Ada yang masih inget sama fict ini? Hah, lupa? /pundung.

Makasih lho buat yang udah mereview.

- 2310 - : pergantian pov, waktu/tempat.

Don't like? Don't read!


Chap 2


(Naruto's Pov)

"Jadi apa maumu sekarang? Memakanku?"

Iblis itu tertawa kecil, lalu mendekatiku—dengan melayang tentunya. Dia menyentuh pipiku, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku dan menatap mata biru sapphire-ku lekat-lekat.

"Aku tidak akan memakanmu, aku hanya ingin menagih janji yang sudah kuterima, dan kaulah yang membuat janji itu dengan mulutmu sendiri."

"Janji apa, brengsek?! Harus kubilang berapa kali kalau aku tidak pernah membuat janji apapun dengan orang lain?! Apalagi dengan orang sepertimu! Kalau memang ada beritahu aku!"

Ia meraih daguku dengan jarinya dan menatapku datar, "Kau sudah tau, bukan?"

"Janji menjadi milikmu? Jangan bodoh, itu bukanlah sebuah janji!"

"Kalau begitu coba ingat-ingatlah sendiri, apa kau pernah membuat janji lain?"

Cih, sial, dia benar-benar membuatku kesal.

Plak.

Aku menepis tangannya dan mendorong tubuhnya menjauh, lalu menunduk.

"Buka pintunya."

Ia diam.

"Buka pintunya, sialan!"

(Normal's Pov)

Iblis itu tersenyum sinis, "Kau jadi kasar ya sekarang,"

"Berisik! Apa kau tidak mendengarku?!"

Brak!

Sasuke sudah berada di hadapan Naruto lagi dengan satu tangannya yang mengunci pemuda pirang itu di antara tubuhnya dengan pintu.

"Apa kau pikir aku akan menurutimu?"

Mereka bertatapan sengit.

"Minggir! Kau terlalu dekat!"

Naruto terus saja berontak, sampai akhirnya…

Bruk.

Ia terdiam saat iblis di depannya memeluk lehernya.

"Oi… Apa yang kau… Lakukan?"

Sosok yang memeluknya hanya terdiam menunduk, "…Cih,"

Naruto masih saja diam, perlahan pandangannya melembut, 'Kenapa… Rasanya seperti aku sudah pernah merasakan ini?'

"Naruto…"

Sasuke mulai menatap pemuda pirang di hadapannya, diraihnya wajah itu, dan ia mendekatkan wajahnya sampai bibir mereka bertemu lagi.

Satu menit…

Dua menit…

Tiga me—

Deg.

Mata safir itu kembali terbuka.

Duak!

"Apa yang kau lakukan, hah?! Brengsek!"

Wajah tampan iblis itu terkena pukulan, ia memegangi pipinya, "Kenapa? Tadi kau menerimanya,"

Naruto terdiam, "…Kau… Kau menjengkelkan!"

Brak!

Pemuda pirang itu keluar begitu saja. Sementara sang iblis menunduk dan sedikit menggeram, "Cih,"

.

.

.

.

Naruto sedang berlari menuju kamar kakaknya, ia menutupi mulutnya, 'Bodoh… Kenapa aku terbawa suasana?'

Brak!

"Aniki!"

Mata safirnya terkejut saat melihat di atas tubuh sang kakak ada sosok yang tidak jauh berbeda dengan sosok yang tadi ada di kamarnya.

Ia menggeram, "Brengsek! Siapa kau?! Jangan mengganggu kakakku!" Pemuda pirang itu hendak memukul sosok hitam yang ada di atas tubuh kakaknya, namun ia gagal karena sosok itu menghilang dan kembali muncul di lain tempat.

"Tenanglah, aku tidak macam-macam dengan kakakmu."

Sebuah bayangan hitam muncul di sebelah Itachi—nama iblis yang baru saja hendak dipukul Naruto—bayangan itu memunculkan seseorang setelah menghilang.

"Ah, Sasuke, kau sudah kembali."

Naruto menatap tajam pada dua sosok hitam yang ada di hadapannya, "Siapa… Siapa kalian sebenarnya?!"

"Tanyakan saja pada kakakmu," ujar Itachi.

"Aniki…" Pemuda pirang itu menatap kakaknya, namun sang kakak malah menghindari tatapannya.

"Kau sudah memberitahunya, Aniki?" tanya Sasuke pada Itachi.

"Begitulah. Apa kau belum?"

Sasuke terdiam.

"Hm… Dilihat dari keadaanmu dan reaksi anak itu, sepertinya kau belum memberitahunya."

Pemuda raven itu menghindari tatapan sang kakak.

"Baiklah, sebaiknya kami pergi sekarang, tidurlah yang nyenyak," Itachi tersenyum, lalu menepuk pundak adiknya dan mereka berdua menghilang.

"Aniki… Apa yang kau ketahui?" Naruto kembali menatap kakaknya, namun sang kakak masih saja menghindari tatapannya.

"Aniki! Tatap aku!"

Deidara terus diam.

Naruto menunduk, "Baiklah… Kalau kau memang tidak mau menatapku tidak apa, tapi beritahu aku,"

"…Kau tidak usah tau."

"Apa? Kenapa begitu? Aku juga diganggu!"

"Kubilang tidak usah ya tidak usah!"

Naruto merasa kesal, "Kau… Kau tidak tau 'kan apa yang dilakukan Sasuke padaku?!"

Deidara terkejut mendengarnya.

"Apa… Apa yang dilakukan Sasuke padamu?" Ia menatap sang adik.

Naruto terdiam, kali ini giliran dia yang menghindari tatapan sang kakak. Ah, sepertinya ia salah bicara, tidak mungkin 'kan ia bilang semua hal yang terjadi di kamarnya tadi?

"Naruto!"

"Tidak… Bukan apa-apa."

Deidara tersenyum sinis, "Jadi kau mencoba membohongiku? Jawab aku, Naruto!"

"Bukan apa-apa, Aniki!" Pemuda pirang itu segera turun dari kasur kakaknya, "Aku… Mau tidur," ujarnya tanpa berbalik. Ia pun meninggalkan kamar sang kakak.


- 2310 -


"Naru! Dei! Bangun! Ini sudah pagi!" Terdengar suara teriakan seorang wanita paruh baya dari bawah sana, sebut saja sang ibu—Kushina.

Kedua Namikaze muda itu langsung terbangun setelah mendengar teriakan sang ibu, "Akh…" keluh mereka berdua. Suara ibu mereka ini memang dasyat.

Selesai mandi dan sebagainya, mereka turun ke bawah, menjumpai sarapan yang telah ada.

"Kau tidak mau membawa mobil hari ini, Dei?" tanya sang Ayah—Minato.

"Yah, kalau Tou-san mengizinkan, boleh saja."

Minato tertawa, "Tentu saja aku mengizinkannya. Kalian terlalu sering membawa motor, tidak ada salahnya 'kan sekali-sekali membawa mobil?"

"Hm," Deidara mengangguk, "Kalau begitu kami berangkat,"

"Hati-hati di jalan."

.

.

.

.

- Di Perjalanan -

"Hhh… Untunglah tidak macet lagi," Naruto menghela nafas lega begitu jalanan sudah mulai lancar setelah mereka terjebak macet selama dua puluh menit.

Sementara sang kakak hanya terus berkonsentrasi mengendarai mobilnya.

"Hei, kami ikut ya," ujar seseorang.

Deidara terkejut melihat seseorang di jok belakang melalui kaca depan mobilnya.

CKIIITTT.

"U-Uwah, Aniki! Kendarai mobilmu dengan benar! Kau mau kita celaka?!" omel Naruto.

"Maaf…" Deidara langsung melihat ke belakang dengan tampang kesal, "Apa yang kau lakukan di sini?!"

Naruto ikut melihat ke belakang, ia sedikit terkejut saat melihat Sasuke juga ada di sana, ia pun langsung kembali menghadap depan dan duduk diam.

"Tenanglah, Dei. Sudah kubilang kami hanya ingin ikut," Itachi tersenyum.

"Kau… Keluar!"

"Sssttt, lebih baik kita segera jalan kalau tidak mau telat."

Ah, benar juga. Deidara melupakan waktu.

"…Sekali ini saja, cih," Pemuda berambut pirang panjang itu pun kembali menghadap depan dan menjalankan mobilnya.

Sementara itu Itachi melirik adiknya dan Naruto, mereka saling diam. Apa kemarin Sasuke melakukan sesuatu yang berlebihan? Fuh, padahal Itachi sudah memperingatkannya agar tidak terburu-buru.


- 2310 -


Dari pagi hingga siang ini Naruto terus mendiami Sasuke. Entahlah, mungkin kejadian kemarin malam masih mengganggunya.

Bahkan di waktu istirahat begini ia lebih memilih ke atap daripada harus di kelas bersama Sasuke, sungguh hari ini ia benar-benar tidak mood melakukan apapun.

.

.

.

.

"Sudah cukup kau mendiamiku sehari ini."

"Kau…" Tanpa menoleh pun Naruto sudah tau siapa yang ada di belakangnya.

"Naruto—"

"Jangan mengikutiku! Aku tidak suka!" Pemuda pirang itu pun berlari ke dalam, meninggalkan pemuda raven itu sendiri.

Sasuke menunduk, "Cih…"


- 2310 -


'Sial, apa sih maunya? Apa karena janji yang dia bilang itu? Cih, persetan dengan janji itu!' batin Naruto, 'Arghhh, sungguh, hari ini aku benar-benar tidak bisa berpikir secara normal! Mungkin sebaiknya aku membasuh muka saja agar lebih fresh,'

Pemuda pirang itu pun menuju kamar mandi dan membasuh mukanya beberapa kali.

"Jangan menghindariku."

Gerakan tangan Naruto terhenti, ia menggeram.

"Sudah kubilang jangan mengikutiku!" Ia menatap tajam orang di belakangnya.

Sementara itu Sasuke hanya terdiam, dan perlahan mendekati Naruto.

"Apa? Apa lagi yang mau kau lakukan?" Pemuda pirang itu juga mulai berjalan mundur, bagaimana pun ia harus tetap waspada.

Bruk.

Sayang keberuntungan sedang tidak berpihak pada Naruto, ia malah menabrak tembok di belakangnya.

Sasuke terus mendekatinya.

"Jangan mendekatiku… Jangan mendekatiku!"

Langkah pemuda raven itu terhenti, "Aku hanya ingin bertanya,"

Naruto tidak merespon.

"Kenapa kau menghindariku? Apa kejadian kemarin malam yang menyebabkannya?"

"I-Itu…" Naruto mengalihkan pandangannya.

Sasuke terus menatap Naruto, ia menunggu kata-kata pemuda pirang itu selanjutnya.

"Argh, sudah cukup! Jangan membuatku pusing, aku muak denganmu! Aku benci padamu, Sasuke!"

Onix itu melebar, pemuda raven itu menunduk, kemudian kembali menatap geram pada Naruto ditemani mata merahnya.

"He-Hei! Apa yang kau lakukan, Sasuke?!" Pemuda pirang itu meronta saat tangannya ditarik paksa oleh pemuda raven itu.

BRAK!

"AKH!"

Dengan kasar Sasuke menghantamkan tubuh Naruto pada pintu kamar mandi yang sudah terkunci. Ya, iblis satu ini membawa mangsanya masuk ke dalam salah satu bilik. Ia juga mengunci salah satu tangan pemuda pirang itu di belakang tubuh.

"Naruto… Aku haus. Bagaimana kalau kau menyumbangkan sedikit darahmu padaku?"

"Apa? Jangan bercanda! Lepaskan, akh!"

"Kau tidak bisa diam ya. Apa boleh buat, sebaiknya kita cepat mulai."

Pemuda raven itu langsung menancapkan taringnya pada leher mangsanya.

Safir itu melebar, "A-Ahhhh!" Sakit…

"Sssttt, tenanglah, Naruto. Kau tidak ingin ada yang melihat ini 'kan?" Sasuke membungkam mulut Naruto dengan tangannya.

"Mph! Mh! Mh!" Pemuda pirang itu memejamkan matanya untuk menahan sakit yang melanda lehernya.

"Ah… Sakit, Sasuke…"

"Hentikan… Akh…"

"Naruto… Kau ingin mencoba darahmu? Rasanya nikmat," Iblis itu mengambil sedikit darah mangsanya dengan jari, lalu memasukkan jari itu ke dalam mulut sang mangsa itu sendiri.

'Ini menggelikan…' batin pemuda pirang itu.

Sasuke kembali menancapkan taringnya pada leher tan itu.

"Akh! Uhuk-uhuk!" Naruto tersedak karena adanya jari-jari Sasuke.

'Sial…'

Krek.

"Ahhh!"

Naruto baru saja menggigit jari Sasuke, namun ia langsung terkena imbas keterkejutan iblis itu sendiri—taringnya menancap semakin dalam.

"Hentikan…"

'Ah… Kenapa dia jadi seperti ini?' Safir Naruto mulai sedikit menyayu, 'Kalau begini terus aku bisa pingsan, darahku…'

"Sasuke… Aku mohon…"

Mata merah itu melebar saat mendengar suara lemah Naruto—seolah-olah dia tersadar dengan apa yang dilakukannya, mata merah itu kembali berubah menjadi hitam.

"Naruto…" Ia menarik taringnya keluar.

Bruk.

Pemuda pirang itu sedikit lunglai.

"Naruto, kau baik-baik saja?" Ah, sepertinya ia terlalu berlebihan, ia pun menyembuhkan bekas luka gigitannya.

"Naruto…"

PLAK!

"JANGAN MENYENTUHKU! Kau… KAU MENYEBALKAN!" Pemuda pirang itu pun segera pergi dari bilik itu.

Sementara Sasuke hanya terdiam mendapat tamparan itu, ia menunduk sambil memegangi pipinya, "Cih,"

Pemuda raven itu tau kalau ia berlebihan, entah kenapa kata "benci" dari pemuda pirang itu membuatnya hilang kendali.


TBC


Thanks for read. :) Review?