Esok paginya, Taiga disambut sakit kepala luar biasa ketika dia bangun. Cahaya matahari menusuk mata Taiga dari jendela yang gordennya tidak ditutup.

Dari luar kamar terdengar dentang keras dan Taiga teringat apa yang membuatnya tersadar. Samar-samar dia ingat kejadian semalam. Aomine merebut kunci mobil dari tangan Taiga di parkiran mobil dan tak acuh dengan protes Taiga, dia lah yang menyetir sampai ke rumah Taiga. Aomine memerintah Taiga untuk berganti baju dan tidur begitu sampai. Taiga tidak ingat apakah Aomine sempat pulang atau tidak, tapi mendengar suara gaduh di luar, jawabannya mengarah ke tidak.

Dengan rintihan kecil, Taiga bangkit dari kasur. Siku kaki dan tangannya berbunyi seiring dia berdiri. Dia menyapu wajah dengan tangan dan diam di tempat sesaat, memantapkan resolusinya, lalu keluar kamar.

Bau gosong menguar ke udara.

"Aomine, sialan, kau berbuat onar apa lagi?"

Tak ada respon dari Aomine dan Taiga berbelok ke dapur, dia tertegun sejenak, memproses adegan yang dilihatnya. Aomine berdiri di depan kompor elektronik. Dia tak mengenakan baju atasan. Alih-alih sebuah celemek melindungi badan bagian depannya dari semburan minyak, membiarkan punggungnya yang masih basah karena keringat telanjang begitu saja. Tak jauh dari kaki Taiga, seonggok kaus putih yang basah tergeletak di lantai.

Aomine selalu bangun pagi untuk lari sebelum dia memulai aktivitas apa pun. Taiga pun biasanya melakukan hal serupa kecuali di hari dia pergi berselancar. Seandainya tak diserang hangover, dia pasti keluar dengan Aomine.

"Minggir," kata Taiga seraya menyikut Aomine dan merebut spatula di tangannya.

"Hei!" seru Daiki.

"Kau ini kenapa membuat hal sesimpel ini saja kok bisa gosong, sih," hardik Taiga. Dia menginspeksi penggorengan di atas kompor. Adonan pancake instan yang dituang Aomine terlalu tipis dan panas kompor terlalu tinggi, sehingga bukannya menjadi crispy, lembar pancake Aomine malah menjadi gosong dalam waktu singkat.

Taiga mengigit bagian dalam pipinya, tak mengacuhkan Aomine yang memberenggut di samping. Dia membuang pancake Aomine ke dalam bak sampah di sebelah wastafel dan menurunkan suhu kompor, lalu menuang ulang adonan pancake dari mangkuk besar yang ditaruh Aomine di atas konter.

Dia merasakan Aomine bergerak dan terdengar derit kursi meja makan seraya Aomine duduk. Taiga membiarkan ritme membuat pancake menguasai pikirannya: tuang adonan, tunggu beberapa menit sampai satu sisi masak, kemudian balik dan tunggu lagi, tuang ke atas piring. Ulang lagi dan lagi sampai adonan di dalam mangkuk habis.

Dalam lima belas menit, tumpukan pancake di atas piring sudah tinggi. Taiga mematikan kompor dan menaruh penggorengan ke dalam wastafel, lalu membawa piring pancake itu ke meja makan. Aomine menyambut Taiga dengan cengiran lebar.

Taiga memutar bola matanya. "Setengahnya buatku," katanya.

Aomine mengambil separuh tumpukan pancake ke piringnya dan menuang sirup maple di atas tumpukan itu. "Jadi, kita mau berangkat jam berapa?" tanyanya seraya mengunyah.

Sakit kepala Taiga mendadak kembali muncul. Alih-alih menjawab pertanyaan Aomine, dia berjalan ke mesin kopi dan mengambil mug, menuang kopi yang dibuat Aomine ke dalamnya. Dia butuh kopi sebelum menghadapi Aomine.

"Karena manajer kita sudah membuat janji dengan Vanity Fair, mau tidak mau kita harus pergi," tambah Aomine.

Taiga mendesah. Dia menarik kursi dan duduk di seberang Aomine sembari menaruh mugnya di atas meja. "Ya, aku tahu," kata Taiga.

Dia memijat pelipisnya dan bersiap-siap menghadapi hari yang panjang. Untunglah Aomine menuruti Taiga ketika dia memaksanya untuk pergi ke DMV dan meminta SIM setengah tahun lalu. Ada kalanya Taiga muak menyetiri Aomine ke mana-mana dan hanya Tuhan yang tahu kenapa laki-laki itu tidak mau membeli mobil sendiri walau gajinya lebih besar dari Taiga.

Dia akan membuat Aomine menyetir sepanjang jalan. Taiga menyeringai dalam hati.

.

Ternyata, saat mereka keluar rumah, langit gelap sudah bersiap menyambut mereka. Tetes hujan pertama jatuh ketika Taiga membuka pintu mobil di sisi penumpang. Dia membuat suara kecil seiring tetesan air memercik hidungnya. Taiga buru-buru masuk ke mobil dan menutup pintu.

Hujan adalah hal yang jarang terjadi menjelang musim panas. Taiga tidak habis pikir tiba-tiba hujan turun hari ini, tapi untuk sekarang, langit yang gelap adalah teman untuk kepala Taiga yang masih direcoki migrain. Dia merogoh kacamata hitam dari laci dashboard dan memakainya.

Di samping Taiga, Aomine sendiri sudah masuk ke dalam mobil. Dia memberi Taiga tatapan aneh.

"Apa?" kata Taiga.

Alis Aomine terangkat sebelah.

"Ugh. Jangan komentar. Kau pernah hangover, kan." Taiga memijat pelipisnya. "Sudah, jalan saja."

Aomine menuruti Taiga, dia tidak berkomentar apa-apa dan menyalakan mesin mobil, membawa mereka keluar dari driveway dengan satu kali usaha dan langsung berjalan. Sewaktu Aomine pertama ke Amerika, laki-laki itu tak bisa menyetir selancar sekarang, tapi berbeda dengan Tokyo yang memang kotanya dirancang untuk kemudahan transportasi umum, kau tak akan bisa punya hubungan sosial yang berarti tanpa bisa menyetir mobil di kota mereka.

Aomine pun mau tak mau menuruti Taiga dan belajar menyetir mobil. Dengan pendapatan mereka, sebenarnya mereka bisa menyewa sopir kapan saja. Namun, itu adalah hal terakhir yang Taiga inginkan. Aomine juga berpendapat sama.

"Mau ke McDonald?" tanya Aomine setelah beberapa menit.

"Bukannya kau sudah makan?"

"Memangnya kau sudah kenyang?"

"Touché," balas Taiga.

Aomine membawa mereka ke McDonald terdekat dari rumah Taiga dan masuk ke jalur drivethrough . Mereka memesan McMuffin dan Hashbrown dalam jumlah yang cukup untuk sepuluh orang. Hati Taiga jauh lebih ringan setelah dia menelan Egg and Sausage McMuffin keduanya. Dia mengamati wiper mobilnya bergerak dengan irama konstan seraya dia membuka bungkus McMuffin ketiganya. Aomine menyetir dengan satu tangan sementara sebelahnya lagi memegang makanan.

Mungkin hari ini tak akan berjalan seburuk yang Taiga bayangkan.

.

"Ponselmu berbunyi terus, tuh," kata Aomine saat mereka sudah masuk ke jalan antar negara bagian.

Gedung-gedung pendek dan pepohonan berkelebat seiring laju mobil. Kilat berpendar dari permukaan jalan yang masih basah. Hujan baru saja berhenti beberapa waktu lalu. Taiga sendiri sudah mulai tertidur ketika telponnya berbunyi di dalam tas yang ditaruh Taiga di kursi belakang.

"Ah," gumam Taiga. Dia berbalik badan dan merogoh tas dengan sedikit susah payah, sampai akhirnya tangannya menggenggam tekstur plastik dan bentuk kotak familier.

Ponsel Taiga sudah berhenti berbunyi ketika Taiga melirik layarnya, menemukan sebuah misscall dari shooting coach Taiga tertanda beberapa detik lalu. Taiga membuat suara di kerongkongannya. Buru-buru, dia melihat jam di dashboard mobil. Dia lupa sama sekali untuk mengontak shooting coach-nya.

"Ini semua gara-gara kau," kata Taiga.

Dia membuka halaman pesan singkat dan mulai mengetik sebuah pesan pendek: Coach, maaf aku lupa memberitahu. Aku dan Aomine pergi ke LA untuk beberapa hari. Karena ada wawancara?

Wawancara hanyalah alasan Taiga, tapi coach-nya tahu dia dan Aomine punya semacam kodepedensi akhir-akhir ini. Taiga sering menyangkalnya dan menuduh Aomine lah yang terlalu bergantung padanya.

"Jangan sembarangan menuduh," balas Aomine.

"Ini tidak akan terjadi kalau kau tidak tiba-tiba mengajak orang pergi," kata Taiga.

"Berisik. Memangnya siapa itu?"

"Shooting coach-ku, bodoh," kata Taiga.

Ponsel Taiga bergetar menandakan pesan masuk. Taiga menyapu layar dengan ibu jari.

Oke, Taiga. Kukira kau kesiangan atau apa. Minggu depan jadwal seperti biasa, kan?

Taiga mengetik lagi.

Oke. Maaf sekali lagi Coach.

Tidak masalah, kid.

Taiga mengembus napas lega begitu tahu coach-nya tidak mempermasalahkan kelalaian Taiga. Coach -nya adalah salah satu shooting coach terbaik yang bisa didapatkan sekarang-sekarang ini. Taiga tidak tahu apa jadinya bila dia kehilangan pelatih terbaiknya dalam dua tahun ini.

Dia memijat pelipis dan mengunci layar ponsel, menaruh ponsel itu ke dalam tempat koin yang ada di antara kursi depan. Taiga tak menoleh, tapi dia bisa merasakan Aomine melihatnya beberapa saat.

"Lihat jalan," ujar Taiga.

Aomine menurutinya dan kontan mengumpat. Dia mengerem mendadak, lalu berpindah jalur untuk mendahului mobil yang tiba-tiba melambat di depannya. "Fuck you," teriaknya ke arah mobil itu.

Taiga memutar bola matanya dan tidak mengingatkan Aomine siapa pun yang berada di dalam mobil itu tak bisa mendengar umpatan Aomine. Alih-alih, Taiga menyalakan radio, mengisi udara di antara mereka dengan petikan gitar country .

Suara familier Johnny Cash mengikuti alunan gitar. Taiga mengenali lagu itu dan membawakan liriknya di dalam hati.

.

Matahari sudah menghilang seluruhnya di balik horizon yang ditandai puncak-puncak bukit bertanah merah sewaktu mereka masuk ke perbatasan kota Los Angeles. Jalanan ramai di kedua arah. Lampu-lampu berwarna merah dan kuning membuat barisan seperti kunang-kunang di jalan yang tandus.

Aomine menyetel destinasi baru ke dalam ponsel yang dipasang sebagai GPS begitu mereka berganti jalur dari I-5 ke Hollywood Freeway. Dalam lima belas menit, bukit-bukit rendah membuka diri, memperlihatkan bangunan-bangunan satu lantai bercat netral dengan halaman depan yang ramai ditanami berbagai pohon hijau, termasuk pohon palem menjulang tinggi yang merupakan ikon kota ini.

"Mau ke mana?" tanya Taiga saat mereka melewati marka yang menandakan mereka telah melewati ujung Hollywood Freeway dan memasuki Rute 101. Puncak-puncak gedung pencakar langit meramaikan langit tidak berbintang.

"Uh, aku lapar," kata Aomine.

Jam digital di dashboard mobil berganti angka dari 00:01 menjadi 00:02.

"Di mana yang masih buka. Kau tahu?"

"Entah," kata Aomine. "Aku percaya saja dengan aplikasi di ponsel. Omong-omong, kau mau menyetir? Pantatku pegal."

Sesuai dengan resolusinya sedari pagi, Taiga tak menawari Aomine bergantian menyetir seharian. Bahkan seusai mereka beristirahat di rest stop dan mengisi bensin di tengah I-5, Taiga berdiam diri dan membiarkan Aomine mengambil kendali mobil. Taiga merasa sedikit kekesalannya pada Aomine terbalaskan.

Dengan murah hati, dia mengatakan, "Ya, sudah. Minggir dulu."

Aomine menunggu sampai mereka keluar Rute 101 dari exit yang diindikasikan suara datar dari GPS, lalu menepikan mobil di depan sebuah rumah kosong. Mereka berganti tempat dengan cepat karena selain gelap, beberapa wajah mencurigakan menoleh dari pengkolan yang mengarah ke gang di antara dua rumah. Taiga tak pernah melewati daerah ini. Dia tak tahu seaman apa tempat ini dan tak ingin mencari tahu. Aomine naik ke mobil dan Taiga menyuruhnya cepat menutup pintu ketika melihat salah seorang dari geng itu berjalan keluar.

Tanpa pikir panjang, Taiga menancap gas. Tidak memedulikan suara GPS yang menyuruhnya berbelok ke arah sebaliknya. Taiga membawa mereka sampai menembus ke jalan yang lebih lebar dan terang, dengan mobil-mobil berjalan lambat.

"Kau ini bukannya memilih tempat yang lebih oke untuk berhenti," hardik Taiga seraya dia berbelok, bergabung dengan kemacetan yang sedang terjadi di jalan itu.

Dia mengerling Aomine. Entah hanya ilusi Taiga atau memang Aomine terlihat sedikit pucat. Taiga pun sejujurnya masih merasakan adrenalin mengalir di badannya. Kalau dia tidak salah lihat, laki-laki bertopi Dodgers yang keluar dari gang itu memegang sepucuk pistol, dan hanya Tuhan yang tahu apakah hanya dia yang berpistol atau sekumpulan orang di belakangnya juga. Satu hal yang Taiga tidak rindukan dari Amerika sewaktu dia kembali ke Jepang adalah peraturan senjata api negara ini.

"Uh, kalau kita tertangkap, setidaknya mungkin besok kita akan terkenal. Seperti rocker di manga Beck itu," seloroh Aomine.

"Jangan bicara sembarangan," kata Taiga.

"Siapa lagi namanya ... Edward? Edwin?"

"Eddie."

"Ya, ya, itu. Kau baca manga itu?"

"Kau meminjam dari Kuroko dan tidak mengembalikannya waktu kita SMA. Sebelum itu, aku yang meminjam dari Kuroko, bodoh."

Tak lama, mereka melewati lokasi penyebab kemacetan. Lampu sirine mobil polisi yang parkir di pinggir jalan mewarnai wajah Aomine dengan cahaya merah-kuning-merah-kuning-merah. Beberapa petugas berseragam mengelilingi sebuah SUV yang menabrak pembatas jalan. Aomine mengamati adegan itu dengan serius, sementara Taiga bergidik. Bisa saja mereka yang dikelilingi oleh seragam-seragam biru alih-alih mobil SUV malang itu.

Klakson berbunyi dari belakang, dan Taiga memajukan mobil mereka walaupun sebenarnya dia hanya bisa berjalan satu meter. Kemacetan belum mereda walau mereka sudah melewati lokasi kecelakaan.

Taiga tidak tahu apakah Aomine pernah mengecek kompartemen di kolong kursi penumpangnya, tapi bila Aomine membukanya sekarang, dia akan menemukan sepucuk pistol yang tidak beramunisi. Sedari kecil dia sudah dihimbau oleh orang tuanya untuk berhati-hati di negara ini dan Taiga merasa lebih baik berhati-hati daripada menyesal. Entah kenapa dia tidak merasa ingin memberitahukan soal ini ke Aomine.

Satu jam kemudian, Taiga berbelok ke tempat parkir sebuah sportbar yang masih ramai dengan pengunjung walau malam sudah menjelang dini hari. Suara gaduh tumpah dari pintu bangunan itu ke jalan. Bayangan-bayangan pengunjung yang dibingkai cahaya bisa terlihat dari kaca berwarna susu.

Begitu masuk, Taiga mengerti kenapa tempat itu masih ramai. Wajah-wajah belia mendominasi ruang. Gender pengunjung bercampur dengan seimbang antara laki-laki dan perempuan. Beberapa tampak memakai jaket bertulisan varsity mereka. Taiga dan Aomine ternyata memasuki sarang mahasiswa yang berkuliah di dekat tempat ini.

Aomine tanpa banyak bicara langsung berjalan menuju sebuah meja tinggi berbentuk bulat yang kosong. Meja itu berada di tengah-tengah ruangan, dikelilingi meja-meja lain yang dikerubuti gerombolan orang. Taiga sendiri merasa agak canggung ketika beberapa pasang mata mengarah ke mereka ketika dia dan Aomine masuk, tapi setelah sesaat, dia mengikuti Aomine, membelah keramaian dengan langkah lebar dan memanjat untuk duduk di stool meja itu.

Dia dan Aomine berdiam diri di sana, mengamati penjuru ruang. Beberapa kepala masih menoleh ke arah mereka, walau kebanyakan sudah kembali ke aktivitas mereka masing-masing sebelum mereka diganggu dua orang asing yang masuk ke bar.

Seorang pramusaji menghampiri mereka setelah beberapa waktu.

"Halo, stangers, " katanya. "Dapur sudah tidak memasak makanan berat, tapi kalau kalian lapar masih ada sisa lasagna yang bisa kuhangatkan." Dia menaruh dua buah menu yang dilaminasi di depan mereka.

Taiga melihat sekilas daftar menu itu. Menu itu tidak panjang dan kebanyakan berisi nama-nama minuman beralkohol. Harganya lumayan terjangkau, sehingga misteri kenapa banyak mahasiswa berkumpul di sini pun terpecahkan.

"Lalu?" dorong sang pramusaji sambil menaikkan sebelah alisnya yang dipasangi anting platinum.

"Aku ingin lasagna itu dan bir dari tap kalian," kata Aomine, lalu dia melihat Taiga.

Taiga menyeringai. "Samakan dengan dia. Omong-omong, lasagna kalian masih tersisa berapa banyak?"

"Hmm, entahlah. Terakhir kulihat sepertinya masih setengah loyang besar," kata sang pramusaji.

"Bagus. Kami mau semua," kata Taiga.

Alis wanita itu menjulang semakin tinggi. Dia melihat sekilas ke Aomine dan laki-laki itu mengangguk.

"Oke. Lasagna dan dua bir, coming right up." Dia mencatat pesanan di sebuah buku catatan mini.

Selepas ditinggalkan pramusaji, Aomine mengeluarkan ponselnya dari saku. Taiga sendiri memilih untuk mengamati isi ruangan. Tempat ini tidak terlalu terang, sumber penerangan utama datang dari lampu-lampu gantung berbohlam tipe warm light yang disebar secara acak di atas kepala mereka. Tidak ada musik di tempat ini, tapi tiga buah TV LED besar dipasang di beberapa sudut ruang, menampilkan pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung di belahan dunia lain. Sorak-sorai meledak ketika salah satu tim di dalam TV mencetak gol.

Di antara keriuhan itu, ada seseorang yang menepuk pundak Taiga. Dia berbalik badan. Di belakangnya duduk tiga orang wanita dalam satu meja. Mereka semua memamerkan senyum lebar.

"Hei, kau baru pertama kemari?" Wanita yang duduk terdekat dengan Taiga berbicara. Dia tampak berdarah campuran antara Kaukasian dan Asia. Rambut sebahu membingkai wajah cantik berbentuk oval dengan mata cokelat dan pulasan make-up tipis.

Taiga mengerjap pelan. Dia membuka mulut untuk berbicara. Namun, mendadak salah tingkah, dia tergagap, "Y-ya. Kami hanya lewat saja."

Mata cokelat menyempit seraya ujung-ujung bibir wanita itu tertarik ke atas. "Sayang sekali. Kukira kalian bakal sering kelihatan."

Taiga mengedik bahu. Dia bukannya tidak bisa berinteraksi dengan perempuan. Hanya saja, setiap kali ada yang mendekatinya atau bermain mata dengannya, Taiga selalu kontan merasa tidak nyaman.

"Anyway, nama kalian siapa? Aku Christine."

Christine mengulurkan tangannya. Taiga memutar badannya lebih jauh dan bersalaman singkat dengan Christine. "Aku Taiga. Kagami Taiga," katanya.

"Wow. Jadi kau orang Jepang?" katanya, lalu melempar pandangan ke balik bahu Taiga, dia melanjutkan, "Kau juga?"

"Ya, aku juga," jawab Aomine dengan nada cuek. Bila Taiga melihat wajah Aomine sekarang, dia pasti akan disuguhi dengan pemandangan alisnya yang sedang berkerut. Taiga tertawa dalam hati. Setidak-berpengalamannya Taiga dengan wanita, ada yang jauh lebih tidak berpengalaman darinya walaupun mereka berdua sudah sama-sama berumur dua puluhan.

Himuro seringkali menertawai Taiga dan berteori bahwa Taiga sebenarnya bukannya tidak populer di kalangan wanita, tapi yang membuatnya seakan memiliki barir adalah aura basket nerd yang dibawa-bawa Taiga ke mana-mana. Taiga pun berkesimpulan Aomine yang seharusnya bisa dengan mudah mendapatkan pacar - laki-laki itu sangat terkenal di Jepang, terlebih lagi semenjak dia menjadi atlet NBA - juga memiliki masalah yang sama.

"Oke. Jadi Taiga dan - "

"Aomine Daiki," Taiga menambahkan.

"Ao ... mine. Namamu susah disebut," kata Christine.

"Namamu juga susah kusebut," balas Aomine.

Christine terkekeh. "Ya. Komentarmu fair. Oh ya, ini adalah Tania." Dia menunjuk seorang wanita berambut pirang dan panjang. "Dan, ini Sonja," tambahnya seraya menyentuh bahu wanita di sebelahnya yang memiliki struktur rahang tegas dan mata abu-abu terang.

"Hai," sapa Taiga dengan senyum kaku.

Christine terkekeh lagi. "Oke. Aku tak akan menganggu kalian lagi, tapi kalau besok-besok kalian lewat sini lagi, kami biasanya selalu hangout di tempat ini."

Taiga mengangguk. "Ya, kami akan ingat itu."

Christine berbalik badan dan Taiga terdiam di sana selama beberapa saat, melihat wanita-wanita itu saling mendekatkan kepala mereka untuk kembali berbicara, sebelum Taiga pun kembali menghadap Aomine. Di seberangnya, Aomine memasang wajah masam dan tiba-tiba di belakang Taiga, Christine dan teman-temannya meledak tertawa. Tidak diragukan lagi karena membicarakan mereka. Taiga berusaha untuk tidak berpaling.

"Kurasa perempuan yang pirang itu baru saja mengucapkan kata gay tanpa suara," kata Aomine dalam Bahasa Jepang.

Taiga meringis, memberi Aomine tatapan tajam.

Aomine mengangkat alis. "Loh, kenapa? Yang bilang kan mereka."

Taiga mengerutkan wajahnya. Memang cepat atau lambat pasti akan ada yang menduga macam-macam soal dia dan Aomine. Dua orang laki-laki yang pergi berdua ke mana pun - dengan yang satunya memiliki tingkat dependensi tinggi dan satunya lagi tidak pernah menolak. Dia memijat pelipisnya dan tidak mengacuhkan Aomine.

Tidak lama kemudian, pramusaji mereka datang dengan membawa senampan lasagna dan dua bir. Mereka tidak ingat lagi dengan hal lain ketika harum keju dan daging menyentuh hidung mereka. Taiga mendadak merasa sangat lapar. Dia mengambil piring yang diletakkan sang pramusaji dan memotong lasagna yang disediakan dalam piring besar.

Mereka ke sini untuk makan dan hal itu lah yang akan mereka lakukan.

.

Mereka menemukan hotel yang dipesan manajer mereka dalam keadaan setengah sadar. Kombinasi lelah karena perjalanan dan tiga botol bir dari sportbar yang mereka kunjungi memastikan hal itu. Hanya nasib baik yang menjaga mereka sampai di hotel tanpa berkekurangan apa pun.

Taiga menyabet key card dari tangan resepsionis dengan ekspresi berterima kasih dan langsung berjalan ke lobby lift setelah mereka check-in. Dia hanya ingat dengan samar membuka pintu kamarnya dan langsung masuk ke shower untuk mandi dengan kilat, sebelum menghempaskan dirinya ke kasur tanpa berpakaian apa pun. Bila dia bermimpi, Taiga tidak ingat apa isi mimpi itu.

Esoknya—atau, lebih tepatnya, beberapa jam kemudian, Taiga berdiri di depan pintu yang setengah terbuka dengan aura membunuh. Aomine berada di koridor, telah berpakaian lengkap walau hanya dengan setelan kaus belel dan celana pendek. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah telah menggedor pintu Taiga di jam enam kurang sampai dia terbangun.

"Apa yang kau inginkan?" ujar Taiga kesal.

"Seperti biasa," kata Aomine.

"Ha?"

"Lari, bodoh." Aomine menyilang tangan di depan dada. "Kemarin kau tidur karena hangover, kemarin lusa kau pergi surfing. Jadi, tidak ada alasan kali ini."

Taiga menyapu wajah dengan tangan. "Aomine, semalam kita sampai di hotel jam dua lewat. Aku tak mengerti bagaimana kau bisa bangun sepagi ini."

"Cepatlah, kita mampir beli kopi untukmu."

Taiga mengucek mata, memaki Aomine dengan gumaman pelan. Namun, dia tahu tak ada gunanya melawan Aomine. "Oke. Oke. Beri aku lima menit untuk bersiap-siap."

"Heh. Tentu," kata Aomine, lalu terdiam sejenak, dia memberi Taiga kerlingan kotor. "Pakai sesuatu."

Taiga menjatuhkan pandangan ke tubuhnya, dan sadar untuk pertama kalinya, dia belum mengenakan apa-apa. Sewaktu bangun tadi, Taiga tidak peduli dengan apa pun selain menghentikan suara terkutuk dari pintunya. Pipinya memerah. Dia kontan menutup pintu, tak memedulikan tawa Aomine yang terdengar di baliknya.

.

Beberapa waktu kemudian, dengan harga diri yang belum sepenuhnya utuh, Taiga turun menemui Aomine di lobby. Aomine meliriknya pendek, kemudian memiringkan kepalanya ke arah pintu. Taiga mengikuti Aomine dan tanpa memulai percakapan, mereka mengatur kecepatan lari mereka agar beriringan.

Aomine membawanya memutari blok hotel, melewati toko-toko trendi yang masih belum buka, dan menyusuri waterfront berpagar besi. Taiga tak tahu sefamilier apa Aomine dengan daerah ini, tapi dia tampak tahu ke mana dia melangkah. Taiga sedikit curiga Aomine telah menandai rute mereka sebelum mengajak Taiga lari.

Satu jam kemudian, sewaktu cahaya matahari sudah kehilangan rona pagi dan mulai menyilaukan mata, mereka berhenti di sebuah gerai Starbucks yang tidak terlalu ramai. Taiga memesan kopi Americano yang simpel dan menatap Aomine mengotori sisi mulutnya dengan krim Frapuccino seraya dia minum.

Dari sudut matanya, Taiga melihat seorang wanita diam-diam mengarahkan kamera ponsel ke mereka. Taiga menggigit bibir dan mengetuk meja. Kejadian serupa tak terlalu sering berulang, tapi cukup untuk membuat Taiga mengerti perasaan selebriti yang selalu dibuntuti papparazi. Untunglah pemain basket hanya dikenali orang-orang dengan minat tertentu.

Aomine menangkap matanya dengan tatapan penuh tanya. Taiga mengangkat bahu. Dia yakin Aomine bahkan lebih sering dicuri fotonya daripada Taiga. Tak ada gunanya memberi tahu Aomine.

Mereka tak beristirahat terlalu lama. Setelah kopi mereka habis, Aomine bangkit dan mengajaknya kembali ke hotel untuk sarapan. Mereka menyusuri rute yang sama, hanya saja kali ini lebih ramai dengan mobil dan penduduk yang berjalan-jalan membawa anjing atau pun bayi mereka. Beberapa, seperti Taiga dan Aomine, berlari pagi sebelum memulai aktivitas hari itu.

Napas Taiga sudah mulai habis ketika mereka sampai di hotel.

"Sarapan?" tanya Taiga.

"Mandi dulu," kata Aomine. Napasnya pun memburu. Keringat membasahi seluruh kausnya. Dia menarik kerah kaus untuk melap wajah.

Taiga mengangguk. "Ya sudah. Ketemu lagi di lobby setengah sembilan?"

"Oke."

Mereka masuk ke dalam lift. Aomine kontan melepas kaus ketika pintu lift tertutup, menggunakan kaus basah itu untuk menyapu keringat dari sekujur tubuh dan lehernya.

"Kau menjijikkan," kata Taiga. "Lakukan itu di kamar mandi."

Aomine mengangkat bahu, tak menjawab Taiga.

Taiga memicingkan mata dan turut diam, memerhatikan punggung Aomine sampai lift berhenti di lantai mereka dengan dentingan bel pelan.

.

Reporter dari Vanity Fair setuju untuk menemui mereka di sebuah restoran yang tak terlalu jauh dari hotel. Seusai sarapan, mereka berjalan kaki menapaki rute lari pagi mereka. Kali ini berkesempatan untuk melihat-lihat.

Toko-toko sudah buka dan trotoar ramai dilalu-lalangi oleh berbagai macam jenis orang. Mulai dari yang bersetelan jas dan dasi untuk kerja sampai beberapa yang jelas merupakan turis. Taiga memasukkan tangannya ke kantung celana jins dan membiarkan Aomine mengarahkan mereka ke tempat yang dia mau.

Taiga tumbuh besar di kota ini. Di antara mereka berdua, Aominelah yang merupakan turis. Walau sejujurnya, Taiga tak mengerti apa yang ingin dilihat Aomine. Mereka sering ke kota ini dikarenakan pertandingan basket dengan franchise lokal. Dan, beberapa kali mereka telah berkeliling Los Angeles bersama anggota tim dan manajer mereka. Bahkan, suatu kali Christesson menyewakan limusin, lengkap dengan lemari es yang terisi penuh dengan botol minuman.

Ketika mereka melewati restoran yang menjadi titik temu dengan reporter Vanity Fair, waktu masih lebih awal dari jam yang mereka setujui. Namun, Taiga memutuskan untuk masuk ke dalam dan menunggu. Tak ada lagi yang bisa dilihat-lihat di sekitar tempat itu dan dia sedikit jengkel ketika lagi-lagi menangkap seorang laki-laki mengambil foto mereka dengan diam-diam saat Aomine berhenti di depan food truck penjual taco.

Mereka diantar untuk duduk di meja yang bersebelahan dengan jendela. Taiga bisa melihat aktivitas di trotoar dengan jelas dari tempatnya. Tak pelak, orang-orang yang lewat pun bisa melihat Taiga. Namun, terhalang oleh selembar kaca dari dunia luar, Taiga merasa sedikit lega.

"Kalian sudah siap untuk pesan?" tanya seorang pramusaji. Di dadanya, tersemat plakat bertulisan Kim.

Taiga mengamati plakat itu dan dengan senyum kecil, berkata, "Smoothies stroberi dan um, sandwich nomor dua belas."

"BAALT sandwich? Oke. Bagaimana dengan tuan yang satu lagi?"

Taiga mengerling Aomine. Kedua alis laki-laki itu bertautan sembari menatap halaman menu. Taiga tertawa dalam hati. BAALT sandwich adalah singkatan dari bacon, avocado aioli, lettuce, tomato , dan turkey breast. Restoran yang dipilih reporter Vanity fair hanya menyediakan menu makanan sehat dengan nama yang aneh.

"Kurasa dia mau menyamakan saja," kata Taiga, lalu ketika kepala Aomine terangkat, dia menambahkan ke Aomine, "smoothies? "

Aomine menutup buku menu. "Sudahlah. Apa saja."

"Samakan," konfirmasi Taiga ke Kim.

Kim mengangguk dan tersenyum lebar.

Tidak lama setelah pesanan mereka diantar, reporter Vanity Fair tiba.

"Ah, maaf kalian tak menunggu lama, kan?" kata seorang wanita seraya menghampiri meja mereka. Wanita itu berperawakan tinggi dengan wajah berahang tegas. Rambutnya pirangnya dicat ombre biru.

"Vanessa Strauss?" tanya Taiga. Dia berdiri dan menyalami wanita itu.

"Ya. Apa kabar?" Dua buah lesung pipi muncul di wajah Vanessa ketika dia tersenyum.

"Baik," kata Taiga, "duduklah."

Taiga menarikkan kursi untuk Vanessa.

"Terima kasih," kata Vanessa. Setelah terduduk, dia memiringkan kepala dan untuk pertama kalinya, berbicara dengan Aomine, "Hai, Daiki. Terima kasih kau setuju untuk bertemu denganku hari ini."

"Ah." Aomine tak acuh. Dia menatap Vanessa dengan dingin.

Benak Taiga kembali ke pembicaraan anehnya dengan Aomine beberapa hari lalu ketika laki-laki itu baru saja mendapat kabar soal wawancara ini. Aomine tak terlihat senang waktu itu ... dan, melihat air mukanya sekarang ... mungkin si bodoh ini masih berperasaan sama?

Ah.

Taiga diam-diam menginjak kaki Aomine di bawah meja.

Aomine tak bersuara, tapi dia kontan melonjak pelan. Matanya memelototi Taiga.

Taiga mengangkat kedua alisnya, mengomunikasikan pesan tanpa suara—Vanessa datang untuk bekerja dan entah apa yang akan ditulisnya nanti di artikelnya, lebih baik Aomine bekerja sama daripada membuat musuh dengan media.

Aomine memutar bola matanya.

"Ada sesuatu?" tanya Vanessa.

"Ah, tidak." Taiga tersenyum. "Kau mau pesan dulu, mungkin?"

Dia melambaikan tangannya ke Kim.

Vanessa memesan minuman dan menolak ketika Taiga menawarinya untuk memesan hal lain. Setelah Kim kembali meninggalkan mereka, Vanessa mengeluarkan sebuah alat perekam elektronik dan meletakkannya di atas meja.

"Ah, maaf," kata Vanessa. "Kurasa lebih baik kita segera mulai?"

"Tentu," balas Taiga.

"Sejujurnya, aku tak menyangka kau akan datang hari ini. Manajer kalian hanya menyebutkan Daiki," kata Vanessa. Dia memberi Taiga senyum simpul, mengisyaratkan dia tak bermaksud menyinggung.

Taiga menggaruk kepalanya. Dia melirik Aomine sekilas. "Aku hanya menemani anak itu, kok. Dan ... Aomine terkadang masih membutuhkan penerjemah. Kurasa kau bisa menganggapku penerjemah saja hari ini."

"Oh, tapi ... aku ingin mewawancaraimu juga. Maksudku, kalau kau tidak berkeberatan."

"Uhm. Aku tak berkeberatan," kata Taiga.

Di sampingnya, Aomine mengangkat alis. Dalam Bahasa Jepang, dia berkata, "Jadi kau mau menjadi penerjemahku hari ini?"

Kuku Taiga menancap ke bagian paha celana jinsnya. Taiga pun tak mengerti kenapa dia mengatakan hal itu. Dia tahu, Aomine mengerti Bahasa Inggris dan bisa membalas dengan baik, walau dengan aksen yang terkadang masih berantakan. "Aomine, sudahlah," kata Taiga.

"Terkadang kau melakukan hal yang tidak kupahami," kata Aomine.

"Bukan waktunya membicarakan ini sekarang," ujar Taiga.

Aomine mendecak lidah dan membuang muka.

Taiga mengepal tinjunya di bawah meja. Di seberang Taiga, Vanessa memerhatikan pertukaran kata mereka dengan sedikit memiringkan kepala. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ingin menginterupsi Taiga dan Aomine.

"Uhm," kata Taiga, "mulai?"

Vanessa membenarkan postur badannya. "Tentu," katanya seraya menyalakan alat perekam. "Kita rileks saja. Ah, Daiki," Vanessa melihat Aomine, "kalau kau susah menjawab atau tak mengerti apa yang—"

"Jangan dengar omongan si bodoh ini. Aku bisa Bahasa Inggris," pungkas Aomine.

"Oh, oke," kata Vanessa. Lalu, dengan sedikit kaku, dia melanjutkan, "Baiklah jika memang demikian ... Taiga,"—Vanessa melihatnya, memulai dari Taiga karena di antara mereka berdua, jelas terlihat Taiga lebih mudah untuk saat ini—"Kudengar kau cedera bulan lalu? Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Aku hanya terkilir," jawab Taiga singkat, tapi menangkap anggukan kecil Vanessa yang mengisyaratkan Taiga untuk menguraikan, dia menambahkan, "Aku cedera ketika berlatih di pantai. Semenjak SMA, salah satu regimen latihan intensifku adalah melatih kekuatan kaki dominan dengan melompat di pasir pantai. Hanya saja, bulan lalu, aku ceroboh. Untung lah hanya terkilir biasa."

"Bagus lah. Kakimu adalah aset terbesarmu sebagai pemain. Lompatanmu luar biasa. Kau sudah bisa melakukan itu semenjak SMA?"

Taiga menggaruk kepalanya. "Yang menyadarkanku soal potensi lompatanku pertama kali adalah pelatihku di kala itu. Dia menginstruksikan agar aku tidak bertanding sama sekali dalam suatu kurun dan menyuruhku untuk berulang-ulang melompat ke kanan dan ke kiri di pantai seperti orang bodoh.

"Setelah tiga hari, dia menyuruhku melompat. Bukan dengan kaki yang biasanya, tapi dengan kaki satu lagi. Aku mencoba. Dan ternyata aku bisa melompat jauh lebih tinggi. Dari semula, memang lompatanku sudah tinggi, tapi dari sana aku baru sadar aku bisa melebihi ekspektasiku sendiri. Walau sebenarnya," Taiga berhenti sejenak dan melempar pandangan ke Aomine yang sedari tadi memerhatikan mereka, "uhm, ya begitu lah. Di masa SMA aku melalui hal-hal yang membuatku mengerti potensiku."

Vanessa tersenyum. "Kau melirik Daiki. Sepertinya ada cerita di balik itu. Kalian kenal satu sama lain dari SMA, kan?"

"Ya. Kami tidak bermain di satu tim, tapi sering bertemu dalam pertandingan karena sekolah kami di prefektur yang sama."

"Oh ya? Kudengar kalian terkenal di bangku SMA. Dan, Daiki, dari beberapa sumber yang sempat kutemukan, namamu sering dikait-kaitkan dengan grup ... Generation of Miracles ? Nama itu agak unik. Bisa kau ceritakan sedikit tentang itu?"

"Heh. Aku tak tahu dari mana nama itu berasal," ujar Aomine. "Personel tim sekolahku di bangku SMP secara kebetulan memiliki kemampuan bermain basket yang lebih baik dari umumnya untuk usia kami. Kami memenangkan banyak pertandingan. Entah sejak kapan, sebutan itu mulai menyebar untuk kami."

"Rasanya sulit dipercaya tim SMP bisa seterkenal itu sampai menarik perhatian media massa. Di manakah Taiga waktu cerita ini dimulai?"

"Aku masih belum kembali ke Jepang," kata Taiga.

"Dia baru mengenal nama itu waktu berhadapan dengan kami satu per satu di kejuaraan nasional," imbuh Daiki.

"Menghadapi kalian satu per satu?"

Daiki menopang dagu. "Ya. Setelah lulus SMP kami semua masuk ke sekolah yang berbeda. Anak ini masuk ke sekolah yang tim basketnya tak berprestasi. Bisa dibilang, menghadapi kami menjadi batu loncatan untuknya."

Taiga mengerjap. Dalam seumur hidupnya mengenal Aomine, Taiga tak menyangka Aomine—angkuh, besar kepala, egois—akan mengatakan hal itu.

"Hmm ... jadi maksudmu, kemampuan Taiga berkembang karena kalian?"

"Ah." Aomine mengangguk.

Sesuatu dalam dada Taiga mengetat. "Aku pulang ke Jepang tak berharap dapat bertemu dengan lawan yang berarti," katanya, "tapi ternyata aku salah besar."

Kepala Aomine bergerak sedikit, ujung matanya menangkap Taiga.

"Lalu, setelah lulus SMA kalian berpisah jalan, kan. Kudengar kau pada awalnya tidak diterima di universitas Amerika, Taiga?"

"Ya. Setelah kami lulus. Aomine mulai bergabung dengan bj league. Dia direkrut Tokyo Cinq Rêves, sedangkan aku ... waktu itu aku tak tahu apa yang ingin kulakukan. Tapi, ayahku ... dia sangat keras kepala. Mendengar tak ada universitas yang mau menerimaku karena nilaiku yang,"—Taiga mengayunkan tangannya—"yah, dia berkeliling Amerika, menunjukkan video pertandinganku ke pelatih-pelatih universitas. Sampai, akhirnya Coach Richardson dari Connecticutt bersedia menerimaku ke timnya. Itu pun aku tak mendapat beasiswa dari Connecticutt."

Vanessa tertawa kecil. "Aku mengikuti karirmu di NCAA. Connecticutt seharusnya tak menyesal menerimamu," komentarnya, lalu, dia berpaling ke Aomine, "Kau langsung masuk ke dunia pro selulus SMA. Apakah hal itu sering terjadi?"

"Tidak. Kurasa memang mereka pun terpaksa, karena di Tokyo tak ada pemain lain yang lebih cocok untuk tim saat itu," kata Aomine.

"Begitukah? Tapi, kenapa hanya kau? Apakah ada pemain dari Generation of Miracles yang juga langsung bergabung dengan dunia pro selepas SMA?"

Aomine mengerutkan hidungnya.

"Aomine adalah pemain terbaik di kejuaraan terakhir kami semasa SMA. Dia mencetak career high yang ... sampai kini aku masih belum percaya terjadi. Tak ada Generation of Miracles lain," ujar Taiga.

"Wow. Tadi kau bilang kalian satu prefektur, berarti sekolahmu tidak lolos babak penyisihan di tahun ketiga?" kata Vanessa.

"Um ... ya." Taiga mengangkat bahu. "Kurasa memang sedari tahun itu, laki-laki bodoh ini semakin susah kukejar."

Vanessa memiringkan kepalanya. "Maksudmu?"

Taiga mengalihkan pandangannya. Sedikit salah tingkah. Dia tak ingin Aomine mendengar ini, tapi …, "Aku selalu beranggapan kami adalah rival. Hanya saja sejak tahun itu aku—"

"Kau dengar apa yang keluar dari mulutmu?" pungkas Aomine dalam Bahasa Jepang.

Taiga sontak melihat Aomine. Wajah Aomine memancarkan ekspresi jengkel. Alisnya betaut dan matanya memicing.

"Kau—"

"Aku benar-benar tak mengerti isi kepalamu." Aomine tak membiarkan Taiga menyelesaikan kalimatnya. "Wawancara ini membuang-buang waktu."

Sebelum Taiga bisa mencegahnya, Aomine bangkit berdiri. Tanpa keraguan sedikit pun, dia menggeser kursi dan melangkah keluar dari restoran. Beberapa pengunjung restoran yang merasakan aura konfrontasi di meja mereka menoleh, mengikuti gerak Aomine dengan pandangan mereka sampai dia hilang di balik pintu.

Di meja yang dia tinggalkan, Taiga dan Vanessa tertegun. Jantung Taiga berdetak kencang, menatap pintu yang tertutup di belakang punggung Aomine. Dia setengah mengira pintu itu akan dibuka lagi, menampakkan Aomine yang melenggang masuk. Namun, setelah beberapa saat, Taiga sadar, jelas hal itu tak akan terjadi.

Dia mengalihkan perhatiannya ke Vanessa yang tengah mematikan alat perekam. Taiga tak tahu dia harus bilang apa. "Maaf, kami—"

"Tak apa." Vanessa tersenyum. "Aku sudah diperingati ini mungkin terjadi. Dia tak begitu suka dipublikasi?"

"Sebelumnya tak separah ini. Miss Strauss, maaf," Taiga berdiri, "mungkin manajer kami nanti yang akan menelponmu dan mengatur jadwal lagi?"

Vanessa mengangguk. "Pergilah," katanya. "Terima kasih."

Taiga mengambil dompet dari kantung celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dua puluh dollar. Lalu, memberi Vanessa sebuah senyum simpul permintaan maaf, dia meletakkan uang itu di atas meja dan menyusul Aomine.

.

Taiga tak berhasil menemukan Aomine ketika keluar dari restoran. Tepi jalan telah ramai karena massa yang keluar untuk mencari santapan siang. Pandangan Taiga terhalang oleh badan-badan yang menabraknya karena dia berdiri diam di tepi jalan. Menelan perasaan dongkolnya, Taiga mulai melangkah di antara lautan badan manusia, membuka jalan ke arah hotel mereka.

Ke mana pun Aomine pergi, mau tak mau anak itu pasti akan kembali ke hotel pada suatu titik. Tebakan Taiga benar. Beberapa blok dari hotel mereka, dia melihat Aomine duduk pada sebuah kursi beton yang dipasang di pinggir trotoar. Tangannya tersimpan di kantung celana pendek. Wajahnya cuek, mempelajari orang-orang yang berlalu-lalang.

Taiga mengetatkan tinjunya dan menghampiri Aomine.

"Apa yang kau lakukan?"

Aomine mengangkat wajah. Matanya terkunci ke Taiga dengan ekspresi datar. "Menunggumu," ujar Aomine.

"Bukan itu maksudku. Kenapa kau meninggalkanku dan reporter Vanity Fair itu begitu saja?"

Aomine mendecak. "Itu? Kukira kau sudah tahu?"

Taiga memicingkan mata. "Aomine ..."

"Cih. Aku tak suka dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu. Cukup jelas, kan."

"Apa yang kuutarakan tak ada hubungannya denganmu."

"Tak ada hubungannya denganku? Jangan membuatku tertawa, Bakagami." Aomine berdiri. Dan, seraya menaut alis, dia menambahkan, "Ada apa denganmu?"

Taiga menarik napas dalam dan mengembusnya. Berusaha menahan amarah. "Tak ada apa-apa. Jangan berlaku bodoh, Aomine. Telepon manajer tim dan minta maaf."

Aomine melangkah maju, memakan jarak di antara mereka sampai hanya tersisa selangkah. Sedekat ini, Taiga dapat membaca dengan jelas kekesalan di mata Aomine. "Bila kau tak menjawabnya, apa aku harus mendiktekan untukmu soal apa yang terjadi denganmu?"

Taiga menggemeretak gigi. "Kau tak tahu apa-apa soal diriku," desis Taiga.

"Menjadi penerjemahku? Kau tahu, alasan itu bagus sekali. Kenapa tidak sekalian saja bilang kau ini baby sitter -ku?" kata Aomine.

"Aomine!" hardik Taiga.

Aomine tak berhenti di sana. Dengan suara semakin keras, dia mengatakan, "Kenapa? Kau butuh alasan agar perempuan itu tidak mengusirmu, bukan?"

Kuku-kuku Taiga menancapi telapak tangannya.

"Kagami Taiga, sejauh ini, di NBA kau sama sekali tak menikmati bermain basket. Bukankah demikian?" tanyanya.

"Aomine, cukup!" kata Taiga.

Aomine tak mengacuhkan Taiga. Dia mengangkat tangannya, mendorong dada Taiga hingga Taiga mundur selangkah. "Kau adalah pemain basket. Bukan penerjemah atau pun baby sitter- ku, atau pun supirku. Hanya karena permainanmu payah, tak berarti kau harus punya alasan untuk duduk di sana!"

Taiga tak sempat mengontrol dirinya sendiri. Dia mengayunkan tinjunya, merasakan tangannya terhubung dengan permukaan keras rahang Aomine. Seketika, rasa sakit membumbung dari buku-buku tinju Taiga. Di hadapannya, Aomine terhempas hingga mundur beberapa langkah.

Waktu seperti terhenti.

Taiga berhenti bergerak. Dia bernapas dalam, merasakan tengkuknya berdenyut seirama dengan detak jantung kencangnya. Aomine membenarkan posturnya seraya menatap Taiga dengan dua mata sedingin es. Taiga mengeraskan badannya. Tak pelak balasan Aomine akan akan datang.

Namun, Aomine tak melakukan apa pun. Dia terdiam, memerhatikan Taiga seakan menunggu Taiga untuk mengatakan sesuatu. Hanya saja di detik itu, Taiga telah kehilangan kata-kata. Dia menggigit bibirnya, terpatri di tempat.

"Heh. Sudah sejak kapan kau mau melakukan itu?" ujar Aomine.

Taiga membuang muka.

Tak ada yang mengisi kekosongan di antara mereka setelah itu. Beberapa waktu kemudian, Aomine berbalik, meninggalkan Taiga sendirian untuk berdiri seperti orang bodoh di sisi jalan. Beku oleh rasa bersalah dan tak berdayanya sendiri.