Frozen Summer
Pair:
Park Jimin (as Hyperion) x Min Yoongi (as Theia)
Slight:
Kim Namjoon (as Perseus) x Kim Seokjin (as Maeve)
Rate: T - T+
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Undetermined
Summary:
Api dan es bagaikan dua sisi mata koin, mereka bersama, tapi mereka tidak akan bertemu. Lalu bagaimana jika takdir mengatakan sang api mencintai dia yang membeku dalam es? / MinYoon, GS!Yoongi.
Notes:
Nama sengaja dirubah untuk kepentingan cerita.
Min Yoongi: Theia (meaning: Goddess) as the Ice Queen
Park Jimin: Hyperion (Theia's husband in Irish/Greek Mytology) as the Fire King
Kim Namjoon: Perseus (meaning: to destroy) as the Fire Knight
Kim Seokjin: Maeve (meaning: intoxicating) as the Petals Princess
Warning:
GS! Yoongi and Seokjin, AU, Fiction. Inspired by 'Halsey - Castle', slightly inspired by The Huntsman: Winter's War.
Notes 2:
Diceritakan dalam sudut pandang Yoongi dan Jimin. Perhatikan agar kalian tidak bingung mana sisi Yoongi dan mana sisi Jimin karena aku tidak akan menuliskan 'Yoongi POV' atau 'Jimin POV' di atas partnya ;)
.
.
.
.
.
.
.
Part 1: An Old Agreement and Our First Meeting.
Aku sudah menjabat sebagai Ratu kerajaan White Land selama dua tahun terakhir, tepatnya ketika usiaku menginjak angka 20 tahun. Aku adalah puteri kedua dari keluarga kerajaan ini, kakak kembarku, Maeve, adalah puteri pertama dalam kerajaan ini.
Kami kembar, tapi kami begitu berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan kami tidak memiliki kemiripan fisik yang bisa mengindikasikan kami adalah anak kembar. Kakakku Maeve memiliki rambut berwarna coklat lembut dengan sedikit ikal di bagian bawahnya, kulit yang putih dengan rona alami, bibir tebal dan berwarna merah muda, tinggi yang lebih tinggi dariku, dan juga sikap dan kepribadian yang manis dan hangat. Tidak heran dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan alam, dia begitu hangat seperti matahari yang menyinari padang bunga.
Sedangkan aku, aku adalah kebalikan dari kakak kembarku. Aku memiliki rambut berwarna platina yang panjangnya hingga menyentuh pinggangku dan rambutku lurus, amat sangat lurus. Kulitku putih pucat dan mataku sipit dengan pupil berwarna biru pucat, tidak besar seperti mata kakak kembarku. Aku lebih pendek dari kakak kembarku dan sifatku adalah kebalikan dari kakak kembarku. Jika kakak kembarku hangat dan baik pada siapa saja, maka aku adalah sosok yang dingin dan tidak sebaik kakakku. Dan kekuatanku adalah es, aku mampu membekukan apapun bahkan hanya dengan tatapan mataku.
Karena kekuatanku itulah aku diangkat menjadi Ratu oleh ayahku. Ayahku mengatakan kalau kekuatanku pasti akan mampu memperkuat pertahanan kerajaan kami dari musuh. White Land adalah kerajaan kecil dengan wilayah territorial yang tidak terlalu besar. Kerajaan kami kubentengi dengan salju dan kami berlindung di balik selubung es dan salju yang kubuat.
Maeve menjabat sebagai penasihatku karena aku tidak akan mau dinasihati oleh para Tetua istana yang bahkan tidak pernah mengerti isi hatiku. Yah, kurasa satu-satunya hal yang membuktikan aku dan Maeve adalah anak kembar adalah ikatan batin kami. Maeve selalu tahu apa yang kupikirkan dan dia selalu memberiku nasihat bijak untuk menyelesaikan masalahku.
"Yang Mulia, pasukan dari kerajaan Barat Daya sudah mulai mendekati wilayah territorial kita. Kami memperkirakan mereka akan sampai dalam waktu dua minggu."
Aku menggigit bibirku saat mendengar suara dari kepala pasukan di kerajaanku. Belakangan ini kerajaan kami terus-menerus diserang dari luar dikarenakan wilayah kami yang kecil dan kami merupakan penghasil batu mulia terbaik di seluruh wilayah. Dulu, saat ayah dan ibu kami masih hidup, kami hidup dengan damai karena ayah tidak akan pernah segan membunuh siapapun yang berani memasuki wilayah territorial kami.
Dan sekarang, setelah mereka berdua wafat, beberapa kerajaan bergegas mengibarkan bendera perangnya pada kami. Walaupun reputasiku sebagai Ice Queen sudah tersiar dan membuat beberapa kerajaan memutuskan untuk mundur, tetap saja ada kerajaan yang mencoba menerobos pertahanan kerajaanku.
Aku sudah mencoba memperkuat garis depan dengan membuat sebuah gletser es tepat di perbatasan laut yang menghubungkan kami dengan dunia luar. Tapi kelihatannya pertahanan itu pun mulai melemah. Tadinya kupikir mereka tidak akan mengambil jalan belakang melintasi pegunungan penuh salju, tapi kelihatannya kerajaan dari Barat Daya lebih memiliih melalui jalan itu daripada tergelincir di gletser.
"Theia.."
Suara lembut Maeve menyadarkanku dan aku menatapnya. Kakak kembarku menatapku dengan matanya yang berwarna coklat terang seperti kayu mahogany. "Kita tidak bisa seperti ini terus.."
Helaan napas panjang keluar dari mulutku, aku tahu. Aku tahu aku tidak bisa mempertahankan strategi seperti ini terus. Tapi kekalahan yang kuterima saat berperang melawan kerajaan dari Timur Laut membuatku takut untuk berperang lagi. Aku tidak sanggup melihat para prajurit berjatuhan sementara aku hanya diam di istana karena sebagai Ratu yang belum memiliki penerus, istana melarangku keluar untuk bertempur.
"Apa kau akan menjalankan pesan terakhir Ayah?" tanya Maeve lembut. Suaranya benar-benar terdengar seperti suara Ibu dan aku tidak akan pernah bisa membantah ataupun mengkhianati Maeve.
Kepalaku berputar ke arah Maeve, dia berdiri tak jauh dari singgasanaku yang terbuat dari es dengan pakaian berwarna merah muda dan mahkota kelopak bunga dengan warna sama di atas kepalanya. Sangat berbeda denganku yang memakai pakaian berwarna silver dan juga mahkota yang terbuat dari es di atas kepalaku.
"Apa utusan kita sudah tiba di Kerajaan Selatan?" tanyaku pelan.
Maeve mengangguk, "Mereka sudah dalam perjalanan, dedaunan memberitahuku kalau mereka akan tiba tiga hari lagi. Theia, kau sudah memintanya untuk ke sini, itu artinya kau akan melaksanakan itu, kan?"
Aku menatap Maeve dengan nanar, "Apa aku punya pilihan, Maeve? Aku Ratu mereka, aku harus melindungi mereka dan aku akan melakukan apapun untuk itu. Bahkan jika itu harus mengorbankan diriku sendiri."
Maeve bergerak menghampiriku dan mengelus bahuku lembut, "Ayah hanya menyarankan, dia bilang kita boleh melakukannya jika kita sudah benar-benar terdesak. Kita masih belum terdesak, aku bisa turun ke medan perang dan membantu untuk memenangkan kerajaan kita."
Aku mendongak dan menatap Maeve dengan tajam, "Maeve! Kau tahu aku tidak akan membiarkan itu! Kau kakakku dan aku tidak akan pernah menempatkanmu dalam situasi berbahaya! Aku tidak sanggup melihatmu terluka." Tanganku bergetar dan aku mencengkram sisi singgasanaku dengan kuat.
Maeve tersenyum lembut dan memelukku kemudian dia mulai mengelus rambut panjangku, "Aku tahu itu. Tapi aku kakakmu, dan aku ingin melindungimu. Kalau kau memang tidak ingin melakukan ini, kau bisa mundur. Kita bisa berjuang untuk kemenangan kerajaan kita."
Pelukan Maeve merupakan pelukan yang paling hangat setelah pelukan dari ibuku. Dan aku tahu kalau apa yang Maeve katakan memang benar, tapi aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup melihat prajuritku berguguran lalu melihat istri-istri mereka yang berkabung dan menangis di hadapanku.
Aku melepaskan pelukan Maeve dengan perlahan, "Aku akan melakukan ini, Maeve. Aku.. akan menikah dengan Raja dari Kerajaan Selatan demi keselamatan kerajaan kita."
Maeve menunduk dan mendaratkan kecupan di dahiku, sensasi hangat dari kecupan Maeve menyebar ke seluruh tubuhku. Dia menggerakkan jemarinya dan dari jemarinya muncul sulur-sulur halus tanaman dengan bunga kecil berwarna putih, perlahan dia menjalinnya dan membuat sesuatu seperti gelang yang dia lilitkan di tanganku.
"Jimat keberuntungan dariku." Maeve berujar ringan dengan senyum manis di wajahnya.
Aku menatap gelang buatan Maeve dan menatapnya, "Apa aku harus membuatkanmu sesuatu juga?"
Maeve tertawa dengan manis, "Tidak perlu."
.
.
.
.
.
.
.
Hawa dingin semakin terasa di setiap langkah kaki kuda yang kutunggangi. Aku sangat sadar bahwa ini adalah pertanda kami sudah semakin mendekati wilayah White Land, wilayah yang sepenuhnya dikuasai oleh Ice Queen. Mataku melirik Perseus, ksatria paling kuat di kerajaanku dan dia terlihat tengah duduk tegak di atas kudanya dengan uap putih yang terus keluar dari mulutnya karena dingin.
"Dingin sekali, huh? Ini lebih dingin dari musim dingin di kerajaan kita." ujarku padanya.
Perseus tertawa kecil, "Ya, anda benar. Kita belum memasuki gerbang depannya tapi suhunya sudah sedingin ini. Saya penasaran bagaimana suhu di dalam kerajaan itu."
Aku mengangguk dan perlahan aku mendongak, "Oh, salju."
Utusan dari kerajaan White Land yang sejak tadi berkuda di hadapan kami menoleh ke arahku, "Salju ini sambutan dari pintu depan kerajaan kami, Yang Mulia. Kita sudah semakin mendekati gerbang depan kerajaan."
Aku mengangguk pelan, "Sebenarnya Ratu kalian seperti apa? Aku tahu dia Ice Queen, tapi tidak ada satupun yang pernah melihat wajahnya selain kalian. Dan kalau tidak salah dia memiliki saudara, kan?"
Pria baruh baya dengan seragam berwarna silver khas kerajaan White Land itu mengangguk pelan, "Ya, Queen Theia memiliki saudara yaitu kakak kembarnya, Princess Maeve, atau dia dikenal sebagai Petals Princess."
Perseus menyeringai ke arahku, "Tidakkah itu aneh? Kakaknya Petals Princess dan adiknya Ice Queen. Mereka bertolak belakang."
Aku tertawa dan mengangguk, kemudian bergidik pelan saat suhu dingin semakin menerpa tubuhku. Aku mendekatkan kedua tanganku ke bibirku kemudian menghembuskan napas api ke sana.
"Dan saya penasaran bagaimana pernikahan anda akan berjalan, Yang Mulia. Anda adalah api dan dia adalah es. Bukankah sebaiknya anda berubah pikiran dan memilih Princess Maeve saja?"
Mataku melirik ke arah Perseus, "Tidak, aku tertarik pada Queen Theia. Ayah dari Queen Theia, King Beowulf, yang mengatakan sendiri pada Ayah untuk menikahkan Raja berikutnya dengan Theia yang saat itu masih menjabat sebagai calon Ratu. Dan Raja berikutnya sudah jelas aku karena aku adalah satu-satunya pangeran di Kerajaan Selatan."
"Tapi anda bisa memilih, Yang Mulia."
Aku mengangguk, "Memang, tapi ketika Ayah menjelaskan ini padaku aku langsung merasa tertarik pada Queen Theia. Dan aku tidak akan berubah pikiran."
"Bahkan jika ternyata Ratu itu sedingin esnya?"
Tawa kecil kembali keluar dari sela bibirku, "Ya, tentu saja."
Pandangan mataku kembali ke depan dan di kejauhan aku bisa melihat barisan pegunungan berunjung runcing dengan hiasan salju abadi yang menyelubunginya. Pegunungan itu adalah pertahanan belakang dari kerajaan White Land.
Aku tidak pernah berkunjung ke wilayah White Land, dia terletak di sudut kecil dari bumi dan kerajaannya sendiri tidak terlalu besar. Ketika berperang beberapa tahun lalu, ayahku berhasil memenangkan kerajaan White Land. Namun saat itu Raja dari White Land dengan ayahku membuat perjanjian bahwa suatu waktu nanti mereka akan mengadakan perjanjian untuk memperkuat ikatan kerajaan yaitu dengan pernikahan.
Ya, pernikahanku dengan Ratu kerajaan White Land, Queen Theia.
Aku tahu belakangan ini kerajaan mungil itu sedang dilanda situasi sulit karena wafatnya Raja mereka yang gagah perkasa. Dan kudengar White Land baru saja mengalami kekalahan besar saat melawan satu kerajaan, wajar jika tak lama kemudian aku menerima surat yang diantarkan langsung oleh utusan kerajaan White Land yang membahas mengenai perjanjian lama itu.
Kuakui aku tidak banyak berpikir, ketika aku menerima surat itu dan membaca tulisan tangan dari Queen Theia, aku langsung memutuskan untuk pergi, bahkan tanpa mengajak pasukanku yang lain. Aku hanya pergi bersama Perseus dan sepuluh orang anak buah Perseus serta utusan dari kerajaan White Land.
Kudaku berhenti secara mendadak saat kuda yang dikendarai oleh utusan dari kerajaan White Land juga berhenti. Aku menatapnya dan dia terlihat turun dari kudanya.
"Yang Mulia King Hyperion, selamat datang di White Land." Ujarnya.
Aku menatap ke balik tubuhnya dan aku melihat sebuah dinding yang sangat tinggi dan besar dan seluruhnya terbuat dari es. Selubung kabut salju melindungi tempat itu sehingga aku tidak bisa melihat istana kerajaan White Land.
"Yang Mulia," ujar Perseus karena kelihatannya aku terlalu sibuk mengamati benteng depan White Land.
Aku berdehem pelan, "Kita masuk."
.
.
.
.
.
.
.
Mataku yang berwarna biru pucat memperhatikan pantulan diriku sendiri di cermin besar yang berada di kamarku.
Akhirnya hari ini tiba juga.
Pengawal di gerbang sudah mengatakan kalau King Hyperion sudah tiba dan dia sudah mendekati bangunan istana. Aku mengepalkan kedua tanganku dan berusaha sekuat mungkin untuk tenang. Hari ini aku akan bertemu dengan calon suamiku. Calon suami yang sudah ditetapkan berdasarkan perjanjian ayahku yang kala itu terlalu takut kehilangan kerajaan mungilnya dan ayah dari King Hyperion yang tidak terlalu berminat untuk menduduki kerajaan kami walaupun dia sudah memenangkan perang.
Pandanganku turun ke arah telapak tanganku dan ketika aku menggerakkan jemariku, udara di sekitarku bergerak dan membeku menjadi butiran salju yang halus. Kekuatan yang kumiliki sudah ada sejak aku lahir, namun kekuatan ini baru muncul saat usiaku dua belas tahun. Dan hal yang sama juga berlaku untuk Maeve. Hari itu ayahku terlihat mengerutkan dahinya tidak suka karena puteri pertamanya memiliki kekuatan yang 'tidak terlalu' kuat.
Karena itu di hari yang sama ayahku memutuskan untuk mengangkatku sebagai calon Ratu karena dia menganggap kekuatan Maeve bukanlah kekuatan yang cocok untuk seorang Ratu.
Aku bisa mendengar derap langkah yang bergegas menghampiri kamarku dan tak lama kemudian pintu terbuka dengan keras. "Theia.."
Tubuhku berputar dan aku memandang Maeve, kakakku tetap secantik biasanya. Rambut ikalnya turun melewati bahunya dan mendarat dengan lembut di depan dadanya. Dan jika melihat dari raut panik di bias wajahnya, aku langsung mengerti kenapa Maeve begitu bergegas menuju kamarku.
"Aku tahu, Maeve. Aku tahu.." ujarku dengan nada menenangkan.
Maeve terlihat menggigit bibir bawahnya yang sewarna dengan kelopak mawar. "Mereka sudah tiba di gerbang depan.." Maeve menatapku, "Kali ini di gerbang depan istana."
Aku memejamkan mataku dan perlahan membukanya kembali, "Aku akan menunggu mereka di ruang singgasanaku."
Maeve mengangguk, "Aku akan menyambut mereka di aula depan." Maeve berputar dan berlari kecil dengan begitu anggun menyusuri koridor istana.
Aku menatap pantulan diriku sekali lagi di cermin. "Kau bisa melakukannya, Theia. Kau bisa melakukan ini."
.
.
.
.
.
.
.
Kesanku saat menginjak wilayah kerajaan ini untuk pertama kalinya adalah licin. Es memenuhi setiap tanah yang berada di wilayah itu. Kurasa ada baiknya juga mereka memiliki anggota kerajaan dengan kekuatan sangat bertolak belakang. Karena jika tidak, aku yakin tempat ini akan berubah menjadi kota mati karena tidak ada bahan makanan yang bisa tumbuh di lahan yang membeku ini.
Mereka beruntung memiliki Princess Maeve yang tentunya bisa menumbuhkan tanaman di wilayah kerajaannya yang membeku total.
Perseus berjalan di sampingku dengan waspada, dia memperhatikan sekitarku dengan detail dan memastikan keamananku saat berjalan di alun-alun kota. Semua warga yang melihat kami menatap kami dengan pandangan tertarik. Mungkin itu karena warna kulit kami yang tidak sepucat mereka atau mungkin karena kerajaan ini memang sangat jarang kedatangan tamu.
Aku merasakan Perseus melangkah mendekat ke arahku, "Kau yakin soal ini? Karena jujur saja aku tidak bisa menebak siapa kiranya yang 'sedingin' ini dan tinggal di balik kristal es. Kita belum mendekati istana dan suhunya sudah semakin dingin. Kurasa istana itu benar-benar terbuat dari es."
Tawa kecil keluar dari sela bibirku, "Yeah, aku justru penasaran apa aku bisa melelehkannya."
Perseus menatapku dengan sebelah alisnya yang terangkat, "Kau berniat melelehkan dia?"
Kali ini tawa sungguhan keluar dari mulutku. Aku dan Perseus sudah sangat dekat sehingga kadang kami menggunakan bahasa informal pada satu sama lain. "Kerajaan ini begitu cantik, dan pastinya pemimpinnya juga cantik."
Perseus mendesis, "Kurasa otakmu sudah membeku oleh salju."
Aku tersenyum dan kami berhenti berjalan saat kami tiba di sebuah gerbang yang terbuat dari kristal es. Gerbang itu penuh ukiran rumit dan ini menambah poin kekagumanku pada Queen Theia, dia benar-benar hebat karena bisa mendesain kerajaan secantik ini.
Kami berjalan menaiki undakan tangga yang juga terbuat dari kristal es transparan dan saat mendekati puncak tangga, pintu depan istana pun terbuka. Seorang gadis dengan gaun berwarna merah gelap menatap kami. Mataku memperhatikannya dan aku langsung bisa menebak kalau dia adalah Petals Princess saat melihat mahkota yang terbuat dari kelopak bunga mawar merah di atas kepalanya.
"Selamat datang di White Land," sapanya lembut, "Aku Princess Maeve, penasihat utama kerajaan ini. Yang Mulia Queen Theia sudah menunggu kalian di dalam."
Perseus bergerak untuk berlutut di hadapan Maeve, "Terima kasih atas sambutannya, Yang Mulia."
Maeve tersenyum lembut, "Tidak apa, silakan masuk, King Hyperion." Maeve menggerakkan lengannya dan membuka jalan menuju istana.
Kami melangkah masuk ke dalam istana yang dinding, pilar, dan lantainya terbuat dari es. Semua pengawal dan pelayan ataupun dayang yang berkeliaran di sekitar kami memakai pakaian tebal sementara Princess Maeve hanya memakai gaun dengan bahan yang kutebak adalah beludru yang tidak terlalu tebal. Kurasa Princess itu memiliki kekuatan untuk menghangatkan dirinya sendiri, biar bagaimanapun dia memiliki kekuatan untuk mengatur seluruh aspek yang berada di alam termasuk udara.
Maeve mengajak kami berjalan menyusuri koridor-koridor panjang hingga akhirnya kami tiba di depan sebuah pintu. Maeve menganggukkan kepalanya pada kedua penjaga yang berdiri sisi pintu dan perlahan pintu itu terbuka.
Kami melangkah masuk dan yang pertama kali menyambutku adalah hamparan karpet berwarna putih yang menuju ke sebuah singgasana mewah yang terbuat dari es. Dan di atas singgasana itu aku melihat sosok seorang wanita dengan rambut platina dan mahkota dari kristal es di atas kepalanya.
Dan aku berani bersumpah bahwa itu adalah sosok paling cantik yang pernah kulihat seumur hidupku.
.
.
.
.
.
.
.
Aku berdiri saat King Hyperion dengan pasukannya yang ternyata sangat sedikit melangkah masuk ke dalam ruanganku. Mataku menatap mata King Hyperion yang terpaku padaku. Dia memiliki mata berwarna merah gelap dengan rambut coklat kemerahan, kulitnya agak tan dan tubuhnya tegap. Bahkan dalam balutan pakaian tebal itu aku bisa melihat ototnya yang menyelubungi tubuh itu.
Di sebelahnya ada seorang pria berambut pirang dengan kulit yang agak tan dan mata yang berwarna coklat gelap. Dia berdiri di dekat King Hyperion dan aku menduga dia adalah Perseus, ksatria utama kerajaan yang dipimpin King Hyperion.
Aku bergerak menuruni tangga dan berdiri di hadapan mereka, Maeve segera bergeser dan berdiri di sebelahku.
Aku tersenyum dan menatap wajah mereka semua "Selamat datang di White Land," kemudian kualihkan pandanganku pada King Hyperion yang masih terpaku menatapku, "King Hyperion.."
Aku bisa melihat mata Hyperion yang agak menggelap dan aku melihatnya menjilat sudut bibirnya sebelum kemudian belahan bibir itu terbuka dan melafalkan namaku, "Queen Theia.."
Ada suatu bagian dari hatiku yang tersentak saat mendengar namaku dilantunkan dari belah bibir milik King Hyperion. Tapi aku menutupi itu dengan memasang senyumku.
King Hyperion masih menatapku, "Aku tidak pernah menyangka salju menyimpan sosok seindah dirimu."
Aku tersentak, begitu juga dengan seisi ruangan itu ketika mendengar perkataan yang dilontarkan dengan nada begitu jujur dari sang pemimpin Kerajaan Selatan. Aku menatapnya, berusaha untuk tidak luluh karena sebagai seorang Ratu, aku pantang terlihat lemah di hadapan orang lain walaupun aku tidak bisa menyangkal sensasi hangat yang menyelubungi perutku saat mendengar dia mengatakan itu.
"Kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa disembunyikan oleh salju." ujarku akhirnya dengan lirih yang nyaris menyerupai bisikan.
Tapi kelihatannya Raja dari Kerajaan Selatan itu bisa mendengarku karena aku melihatnya tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.
.
.
.
Pertemuan pertama kami dilatar belakangi oleh kebutuhan masing-masing pihak.
Aku membutuhkannya untuk melindungi kerajaanku.
Dan dia..
Kurasa dia ingin mengambil keuntungan dari kerajaanku. Sama seperti apa yang orang luar selalu inginkan.
.
.
Aku tidak pernah terlalu tertarik menyambut pertemuan pertama kami.
Tapi ketika aku melihatnya..
Aku tahu kalau tujuan utamaku bukan lagi membantu kerajaan ini dan mengambil keuntungan dari sumber daya kerajaan ini.
Tujuan utamaku adalah mengambil alih hati Sang Ratu.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Haaaiii~
Akhirnya setelah sekian lama part pertama untuk ini selesai juga *tebar confetti*
Kuharap kalian tidak bingung soal namanya. Habisnya lucu kalau aku tetap menulis nama mereka sebagai Jimin dan Yoongi. Hahahaha
Pokoknya diingat-ingat saja siapa namanya. Hahaha
.
.
.
Review? XD
.
.
.
Thanks
