Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Mr. Shikamaru, Vampyre © Hello Kitty Cute
Summary : Tak akan ada yang menduga kalau pemuda pemalas tak layak hidup itu merupakan seorang pangeran vampire yang memiliki kekuatan dahsyat.
Warning : DLDR, Typo's, OOC, AU, dan lainnya.
.
.
Mr. Shikamaru, Vampyre
.
.
Tetes-tetes hujan yang besar memukul-mukul seluruh lengan dan kakiku di sepanjang kota saat aku pulang dengan sepeda. Kakiku mengayuh pedal sepeda, cahaya jalan tertangkap dan terpantul dari lampu sepedaku. Satu atau dua kali mobil menderu melewatiku, dengan suara raungannya mengalahkan suara musik. Aku menelan ludah, mengayuh dengan lebih cepat, hingga aku mencapai bagian jalan kota terakhir yang mengarah ke rumah.
Aku memutar bola mata. Membayangkan kalau kekuatan vampire ku ada, aku pasti tak akan susah-susah mengayuh sepeda untuk kembali ke rumah. Tinggal lompat dan berlari, dalam hitungan menit aku pasti sudah tidur tenang di kamarku. Yang lebih sialnya, aku malah memiliki pantangan vampire keluargaku—tak bisa terkena matahari. Akibatnya aku harus pergi subuh dan menunggu malam dulu agar bisa pulang—merepotkan.
Ya, memang benar-benar sangat merepotkan. Sekolahku mulai pukul delapan, dan aku sudah pergi dari rumah pukul tiga dini hari. Lalu, jam pulangku dari sekolah adalah pukul dua belas. Tapi aku kembali ke rumah pukul sepuluh malam. Bayangkan betapa bosannya aku menunggu malam—sebuah kegiatan rutin yang kulakukan dari SD.
Tapi sekarang aku bersyukur karena semua kegiatan rutin yang merepotkan itu tak akan pernah kulakukan lagi. Karena tadi adalah acara pelulusan SMA, dan aku lulus dengan nilai terbaik—aku memang jenius, kata orang begitu. Meski begitu, tak ada yang patut aku banggakan, ibu dan nenekku tetap tak bisa hadir untuk melihat keberhasilanku ini. Itu semua karena pantangan keluargaku. Merepotkan.
Kalian lihat sebuah kotak di belakangku? Ya, kotak itu berisi piala dan piagamku. Setidaknya kedua benda mati yang selalu aku dapatkan dari SD sampai sekarang ini bisa menggantikan keinginan ibu dan nenekku untuk datang dalam setiap acara kenaikkan kelas dan pelulusan ku. Dua benda mati yang membuktikan kalau aku adalah siswa yang pintar dan baik di sekolah—padahal aslinya aku selalu tidur dan sering membolos pelajaran sekolah. Beruntungnya aku memiliki sebuah otak yang terlampau jenius ini, tanpa harus belajar, aku sudah bisa menjawab semua soal-soal merepotkan itu. Ah, lupakan.
Aku menyentak dan mengguncangkan sepeda ke atas jalan mobil di halaman, melakukan usaha terbaikku untuk menghindari lubang-lubang jalan yang banyak, yang tampaknya tambah berlipat ganda setiap kali aku berkendara pulang.
Roda depan sepedaku menukik ke dalam lubang tanah yang lebar, dan aku berani bersumpah kalau lubang itu tidak ada disana subuh ini, dan gigi belakang sepedaku saling bergemeletuk. Aku membelok dengan kacau, berusaha untuk mengerem, kemudian—brak!—aku bertubrukan dengan sesuatu yang sangat kokoh. Dan berbentuk manusia.
Menit selanjutnya aku terjatuh dan kami berdua tergeletak di atas tanah, dan dengan tepat waktu, aku mengempaskan satu lenganku ke atas dan menghentikan sepedaku sebelum roboh di atas kami.
"Oh! Aku benar-benar—" Aku mulai bicara, tepat saat sebuah suara wanita yang terdengar jengkel menyelaku.
"Mungkin kau bisa melihat kemana kau akan melaju?"
Ketidakadilan dari perkataan itu menyengatku, dan sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri, dia kembali berkata dengan jengkel. "Apa kau bisa melihat dimana kini kau sedang berada?"
Dengan terlambat, aku tersadar kalau aku dalam posisi menindih wanita itu, dengan buru-buru aku segera bangkit dan mengulurkan tanganku padanya, tapi dengan kasar tanganku di tepisnya. Dia bangkit perlahan diiringi dengan rintihan kesakitannya.
"Sini," kataku. "Biar aku—"
"Tidak usah, aku bisa sendiri," bahu kami bertubrukan saat aku berusaha membantunya.
"Maaf," aku berseru saat kulihat sosoknya berjalan menjauh dengan terseok-seok. Tapi tampaknya ia tak perduli, ia terus berjalan tanpa menoleh. Aku merasa bersalah, aku harus mengobati wanita itu sebagai permintaan maaf.
Roda depan sepedaku masih berputar-putar saat aku menggapai sepedaku. Dengan segera aku berjalan mendekati gadis itu. Sepedaku membuat sedikit suara ber-klik-klik yang tidak mungkin baik-baik saja. Dan tepat saat itu, aku baru ingat akan piala dan piagamku.
"Untuk apa kau mengikutiku?" pertanyaan bernada jengkel itu membuatku sadar ada yang lebih penting daripada mengurusi dua benda mati yang nyatanya sudah bertumpuk di rumahku. Lagipula, dua benda itu pasti sudah hancur.
"Itu rumahku," tunjukku pada sebuah rumah kayu yang dipenuhi oleh pohon pinus. "Aku akan mengobatimu sebagai permintaan maafku."
Wanita itu terdiam, mungkin menimbang-nimbang tawaranku. Sepuluh detik kemudian, ia mengangguk lalu berjalan ke rumahku dengan aku di belakangnya.
Saat kami mencapai serambi, aku menyandarkan sepedaku ke jeruji pagar, menoleh padanya, dan membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu seperti maafkan aku. Silahkan masuk, tapi kata-kata itu tertelan lagi ke dalam tenggorokanku.
Wanita yang berdiri di sampingku tak dapat disangkal berwajah cantik. Dia memiliki rambut pirang pucat yang disanggul rendah, mata hijau, dan wajah tirus. Dan yang lebih mencengangkanku adalah penampilannya. Wanita itu mengenakan gaun pengantin. Gaun pengantin? Eh? Jangan bilang kalau wanita yang baru saja kutabrak ini adalah seorang pengantin wanita yang kabur dari pernikahannya.
"Hei, bocah!" panggilan lantang bernada sinis itu menamparku dari keterpanaan. "Berhenti menatapku seperti itu."
Aku mendengus kesal lalu menghela nafas. Dia memanggilku bocah pasti karena seragam SMA-ku. Tanpa memperdulikan lagi sosok wanita bergaun pengantin—yang kini penampilannya terlihat sangat berantakan—itu, aku mengetuk pintu perlahan. "Aku pulang," seruku malas.
Pintu kayu itu berderit pelan, menampilkan sosok ibuku. "Kenapa kau terlambat? Kau membuat ibu dan nenek khawatir. Bagaimana acara kelulusanmu tadi?"
Aku melirik arlojiku, sudah pukul sebelas malam ternyata. Aku telat sejam dari jam biasa ku pulang. Ini semua gara-gara insiden tadi. Aku menoleh pada wanita pengantin itu, yang kini ternyata tengah memperhatikanku, tepatnya mendengarkan percakapan singkatku dan ibuku—dengan tatapan bosan.
"Tolong obati dia bu," ibuku mengikuti arah pandangku. Dan tiga detik kemudian, terdengar teriakan histeris dari ibuku.
.
"Ini," ibuku menyodorkan sebuah pakaian pada wanita pengantin berambut pirang itu. Luka memar dan gores di tubuhnya sudah diobati oleh nenekku. Sepeninggal wanita itu untuk berganti pakaian, ibuku langsung mendekatiku dan kembali mengintrogasiku.
"Apa benar semua yang kau ceritakan tadi? Kalian memang belum menikah kan?"
Aku kembali menghela nafas perlahan. Malas sekali untuk mengulang-ulang ceritaku untuk yang keenam kalinya. Aku berjalan pelan ke perapian, menikmati panas api yang menjalar perlahan ke tubuhku.
"Aku tidak sengaja bertemu dia bu. Dia itu hanya wanita yang kutabrak tanpa sengaja. Aku juga baru sadar kalau ia mengenakan gaun pengantin ketika sampai dirumah. Aku benar-benar tidak mengenalnya bu. Dan, aku masih delapan belas tahun bu, terlalu cepat untukku menikah. Merepotkan."
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Wanita itu berdiri di depan pintu sambil menatap aku dan ibuku intens. "Maaf karena sudah membuat nyonya salah paham. Semua cerita yang diceritakan oleh putramu adalah benar. Aku dan putramu sama sekali tidak saling mengenal. Hanya sebuah pertemuan akibat insiden kecil," ujarnya sopan.
"Jangan berdiri terus disana. Kemarilah," ajak ibuku lembut pada wanita pirang itu untuk mendekat ke perapian.
"Nama ku Temari. Sebenarnya hari ini adalah pernikahanku, tapi aku malah kabur. Ah, bukan. Tepatnya calon suamiku yang kabur—" Aku, ibu, dan nenekku hanya mampu terkejut mendengar ceritanya, tak ada yang berniat bertanya ataupun menyela.
"Bolehkah aku beristirahat?" meski sedikit kecewa dengan kalimat yang dilontarkan oleh Temari selanjutnya, ibu ku berdiri lalu berjalan menuju kamarku—membuatku menghela nafas bosan, terpaksa aku tidur di ruang keluarga.
.
Bulan lolos dari sebuah rintangan awan-awan, dan cahaya peraknya yang lembut menyelimuti pohon-pohon di sekelilingku. Aku terduduk dalam diam, menikmati pemandangan malam. Ibu dan nenekku sudah lama terlelap, apalagi Temari. Wanita pirang itu pasti sudah melanglang buana di alam mimpinya.
Temari. Seperti ada yang aneh pada wanita itu. Ia tampak sedang menyembunyikan sesuatu. Dari ceritanya tadi, calon suaminya kabur dari pernikahannya. Kenapa tampak seperti tak masuk akal? Hanya pria bodoh yang mau meninggalkan wanita secantik dia.
Untuk sesaat aku tercenung akan isi pikiranku. Apakah aku termasuk pria pintar yang tak akan meninggalkan anugerah yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa padaku?
"Malam yang indah bukan?" aku terlonjak dari dudukku, ketika kusadari sosok wanita yang mengisi pikiranku itu ternyata sudah duduk di sebelahku, sambil irisnya yang hijau pekat itu memandang intens pada bulan.
Dan, yang kulakukan hanya diam. Terpaku menatap wajahnya yang putih merona itu. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak hebat, sebuah hasrat yang aku sendiri pun tak tahu apa itu. Dapat kurasakan aliran darahnya yang memompa dengan teratur, dan betapa segarnya cairan merah pekat itu.
Aku tersentak dengan semua pikiranku. Bukankah semua itu adalah naluri vampire?
Ketika aku sedang sibuk dengan pikiran anehku yang terasa sangat-sangat-sangat-sangat dan lebih merepotkan dari biasanya, rasa hangat menjalar ke pipiku yang sedingin es—ya, meski kekuatan vampire ku tak muncul, aku tetaplah seorang vampire yang memiliki fisik dan pantangan mereka.
"Kulit yang pucat dan sedingin es ini," iris grey-ku membola mendengar penuturan Temari. Iris kami beradu, dan aku hanya mampu terdiam dengan ekspresi yang mungkin baru kali ini terukir di wajahku.
...
Dari kejauhan dapat kulihat kobaran api yang diselebungi oleh asap hitam yang menggumpal, membumbung tinggi ke langit kelam. Aku berlari menjauhi hutan dan menuju bukit. Lariku terhenti ketika melihat para penduduk desa tengah melempari kayu dan panah api ke sebuah kastil. Api itu kian besar. Dari tempatku berdiri yang mungkin berjarak dua puluh meter dari kastil, dapat kulihat bangsaku—vampire pria dan wanita—dan dua manusia—pria dan wanita—yang dibantai dengan kejam, jantung keduanya ditusuk berulang-ulang dengan belati perak sampai hancur bergelimangan darah.
Aku ingin mendekat, mungkin saja aku bisa memanfaatkan situasi yang kacau ini—menculik salah satu penduduk desa lalu menghisap darahnya sampai habis. Tapi perhatianku malah tersita dengan seorang gadis yang tengah berlari keluar dari kastil dengan ketakutan sambil menggandeng dua orang anak laki-laki. Lima orang penduduk desa mengejar gadis itu, tiba-tiba kaki gadis berambut pirang itu tersandung batu, ia pun tersungkur bersama kedua bocah berambut hitam dan merah itu. Bisa kudengar perkataan lirih dari gadis belia itu, Gaara, Kankuro, larilah. Kakak janji akan menyusul kalian. Larilah sejauh mungkin dan jangan pernah menoleh ke belakang. Kakak menyayangi kalian. Dengan tersedu-sedu, kedua bocah itu berlari sejauh mungkin tanpa menoleh ke belakang, tak melihat wajah kesakitan sang kakak ketika sebuah panah melesat menembus jantungnya.
Darah segar mengucur dengan deras, membanjiri tubuhnya dan rerumputan yang menjadi alasnya. Ketika aku hendak menghampiri jasad tanpa jiwa itu, beberapa anak panah berapi melesat ke arahku—sial. Dengan terpaksa aku pergi meninggalkan calon santapanku itu.
...
Temari bingung melihat Shikamaru yang menatapnya tanpa berkedip. Apa ada yang salah dengan wajahnya, batinnya pelan sambil meraba-raba wajahnya.
"Hei," panggil Temari pelan sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah Shikamaru.
Shikamaru tersentak, pemuda itu langsung berdiri lalu masuk ke dalam rumah tanpa berkata-kata, membuat Temari yang sudah bingung menjadi sangat kebingungan.
"Mungkin dia sakit, badannya pucat dan sangat dingin. Pasti karena kehujanan tadi," gumam Temari pelan sambil iris hijau pekatnya kembali memandangi bulan yang kini tertutupi oleh kabut.
Ia menghela nafas pelan, "Bagaimana kabar ayah dan ibu sekarang? Mereka pasti sangat malu dengan kelakuanku ini. Putri tunggalnya kabur dari pernikahan untuk yang ke lima kalinya."
Tawa kecil atau yang lebih tepatnya mengejek itu keluar dari bibirnya. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Dari dulu sampai sekarang, pernikahanku selalu gagal. Sasori, Kakashi, Izumo, Deidara, dan yang terakhir Itachi...," ada jeda ketika sebuah helaan nafas meluncur dari bibirnya. "Aku mencintai mereka, tapi kenapa aku malah kabur ketika akan mengikat janji suci dengan mereka? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Apa aku ini gila? Atau aku memang ditakdirkan untuk hidup sendirian. Ya, Tuhan, Aku sudah 28 tahun, sebentar lagi 30. Aku tidak mau jadi perawan tua, dan hidup sendirian," keluh Temari putus asa, tapi yang anehnya ia sama sekali tak menangis. Seolah-olah yang dikeluhkannya hanyalah candaan biasa, karena tiba-tiba ia mengedikkan bahu lalu berdiri dan masuk kedalam rumah.
Blam—setelah menutup pintu, Temari mendapati sosok Shikamaru yang duduk sambil menghadap ke perapian. Tampaknya pemuda itu tengah merenung. Temari ingin bertanya, tapi niat itu diurungkannya. Ia langsung menuju kamar untuk beristirahat.
Shikamaru menoleh pada pintu kamarnya yang baru saja menutup. Wajahnya tampak frustasi. "Apa yang baru saja kulihat tadi? Khayalan kah? Tapi semuanya tampak nyata. Siapa Temari sebenarnya? Kenapa di pengelihatanku tadi, ia terbunuh di depan mataku? Ya, Tuhan... apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa aku malah berwujud sebagai vampire sempurna? Mungkinkah yang kulihat tadi—Arghhh! Merepotkan!"
Shikamaru menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu memejamkan matanya. Lebih baik tidur daripada memikirkan hal yang merepotkan.
.
Terlihat kabut lembut dan matahari yang tertutup awan di pagi hari. Temari menarik tirai jendela untuk melihat pemandangan pohon pinus yang mengitari rumah yang sekarang ia tinggali. Sebuah rumah yang terletak di sudut kota Inggris, jauh dari keramaian kota. Ia membuka jendela, udara sejuk nan alami merasuk ke raganya. Ia memejamkan matanya, menikmati semilir angin pagi.
Di tempat ini, orang tuanya tak akan menemukannya. Beruntung ia bertemu dengan keluarga Shikamaru yang mau menerimanya. Mungkin ia akan mencoba bekerja dengan keluarga ini, dan memulai hidupnya yang baru. Senyum bahagia merekah di bibirnya.
Setelah menikmati udara pagi yang sejuk, wanita berambut pirang itu memutuskan untuk keluar dari kamar dan menemui keluarga Shikamaru. Temari menemukan sosok Shikamaru yang masih tertidur pulas di sofa. Ia menoleh ke segala penjuru, mencari sosok ibu dan nenek Shikamaru, tapi mereka tak ada. Perhatiannya tertuju pada sebuah ruangan yang tertutup, terletak di sebelah kanan dapur. Ia berjalan pelan—ceklek. Dengan hati-hati ia membuka pintunya.
Ternyata sebuah kamar. Mungkin kamar ibu Shikamaru. Sesuatu menarik perhatiannya, sebuah foto besar berwarna hitam putih yang terletak di atas kamar tidur. Foto pernikahan yang tampaknya sudah sangat lama, terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh wanita dan pria di foto itu. Sebuah gaun pengantin dan tuxedo abad ke-18, atau mungkin memang setting fotonya di buat seperti zaman dulu.
Tanpa diberitahu pun, Temari sudah bisa menebak siapa wanita cantik dan pria tampan di foto itu. Mereka pasti ayah dan ibu Shikamaru. Tapi ada sebuah keganjilan yang ia sendiri pun tak tahu itu apa. Ia memperhatikan foto itu lekat-lekat, berusaha mencari keganjilan yang memenuhi pikirannya.
Ketika ia sedang sibuk berpikir, seseorang menepuk bahunya pelan. Seketika tubuhnya menegang. Dengan gerakan patah-patah, kepalanya berputar ke si penepuk.
"Apa yang kau lakukan disini, Temari?"
Temari hanya mampu meneguk ludahnya. Ia merasa canggung karena ketahuan oleh Shikamaru sedang berada di dalam kamar ibu Shikamaru.
"Ma-maaf karena telah lancang memasuki kamar ibu mu. Tadi aku mencari ibu dan nenekmu, tapi mereka tidak ada dimana pun. Dan aku melihat pintu kamar ini terbuka, karena penasaran aku pun masuk. Maaf," jelas Temari dengan nada menyesal. Ia pun menunduk. Entah kenapa ia menangkap sinar kelam dari sorot tajam iris Shikamaru, membuatnya jengah untuk bertatap muka dengan Shikamaru.
"Keluar," seru Shikamaru datar. Dengan segera Temari keluar dari kamar dengan tubuh bergetar—blam.
Sepeninggal Temari, pemuda berkuncir satu itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar ibunya. Tak ada keanehan yang terlihat, keanehan yang bisa membuat rahasianya dan keluarganya terbongkar. Setelah merasa semuanya aman, ia keluar dari kamar. Shikamaru menemukan Temari sedang duduk di sofa sambil menatap dirinya. Wanita itu berdiri lalu menundukkan kepalanya.
"Maafkan a—"
"Matahari sudah datang. Sebaiknya kau pulang, keluargamu pasti mengkhawatirkanmu," potong Shikamaru malas. Temari sedikit tertegun akan perubahan ekspresi Shikamaru.
"Kebetulan ibu dan nenekku sedang pergi, malam baru pulang. Jadi kau tak usah menunggu mereka untuk berpamitan," lanjut Shikamaru, pemuda itu menatap malas Temari yang menampilkan raut bingung yang kentara.
'Sepertinya Shikamaru dan keluarganya tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak boleh tinggal lebih lama lagi disini, aku hanya akan jadi beban. Aku memang harus mencari tempat tinggal yang lain,' batin Temari lesu.
Setelah mengganti pakaiannya dengan gaun pengantinnya yang sedikit kotor, ia berpamitan dengan Shikamaru yang duduk di sofa—blam.
Shikamaru menatap malas pada pintu yang tertutup. Sebenarnya ia tak tega membiarkan Temari pergi sendirian dengan memakai gaun pengantin—penampilan yang sangat mencolok. Tapi Temari sendiri yang mengganti bajunya dan ia juga malas memberitahu wanita itu kalau ia boleh tetap memakai pakaiannya—toh hanya kaos oblong dan celana yang sudah lama tak dipakainya. Ya sudahlah, lebih cepat Temari pergi, itu malah lebih baik. Sekarang rahasianya aman.
Ia menuju kamarnya, berniat tidur disana—ceklek.
Wajah mengantuk Shikamaru terlihat tercekat ketika sinar mentari menyambut dirinya dari balik jendela yang terbuka.
.
Temari menatap lemah pada pintu kayu yang baru saja ia tutup. Ia menghela nafas pelan, perutnya sangat lapar. Dengan penampilan mencolok dan perut lapar, ia tak menjamin dirinya akan sampai dengan selamat ke tengah kota. Ia menyesal karena memilih tempat terpencil seperti ini sebagai pelarian. Sebenarnya ia sendiri pun tak tahu kenapa ia bisa berlari sampai ke daerah ini. Pikirannya akan tempat ini sudah terbayang olehnya sejak ia masih kecil. Dan sekarang ia berada disini, sebuah rumah kayu yang dikelilingi oleh pohon pinus. Entah kenapa ada rasa lega yang menjalari benaknya ketika berada di tempat ini, seperti melepas sebuah kerinduan yang ia sendiri pun tahu akan rasa rindu yang menyelimutinya itu.
Berat rasanya meninggalkan tempat ini, karena rasa rindu yang mencekat itu akan kembali mencekik lehernya. Perlahan ia menangis. Tangisannya terhenti ketika telinganya mendengar suara teriakan dari dalam rumah.
"Shikamaru!" seru Temari dan langsung menghambur masuk ke dalam rumah.
Iris Temari membola ketika melihat sosok Shikamaru terkapar di lantai dengan tubuh yang mengeluarkan asap.
"Tutup," dengan nafas tercekat dan suara serak, Shikamaru menunjuk jendela.
Dengan panik Temari berlari menuju jendela lalu menutupnya. Shikamaru menyandarkan punggungnya pada pintu, nafasnya turun-naik. Melihat kondisi Shikamaru yang begitu memprihatinkan, Temari langsung memapah tubuh Shikamaru untuk tidur di ranjang.
"Shikamaru, kau kenapa? Tubuhmu berasap, kau kepanasan?" tanya Temari panik sambil mengkipas-kipaskan kedua tangannya ke tubuh Shikamaru.
Shikamaru mengangkat tangan kanannya pelan, jari teluncuknya teracung tepat ke wajah Temari. "Kau ingin membunuhku? Siapa kau sebenarnya?" tuduh Shikamaru serak. Temari hanya mampu membuka mulutnya, tak percaya dengan tuduhan Shikamaru barusan.
Dan, detik selanjutnya. Tangan kanan Shikamaru terjatuh, lunglai di kasur. Temari yang sudah panik menjadi bertambah panik. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Shikamaru lalu mendengarkan detak jantungnya. Temari menarik nafas lega, rupanya Shikamaru hanya pingsan. Temari menatap sedih sosok Shikamaru yang tubuhnya masih mengeluarkan asap tipis. Ia tidak tahu kalau pemuda itu memiliki penyakit semacam alergi dengan cahaya matahari, ia hampir membunuhnya tadi.
Ia lalu berdiri dan menuju dapur. Menyiapkan air untuk mengkompres Shikamaru. Ketika ia membuka kulkas, bau amis darah yang menusuk hinggap ke hidungnya. Sesuatu bergejolak di perutnya—hoek. Sehabis mengeluarkan semua isi perutnya, tubuh Temari limbung, ia pun jatuh pingsan.
.
Entah kenapa pikiranku kini terpusat dengan putraku? Apa telah terjadi sesuatu yang buruk dengan Shikamaru?
Aku keluar dari ruang dapur, memperhatikan sekeliling, seperti biasa cafe yang kubangun dan ibu selalu ramai. Kulihat ibu tampak sibuk melayani para pengunjung cafe di meja kasir. Meski hanya kami berdua yang bekerja di cafe ini, tapi berkat kekuatan vampire ini, kami bisa melayani semua pengunjung yang ada. Dari cafe ini kami bisa menghasilkan uang untuk membeli darah. Ya, kami bukan vampire brutal penghisap darah seperti dulu.
Shikamaru. Ia putraku yang sangat malang. Entah kutukan apa yang menimpanya hingga jadi begitu. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin menangis.
Seseorang menepuk pelan pundakku, aku menoleh dan menemukan sosok ibuku.
"Kau kenapa Yoshino? Wajahmu tampak bersedih."
"Entahlah ibu. Aku hanya merasa sesuatu sedang menimpa Shikamaru."
"Hanya perasaanmu saja. Sudahlah, ayo kembali bekerja."
"Apa benar tidak apa-apa bu?"
"Iya, Shikamaru pasti tidak apa-apa."
Aku berbalik, hendak kembali ke dapur. Tapi belum beberapa langkah, ibu ku sudah menahan langkahku. Dengan heran aku memperhatikan wajah senja ibu ku.
"Apa tidak apa-apa kita meninggalkan Temari dengan Shikamaru?"
"Ku pikir tidak bu. Shikamaru tidak memilki kekuatan vampire, Temari pasti baik-baik saja."
"Wanita secantik dia, tak ku sangka takdir hidupnya begitu menyedihkan. Dia pasti trauma berat, sampai-sampai kabur ke daerah terpencil."
Aku menghela nafas mendengar penuturan ibu ku. Memang ada kalanya takdir hidup tak berpihak pada kita, membuat kita putus asa dan ingin menghilang dari dunia. Ah, air mataku jadi ingin keluar.
Aku melirik pada ibu yang menatapku sendu, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pekerjaan masing-masing.
.
Malam pun menjelang. Aku dan ibu bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Setelah menutup cafe, kami berjalan menuju sebuah gang kecil yang terletak di seberang cafe. Setelah memastikan situasi aman, kami segera melompati satu persatu atap gedung kota London.
Dalam sepersekian menit, kami sudah sampai di rumah. Aku dan ibu heran ketika mendapati pintu yang terbuka lebar. Dengan perasaan yang berdebar, kami segera menghambur masuk.
Aku terkejut ketika mendapati sosok putraku tengah terbaring di atas tempat tidurnya. "Shikamaru!" seruku dengan nada tercekat. Aku dan ibu mendekatinya, mengguncang pelan tubuhnya sambil memanggil-manggilnya.
Perlahan Shikamaru membuka matanya. Ia memandangku dan ibu bergantian dengan iris grey-nya, membuatku lega. Aku memeluknya sambil menangis.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" tanyaku setelah melepaskan pelukanku.
"Tubuhku terbakar bu," mendengar penuturan Shikamaru, membuatku dan ibu keheranan. Apa maksud putraku ini?
"Temari berniat membunuhku dengan sinar matahari."
Aku menggeram, emosiku memuncak. Sepasang mataku berubah kelam dan taringku pun muncul. Harum darah Temari tercium kuat oleh indera penciumanku. Tanpa mendengarkan perkataan ibu yang mencegahku, aku berlari ke dapur.
Niatku yang ingin mencabik dan menghisap darah wanita berambut pirang itu sirna ketika melihat tubuhnya yang tergeletak pingsan di depan kulkas yang terbuka. Perlahan mataku kembali ke semula, sepasang bola mata putih bersih yang dihiasi oleh iris berwarna grey. Dan taringku ikut menghilang. Aku berjongkok sambil menutup kulkas, lalu memeriksa nadinya.
"Temari kenapa?"
"Aku sendiri pun tak tahu bu. Dia sudah kutemukan dalam keadaan begini," ujarku sambil menggendong Temari dan menidurkannya di sofa.
"Ceritakan bagaimana kejadiannya Shikamaru?" tanyaku penuh selidik pada Shikamaru.
Setelah mendengarkan keseluruhan cerita Shikamaru. Aku dan ibu menarik kesimpulan kalau Shikamaru hanya salah paham. Sebagai manusia biasa, wajar bila Temari ingin menikmati udara pagi. Aku merasa menyesal karena hampir membunuh Temari. Aku kembali menggendongnya dan menidurkannya di kamar Shikamaru lalu menyelimutinya.
"Biarkan dia istirahat," ujarku lemah. Dan kami bertiga pun keluar dari kamar. Kulihat Shikamaru masih sedikit jengkel, tampaknya ia masih kesal karena aku tetap membiarkan Temari berada di rumah. Ya, sudahlah. Lebih baik sekarang aku menyembunyikan semua benda-benda yang bisa membuat Temari curiga dengan kami.
TBC...
Errr,, gimana?
Chap 2 makin gaje ya?
Oh iya, ini ceritanya di London, Inggris. Biar unsur vampire-nya kental. Soalnya kan kisah vampire lebih dominan di Inggris.
.
Balesan buat yang udah mau RnR fic Kitty.
Makasih semua ya, tanpa kalian Kitty pasti males buat bikin lanjutan nih fic.
NgalorNgidol12 – Wah! Selamat Yuki-san (boleh panggil gitu? Soalnya Kitty baca bio mu.) anda berhasil menjadi pemenang. Hadiah akan segera diantarkan ke rumah anda. #plak, gaje.
Hehe, makasih ya udh mau RnR fic perdana kitty, apalgi pagi2.
Err,,, ssbenarnya Shika itu baru 18 tahun, ada sedikit kesalahan penulisan, gomen ne. Maklum mata udah 5 watt.
Ini udah apdet chap 2. RnR lagi?
Nara Sanchez – Makasih Nara-san udah RnR. Ini udah apdet kok, RnR lagi?
Endah 'pinkupanpu – Makasih Endah-san udah RnR. Ini udah apdet. Jangan lupa RnR lagi ya.
Sabaku Yuri – Makasih Sabaku-san udah RnR dan suka. Ini udah apdet, apa udah kilat? RnR lagi?
Sora – Makasih Sora-san udah RnR. Disini Tema jadi manusia. Ini udah apdet chap 2. RnR lagi?
Lollytha-chan – Salam kenal juga Lollytha-chan. Makasih udah RnR, apalagi di fave—seneng. Ini udah apdet chap 2nya. RnR lagi?
Putri Suna – Dia itu bukan malang, tapi anak pungut. #dicincang ShikaYoshiShikaku. Makasih Putri-san udah RnR. Hehe, ini udah apdet kok. Enggak lama kan? RnR lagi?
Arezzo Calienttes 'Namikaze – Hehe, tumpengannya lagi dibikin. Ntar dianterin (?). Yang terjadi selanjutnya adalah... Shika menikah dengan ku (?). Hehe, dibaca sendiri aja ya. Makasih Arezzo-san udah RnR. Ini chap 2 udah keluar. RnR lagi?
Kagome Sabaku – Hehe, Shika emang nista banget. #digamplok Shika. Ini udah apdet, makasih Kagome-san udah RnR ya. RnR lagi?
amexki chan – Iya, baru prolog. Yeph! Kalau enggak pemalas, bukan Shikamaru namanya. #dijitak. Makasih udah RnR amexki chan, chap 2 udah keluar. RnR lagi?
Min Cha 'ShikaTema – Hehe, iya nih. Eh, beneran bagus, terus keren sama rapi? Aduh, Kitty jadi mau terbang nih. #pluk. Salam kenal juga Mincha, dan Semangat untuk buat fic. Makasih udah RnR. Ini chap 2nya. RnR lagi?
Nara Kazuki – Wah, kita sehati nee-san. Kisah vampire itu memang keren. Hehe, tangan gatel ni, pingin buat cerita juga. Kebetulan ada ide, jadi tuangin aja. Hehe, Shika itu memang mengagumkan, bahkan terlalu mengagumkan malah malu-maluin. #ditampol shika. Makasih udah RnR. Nee-san juga apdet ceritanya ya. Ok, ini sudah apdet nee-san, RnR lagi?
EMmA ShiKaTeMa – Ini udah apdet, apa sudah kilat? Makasih Emma-san udah RnR. RnR lagi?
SoraYa UeHara – Ini udah apdet. Makasih udah RnR Soraya-san. RnR lagi? :D
CharLene Choi – Hehe, iya. Makasih ya Lene-san udah mau RnR fic pertamaku. Makasih banget. Terus, pujiannya juga, jadi malu. Hehehe... Ini udah apdet. RnR lagi ya?
Kithara – Enggak kok. Ini udah lanjut. Makasih udah mau RnR Kithara-san. RnR lagi? :D
Silahkan tinggalkan review.
Saran, kritik dan lainnya kuterima dengan tangan terbuka...
