Boboiboy © Animonsta Studio

IMMORTALS by ThunderPearl

Immortals © Fall Out Boy

.

.

Warning!

Typo, New Author, Bahasa Baku non Baku/?, cerita Tijel, AU, No super power, little bit OOC, inspirasi dar lagu, Jika ada Sho-ai mohon maaf.

If you dont like, just dont read it

.

.

.

IMMORTALS

.

.

.

Cause we could be immortals, immortals

Just not for long, for long

.

.

.

Aku ingin menjadi abadi, Aku ingin mimpiku menjadi abadi. Aku berharap mimpiku bisa menjadi abadi walaupun Aku tidak berlama-lama.

.

.

.

Setiba mereka bertiga di Kantin, suasananya yang tadinya riuh berubah menjadi hening. Semua orang terdiam saat mereka melihat Halilintar berada di Kantin. Terkejut? Tentu saja, tidak biasanya Halilintar ke Kantin. Melihat suasana yang canggung, Taufan berusaha mencairkan suasana dengan berteriak.

"AHAHAHA, KOK HENING SIH KANTIN?" teriak Taufan cukup keras.

Yah, teriakkan Taufan tidak di gubris oleh semua orang, mereka masih terdiam dan melihat ke arah Halilintar. Merasa risih, Halilintar berkata sinis.

"Apa?!" ucapnya sinis.

Mendengar perkataan sinis Halilintar, semua orang kembali ke aktifitas mereka masing-masing. Mereka berusaha untuk tidak memperhatikan Halilintar, Halilintar hanya bisa mendengus. Ia berjalan menuju meja yang kosong dan menempatinya, di susul oleh Fang yang langsung duduk di hadapan Halilintar.

"Sumpah Hal! Sinis banget sih Lo ke orang-orang! Kenapa sih Lo?" tanya Fang.

"Berisik." Jawab Halilintar singkat.

"Lo merasa risih ya?" ucap Fang yang terlihat menyelidik.

"Ti-tidak, Gue gak merasa risih" balas Halilintar dengan terbata.

"Tch, gak perlu bohong! Gue tahu Lo itu risih kalau di perhatikan orang!" sembur Fang

Halilintar hanya bisa diam. Fang menghela napas, dia tahu kalau Halilintar memang tidak suka menjadi pusat perhatian. Maka dari itu Halilintar berkata sinis kepada orang-orang.

"Hei, Lo bisa kan gak sinis ke orang-orang?"

"Penting memangnya?" tanya Halilintar sinis.

"HEI! DIBILANG—"ucapan Fang terputus.

"WOI KALIAN, GUE BAWA DONAT NIH!" potong Taufan dengan semangat.

Fang mendengar suara teriakan Taufan yang memotong perkataannya tadi. Kesal perkataanya dipotong oleh Taufan, ia merebut donat yang di bawa oleh Taufan dan langsung melahapya.

"HEI! DONATNYA JANGAN YANG ITU!" teriak Taufan dengan histeris.

Teriakan Taufan tidak di gubris oleh Fang. Kesal karena tidak di pedulikan, akhirnya Taufan duduk di samping Halilintar sambil bergumam sumpah serapah. Kemudian, ia mengambil donat lain yang tadi ia bawa.

Halilintar hanya memperhatikan tingkah laku mereka dengan wajah datar. Baginya, ia sudah lama tidak berkumpul dengan mereka berdua. Jujur saja, ia merindukan masa-masa berkumpul dengan Fang dan Taufan. Memang sih setiap minggu, ia bisa bertemu dengan Taufan, karena Taufan merupakan sepupu terdekat dia. Dan Fang merupakan teman mainnya. Jika dipikir-pikir, memang sudah lama dia tidak bersama dengan mereka.

"Hali, Lo gak gambar lagi?"

Saat Halilintar sedang asik berpikir, Taufan bertanya terhadap Halilintar. Yang di tanya masih melamun. Kesal, akhirnya Taufan Menepuk Halilintar cukup keras.

"Eh? A—apa?" Tanya Halilintar gelagapan.

"Makanya perhatiin Gue ngomong dong!"

"Lo tadi bilang apa?"

"Taufan bilang, Lo gak gambar lagi?" Tanya Fang.

"Tidak minat"

"BOHONG! Lo bilang Seni itu jalan hidup Lo! Jangan bohong deh Hali!"

"Berisik Lo! Gue bilang gak minat ya gak minat!" Tandas Halilintar kesal.

"Gue sependapat sama Taufan, Lo lupa ya? Waktu Kelas 5, Lo bilang kalau mimpi Lo jadi seniman kan? Maksud Gue tuh. Ya mimpi abadi Lo itu bisa melihat orang puas dengan karya Lo kan?" Ucap Fang

"Tch, Gue gak inget"

"Ah, daripada Kita ribut, mending Kita makan aja deh, keburu habis waktu istirahatnya!" Larai Taufan.

Halilintar hanya bisa menghela napas. tanpa ia sadari, Fang dan Taufan memperhatikan dia dengan khawatir.

.

.

.

Live with me forever now

Pull the blackout curtains down

Just not for long, for long

.

.

.

Tinggallah bersamaku, bantu Aku tarik tirai gelap ini. Tiarai yang menutup jiwaku. Walaupun tidak untuk waktu yang lama.

.

.

.

Bel pulang sudah berbunyi, semua Murid bersiap-siap untuk pulang. Saat Halilintar sedang merapihkan bukunya, Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Taufan yang menyengir dengan lebar dan Fang yang berada di sampingnya.

"Hal, balik bareng yok! Sekalian jajan! Gue traktir deh!" Tawar Taufan semangat.

"Gak, Gue mau langsung pulang" Tolak Halilintar.

"Ya elah Hal, jarang-jarangkan kita bisa bareng? Mumpung Gue gak ada pelajaran Kimia tambahan hari ini." Ucap Fang

"Iya dong Haliii~ Jarang banget kita bareng nih! Gue lagi beruntung soalnya gak ada pelajaran Sejarah tambahan." Rengek Taufan kepada Halilintar.

"Hah.. Yaudah"

"YEYYY HALI MAU!"

Taufan Berteriak senang dan langsung menarik lengan Halilintar, di susul oleh Fang yang tertawa melihat tingkah kekanakan temannya. Mungkin Kalian berpikir, apa mereka berbeda Kelas? Jawabanya adalah iya. Fang merupakan salah satu Murid Kelas XI IPA 6, dan Taufan Murid Kelas XI IPS 3. Hanya kelas XI IPA 6 yang selorong dengan Kelas IPS. Tapi karena bedanya jadwal kegiatan, mereka jadi jarang bersama.

"Oi Hal, Masih mikirin masa lalu Lo?" Tanya Fang.

"Gak." Ucap Halilintar singkat.

"Ishh, Lo tuh bohong mulu sih Hal! Jujur aja sama Kita! Kita kan Sahabat Lo!"

"Lo juga sepupu Gue, Taufan"

"Eh iya.. hehehe lupa." Ucap Taufan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sejujurya Halilintar masih memikirkan Masa lalunya. Memang sudah 1 tahun yang lalu kejadian terebut terjadi, saat itu Halilintar masih kelas 10 SMA. Ia masih sangat merasakan mimpi buruk 2 tahun lalu.

Flashback

Halilintar baru saja tiba di rumah. Keadaan rumahnya begitu sepi dan gelap, aneh. Biasanya akan ada suara ribut dari adiknya Gempa dan Api yang menyambutnya pulang. Dan di susul ibunya yang menyambut dengan hangat.

"Assalammuallaikum. Ibu? ibu dimana?Aku sudah pulang!" Teriak Halilintar.

Ia mencari ibunya ke dapur. Setibanya di dapur, ia melihat ada sticky note yang tertempel di kulkas. Tulisannya berisi:

'Hali, tolong jemput Gempa dan Api di rumah Bibi Nita. Ibu sedang menjemput Ayah ke bendahara. Jika lapar, Ibu sudah membuat makanan yang ada di atas panci. Nanti kamu hangatkan saja ya, tolong jaga Adik-adikmu dengan benar. -Ibu.'

Sesudah membaca pesan dari ibunya, ia langsung bersiap untuk menjemput kedua adiknya di rumah tetangganya. Namun ia merasa ada yang tidak beres. Ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa.

"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa"Ucapnya khawatir.

Setalah menjemput Gempa dan Api. Halilintar merasakan perasaan takutnya semakin besar. Ia berusaha mengabaikan perasaan takutnya dengan menyiapkan makan siang untuk kedua Adiknya. Sebelum ia mengambil makanan untuk kedua Adiknya, ia endengar suara telepon rumahnya berbunyi. Ia berjalan kearah telepon rumahnya dan mengangkatnya.

"Halo? Maaf ini siapa?"

"..."

"Ma—maaf, bisa ulangi lagi?"

"..."

"B—Baik, A—aku akan segera kesana. Terima kasih Tante."

Saat Halilintar menutup telepon, ia merasa bajunya di tarik seseorang. Ketika ia menengok kebawah, ia mendapati Gempa dan Api memperhatikannya dengan bingung.

"Kak Hali, tadi ciapa yang telpon?" Tanya Gempa

"Gempa! A—ayo kita ke rumah sakit! Api juga ikut ya?"

"Buat apa kak?"

"Kakak gak sempat jelaskan, Kita sekarang kesana!"

Saat mereka sampai di Rumah sakit, Halilintar yang menggendong Api dan Gempa bergegas menuju UGD. Di UGD dia langsung di peluk oleh Ibu Taufan yang sedang terisak-isak, ia melihat kesekelilingnya dan mendapati semua yang berada di sana terlihat sedih. Merasa janggal dengan keadaan yang ia lihat, ia bertanya kepada oarang-orang.

"Tante, sebenarnya ada apa ini?"

"Hali sayang, yang tabah ya nak.. Kamu harus kuat."

"Maksud Tante apa? Taufan! Ada apa sebenarnya!?"

"..."

"HEI JAWAB! ADA APA INI HAH?!" Tanya Halilintar yang mulai kalut

"Tenang Hali, tenang! Akan om beritahu ada apa sebenarnya! Kamu harus tenang dahulu." Ucap Ayah Taufan menenangkan.

"Kau sudah siap?" Tanya Ayah Taufan memastikan dan Halilintar mengangguk.

"Orang tuamu, meninggal akibat kecelakaan saat pulang dari Bandara..."

"Bohong..."

"Hali sayang.."

"BOHONG! KALIAN BOHONG! ORANG TUA KU BELUM MENINGGAL! JANGAN BERCANDA!" Teriak Halilintar.

"Hal! Ini serius, Orang tuamu meninggal! Ayah Gue gak Bohong!"

"GAK! GUE GAK PERCAYA! INI PASTI HANYA AKAL-AKALAN SAJA! OM BENARKAN?"

Ayah Taufan hanya menggeleng, Halilintar tidak percaya. Semuanya benar, ia mulai terduduk lemas. Kedua Adiknya menghampiri Kakaknya yang terlihat begitu lemas.

"Kak Hali... Kakak kenapa? Kakak jangan cedih, nanti Gempa jadi cedih."

"Gempa, Ibu dan Ayah sudah gak ada. mereka sudah pergi.."

"Nanti Ayah pulang lagi gak? Ajak Api gak?"

"Gak Api. Mereka ninggalin kita."

"A—Api mau ikut... Hiks, Api mau ikut Ayahh!"

"Gem—Gempa juga mau ikut ibu kak! Gempa gak mau cendirian, hiks.. Mau ibu.. Hiks"

Melihat kedua Adiknya menangis, Halilintar langsung memeluk kedua Adiknya dan berusaha menenangkan keduanya yang mulai menangis lebih kencang.

"Ssst.. ada Kakak, ada kakak.. Jangan nangis ya, jangan nangiss."

End Flashback

Semenjak hari itu, ia mulai bertingkah dingin dan kasar, ia menutup dirinya dengan yang lain. Hanya kepada kedua Adiknya ia bersikap ramah dan lembut. Ia juga mulai melupakan mimpinya yang dulu-dulu ia sering bilang mimpi abadinya. Ia lebih sering menyendiri dan banyak melamun, nafsu makannya pun berkurang dan ia tidak bersemangat seperti dulu.

Melihat keadaan Halilintar yang memburuk membuat Fang dan Taufan bertekat untuk mengembalikan Halilintar menjadi dirinya yang dulu. Meraka tidak menyerah dan berusaha memberi semangat dan dukungan kepada Halilintar, walaupun lebih sering tidak di tanggapi oleh Halilintar. Mereka juga berjanji akan selalu bersama Halilintar.

Mereka tidak ingin melihat Halilintar terpuruk. Mereka Tahu betapa pentingnya mimpi Halilintar yang dulu ia elu-elu kan, mereka tahu betapa terpukulnya Halilintar mendengar kabar Orang tuanya meninggal, mereka juga tahu betapa sulitnya memegang peranan menjadi sosok Ayah, Ibu, dan Kakak bagi kedua Adiknya. Maka tidak jarang Fang dan Taufan setiap libur sekolah mereka menyempatkan diri ke Rumah Halilintar untuk menemaninya atau bermain dengan kedua Adiknya, dan sering di tolak oleh Halilintar.

"Hal.. ini eskrim Lo, mau Gue beliin juga gak buat Gempa sama Api?" Tawar Taufan sambil menyodorkan eskrim kepada Halilintar.

"Gak perlu, nanti Gue beli sendiri buat Gempa dan Api. Tapi Makasih sebelumnya." Tolak Halilintar

"Oi, Gue tahu beratnya ngurus 2 Adik sekaligus tanpa bantuan Orang tua, Tapi jangan sampai Lo berhenti buat gapai mimpi Lo. Gue gak mau Lo susah dan sedih sendirian, Gue dan Taufan gak suka lihat lu gak semangat terus tiap hari! Judes terus! Tenang aja, Kita berdua gak mau ninggalin Lo! Pegang janji Kita." Ucap Fang panjang lebar sambil membusungkan dadanya dengan bangga akibat ucapannya sendiri.

"Heleh, sok bijak amat Lo Fang!"

"Apasih Lo Fan, bilang aja Lo ngiri sama Gue karena gak bisa ngomong sebijak Gue kan? HAHAHAHAH."

"HAH? IDIH OGAH AMAT GUE NGIRI SAMA ELO! GAK PENTING MIKIRINNYA JUGA!"

"APA? HEH! GINI-GINI GUA BANYAK FANSNYA!"

"FANS? MAKSUD LO ITU IBU-IBU TUKANG GOSIP HAH? HAHAHAHAHA KASIHAN!"

"SINI LO FAN! BERANTEM SAMA GUE!"

"HAH SIAPA TAKUT!"

Halilintar hanya bisa menghela napas dan menatap kedua sahabatnya yang sedang bertengkar itu dengan wajah datar. Sebenarnya ia bersyukur masih ada teman yang mau bersama dirinya. Ia juga merasa terhibur dengan kehadiran mereka. Tetapi ia tidak yakin akan bisa menarik gorden hitam yang menutup dirinya, Halilintar terlalu takut dan ragu. Ia takut apa nanti ia akan kehilangan 2 sahabatnya itu? Apa bisa ia bangkit dari keterpurukannya ini? Apa bisa ia mengemban peranan penting bagi kedua Adiknya? Dan apa bisa ia mencapai mimpi abadinya itu?

"Ku harap, kalian selalu bersamaku. Kumohon bantulah Aku menarik tiari hitam yang ada didiriku ini."

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

A/N:

Hai~ Kali ini Saya kembali lagi dengan membawa lanjutan cerita kemarin~ oh iya Saya merasa sangat berterima kasih telah memberikan kritik, saran, dan dukungan terhadap Saya untuk melajutkan cerita ini. Saya mohon maaf apa bila ada kesalahan, semoga Para pembaca senang membaca cerita saya.

So Thank you and Review please :)