하는 외국인

by : LynCliff

Disclaimer : I don't own SuJu, but this story is mine

Warning : Fanfic Mulchap pertama, Alur kecepetan, OOC, AU, Typo berserakan.

Genre : Misteri - Romance - Action *nano nano pokoknya*

Rate : T -buat jaga jaga-

Cast : WONKYU and other

Gyu = Cho Kyuhyun -18 th-

Choi Siwon = Choi Siwon -28 th-

.

^Happy Reading^


Chapter 2 : His Name

5 April 20xx

Siwon's Apartmen, at 08.00

"Ini.."

Siwon menatap nanar benda yang baru saja terjatuh dari dalam jaket orang asing di atasnya. Pria bermarga Choi itu cukup terkejut, dia tidak mungkin sedang mengalami kebetulan semata. Masih menatap benda itu, Siwon mengernyitkan dahi tidak suka. Orang di atasnya juga semakin dalam mencekiknya. Siwon beralih menatap orang diatasnya. Seperti di luar kendali, meski tangan orang itu mencengkram lehernya kuat, namun raut wajahnya justru kesakitan. Ah soal kenapa pria diatasnya kesakitan itu nanti dulu, pikir Siwon. Pria tampan itu mendorong tubuh yang lebih muda ke belakang. Sekarang Siwon yang menindih si orang asing. Dia mengeluarkan pistol sebagai peringatan. Namun efeknya semakin parah. Orang itu semakin meronta, berteriak-teriak keras. Bilang "Jangan bunuh aku." Berulang kali. Siwon semakin bingung, makannya dia menurunkan pistol itu.

"Ck." Gumamnya. Lalu turun dari tubuh orang asing itu. Yang lebih muda meringkuk di ujung tempat tidur, membuat jarak dengan Siwon selebar mungkin. Masih trauma dengan todongan pistol tiba-tiba dari Siwon. Tubuhnya bergetar. Tangan-tangan putih itu mencengkram erat jaket usang yang dipakainya. Orang itu masih menggumam kata-kata aneh, entah apa. Sebanyak yang Siwon dengar sama seperti beberapa detik lalu saat dia menodong pistol. Siwon semakin bingung. Dia melirik orang asing itu. Lalu berpindah pada benda yang tadi sempat membuatnya terkejut.

'Dari mana anak ini punya benda..atau dia pelakunya? Ini kebetulan? Atau trap dari musuh?'

Masih mengamati itu. Benda yang sama persis seperti yang Yoona bawa ke rumah Teuk. Ukuran, corak, semuanya sama. Hanya saja yang ini adalah pasangan yang lain. Tangan kiri.

Siwon mengambil benda itu, lalu memperlihatkannya di depan orang asing di pojok tempat tidurnya, "Dari mana kau dapat ini?"

Orang itu hanya mengangkat kepala sedikit. Masih bergetar, trauma jelas sekali mengecap di wajah putih pucatnya yang tertutup perban. "A-Aku tidak tahu..Argh! kepalaku!"

Siwon kembali menghela nafas. Orang ini kenapa si? "Ayo ikut aku."

Orang asing itu berjinggit kaget. Dia semakin gemetar, "Mau kemana?"

"Aku butuh kejelasan. Kau tahu benda ini? Benda ini sangat penting dan kau datang ke apartmenku dengan keadaan seperti itu, juga membawa benda yang sangat penting. Kau pasti tidak akan sengaja menyerahkan diri, kan?"

"Melarikan, apa?"

"Ayo ! Ikut aku!"

Siwon mencoba membujuk orang itu. Dia merangkak perlahan mendekati orang itu. Mengulurkan tangan, tanda bahwa dia orang baik, menurut Siwon. Tapi orang itu tetap bertahan dalam dinding tangannya, bersembunyi dari Siwon. Siwon menarik paksa tangan yang tertutup perban itu. Namun dengan mudahnya juga orang itu menangkis tangan Siwon. Terpaksa Siwon merangkak lebih dekat. Selagi orang itu terus menyembunyikan matanya di balik kungkungan tangan, Siwon tidak akan terlihat. Tangan sedikit tan itu meraup tubuh yang lebih muda dengan mudah. Menggendong orang asing itu di pundaknya yang kokoh. Tak perduli dengan rontaan dan pukulan telak di punggungnya, Siwon keluar dari apartmen dengan mengendap.

.

"Turun! Turunkan aku!"

"Tidak sebelum aku mendapat jawabannya!"

"Aku tidak bisa mengingat apapun!"

BRUK

Siwon menjatuhkan orang itu di kursi penumpang mobil audinya. Dia bergegas menutup pintu, lalu berlari menuju pintu yang lain. Siwon melihat orang di sampingnya menggembungkan pipi kesal. Wajahnya terlihat akan menangis, namun ditahan. Siwon tidak perduli. Tidak lupa, saat dia menginjak pedal gas, sebuah benda Siwon lemparkan ke pangkuan orang asing yang Siwon sendiri tidak tahu namanya. Ah, masa bodo dengan nama. Jika orang ini bisa membantu kasus, apa salahnya menggunakan cara kasar? Lagi pula orang di sampingnya sepertinya hanya orang pinggiran.

Orang asing itu mendengus sebal. Lembar demi lembar perban mengelupas. Siwon dapat melihat sedikit kulit dari orang asing itu. Putih, seputih susu. Tapi Siwon yakin orang di sampingnya ini seorang pria. Dadanya saja rata saat Siwon menggendong pria itu di bahunya. Siwon tetap fokus, meski sesekali memperhatikan pria di sampingnya. Memegang kepala, mengernyit, bergumam umpatan untuk Siwon, mengotak-atik tangan, beralih ke benda di pangkuannya, hanya hal itu yang orang asing lakukan. Siwon jadi sedikit merasa perhatian, meski dia sendiri tidak sadar. Berbanding balik dengan si orang asing. Kebencian pada Siwon sudah tertanam di otaknya yang kalau loading itu sakit.

"Kita sampai."

Suara decit ban yang di rem mengagetkan orang asing dari lamunannya. Siwon melepas sabuk pengaman. Dia membuka pintu, juga membukakan pintu untuk si orang asing. Bahu orang itu kembali bergetar saat Siwon memegangnya, Siwon mendapati orang itu menatap takut pada gedung di samping mereka. Gedung kepolisian Seoul. Siwon berdecak, lalu dengan paksa menarik si orang asing. Tak lupa membawa barang penting itu di sakunya.

Lorong per lorong dilewati dua pria yang tingginya hampir sama itu. Siwon menarik perhatian para staf, di samping wajahnya yang tampan, baju dinas tidak melekat pada pria itu. Ini agak aneh, mengingat jabatan Siwon sebagai Inspektur Jendral. Tapi Siwon tidak ambil pusing. Tujuannya hanya ruangan Introgasi. Dia berharap Donghae ada di sana, sudah siap untuk mengintrogasi orang asing yang sejak pintu masuk itu Siwon gandeng.

Siwon membuka pintu kaca gelap itu pelan. Udara AC yang khas menguar masuk ke hidung mancungnya. Dia menilik orang di dalam sana, ada satu. Keberuntungan kembali berpihak padanya, Hae ada di sana. Dengan posisi membelakangi Siwon beserta map-map, entah apa itu.

"Hae-ah, aku punya sesuatu yang istimewa."

Donghae berbalik, dia mengerutkan dahi saat melihat Siwon menggeret paksa seseorang yang aneh. Gaya mereka berdua sudah seperti kambing dengan pemiliknya. Sisi ketidak manusiaan Siwon muncul. Donghae sedikit merinding.

"Apa?"

Siwon meletakan sebuah benda di meja di depan mereka. Reaksi Donghae sama, terbelalak kaget.

"Dari mana.."

"Orang ini yang membawanya."

"Aw!"

Siwon mendudukan orang asing yang sejak tadi dia geret di kursi yang sebelumnya Siwon tarik. Benturan pantat dengan kursi yang tidak empuk itu membuat si orang asing mengaduh sakit. Meminta perhatian sebenarnya, dia kesal dengan perlakuan Siwon sejak tadi pagi. Isinya hanya paksaan.

"Baik, Won. Kau boleh ikut duduk."

Orang asing itu jadi berdebar. Dia jadi di introgasi? Pikirnya. Dia melihat pria yang dipanggil Donghae tadi berjalan ke pintu, menguci pintu dari dalam sementara pria yang sejak pagi membuatnya badmood duduk dengan kalem di depannya. Seolah pria yang bernama 'Won' itu tidak punya salah padanya. Orang asing itu menyipitkan sedikit matanya, dia membaca name tag di dada Siwon. "Choi Siwon." Gumamya dalam hati, sebelum terlonjak kembali karena deheman Donghae.

"Langsung saja, dari mana kau mendapatkan benda ini?"

"A-Aku tidak tahu.."

Siwon menggebrak meja di depannya, "Jangan bohong!"

"A-Aku benar-benar tidak tahu! Kepalaku..aku selalu merasa pusing."

Donghae mengamati orang itu sebentar. Lalu berdiri dari kursi. Melangkah mendekati orang asing itu. Siwon mengamati, penasaran bagaimana seorang ikan teri mengintrogasi pelaku. Jujur, ini kali pertama Siwon mellihat Hae. Biasanya si Hyuk yang menemani Hae mengintrogasi, Siwon tinggal menunggu di luar. Pria yang lebih pendek darinya itu membungkukkan badannya di atas tubuh si orang asing.

"Won, ikat tubuhnya di kursi. Aku punya beberapa tali di lemari."

Siwon menurut. Dia bangkit dari kursi, berjalan ke pojok ruangan menghampiri lemari, lalu segera mengikat si orang asing.

"Tetap tenang, maka kau tidak akan mendapat kekerasan." Bisik Siwon. Orang asing itu meneguk ludah. Debaran hatinya tidak bisa normal. Firasat buruk menghampiri tulang belakang orang asing itu, naik sampai membuat bulu kuduknya berdiri.

Hae kembali mendekat setelah Siwon duduk. Dia membuka tudung jaket yang dikenakan pria asing itu. Rambut coklat ikal langsung keluar. Hae mengangguk, dia mengamati setiap detail kepala orang asing itu. Tangan pria itu bergerak ke atas, ke bahu lebih tepatnya. Tanpa aba-aba dia menyobek perban di sana. Keseluruhan tubuh orang asing itu nampak. Kulit putih susu, sedikit memerah di pundak. Dada yang datar, menunjukkan betapa muda usia orang itu. Puting yang mencuat berwarna senada dengan rambutnya. Orang asing itu membelalakan matanya kaget.

Namun tidak semuanya mulus. Jika boleh jujur, Siwon akan bilang 'cantik' jika saja sayatan sayatan biru di sana hilang. Banyak sekali lebam dan luka bakar, juga sayatan dan cambuk. Jelas sekali masih baru, bekas penganiayaan. Donghae melirik Siwon, seolah bertanya kapan terjadinya penganiayaan itu. Siwon mengendikkan bahu, tidak tahu. Toh, sebelum ini dia juga tidak melihat itu karena seluruh tubuh orang asing itu tertutup perban seperti mumi.

Terakhir, Donghae membuka perban yang ada di muka. Sebuah tanda di hapus di sana, tak jauh dari telinga, sekitar bagian pelipis. Entah itu di gosok, atau di keruk. Itu seperti sebuah kode sebelum ini.

"Sekarang, apa yang kau ingat dari kepalamu?" tanya Donghae dengan suara dingin. Hatinya sudah panas melihat bekas-bekas penganiayaan. Bukan panas karena ingin menyetubuhi, tapi panas ingin menemukan pelaku penganiayaan itu. Orang asing itu menunduk, dia menahan nyeri yang menghampiri otaknya lagi saat mencoba mengingat apapun di masa lalunya. Nama saja dia tidak ingat.

"Aku..ada di sebuah ruangan gelap. Seseorang mengikatku, lalu aku menjerit..aku takut..takut sekali...waktu itu semuanya gelap...panas...sakit...ada seseorang yang datang..tidak! dia terus mendekat..! aku-"

"Cukup." Potong Siwon. Dia bangkit dari duduknya. Menatap Donghae yang mengernyit bingung. 'kau merusak acara intinya.'

"Dia akan meledak, Hae. Bersabarlah." Ucap Siwon, orang asing itu sedikit tersenyum, namun hanya satu detik. Ya, dia masih belum sudi berterima kasih setelah perlakuan Siwon di pagi harinya. Siwon mendekat, melepas tiap ikatan yang dia buat. Orang asing itu merapatkan ke dua pahanya. Btw, sekarang dia telanjang karena Hae melepas perban di tubuh orang asing itu dengan kekuatan maksimal. Siwon berdecak kesal saat si orang asing malah semakin kaku.

"Berdiri." Kata Siwon datar. Namun tidak digubris. Jadilah dia menarik tangan orang itu. Sontak saja Siwon harus menahan berat badan orang di depannya. Satu hal yang tidak mereka sadari, kejantanan mereka beradu, meski masih terhalang celana jeans Siwon.

Drrt..

Hae meraba ponselnya di kantong. Lalu meletakannya di telinga. "Baik, dia ada bersamaku. Hm."

"Siapa?" tanya Siwon.

"Teuk-ssi. Back up sudah selesai, kita akan mengungkap siapa pelakunya. Kau juga ikut."

Siwon membuka jas luarnya, lalu menggunakan jas itu untuk menutupi tubuh polos orang asing di depannya. Lumayan lah, meski paha putih itu masih terekspose.

"Kau pakai ini, gulung kembali perbanmu, setidaknya sampai paha atau lutut. Aku menunggu tiga menit."

Tidak menjawab. Orang asing itu hanya menurut.

"Kau tahu kenapa aku membuka perbannya?" tanya Hae. Siwon melirik luka-luka yang ada di tubuh orang asing itu. Karena Donghae Gay, jadi Siwon kira ini semacam modus. "Bukan itu, aku menemukan jawabannya. Aku sudah tidak sabar ke rapat pertemuan."

"Tunggulah sebentar Hae."

"S-Sudah."

"Ayo!"

.

Di sinilah orang asing itu. Tengok kanan-kiri seperti orang hilang hanya untuk menunggu Siwon selesai rapat. Dia menengok ke jendela yang hanya diberikan satu celah untuk mengintip. Di sana kedap suara, tapi setidaknya dia bisa memperkirakan kapan rapat itu selesai. Orang asing itu mendesah lagi, lalu menggembungkan pipinya. Hal yang sering dia lakukan kala sedang bosan. Kenapa Siwon lama sekali? Ini sudah 3 jam Siwon di sana. Di luar sini orang asing itu malu, juga kedinginan karena hanya jas Siwon lah yang menghangatkannya.

.

Siwon menahan dagunya. Serius menyaksikan bagaimana pencuri itu masuk. Seperti dugannya, ada orang lain yang masuk ke lorong penyimpanan. Karena CPU yang di bakar, juga camera yang waktu itu mati. Makannya video itu hanya menampilkan si pencuri saat masuk memanjat dari jendela. Mematikan camera, lalu sensor bunyi, dua detik berikutnya mati, sudah. Video itu hanya sampai alarm dimatikan. Jelas-jelas hechul melebarkan langkah si pencuri. Hechul sendiri mengira dia yang membunyikan alarm. Apa semua ini kebetulan? Apa sebelumnya pencuri itu sudah tahu kalau Hechul akan ke kamar mandi?

Siwon berdiri, mengambil alih perhatian orang-orang di ruang rapat. "Jadi, bisa disimpulkan, saat kita semua rapat, seorang staf ada yang ke ruang penyimpanan. Lalu hechul ikut keluar. Saat si Staf sampai di ruang penyimpanan, ada orang lain yang masuk, mematikan camera, lalu memukul staf tadi. Alarm bunyi, Hechul mengira dia pelakunya, makannya Hechul langsung mematikkan alarm itu karena takut membuat panik orang-orang. Ternyata itu malah melebarkan langkah si pencuri. Tapi sepertinya si pencuri juga ketakutan, makannya dia langsung kabur. Karena panik, dia sampai lupa dengan kaos tangannya yang terjatuh di bawah jendela."

Yoona meroll matanya, "Kau tahu apa yang hilang, Won-ah? Chip 'kau tahu' itu hilang!"

"APA?"

"CPU di sana menyimpan semua data itu. Dari penuturanmu, seharusnya si staf hanya membuka pintu. Kalau membuka komputer, sepertinya hanya orang penting yang bisa. Tapi Chip yang berisi data penting milik negara itu hilang! Tidak mungkin pencuri itu yang melakukannya, kan?. Tapi dia berhasil membobol password komputer kita. Tidak ada data hilang, dia sukses! Dalam waktu berapa detik? Bukannya itu menakjubkan? Kecepatan larimu ke ruang penyimpanan masih kalah cepat dengan kecepatannya menghack password. Dia Hacker! Hacker profesional! Jadi bukan panik yang membuatnya buru-buru keluar, tugasnya memang sudah selesai!"

Siwon meneguk ludah. Jadi, ini alasan kenapa CPU itu di bakar. Agar kepolisian tidak bisa melacak siapa yang menghack. Ini akan sulit. Melawan hacker profesional, eh?

"Oke, jadi dia hacker handal." Tulis Teuk, dia sedikit mencairkan suasana yang selama beberapa menit lalu itu mencekam. Chip hilang, tambah lagi tugasnya.

"Lalu untuk introgasi beberapa menit lalu." Donghae bersuara.

"Hae-ssi, anda-"

"Ini mendadak, Yesung-ssi. Siwon-ah, menemukan pemilik dari kaos tangan yang lain."

Suasana kembali menegang. Siwon kembali berdiri, siap menjelaskan.

"Aku tidak tahu. Pagi tadi, saat aku baru bangun. Seseorang sudah ada di atasku dengan sebuah pisau yang siap menusuk jantungku. Aku sempat bergulat, lalu benda penting itu jatuh dari jaketnya. Aku segera membawa anak itu ke mari." Ujarnya, kembali duduk.

Hae membuka lembar demi lembar yang belum dia tandai. Sebuah halaman akhirnya dia temukan. "Dari pemeriksaan. Banyak luka di tubuhnya, diduga penganiayaan. Sebuah bekas kerokan di pelipis tertutup oleh rambut, ada bekas kode. Memar di belakang kepala. Di kepala, ada tiga bekas suntikan. Di lengan empat, serta di leher dua."

"Saat di introgasi, dia kehilangan kontrol emosi. Ingatannya hilang. Lalu beberapa ingatan tabu ada di kepala anak itu. Aku menduganya sebagai suntikan LSD. Ini kerap sekali digunakan dalam praktek penghapusan anggota organisasi gelap."

"Dilihat dari kesamaan sketsa, hanya rambut mereka yang sama. Ikal, berwarna coklat. Hanya saja anak yang Siown bawa rambutnya sedikit hangus. Mungkin sebelumnya ada beberapa putung rokok yang sengaja di tusukkan ke kepala anak itu di tahap penyiksaan."

Teuk mengisi paru-parunya kembali setelah mendengar penuturan Hae. Yang lain pun sama. Tegang, kasus kali ini lebih rumit dan juga ekstrem.

"Tadi kau bilang penghapusan anggota organisasi? Apa kau menyimpulkan bahwa musuh kita kali ini sebuah organisasi?" tanya Teuk.

"Sepertinya begitu. Juga Chip yang diambil itu merupakan 'kau tahu' jadi kurasa, ini ada kaitannya dengan tetangga sebelah." Ujar Yesung.

"Oh ayolah, kita sudah damai, kan?" gumam Kangin

"Tapi bisa saja mereka masih punya dendam. Jangan sok polos kau Kangin! Kau tahu semua seluk beluknya!" omel Yesung.

"Sudah-sudah. Apa anak ini si pelaku, Hae-ah?" tanya Teuk.

"Aku bingung. Ciri-ciri mereka hampir sama di video itu. Namun kali ini ada kesan 'penghapusan anggota'. Jadi anak ini bisa saja berstatus mantan anggota organisasi itu."

"Tidak. Aku yakin dia hanya kambing hitam." Tiba-tiba Siwon nyeletuk.

"Jika memang begitu, kenapa mereka tidak langsung membunuh anak ini?" lanjutnya.

"Tapi jika memang benar anak ini mantan anggota tersebut-"

"Aku bilang bukan. Percaya padaku, aku tahu apa yang disembunyikan anak itu. Kumohon, jangan jadikan dia tersangka!" ucap Siwon.

"Apa jaminanmu?"

"Aku percaya dia bisa dijadikan kunci dari permasalahan ini."

Teuk mendesah lagi. "Baiklah. Aku pegang janjimu. Kuharap kau bukan pengkhianat, Won-ah."

"Tentu, sir."

.

Orang asing bangkit dari duduknya saat mendengar pintu di sampingnya terbuka. Deritnya membuatnya ngilu. Matanya mencari-cari sosok Siwon. Sekelompok orang berlalu begitu saja melewati orang asing itu. Sementara Siwon masih di dalam. Dengan tangan terkepal di meja dan wajah tertunduk. Orang asing itu masuk.

"Mm..h-hyung?"

"..."

"H-hyung.."

"Ayo pulang." Hanya itu yang Siwon katakan. Itupun tanpa memandang si orang asing. Namun orang asing itu kembali tersenyum tipis. Dia memberanikan diri menyentuh punggung Siwon. Mengelusnya pelan dengan susah payah karena tangan satunya menahan jas Siwon agar tidak melorot, menampakkan tubuh telanjang atasnya. "Ke apartmenmu, lagi?"

"Iya, kemana lagi? Kau harus menyembuhkan diri dulu."

'Ternyata orang ini baik.'

"I-Iya."

.

06.45 p.m

At Siwon's Apartmen

Pertama, Siwon membuka gulungan perban yang melekat pada tubuh orang itu. Sebuah sapu tangan tersumpal di mulut orang asing. Siwon pikir obat bius yang digunakan di penganiayaan sebelumnya sudah habis sore ini. Terbukti, saat tadi Siwon sedang menyiapkan air untuk orang asing mandi. Orang asing itu kembali berteriak kesakitan. Membungkukan tubuhnya yang ringkih. Sekarang mereka sedang ada di kamar mandi Siwon. Dengan Siwon yang sigap membasuh luka-luka itu. Dia merasa kasihan juga saat tangannya menyentup tiap inci kulit putih itu. Hampir semua yang di sentuhnya mengakibatkan jeritan tertahan keluar dari mulut jelita itu. Siwon terpaksa ekstra hati-hati, meninggalkan pribadinya yang keras.

Usai membersihkan luka dan mengganti perban. Siwon kembali menggendong orang asing itu ke tempat tidurnya. Merebahkannya dengan hati-hati, lalu mulai memilah beberapa pakaian yang kiranya pas melekat di tubuh cantik itu. Sebuah kemeja putih yang kedodoran. Well, tidak buruk. Siwon memakaikan baju itu. Rasanya seperti punya seorang bayi gede.

Siwon melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukan pukul tujuh malam. Ini lebih awal ketimbang jadwal biasanya dia pulang. Usai menyelesaikan kancing terakhir di kemeja orang asing itu, Siwon berbalik. Meredupkan kamar tidurnya, berniat keluar untuk tidak sekamar dengan orang asing di tempat tidurnya.

"H-Hyung.."

"Hm?"

"A-Aku tidak bisa tidur."

Siwon sedikit menarik ujung bibirnya. Lalu mendekat kembali ke tempat tidurnya. "Mau kubacakan cerita?"

"Memangnya aku anak kecil?"

"Sudah tidur. Kau merepotkan."

Orang asing itu mempoutkan bibirnya. Sekali jahat, tetap jahat, pikir orang asing itu. Siwon naik, dia merangkul bahu orang asing itu. Rasanya seperti memeluk sebuah kapas yang harum, pikir Siwon. Saking rapuh dan ringannya orang asing itu.

Chuu..

Sebuah ciuman singkat orang asing itu dapat di keningnya. Dia dan Siwon sempat shock. Namun topeng masing-masing belum retak.

"Good night, Gyu." Ucap Siwon, sedikit parau.

"Gyu?"

"Nama untukmu. Cocok dengan pipi gembilmu. Gyu."

"=="

Lalu Gyu memejamkan matanya. Menikmati rangkulan yang Siwon berikan. Menikmati setiap tarikan nafasnya yang penuh oleh bau tubuh Siwon. Gyu, sekarang dia punya nama. Entah kenapa bibirnya tidak bisa tidak menyunggingkan senyuman saat mengucapkan nama itu. Nama untuk dirinya.

Gyu.

To be Continue...


Pojok Bales Review :

To : meotmeot

Udah terjawab di chapter ini ^^

To : Nisa Wonkyu

UDAH KAKAK! INI KILAT BANGET! SALAHIN INNER AUTHOR YANG NGEBET PENGEN NERUSIN FIC! Yang nyekek? Udah terjawab di Chapter ini ^^ hehe

To :Wonkyu

udah kak :3

To : Wonhaesung Love

Itu artinya...ORANG ASING :p

To :Hanna shinjiseok

Oh, itu masih jadi misteri, ada jawabannya di chapter depan ^^ makannya baca terus ya ^^ -plak, modus-


Cuap cuap Author : Untuk yang sudah menebak Kyuhyun, Author ucapkan selamat ^^ JAWABAN ANDA SALAH -plak- /Itu juga Kyuhyun!/

Intinya author cuma bisa ngucapin Gomawo buat reader yang mau baca, juga yang nyempetin Review :3 -bow- Mumpung lagi ada kesempatan main di depan kompu jadi langsung di update :3 Soal nama 'Gyu' itu cuma perasaan author aja. Gyu itu kesannya imut -plak- /bilang aja lu nemu gambar baby Gyutan di google-/Ya begitulah :D Sekali lagi makasih buat kalian yang udah baca. ;)

Next Chapter :

"Ya, kalau pun nanti ingatannya kembali dan dia tidak mau mengatakan apa yang ada di kepalanya, aku tidak akan segan membunuhnya." / "Hm, untuk mengembalikan ingatannya, kurasa kau harus mengajaknya keliling." / "Aku akan melindungimu, tetap seperti ini."