Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rated : M
Genre : Romance
Pair : NaruHina
Warning : Typo, Abal, OOC.
Hope You Like It….
Happy Reading….
.
.
.
.
.
Suasana pagi di Japanese Univercity waktu menunjukkan pukul 07:30, tampak seorang pria yang memiliki tanda garis dikedua pipinya berjalan santai di koridor kampus, matanya memandang menjelajahi sekitar berusaha mencari-cari sahabatnya. Terlihat dari jauh seorang gadis berambut pirang pucat ponytail tersenyum melihat pemuda yang dikaguminya itu.
"Kiba, akhirnya bertemu denganmu" gadis itu menampilkan senyum termanisnya, sedangkan Kiba melengos tidak suka bertemu dengan gadis ini.
"ada apa? Mau mengajakku makan bareng? Sudah kubilang aku tak akan pernah menjawab iya" Ino gadis itu makin tersenyum mendengar penuturan Kiba.
"yahh ku anggap itu sebagai jawaban iya disuatu hari nanti. Aku hanya memberikan ini kepadamu." Jawab Ino kalem sembari memberikan sesuatu kepada pria itu. Kiba mengernyit heran melihat sesuatu yang diberikan oleh gadis ponytail itu.
"Coklat?"
"Iya. Naruto memberitahuku bahwa kau sangat menyukai coklat, jadi ku berikan kau coklat." Balas Ino tersenyum senang.
"Naruto bilang seperti itu kepadamu?" Kiba bertanya sedikit kesal mengetahui bahwa Naruto mengerjainya. Ino mengangguk sebagai jawabannya.
"Umm itu aku sendiri yang membuatnya, semoga kau suka. Ahh kelasku sebentar lagi dimulai, aku duluan." Ino tersenyum melambaikan tangannya pada Kiba.
"sialan Naruto." Desis Kiba.
Pria pirang itu memilih menghabiskan waktu istirahatnya berdiam diri di kelas. Ia mengambil posisi duduk mengarah keluar jendela kaca di ruang kelasnya, memandangi sesuatu ke bawah yang mengarah ke taman kampus, kelasnya berada di lantai dua.
"Naruto, aku ingin berbicara denganmu!" Seru pria bernama Kiba itu duduk di sebelah si pirang. "bisa jangan ganggu aku dulu, aku sedang memandangi pemandangan yang indah" sahut si pirang dengan tatapan mata yang masih mengarah ke bawah.
"Kenapa kau mengatakan hal yang menjijikkan kepada Ino tentang diriku? Coklat? Bah yang benar saja bahkan aku tidak pernah memakan makanan itu." Celoteh Kiba tanpa menggubris penolakan Naruto. "Hei kau mendengarku tidak?" geram Kiba.
"Sudah kubilang aku tidak ingin di ganggu sekarang." Kiba mendengus kesal dan mengikuti arah pandangan Naruto karena penasaran apa yang dilihat sahabatnya ini sampai-sampai pria itu mengabaikannya.
Dan disanalah terlihat seorang gadis lavender tengah membaca buku di bawah pohon, surai indigonya berterbangan kecil tertiup angin. Walaupun di lihat dari lantai dua wajah gadis manis itu masih tetap terlihat. Kiba langsung menyeringai melihat apa yang dilihat Naruto.
"Jadi lagi-lagi dia yang membuat kau mengabaikanku, eh?" Kiba mengalihkan tatapannya ke arah Gaara yang berada di pojok ruangan. Gaara berdehem yang diartikan ya untuk mewakili jawaban Naruto lalu pria dengan surai pirang itu terfokus kembali ke handphone nya.
Melihat Naruto yang masih memfokuskan pandangannya pada seorang gadis dibawah, Kiba menginterupsi. "Hei, sebenarnya apa yang kau lihat, wajahnya atau tubuhnya?"
"dadanya." Ceplas Naruto tersenyum miring.
Kiba langsung tertawa terbahak mendengar jawaban si surai pirang itu sedangkan Gaara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Gadis bersurai indigo berjalan di koridor kampus bergegas untuk pulang kerumahnya, akhirnya mata kuliah hari ini cepat selesai. Hinata berjalan ke arah lokernya untuk menaruh beberapa buku tebalnya di dalam loker, menyusahkan memang bila menaiki kendaraan umum sambil menenteng buku yang lumayan tebal. Jadi ia memutuskan untuk menaruhnya di loker kampus. Gadis lavender itu mendesah lelah, memikirkan tugas-tugas kuliahnya yang akhir-akhir ini sedang menumpuk.
Hinata menemukan secarik kertas berwarna Lavender beraroma citrus di dalam lokernya. Hinata mengernyit heran membaca tulisan yang tertulis di kertas itu.
Temui aku di ruang musik. Aku menunggumu ;)
~Your Admirer.
Hinata menduga-duga siapa yang menulis ini untuknya 'apa mungkin Sasuke yang menulis ini?' Hinata tersenyum-senyum memikirkan dugaannya itu. Hinata segera melangkah ke ruang musik, lalu tanpa sengaja menabrak Mikaela si gadis bule yang terkenal angkuh, iris hazel nya menatap emosi Hinata.
"Maaf" Hinata berseru maaf atas kecerobohannya hingga menabrak orang.
"Apa selama ini matamu hanya dipergunakan sebagai pajangan saja Hyuuga?" Mikaela berucap sinis. "maaf Mikaela-san disini memang aku yang salah. Dan aku sudah minta maaf. Lagipula kaki mu tidak patah kan? Atau kau tidak cedera parah, bukan?" Hinata berucap kalem, dirinya sudah biasa di hujani kata-kata sinis oleh Mikaela.
"Jadi kau menyumpahi aku, supaya kaki ku patah? Kau benar-benar tak tahu diri Hyuuga!" gadis bule itu menggeram marah lalu melayangkan tangannya hendak menampar gadis lavender di hadapannya.
Hinata memejamkan matanya takut. Sampai beberapa detik kemudian Hinata tak merasakan apapun, perlahan ia membuka kedua matanya. Dirinya terkejut mendapati seseorang yang menahan tangan gadis bule itu.
"Na,Naruto?" Hinata bergumam kaget. Sedangkan Mikaela terkejut sekaligus shock karena dihadapannya kini adalah Namikaze Naruto si pria tampan yang sangat di dambakan oleh para mahasiswi di sini.
"Untuk seorang wanita kau sangat kasar, Mikaela-san" Suara baritone serak Naruto menginterupsi kedua gadis di situ untuk segera terbangun dari keterkejutannya. Mikaela gadis bule itu sekilas terpana pada Naruto sebelum akhirnya menunduk "M,Maafkan aku." Mikaela sedikit tergagap, masih terkejut karena di peringati oleh seseorang yang ia kagumi.
"Kau tidak akan mengulanginya lagi, bukan?" Mikaela mengangguk sebagai jawabannya. "baiklah kalau begitu kau boleh pergi." Gadis bule itu segera meninggalkan tempat itu. Pria pirang itu beralih pada gadis lavender di sampingnya.
"Ternyata berusaha menunggumu membutuhkan sedikit kesabaran ekstra, sudah setengah jam aku menunggumu di ruang musik ternyata hal tadi yang membuatku menunggu hingga aku memutuskan untuk mencarimu." Hinata mengernyit bingung maksud perkataan Naruto.
Atau jangan-jangan surat itu sebenarnya dari Naruto? "Kau baru menyadarinya, hmm? Surat yang kau temui di lokermu itu memang dariku. Kau pikir memang siapa lagi di sini yang mengagumimu selain aku." Naruto berucap dengan nada lembut sedikit merajuk.
Hinata mengerjapkan matanya tidak percaya. Apa katanya tadi?
"Kali ini kau harus mau pulang denganku. Tidak ada penolakan dan jangan mencoba kabur lagi dariku!" Pria itu berucap tegas tak ingin dibantah. Lalu segera meraih tangan mungil itu ke genggamannya.
Range Rover itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern yang berdiri megah dengan taman kecil di samping rumah tersebut. Naruto memandang rumah gadis lavender yang kini tengah duduk disebelahnya, ternyata gadis ini termasuk dari keluarga yang kaya. Selama ini gadis itu selalu berpenampilan sederhana.
Naruto beralih pada Hinata lalu menyerahkan secarik kertas yang ia ambil dari dashboard mobilnya. "berikan aku nomor ponselmu." Hinata balas menatap Naruto "U,Untuk apa Naruto-san meminta nomor ponselku?" Naruto mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Hinata. "Tentu saja untuk menghubungimu"
Naruto mengambil kembali kertas dan pulpen dari dashboard mobil lalu menulis sesuatu disana, lalu menyerahkannya pada Hinata. "Ini nomor ponselku" Hinata menerimanya dengan rasa tidak percaya. Bayangkan ia mendapatkan nomor Naruto eksklusiv dari pria itu sendiri, gadis-gadis dikampusnya pasti akan sangat iri jika mengetahuinya.
"engg.. Ngomong-ngomong nomor mu ini untuk apa?" Hinata merasa bingung untuk apa pria itu memberikan nomornya pada Hinata. For god's sake Hinata kenapa jadi kau yang tidak peka?
"Jika kau mempunyai masalah dan ingin berbagi masalahmu kau bisa menghubungiku, darling" Naruto mengerling pada Hinata. Hinata merasakan darahnya berdesir mendengar Naruto memanggilnya seperti itu.
"Ti,Tidak perlu repot-repot seperti ini Naruto-san aku tidak membutuhkannya." Hinata berusaha menolak. "Kau tidak membutuhkannya, tetapi aku membutuhkan nomormu."
"Kau tidak berniat turun, darling? Atau kau ingin berlama-lama denganku?" Hinata tersentak "Ti,Tidak. Terima kasih atas tumpangannya Naruto-san" ia buru-buru membuka pintu mobil untuk keluar dari sana.
"Jangan lupa hubungi nomorku." Seru Naruto sebelum Hinata berjalan memasuki rumahnya.
Naruto menghela nafasnya, menyenderkan tubuhnya pada jok mobil. Tangannya memegang dada kiri dimana jantungnya sedang berdetak kencang, berusaha menormalkan detak jantungnya. Selalu seperti ini jika di dekat gadis itu.
To Be Continue…..
Halloooo minna… Jujur aja ini pertama kalinya aku ngepublish fanfict disini setelah sekian lama aku pasif jadi reader aja. Masih agak bingung keliatan kan dari chap pertama masih ancur. Tapi aku berusaha mengeluarkan imajinasi aku. Cerita ini juga aku masih terinspirasi dari seseorang tapi aku rombak dengan bahasa aku sendiri.
Jadii ya gitu hehehe, disini ada karakter namanya Mikaela imajinasi aku sendiri, bayangin aja deh muka cewe bule hehe. maaf kalau cerita ini mengecewakan. Mohon maklum.
Mind to review?
