I Know You're Awake
Story by bluemaniac
Characters (c) Masashi Kishimoto
NIGHT TWO
Sejuk...
Air kolam yang dingin kini beriak tak beraturan saat tubuh jangkungnya melesap masuk kedalam. Kucuran air yang terciprat ke segala arah seolah mengkristal di bawah sengatan teriknya mentari. Gelembung-gelembung rapuh tersebar di bawah permukaan, seiring hembusan nafasnya yang mengeluarkan oksigen sedikit-demi sedikit. Ketika gas itu habis, kepalanya naik ke atas permukaan, untuk mengambil asupan udara lain, dan kemudian melakukan hal yang sama berulang kali. Otot-ototnya bergerak dinamis dan fleksibel, seiring sapuan tegas kedua lengannya yang membelah ombak landai, menggerakkan tubuhnya berjalan maju dengan gemulai.
Seketika, tubuhnya berubah posisi. Kini membiarkan dirinya terapung terlentang dengan wajah menghadap ke langit biru musim panas.
Sejuknya air meresap ke pori-pori, membuat aliran darahnya serasa lebih lancar. Sejuk. Alur gerakan air menjaga telinganya tetap berada sedekat mungkin dengan permukaan, namun bertahan untuk tetap terendam, hingga sanggup meredam polusi suara yang ada di udara. Sekarang yang terdengar adalah aliran air tenang, kecipak cipratan ombak, dan gelembung udara yang bersirkulasi di sekelilingnya.
Inilah yang selalu dicarinya. Dibutuhkannya. Dan, tak malu ia sebut, didambanya.
Kesejukkan.
Sasuke masih memejamkan mata sambil terapung pelan menyusuri air kolam renang, tepatnya dipermukaan kolam prestasi dengan kedalaman delapan meter. Area favoritnya dari seluruh bagian kolam renang sekolah yang luas ini. Kakinya dengan pelan dan santai menendang air, membuat tubuhnya bergerak perlahan menuju tepi tangga. Saat sadar kepalanya akan membentur tembok, ia dengan cepat berputar, dan mengarahkan kakinya ke tembok untuk mendapatkan massa dorongan yang akan membawa tubuhnya kembali meluncur ke tengah kolam. Ia kembali menyapu air dengan tegas, cepat, dan tangguh, dan baru merasa cukup ketika sudah memasuki putaran ketiga.
Saat merasa cukup, Sasuke mengapungkan dirinya ketepian. Mendekati tembok dengan perlahan, meletakkan tangannya di pinggir kolam, dan mengangkat tubuh berotot atletis itu keluar dari pelukan menyejukkan perairan.
Air seakan tumpah dari seluk-beluk tubuhnya yang kokoh, meninggalkan kulitnya yang terbakar matahari kini mengkilap eksotis dengan kilauan basah. Dengan gerakan yang gemulai dan tanpa disadari, ia menyeka rambutnya yang menutupi dahi, menariknya dengan lugas kebelakang, membuka wajahnya untuk terekspos kearah para pemuja.
Seluruh gerakan itu tak pernah dilakukan dengan sengaja, namun siapapun yang melihat akan merasa seakan pemuda seksi itu tengah berada dalam mode slow–motion.
Breath takingly exotic…
"Seperti biasa, orang pertama yang ada di sini, eh?" suara serak-menyebalkan terdengar dari belakangnya. Sasuke tak perlu menoleh untuk tahu siapa orang itu.
"Hari ini giliranmu membersihkan ruang loker, hiu bodoh." Respon Sasuke, tetap tak menoleh, dan terus berjalan ke tempat handuknya menggantung. Ia mengibaskan kepalanya dengan cepat, membuat air terciprat ke segala arah. Cukup efektif untuk mengembalikan model rambut pantat ayamnya uuntuk kembali menentang grafitasi.
"Iya aku tahu, aku akan membersihkannya sepulang nanti." Jawab Suigetsu, mulai melepaskan jersey seragam tim renang sekolah, dan mengekspose tubuhnya yang tak kalah kekar ditempa waktu. Celana renang panjang ketat terlihat membalut sepasang kakinya yang tidak terlalu panjang, namun cukup kokoh.
Sasuke mengambil posisi dibawah teduhnya payung pantai yang terbuka disalah satu pojok kolam. Tangannya sibuk membuka botol air, dan menenggak isinya sampai separuh habis. Matanya menerawang ke pagar besi-berkait yang membatasi kolam renang dengan area diluar. Dari kejauhan, terlihat kubah besar paviliyun lukis yang ada di arah utara hutan kecil sekolah. Jarak yang cukup jauh jika memutar lewat jalan utama, namun cukup singkat jika diterobos melewati hutan.
Dibawah kubah itulah gadis pujaannya berada.
"That girl really is something else, isn't she…?"
Seakan bisa membaca pikirannya, suara bule yang fasih itu berhasil menarik perhatian Sasuke. Ia berbalik, dan kini baru benar-benar berhadapan dengan si pemuda berambut perak yang sedang nyengir kuda, memamerkan giginya yang taring semua.
"Dia milikku, Suigetsu brengsek." Jawab Sasuke langsung, tanpa tedeng aling-aling.
Suigetsu hanya terdiam, lalu terkekeh.
"Selama ia belum membalas perasaanmu, ia masih available, dong…"
Sasuke hanya memincingkan mata, dengan harapan salah satu gigi menyebalkan pria itu terlepas tiba-tiba. Tapi ia hanya berpaling, kembali focus pada air minumnya.
"Kulihat kau masih setia menjaga si adik kesayangan?" suara menyebalkan itu tetap tak mau berhenti.
"Dan kulihat kau sudah tak sabar merasakan dinginnya air kolam." Respon Sasuke datar, sebelum dengan tiba-tiba mengarahkan tendangan kuat keperut Suigetsu, dan membuat tubuh pria itu dengan sukses tercebur kedalam kolam renang.
Beberapa detik kemudian, baru kepala perak itu muncul ke permukaan. Suigetsu terdiam, tapi ekspresinya terlihat sangat kesal.
"Jangan main-main, kau, gagak berengsek! Aku bisa mati!" teriaknya sewot.
"Ah, sayang sekali kau tidak…" balas Sasuke dengan suara rendah.
"Untung saja gerakan refleksku cepat di dalam air!"
"Insting ikan mu masih sama dengan Kisame."
"Seperti kau tidak berinsting burung seperti Itachi saja."
"Berhenti membawa-bawa namanya, dasar kalian hiu bersaudara."
"Kau duluan yang menyinggung namanya, dasar gagak bersaudara."
"Itu sama sekali tidak lucu. Kenapa harus gagak?"
"Kau sudah ngaca? Rambut hitam yang berdiri-berdiri itu?"
"Seperti rambut kakakmu sudah benar saja. Perhatikan lagi gigi abnormal itu."
"Ini keturunan!"
"Kau pikir rambutku tidak?"
"Ugh." Suigetsu mengaku kalah. Pembicaraan tentang kakak-kakak mereka memang tak akan ada habisnya. Selain mereka berdua adalah senior dari sekolah yang sama, Itachi dan Kisame, kakak kandung dari Sasuke dan Suigetsu, juga termasuk bagian klub renang sekolah dulu, sebelum mereka lulus dengan gemilang dan melanjutkan ke perguruan tinggi yang berbeda.
Dengan kesal Suigetsu mengapungkan tubuh di dalam air, namun masih tetap tak berhenti mengoceh. "Anyway… Ngomong-ngomong soal rambut…"
Sasuke yang terlihat sudah lumayan mengeringkan rambutnya, kini berhenti sesaat dan memilih duduk ditepi pot bunga panjang. Ia tahu kemana arah pembicaraan Suigetsu.
"Aku dengar si rambut panjang akan pulang?"
Bingo…
Dasar mulut besar.
Tapi Sasuke tetap tak memberikan reaksi apa-apa.
"Aaah… kau pasti sudah tahu." Lanjut Suigetsu, dengan dengusan pasrah. Tentu saja. Mereka berdua kan 'sahabat', pikirnya.
Sasuke hanya mendengus pelan, sementara pikirannya mengelana jauh, tepatnya pada sesi skype-nya dengan Neji Hyuuga seminggu lalu.
Rencana si sister-complex itu adalah membayar ketidaksanggupannya pulang pada hari ulang tahun si adik, dengan sebuah kunjungan kejutan di malam pertama bulan depan. Tepat di akhir musim panas. How cool is that?
Ia sengaja menyembunyikannya dari Hinata. Surprise, katanya. Dan ia minta untuk tak mengatakan apapun pada gadis itu. Lagipula kunjungan kejutan ini hanya untuk waktu yang singkat, yaitu satu minggu izin dari homestaynya. Sebelum akhirnya ia akan kembali lagi ke luar negeri untuk menyelesaikan pendidikan.
Sasuke yang seharusnya senang, malah tak bisa merespon dengan jujur. Dan ujung-ujungnya hanya menggoda si rambut panjang itu dengan ancaman kosong bahwa ia akan membocorkannya secara tak sadar suatu saat nanti. Biar saja makhluk itu bergelung sedikit dalam kegalauan karena sudah membocorkan rencananya pada si brengsek Uchiha. Biar dia merasakan sedikit derita yang dirasakan Sasuke.
Derita cinta yang tak berbalas…
… karena kekurangpekaan sang pujaan hati.
Aah, mengingatnya membuat Sasuke semakin galau.
"Heh, kepala ikan. Kalahkan rekor waktuku kalau kau bisa."
Suara Sasuke yang tiba-tiba membuat Suigetsu berhenti mengapung dan mendongak dari dalam kolam, hanya untuk menyaksikan tubuh Sasuke yang sudah terbang diatasnya, menghalau sinar matahari, dan melencur tepat di hadapannya dengan lengkungan sudut sempurna. Cipratan air yang diciptakan Sasuke saat tubuhnya menghantam permukaan dan memasuki kolam seolah menamparnya, membuat cengiran besar pemuda yang kelebihan taring itu kembali. Dengan tangan yang sudah siap meluncur dan menyusul Sasuke, Suigetsu bertanya singkat.
"Tiga putaran?" Tak perlu jawaban dari Sasuke untuk membuatnya sadar bahwa lap kali ini akan lebih dari itu.
Dan perlombaan renang dadakan itu berlangsung seharian penuh, tanpa satupun yang mau mengalah.
~xXx~
Senja itu, lagi-lagi Sasuke mendapati Hinata dalam keadaan terbaring tak sadarkan diri di atas dinginnya lantai marmer paviliyun lukis. Wajah damai itu hanya bisa membuat Sasuke menghela nafas lelah. Gadis ini benar-benar keras kepala.
Baru saja ia akan berlutut di samping tubuh Hinata, dan membangunkannya dengan metode yang baru didapatkannya kemarin, tubuh Hinata yang tengah bergelung itu bergerak dan berpindah posisi. Kini gadis itu terlentang dengan wajah menghadap ke atas, leher menengadah, dan tangan terbuka. Sasuke sadar bahwa gadis itu tengah kepanasan dan dalam tidurnya sengaja mencari kesejukkan udara, bahkan yang dari lantai sekalipun. Sasuke tiba-tiba jadi maklum. Cuaca seperti ini memang sangat menggoda untuk tidur. Ia mendekati tempat Hinata, dan menyentuh leher berkeringat gadis itu dengan telapak tangannya yang dingin.
Seketika suara lenguhan puas keluar dari tenggorokkan Hinata.
Tanpa sadar membuat bulu kuduk Sasuke meremang.
'Orang macam apa yang masih tetap sangat menggoda walau dalam tidurnya sekalipun?'
Sadar bahwa, berkat tubuhnya yang masih dalam keadaan lembab dan basah oleh air kolam, suhu tubuhnya memberikan kesejukkan kepada Hinata, Sasuke semakin ingin memperluas jangkauan sentuhannya. Kini ia bukan hanya menempelkan telapak tangan, namun benar-benar meraba keseluruhan leher Hinata. Rahang, tengkuk, tulang selangka, bahu. Bahkan nyaris menelusup kebagian dada yang tersembunyi dibalik seragam sailor nya. Usaha Sasuke menghasilkan lenguhan panjang lain dari Hinata. Gadis itu bahkan secara tidak sadar memposisikan kepalanya sehingga memberikan keleluasaan mutlak bagi Sasuke untuk menjelajahi rahang dan leher gadis itu.
Sasuke menyeringai sinis.
'Kalau saja kau sadar apa yang sebenarnya ada di dalam kepalaku saat ini…'
Sasuke mendongak, melihat jendela-jendela besar yang menghadap ke taman rumput luas yang mengelilingi paviliyun, dipagari pepohonan tinggi dan rimbun, membuatnya hanya bisa melihat sinar matahari yang menembus dahan-dahan, tanpa tahu posisi matahari itu sendiri secara pasti.
"Persetan…"
Setelah mengatakan itu, Sasuke langsung berbaring tepat disamping Hinata, ikut berbaring dengan gadis itu diatas dinginnya lantai marmer. Ia sengaja memposisikan wajahnya sedekat mungkin dengan wajah tidur Hinata yang menyamping. Cukup dekat sehingga ia bisa merasakan nafas pelan dan teratur gadis itu. Bahkan cukup dekat untuk menghitung jumlah bulu mata Hinata dengan teliti.
Tatapan mata Sasuke menjadi begitu teduh, seketika. Dengan sadar, ia mulai meraba pipi gadis itu. Mengelusnya lembut. Ibu jarinya ikut menelusuri alis Hinata yang melengkung indah. Indra perabanya dengan rakus merampok segala kelembutan yang ada.
"Sadarlah, bodoh… aku ini laki-laki…"
Dengan bisikkan terakhir itu, Sasuke ikut memejamkan mata dan akhirnya menyusul Hinata dalam larutnya mimpi.
~xXx~
Saat bulu mata yang lentik itu terbuka, matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Meninggalkan paviliyun terbuka yang gelap dan dingin dengan hembusan semilir angin musim panas, kini hanya bermandikan cahaya bulan purnama. Dan suara jangkrik mulai berdendang menyambut malam.
Hinata hanya bisa terdiam sambil membelalak bingung, ketika mendapati wajah Sasuke berada tepat di hadapan wajahnya. Pencahayaan temaram yang ditawarkan bulan sudah cukup ampuh dalam memberikan gambaran jelas wajah tampan pemuda itu, bahkan walau hanya berupa siluet. Saking dekatnya wajah mereka, Hinata bisa merasakan nafas teratur Sasuke. Menikmati pertukaran oksigen mereka, yang tak habis-habis. Mencoba merasakan sentuhan kulitnya saat hidung mereka tak sengaja bersentuhan.
Saat mencoba menggerakkan kepalanya, Hinata baru sadar bahwa kali ini ia tidur dengan berbantal lengan kokoh Sasuke. Hal ini tentu saja membuatnya bingung. Belum lagi, ketika ia sadar hembusan angin kini tak terlalu mengganggunya, dan menemukan bahwa selembar kain putih besar penutup lukisan lah yang berperan sebagai selimut dan menghalau angin itu. Membuatnya semakin bertanya-tanya.
Sejak kapan Sasuke ada disini? Apa yang dilakukannya disini? Kenapa ia tidak membangunkanku? Lagipula, sekarang sudah jam berapa? Kenapa sudah gelap?
Seketika kesadaran menghantam Hinata, saat matanya tak sengaja melihat jam dinding yang tertempel di salah satu tiang penyangga kubah.
Jam setengah delapan…
Malam…
Kesadaran itu kemudian diikuti dengan suara gemuruh samar dari perut kosong Hinata.
"Ah, makan malam…" bisiknya pelan.
Hinata tanpa sadar menunduk dan meraba perut datarnya dengan ekspresi kecut. Ia benci karena selalu terbangun dengan perut lapar.
"Sudah bangun?"
Suara rendah Sasuke membuat Hinata yang tadi merunduk memandang perut kembali mendongakkan wajah. Membuat hidungnya kembali nyaris menempel dengan hidung Sasuke. Ternyata bisikkan pelannya berhasil membangunkan pemuda itu dari tidur lelapnya.
Atau... Mungkinkah sebenarnya tidur pemuda itu tak pernah benar-benar lelap?
"Well… yeah…" jawab Hinata, ragu. Ekspresinya seperti anak yang tertangkap basah melakukan dosa.
Sasuke memejamkan mata, lagi-lagi menghela nafas lelah, dan malah memeluk tubuh Hinata dengan erat, hingga melekat ke tubuhnya. Dibawah lapisan selimut putih tipis itu, tangan Sasuke merengkuh pinggul dan punggung Hinata dengan posesif. Menempatkan wajah gadis itu menyelip di depan lehernya, dada gadis itu menempel ke tubuhnya, dan kedua tangan gadis itu terjepit pasif diantara tubuh mereka.
Hinata hanya bisa membelalak dengan pertunjukan afeksi Sasuke yang sama sekali tak terduga.
"Umh… Sa-… Sasu-…"
"Dari sekian banyak cara brutal yang kupikirkan untuk membangunkanmu, rasa laparmulah cara yang paling jitu?" bisik Sasuke dengan nada sarkastik.
Hinata tahu pertanyaan Sasuke itu tak perlu jawaban, jadi ia hanya terkekeh geli di dada Sasuke.
"Maaf… teknikmu tidak salah, tapi aku memang akan terbangun jika sudah waktunya kok. Tak usah dipikirkan." Jawabnya riang, benar-benar tak merasa keberatan dengan posisi mereka yang tak berjarak.
Sasuke yang paham pertukaran candaan mereka, lagi-lagi, hanya mendengus pelan sambil tersenyum tipis. Ia tak ingin melepaskan tubuh gadis ini dari pelukannya, seluruh lekukan tubuh gadis itu terasa sangat pas ditangannya. Ia tak mau menjauhkan tubuh mereka, suhu tubuh mereka telah saling bersinkronisasi. Ia tak rela harus berhenti mendengar tawa yang manis itu dari jarak yang sangat dekat ini, volume serendah apapun sudah berhasil terekam dalam memorinya yang rakus. Persetan dengan lengannya yang mulai mati rasa karena sudah jadi bantal kepala Hinata selama tiga jam lebih. Yang ia inginkan hanyalah keintiman semesra mungkin, walaupun mereka masih belum berstatus siapa-siapa.
Tapi, gadis yang menawan itu masih tetap bersihkukuh dengan kepolosannya. Dan terlihat sama sekali tak terganggu dengan skinship abnormal ini. Dengan perlahan ia menyentuh dada Sasuke dan menjauhkan kepalanya untuk memberikan sedikit jarak baginya.
"Yuk, pulang." Ajak Hinata, pelan. Senyuman polos yang biasa menghiasi wajahnya.
Sasuke memandangnya datar, lalu berpura-pura tidak dengar. "Lima menit lagi." Tangannya kembali menarik tubuh Hinata kembali kepelukannya, mencegah tubuh itu pergi terlalu cepat.
Hinata tertawa saat merasakan tangan Sasuke menjelajahi punggungnya. "Ayolaah… aku sudah lapar."
Sasuke yang masih menolak untuk melepaskan tubuh Hinata mengalihkan pandangannya sekilas, mencoba mengulur waktu kebersamaan mereka selama mungkin. Tiba-tiba, suatu pemandangan menarik perhatiannya. Ia memfokuskan pandangan, dan mendapati satu lagi kanvas besar yang terlihat masih belum selesai.
"Apa itu?" tanyanya, tanpa sadar.
Hinata mendongak, memperhatikan ekspresi Sasuke, lalu memutar tubuhnya untuk mengikuti alur pandangan pria itu.
"Ooh, itu sogokan." Jawab Hinata, riang. Masih berbaring dengan berbantal lengan Sasuke.
"Sogokan?" tanya pemuda itu bingung.
"Yep. Untuk Neji, supaya dia cepat pulang dan tak melewatkan ulang tahunku."
"Bagaimana kau akan mengirimnya?"
"Ah, cukup kufoto dan kuemailkan. Mungkin dengan sedikit pesan ancaman."
"Ancaman?"
"Yep. Ancaman. Bahwa jika ia tak pulang, lukisannya akan kubakar."
Jawaban Hinata yang bernada riang justru membuat Sasuke takut. Dengan alis naik sebelah, ia memandang Hinata yang ada dipelukannya.
"Apa maksudmu? Kau akan membakar lukisanmu sendiri?"
"Yep."
"Lalu apa gunanya untuk mengancam Neji?"
"Ah, dia pasti akan menyukai karya buatanku. Dan ia tak akan tega membiarkan aku menghancurkannya. Saat itulah aku akan mengancamnya untuk pulang."
Sasuke semakin mengernyit. Anak ini terlihat sangat kritis saat menyusun rencana untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi justru sangat tidak peka terhadap rasa ketertarikan dari orang lain yang menyukainya. Sungguh sebuah anomaly alam.
"Kau… mengerikan…" respon datar dari Sasuke.
"Hihi, terima kasih~" jawab Hinata dengan nada riang, sambil menepuk tangan satu kali.
Saat itu juga, ia bangkit dari hadapan Sasuke, menyibakkan selimut tipis yang menutupi tubuh mereka, dan berjingkat pelan untuk mulai berbenah diri. Ia harus segera pulang. Ayahnya bisa panik jika sampai ia sadar Hinata tak ada di rumah untuk makan malam.
Sasuke, walau masih tak rela, mau tak mau melepaskan tangannya dari tubuh berlekuk sempurna itu. Membiarkan Hinata berdiri dan mulai bergerak bebas. Hilangnya rasa hangat dari suhu tubuh lawan jenis itu terasa sangat jelas dipermukaan indera perabanya yang peka. Sasuke tetap membiarkan dirinya terbaring di lantai, sambil terus mengamati gadis itu bergerak lincah di bawah sinar bulan.
Bagaimana kaki yang jenjang itu melangkah. Bagaimana gerakan tangannya yang terangkat saat membuka celemek lukis dan melepasnya dari tubuhnya. Bagaimana seragam sailornya tersingkap saat gadis itu berjinjit untuk menggantungkan property lukis yang digunakannya kembali ke rak penyimpanan yang cukup tinggi. Bagaimana cahaya bulan yang temaram tetap tak mampu menyembunyikan figur ramping tubuhnya. Dan bagaimana menggodanya kombinasi semua itu dalam suasana intim yang hanya terdiri dari mereka berdua. Hanya mereka berdua.
Lelaki manapun yang menyaksikan ini pasti akan kehilangan akal sehat…
"Hey, Hinata…" sapa Sasuke, sambil perlahan bangkit dari posisi tidurnya, untuk duduk tegak di lantai.
… Siapapun yang berada berdua saja denganmu dan menyaksikan semua hal ini sudah pasti akan kehilangan akal sehat…
Hinata yang tengah duduk di bangku tinggi tanpa sandaran sambil memasang kaus kakinya, hanya mendelik singkat, tanda ia mendengar teguran Sasuke.
…dan kau tahu? Aku sudah memiliki sifat posesif yang cukup kuat untuk tak membiarkan orang lain menyaksikan itu semua…
"Kau sudah tahu aku menyukaimu?" tanya Sasuke lagi, langsung tanpa neko-neko.
… aku harus secepatnya membuatmu sadar…
Hinata hanya memiringkan kepala sambil mengerutkan dahi.
"Well, rasanya aku pernah mendengarnya..." responnya, polos, masih mengangkat kakinya dengan bebas sambil memasang kaus kaki secara bergantian.
… bahwa kau punya kemampuan hipnotis itu …
"Kalau begitu biar kukatakan sekali lagi." Lanjut Sasuke, masih duduk di lantai sambil memperhatikan gerak tubuh gadis itu dengan cermat.
… dan kau sudah melakukannya padaku!
"Hinata, aku menyukaimu."
… Sadarlah!'
Hinata yang sedang menguncir rambutnya menjadi ekor kuda tiba-tiba berhenti bergerak. Ia membalas tatapan mata Sasuke yang baru saja disadarinya telah mengikuti setiap langkahnya sedari tadi.
"Oowkeeeey…" lenguh Hinata, canggung, "Apa perlu kita melakukan ini setiap hari?" tambahnya, masih belum benar-benar mengerti keadaan. Tapi karena ia mulai merasa aneh dengan suasananya, ia kembali menyibukkan diri dengan bebasnya mondar-mandir mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan. "Kurasa aku juga sudah pernah mengatakan bahwa aku juga menyukai-…"
"Bukan suka yang seperti itu!" seruan Sasuke tiba-tiba memotong ucapan Hinata.
Baru kali ini gadis itu benar-benar terdiam, dan mulai memperhatikan ekspresi Sasuke dengan lebih seksama. Seketika ia terkejut. Tatapan mata Sasuke tidak pernah seintense ini sebelumnya.
"Rasa suka yang kurasakan itu berbeda…" tambah Sasuke, masih tak melepaskan tatapannya yang mengunci tatapan Hinata.
Hinata yang dasarnya polos, akhirnya hanya memiringkan kepala sambil menatap Sasuke dengan pandangan bingung. Paviliun itu gelap, karena memang tidak didesain untuk digunakan pada malam hari. Bangunannya tidak teraliri listrik dan tidak ada lampu. Sumber penerangan satu-satunya hanyalah cahaya bulan yang menyinari keadaan di dalam gazebo terbuka bertiang yang penuh dengan kanvas dan alat lukis itu.
Tapi Hinata tahu betul, cahaya bulan yang temaram itu saja sudah cukup memperlihatkan betapa seriusnya ekspresi wajah Sasuke yang tengah menatap lurus dan tajam wajah Hinata saat ini.
"Jadi… suka yang seperti apa?" dirundung rasa penasaran, Hinata melangkah pelan mendekati tempat Sasuke duduk. Tanpa tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan Sasuke selanjutnya, ia bertanya. "Memang, ada rasa suka lain-..."
Dengan sigap, tangan Sasuke langsung menarik lengan Hinata. Membuat gadis itu terpeleset karena licinnya kaus kaki, dan terjerembab dalam pelukannya. Dengan cepat ia merengkuh tubuh Hinata yang masih terkaget-kaget dan mengaduh karena pinggulnya yang sakit, lalu memposisikan tubuh gadis itu diatas pangkuannya, untuk kemudian memeluknya erat, sambil menenggalamkan wajahnya di antara leher dan bahu Hinata.
"Tentu saja ada!" seru Sasuke, frustasi. "Rasa suka yang seperti ini…"
Sasuke, masih dengan tangan memeluk pinggul Hinata, mulai mengecup pelan leher Hinata. Terus menjalankan kecupan-kecupan kecil melintasi leher, rahang, telinga, pipi, hingga dahi gadis itu. Kecupan singkat yang penuh rasa kasih sayang. Dalam, pelan, hangat, dan lembut.
Membuat Hinata tergagap bingung.
"Sa-… Sasuke?"
"… lalu ada rasa suka seperti ini."
Sasuke tak mengizinkan Hinata melanjutkan kata-katanya. Dengan satu tangan, ia memegang dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya untuk saling berhadapan. Lalu dengan lembut ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata, untuk kemudian mengecup lembut bibir gadis itu. Membiarkan bibir mereka menempel pelan, lembut, dan perlahan.
Ciuman kali ini berlangsung lebih lama, dan lebih dalam daripada ciuman di dahi yang sebelumnya.
Membuat Hinata terbelalak karena kaget setengah mati.
"Dan ada juga rasa suka yang seperti ini…" lanjut Sasuke.
Kini kedua tangan Sasuke berperan dalam merengkuh rahang Hinata dari sisi kiri dan kanan, memaksa mulut gadis itu untuk sedikit membuka. Hinata yang masih kaget dan kehilangan pegangan akan apa yang tengah terjadi, benar-benar hanya bisa membelalak saat merasakan lidah Sasuke memasuki mulutnya.
Dan mulai menciumnya dengan ciuman liar, basah, berantakan, dan intens.
"Ha-… Sa-… Su-… Hngh!"
Kali ini Sasuke benar-benar tak mengizinkan satu kata pun keluar dari mulut Hinata. Ia terus melumat bibir Hinata, menghisap rasa manis yang membuatnya ketagihan, memonopoli oksigen yang terbagi diantara mereka berdua sepenuhnya. Dirasakannya kedua tangan gadis itu naik dan mendorong dadanya, seolah berusaha mencoba melepaskan diri dari perasaan asing yang terlalu mengikat itu. Mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Lepas darinya. Tapi apalah daya tenaga seorang gadis kecil polos dihadapan tenaga pemuda tanggung yang seperti kesetanan dengan rangsangan psikologis.
Hinata yang masih asing dengan sensasi memabukkan itu, tiba-tiba merasa takut. Ketidaktahuan akan apa yang harus dilakukan membuatnya tak bisa bernafas normal. Merasa dirinya tak mampu berbuat apa-apa sesuai kemauannya membuatnya tak berdaya. Menambah rasa takut dalam hatinya. Dirasakannya matanya basah. Campuran rasa takut dan hasil dari kesulitan bernafas, menghasilkan tetesan air mata yang menggenang di pelupuknya.
Sasuke menyadari itu, dan dengan perlahan melepaskan cengkramannya pada rahang Hinata. Dengan gerakan yang sangat lamban dan penuh kelembutan, ia melepaskan ciumannya. Perlahan, ia mengeluarkan lidahnya dari rongga mulut Hinata. Menciptakan setali benang saliva bening penghubung antara kedua bibir manusia yang baru saja berbuat dosa itu.
"Yang terakhir inilah…" bisik Sasuke dengan suara parau, disela nafasnya yang menderu. "…Yang mewakili rasa sukaku padamu…" Tangannya bergerak lembut menghapus air mata yang tak sempat menetes dari pelupuk mata Hinata.
Hinata masih belum terlihat menguasai keadaan. Dengan mata terpejam, dan tangan masih mencengkram kemeja Sasuke, Hinata berusaha setengah mati mengatur nafasnya. Walau dalam pelukan temaram cahaya bulan, Sasuke masih bisa menyadari rona wajah gadis itu yang sudah merah sepenuhnya. Tentu saja. Setelah diberi ciuman yang sedemikan seksi, siapapun akan merasa kebingungan cukup lama.
Melihat reaksi gadis itu, Sasuke tahu bahwa akhirnya, telah terjadi perubahan persepsi didalam diri Hinata. Pengertian itu telah sampai, isi hatinya tertuang, dan pemahaman telah diterima. Paling tidak, wawasan gadis itu akan cinta kini tak sepolos kanvas putih media favoritnya.
Dengan lembut, Sasuke memeluk tubuh Hinata. Dan kembali mengecup dahi gadis itu dengan singkat.
"Pahami. Resapi. Pikirkan. Dan pertimbangkan." Ujar Sasuke pelan.
Dalam pelukannya, dirasakannya kepala Hinata mengangguk. Senyum semakin merekah di wajah pemuda itu. Pelan-pelan dilepaskannya tubuh Hinata dari pelukannya. Sadar gadis itu masih membeku, Sasuke berinisiatif untuk mengambil sepatu Hinata dari pojok ruangan, dan dengan lembut, memasangkannya di kaki gadis itu.
"Sekarang, jika kau sudah siap…" lanjut Sasuke, saat sepatu di kedua kaki Hinata sudah terpasang sempurna, "… ayo pulang."
Hinata melihat uluran tangan Sasuke yang terbuka di hadapannya, dan dengan penuh kesadaran, menyambut uluran tangan itu dengan genggaman yang kuat. Tarikan lembut dari Sasuke berhasil membuat gadis itu berdiri.
Masih dengan tangan yang saling bergandengan, Sasuke menuntun Hinata turun dari paviliyun lukis, menuju pagar pembatas tempat sepedanya disandarkan. Kesunyian menemani perjalanan pulang mereka. Dan jujur saja, Sasuke menganggap kesunyian itu adalah bagian dari tanda-tanda samar. Bahwa kali ini, untuk pertama kalinya, ada yang akan berubah dari hubungan mereka berdua.
Dan Sasuke tidak malu untuk beranggapan, dengan naifnya, bahwa perubahan itu akan mengarah kepada keadaan hubungan yang lebih baik bagi mereka berdua.
Jauh lebih baik.
TBC, honey~
Heyhoo...
Jadi, sebenarnya, awalnya fic ini mau kutambahkan ke genre romance-comedy, makanya penulisan di awal cenderung ga singkron sama penulisan dibelakang-belakang. Dan itu sengaja~ *ngeles maksimal* *tapi bener*
Di awal emang sengaja dibikin penuh unsur bahasa romantisisme, dan makin kebelakang, makin ditunjukkin bahwa ini bukan cerita serius. Tapi yah, karena aku merasa ini ga lucu-lucu amat, (bahkan mungkin ga lucu sama sekali... LOL) dan akan sedikit garing jika dimasukkan ke genre humor, jadinya fic ini hanya ber-tag romance deh… maaf kalo ga sesuai ekspektasi yaa... :') *sujud sembah* *lalu harakiri*
Eniwei, ini lanjutan kisah ga jelas mereka. and you know what, chapt kali ini punya 1000 kata lebih banyak dari chapt kemarin. hahaha~ *bangga gaje*
Hope you enjoy… jangan lupa reviewnyaaa… ga ada review, ga ada apdet! *anceman kosong* *lalu harakiri lagi*
P.S.: maksud di A.n kemarin adalah "weekly" alias diupdate perminggu. Maaf udah pakai kata sok intelek, dan salah. *ini sumpah malu-maluin banget* *sujud sembah lagi* *kali ini ga hara-kiri*
Review~
