Dear, Author!

.

KaiSoo (Kai x D.O)

.

.

Author's note:

Unlimited thanks to readers (including silent readers kalo ada LOL) for reading my very abstract(?) fanfiction. Saya nulis ff ini sambil ngarep dot com pemirsah hahaha semoga aja nasib author kayak Dio beneran ya(?) Hmmmm thanks juga buat yang uda RnR /tebar wink kai/ and nyempetin buat baca ini FF ^^; capcusss~

.

DFTRNR

.

©kimjongwinn


Chapter 2

.

Kyungsoo terbangun dengan posisi duduk di tempat yang sama di sofa. Ia ingat persis bagaimana kejadian aneh yang menimpanya kemarin. Jelas-jelas itu tidak mungkin bukan? Tapi kenyataannya hidung Kyungsoo menangkap bau asap yang datang dari dapur yang tepat berada di belakangnya.

Bau apa ini? Jangan-jangan kebakaran!

Ia reflek bangun dan berlari menuju dapurnya dan menemukan seonggok nasi goreng gosong di atas kompor kesayangannya. Dengan sigap Kyungsoo mematikan kompornya, "Hahhh.. Hampir saja.." Kyungsoo menghela napasnya. Tapi tunggu, nasi goreng? Siapa pula yang memasak selain dirinya di apartemennya? Apa orangtua nya? Itu lebih tidak mungkin. Kyungsoo pun bingung.

Bukan hanya tragedi dapur gosong, tetapi ditambah juga dengan shower air yang menyala tanpa ada yang memakai dan stok snack di kulkas Kyungsoo habis. Kyungsoo berpikir kalau ini adalah ulah Chen, walaupun ia memang adalah penghabis snack, tapi ia bisa memasak dan mematikan shower seusai mandi. Awal yang cukup buruk untuk memulai hari Kyungsoo.

Kyungsoo memutuskan untuk pergi ke supermarket yang terletak di beberapa blok dari apartemennya untuk membeli suplai makanan untuk seminggu terakhir ini. Di perjalanannya ia merasa ada seseorang yang tengah mengikutinya entah siapa itu dan ketika Kyungsoo membalikkan badannya, tak ada siapapun. Mungkin agak horror, tapi Kyungsoo berpikir mungkin itu hanya perasaannya saja.

.

.

.

Kyungsoo mengakhiri hari Minggu nya untuk sekedar melanjutkan cerita fiksinya. Mungkin bawaan suasana hatinya yang kurang baik karena kejadian-kejadian tadi pagi makanya inspirasi Kyungsoo buyar seketika.

Tiba-tiba perasaan itu datang lagi, perasaan yang sama ketika Kai tiba-tiba muncul.

Perasaan ini muncul lagi...

Kyungsoo mengklik tombol save dan membiarkan laptopnya menyala.

"Mau sampai kapan kau duduk disana? Kau tidak bosan?" Suara itu. Suara yang membuat Kyungsoo bertanya-tanya. Kyungsoo pun menoleh ke sumber suara.

"S..sedang apa kau di kasurku?" Kai hanya menatap Kyungsoo dalam diam, sedangkan Kyungsoo sudah bertingkah seakan dirinya mau diperkosa.

"Menurutmu? Aku sedang tiduran," Kai membenarkan posisinya menjadi duduk.

"K..kau sebenarnya siapa sih? Lalu kau ini makhluk apa? Apa aku bisa melihat arwah gentayangan? Katakan apa maumuuu," Kyungsoo menatap Kai horror.

"Aku Kai, aku tokoh fiksi buatanmu, kau tidak sedang melihat arwah gentayangan, dan aku tidak mau apa-apa darimu. Jelas?" Kyungsoo hanya menatap Kai tak percaya.

Untuk mengetes apakah Kai bukan arwah, Kyungsoo melempar sebuah bantal kecil di dekatnya ke arah Kai.

"Hey!" Kai menangkap bantal kecil itu. "Kau kenapa sih? Aku tidak salah apa-apa kok malah dihajar,"

"... Apakah kau seorang manusia?"

"Aku sudah bilang kan kalau aku adalah tokoh fiksi," Kai berdiri lalu menghampiri Kyungsoo.

"Lalu apa itu kau yang membuat dapurku gosong dan membuang air dengan sia-sia. Oh dan juga snackku. Apa itu semua ulahmu?" Kai mengangguk dengan tampang innocent. Kyungsoo tak habis pikir. Bagaimana bisa seseorang yang hanya fiktif belaka hidup di dalam dunia nyata dan mengganggu hidupnya. Kenapa harus aku, pikir Kyungsoo.

"Oh iya. Siapa namamu?" tanya Kai.

"K..kyungsoo. Do Kyungsoo," Kyungsoo sejujurnya masih agak takut dengan Kai. Ya siapa tahu Kai hanyalah orang gila atau bahkan psycho yang mengincar dirinya dengan berpura-pura menjadi 'tokoh fiksi buatannya'.

Kai tiba-tiba menggenggam tangan Kyungsoo.

"Buatkan aku makanan~" pinta Kai dengan suara manja. Kyungsoo pun mau tak mau menurutinya.

.

.

.

Selesai makan, Kyungsoo pun berbincang dengan Kai. Bertanya dari A sampai Z tentangnya dan kenapa ia bisa disini, di dunia nyata.

"Jadi kesimpulannya... apa?" Otak Kyungsoo terlalu lemot untuk mencerna kata-kata Kai. Kyungsoo adalah pendengar yang baik tapi ia tetap tidak mengerti apa yang Kai katakan. Entah itu karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri, atau malah terjebak dalam pesona seorang Kai.

Kai mendengus pelan. Setelah panjang lebar ia menjelaskannya kepada Kyungsoo, ternyata tidak membuahkan apa-apa.

"Intinya, aku hanya akan muncul kalau kau menulis ceritamu. Lalu aku akan hilang saat kau bangun tidur," Kyungsoo ber-oh-ria. Setidaknya ia 'sedikit' mengerti sekarang.

CKLEK!

Tiba-tiba pintu apartemen Kyungsoo terbuka, menampakkan seseorang berjaket merah dengan sedikit bercak air hujan bagian punggung dan pundaknya.

"Chen?" Chen pun masuk ke dalam sambil melepas jaketnya.

"Hujannya benar-benar tak bisa diajak kompromi! Lihat nih aku sampai basah kuyup begini," gerutu Chen.

Kyungsoo melihat Chen berjalan melewati Kai, seperti Kai hanyalah angin lewat.

Apa itu artinya Kai hanya bisa dilihat oleh aku saja?

"Jongdae-ah, apa kau tak melihatnya?"

"Nya? Siapa? Kau berhalusinasi?" Berarti dugaan Kyungsoo benar.

"T..tidak. Lupakan saja," Kyungsoo tertawa renyah sambil tersenyum padahal tak ada yang lucu.

Kai hanya mengikuti Kyungsoo kemanapun ia pergi. Kai tahu kalau hanya Kyungsoo yang bisa melihatnya. Jadi ia tak perlu ambil pusing dengan sahabat 'pembuat'nya ini.

Kyungsoo merasa agak risih, takutnya Chen mengira kalau dia gila karena sejak tadi men-clingak-clinguk-an kepalanya padahal tak ada siapapun menurut Chen selain Kyungsoo.

"Kau kenapa? Sedang sakit?" Kyungsoo menggeleng cepat.

Chen tidak ambil pusing. Ia mengeluarkan beberapa buku tebal dari dalam tasnya.

"Kau membeli itu semua?" Kyungsoo membelalakkan matanya yang bulat itu, tak percaya kalau di hadapannya tersaji beberapa buku novel incarannya yang diyakini amat sangat langka untuk dijual di toko buku.

Chen mengangguk. "Kenapa? Lagipula aku tidak membelinya, Kyungsoo-ya. Pamanku kan pengoleksi buku, dia memberiku ini. Maaf-maaf saja ya aku tidak suka membaca apalagi novel-novel seperti itu. Daripada buku itu kutelantarkan, lebih baik kuberikan saja padamu,"

"Kau memberi ini semua padaku? Astaga terima kasih banyak Jongdae-ya!" Kyungsoo tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Hanya bukulah yang paling ia sayangi. Dan juga Chen. Dan mungkin nanti bisa juga Kai.

.

.

.

Sudah jam 1 subuh tetapi Kyungsoo masih belum tidur. Ia sibuk dengan bacaan baru hadiah dari sahabatnya itu. Kyungsoo belum merasa mengantuk. Ia merasa ada beban yang semakin memberat di badannya, Kai tertidur di pundaknya. Tadi setelah Chen pulang, Kyungsoo langsung menyibukkan dirinya sambil bersantai duduk bersandar di atas kasur membaca buku barunya. Kai yang bosan pun mau tidak mau ikutan membaca di sebelah Kyungsoo.

Kyungsoo menutup bacaan keempatnya malam ini. Matanya sudah tak bisa menahan kantuknya lagi, ia memutuskan untuk tidur. Lagipula sudah terlalu larut untuk seorang pelajar yang keesokan harinya akan bersekolah.

Lelaki berkaos putih kebesaran itu membenarkan posisi tidur Kai di sebelahnya dan menidurkan kepalanya diatas bantal. Mau tak mau Kyungsoo tidur di sebelah Kai dengan posisi agak mendempet karena kasurnya yang sebenarnya single bed tapi malah dipakai untuk dua orang. Tapi Kyungsoo tak keberatan, toh nanti Kai juga menghilang saat ia bangun.

"Selamat malam," Kyungsoo mematikan lampu kamarnya, membiarkan sinar remang rembulan menerangi ruangan itu.

Esoknya Kyungsoo tidak menemukan sosok Kai ketika ia membuka matanya. Ketika Kyungsoo melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 07:45AM sedangkan gerbang sekolah akan ditutup pada pukul 08:00AM.

.

.

.

"Hoshh.. Hoshh.." Kyungsoo menyeka keringat di dahinya karna ia sedang menjalani hukuman keliling lapangan sekolahnya yang luas selama 20 kali karena terlambat. Ia baru saja menyelesaikan 9 kali putaran. Jujur saja Kyungsoo mengakui bahwa lebih baik mengerjakan 500 soal fisika daripada hukuman fisik seperti ini. Dan sialnya, hanya Kyungsoo seorang yang terlambat pagi itu.

Kyungsoo berlari untuk putaran ke sepuluhnya, tiba-tiba ia merasa pusing, badannya melemas, dan ia jatuh pingsan.

.

.

.

Dengan sedikit pening di kepalanya, Kyungsoo membuka matanya. Ia melihat ke sekeliling, ia berada di UKS. Kyungsoo menolehkan kepalanya ke samping. Seseorang sedang membaca buku sambil menunggunya siuman. Ia tak kenal dengan orang itu, dari wajahnya sih Kyungsoo menebak kalau ia adalah kakak kelasnya. Orang itu melihat ke arah Kyungsoo.

"Oh, D.O-nim. Kau sudah sadarkan diri ternyata,"

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED


.

Review replies:

AnnKyu: iya ini udah update hahaha xD Kai itu tokoh fiksi come true :3

Thousand Spring: iya nih pendek -_,- ini uda lanjut :3

Cassiopeia1215: saya juga berharap demikian -_,-

dinysabrina6: iya juga ya baru kepikiran(?) nyahaha :3

.

Thanks for reviewing:

Nada Lim, AnnKyu, GuardMe, opikyung0113, Thousand Spring, Cassiopeia1215, dinysabrina6, puputkyungsoo