time -

Limo hitam metalik dengan nomor plat 001 berhenti di tepi jalan. Narumi melepas pegangannya dari kemudi dan menoleh ke sekitar bagian dalam mobil.

"Jadi cuma aku yang menderita selama perjalanan?" keluh Narumi kesal.

Ochiai nyaris tertawa, dia menepuk bahu seseorang di sebelahnya. "Hei, Kei! Bangun! Kita sudah sampai!"

"Hah? Sudah sampai? Cepat sekali…" Kei menguap.

"APA KATAMU…? Kita menghabiskan berjam-jam perjalanan dan cuma aku yang tidak punya kesempatan istirahat!" protes Narumi.

"Narusy berisik…" keluh Iori, suaranya lebih mirip orang mengigau.

"Bangun bodoh!" Narumi ingin memukul kepala Iori kalau tidak ingat tangannya terlalu kaku untuk bergerak.

"Kau tidak lupa membawa kunci mansion kan?" selidik Ochiai.

"Ambil di tas!" jawab Narumi singkat.

"Seki… turun! Aku tak bisa keluar!" tegur Komatsu.

"Maaf… maaf…"

"Kei! Kau bawa barang-barang dengan Seki dan Minamoto!" perintah Ochiai.

"Osuchin kejam!"

"Jangan mengeluh! Aku akan mengurus bagian dalam mansion!"

"Hah? Apanya yang perlu diurus?"

"Diam, Kei! Cepat kerja!" seru Narumi dari dalam mobil.

Kei mengeluh tak jelas, tapi akhirnya dia menurut saat Seki mulai membawa barang-barang dibantu Kanako dan Komatsu.

Narumi menyandarkan kepalanya dan berusaha menfokuskan pandangan matanya yang sedikit berkunang-kunang. Tiba-tiba kaca pintu mobilnya diketuk dari luar.

"Kenapa masih duduk disitu?"

Narumi menoleh, gadis bertopi terbalik itu menatapnya dari luar kaca. "Kau sendiri kenapa masih berdiri disitu?" Narumi membuka pintu mobil.

"Hanya memastikan kau tidak ketiduran di dalam mobil" kata Kiri.

"Yahh… nyaris…" Narumi menghela napas. Kiri sama sekali tidak menanggapinya, dia malah mulai mengamati pemandangan sekitar.

"Sebaiknya kita cepat masuk… Hari sudah mulai gelap" ajak Narumi.

"Ya… kau duluan saja…" jawab Kiri sekenanya. Narumi menatapnya sesaat, tapi akhirnya dia meninggalkan Kiri sendirian di luar gerbang mansion.

Kiri membuka flap handphonenya. Melihat tanggal hari ini tepat 15 Mei, dia segera mencari sederet nomor yang dia dapat dari ayahnya. Setelah menunggu beberapa menit, Kiri mendapati nomor itu tidak aktif walau dia masih berusaha menghubunginya beberapa kali. Kiri menghela napas kecewa…

Hari semakin gelap dan Kiri masih berdiri di tempatnya. Dia menatap cakrawala yang menelan matahari. Memikirkan ketidakmungkinan untuk pergi dari mansion demi mencari tujuan yang belum jelas, akhirnya Kiri menyerah…

"Kiri-chan… ayo masuk" tegur Kanako yang tiba-tiba datang.

"Ah, iya…" Kiri menurut, tapi pikirannya masih sibuk memikirkan sesuatu…

###

"Ayahku bilang hari ini kau ulang tahun ya?"

"Huffhh… sudah aku duga Kiri-chan pasti lupa ulang tahunku."

"Aku cuma ingat ulang tahunmu bulan Mei…"

"Sama saja kau lupa!"

"Iya, maaf…"

"Kau sama sekali tidak kelihatan menyesal."

"Begitu ya?"

"Ya ampun, Kiri-chan…"

"Jadi berapa umurmu sekarang? 7 tahun?"

"8 tahun! Ya ampun… jadi kau lupa umurku juga?"

"Kalau begitu selamat ulang tahun…"

###

"Apa Kakeru benar-benar ada di Karuizawa?" tanya Kanako tiba-tiba.

Seki sedikit terkejut. "Sepertinya memang begitu… Paman Seiji bilang dia tinggal di Karuizawa sejak 2 bulan yang lalu kan?"

"Ukh… aku jadi ingat ekspresi Kiri-chan saat dia mendengar kabar kalau Kakeru sudah kembali ke Jepang" keluh Kanako, "apa menurut kak Ken, Kiri-chan akan baik-baik saja kalau dia bertemu Kakeru?"

Seki diam sesaat. "Entahlah… tapi Kiri-chan kan bukan anak kecil lagi…"

"Iya, benar… tapi aku khawatir padanya, dia terus murung semalaman tadi… Kemarin ulang tahun Kakeru kan?" kata Kanako.

"Ah, ya… Jadi kau juga ingat?" Seki tersenyum kecil. Kanako mengangguk.

"Kira-kira Kakeru tinggal dimana ya?" tanya Kanako pelan.

"Kau mau mencarinya?" Seki balik bertanya. Kanako hanya mengangkat bahunya.

"Hei! Dua orang yang disana! Sarapannya sudah jadi belum?" seru Narumi. Seki dan Kanako tersentak, mereka bahkan belum masak sama sekali.

"Ah, maaf… maaf!"

###

Wangi mawar dari aroma terapi Iori mulai menyebar…

"Sorry Lady… Me akan membuatmu rileks dengan aroma buatan me!" Iori tersenyum bagai pangeran, gadis yang menatapnya tampak nyaris pingsan.

Ochiai tersenyum puas, di sekeliling mereka banyak sekali gadis-gadis yang menonton dengan mata berbinar-binar. "Sepertinya training session kita berhasil lagi ya?" bisik Ochiai.

"Yahh… aku tidak mengerti bagaimana taktik promosimu… Padahal baru 35 menit tapi yang datang sudah sebanyak ini" kata Narumi heran.

"Begitulah… mungkin karena SP sudah semakin terkenal?" gurau Ochiai. Narumi tertawa mendengarnya.

"Sudah beberapa orang yang kita tangani sebagai model, tapi sepertinya rambut riap-riapan itu belum bekerja sedikitpun…" sindir Narumi.

"Bukannya tuan jenius memang mau kerja sendiri?" balas Kiri langsung.

"Wha… sejak kapan kau disitu?" Narumi kaget.

"Dari tadi aku terus disini."

"Hei, Narumi… Jangan sampai lupa kau punya satu asisten" Ochiai menepuk bahu Narumi. Narumi pura-pura tidak mendengar.

"Narunaru, sekarang giliranmu… Aku sudah selesai mengecat kukunya" tegur Kei.

"Ah… ya…" Narumi mengambil guntingnya, tapi ternyata Kiri lebih cepat.

Cresh!

Suara guntingnya yang bergerak cepat terdengar sangat ringan. Narumi tersentak. "Sedang apa kau?" protes Narumi.

"Tadi kau bilang aku belum bekerja sedikitpun" jawab Kiri tenang.

"Ta… tapi kan…" Narumi kehabisan kata-kata.

"Sudahlah Narumi… Kerja yang baik sajalah…" Ochiai tersenyum.

Narumi mendengus kesal. Dia mulai menggunting di sisi yang lain. Sesekali dia memperhatikan Kiri yang konsentrasi bekerja, wajahnya benar-benar tenang saat menggunting… Lagipula bagaimana bisa dia menggunting secepat itu?

Mendadak Narumi tersadar dari lamunannya… Sialan… konsentrasiku rusak… sekarang… fokus…

###

"Kakeru keren ya…"

"Hah? Apanya?"

"Kalau aku sih tidak mungkin bisa menggunting seperti Kakeru."

"Masa sih? Kiri-chan pasti bisa kok!"

"Tapi tidak bisa secepat itu…"

"Wahh… berarti aku hebat dong?"

"Nggak juga… Ayahku masih lebih hebat."

"Glek~! Kalau itu sih jelas aja…!"

###

"Kiri-chan mana?" tanya Kei sambil melahap makanannya.

"Iya, ya… Aku tak melihatnya dari tadi" komentar Komatsu.

"Tadi aku lihat Kiri-chan duduk di teras belakang… Waktu aku ajak makan malam, dia bilang akan segera menyusul nanti" kata Kanako.

"Tapi sampai sekarang dia belum bergabung dengan kita" keluh Komatsu.

"Ah, ya… entahlah…"

"Aku sudah selesai makan."

"Cepat sekali, Narunaru! Kau baru makan satu piring kan?" Kei kaget.

Narumi mengerutkan alisnya. "Kau pikir aku sama sepertimu?"

"Yahh… mungkin…" Kei tertawa. Narumi memukul kepala Kei pelan.

"Aku mau ambil minum di dapur" Narumi berdiri dari duduknya.

"Terus mampir ke teras?" sindir Kei. Narumi menatapnya tajam, Kei nyengir nggak jelas.

"Aku cuma mau ke dapur kok…!"

###

Bintang-bintang di langit berkelip bergantian, Kiri menatapnya dengan pandangan yang tak bisa ditebak. Sudah 15 menit dia duduk disana, tapi sepertinya Kiri belum punya niat untuk beranjak dari tempat itu. Dia baru menoleh saat mendengar suara pintu yang digeser di belakangnya.

"Sampai kapan kau mau duduk disitu?"

Kiri mengangkat bahunya, "entahlah… cuacanya sedang bagus kan?"

"Ya… langitnya cerah" Narumi menatap langit. "Kau mau ini?"

Mata Kiri sedikit melebar. "Makasih…" Kiri menerima kaleng kopi hangat dari tangan Narumi.

"Kau nggak lapar? Hari ini kita kerja keras kan?" Narumi mulai duduk di sebelah Kiri.

"Padahal tadi siang kau marah-marah karena aku banyak ambil bagian" Kiri menghela napas.

"Heh… Kau mau bikin masalah ya? Aku sedang tidak ingin bertengkar tahu! Tapi kau harus ingat kalau kau ini cuma asisten! Harusnya aku yang lebih banyak ambil bagian dari pekerjaan kita!" protes Narumi.

Kiri tersenyum tipis, "terserah…"

Narumi terdiam karena Kiri mulai menatap langit lagi. "Sedang apa kau disini dari tadi?" tanya Narumi heran.

"Narunaru juga ngapain kesini?"

Narumi tersentak. "A… aku… cuma kebetulan lewat kok!"

"Ohh…"

"Jangan lihat aku seperti itu! Aku benar-benar cuma kebetulan lewat!"

"Hah? Memangnya aku bilang apa?"

"Eh… bukan… Terserah deh…!" Narumi memalingkan mukanya. Kiri meminum kopinya sambil menatap Narumi heran.

Mereka berdua terdiam, selama beberapa menit hanya ada suara hembusan angin yang lewat. Kiri meletakkan kaleng minumannya yang kosong. Narumi hanya duduk menatap langit karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Kalau ada bintang jatuh, kau mau apa?" tanya Kiri tiba-tiba.

Narumi menatapnya heran, "yahh… biarkan saja…"

"Hah?"

"Memangnya kau percaya bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan?"

Ekspresi Kiri sedikit berubah. "Tadinya… iya…"

"Tadinya?"

Kiri tidak menjawab. Sekarang Narumi merasa tidak enak seperti ada sesuatu yang salah. "Kalau benar-benar bisa mengabulkan permohonan, tentu saja aku akan berharap jadi ahli kecantikan no 1 di Jepang."

"Harapanmu cuma itu?"

"Iya… lagipula itu berarti segalanya kan? Tanpa keajaiban pun aku akan mewujudkannya sendiri."

"Kau positif sekali ya…" Kiri tersenyum lembut. Narumi merasa darahnya berdesir.

"Aku hanya ingin terus meningkatkan kemampuanku sampai jadi yang terbaik" kata Narumi pelan.

"Kalau dia sepertimu pasti hebat sekali…"

Mata Narumi melebar. "Hah? Siapa…?"

"Tidak perlu kau pikirkan…" Kiri menggelengkan kepalanya.

###

Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu berjalan tanpa melihat ke arah kanan atau kiri. Dia mengangkat tudung jaketnya sampai menutupi sebagian rambutnya.

Langit mulai berwarna kelam saat dia mendengar seseorang berteriak…

"Kiri-chan! AWAS!"

BRAK!

Saat itu tiba-tiba segalanya menjadi gelap.

~xXx~

Kiri membuka matanya perlahan, Kanako sedang menatapnya dengan pandangan cemas. "Hei, Kiri-chan… Kau baik-baik saja?" tanya Kanako hati-hati.

Kiri bangkit dari tidurnya. "Memangnya kenapa?"

"Kau menangis."

Kiri sedikit tersentak, dia menyeka matanya yang ternyata memang basah. "Mungkin karena aku mimpi buruk" kata Kiri pelan.

"Mimpi apa?" Kanako menggenggam tangan Kiri.

Kiri menatapnya dengan pandangan kosong. "Apa dia… baik-baik saja…?" tanya Kiri nyaris tanpa suara.

Kanako menggigit bibirnya. "Siapa?"

"Kakeru."

Kali ini Kanako yang menangis. "Dia baik-baik saja… dia baik-baik saja…" bisik Kanako sambil memeluk Kiri erat. Kiri bahkan tak sanggup menghela napas, pandangan matanya mulai kabur…

Kenapa harus ada kejadian seperti itu?

###

Narumi membuka kertas daftar belanja di tangannya. "Sialan! Kenapa aku harus dapat giliran belanja bahan makanan hari ini?" keluh Narumi kesal.

Jumlah anggota SP ada 8, setiap 2 hari sekali ada 2 orang yang dapat giliran belanja. Seharusnya Narumi pergi dengan Iori, tapi dicari kemanapun tetap saja tidak ada yang bisa menemukan anak itu, paling-paling kabur dan main dengan gadis-gadis Karuizawa…

Narumi menendang kaleng kosong di depannya. "Heh… Daftar belanjanya banyak banget…" pikir Narumi sambil terus menatap kertasnya.

BRAK!

"Akh!" Narumi terjatuh.

"Wha… maaf! Aku sedang buru-buru sih! Kau baik-baik saja?"

Narumi akan meraih tangan yang diberikan kepadanya, tapi mendadak dia tertegun… Kenapa orang ini mengulurkan tangan kirinya?

"Iya, terimakasih… Aku baik-baik saja kok" Narumi berhasil berdiri lagi.

"Eh, kau…?"

"Hah? Kenapa?" Narumi menatap orang di hadapannya. Saat mata mereka bertemu, Narumi tersentak.

Ya Tuhan! Siapa orang ini…?

###

~ To Be Continued ~