Rain (c) aidaverdyky

Sung-Jong and You

Romance-Comedy

Teenager

Sung-Jong adalah milik Tuhan, keluarga, Woolim Ent., Inspirit, dan Sungels \(^o^)/

Watchout of the typo(s), baper area!

...

Aku mengetuk-ketukkan sepatu ketsku ke arah tanah. Ekspresiku yang awalnya cerah sudah mulai kusut. Senyum di wajahku yang kucoba pertahankan sejak satu jam yang lalu kini sudah hilang terbawa angin hangat musim panas. Dan semua ini hanya karena seorang pemuda penggila permen lemon, yang sialnya telah menjadi kekasihku sejak satu tahun yang lalu. Tepat satu tahun yang lalu.

Yeah, ini adalah hari jadi kami yang pertama. Sung-Jong, kekasihku, mengajakku untuk merayakannya di taman dekat kampusnya satu jam yang lalu. Dan kini aku malah duduk sendirian menunggu Sung-Jong yang entah masih ada di mana. Kuharap dia tidak lupa dengan janjinya, kalau iya akan kubakar boneka beruang raksasa hadiah darinya di ulang tahunku yang ke tujuh belas bulan lalu.

Eh, jangan deh. Sayang, masih bagus hehe.

Ponselku kukeluarkan dari saku celana, mencari-cari nama kontak kekasihku lalu menelponnya. Tidak diangkat. Kemana sih dia?. Awas saja kalau dia lupa rencananya sendiri.

Ku coba lagi untuk menelponya. Untung saja kali ini diangkat.

"Hosh... Hosh... Tu-tunggu sebentar Chagi."

Tut!

Eh!? Aku bahkan belum sempat bicara apa-apa dan dia menutup panggilanku begitu saja!? Lagipula apa yang sedang dia lakukan sampai terengah-engah begitu?.

Aku kembali menendangi kerikil di sekitar kakiku. Sepuluh menit berlalu dan akhirnya kekasihku itu sampai juga dengan keringat bercucuran. Tangannya bertumpu di lutut dengan punggung membungkuk, membuatku yang masih terduduk hanya mampu mengerjap menatap rambut berantakannya yang sejajar dengan wajahku.

"Hosh... Maaf... hosh... tadi ada... dosen... pembimbing... yang tiba-tiba... ingin bertemu... hosh."

Aku menghela napas. Susah memang jika kau berpacaran dengan pemuda rajin yang sedang kuliah tingkat akhir begini. Kutepuk pundaknya lalu menyuruhnya duduk di sampingku dan menyodorkan botol minuman ke arahnya yang ditandaskannya dalam sekali minum. Membuatku kembali kesal.

"Oppa! Aku bahkan baru minum seteguk." Dia menoleh dengan pandangan terkejut lalu beralih menatap tempat minumku yang sudah kosong.

"Maaf, sungguh mafkan aku. Aku terlalu haus hingga tak sa-."

"Haah... Sudahlah Oppa. Tidak apa-apa." Sahutku memotong ucapannya dengan nada kesal yang kentara. Bukan sengaja, hanya saja aku memang susah mengatur emosiku.

Hening. Canggung. Dan itu menyebalkan.

"Jadi, apa sebenarnya yang akan kita lakukan?." Aku bersuara sambil menoleh ke arah Sung-Jong yang masih tatapan menyesal ke arah botol minumanku yang kosong.

Sungguh, aku ingin tertawa melihat ekspresinya. Bodoh, polos, sekaligus tampan. Tanpa sadar aku tersenyum saat dia menoleh dengan ekspresi memelas a la anak anjing. Lama kami berpandangan hingga dia memasang cengiran lebar yang membuatku memutar bola mata kesal. Selama setahun berpacaran dengan Sung-Jong, aku sudah hapal bahwa cengiran itu bukan berarti sesuatu yang bagus.

"Aku juga tidak tahu." Tuh kan.

Aku kembali merengut lalu bersedekap, khas anak berumur lima tahun yang merajuk minta dibelikan mainan. Tapi, dengan kurang ajarnya Sung-Jong justru terkekeh lalu menarik tanganku dan berjalan menjauhi tempat duduk kami.

"Kita mau kemana?." Sung-Jong mengangkat bahunya acuh lalu menggoyang-goyangkan tangan kami kedepan dan kebelakang. Aku yang awalnya kesal mulai menikmati perlakuannya. Yeah, aku memang selalu kalah dengan tingkah manis yang dilakukannya.

Kami berhenti di depan seorang pria yang berjualan ice cream. Kekasih baby face kesayanganku memesan ice cream vanilla untuknya dan coklat untukku. Awalnya dia memesan rasa lemon yang menimbulkan kerut di dahi sang penjual. Aku hampir terbahak saat mendengarnya mengomeli pedagang itu yang justru tersenyum -mungkin lebih kepada menahan tawa- sambil menyodorkan ice cream.

"Kenapa penjual itu tidak menjual rasa yang lengkap sih? Dasar."

Sung-Jong masih mengomel dan akhirnya aku tertawa. Benar-benar tidak tahan dengan sifatnya yang terkadang bisa lebih bocah dariku. Padahal dia lebih tua lima tahun dariku. Tetapi itulah yang membuatku menyukainya. Sung-Jong tidak akan berlagak seperti seorang kekasih sok dewasa yang hobi mengatur, dia akan menjadi emm... yeah, seorang Sung-Jong.

Sung-Jong yang hobi menggoyangkkan tangannya saat berjalan, bahkan menggoyangkan tangan kami jika bergandengan. Sung-Jong yang selalu menyelipkan lima hingga enam bungkus permen lemon di saku celananya. Sung-Jong yang akan memasang muka aneh untuk menghiburku ketika aku sedang marah kepadanya.

Sung-Jong, kekasihku, yang amat sangat kusayangi.

"Hm? Ada apa, Chagi? Kau mau ice creamku?."

"Ti-tidak Oppa." Uugh bodoh. Kenapa aku malah melamun di hadapannya?.

"Kau memikirkan apa? Wajahmu merah loh." Sahutnya dengan nada sing a song sambil tersenyum jahil hingga aku mencebikkan bibirku. Dia justru tertawa renyah yang pada akhirnya membuatku tersenyum. Rasanya menyenangkan mendengar tawa renyah kekasihku ini.

Kami melanjutkan perjalanan menuju kedai ramen pinggir jalan. Kedai favoritku sejak berpacaran dengan Sung-Jong. Memesan dua porsi ramen, kami akan berlomba siapa yang bisa menghabisakannya lebih dahulu. Lomba yang hampir selalu kumenangkan dengan bangga sambil merentangkan kedua tanganku ke atas kepala. Sang pemilik kedai bahkan sudah hapal kelakuan aneh kami dan tak mempermasalahkannya.

"Tak apa. Itu justru menjadi salah satu hiburan untukku ditengah-tengah kesibukan melayani pelanggan." Ujarnya saat aku dengan iseng bertanya. Ya sudahlah, terserah padanya.

Dan kali ini lagi-lagi aku berhasil mengalahkannya dengan amat sangat tipis. Satu suap lagi mie di mangkoknya kandas, sementara milikku sudah masuk ke dalam -Jong mendesah kecewa yang kubalas dengan tepukan penyemangat di punggung lebarnya. Yeah, meskipun dengan binar jenaka di mataku.

Matahari hampir terbenam saat kami keluar dari kedai. Terlalu asik berbincang dengan pemilik kedai membuat kami lupa waktu. Dan oow, dapat kulihat di ujung sana awan hitam bergerak cukup cepat membuatku menarik lengan Sung-Jong menuju halte terdekat.

Di halte aku merengut. Memang benar kami sampai di halte tapat waktu bersamaan dengan turunnya hujan, namun hujan yang langgsung mengguyur membuat kami harus terjebak di halte itu hampir satu jam hingga bus berikutnya datang. Menyadari perubahan air mukaku, Sung-Jong mulai melancarkan aksi merayunya.

"Chagi, kau marah ya?."

Aku bungkam.

"Maafkan aku Chagi."

Kukerucutkan bibirku.

"Chagiii~."

Badanku ku putar sedikit menjauhinya.

Hening. Aneh rasanya. Biasanya Sung-Jong akan melakukan segala cara, mengeluarkan segala gombalan demi mendapatkan maafku. Tapi sekarang di membisu. Dan saat aku menoleh rasanya aku ingin mengomeli Sung-Jong.

Bagaimana tidak?. Dia sekarang sedang berdiri di luar halte. Ditengah guyuran hujan. Seluruh tubuhnya basah, rambut dark brownnya bahkan sudah lepek hingga hampir menutupi matanya.

"Hei, Apa yang kau lakukan!? Kembali kemari!." Titahku khawatir. Dia sedang berada di semester akhir dan sibuk dengan skripsinya. Kalau dia sakit siapa yang akan melanjutkan tugas akhirnya?. Memangnya skripsi itu bisa terketik sendiri?.

"Maaf. Hari ini aku benar-benar minta maaf."

Belum sempat aku menjawab, Sung-Jong sudah melanjutkan.

"Maaf membuatmu menunggu lama di taman. Maaf karena menghabiskan minumanmu. Dan maaf karena membuatmu terjebak di tengah hujan begini." Suaranya samar, tertutup hujan yang semakin deras. Dan aku terserang rasa bersalah mendadak.

Sejujurnya aku tidak pernah bisa marah terlalu lama padanya. Aku terkadang hanya iseng, ingin menggodanya. Ingin tahu seberapa perjuangannya untuk mendapatkan maafku. Biasanya dia hanya akan melakukan lelucon yang -pasti- selalu berhasil membuatku kembali bergelayut manja padanya. Tapi kali ini dia bahkan rela basah kuyup demi meminta maaf padaku. Entah mengapa aku ingin menangis, sedih sekaligus terharu.

TAP

TAP

GREP

Sama seperti Sung-Jong yang tidak peduli hujan mengguyur demi meminta maaf. Aku juga tak peduli pada air langit yang tumpah demi memeluknya, menyalurkan rasa penyesalan karena telah membuatnya hujan-hujanan.

"He-hei. Jangan kemari kau bisa basah. Kembalilah ke halte."

"Kau sendiri basah bodoh." Aku berujar tanpa melepaskan pelukan. Hingga akhirnya aku merasakan sepasang lengah membungkus tubuhku. Melingkupiku dengan kehangatan di tengah hujan yang dingin.

"Maaf Chagi."

"Aku yang seharusnya minta maaf, Oppa."

"Aku mencintaimu."

Aku tersenyum. Membiarkan hening melingkupi kami sejenak sebelum membalas lirih."

"Aku juga mencintaimu, Oppa."

...

DRRTT

DRRTT

DRRTT

Getaran kurang ajar dari ponselku membuatku terpaksa bangun. Kepalaku masih pening, dahiku terasa hangat, dan hidungku tersumbat. Aku harus membuat catatan mental untuk tidak hujan-hujanan lagi dengaan Sung-Jong. Bocah itu dengan senangnya mengajakku bermain dibawah guyuran air hingga bus datang. Hampir 45 menit kami berdiri di bawah hujan hingga membuat sang supir mengomeli kami yang meneteskan air ke dalam bus sementara kami hanya nyengir. Untung saja ada penumpang baik hati yang rela satu pak tissuenya kami tandaskan untuk sedikit membersihkan diri.

Setelah puas bernostalgia dengan kenangan kemarin, aku menatap layar ponselaku sambil memicingkan mata mencegah terlalu banyak cahaya masuk. Panggilan dari Sung-Jong.

"Halo."

"Halo Chagi." Suaranya serak, sama sepertiku. Dia pasti sedang terbaring di apartemennya.

"Ada apa Oppa?."

"Apa kau sakit?." Aku mendengus.

"Tentu saja. Kau juga pasti sakit kan?." Dia tertawa.

"Maaf karena aku-."

"Berhentilah minta maaf Oppa. Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu." Kudengar helaan napas di ujung sana. Dia pasti amat menyesal.

"Istirahatlah. Jangan lupa makan dan minum obatmu."

"Yaaa. Kau juga. Ingat skripsimu." Sung-Jong tertawa dengan suara parau hingga terbatuk membuatku mengomelinya.

"Baiklah kalau begitu. Ku tutup ya?."

"Sampai jumpa Oppa. Cepatlah sembuh."

TUT

"Haaah." Aku turut menghela napas saat kembali berbaring.

Untung saja ini hari Sabtu, jadi aku masih bisa beristirahat hingga besok. Meskipun sedikit kesal karena kencan kami berakhir dengan kami berdua yang sakit, tapi entah mengapa aku tersenyum mengingatnya. Mengingat perjuangan Sung-Jong untukku. Serta kenangan-kenangan kami selama ini. Ingin rasanya mengingat lebih banyak andai saja kepalaku tidak seberat ini, sehingga aku merasa malas berpikir.

Ah sudahlah. Lebih baik aku tidur saja.

-Fin-

...

A/N: Huaaaa kemaleman yaaa. Mianhae T_T

Menjelang UAS tugas malah beranak pinak. Pusying ngerjainnya :((( Tapi ini masih masuk hari Rabu kan di Indonesia (bagian barat maksudnya hehehe)

Dan yeaaah, barusan keasikan nonton INFINITE di V app wkwkwk

Emm, karena di Korea udah masuk tanggal 9 kebetulan banget kan. Cerita perdananya bisa diupload di hari Rabu (di Indo) sekaligus tanggal 9 Juni (di Korea).

Congratulation Oppa-deul~~~ #6YearsWithINFINITE

Sudah ya, lagi gak bisa banyak ngomong. Tugas masih menantiku. Byeee

p.s: Selamat menjalankan ibadah puasa kekeke~~~