"Kau memang tidak manja, tapi Wonwoo yang manja. Walaupun itu hanya pada mu sih."
TEEEEETTT ... TEEEEEETTTT ... TEEEETTTTTTT
Pembicaraan Soonyoung dan Woozi terhenti mendengar bel sekolah berbunyi, menandakan hari pertama belajar ditingkat 2 dimulai.
SOONWOO TWINS
Author : Jung Minwoo97
Nilai:
Cast: Meanie, SeokSoon, Kihae dll
Disclaimer : Semua Cast hanya milik Tuhan YME dan orang tua mereka. saya hanya menggunakan nama mereka karena saya sangat menyukai mereka. Cerita murni dari saya pribadi, tapi Inspirasinya dari berbagai macam – macam Author favorit dan ff favorit saya.
Genre: Romantis, Brothership, Friendship
Warning : BL/YAOI, jika ada Typo's atau GJ mohon dimakhlumi karena ini karya pertama saya sebagai penulis, hehehehehe.
Happy Reading!
Chapter2
TEEEEETTT ... TEEEEEETTTT ... TEEEETTTTTTT
Bel tanda istirahat menggema seantero sekolah Pledis Art High School.
"HUF...Lelahnya" ujar Wonwoo sambil merenggangkan badannya.
"Kim Songsengnim itu menyebalkan baru pertama masuk sudah harus mengerjakan tugas!" gerutu Jun, Wonwoo yang mendengarnya hanya terkekeh pelan.
"Itu yang dinamakan sekolah, Jun-ah."
"Aku lapaaaaar, mau kekanti bersamaku?" tawar Jun. Wonwoo menggangguk.
"Tapi ke kelas Soonyoung dulu. Aku ada punya hutang janji untuk mentraktirnya hari ini."
Mendengar kata traktir mata Jun berbinar – binar
"Kau berniat mentraktir Soonyoung? Traktir aku juga ya"
"Andwe!" tolak Wonwoo tegas
"Kau pelit sekali! Kau kan tidak pernah mentraktir ku Wonu-ya"
Wonwoo menggelai nafas "Arraseo, aku akan mentraktir mu"
"Jinchaaaaa...!" Teriak Jun Senang
"Ne..." Wonwoo tersenyum manis sekali "Tapi dalam Mimpi mu"
"Hyaaaaa... Wonu-ya" teriak Jun tidak terima. Wonwoo hanya tertawa mendanggapi Jun. Dia senang sekali menjaili Jun. Sesekali kan menjahilinya tidak apa kan pikir Wonwoo (Kau jahat sekali Wonu-ya)
"Ayo Pergi!" Wonwoo menarik tangan Jun keluar kelas.
"Kau senang sekali" Jun melihat bagaimana bahagianya Wonwoo, walaupun kebagaian itu tertutupi dengan wajah datar Wonwoo. Orang yang melihat Wonwoo pasti mengira dia adalah orang yang dingin dan cuek. Tapi bagi Jun dan Woozi, Wonwoo tidak lebih dari seorang anak yang ceria dan manja.
"Bagaimana kau tau aku sedang senang hari ini?"
"Kau pikir aku mengenalmu berapa tahun Wonu-ya. Aku mengenalmu bukan hitungan hari tapi bertahun – tahun, lebih dari 10 tahun, aku mengenalmu dan sudah hafal sifat mu luar dan dalam. Aku terlalu mengenal kedua sahabat kembar ku ini." Wonwoo hanya cengengesan mendanggapi ucapan Jun. "Jadi apa yang membuatmu bahagia?"
"Soonyoung" jawab Wonwoo masih dengan senyum lima jarinya
"Soonyoung!" Jun mengeyitkan dahinya heran
"Aku akan bertemu Soonyoung"
"Kau baru bertemu Soonyoung tadi pagi Wonwoo, bahkan bertemu setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik. Apa segitunya kau merindukan Soonyoung? Kau tidak bosan melihat dia setiap hari?"
"Hehehehehehehehehehe..." hanya cengiran yang Wonwoo berikan menanggapi kalimat Jun "Kalau itu Soonyoung, aku tidak akan pernah bosan." mendengar jawaban Wonwoo, Jun hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau benar – benar tidak bisa jauh dari Soonyoung. Kalau kau tidak bisa jauh dari Soonyoung kenapa dulu kalian tidak satu kelas saja?"
"Minat kita terhadap seni berbeda Jun. Aku lebih suka akting sedangkan Soonyoung lebih menyukai Performer dance"
"Sepertinya bakat Kibum Appa dan Donghae Eomma benar – benar menurun pada kalian. Kibum Appa berbakat dalam hal akting, kau yang mewarisi bakatnya sedangkan bakat Donghae Eomma dance menurun pada Soonyoung. Kalian bukan hanya kembar tidak identik tapi juga masalah minat dan sifat juga tidak sama. Biasanya anak kembar itu cenderung sama tapi dalam kasus kalian malah berbeda 360 derajat."
"Gen Appa dan Eomma saling berbagi pada anak kembarnya, pasti saat Eomma hamil harapan mereka aku dan Soonyoung akan saling melengkapi" Jun hanya mencibir omongan Wonwoo
"Itu hanya alasan kau tidak bisa jauh dari Soonyoung!" Jun bergumam diujung bibirnya
"Kau bilang apa Jun?"
"Tidak, Bukan apa - apa! Kenapa kau tidak bisa jauh dari Soonyoung?"
"Molla! Hanya saja ketika didekat Soonyoung aku marasa nyaman. Seolah – olah hanya dia yang aku butuhkan. Aku tidak butuh yang lain."
Mendengar jawaban Wonwoo, Jun menatap Horor
"Jadi kau tidak membutuhkan aku?" teriak Jun, Wonwoo memutar matanya malas
"Hya...dengarkan kalimat orang baik - baik Jun! Aku kan berkata SEOLAH – OLAH." Wonwoo menekan kalimat terakhirnya.
"Oh begitu. Jadi sampai kapan kau akan bergantung pada Soonyoung. Apa selamanya kau akan mengikuti Soonyoung kemanapun?" Wonwoo terdiam memikirkan ucapan Jun.
"Mungkin ketika Soonyoung jatuh cinta atau memiliki namjachingu"
"Kapan Soonyoung jatuh cinta atau memiliki namjachingu? Kalau yang ada disekitar Soonyoung hanya ada dirimu Wonu-ya" Wonwoo terdiam seketika. Apa yang dikatakan Jun memang benar tidak ada yang salah. Memang selama ini Wonwoo yang ada disekitar Soonyoung, menempelinya dan tidak pernah menjauh sedetikpun. Wonwoo menyadari bahwa selama ini Soonyoung tidak pernah punya pacar. Karena Soonyoung selalu sibuk merawat dan menjaganya. Kalau Soonyoung sibuk dengan dirinya kapan Soonyoung menemukan orang yang mencintainya dan juga menjaganya. Memikirkan itu membuat mata Wonwoo memamanas. Wonwoo berfikir jika Soonyoung tidak pernah punya pacar karena dirinya. Tanpa sadar Wonwoo meneteskan air mata. Jun yang melihatnya terkejut dan gelagapan.
"Ya... ya... Wonwoo. Jangan menangis!"
"Hiks...Hiks...Hiks.." Wonwoo terisak pelan
"Mianhae, jika perkataan ku ada yang salah. Jangan menangis Wonwoo"
"Tapi...hiks...kau...hiks... menga...hiks..ta..hiks...kan hal yang...benar...hiks"
Jun kelabakan bingung harus berbuat apa, akhirnya Jun memeluk Wonwoo. "Gawaaaaaattttt... kalau Soonyoung tahu aku membuat Wonwoo menangis, tamat riwayatku. Aku pasti akan dibanting oleh Soonyoung" gerutu Jun dalam hati. Sedangkan puluhan mata menatap Jun dan berbisik – bisik karena membuat Wonwoo menangis
"Ada apa ini?" suara Soonyoung mengejutkan dua orang yang masih berpelukan tersebut.
"Matilah Kau Wen Junhui! sebentar lagi kau pasti mati ditangan Soonyoung!" cerocos Jun dalam hati. Woozi yang ada dibelakang Soonyoung hanya menampilkan wajah heran melihat Jun memeluk Wonwoo dengan wajah khawatirnya. Woozi hanya tersenyum menyadari wajah Jun bukan lagi wajah kekhawatiran tapi wajah ketakutan ketika melihat Soonyoung menghampiri mereka berdua.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Uri Wonwoo, Jun-an" batin Woozi sambil terkekeh pelan. Tidak mau membuat Jun tambah kesal karena dirinya ditertawakan oleh Woozi.
"Ada apa Wonie?" Soonyoung mengulangi pertanyaannya. Wonwoo yang mendengar suara Soonyoung melepaskan pelukannya pada Jun dan berhamburan ke pelukan Soonyoung.
"Soonyoung-ah, Mianhae" Soonyoung hanya mengenyitkan dahinya mendengar ucapan Wonwoo. Soonyoung melihat disekitanya, dia menyadari bahwa sekarang ia dan Wonwoo menjadi pusat perhatian seluruh siswa – siswa yang ada dikoridor kelas tinggat 2. Melihat menjadi pusat perhatian Soonyoung berinisiatif mengajak Wonwoo, Jun, dan Woozi ketempat yang lebih sepi.
"Kita menyingkir saja dari sini! Aku tidak mau jadi tontonan gratis!" Soonyoung berucap dingin. Membuat Jun dan Woozi menelan ludahnya paksa. Sedangkan siswa – siswa yang menyadari nada dingin Soonyoung akhirnya menjalankan kegiatan mereka masing – masing. Mereka tidak mau terkena semprot dari Soonyoung. Mengingat betapa dinginnya namja bermata sipit dan tajam itu.
Sekarang disinilah mereka berempat berada, disudut koridor yang sepi.
"Sekarang ceritakan pada ku ada apa?" bukannya menjawab pertanyaan Soonyoung, Wonwoo hanya memeluk Soonyoung semakin erat. Tangisannya sudah berhenti tapi Wonwoo tidak mau melepaskan pelukannya pada Soonyoung. Soonyoung yang merasakan pelukan Wonwoo semakin erat hanya diam saja. Soonyoung melirik Jun seolah mengatakan –ada apa dengan dia-. Jun yang ditatap seperti itu hanya menelan ludahnya paksa dan hanya menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah memelas.
"Aku lapar!" ucapan Wonwoo sontak menyadarkan tatapan tajam Soonyoung pada Jun.
"Mwo!" teriak mereka bertiga secara bersamaan
"Ne, Aku lapar! Ayo kekantin!" Wonwoo menarik tangan Soonyoung agar bergegas kekantin
"Hya, Wonwoo. Jelaskan apa yang terjadi tadi?"
"Tidak ada apa – apa, hanya ingin meminta maaf saja padamu!" Wonwoo memasang wajah tersenyum seolah mengatakan bahwa itu memang tidak terjadi apa – apa. Tapi Soonyoung tidak akan bisa dibohongi, Soonyoung begitu mengenal Wonwoo. Soonyoung melihat ada kebohongan dimata Wonwoo. tapi Soonyoung berusaha untuk tidak mengusik Mood Wonwoo, jika Moodnya dirusak akan sangat menyusahkan dan membuat Soonyoung pusing. Menghadapi Wonwoo sama dengan menghadapi eommanya, namun Wonwoo jauh lebih merepotkan dari eommanya.
"Hari ini sepertinya kau selamat dari tendangan Soonyoung" Jun melirik Woozi sesaat, sambil memanjukan bibirnya. "Kalau Soonyoung tahu apa yang terjadi, ku pastikan kau digantung dipohon belakang sekolah" Woozi berusaha menahan tawanya
"Kau senang sekali melihat sahabatmu tersiksa?"
"Memang apa yang kau katakan pada Wonwoo? Sampai dia menangis tadi?"
"Kau tak perlu tau!" jawab Jun ketus. Jun menyusul sahabat kembarnya tersebut dan meninggalkan Woozi
"Mwo!" teriak Woozi tidak terima "Hya...Jun. kau cari mati ya!" Woozi mengejar langkah Jun bersiap memukulnya tapi Jun menghindar sehingga terjadi kejar – kejar antara dua sahabat tersebut.
***** SOONWOON TWINS*******
Soonyoung, Wonwoo, Woozi dan Jun sedang menikmati makan siang mereka di kantin.
"Aku kenyang! terimakasih makanannya Wonu ya..." Soonyoung tersenyum kemenangan kearah Wonwoo, Wonwoo hanya menatapnya datar.
"Kalau bukan tadi pagi aku terlambat bangun, aku tidak akan mentraktirnya makan." Wonwoo mendumel dalam hati. Soonyoung benar – benar menguras uang sakunya hari ini. porsi makan Soonyoung memang tidak banyak, tapi berhubung hari ini Wonwoo sedang mentraktirnya makan maka Soonyoung benar – benar makan sampai kenyang dan puas. jarang – jarang kan ia bisa menguras uang saku Wonwoo (Kau jahat sekali Soonyoung-ah). Jun dan Woozi yang melihatnya hanya terkekeh pelan. Mereka melihat bagaimana sekarang wajah Wonwoo menggambarkan kesengsaraan dan nelangsan karena saudara kembarnya menguras uang sakunya.
"Soonyoung" Panggil seseorang dari arah pintu kantin. Soonyoung menolehkan kepalanya mencari orang yang memanggilnya. L. Joe salah satu teman sekelasnya. menghampiri Soonyoung sambil mengatur nafasnya.
"Ada apa?" Soonyoung bertanya dengan nada malas, jika memanggilnya berarti ada maunya. Soonyoung sudah hafal temannya yang satu ini. yang mendengar nada bicara Soonyoung hanya mengeluarkan cengirannya.
"Kami kekurangan pemain untuk bermain basket."
"Pemain cadanganmu dimana?" Jun ikut bertanya karena heran biasanya setiap tim basket selalu punya pemain cadangan.
"Mereka tidak bisa ikut bermain karena pertandingan ini bersamaan dengan kegiatan klub mereka yang lain"
"Memang pertandiangan apa?" Wonwoo ikut bertanya karena penasaran sama seperti Jun.
"Tim Sunbae VS Tim Hoobae"
"Tim Hoobae? maksudmu siswa – siswa baru?" Woozi ikut menimpali
"Iya, salah satu kegiatan penyambutan penerimaan siswa baru adalah pertandingan Basket. Jun kau juga ikut"
"Mwo! kenapa aku juga ikut?" Jun menunjuk dirinya terkejut
"Ayolah, Tim basket benar – benar membutuhkan pemain hari ini. Kalau tim Sunbae menang, akan dapat kompensasi dari pelatih Tim basket"
Mendengar akan mendapatkan kompensasi Soonyoung dan Jun langsung tersenyum.
"Baiklah aku ikut. Hitung – hitung olah raga. Aku sudah lama tidak main basket " ujar Jun sambil merenggangkan badannya. tersenyum senang, akhirnya dia mendapatkan pemain setelah hampir 15 menit berkeliling sekolah.
"Wonu, kau mau nonton atau akan kembali ke kelas?" tanya Soonyoung pada Wonwoo.
"Aku akan nonton" ujar Wonwoo sambil tersenyum.
*****SOONWOON TWINS*******
Gedung Olahraga penuh dengan suara riuh penonton yang menantikan pertandingan basket tim sunbae melawan tim hoobae. Wonwoo dan Woozi duduk dibarisan penonton kelas 2 – 3 tinggkat lebih tinggi dari tempat duduk pemain cadangan - Wonwoo mengedarkan pandangan kearah lapangan. Dilapangan masih terisi oleh siswa – siswa baru – Tim Hoobae – yang melakukan pemanasan sambil melempasrkan kiss jarak jauhnya pada para pendukungnya yang dibalas teriakan histeris. Tatapan Wonwoo terhenti pada seorang siswa tinggi berkulit tan yang giat melakukan passing dengan teman satu Tim Hoobaenya dengan serius. Wajah siswa itu berkerut tidak senang mendengar teriakan ricuh dari pendukungnya karena ulah teman – temannya yang menebar pesona.
DEG
Jantung Wonwoo berdetak dengan cepat ketika melihat siswa berkulit tan itu mengibaskan rambutnya karena keringat yang bercucuran didahinya. Tanpa sadar Wonwoo tersenyum melihat pemandangan tersebut.
"Tampan" bisik Wonwoo pelan, Woozi yang mendengar Wonwoo berbisik menolehkan kepalanya pada Wonwoo. Woozi melihat Wonwoo memandang pada satu titik, ia melihat arah pandang Wonwoo. Tahu apa yang sedang Wonwoo perhatikan Woozi tersenyum misterius.
"Sepertinya Uri Wonwoo akan segera jatuh cinta, Soonyoung-ah" batin Woozi
"Kenapa Tim Sunbae belum keluar juga?" suara Woozi membuyaran lamunan Wonwoo.
"Hm? Mungkin mereka masih sibuk bersiap – siap."
Tidak lama kemudian tim Sunbae keluar dan disambut oleh teriakan namja maupun yeoja. Tim Sunbae berbaris menghadap Tim Hoobae yang menunggu ditengah lapangan, yang menandakan pertandingan akan dimulai. Para pemain Sunbae mengedarkan pandangan untuk melihat para pemain dan pandangan Jun tertuju pada seorang pemain yang berdiri didepannya.
"Ming...mingyu!" Jun melebarkan matanya terkejut melihat seseorang yang ia kenal sedang tersenyum mengejek kearahnya. "Kau...kau sekolah disini?"
"Seperti yang kau lihat, hyung!" Mingyu menyeringai "Akhirnya aku bisa mengalahkanmu hari ini" kata penuh tantangan dari Mingyu membuat Jun tersenyum menyejek.
"Jangan terlalu percaya diri! Kau tidak akan pernah menang melawanku!"
"Kita lihat saja nanti!"
Seseorang yang berdiri disamping Mingyu melambaikan tangannya kearah Jun dan menyapanya.
"Hai hyung!"
"Seokmin" Jun kembali terkejut mengenali seseorang yang berdiri disamping Mingyu sambil memamerkan senyum lima jarinya.
Soonyoung mengerutkan dahinya mendengar Jun mengucapkan beberapa nama yang menurutnya masih asing.
"Kau mengenalnya?" bisik Soonyoung, Jun mengangguk.
"Ne. Dia Kim Mingyu sepupuku sedangkan orang yang ada disampingnya adalah Lee Seokmin sahabat Mingyu sekaligus tetangganya."
"Oh!"
Soonyoung mengedarkan pandangannya pada para Hoobae yang berdiri dihadapanya dan pandangan Soonyoung terjatuh pada Seokmin yang sedang menatapnya intens. Soonyoung mengangkat alisnya bertanda heran kenapa Seokmin memandangnya seperti itu.
"Manis" itulah kata yang keluar tanpa suara dari mulut seorang Lee Seokmin. Soonyoung mengerutkan dahinya melihat baru saja Seokmin mengatakan kalau dirinya manis. Melihat Seokmin tersenyum membuat Soonyoung memutar bola matanya malas dan memutuskan kontak mata. Soonyoung mengedarkan pandangannya pada hal yang lain. Merasa masih diperhatian Soonyoung memandang kearah Seokmin dan Gotcha! Seokmin memang masih memandang Soonyoung dengan senyuman lima jarinya.
"Berhenti memandang orang seperti itu!" Soonyoung memperingatkan Seokmin agar tidak melakukan hal – hal yang konyol seperti itu. Seokmin yang diperingatkan hanya tersenyum mengejek
"Sunbae terlalu percaya diri, aku tidak sedang memandangmu. Kenapa juga aku harus memandangmu, kau tidak ada menarik – menariknya untuk dipandang"
"Mwo!" teriak Soonyoung tidak terima. Barusan Seokmin tengah mengejeknya, teriakan Soonyoung membuat Tim Sunbae memandang kearah Soonyoung.
"Tahan Soonyoung! Tahan! Hoobae itu sedang memancing kemarahmu agar kau hilang kendali dan tidak akan fokus dengan pertandingan!" L. Joe memperingatkan Soonyoung agar lebih mengendalikan dirinya. Mendengar peringatan temannya Soonyoung menarik nafas dan membuanganya perlahan.
Melihat bagaimana Soonyoung menarik dan membuang nafasnya membuat Seokmin tersenyum lembut "Kau memang manis!" batin Seokmin.
Wasit, memberikan komando bahwa pertandingan akan segera dimulai.
PRIIIIIIT!
Wasit meniup peluit menandakan pertandingan telah dimulai.
*****SOONWOON TWINS*******
"Mingyu" Seokmin berteriak memanggil Mingyu, Mingyu refleks menoleh dan bersiap menerima operan bola yang dilemparkan padanya. Tanpa membuat waktu Mingyu menangkap dan melemparkannya ke dalam ring basket.
PRIIIIIIITTTT
Bunyi peluit panjang wasit menandangan pertandingan telah selesai. "70 – 69! Tim Hoobae memenangkan pertandingan ini!"
Ledakan teriakan para pendukung tim hoobae memenuhi gedung olahraga Pledis Art High School.
"KIM MIGYU. KAU MEMANG HEBAAAATTTT! TIM HOOBAE MEMANG HEBAT" Teriak para yeoja – siswi baru- yang mendukung tim hoobae.
"Mereka berisik sekali!" Wonwoo merasa terganggu dengan teriakan tersebut. "Woozi-ya, kita kalah! Soonyoung pasti kesal sekali"
"Ini pertandingan Wonwoo, wajar kalau ada yang menang dan kalah. Kalau Soonyoung kesal kita tinggal menghiburnya saja kan. Tapi aku akui Tim Hoobae memang hebat terutama Hoobae yang baru memasukkan bola ke dalam ring tadi, gerakannya lincah dan gesit aku tidak heran tim Sunbae kewalahan menghadapinya. Kalau tidak salah namanya Mingyu"
"Mingyu" gumam Wonwoo sambil memandang Mingyu yang sedang memeluk teman – temannya satu Tim. "Jadi namanya Mingyu" tambah Wonwoo dalam hati.
"Kau tahu dari mana namanya Mingyu?"
"Wonu, anak kecil juga tahu kalau namanya Mingyu. Karena setiap kali dia memegang bola atau mendribel bola para paduan suara yang berisik itu pasti berteriak sambil menyebutkan namanya."
"Oh"
Woozi mengerutkan keningnya bingung, tumben sekali Wonwoo tidak memperhatikan sekitarnya "Kau melamun ya? Kau tidak konsentrasi pada pertandingan tadi kan" Woozi memicingkan matanya penuh selidik.
"A..Ani! A..aku lihat kok pertandingannya!" Wonwoo menjawabnya dengan tergagap, melihat bagaimana caranya Wonwoo menjawab Woozi tahu kalau sahabatnya ini sedang berbohong.
"Pertandingannya atau pemainnya?" Woozi semakin menggoda Wonwoo
"MWO!" muka Wonwoo seketika memerah, Wonwoo tidak bisa menyangkal kalau memang dari pertandingan dimulai hingga berakhir hanya fokus pada satu pemain yang bergerak lincah dan gesit, Yups... Mingyu! Wonwoo hanya memperhatikan seorang Kim Mingyu bergerak lincah memainkan bola dan memasukkan bola berwarna orange itu ke dalam ring basket. Wonwoo benar – benar tidak bisa mengalihkan perhatiaannya pada Mingyu, sampai – sampai ia tidak tau berapa kali Soonyoung mati – matian mengejar langkah Mingyu untuk merebut bola. "Lu...lupakan! ayo ketempat Soonyoung. Kita harus menghibur dia" Wonwoo mengalihkan topik pembicaraannya dengan Woozi. Jika tidak begitu Woozi tidak bisa dikelabui, dia akan semakin gencar dengan pertanyaan – pertanyaan yang akan menjawab rasa penasarannya yang tinggi.
Semua penonton sudah peninggalakan Gedung Olahraga tinggal tersisa Wonwoo dan Woozi yang masih duduk dibangku penonton. Mereka bergegas untuk menghampiri Soonyoung kalau saja suara Soonyoung yang memenuhi gedung olahraga membuat mereka menghentikan langkahnya.
"MWO! KATAKAN SEKALI LAGI!" Soonyoung menatap marah namja yang ada didepannya.
"Kita kalah gara – gara kau, Soonyoung" Hwayoung –Ketua Tim Basket- memasang wajah malas menghadapi amukan Soonyoung "Kalau kau tidak terpancing emosi dan provokasi hoobae itu, kita bisa menang! Dari awal pertandingan dimulai Ljoe sudah memperingatkanmu untuk menahan emosimu dan memberikanmu nasihat kalau hoobae tadi sedang memancing emosimu. Kalau orang sudah emosi dia tidak akan bisa bertanding dengan baik!"
"Hya, Hwayoung. Kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Soonyoung." Jun merasa tidak terima Hwayoung melimpahkan kesalahan sepenuhnya pada Soonyoung karena tim sunbae kalah murni karena tim hoobae emang hebat.
"Oh ya!" Hwayoung memasang wajah meremehkan "Kalau begitu siapa yang harus aku salahkan! Ljoe? Karena Ljoe meminta tolong kalian untuk mengisi kekosongan pemain. Itu tidak mungkin, Ljoe bermain sangat baik tadi."
Soonyoung mengepalkan kedua tangannya hingga kuku – kukunya memutih, ia berusaha untuk meredang emosinya yang setiap waktu akan meledak. Dia sudah berusaha dengan baik bermain tadi, tapi usahanya tidak dihargai sama sekali. Soonyoung mengelai nafas kasar mencoba meredam emosinya. "Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang?"
Hwayoung tersenyum licik melihat Soonyoung "Mudah! Kau harus menjadi pembantu diklub basket selama 1 minggu!" semua orang yang berada ditempat membelalakkan mata mereka mendengar persyaratan yang diajukan oleh ketua tim basket mereka.
"MWO!" teriak semua orang terkejut, kecuali Soonyoung. Soonyoung hanya menatapnya datar, karena ia tahu kalau Hwayoung memang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengerjainya habis – habisan.
"Apa kau gila?" Jun benar – benar tidak terima melihat Soonyoung menjadi pembantu tim basket. Wonwoo yang mendengarkan perdebatan daritadi hanya bisa diam, ketika ia hendak protes, terputus oleh...
"Itu karena kau tidak bisa bekerja sama dengan Tim mu Sunbae!" suara yang begitu dingin dan menusuk, semua orang mengalihkan pandangannya pada sosok tersebut. Sosok itu muncul dari ruang ganti digedung olahraga.
"Seokmin" gumam Jun terkejut
"MWO! Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa bekerja sama dengan Timku?" Hwayoung merasa tidak terima apa yang diucapkan oleh Hoobae kurang ajar ini. "Aku adalah kapten tim basket" Hwayoung menaikkan nada suaranya.
"Tidak perlu menaikkan nada bicaramu seperti itu sunbae, aku tidak tuli" Seokmin memutar bola matanya malas. "Justru aku meragukan kalau kau adalah seorang kapten. Seorang kapten tidak akan pernah menyalahkan anggotanya jika kalah. Tapi kau malah mengajukan persyarakatan yang sangat kekanakan sebagai imbalan karena kesalahannya. Seharusnya kau sebagai kapten memberikan sebuah contoh bagaimana kita menerima kakalahan."
"Kau yang seorang hoobae berani sekali mengajariku?"
Mendengar jawaban Hwayoung yang sarkastik membuat Seokmin tertawa meremehkan "Aku yang hanya seorang hoobae saja tidak bisa kau kalahkan, apalagi jika aku seorang Sunbae. Aku pastikan kau tidak kan bisa mengungguli seorang Lee Seokmin."
Hwayoung kehabisan kata – kata, ia kehilangan wibawanya sebagai kapten tim basket karena seorang Hoobae bernama Lee Seokmin.
"Bagaimana? Kau kesal?" Seokmin tersenyum sinis kearah Hwayoung. "Begitulah rasanya jika kau membuat orang jengkel, sunbae."
"Kenapa kau mengomentari cara kerja sama timku?" Hwayoung bertanya dengan nada menahan amarah "Aku kapten disini!"
"Ck...ck...ck...sekarang aku tambah percaya dengan kemampuanku mengamati semakin meningkat. Dari pertandingan tadi sangat terlihat kau ingin menguasai bola. Kau tidak mengoper pada Jun hyung yang jelas – jelas ada diposisi tepat digaris 3 in one dan memasukkan bola basketnya kedalam ring tapi apa hasinya? Bola yang kau lempar tidak masuk. dan kau beberapa kali menghalagi pemain lain untuk mengoper pada hamster sunbae itu" Seokmin menunjuk Soonyoung yang berdiri disamping Jun. Mendengar julukan yang spontan Seokmin lontarkan padanya membuat pemain lain menahan tawanya, sedangkan Soonyoung menahan keinginannya untuk menenggelamkan Seokmin kedalam bumi yang paling dalam. "Terlihat sekali kau tidak ingin dia mencetak skor kemenangan."
"Aku juga mengoper bolanya pada Soonyoung tapi dia yang tidak bisa menguasai bola" Hwayoung berusaha untuk membela dirinya. Dia tidak mau kalah dari seorang hoobae. Jawaban Hwayoung membuat Seokmin tertawa mengejek
"Benarkah? Kalau kau mengoper bolanya dia tidak akan susah – susah merebut bola dari Mingyu, sunbae. Kau pikir aku tidak memperhatikan setiap gerak – gerikmu saat pertandingan? Aku melihat beberapa kali kau berusaha untuk menyederai dia, padahal dia adalah tim mu" Seokmin menatap tajam Hwayoung. Seokmin paling membenci sebuah kecurangan. Apalagi saat pertanding tadi dia melihat Soonyoung menahan sakit setiap kali Hwayoung ada didekatnya. Mendengar penjelasan Seokmin semua membelalakkan mata terkejut lalu semua mata tertuju pada Soonyoung.
"Jangan membual! Kau tidak punya bukti" Hwayoung merasa agak ketakutan dengan penjelasan Seokmin. Seokmin menampilkan smirknya.
"Kau menantangku, sunbae?" Seokmin berjalan kearah Soonyoung dan berjongkok lalu melepas tali sepatu Soonyoung
"Apa yang kau lakukan?" Soonyoung mencoba menarik sepatunya agar Seokmin tidak melepasnya.
"Lepaskan!" perintah Seokmin muntlak. Mendengar nada perintah tersebut Soonyoung terpaksa melepas sepatunya.
"Ommo!" Semua orang terkejut melihat memar dikaki Soonyoung.
"Dengan melihat ini apa kalian yakin dia pantas menjadi seorang kapten tim basket? Seorang Kapten tidak akan pernah melakukan hal egois untuk menjatuhkan temannya apalagi memberikan sebuah hukuman karena kalah dalam pertandingan. Dengan ini aku yakin bahwa dia terpilih menjadi tim basket bukan karena kemampuannya atau karena kedewasaanya, tapi karena sebuah uanglah dia menjadi kapten tim basket" mendengar kata - kata Seokmin membuat Hwayoung meninggalkan lapangan.
Prok...Prok...Prok...
Sebuah tepuk tangan membuat semua orang mengalihkan perhatiannya, mereka melihat sosok tinggi dan tampan berkulit tan yang bersandar pada gawang pintu dengan tatapan malas.
"Ya, Seokmin-a. Sampai kapan aku berdiri disini? Aku lapar!" Mingyu berjalan kearah kerumunan sunbae – sunbae mereka yang berdebat dengan sahabatnya. "Aku lapar!" Mingyu menarik tangan Seokmin agar berdiri.
"Kau cerewet sekali."
"Memang kau baru tahu kalau aku cerewet" Mingyu memasang wajah terkejut yang dibuat – buat. Mingyu dan Seokmin membungkuk pada sunbae – sunbae mereka. Sebelum benar – benar meningglkan tempat tersebut, Seokmin mendekatkan diri kearah telinga Soonyoung
"Kau berhutang padaku Sunbae" bisik Seokmin "Dan aku meminta ini sebagai imbalan awal." Seokmin memandang Soonyoung dari samping sedangkan Soonyoung memandang dengan alis terangkat. Sebelum mencerna kata – kata Seokmin dengan baik, Soonyoung merasakan benda lembut menempel dipipinya sekilas.
CUP...
Semua orang memekik tertahan dan menganga tidak percaya, sedangkan Soonyoung melebarkan matanya karena terkejut. Setelah Mingyu dan Seokmin pergi dari gedung olahraga, Jun menepuk pundak Soonyoung. Soonyoung yang baru sadar meraba pipi chubbynya yang baru dikecup oleh Seokmin, Soonyoung merasakan wajahnya memerah sampai telinga.
"DASAR HOOBAE KURANG AJAR!" Teriak Soonyoung menggelegar dipenjuru gedung olahraga. Semua orang yang masih berada didalam gedung terperanjat mendengar teriakan Soonyoung.
Mendengar suara teriakan Soonyoung dari luar Seokmin hanya tertawa
"Kau memang gila!" Mingyu menggelengkan kepalanya melihat kelakukan sahabatnya yang baru saja mencium salah satu sunbae
"Memang kapan aku tidak gila?"
"Ah, lupakan. Dan sejak kapan otakmu berkerja secara maksimal? Apa karena membela sunbae itu otakmu jadi lebih pintar."
"HYA... Kim Mingyu. Kau mengatakan aku bodoh?"
"Aku tidak pernah bilang begitu. Kalau kau merasa begitu ya...baguslah. akhirnya kau sadar. Kau baru saja mengatakan kalau kau pabo" Mingyu tertawa nista mengghina Seokmin. Seokmin hanya menggelai nafas.
"Kenapa aku punya sahabat seperti ini."
"Karena Takdir" selesai berkata Mingyu berlari karena Seokmin bersiap untuk memukulnya.
*****SOONWOON TWINS*******
"Ahh...Pelan – pelan Wonwoo. Ini sakit!" ringis Soonyoung ketika Wonwoo mengompres kaki Soonyoung yang memar. Soonyoung dibawa keruang kesehatan untuk diobati agar memar kakinya tidak bengkak.
"Salahmu sendiri. Kenapa kau tidak melawan diperlakukan seperti itu" protes Wonwoo kesal.
"Kau pikir bagaimana aku bisa melawannya kalau waktu itu pertandingan sedang berjalan. Jika waktu itu bukan pertandingan pasti aku sudah menghajarnya. Aku menahan itu semua demi teman – teman Tim basket, kalau aku membalasnya pada saat pertandingan kau tau bagaimana reaksi yang lainkan, mereka akan semakin menyalahkanku karena mengacaukan pertandingan."
Wajah Wonwoo berubah sedih melihat memar dikaki Soonyoung yang hampir bengkak.
"Hei, sudahlah! Aku baik – baik saja. Sebentar lagi juga tidak apa – apa." Soonyoung memberikan senyuman pada Wonwoo mengatakan melalui tatapannya kalau dia baik – baik saja. "Tidak usah khawatir. Okey!" Soonyoung mencubit kedua pipi Wonwoo "Aigoooo, Kau manis sekali!"
"Soonyoung-a, kau benar baik – baik saja?"
"Aku baik – baik saja, Jun. Tidak usah khawatir."
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada Hwayoung?"
Soonyoung mengangkat bahunya "Aku tidak tahu. Dari awal tingkat satu dia selalu mencoba untuk menjatuhkanku."
"Dia masih dendam padamu soal pemilihan ketua klub dance?" Woozi benar – benar terkejut, dia tidak menyangka bahwa Hwayoung masih menaruh dendam pada pada sahabatnya ini.
"Kelihatannya seperti itu. Pemilihan ketua klub waktu itu murni musyawarah bersama, Eunhyuk ssaem dan anggota yang lainlah yang memilihku bukan aku yang mengajukan diri sebagai ketua."
"Karena itulah Eunhyuk ssaem begitu menyukaimu." Wonwoo memberikan senyuman terbaiknya untuk saudaranya itu.
"Hari ini aku akan keklub dance, kau pulang bersama Jun dan Woozi."
"Mwo! Andwe! Kau tidak boleh menari dulu, kakimu masih sakit." Wonwoo sangat khawatir dengan keadaan Soonyoung, Soonyoung malah mau pergi ke klub dance. Saudara kembarnya ini benar – benar nekat.
"Aku tidak akan melakukan dance,Wonu. Hari ini aku hanya membicarakan sesuatu tentang klub dengan Eunhyuk ssaem. Aku janji!" Soonyoung berusaha menyakinkan Wonwoo tidak akan melakukan hal – hal yang membahayakan. Dia masih sayang dengan kakinya. Hei, kakinya adalah aset berharga, modal utama seorang dancer.
"Baiklah, aku akan pulang dengan Jun dan Woozi. Kau janji tidak akan melakukan dance!" perintah Wonwoo mutlak. Soonyoung hanya tersenyum menanggapi.
"Arraseo! Aku janji tidak akan melakukan dance. Okey!"
"Apa Eunhyuk ssaem hanya memanggilmu? Aku kan juga anggota klub dance?" tanya Jun penasaran, pasalnya dia juga anggota klub dance itu tapi kenapa hanya Soonyoung yang dipanggil.
"Ini hanya pembicaraan yang hanya didiskusikan denganku, nanti kalau sudah pembicaraan ini memang sudah pasti maka akan diumumkan pada anggota yang lain."
Jun menggangguk paham mendengar jawaban Soonyoung.
"Kau tidak mau ditemani disini?" tanya Woozi
"Ani! Silahkan kembali kekelas sahabat – sahabatku tercinta. Woozi – a, kalau sudah pulang tolong antarkan tas ku keklub!" Woozi memutar matanya malas.
"Ya...ya.., aku akan mengantarkan tasmu." Woozi menjawab dengan malas
Soonyoung menanggapi jawaban Woozi dengan cengirannya
"Thank You"
"Soonyoung" Jun memanggilnya dengan nada lirih
"Hmm"
"Soal tadi, dilapangan basket. Aku mewakili Seokmin untuk minta maaf padamu. Dia dari kecil memang sangat usil." Mendengan perkataan Jun, otomatis wajah Soonyoung memerah
"HENTIKAN!" Soonyoung menutup telinganya "Jangan diteruskan! Kalau aku ketemu dengan dia, aku akan menghabisisnya"
"Kau mengenal Hoobae yang mencium Soonyoung tadi?" Wonwoo terkejut bahwa Jun mengenal hoobae yang berani mencium Soonyoung dihadapan orang banyak.
"Dia tetangga ku, sekaligus sahabat dari sepupuku. Jadi aku tahu dia seperti apa."
Wonwoo mengingat kembali kejadian dilapangan basket, ketika seorang hoobae dengan kurang ajarnya mencium Soonyoung. Wonwoo termenung, apakah sebentar lagi Soonyoung akan jatuh cinta? Apakah ketika memiliki namjachingu Soonyoung akan melupakannya? Semua orang juga tahu jika tindakan hoobae tadi menandakan kalau ia tertarik pada Soonyoung tapi Wonwoo berusaha untuk tidak memikirkannya namun dengan manisnya seorang Jun mengingatkan kembali akan kejadian tadi. Melihat perubahan wajah Soonyoung yang memerah membuat Wonwoo merasa bahwa sebentar lagi Soonyoung bukan hanya miliknya dan keluarga tapi juga milik seseorang yang akan mencintainya.
"Sekarang kalian pergilah ke kelas!" suara Soonyoung membuyarkan lamunan Wonwoo. "Jun, aku titip Wonwoo".
"Baiklah! Tapi kau harus mentraktirku besok" Jun menaik – naikkan alisnya berniat menggoda Soonyoung. Soonyoung memutar bola matanya malas.
"Arraseo! Aku akan mentraktirmu?"
"Kau tidak mau mentraktirku, Soonyoungie? Aku kan juga nanti bersama Wonwoo?" Soonyoung menghembuskan nafasnya kasar mendengar perkataan Woozi. Kenapa dia punya sahabat – sahabat tukang rampok sih? Tidakkah membantunya dengan ikhlas saja. Apa salahnya menjaga Wonwoo sampai rumah? Kalau dia tidak menemui Eunhyuk ssaem pasti dia akan pulang dengan Wonwoo? batin Soonyoung kesal.
"Kenapa kalian suka sekali menggoda Soonyoung?" Wonwoo menatap kedua sahabatnya dengan heran. Wonwoo tahu kalau kedua sahabatnya ini sedang menggoda Soonyoung mati – matian, membuat Soonyoung kesal adalah salah satu hobi mereka berdua. (Kalian sahabat yang jahat#abaikan#plak#)
"Hya! Wonu, kau tidak seru! Merusak kesenangan kami saja" Protes Jun. Tidak terima
"Sudahlah! Ayo kita kembali kekelas." Wonwoo menarik tangan Jun dan Woozi. "Istirahatlah!" kata Wonwoo sebelum menutup pintu ruang kesehatan.
Setelah Wonwoo menutup pintu ruang kesehatan. Soonyoung termenung, dia meraba pipinya yang tadi dicium oleh hoobae – Seokmin-. Mengingat hal itu membuat wajah Soonyoung memerah dan jantungnya berdebar – debar.
"Ada apa denganku? Kenapa aku terus memikirkan hoobae kurang ajar itu?" Soonyoung berbaring dan menutup dirinya dengan selimut "Eomma, kenapa aku jadi berdebar – debar?" rengek Soonyoung.
**Soonwoon Twins***
Bel pulang berbunyi, siswa – siswi Pledis Art High School berhamburan keluar dari kelas masing – masing.
"Wonu, Jun... aku duluan ya!"sapa Youngjae -teman sekelas- yang duduk tepat didepan bangku mereka. Sedangkan Wonwoo dan Jun masih sibuk memasukkan buku – buku kedalam tas masing – masing.
"Bye" balas Wonwoo dan Jun kompak
"Kau langsung pulang?" tanya Wonwoo pada Jun.
"Waeyo?"
"Kalau kau tidak terburu – buru pulang, aku mau mampir keperpustakaan. Mau meminjam beberapa novel"
"Aku akan menemanimu, sekalian saja aku mencari beberapa buku yang harus kita butuhkan untuk tugas – tugas yang diberikan oleh ssaem tadi"
Wonwoo menggangguk "Kajja!"
Wonwoo dan Jun berjalan beriringan dikoridor sekolah untuk menuju keperpusataakan sekolah
"Memangnya kau mau mencari novel apa?"
"Novel tentang pembunuhan atau misteri"
"Tidak heran kalau kau menyukai hal – hal berbau horor"
"Bukan hanya menyukai tapi sebagai referensi beberapa karakter tokoh jahat untuk mendalami peran seorang pembunuh atau penjahat. Kalau sudah membaca aku bisa berlatih mempraktekkannya pada Appa".
"Kau tidak ingin membaca novel – novel romance?" Jun penasaran sekali, setiap kali Jun melihat Wonwoo membaca novel itu tidak akan pernah jauh dari horor, pembunuhan atau detektif. Jun tidak pernah melihat Wonwoo membaca novel – novel yang berbau tentang percintaan.
"Aku belum tertarik! Lebih tertarik pada tokoh – tokoh jahat yang memegang pisau sambil menguliti korbannya hidup – hidup" Wonwoo memasang wajah mengerikannya pada Jun. Jun menatap Wonwoo seolah sahabatannya sudah gila.
"Dasar Psikopat" Guman Jun.
"MWO! Apa kau bilang?" Wonwoo memukul lengan Jun
"Aww, sakit!" rintih Jun, pukulan Wonwoo tidak main – main pukulannya sangat sakit. Walaupun Wonwoo bertubuh kurus tapi kalau soal pukul memukul jangan ditanya lagi, itu akan bisa membuat bekasnya menjadi biru #Lebay#plak#abaikan#
"Kau belum tertarik? Jelas saja belum tertarik karena kau belum merasakan yang namanya jatuh cinta."
Jatuh cinta? Hal itu terlintas dipikiran Wonwoo. memang jatuh cinta itu rasanya bagaimana? Awalnya seperti apa? Pertanyaan itu terpikirkan oleh Wonwoo, tiba – tiba saja terlintas dipikirannya sebuah wajah tampan. Wajah hoobae berkulit tan yang bersama dengan hoobae yang mencium Soonyoung tadi. "Kenapa wajah itu yang terlintas?" batin Wonwoo dalam hati.
"Kau tidak perlu mendalami karakter jahat atau seorang pembunuh." Suara Jun membuyarkan pikiran Wonwoo.
"Waeyo?" Wonwoo mengerutkan dahinya heran
"Karena wajah datarmu itu sudah menakuti semua orang. Wajah flatmu sudah mewakili semuanya, kau tidak usah mendalami karakter jahat kau sudah kelihatan jahat Wonu-ya"
"MWO!" teriak Wonwoo memekikan telinga Jun. Wonwoo bersiap memukul Jun tapi Jun terlebih dahulu melarikan diri "HYA! Kau mau mati ya...kemari Kau!" Wonwoo mengejar Jun mati – matian sambil melayangkan pukulannya.
**Soonwoon Twins***
Sekarang disinilah seorang Jeon Wonwoo dideretan novel – novel fiksi. Jari – jari lentik Wonwoo mencari novel – novel yang belum pernah dibacanya. Tangannya terhenti pada novel romance yang berjudul LOVE.
"Aku kan pinjam ini juga. Sesekali membaca yang seperti ini tidak jelekkan?" guman Wonwoo pada dirinya sendiri
"Kau sudah menemukan novelnya?" suara Jun mengagetkan Wonwoo. Jun mengenyitkan keningnya, reaksi terkejut Wonwoo terlalu berlebihan – menurut Jun – Jun hanya bersuara kecil tidak membentak atau dengan sengaja mengejutkan Wonwoo. Karena ini perpustakaan Jun menggunakan suara sekecil mungkin, dia tidak ingin diusir oleh petugas perpustakaan sebelum dapat menemukan buku yang ia cari.
"Kau mengejutkanku."
"Kau sudah selesai?" Jun mengulang pertanyaannya lagi, Wonwoo mengangguk. Jun melihat salah satu novel romance yang didekapan Wonwoo.
"Kau mau pinjam novel itu?" Jun menunjuk novel romance
"Ne. Sesekali aku ingin tau cerita romance seperti ini."
Jun tersenyum menanggapi "Semoga kau dapat inspirasi dari membaca novel cinta. Dan kau bisa merasakan indahnya jatuh cinta." Tambah Jun dalam hati.
**Soonwoon Twins***
SKIP TIME
"Eomma...Aku pulang" teriak Wonwoo sambil melepaskan sepatunya. Wonwoo masuk kedalam rumah dan mendapati eommanya sedang membaca majalah disofa mewah ruang keluarga.
"Eomma" Wonwoo menubruk Donghae dan memeluk perutnya dengan erat.
"Selamat datang sayang." Donghae mengusap rambut hitam Wonwoo dengan lembut dan menciumnya "Soonyoung dimana?" Donghae mencari Soonyoung karena tidak mendapati anak sulungnya pulang bersama Wonwoo
"Soonyoung sedang bertemu dengan Eunhyuk ssaem, katanya ada hal yang harus dibicarakan. Katanya penting!" ucap Wonwoo sambil mengusap – usapkan kepalanya manja diperut sang eomma.
"Lalu kau pulang bersama siapa?"
"Jun dan Woozi"
"Jun dan Woozi? Lalu dimana mereka sekarang?"
"Ada diluar sedang memarkirkan mobilnya" Wonwoo tidur dipangkuan Donghae sambil memeluk perut Donghae. Donghae yang menerima perlakukan seperti itu hanya tersenyum makhlum.
"Kalau kau memeluk Eomma seperti ini bagaimana eomma bisa membaca majalah?" Donghae mengusap dengan lembut rambut Wonwoo. "Kau menganggu Eomma membaca"
"Memang itu tujuanku memeluk eomma" jawab Wonwoo cuek. Donghae tersenyum, menutup majalah yang belum selesai dibaca diatas meja. Kalau sudah menghadapi Wonwoo dalam mode manjanya, Donghae hanya pasrah saja. Kalau Wonwoo sudah menempel seperti ini padanya pasti ada sesuatu yang akan dikatakan oleh Wonwoo padanya. Donghae tetap membelai lembut rambut Wonwoo.
"Kau tidak kasihan dengan Hae Eomma, eoh. Kau kan baru pulang dari sekolah pasti bau." Suara Jun mengalihkan pandangan Donghae
"Kau harus ingat umur, berapa usiamu saat ini? Kau ini masih saja manja, tak cukupkah kau manja pada Soonyoung?" Woozi menimpali ucapan Jun. Dia menggelengkan kepalanya melihat bagaimana sekarang posisi Wonwoo yang semakin memeluk perut Donghae menyamankan posisinya.
"Bolehkan aku melakukan apa saja padanya? Toh dia Eomma- ku" suara Wonwoo teredam perut Donghae. Donghae hanya tersenyum menanggapi.
"Terimakasih sudah mengantar Wonwoo sampai rumah"
"Ne, eomma." Jawaba Jun dan Woozi secara bersamaan
"Kalian sudah makan?" Donghae sudah ingin beranjak dari sofa namun gerakannya terhenti karena Wonwoo menahannya agar tetap duduk
"Eomma tidak boleh kemana – mana. Kalau mereka lapar biar ambil sendiri. Kan ada Min ahjumma yang akan melayani mereka."
Jun dan Woonzi serempak mendekat kearah Wonwoo, secara bersamaan meletakkan tangan mereka dipipi Wonwoo dan...
"AAAAAHHHHHHHH...SAAAAKIIIIIIT! Eommmmaaaa" teriak Wonwoo kesakitan karena dengan sadisnya kedua sahabatnya ini mencubit pipinya dengan gemas, Donghae yang melihat interaksi keduanya hanya tertawa saja, tidak ada niatan untuk membantu Wonwoo melepaskan cubitan sadis kedua sahabat tersebut. Karena bagi Donghae pemandangan seperti ini sudah biasa. Anaknya yang satu ini memang jahil –persis seperti Appanya – jadi dia tidak keberatan siapapun untuk sedikit memberikan pelajaran pada anak bungsunya ini – Asal masih tahap wajar -. Sesekali Wonwoo mememang harus diberi pelajaran.
"Kau ini jahat sekali!" Jun masih tetap mencubit pipi Wonwoo
"Kalau tahu begini mending tadi kau ditinggal dipinggir jalan" Woozi berpindah tempat menjadi mncubit hidung Wonwoo. Sedangkan Wonwoo berusaha untuk melepaskan cubitan kedua sahabatnya.
"Eommaaa" rengek Wonwoo setelah terbebas dari cubitan maut sahabatnya "Kenapa eomma hanya diam saja melihat aku disiksa oleh mereka? Kan sakit!". Wonwoo mengusap – usap pipi dan hidungnya, dia yakin sekarang pipi dan hidungnya merah karena sakit. Donghae hanya tersenyum menanggapinya.
"Cepat mandi! Setelah mandi susul kita makan malam! Okey" Donghae mencium pipi dan hidung Wonwoo yang dicubit oleh Jun dan Woozi. Wonwoo tidak protes ketika melihat nada perintah Donghae, ia bangun dari pangkuan Donghae dan masuk kedalam kamarnya.
"Sekarang ayo kita makan malam. Min ahjumma sudah selesai menyiapkan makanannya."
"Nee, Eomma"
**Soonwoon Twins***
Wonwoo turun dari lantai dua setelah selesai dengan acara mandinya, dia menuju keruang makan. Eommanya dan kedua sahabatnya saling mengobrol sesekali tertawa.
"Sudah mandi?" pertanyaan Donghae dijawab anggukan oleh Wonwoo
"Aku pulang" sebuah teriakan terdengar dari arah pintu depan.
"Soonyoung sudah pulang." Seru Wonwoo dengan nada riang. Tidak lama kemudian Soonyoung muncul, sambil melemparkan tas sekolahnya sembarangan Soonyoung menuju keruang makan.
"Aku pulang Eomma" Soonyoung mencium pipi Donghae kemudian duduk disamping Wonwoo.
Jun dan Woozi yang melihat bagaimana Soonyoung memperlakukan eommanya hanya bisa geleng – geleng kepala.
"Tadi pulang sekolah Wonwoo memeluk, sekarang baru masuk Soonyoung mencium. Kalian ini tidak kasihan pada hae Eomma, eoh." Kata Woozi sambil menyantap makanan yang ada didepannya.
"Kalian tidak pernah berubah, masih seperti pertama kali aku mengenal kalian." Timpal Jun.
Soonyoung dan Wonwoo hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli.
"Eomma" panggil Wonwoo pada Donghae yang sedang memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Hmm" gumam Donghae
"Jatuh cinta itu bagaimana rasanya?"
Pertanyaan Wonwoo sontak membuat keempat orang yang duduk dimeja makan tersedak dengan tidak elitnya.
UHUK...UHUK...UHUK...
Soonyoung berusaha memukul dadanya, Donghae, Jun dan Woozi berusaha mengambil air untuk menetralisirnya. Sedangkan Wonwoo hanya mengerutkan keningnya bingung dengan reaksi yang diperlihatkan keempat orang tersebut, menurutnya pertanyaannya tidak aneh tapi kenapa reakasinya sangat berlebihan? Itulah yang sedang dipikirkan oleh Uri Wonwoo tersayang.
"Kenapa Wonie tiba – tiba menanyakan itu?" tanya Donghae setelah berhasil meredakan batuknya
"Hanya penasaran saja sih, eomma. Karena berkali – kali Jun bilang kalau aku belum tau rasanya jatuh cinta maka aku tidak akan bisa membaca novel – novel romance"
Ketiga pasang mata langsung menatap Jun tajam. Jun yang terkejut mendengar perkataan Wonwoo hanya membelalakkan matanya.
"Hya, Wonu. Kapan aku mengatakan itu?" protes Jun tidak terima, seingatnya dia tidak pernah mengatakan hal – hal seperti itu.
"Tadi! Waktu kita ingin keperpustakaan ingin meminjam buku. Kau bertanya kenapa aku tidak tarik dengan novel romance. Dan kau juga mengatakan aku belum tertarik karena aku belum merasakan yang namanya jatuh cinta." Penjelasan Wonwoo membuat Jun menelan ludahnya secara paksa ketika melihat sepasang mata masih menatapnya tajam. Tatapan mengintimidasi. Yups... tatapan mematikan seorang Jeon Soonyoung.
"Jadi bagaimana rasanya jatuh cinta? Kapan jatuh cinta bisa dirasakan?" Wonwoo mengulangi pertanyaannya pada Donghae. Donghae yang mendapati pertanyaan tersebut bingung harus menjawab bagaimana, dia sendiri juga bingung. "Ah... aku ganti saja pertanyaanya, bagaimana eomma bisa jatuh cinta pada Appa? Awalnya bagaimana? Rasanya bagaimana?"
"Rasanya sangat menyenangkan"
Itu bukan suara Donghae, tapi suara seseorang yang dari tadi berdiri dibelakang Wonwoo dan Donghae
"Appa"
Kibum tersenyum
"Rasanya sangat menyenangkan. Ketika kau ada didekatnya kau akan sangat senang dan jantungmu akan berdetak dengan cepat saking senangnya."
"Benarkah?" mata Wonwoo berbinar mendengar penjelasan Kibum, Kibum mengangguk
"Jatuh cinta itu datangnya tiba – tiba tidak tau kapan akan datang. Ketika kau sedang jatuh cinta pada seseorang, maka hanya dia yang akan kau perhatikan. Duniamu seakan berhenti ketika melihat dia. Bagimu hanya dia yang ada dihadapanmu. Ketika melihat dia, maka jantungmu akan berdetak dengan cepat seakan ingin melompat dari tempatnya. Disetiap detik, disetiap menit hanya dia yang kau pikirkan." ujar Kibum sambil mengusap lembut rambut hitam legam milik Wonwoo. "Jatuh cinta itu rasanya menakjubkan dan ketika jatuh cinta kau tidak akan bisa memilih dengan siapa kau akan jatuh cinta, tidak akan pernah memandang bagaimana orang itu. Karena cinta itu unik. Ada yang jatuh cinta saat pandangan pertama. Ada yang jatuh cinta karena terbiasa. Ada juga jatuh cinta setelah membencinya."
"Maksudnya dengan jatuh cinta setelah membenci?" Wonwoo kembali penasaran dengan penjelasan Appanya. Sedangkan Kibum tersenyum menanggapi pertanyaan Wonwoo, anaknya yang satu ini keingintahuannya sangat tinggi.
"Artinya Benci menjadi Cinta. Benci dan Cinta itu beda tipis. Kau paham uri Wonie?"
"Apa itu yang Appa rasakan pada Eomma?" Wonwoo kembali penasaran, Kibum kembali tersenyum menanggapi pertanyaan Wonwoo. Kau sudah dewasa ternyata, Batin Kibum.
"Lebih dari itu. Tapi bedanya Appa dulu tidak pernah membenci Eomma. Appa sangat mencintai Eomma. Appa akan melakukan apapun demi kebahagiaan eomma" Kibum mencium puncak kepala Wonwoo "dan demi kebahagiaan kalian berdua". Kemudian beralih pada puncak kepala Soonyoung.
**Soonwoon Twins***
Soonyoung dan Wonwoo berbaring saling berhadapan diatas tempat tidur mereka, saling berpegangan tangan. Inilah salah satu kebiasaan mereka berdua yang tidak pernah hilang. Mereka tidak akan bisa tidur jika tidak saling berpegangan tangan.
"Wonwoo" panggil Soonyoung sambil menatap Wonwoo yang sekarang sudah memejamkan matanya.
"Hmm"
"Kenapa kau tiba – tiba bertanya seperti itu pada Eomma?" Soonyoung mengingatkan pembicaraan yang terjadi diruang makan saat makan malam. Wonwoo membuka matanya dan menatap Soonyoung
"Entahlah. Aku juga tidak tahu, tiba – tiba penasaran saja."
"Kau sedang jatuh cinta? Atau kau sedang tertarik pada seseorang?" pertanyaan Soonyoung sontak membuat Wonwoo termenung, entah kenapa wajah pemuda tampan berkulit tan yang terlintas dipikirannya ketika mendengar pertanyaan Soonyoung.
"Entahlah, Soonyoung-ah. Aku juga tidak tahu. Ketika aku belum bisa jauh darimu, bisakah aku dekat dengan yang lain melebihi mu? Menyayangi dan mencintainya melebihi dirimu?" Wonwoo mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Soonyoung, seolah – olah takut Soonyoung akan pergi meninggalkannya "Bisakah?"
Soonyoung menggerakkan tangannya yang lain untuk membalai rambut dan wajah Wonwoo dengan lembut, Soonyoung memasang senyuman manisnya pada Wonwoo
"Cepat atau lambat kau pasti akan mengalaminya, Wonie. Pasti! Aku yakin itu, kau akan menemukan dan mencintainya melebihi aku. Dia akan menjadi orang yang sangat penting bagi hidupmu, dia kan melengkapi hidupmu. Dan aku akan menjadi orang yang paling bahagia melihat saudaranya menemukan belahan jiwanya."
Wonwoo tersenyum menanggapi "Kalau kau bagaimana? Apa kau sudah mengalaminya?" Soonyoung membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Wonwoo. Ya... Soonyoung mengalaminya. Jantungnya berdebar – debar ketika mengingat hoobae kurang ajar yang dengan seenaknya mencium pipinya dilapangan basket.
"Kenapa hari ini kau cerewet sekali? Sekarang sudah malam. Ayo tidur!" Soonyoung mengalihkan pembicaraan, tidak ingin berlama – lama berbicara dengan Wonwoo. Wonwoo tipe orang yang rasa ingintahunya sangat tinggi, dia tidak akan berhenti jika keingintahuannya itu tidak terjawab.
"Tapi..." Wonwoo menyangga
"Tidur, Wonie! Aku lelah!"
Soonyoung mematikan lampu tidurnya dan mulai memasuki alam mimpi. Sedangkan Wonwoo hanya diam memandang sendu Soonyoung yang tertidur.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau sudah mengalaminya?" batin Wonwoo sedih.
Bagaimana jika Soonyoung sudah mulai jatuh cinta? Apa aku siap menerimanya? Ya...Wonwoo hanya takut menerima kenyataan jika Soonyoung jatuh cinta. Soonyoung akan memiliki kekasih. Soonyoung akan sering bersama kekasihnya daripada dirinya. Soonyoung akan lebih memerhatikan kekasihnya daripada dirinya. Ketika Soonyoung memiliki kekasih, Wonwoo akan perlahan – lahan kehilangan Soonyoung. Dan Wonwoo tidak siap untuk kehilangan Soonyoung.
**Soonwoon Twins***
SKIP TIME**
Sejak kejadian dua hari yang lalu dilapangan basket Soonyoung merasa dia diikuti oleh seseorang. Entah itu dihalaman parkir, loker, kantin, toilet, ruang dance, ataupun saat dihalaman sekolah. Tapi karena Soonyoung tidak merasa dia dalam bahaya, Soonyoung diam saja. Soonyoung tetap waspada apalagi kalau setiap waktu Wonwoo selalu bersamanya kecuali jika dikelas, karena kelas mereka berbeda maka Jun lah yang harus mengawasi Wonwoo.
"Dasar Penguntit!" guman seorang pemuda tampan berkulit tan yang menemani temannya sedang asyik mengintip salah satu sunbae mereka.
"Diam kau Kim Mingyu!" umpat Seokmin yang sedang memperhatikan Soonyoung sedang berada diruang olahraga karena kelas perform dance sedang pelajaran olahraga.
"Kau tidak bosan menguntit hamster sunbae itu? Kalau kau jatuh cinta padanya bilang saja kalau kau suka, jangan bertingkah seperti ini." Terlihat Mingyu sangat kesal dengan sahabatnya satu ini. Bagaimana tidak sudah dua hari ini dia mengikuti apapun kegiatan yang dilakukan oleh Soonyoung disekolah, parahnya lagi Seokmin meminta Mingyu untuk menemaninya menguntit kemanapun Soonyoung pergi.
"Diam kau! Kau tidak lihat 2 hari yang lalu dia mengamuk karena aku mencium pipinya? Kalau aku muncul dihadapannya sekarang dipastikan aku akan digantung dipohon belakang sekolah"
"Siapa suruh kau main cium saja, kalian baru bertemu belum tahu nama masing – masing. Tapi kau seenaknya menciumnya"
"Mau bagaimana lagi, aku sudah tidak tahan untuk menahannya lagi. Dia manis sekali, pipinya chabby nya membuatku ingin menggigitnya saja, matanya juga tajam. Pokoknya waktu itu aku gemas sekali."
"Kau ini mesum."
"Kau lebih mesum Kim Mingyu" Seokmin mencibir ucapan Mingyu yang mengatakan kalau dirinya mesum, padahal sahabatnya itu jauh lebih mesum daripada dia.
"Tapi demi Tuhan Lee Seokmin, ini jam pelajaran. Aku tidak mau ketinggalan pelajaran untuk kelas ku. Dan aku membolos hanya mengikutimu untuk menguntit hamster sunbae itu"
"Itu yang dinamakan sahabat" Mingyu memutar matanya bosan.
"Aku akan kembali kekelasku." Seokmin menahan tangan Mingyu untuk tidak pergi meninggalkannya.
"Mingyu, tolong temani aku. Kalau aku ketahuan aku pasti akan dihajar olehnya" Seokmin memohon dengan wajah memelas.
"Itu penderitaanmu, bukan penderitaanku" jawab Mingyu ketus, dia sudah sangat kesal dengan Seokmin. Kenapa sahabatnya ini tidak mengerti, kelas mereka berbeda. Kelas Mingyu kelas Akting sedangkan Seokmin kelas Musikal, perbedaan minat dan kelas membuat mereka terpisah dan materi dalam pembelajaranpun juga pastinya berbeda. Mingyu sudah kehilangan waktunya 2 jam pelajaran untuk belajar akting dikelas, tapi sahabat setianya ini mengirimkan pesan singkat yang menyuruhnya untuk menemuinya ditoilet dan sekarang berakhir ditempat tersembunyi digedung olahraga – melihat Soonyoung sedang pelajaran olahraga-. Mingyu mengentakkan tangannya yang dipegang Seokmin.
"Aku. Mau. Kembali. Kekelas." Mingyu menekan setiap katanya dengan nada jengkel. Seokmin hanya memandang kepergian Mingyu dengan wajah memelas.
"Lama Sekali Kim Mingyu kau izin ditoilet? Apa yang kau lakukan ditoilet?" tegur guru Mingyu yang sedang ada dikelas. Mingyu yang mendapat teguran seperti itu hanya menundukkan kepalanya.
"Maaf ssaem."
"Keluar dari kelas saya. Jangan mengkuti pelajaran saya hari ini."
"Ta...tapi,ssaem..."
"KELUAR KIM MINGYU" teriak gurunya, dan Mingyu langsung keluar dari kelasnya detik itu juga.
"Lee Seokmin, ini gara – gara kau!" umpat Mingyu dalam hati
Taman belakang sekolah Pledis Art High terdapat pepohonan yang rindang dan kolam air mancur yang bersih, namun ditaman tersebut tidak banyak siswa – siswi yang berminat untuk sekedar duduk menikmati indahnya taman sekolah mereka. Tapi ada seorang siswa yang selalu meluangkan waktunya untuk duduk disalah satu bangku taman dibawah pohon yang rindang sambil membaca buku atau sekedar menggoreskan pensilnya untuk melukis sesuatu dikertas putihnya. Siswa perkulit pucat dengan wajah emo nan manis lah yang selalu ketaman belakang sekolah, Yap siapa lagi kalau bukan Jeon Wonwoo. Sekarang Wonwoo ada ditaman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk membaca buku atau melukis, hari ini klub seni akan mengadakan pemeran lukisan siswa Pledis. Wonwoo yang memang sudah izin untuk mengurus kegiatan tersebut sekarang memanfaatkan waktunya sesaat untuk mengunjungi tempat favoritnya.
MEOW
Wonwoo yang asyik membaca buku, tiba – tiba mendengar suara yang menyapa pendengarannya
MEOW
Wonwoo berusaha untuk memastikan pendengarannya, kalau dia mendengar suara seekor kucing
MEOW
Lagi, Wonwoo meletakkan buku yang tengah dibacanya.
MEOW
Wonwoo mencari sumber suara tersebut, menelusuri setiap sudut taman yang terlihat dipenglihatannya
MEOW
"Hei, kucing manis. Kau dimana?"
MEOW
Wonwoo berusaha untuk dimana sumber suara tersebut
MEOW
Dan Gotcha! Wonwoo menemukannya! Sesekor anak kucing yang masing kecil sedang ada diatas pohon. Wonwoo melihat anak kucing itu sedang ketakuatan saat melihat kebawah.
"Hei, jangan kemana – mana! Aku akan menolongmu"
Wonwoo perlahan – lahan memanjat pohon "Tenang saja, aku akan menolongmu"
Setalah sampai diatas pohon, Wonwoo memeluk kucing kecil tersebut, ketika ia berniat turun...
"Gawaat...bagaimana cara turunnya? Aku tidak bisa turun" Wonwoo panik ketika akan turun dari pohon, dia bisa memanjat tapi tidak bisa turun. Wonwoo melupakan fakta itu. Ada satu kejadian yang tidak bisa dilupakan oleh Wonwoo saat masih disekolah dasar, ketika bermain petak umpet, Wonwoo iseng bersembunyi diatas pohon. Dan hasilnya tidak ada seorang pun yang bisa menemukan makhluk manis berkulit putih tersebut. Awalnya Wonwoo tertawa karena Jun –yang menjadi pencarinya saat itu- kebingungan mencarinya hanya dirinya yang belum ditemukan. Tapi ketika semua orang pergi karena tidak menemukan tempat persembunyian Wonwoo, Wonwoo berteriak minta tolong karena tidak bisa turun dan berakhir dengan kaki Soonyoung yang terkilir karena menahan Wonwoo yang melompat dari atas pohon. Sejak kejadian itu Wonwoo tidak mau memanjat pohon lagi jika berakhir Soonyounglah yang akan terluka karena ulahnya.
"Bagaimana ini? Ah, aku akan minta tolong Soonyoung" Wonwoo meraba – raba saku seragamnya untuk mencari – cari sebuah benda yang sangat berguna, tapi gerakannya terhenti "Tidak! Aku tidak akan membuat Soonyoung terluka lagi. Wonwoo kau sudah janji tidak akan melakukan ini, tapi sekarang kau mengulangi kesalahan yang sama" Wonwoo bermonolog pada dirinya sendiri.
"Lagi pula sepertinya Handphone ku tertinggal dikelas! Kalau begini bagaimana aku menghubungi Jun atau Woozi!" rengek Wonwoo
MEOW.
"Tenang! Kita pasti akan turun" Wonwoo mencoba menenangkan dirinya sendiri dan kucing kecil yang ada didekapannya. Niat hati untuk menolong seekor kucing kecil sekarang dirinya dan kucing kecilnya mendapat masalah, terjebak diatas pohon dan entah kapan bisa turun.
"Kenapa tidak ada satu orang pun yang ketaman belakang? Kalau tidak ada orang bagaimana nanti aku bisa turun. Setidaknya kalau ada orang, aku bisa minta tolong pada mereka untuk mengambilkan tangga agar aku bisa turun" Batin Wonwoo
"DASAR LEE SEOKMIN SIALAN! GARA – GARA DIA. AKU JADI DIKELUARKAN DARI KELAS!" Wonwoo mendengar seseorang mengumpat dari bawah.
"Syukurlah ada orang!" batin Wonwoo senang
"Chogiyo" teriak Wonwoo dari atas pohon. Mingyu yang merasa mendengar suara mencoba untuk menajamkan kembali pendengarannya.
"Chogiyo!" teriak Wonwoo kembali, dilihatnya Mingyu masih celingukan mencari sumber suara "Diatas sini!" Mingyu mendongakkan kepalanya dan dia terkejut, karena ada makhluk berkulit putih sedang melambaikan tangannya dari atas pohon. Mingyu ketakutan. Dia berfikir bahwa yang sedang memanggilnya adalah sosok hantu yang menunggu pohon. Mingyu yang takut pada hal – hal yang berbau horor, berfikir yang macam – macam dengan sosok manis yang sedang melambaikan tangannya.
"Han...Han...Hantu" Mingyu yang bersiap untuk lari,
"Hei, Tunggu dulu! Aku bukan hantu" teriakan Wonwoo
"Kau pasti hantu disiang hari" ucap Mingyu setengah ketakutan, Wonwoo mengelai nafasnya frustasi.
"Aku bukan hantu!" Wonwoo benar – benar frustasi, dia sudah senang ada orang yang mengunjungi taman belakang ia berfikir orang tersebut bisa membantunya untuk keluar dari masalah ini. Tapi pemikirannya sedikit meleset karena orang tersebut ketakutan ketika melihatnya dan menganggap dirinya hantu.
"Kalau kau bukan hantu, kenapa kau ada diatas pohon?"
"Aku punya sedikit masalah, bisakah kau membantuku?"
"Asalkan kau tidak menyuruhku untuk menjadi hantu sepertimu?"
Jawaban Mingyu membuat Wonwoo menatap sebal "Sudah ku bilang, aku bukan hantu!"
"Bagaimana aku bisa percaya kau bukan hantu? Untuk apa kau diatas pohon? Sendirian? Siang hari? "
Wonwoo memutar bola matanya malas "Aku bukan hantu! Dan buktinya aku masih punya kaki" Wonwoo memainkan kedua kakinya dari atas pohon "Aku diatas pohon karena ingin menolong kucing kecil ini yang terjebak disini" Mingyu mengerutkan dahinya mendengar kata "Kucing kecil". Melihat itu Wonwoo menunjukkan kucing kecil yang ada didekapannya.
"Bisa kau tolong aku turun dari sini?" Wonwoo berbicara dengan nada memohon, berharap namja yang ada dibawahnya ini bisa membantunya untuk turun "Aku bisa naik keatas pohon, tapi aku tidak bisa turun" mendengar ucapan Wonwoo, Mingyu tertawa terbahak – bahak.
"Hya! Jangan menertawanku. Aku sedang kesulitan. Setidaknya tolonglah aku!" Wonwoo merengut
Mingyu menghentikan tawanya "Baiklah, aku akan membantumu. Bagaimana aku bisa membantumu?"
"Tolong kucing ini dulu!" Wonwoo berusaha untuk menyerahkan kucing kecil itu pada Mingyu, sebelah tanganya ia gunakan untuk berpegangan kuat pada salah satu dahan agar dia tidak jatuh. Mingyu menerima kucingnya dengan selamat dari tangan Wonwoo lalu meletakkannya disampingnya.
"Bisakah kau mengambilkan tangga digudang belakang? Gudangnya ada disebelah pintu menuju taman belakang ini. Jika kau mengambilkan tangganya aku bisa turun dari sini"
"Tidak mau! Itu terlalu jauh, aku malas bolak - balik" jawab Mingyu ketus
"Aku yang akan mengembalikan tangganya nanti. Kalau kau tidak mengambilkan tangganya bagaimana caraku turun dari pohon?" ucap Wonwoo kesal
"Aku akan menangkapmu." Jawab Mingyu membuat Wonwoo membelalakkan matanya
"Andwe!" tolak Wonwoo keras "Aku tidak mau, kau bisa terluka kalau menangkapku. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi."
"Aku tidak akan terluka. Ayo cepat melompat!" perintah Mingyu
"Andwe!" Wonwoo menggelengkan kepalanya keras
"Percayalah aku tidak akan terluka!" Mingyu berusaha untuk menyakinkan Wonwoo.
"Ta...Tapi..." Wonwoo ragu "Aku tidak ingin kejadian Soonyoung terulang kembali" batin Wonwoo
"Cepat melompat!" potong Mingyu "Kalau kau takut, tutup matamu lalu melompatlah. Aku akan menangkapmu. Apa kau mau seharian diatas pohon?"
"Baiklah. Aku akan melompat! Tapi jika kau terluka, kau tidak akan menuntutku kan?" kata Wonwoo dengan nada ketakutan. Mendengar ucapan Wonwoo, Mingyu hanya tersenyum "Kau lucu sekali" batin Mingyu.
"Tidak akan! Aku tidak akan menuntutmu." Mingyu menyakinkan Wonwoo, Wonwoo memejamkan kedua matanya dan...
HUUUUPP
Wonwoo jatuh tepat pada gendongan –Bridal style- Mingyu. Mingyu sedikit terhuyung kebelakang karena beban yang tiba – tiba ada didepannya namun tetap seimbang sehingga ia masih berdiri kuat menggendong Wonwoo. Wonwoo masih memejamkan matanya sambil menggerakkan bibirnya –sepertinya mengucapkan doa- Mingyu tersenyum melihat makhluk indah yang ada didepannya lebih tepatnya terpesona.
Bagaimana tidak? Makhluk dihadapannya sangatlah indah. Kulit putih, wajah cantik dan manis. Bibir merahnya yang sedang mengucapkan sesuatu - tanpa suara- terlihat menggoda. (Dasar Kim Mingyu mesum!-_-). Tubuhnya yang ramping sangat pas ada digendongan Mingyu. Dan harum tubuhnya membuat Mingyu gila. Kesadaran Mingyu kembali ketika tangan Wonwoo yang mengalung dilehernya mengerat.
"Kau sudah selamat" bisikan Mingyu, membuat Wonwoo membuka kedua matanya secara perlahan. Dan Mingyu berani bersumpah makhluk yang ada dihadapnnya adalah makhluk terindah yang pernah ia temui. Matanya ketika menatap Mingyu membuat Mingyu gila, mata itu sangat indah. Sedangkan Wonwoo membelalakkan matanya terkejut, mengetahui siapa yang baru saja menolongnya.
"Dia..." batin Wonwoo terkejut, membuat wajahnya bersemu merah.
Mingyu yang memperhatikan ekspresi Wonwoo, tersenyum manis memperlihatkan gigi tarinya yang mempesona. Wonwoo sangatlah menggemaskan saat ini, matanya yang sedang membelalakkan matanya terkejut membuat Mingyu gemas ingin sekali mencium Wonwoo saat ini juga jangan lupakan pipinya yang sedang memerah saat ini, tapi dia masih bisa menahannya
"Kau sangat cantik" puji Mingyu dalam hati.
"Dia... Dia...Dia yang ada dilapangan basket waktu itu. Dia Hoobae yang waktu itu" batin Wonwoo terkejut dengan wajah yang memerah sampai terlinga.
Disaat seperti ini pikiran Wonwoo melayang pada ucapan yang Appa saat makan malam kemarin.
TBC
Hehehehehe, ini Mingyu dan Wonwoo dah ketemu nih. Bagaimana?
Bagaimana chapter 2? Bagus kah?
Untuk para reader yang sudah review chapter 1, makasih banget yaaaaa...responnya, masukannya yang membangun. Di chapter 2 ini aku berusaha untuk memperbaikinya. Kalau masih ada Typo/GJ tolong dimaklumi karena author hanya manusia biasa. hehehehehe
Dan mohon para pembaca tercinta tolong tinggalkan review nya ya untuk chapter 2 ini, untuk perbaikan di next chapter.
Dan terimakasih untuk reader dongsaengku tersayang, yang sudah mau memberikan masukkanya diawal sebelum chapter 1 dipublikasikan. Makasih ya #peluk yang erat#
Terimakasih yang sudah baca cerita saya dan meluangkan waktunya untuk membaca! #Tebar kiss bye#
