Title: Blinded

Rated: M (for implicit sexual contents, cursing, murders, and so on)

Disclaimers: I own nothing.

Happy reading! :D


Chapter 2:

Misplaced Man


Bulan-bulan berlalu dengan sama lambatnya bagai tahun-tahun yang panjang. Aku tetap bertahan pada rutinitasku; bangun, bernapas, mendengarkan suara pipa yang bocor, membaca zodiak di koran, dan membaca novel-novel usang yang telah kubaca berulang-ulang. Aku juga mulai terbiasa dengan keberadaan Aomine. Kami bahkan mulai bercakap-cakap layaknya dua teman lama. Ia tak lagi memanggilku "Midorima-san" namun "Oi, Shin!", dan aku pun sudah tak sungkan lagi melemparkan bukuku ke arahnya jika sedang kesal. Kami berbagi makanan, berbagi sabun cuci, berbagi pasta gigi, dan jika sedang mood, aku bahkan mau meminjamkan novel-novelku padanya. Ia juga mulai bercerita banyak, tentang pekerjaannya sebelumnya (rupanya ia bekerja sebagai guru olahraga di salah satu sekolah menengah atas di Tokyo), tentang acara tv favoritnya, dan tentang kecintaannya pada olahraga basket. Namun, jika ada satu hal yang tidak kami ceritakan, adalah alasan mengapa kami berakhir di sel ini.

Aku tidak bertanya, dan aku juga tidak peduli, selama ia bersikap baik padaku...

...setidaknya pada awalnya, kupikir begitu.


Aku sedang makan siang di kantin, ketika kudengar Aomine mendapatkan kunjungan dari keluarganya. Napi di sebelahku, Takao Kazunari, langsung mendekatkan badannya ke arahku seolah-olah ingin membicarakan rahasia negara.

"Hey, mata empat. Tidakkah kau berpikir teman sekamarmu itu agak misterius?" Ia berbisik, tangan kanannya bergelayut di bahu kiriku.

Aku menelan buburku dengan tampang tak acuh. "Yeah? Well, selama dia tak membuat masalah bagiku, aku tak peduli," ujarku.

Takao memutar bola matanya. "Bukankah dia bilang anaknya sudah meninggal? Bagaimana dengan istrinya? Bukankah dia bilang istrinya meninggal ketika melahirkan anaknya? Well, lantas siapa 'keluarga' yang mengunjunginya sekarang?"

Aku menyendok buburku, berpikir. Dia memang pernah bercerita bahwa istrinya yang cantik, Satsuki, meninggal tak lama setelah melahirkan anaknya... Namun ia tidak bertanya lebih jauh tentang itu.

"Sadar atau tidak, dia menjadi perbincangan di Napi!" Takao berbisik. "Orang-orang bilang, ia masuk penjara dengan hukuman berlapis akibat pemerkosaan, pembunuhan secara tidak disengaja, dan kekerasan dalam rumah tangga. Ya ampun, hal-hal seperti itulah yang membuatku tetap lajang, kau tahu. Hahaha..."

Aku menelan buburku dengan susah payah. "Tahu dari mana kau gosip-gosip seperti itu?" todongku, menatapnya dari balik bingkai kacamataku dengan serius.

Takao, si bangsat itu, hanya mengibaskan tangannya. "Semua penjaga membicarakannya selama bulan-bulan terakhir ini, Shin. Kau harus lebih rajin bergaul," ia mengeluarkan tawa nyaring.

Aku memilih tidak berkomentar, dan memakan sisa buburku dalam damai, hingga seorang napi berambut merah datang dan duduk di hadapanku, membawa nampan yang berisi tumpukan makanan untuk sepuluh orang.

"Yo," Kagami menyapa kami berdua, sebelum meletakkan nampannya yang penuh di hadapan kami.

Kami mengangguk, sibuk dengan makanan masing-masing.

"Guys, kalian harus lihat ini," pria berambut merah itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan meletakkannya di meja makan.

Takao mengambilnya. Rupanya sebuah koran lokal, dengan tanggal terbit beberapa bulan lalu. Penasaran, aku meletakkan sendok buburku dan ikut memeriksa isi koran itu bersama Takaoーwell, apapun yang menarik perhatian Kagami Taiga layak untuk menjadi perhatian.

Aku menelusuri headline koran tersebut dengan cepat, mencari-cari berita yang menarik. Komentar pejabat tinggi terkait nuklir negara sebelah, kasus tabrak lari, kasus pelajar yang bunuh diri, kurs mata uang terhadap dollar,... Secara umum, tak ada yang menarik.

"Apaー" aku mulai bertanya, namun Kagami telah lebih dulu menjawab.

"Buka halaman tiga," katanya sambil memasukkan nasi kare ke dalam mulutnya.

Takao mengganti halamannya sesuai petunjuk Kagami. Sebuah berita langsung menarik perhatian kami.

Seorang Guru SMA Di Tokyo Telah Mengakui Bahwa Ia Memperkosa Putra Bungsunya Hingga Koma, adalah judul artikel tersebut.

Aku membetulkan posisi kacamataku, meneruskan membaca.

...hakim telah mengumumkan bahwa Aomine Daiki (47), pelaku tindak pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap putra kandungnya sendiri, Tetsuya (15), dinyatakan bersalah dan dihukum dua puluh lima tahun penjara. Hal ini jauh dari tuntutan jaksa penuntut umum, yang menginginkan minimal hukuman seumur hidup...

Aku berhenti membaca, terkaget-kaget, namun Kagami menyuruhku untuk meneruskan. Masih diselimuti rasa tidak percaya, aku melanjutkan membaca.

...seperti yang telah diketahui, terdakwa Aomine Daiki tinggal bersama kedua anaknya, Ryouta (18) dan Tetsuya (15). Terdakwa diketahui telah memperkosa putra bungsunya selama bertahun-tahun, sejak korban berusia sepuluh tahun...

...korban dipaksa melayani napsu bejat ayah kandungnya tersebut setidaknya dua kali seminggu, menyebabkan korban menderita anal prolapse...

...penanganan terhadap korban sangat terlambat, diduga akibat ketakutan tersangka akan pengungkapan aksinya. Hal ini membuat korban menderita koma akibat infeksi di saluran pencernaan tersebut selama berhari-hari sebelum akhirnya dibawa ke klinik terdekat...

...Dokter Imayoshi, kepala di klinik tersebut, mengatakan bahwa timnya telah berupaya menyelamatkan nyawa korban, namun takdir berkehendak lain. "Infeksi korban telah menjalar hingga ke sistem syarafnya," ungkap dokter tersebut. Sehari setelah korban dirawat di klinik, korban menghembuskan napas terakhirnya...

...di tempat terpisah Kepala Polisi Prefektur X memberi pernyataan bahwa pelaku ditangkap tak lama setelahnya, dan menyerah tanpa perlawanan...

Mendadak, bubur yang kumakan seolah-olah naik lagi ke tenggorokanku. Kulihat dari sudut mataku, Takao sudah selesai membaca juga.

Kami bertiga hening selama beberapa saat, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Jadi," Takao memecah keheningan, melirikku dengan serius, "Dia semacam gay. Mungkin kau harus berhati-hati mulai sekarang bung, jika ingin bokongmu tetap perawan."

Aku menyodoknya dengan sikutku, mengabaikan bunyi "Ow!" yang dia keluarkan.

"Rasanya... Nyaris mustahil. Dia kelihatan sangat menyayangi putranya," aku bergumam sendiri sambil mengeruk kerak bubur yang menempel di dasar mangkuk dengan sendokku.

"Tch, penyesalan selalu datang terakhir, kau tahu," celetuk Kagami, sambil terus mengunyah paha ayam. "Aku dulu sangat mencintai gengku, hingga aku mempertaruhkan hidupku untuk mereka. Tahu apa balasan mereka atas kebaikanku? Memasukkanku ke dalam penjara jahanam. Hah, bajingan-bajingan bangsat!" Ia meludah, setengah liur setengah daging ayam.

Kami memberinya tatapan jijik.

"Kau yang membersihkan itu, Kagami," gumam Takao, menunjuk ludahan pria temperamental itu di ubin. Kagami hanya mengangkat bahu. "Omong-omong, Shin, apa sih artinya anal... anal... apalah itu?"

Aku kembali mengalihkan pandang pada gumpalan buburku. "Itu... Anggap saja anusmu terlepas dari bokongmu," aku menjawab dengan tidak nyaman.

Baik Kagami dan Takao berhenti bicara saat itu juga.


Aku sedang menatap langit-langit, menerawang, dari atas tempat tidurku ketika aku mendengar petugas membuka pintu selku. Aku mendengar bunyi klik yang biasa, langkah-langkah kaki seseorang memasuki sel, dan langkah kaki seseorang menjauh di koridor sana.

"Oi. Sudah makan?" tanya rekan sekamarku, menyapaku sementara ia meletakkan bungkusan besar di atas tempat tidurnya.

Speak of the devil, gumamku dalam hati, nyaris sinikal. "Sudah, kau?" jawabku, berusaha terdengar acuh tak acuh.

Pria paro baya berkulit gelap itu hanya mengangguk, sibuk menata barang-barang yang ia dapatkan.

Penasaran, aku bangun dari tempat tidurku dan duduk di sisinya.

"Mendapat kunjungan?" aku bertanya, berpura-pura tidak tahu.

Aomine menunduk, berusaha menyembunyikan senyumannya, namun gagal. "Ya," gumamnya lirih.

Mataku memperhatikan barang-barang yang dia terima: handuk baru, beberapa pakaian dalam, t-shirt, dan makanan ringan.

"Wow, beruntung sekali kau," celetukku sambil bersiul, meraih t-shirt dan melihat-lihat modelnya.

Aomine hanya mengangkat bahu.

"Siapakah yang mengunjungimu, jika aku boleh bertanya?" akhirnya aku mengutarakan rasa penasaranku, dengan sengaja tidak menatapnya, berpura-pura berkonsentrasi melipat kembali t-shirt miliknya.

Aomine ragu sejenak, namun akhirnya menjawab, "Putra sulungku."

Hening selama beberapa saat.

Aku meliriknya, berusaha membaca ekspresinya. Ada sesuatu di wajahnya... Aku tak tahu apa itu, namun apapun itu dapat melembutkan ekspresinya sekilas.

"Kau punya putra sulung," aku menyatakan, berhati-hati agar nada suaraku tetap terdengar tak peduli.

Pria itu mengangguk. "Ya."

"...apakah itu berarti kau punya putra yang lain?" Aku memaksakan keberuntunganku, tahu jika aku kelewat batas akan menyebabkan masalah, namun tak sanggup menahan diri. Aku hanya ingin memastikan kebenaran artikel koran itu.

Punggung pria berkulit gelap itu menegang sejenak, sebelum merileks kembali. "Ya, namun sudah tiada. Pergi menyusul ibunya."

Aku mengernyit mendengarnya, sekilas keprihatinan tergantikan oleh rasa jijik. Bagaimana mungkin ia dapat menjawab itu dengan santai sekali?

Setelah meletakkan kaus itu di atas tempat tidurnya, aku kembali ke tempatku sendiri. "Sayang sekali," komentarku, lalu membenamkan diriku dalam tumpukan novel.

Ya ampun. Tuhan Tahu aku membutuhkan distraksi setelah segala informasi yang kuterima siang ini.


Malam itu, aku kembali terbangun karena Aomine.

Tetapi, malam ini, karena alasan yang berbeda.

Aku terbangun karena mendengar desahan Aomine. Dan bukan, bukan rintihan menyakitkan atau gumaman menyayat hati yang seperti biasa, namun desahan yang...

Ahhhh...

...seperti itu.

Aku menelan ludah, berusaha mengontrol diriku. Aku tahu Aomine, sama sepertiku, adalah pria dewasa yang sehat. Adalah wajar jika ia... err, memuaskan dirinya sendiri di kamar mandi pada tengah malam buta.

Mmmm, mmmh...

Ahhh...

Aku beringsut tak nyaman di kasurku, berguling menghadap tembok sambil menutup telingaku dengan bantal.

Ahhh, hhhh...

Yep. Inilah yang dinamakan dengan ketidakberuntungan, kurasa. Menghela napas berat, aku menekan bantal di kedua sisi wajahku dengan lebih keras, tetapi suara-suara itu tetap terdengar. Aku bisa yakin sekarang bahwa Aomine adalah tipe yang cukup 'vokal' di ranjangー

ーtunggu, apa sih yang aku pikirkan?

Ahh... Hhh... Hmmm, mmmh...

Tempo yang semakin cepat. Tak lama lagi sekarang.

Mmmmmmmhhhhhh,...

Kali ini, suara desahannya dalam dan panjang, menandakan bahwaーer, mungkin! Aku tidak memikirkannya, kau tahu!ーia baru saja selesai.

Suara seseorang terduduk di lantai ubin, diikuti dengan sesengguk kecil tak lama kemudian.

Aku menggeliat di kasurku, tak nyaman. Mendadak hawa di sekitarku menjadi panas...

Suara senggukan itu lambat laun makin cepat, makin keras.

"Ryouta," bisik lelaki itu dari balik pintu kamar mandi, namun ada yang berbeda dari nada suaranya... Seolah-olah, lelaki itu sedang memohon, meminta maaf, menyesal... "Ryouta, anakku... Ryouta..."

Aku mengernyitkan hidung, merasa jijik dan jengkel. Apa lagi ini? Apakah ia baru saja memuaskan diri dengan menggunakan imajinasi tubuh anak sulungnya? Ya ampun, seolah memperkosa anak bungsunya hingga tewas tidak cukup, kini ia juga menggunakan tubuh anak sulungnya untuk berimajinasi?

Pria ini sudah benar-benar tidak waras. Jelas pria ini salah tempatーia tidak cocok di penjara, ia lebih cocok di rumah sakit jiwa. Bagaimana mungkin hakim tidak mempertimbangkan hal ini sebelumnya?

"Ryouta... Oh, putraku, Ryouta..." tangisan lagi.

Aku menggigit bibir bawahku, merasa jengkel. Tidak mungkin jika ia waras... tetapi setiap orang pasti telah diperiksa kejiwaannya sebelum dimasukkan ke tempat ini... Ya kan?

Ckrik ckrik ckrik, bunyi sesuatu seperti logam terdengar dari balik pintu kamar mandi.

Tanpa sadar, aku mengernyitkan dahi. Logam apa? Keran? Tetapi keran kami dari plastik... Gagang pintu? Tidak berbunyi seperti itu.

Firasatku berkata bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku tidak menggedor pintu kamar mandi itu, dan firasatku nyaris selalu benar. Ramalan bintangku bilang begitu.

Tanpa membuang waktu lagi, aku bangkit dari kasurku dan menggedor pintu kamar mandi kami.

"Oi, Pak Tua! Apa yang kau lakukan di dalam sana? Aku ingin pipis, segera keluar!" seruku, dengan nada semendesak mungkin.

Bunyi logam itu terhenti sejenak. Hening, sebelum Aomine menjawab, dengan suara serak dan gemetar, "A... Aku masih buang air."

"Bohong," sahutku cepat. "Ayolah Aomine-san, buka pintunya. Kalau aku pipis di sini, aku bersumpah kaulah yang akan membersihkannya!" ancamku.

"Begundal brengsek!" maki si psiko itu, Aomine, dari balik pintu kamar mandi, "Pergi tinggalkan aku sendiri!"

Aku memutar bola mata, sama sekali tidak terkesan. Jujur saja, pengalamanku sebagai ketua geng lintah darat selama belasan tahun di pelabuhan telah membuatku menerima jauh lebih banyak daripada intimidasi abal-abal yang ia coba lontarkan. Kentara sekali pria ini tipe pria baik-baik yang tidak bersentuhan dengan dunia gelap...

...well, selain selangkangannya, mungkin.

"Kalau kau tak membukanya, Pak Tua, aku akan memanggil petugas. Saat ini juga," bisikku, mengancam, tahu bahwa ancaman ringan seperti itu dapat membuatnya gentar.

Tentu saja aku benar. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Melihat kesempatan itu, dengan cepat aku mendobrak masuk...

...dan memutuskan bahwa pemandangan yang kulihat sama sekali tidak menyenangkan.


Aomine Daiki tergeletak di ubin kamar mandi yang basah, tanpa celana, dengan kaus oblong yang basah akibat air, mani, dan percikan darah. Ia menatapku dengan nanar, kedua matanya yang merah basah dan sembap, seolah-olah menantangku. Setiap tarikan napasnya berat, dan ia masih sesenggukan dengan susah payah, namun perhatianku tertuju pada pergelangan tangan kirinya.

Darah mengucur deras dari sobekan-sobekan di sepanjang pergelangan tangan tersebut, membentuk genangan di bawah tangannya, di sikunya, di bajunya, di pahanya... Bau amis logam menggantung di udara, mengingatkanku akan mimpi buruk bertahun-tahun silam. Di tangan kanannya, sesuatu yang tampak seperti logam yang dikikir tergenggam longgar.

"Astaga," bisikku pelan, tak ingin membangunkan penjaga, dan dengan cekatan menjauhkan logam itu darinya, seraya berlari cepat kembali ke kamar.

Aku harus menemukan sesuatu untuk menghentikan darahnya. Tatapanku terhenti pada benda pertama yang kulihatーhandukku, tetapi memutuskan untuk mengambil punya Aomine sajaーsebelum akhirnya meraihnya dan tanpa buang waktu kembali ke kamar mandi.

Pria itu merintih, entah karena kesakitan, atau karena dia jengkel padaku dan berusaha mengusirku, aku tidak tahu dan tidak peduli. Aku merobek handuk itu dengan gigiku, membaginya menjadi dua sehingga mudah diikat, lalu menekankannya ke tangan pria itu.

Aomine mengernyit, tangannya yang tidak terluka berusaha mengenyahkanku.

"Pergi! Biarkan aku! Biarkan aku mati! Pergi!" Ia memberontak, namun aku tetap bergeming. Aku mungkin terlihat kurus, tetapi sanggup mengangkat sebuah sedan jika aku mau.

"Pak Tua, stop! Hentikan sekarang juga!" aku membentaknya, kekesalanku sudah di ambang batas. Aomine terdiam. "Kau boleh mati di manapun yang kau mau, aku tak peduli, tetapi selama aku di dekatmu, jangan berani-berani berpikir untuk bunuh diri!"

Keheningan yang menyusul terasa berat. Aomine masih menatapku, namun kali ini dengan pandangan putus asa, seolah aku tidak mengerti. Sebaliknya, aku berkonsentrasi menjaga agar darahnya berhenti mengalir, menekankan handuk itu di luka-luka, yang untunglah tidak terlalu dalam, di sekujur tangan kirinya.

Detik berlalu, berganti menjadi menit-menit yang hening. Kami tetap dalam kondisi seperti itu, hingga akhirnya kesunyian dipecahkan oleh Aomine sendiri.

"Kau tak mengerti apapun," ia berkata lemah, tatapannya menerawang jauh, seolah sudah terlalu lelah menghadapi dunia ini. "Kau tak berhak menilaiku, kau tak tahu apa-apa... Hanya aku yang tahu kehidupanku sendiri. Hanya aku yang berhak memutuskan hidupku ini masih layak dijalani atau tidak, bukan kau!"

Aku mengangkat bahu, masih terfokus pada luka-lukanya.

"Dengar, kau akan terkena flu jika terus duduk di lantai basah beginiーtanpa pakaian yang tepat, pula! Ayo kita kembali ke kamar," ajakku, berusaha menariknya bangkit. Aomine bergeming. "Pak Tua, kesabaranku makin tipis. Sebelum aku menyeretmu keluar dari kamar mandi, sebaiknya gunakan kakimu untuk mengangkat bokongmu kembali ke kamar!" aku berseru jengkel.

Aomine mengernyit sejenak, namun dengan susah payah akhirnya mau bangkit. Aku membantunya berjalan, kembali ke kamar kami. Aku mendudukkannya di tempat tidurnya, lalu mengambil kotak P3K. Syukurlah obat anti infeksi dan perban masih ada. Dengan tangkas, aku mengeluarkan obat, kapas, dan perban dari kotak, lalu kembali ke pria berkulit gelap tersebut, yang kini berbaring sambil menatap langit-langit dengan mata berair.

Dalam diam, aku membersihkan luka-lukanya dan melilitkan perban di atasnya. Dalam diam pula, aku mendengarkan erangannya berubah menjadi isakan, sebelum akhirnya menjadi sedu sedan.

"Aku telah gagal, Shin. Aku telah gagal," isaknya, dengan suara yang paling menyayat hati yang pernah kudengar.


Aku berpura-pura memeriksa perbannya, merasa enggan melepaskan tangannya. Aku mendengarkannya.

"Aku gagal... Ya Tuhan. Aku benar-benar tak pantas hidup," isaknya, tangannya yang tidak terluka menyeka pipinya yang basah dengan jengkel.

Hening, hanya suara isakan pelan lelaki itu yang terdengar.

"Aku... Pernah berpikir begitu," aku akhirnya berbicara. Aomine melirikku dari sudut matanya yang bengkak. Aku mengalihkan pandang ke arah langit-langit, tak sanggup menatapnya. "Aku... dulu pernah berusaha mengakhiri hidup. Kau tahu karena apa?"

Tidak ada jawaban, meskipun aku tahu ia mendengarkan.

Aku melanjutkan, "Karena aku bosan," jawabku. "Aku... termasuk orang yang cukup pandai di antara teman-temanku, hingga aku melampaui semua prestasi akademik mereka. Tak puas, aku melanjutkan ke tantangan berikutnya: olahraga. Kau tahu? Ternyata aku bahkan dapat menjadi bintang olahraga tanpa perlu berusaha keras sama sekali," aku berhenti sejenak untuk melihat pria itu, "Basket adalah salah satu olahraga favoritku, jika kau mau tahu. Aku berhasil menjadi bintang sekolah... Nyaris tanpa susah payah. Tentu saja itu membuatku jengkel. Itulah pertama kalinya aku menenggak sebotol obat tidur."

Aomine memberiku tatapan terkejut, yang kubalas dengan senyum enteng.

"Ha, usiaku bahkan belum 15 ketika itu, tetapi entah bagaimana nyawaku terselamatkan. Semua orang tampak percaya bahwa aku lalai, bukannya sengaja, menelan tiga puluh kaplet obat tidur ke dalam kerongkonganku," aku menerawang.

"Ketika SMA, semua orang memberikan rekomendasi untuk melanjutkan kuliah di Universitas Tokyo. Aku memilih jurusan paling sulit yang bisa kupikirkan: Kedokteran. Kau tahu? Aku diterima, meskipun aku nyaris tidak belajar sama sekali untuk tes masuk," aku tertawa sinis.

"Aku benci pada takdirku," aku melanjutkan, setengah sadar bahwa tanganku terkepal di kedua sisi tubuhku, "Aku hidup karena menyukai tantangan, namun hidup itu sendiri tampak enggan memberikan tantangannya padaku. Duniaku redup, kau tahu, seolah sebuah tangan raksasa mencengkeramku dalam kegelapan dan meremasku. Aku bosan hidup, maka aku melakukan hal lain yang paling mungkin: melarikan diri dari kenyataan. Saat itulah aku mulai tergantung pada obat.

"Tentu saja, tak lama kemudian kampusku mengetahui perilakuku. Aku di-drop out ketika akan memasuki tahun ke dua," aku tersenyum mengingat kenangan itu, meskipun sesuatu di dadaku terasa sesak. "Dan kemudian seorang kenalan, sesama pemakai narkotika, mengajakku untuk bergabung ke dalam kelompok Yakuza di utara... Kau tahu, agar hidupku lebih 'menantang', katanya. Tanpa pikir panjang, aku kabur dari Tokyo dan pindah ke sana bersama temanku.

"Awalnya, hidup sebagai anggota Yakuza sangat menyenangkan. Malam dan siangku berlalu dengan cepat, dan tiba-tiba saja aku menduduki posisi yang cukup dekat dengan puncak. Suatu hari, setelah menghabiskan beberapa botol bir, aku keluar dari pub dengan seorang wanita bayaran cantik yang siap melayaniku. Aku menyewa hotel tak jauh dari pub tempatku minum-minum bersama rekanku, mengajak wanita itu bersamaku.

"Selanjutnya... Aku tidak terlalu ingat. Aku hanya ingat aku mengajak wanita itu ke kamar, berhubungan badan berkali-kali, minum-minum sebentar setelah itu, lalu semuanya gelap. Kali berikutnya aku membuka mata, aku telah berada di apartemenku sendiri, dalam keadaan setengah telanjang."

Aku menelan ludah, berusaha mengingat-ingat, namun sulit sekali setelah sekian lama. "Kejadian selanjutnya... berlangsung cukup cepat. Beberapa orang dari kepolisian datang menyergapku, menuduhku telah melakukan pembunuhan terhadap seorang wanita muda, yang tentu saja, tidak kulakukan," aku menghela napas. "Tetapi, semua orang tidak percaya. Wanita itu, yang kuajak menginap di hotel, ditemukan di ranjang yang sama tempat kami berhubungan badan, dengan dua puluh tusukan di sekujur tubuhnya."

Aku terdiam, meringis, merasakan nostalgia kengerian yang merayapi tubuhku ketika pertama kali mengetahui berita itu. "Dan kau tahu yang paling parah? Semua bukti tertuju padaku. Di pisau yang digunakan untuk membunuh wanita itu terdapat sidik jariku. Di sekujur tubuh wanita itu terdapat sidik jarikuーwell, tentu saja, karena kami kan menghabiskan malam bersama. Seorang karyawan hotel bahkan bersaksi ia melihatku keluar tergesa-gesa pada pukul tiga dini hari, meskipun bagaimana mereka tidak memiliki rekaman CCTV untuk itu, aku tidak tahu."

Aku menyandarkan kepalaku di tembok yang dingin. "Esoknya, ketika aku dilemparkan sendirian di penjara ini, seseorang mengunjungiku. Oh, temanku yang mengajakku masuk Yakuza itu. Kau tahu apa yang dikatakannya? 'Berterima kasihlah kami tidak membunuhmu, bangsat. Sekarang, nikmati hukuman tiga puluh tahunmu di penjara dengan tenang. Kalau kau berjanji untuk menjauh dari kelompok, aku memastikan kepalamu masih menempel ketika kau keluar dari penjara nanti'.

"Aku nyaris tertawa waktu itu. Tentu saja. Aku baru menyadari kebodohanku. Aku telah dikhianati orang yang kupercaya, karena aku pernah mengkhianati orang-orang yang mempercayaiku. Aku dibuang oleh orang-orang yang kuanggap penting, karena aku pernah membuang orang-orang yang menganggap diriku penting. Dan yang paling menyakitkan... Ini adalah hukuman bagiku karena aku tak mau bersyukur."

Aku menghela napas panjang. "Untuk mencapai kesimpulan ini, tentu saja tidak mudah. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, di malam-malam yang gelap di penjara ini, selama bertahun-tahun." Aku menutup kedua mataku, mengakhiri cerita.

Keheningan yang menyusul kali ini lebih lama, dan lebih panjang.


Rasanya kami seperti telah duduk berjam-jam di sana, sementara udara makin mendinginーpertanda datangnya subuhーsebelum akhirnya Aomine beringsut dari tempatnya meringkuk.

"Aku... Pernah memiliki keluarga kecil yang bahagia," Aomine memulai, dengan suara berat akibat emosi, syarat akan kenangan dan nostalgia. Aku menjaga pandanganku pada pola-pola yang terbentuk di dinding, mendengarkan. "Seorang istri yang cantik, anak-anak yang lucu dan sehat... Semua hal yang bisa kau dambakan sebagai seorang pria biasa yang pekerjaan sehari-harinya adalah mengajar subyek favoritnya di sebuah sekolah lokal. Hidupku sangat lengkap, sangat bahagia."

Aomine terisak sekilas, lalu melanjutkan dengan berat, "Saat sedang hamil anak bungsu kami, istriku didiagnosis memiliki tumor di rahimnya, padahal usia kandungannya telah mencapai 7 bulan. Dokter bilang, tumor tersebut berbahaya... tetapi Satsuki tetap tidak mau 'melepaskan' anak kami..." Aomine sesenggukan, "...ia meninggal tepat setelah ia melahirkan putra bungsu kami karena pendarahan hebat."

Ia terdiam selama beberapa detik, dan aku pun terdiam. Kami tenggelam dalam kesunyian yang syarat akan kesedihan itu selama beberapa waktu, menunggu Aomine melanjutkan.

"Hatiku hancur. Oh, jika saja 'hancur' adalah kata yang cukup untuk menggambarkannya. Tidak, hatiku tidak hancur, tetapi istriku membawa sebagian hatiku bersamanya ke liang kuburnya. Aku tidak menangis; aku tak bisa menangis, karena sebagian syarafku ikut mati bersamanya."

Aku dapat merasakan kepedihannya. Tenggorokanku terasa sangat menyakitkan, seolah seseorang sedang memainkan belati tumpul untuk menyembelihku.

"Ryouta, anak sulung kami, masih sangat kecil waktu itu terjadi. Ia tidak tahu apa-apa, namun ia kerap bertanya padaku 'Ayah, mana Ibu? Kenapa Ibu lama sekali perginya?' dan aku akan menjawab, 'Ya, nak. Ibu pergi jauh, jauh sekali.' Setelah beberapa bulan terus bertanya begitu, akhirnya suatu saat ia berhenti; seolah tahu bahwa Ibunya takkan ada lagi di sampingnya, seberapapun seringnya ia menangis. Untunglah ia sedang senang-senangnya akan kehadiran adik barunya...

"Menjadi seorang single father bukanlah pekerjaan yang mudah, Shin, apalagi dengan dua anak yang masih balita. Aku menyewa pengasuh anak paro waktu dari pagi hingga sore hari ketika aku bekerja, lalu menghabiskan malam dengan memasak, belanja, mengasuh anak... apapun. Hidupku untuk anak-anakku, darah dagingku dan Satsuki. Satsuki hidup dalam diri mereka. Seluruh eksistensiku hanya untuk mereka, sehingga tak pernah terlintas dalam benakku untuk mencari pengganti Satsuki.

"Ketika Ryouta telah masuk SMP, aku berhenti menyewa pengasuh anakーbiaya hidup kami sangat pas-pasan waktu itu. Aku mulai mengandalkannya untuk mengasuh si kecil Tetsu. Demi menghidupi mereka, aku melakukan banyak pekerjaan... jadi guru di siang hari, jadi pegawai toko di sore hari, jadi kuli konstruksi di malam hari... Aku tahu, meninggalkan kedua putraku di usia yang masih sangat rentan seperti itu adalah tindakan riskan, tetapi aku tak memiliki pilihan, Shin. Aku tahu, dan berharap, bahwa mereka akan baik-baik saja..."

Ia berhenti bercerita, digantikan oleh sesengguk yang sesekali keluar. Mataku menyusuri pola-pola di dinding dengan saksama, begitu tenggelam dalam kenoneksistenan suara lain selain tarikan napas pria di sebelahku.

Akhirnya Aomine berdeham, meretakkan gelas kesunyian yang melingkupi kami.

"Semuanya memang baik-baik saja, hingga suatu malam aku melakukan kesalahan...

"...kesalahan paling mengerikan, yang membuatku merasa bahwa bunuh diri berkali-kali pun tidaklah cukup."

Aku memerhatikan bahwa suaranya menghilang.

.

.

.

.to be countinued.


(a/n)

1. Ya, anal prolapse adalah kondisi ketika err... rektum keluar dari lubang anus. Pada kasus di atas, hal ini terjadi akibat anal sex yang terlalu 'bersemangat' #dor. Ada berbagai macam jenis anal prolapse ini, namun yang saya maksudkan di sini adalah external anal prolapse, yang benar-benar tampak dari luar (seperti kaus kaki pink yang mencuat dari lubang anus, lalalala~). Sebenarnya penyakit ini jarang mematikan, tetapi jika tidak ditangani dengan segera (apalagi jika rektum terluka) maka dapat berbahaya... seperti yang terjadi pada kasus di atas. (Lihat wikipedia: rectal prolapse untuk keterangan lebih lanjut)

2. Yep. This is an AU, dudes, and for a long time I've wanted to read SettleDown!Aomine and BadAss!Midorima. They're no longer as badass as when they're in high school, however, because in this fic they're already middle-aged men. LOL. ーCoretー(God, I really love torturing Aomine. He's so cute I can't help it)ーCoretー

3. Critics, comments, suggestions? Please tell me, I'll gladly appreciate them!

So... Thank you for reading! See you in the next chapter. ( ´ ▽ ` )ノ


Spoiler for chapter three!

1. What's exactly happen in Aomine's case? He'll reveal anything!

2. Next chapter will be at Aomine's POV.