Annoying Boy

Rate:: T

Couple:: Mingyu x Wonwoo (Meanie)

Summary::

Sekolah ini memiliki syarat bahwa siswa-siswinya harus kaya serta tampan dan cantik. Mingyu, siswa kelas satu menjadi idola baru di sekolah bahkan mengalahkan ketenaran para sunbae hingga membuat para sunbae kesal, terutama Wonwoo yang selalu merasa kesal setiap melihat Mingyu.

(Their style according to Mansae s style)

Hiwatari s Present

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Seorang siswa yang menggunakan cardigan abu-abu yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya hingga bagiannya menutupi separuh telapak tangannya dan tanpa dasi sehingga terkesan semakin manis itu sedaritadi duduk terdiam memandangi sahabatnya yang sedang sibuk dan terkadang melirik ke arah lapangan untuk melihat permainan basket yang iseng-isengan itu.

Merasa bosan, Wonwoo memutuskan untuk kembali ke kelasnya. "Aku ke kelas dulu, Soo." ujar Wonwoo menepuk pundak sahabatnya yang sibuk membaca biodata anggota baru. Saat Wonwoo berdiri dan hendak beranjak, ia terkejut saat sebuah bola basket terlempar ke arahnya. Karena lemparan yang kuat dan secara tiba-tiba itu, Wonwoo tidak sempat menangkap bola itu, ia sontak menggunakan tangan kanannya untuk menutup wajahnya.

BUKK!

Wonwoo menurunkan tangannya saat melihat seorang siswa berlari ke arahnya dan menghadang bola itu agar tidak mengenai Wonwoo. Mingyu menegakkan tubuhnya setelah memastikan bahwa bola itu telah terlempar jauh dari namja yang ada di belakangnya itu. Ia berbalik dan menunjukkan senyuman lebarnya pada Wonwoo sebelum akhirnya kembali ke tengah lapangan untuk melanjutkan permainannya.

Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna kejadian tadi sebelum akhirnya mendengus, ia menoleh ke arah Jisoo yang memasang senyum anehnya padanya.

"Apa?" tanyanya ketus. "Dia keren, bukan?" tanya Jisoo dengan nada jahilnya dan jangan lupakan senyum anehnya yang masih terpampang jelas di wajah tampannya itu.

Wonwoo melayangkan tinjunya ke lengan Jisoo dengan cukup kuat sebelum akhirnya beranjak dari lapangan indoor itu. Ia semakin tidak betah berada di lapangan ini sejak kejadian tadi. 'Apa-apaan itu? Memangnya aku adalah anak gadis yang butuh perlindungan pada saat bola melayang ke arahnya? Tapi salahnya juga, sih. Apa-apaan gayanya yang menutup wajahnya? Wonwoo memukul-mukul kepalanya pelan. 'Babo!'

Ia berjalan menyusuri koridor dengan perasaan menyesal, menyesal karena dengan bodohnya ia tidak bisa menangkap bola itu. Ia masih tidak rela harus ditolong oleh Mingyu.

Wonwoo menoleh ke belakang saat mendengar derap kaki berlari ringan ke arahnya. Namja manis itu kembali menoleh ke depan dengan wajah yang semakin masam. Lihatlah kenapa ia sangat kesal pada Mingyu yang kini berhenti berlari dan memilih untuk berjalan beriringan dengannya, itu karena suasana koridor langsung berubah menjadi berisik.

Para siswi mulai bergosip tentang namja tampan itu, berteriak tertahan, dan ia terus menerus mendengar pujian demi pujian yang keluar dari mulut siswi-siswi cantik itu. Para siswa yang lewat di koridor itupun tak kalah heboh, entah heboh karena kagum ataupun iri. Pokoknya Wonwoo tidak suka dengan suasana ribut ini.

Padahal dulu saat masa-masa ia dan teman-temannya sedang terkenal, tidak seheboh dan seribut ini. Kenapa hanya karena kedatangan makhluk yang memiliki rambut biru ini membuat mereka lebih heboh? Apa perlu Wonwoo mengecat rambutnya menjadi biru juga atau bahkan hijau agar para siswi itu lebih heboh padanya? Eh? Kenapa kesannya Wonwoo malah iri pada ketenaran Mingyu?

"Ada apa?" tanya Wonwoo datar. "Tidak ada apa-apa." jawab Mingyu. "Kenapa kau berhenti bermain basket dan malah ke sini?" tanya Wonwoo lagi.

"Itu karena sebentar lagi bel akan berdering, aku harus bersiap-siap di kelas." jawab Mingyu santai. Wonwoo menghela napasnya. "Lalu kenapa kau mengikutiku? Berjalan di sampingku?" Kali ini Wonwoo mengeluarkan nada kesalnya.

"Aku tidak mengikuti sunbae, kelasku memang ada di arah yang sana," Mingyu menunjuk ke arah depan, di mana itu adalah arah yang sama dengan kelas Wonwoo. Wonwoo megerutkan keningnya tidak suka.

"Dan lagi, aku berjalan di samping sunbae untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada bola basket yang melayang ke arah sunbae lagi, jadi aku bisa menghadang bola itu untuk sunbaenim." lanjut Mingyu dengan senyum manisnya. Wonwoo menghentikan langkahnya kemudian menatap Mingyu dengan tatapan yang sangat tajam. Mingyu tertawa kemudian berlari meninggalkan Wonwoo yang menahan malu dan kesalnya itu.

'Sialan Kim Mingyu itu.'

.

.

.

Wonwoo lebih memilih untuk melihat ke luar jendela dan melihat adik-adik kelasnya yang sedang berada di lapangan luas itu daripada memperhatikan guru sejarahnya yang tengah menjelaskan di depan kelas. Ia sudah menahan rasa kantuknya lebih dari satu jam, dan pelajaran yang membosankan ini belum juga berakhir, dua les pelajaran terasa sangat memberatkan jiwa dan raga.

Awalnya ia hanya melihat sekilas ke arah segerombolan siswa-siswi yang entah sedang apa itu. Saat Wonwoo memicingkan matanya, melihat ke arah lapangannya yang luas dari lantai dua ini membuatnya harus menajamkan matanya agar dapat melihat wajah makhluk-makhluk yang ada di bawah sana, ia mendapati sesosok adik kelasnya yang paling tidak ingin ia lihat. Kenapa sedari pagi, bahkan sedari semalam ia selalu menemukan keberadaan adik kelas berambut biru itu di manapun? 'Ya Tuhan, apa fungsi mataku ini hanya untuk melihat keberadaan Mingyu?' batinnya miris.

Mengingat kejadian yang sangat menyebalkan di pagi hari tadi membuat Wonwoo mengalihkan pandangannya ke depan kelas, lebih memilih untuk mendengar penjelasan gurunya dari pada melihat namja itu. Namun belum semenit Wonwoo melihat ke arah depan kelas, ia kembali menoleh ke arah jendela kelas yang ada di sampingnya ini. 'Seburuk-buruknya melihat Mingyu, lebih buruk lagi mendengar ocehan sonsaengnim.' pikir Wonwoo seraya menopang dagunya dengan tangan kanannya. Ia melihat gerak-gerik namja berambut biru yang sedang bermain futsal itu. Ia tidak mengenal adik kelas yang lain selain manusia berambut biru itu, jadi ia memutuskan untuk melihat gerak-gerik namja tampan itu. Berlari ke sana kemari dengan lincahnya, dan setelah melakukan score, Mingyu berlari mengelilingi lapangan dengan senyum bangganya. Tanpa sadar, Wonwoo menyunggingkan senyum tipisnya. Tertawa kecil saat melihat Mingyu menjahili temannya.

Tuk!

"Aww!" ringis Wonwoo pelan saat merasakan sebuah spidol mendarat indah di kepalanya. "Guru dan papan tulis ada di depan sini bukan di jendela itu, Jeon Wonwoo." tegur guru berkacamata itu. Wonwoo mengelus kepalanya seraya mencibirkan bibirnya dengan tangan yang mengoperkan spidol gurunya itu melalui teman di depannya. 'Mingyu selalu membuatku sial.'

Jisoo tersenyum tertahan ke arah teman sebangkunya yang baru saja ditegur oleh guru itu. Wonwoo yang melihat senyum mengejek itu langsung menyiku lengan Jisoo.

"Apa yang membuatmu tertawa sendiri tadi?" tanya Jisoo dengan bisik-bisik. Wonwoo mendengus. "Tidak ada, hanya tidak sengaja melihat orang bodoh." balasnya asal, ia sungguh malas jika harus menjawab pertanyaan tidak penting Jisoo yang berakhir dirinya harus menerima kedatangan si spidol untuk yang kedua kalinya. Wonwoo memutar bola matanya saat mendengar cekikikan dari arah belakangnya. Ia tahu suara siapa itu, pasti Seungcheol dan Soonyoung.

KRIINGGG!

Jisoo menghela napasnya dengan lega, akhirnya ia dapat melewati pelajaran ini dengan selamat, ia hampir mengira bahwa sebelum pelajan sejarah berakhir napasnya telah berhenti saking kerasnya usahanya untuk menahan kantuk.

"Ayo ke kantin!" seru Soonyoung semangat. "Ayoo!" balas Seungcheol yang keluar dari bangkunya dan memukul meja Junghan dengan cukup kuat, hingga membuat namja cantik berambut panjang yang diikat itu tersontak dan terbangun. Wonwoo menguap, dengan tatapan malasnya ia melihat ke arah teman-temannya. "Aku sedang malas keluar." ujarnya. Dengan serentak Jisoo, Seungcheol dan Soonyoung menarik tangan Wonwoo untuk bangun, sedangkan Junghan di belakang sibuk menguap. Tidak ada pilihan bagi Wonwoo, ia dengan terpaksa diseret oleh ketiga temannya yang sangat semangat untuk ke kantin itu.

Wonwoo menduduki salah satu meja yang ada di bagian tengah kantin, ia sedang tidak lapar, sedangkan keempat temannya yang lain sibuk memesan makanan. Namja manis itu menopang dagunya dengan tangan kirinya, menoleh ke arah kanan untuk mendengar percakapan atau mungkin gosip yang tengah dibicarakan para siswi yang duduk di meja sebelahnya. Menoleh ke arah lain karena merasa tidak tertarik dengan percakapan mereka, mata Wonwoo tidak sengaja melihat sebungkus roti terletak di samping lengan kirinya.

Wonwoo menurunkan tangannya dari dagunya dan menatap bingung ke arah roti itu. Ia kemudian melihat ke sekelilingnya. 'Tadi di sini tidak ada apa-apa. Apa ada yang ketinggalan atau salah taruh?' pikir Wonwoo yang tidak berani mengambil roti itu, ia kemudian menjauhkan roti itu dari lengannya, ya bisa saja ia tidak sengaja menimpa roti itu dengan tangannya 'kan? Penyet dong roti orang.

Wonwoo menegakkan tubuhnya untuk melihat keempat temannya yang masih sibuk di depan counter, sudut mata namja manis itu menangkap sesosok manusia melewati mejanya seraya meletakkan sesuatu, dan sesuatu itu adalah sekotak susu. Tanpa melihat wajah manusia yang sedang berjalan menjauhinya itupun Wonwoo sudah tahu dengan jelas siapa itu, satu-satunya siswa yang berambut biru keabu-abuan. Ia hendak menegur Mingyu, namun namja tinggi itu telah berjalan cukup jauh dan bergabung dengan teman-temannya. Sayup-sayup terdengar bisikan-bisikan dari meja-meja di dekatnya. Jelas saja, Mingyu adalah idol dan pusat perhatian di sekolah ini, apapun yang namja tampan itu lakukan pasti akan menjadi bahan pembicaraan, terutama pada saat Mingyu memberikan makanan pada orang yang tidak dekat padanya.

Wonwoo memandangi roti dan susu itu. 'Apa ini untukku?' pikirnya bingung. Mingyu hanya meletakkannya begitu saja tanpa mengatakan apapun, jelas ia bingung apakah namja tampan tadi hanya menitipkan makanannya, menjebaknya atau benar-benar diberikan untuknya? Ia mengalihkan pandangannya ke Mingyu yang tengah menoleh ke arahnya. "Ini maksudnya apa?" tanya Wonwoo tanpa suara, hanya menggunakan gerakan mulut. Namja manis itu mengenyitkan keningnya saat Mingyu hanya menyunggingkan senyumnya kemudian kembali bercanda gurau dengan teman-temannya.

"Wonwoo-ya, dapat dari mana itu?" tanya Seungcheol melihat roti dan sekotak susu yang ada di tangan Wonwoo. Soonyoung yang duduk di samping Wonwoo menyeruput jus jeruknya. "Itu 'kan roti dan susu yang dijual di kantin ini, kapan kau membelinya?" tanya namja blonde itu.

Wonwoo menaikkan kedua bahunya, ia malas menjawab pertanyaan teman-temannya. Melihat teman-temannya menyantap makanan begitu lahap, Wonwoo akhirnya memilih untuk meminum susu kotak itu, meskipun dengan perasaan gengsi.

.

.

.

KRINGG!

Saat mendengar bel berdering, Jisoo dengan segera memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas kemudian menarik tangan Wonwoo yang juga telah selesai menyimpan buku-bukunya. "Ayo ke lapangan, Woo! Aku sudah tidak sabar bertemu dengan semua angota baru dan mendengar mereka memanggilku ketua, ahahaha!" Wonwoo menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan Jisoo. Wonwoo sudah terbiasa dengan sikap namja yang tengah menariknya itu, karena jika ada anggota baru masuk maka mereka akan memanggil sahabatnya itu dengan ketua, dan panggilan itu sangat disukai dan dibanggakan olehnya.

"Tapi... aku malas." gumam Wonwoo mengingat ada Mingyu di sana. Jisoo menghentikan langkahnya, menoleh dan manatap Wonwoo dalam. "Aku tahu alasan kenapa kau malas dan alasan itu tidak kuterima." ujarnya yang kemudian kembali menarik tangan Wonwoo. Namja manis itu memutar bola matanya yang diikuti dengan helaan napas.

Kriett

Jisoo masuk dan diikuti oleh Wonwoo, sedikit terkejut melihat suasana di lapangan indoor ini, banyak sekali siswi-siswi yang duduk di kursi penonton dan berteriak heboh melihat permainan kecil yang para anggota sedang mainkan. Jisoo menatap Wonwoo dengan tatapan 'Ada apa ini?', sedangkan Wonwoo mendengus. "Apa lagi kalau bukan gara-gara Mingyu?" jawabnya malas. Sejak mengetahui bahwa Mingyu bergabung dengan club basket, banyak siswi-siswi yang rela pulang lebih siang dari biasanya untuk menonton Mingyu, dan ini adalah hari pertama menonton Mingyu latihan.

Melihat Jisoo dan Wonwoo masuk ke lapangan, semua anggota club basket menghentikan kegiatan mereka masing-masing kemudian serentak berkumpul di depan bangku cadangan, para siswi mendesah kecewa saat melihat Mingyu berhenti bermain. Jisoo dan Wonwoo duduk di bangku cadangan itu, di susul olwh Seungcheol yang duduk di samping Wonwoo. Ya, Seungcheol bergabung dengan team utama basket bersama Jisoo, bahkan dapat dibilang bahwa Seungcheol adalah tangan kanan Jisoo dalam mengajari dan mengontrol semua anggota.

Jisoo berdehem pelan dan berdiri menghadap semua siswa yang ada di depannya. "Hello and welcome for newbie, hari ini aku akan melihat kemampuan kalian sejauh mana. Sebelum itu, aku akan memanggil nama-nama anggota baru dan perkenalkan diri kalian." ujarnya dengan nada seriusnya, tidak lupa setelah menyelesaikan ucapannya ia menutupnya dengan senyum menawannya yang membuat para siswi yang ada di bangku penonton kembali heboh.

Jisoo memulai absensinya, perkenalan anggota baru pun berjalan dengan lancar hingga akhirnya giliran seorang siswa dengan wajah kebaratan.

"Hansol Vernon Chwe." Jisoo merasa lidahnya terlilit saat menyebut nama itu, ia tidak biasa dan tidak pernah membaca nama seperti itu. Lapangan mulai heboh saat Vernon maju ke depan.

"Hansol Vernon Chwe imnida, panggil saja Vernon. Saya dari kelas 1-A, alasan bergabung karena ingin mengembangkan kemampuanku dan kemudian ikut bertanding." ujarnya dengan percaya diri. Jisoo menggerakkan mulutnya mengucapkan 'Wow' tanpa suara. Ia kemudian mengangguk dan mempersilahkan Vernon kembali ke barisannya.

"Kim Mingyu." ucap Jisoo. Para siswi yang ada di kursi penonton kembali heboh, bahkan lebih heboh dari yang tadi. Wonwoo memutar bola matanya seraya memasukkan jari telunjuknya ke telinga kirinya, sedangkan Seungcheol tertawa kecil melihat kekesalan Wonwoo.

Mingyu maju ke depan Jisoo dengan senyumnya. Sejenak suasana menjadi hening, para siswi ingin mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mingyu. "Kim Mingyu imnida, dari kelas 1-A, alasan masuk ke club basket karena ini adalah hobbyku sejak kecil." ujarnya. "Kyaaaa!" Lapangan kembali heboh. Wonwoo mendengus seraya melihat ke arah lain. "Tidak ada yang istimewa, kenapa mereka heboh?" tanya Wonwoo dengan gumaman kecil pada Seungcheol yang duduk di sampingnya. Seungcheol menggeleng-gelengkan kepalanya, ketampanan Mingyu memang berbeda, begitulah pikirnya.

Jisoo mengangguk kemudian kembali melihat nama terakhir yang belum ia panggil. Ia tersenyum kecil melihat nama itu. "Xu Minghao." Senyumnya semakin lebar saat melihat seorang siswa dengan rambut blonde perm dan ekspresi lucunya maju ke depan dan menghadap Jisoo. "Ne, Xu Minghao imnida, dari kelas 1-A, alasan masuk ke club basket hanya untuk coba-coba dan menghabiskan waktu saja." ujarnya jujur.

"Memangnya kau tidak ada kerjaan lain untuk mengisi waktumu?" tanya Jisoo. Minghao menggelengkan kepalanya. Jisoo tertawa kecil menunjukkan senyum gentlenya. "Kau sangat lucu. Baiklah, kembali ke barisanmu." Minghao menganggukkan kepalanya dan berbalik.

"Baiklah, untuk mengetahui kemampuan kalian sampai mana, kita lakukan permainan kecil tapi serius. Lima lawan lima, anggota baru lawan senior. Lima orang pertama yang bermain adalah Mingyu, Vernon, Minghao, Sunghyun, Junseok melawan para senior yaitu aku sendiri, Seungcheol, Leehyun, Jaehun, dan..." Jisoo tidak sengaja melihat gerak-gerik Seungcheol yang meunjuk-nunjuk Wonwoo dari belakang. "Wonwoo."

Wonwoo terlonjak saat mendengar namanya disebut. "Apa? Aku bukan anggota, untuk apa aku ikut bermain." tolak Wonwoo. "Ayolah, bantu kami. Biasanya juga kau selalu mau ikut main." ujar Jisoo. Wonwoo menggelengkan kepalanya. "Sedang malas."

"Ayolah, Woo. Selama sebulan liburan, kau tidak pernah ikut bermain basket dan hanya bermalas-malasan di rumah. Kau tidak takut menjadi buncit karena tidak olahraga selama satu bulan ini?" tanya Seungcheol. "Biarkan." jawab Wonwoo cuek. Bermain melawan Mingyu? Huh, ia malas berebutan bola dengan makhluk berambut biru itu.

"Kau takut, ya?" tanya Jisoo. Pertanyaan yang dilontarkan ketua club basket itu sukses membuat Wonwoo menatapnya dengan tajam. Takut? Pada siapa? Hoobae? Big no! Wonwoo mendengus kesal. "Okay, Jisoo. Aku main!" jawab Wonwoo dengan penuh penekanan.

Namja manis itu menunduk dan mengeratkan ikatan tali sepatunya. Ia mengurungkan niatnya untuk berdiri dari bangkunya saat melihat Mingyu yang berdiri tepat di depannya, tentunya dengan senyum yang menyebalkan baginya. Namja tampan itu mengulurkan tangan kanannya pada Wonwoo. Wonwoo melihat tangan Mingyu sebelum akhirnya beralih menatap mata namja tampan yang tiga detik kemudian mengatakan sesuatu,

"Ayo kita bermain, Wonwoo-sunbaenim."

~TBC~

Yuhuuu, akhirnya selesai juga chaptee 2 nyaaa~ Lega rasanyaa.. Dan author mau jelasin kalau beberapa scene di sini tuh author ambil dari scene MV Mansae yang menurut author cocok untuk character mereka XD

Thanks a lot buat readers dan reviewers::

youju, 270, lulu-shi, Ayhuu795, bbihunminkook, elferani, kookies, korokurakwayun, kinongjbz7, Yeri960, Baby Yoongi, yo yo jiminie, Aprikai868, shabrinadivaniarl, Arin Melody752, riani98, MIKKIkane

Terimakasih udah mau baca dan terima kasih udah mau review *bow*

Okay, akhir kata dari author untuk chapter ini,

Review, please~ :) Gomawo *bow* m(_ _)m