(Kembalinya) Sang Putih

Utawarerumono X High School DxD

Chapter 02 : Singgasana Ratu

Written by : Fajeri No Misaki-kun

-~o0o~

"Nee.. Nee.. Irina-chan, main ke luar yuk!" ajak Camyu sambil menarik pergelangan tangan Iriana.

"Hee~?! Padahal kita baru saja sarapan barusan. Apa nanti tidak akan bikin sakit perut nantinya?" Iriana mengomentari dengan nada terkejut.

"Nggak apa, selama makan tanaman ini Iri-chan nggak akan sakit perut." Gumam datar Aruuru, seraya menunjukan daun bersisik di tangannya.

Melihat tanaman tersebut wajah Irina makin memucat. Lalu ia melirik pada Issei di sisi kanan meja makan. Issei meresponnya dengan sebuah senyuman yang memiliki maksud tertentu. Dan irina tahu apa yng di pikirkan oleh Issei.

'Main jangan jauh-jauh ya?'

Setelah itu Irina telah diseret oleh Camyu dan Aruuru menuju luar Istana.

"Yang benar saja nih?! Issei~!" Teriaknya ketika sudah meninggalkan ruang makan.

Tak bisa disangka, bagaimana bisa mereka berdua bisa seakrab itu dalam waktu sekejap. Memangnya ngapain aja mereka ketika sarapan tadi?

"Baiklah kalau begitu, sekarang waktunya kita pergi menuju ruang singgasana."

Kuon pun langsung beranjak menuju sebuah ruang utama di istana tersebut. Sebuah ruang dimana pertemuan resmi kerajaan diselenggarakan.

"Issei-dono, Arthur-dono.. silahkan ikuti Otou-sa—maksudku Hakuoro-sama menuju ruang singgasana. Saya akan pergi mempersiapkan diri terlebih dahulu." Lanjut Kuon.

"Baiklah kalau begitu, kami mengerti." Jawab Arthur dengan penuh wibawa.

Berjalan di lorong istana, Issei dan Arthur melihat seluk-beluk istana tersebut. Dio depan mereka nampak Hakuoro dan Oboro yang sedang menunjukan jalan menuju singgasana.

"Meskipun dibuat dengan kayu, tapi istana ini sangat bagus sekali. Dan juga dikerjakan dengan sangat teliti." Gumam Arthur sambil tetap memperhatikan ke arah ia berjalan.

"Yap, itu benar. Kurasa istana ini dibangun dengan ratusan pohon." Celetuk Issei.

Terasa tertarik dengan apa yang dibahas oleh mereka berdua, Oboro lalu melirik ke belakang. Tepat kearah Issei dan Arthur.

"Itu sudah biasa. Hampir semua istana di berbagai negeri juga dibangun dengan kayu."

"Memangnya di tempat kalian bangunannya seperti apa?" Lanjutnya.

Issei dan Arthur pun saling pandang, tak lama setelah itu mereka menatap Oboro dengan senyuman kecil.

"Ada beberapa rumah yang memakai kayu sebagai bahan utamanya, namun sebagian besar sudah menggunakan bahan beton." Jawab Arthur.

"Beton?"

Ternyata Hakuorou juga tertarik pada pembicaraan mereka. Arthur pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Hakuoro.

"Benar sekali, Hakuoro-sama. Manusia di dunia kami menggunakan campuran pasir, balok tanah liat yang dibakar, dan direkatkan dengan campuran perekat yang dinamakan dengan semen. Kami menyebutnya sebagai Beton." Arthur kembali menjawab.

"Hm, menarik sekali." Gumam singkat Hakuoro.

Terdengar suara tawa dari komplek halaman depan istana, Issei yang tertarik dengan suara tawa tersebut pun melihat ke arah luar lorong. Nampak Aruuru, Camyu, dan Irina sedang asyik bermain. Namun yang jadi perhatian adalah seekor harimau putih mengejar mereka bertiga. Aneh sekali, ini bukan seharausnya tertawa seperti itu, bukankah seharusnya mereka harus berteriak ketakutan?!

"Ah~ tenang saja, tidak perlu dikhawatirkan. Mukkuru itu harimau putih yang jinak."

Belum sempat Issei mengatakannya, Hakuoro yang juga melihat ke arah para gadis kecil yang bermain dengan seekor harimau itu mengatakan pada Issei untuk menahan kekhawatirannya.

"Tapi aku pun terheran juga, jarang sekali Aruuru dan Camyu dapat sengan mudahnya akrab pada orang yang baru saja mereka kenal."

"Ahahaha~~ maaf kan kawan saya. Kurasa Irina mirip dengan Urutorii-sama." Kata Issei sambil menggosok bagian belakang kepalanya.

"Tidak apa-apa, aku juga berterima kasih karena mereka berdua juga bisa memiliki teman baru."

"Tapi apa maksudmu dengan Urutorii mirip dengan Irina-dono?" Lanjut Hakuoro.

"Umtuk hal itu mungkin nanti Hakouro-sama akan mengerti. " Jawab Arthur yang sedari tadi berada di belakang Issei.

Hakuoro hanya bisa tersenyum mendapat jawaban yang belum bisa menjawab pertanyaannya barusan. Hakuoro hanya berpikir bahwa sekarang bukan saatnya untuk mengetahui hal itu.

Tak terasa mereka berempat sudah melewati pintu menuju ruang singgasana. Issei dan Arthur pun dipersilahkan untuk menempati tempat duduk yang sudah dipersiapakan. Tempat duduk yang hanya diberi alas bantal sebagai tempat bersila. Di hadapan mereka, kira-kira berjarak lima meter dari tempat bersila terdapat kursi singgasana tempat Ratu akan duduk nantinya.

"Silahkan duduk, Issei-dono, Arthur-dono. Maaf jika seandainya kurang nyaman."

Benawi yang ternyata sudah duduk di sisi kanan kursi singgasana pun mempersilahkan Issei dan Arthur untuk duduk. Sedangkan Hakuoro sudah duduk di sisi kiri singgasana, di ikuti pula oleh Oboro. Sedangkan yang lainnya masih belum datang, begitu pula dengan sang Ratu.

"Dengan senang hati akan saya terima." Sahut Arthur.

Satu jam telah berlalu semenjak Issei dan Arthur duduk di hadapan Ratu Tuskuru, Kuon. Semenjak itulah mereka berdua menjelaskan kondisi dunia mereka saat ini, serta alasan mengapa mereka datang ke dunia ini. Mereka menjelaskan dengan pelan dan teliti, agar diharapkan tak ada kesalahpahaman pikiran antara kedua belah pihak.

"Jadi begitu rupanya, untuk mengembangkan penelitian tentang Akuruka sebagai salah satu senjata untuk memenangkan perang terhadap musuh kalian."

Hakuoro berusaha menyimpulkan garis besar dari pembahasan selama satu jam tersebut. Dia mengatakannya sambil memegang dagunya yang sedang tertunduk.

Arthur mengangguk.

"Benar, Hakuoro-sama, Fraksi Aliansi kami tengah berperang dengan Maou lama yang berusaha mengganggu kedamaian di dunia kami."

Lalu Oboro pun bergumam. "Aku bahkan tak menyangka, Iblis, Malaikat, dan Malaikat Jatuh akan menyatukan kekuatan dalam sebuah aliansi."

Kemudian ia menghela nafas pelan.

"Namun, pastinya kau sudah tahu kan? Meskipun itu permintaan dari seseorang yang bernama Haku itu, kami tidak bisa dengan mudahnya untuk menyetujui hal tersebut. Kami khawatir keselamatan Ratu kami dan Hakuoro sebagai mantan Raja Tuskuru yang pertama bakal terancam." Lanjut Oboro seraya mengadahkan tangannya.

"Ya, saya sudah menduga anda akan mengatakan hal tersebut. Namun kami berharap permintaan egois kami ini untuk dapat dipikirkan dengan baik." Kata Arthut dengan sedikit menundukan kepalanya.

Melihat apa yang dilakukan oleh rekannya, Issei pun juga ikut menunduk sambil tetap duduk bersila.

"Kalian berdua, sudah cukup! Oboro Tou-sama, Arthur-dono."

Sang Ratu, Kuon pun berusaha melerai pembicaraan mereka berdua. Ia menatap pada Arthur dan Issei yang masih menunduk, lalu ia pun nampak tersenyum kecil pada mereka.

"Arthur-dono, Issei-dono.. angkat kepala kalian."

Mereka pun mengikuti titah Ratu dengan mengangkat kembali kepala mereka dan memposisikan kembali posisi punggung mereka berdua seperti sebelumnya.

"Terima kasih, Ratu." Kata Arthur dengan singkat.

Kuon pun memandang mereka.

"Memang benar, diriku ingin bertemu dengan Haku dan menghormati Haku sebagai pahlawan penyelamat bagi tiga negara..."

Kuon memotong perkataannya, kemudian gadis itu menatap ke arah Issei.

'Benar-benar... meskipun dia memendamnya karena alasan keformalan, namun sekilas sangat terlihat. Dia ini memiliki aura kehangatan yang mirip dengan Haku.'

Dalam hatinya, entah menapa ia merasa senang.

Sang Ratu pun berdiri dari singgasananya, lalu melanjutkan perkataannya.

"...namun hal ini berbeda, saat ini aku bukanlah sosok diriku yang dulu yang masih bisa mengembara kemanapun aku mau. Saat ini aku adalah seorang Ratu, pemimpin negeri yang bernama Tuskuru ini!"

Kuon mengatakan hal tersebut dengan lantang seraya memegang dadanya.

Melihat hal tersebut, membuat Arthur dan Issei menutup mata dan terdiam.

Berbeda dengan Artur yang masih terdiam, Issei pun membuka matanya.

"Ternyata benar apa yang dikatakannya. Haku-sensei sudah menduga anda akan berkata seperti itu." Issei mengakiri perkataannya dengan senyuman 'sudah-kuduga' pada Kuon.

Kuon merespon hal itu dengan keterkejutan dan wajah yang memerah dan makin memerah. Lalu ia mengepal tangan kanannya dengan penuh rasa kesal yang bersiap akan meledak. Terlihat sebuah kedutan di dahi dan di kepalan tangannya tersebut.

"Kuon?" Gumam Oboro yang agak khawatir padanya.

Lalu dengan cepat melepaskan semuanya pada sebuah tinju yang di arahkan pada wajah Oboro dengan tak sengaja.

" "Nii-sama!" "

Hasilnya, Oboro pun terkapar tak berdaya yang segera digotong keluar ruang singgasana oleh Dorii dan Guraa.

"Dasar kau, Haku!" Teriak Kuon.

Ditengah suasana gaduh tersebut, seorang prajurit Tuskuru berlari menuju ruang singgasana. Lalu dengan cepat ia menghadap pada Ratu. Ia datang dengan nafas terengah-engah.

"Mohon maaf, Ratu!"

Kuon langsung menata dengan fokus pada prajurit tersebut, begitu pula dengan semua orang yang berada di ruangan tersebut.

"Ada apa?!" sahut Kuon.

"Perbatasan barat telah diserang! Dari seragam yang dikenakan prajuritnya, tak salah lagi jika mereka berasal dari KerajaanTakumuri!"

"APA?!" Seru Kurou yang segera berdiri dengan penuh keterkejutan.

"Bukankah mereka masih terikat dengan perjanjian non-agresi bilateral dengan Kerajaan kita?" Ujar Benawi, kali ini ia berbicara dengan nada serius.

"Kurasa dengan perjanjian yang telah ada sejak 10 tahun lamanya tanpa adanya peninjauan dan pembaruan pada perjanjian tersebut dapat menjadi alasan untuk memulai perang. Apalagi kudengar telah terjadi pergantian kekuasaan dari Raja Magano kepada anaknya, Uraazisha." Kata Hakuoro dengan nada menjelaskan.

"Kita tidak bisa diam begitu saja! Ratu, beri kami perintah!" Ujar Kurou.

Kuon hanya terdiam tertuntuk sambil tetap berpikir.

Tak lama kemudian datang lagi seorang prajurit. Kali ini prajurit tersebut mengalami sedikit luka pada pipinya.

"Lapor, Ratu! Gerbang perbatasan barat telah ditembus! Saat ini prajurit kerajaan Takumuri sedang menjarah di desa Yarashi yang berada dekat pebatasan!"

"RATU!" Teriak Kurou dengan sangat lantang.

Lalu Ratu pun membuat keputusan.

"Benawi, Kurou.. Ini waktunya pembalasan!"

"Osu~!" gumam Kurou.

"Dengan senang hati, Ratu." Kata Benawi.

"Namun aku tidak ingin banyak nyawa melayang sia-sia disana, setidaknya pukul mundur mereka hingga keluar perbatasan. Akan tetapi..."

Benawi dan Kurou mentap ke arah Kuon.

"...akan tetapi, jika mereka tidak mau keluar dari perbatasan kita, maka tak ada pilihan lain." Lanjutnya.

"Sejujurnya sangat disayangkan, namun baiklah, akan saya laksanakan." Kata Kurou.

"Kuon, ayah akan ikut mereka juga."

Kuon nampak melebarkan matanya dan segera berputar badan menatap ayahnya, Hakuoro.

"Kurasa sudah lama ayah tak ikut ke medan tempur setelah sekian lama. Lagipula ayah juga ingin mencoba pedang baru milik ayah."

"Tapi—"

"Tak apa, ayah juga sudah benar-benar pulih saat ini."

Hakuoro lalu mengelus kepala Kuon yang sedang menunduk.

"A-ano~~"

Langsung menggosok kelopak mata dengan lengannya, Kuon melirik ke arah Issei.

"Ah, maafkan aku, karena hal ini aku jadi sempat melupakan kehadiran kalian berdua."

"Tidak.. sungguh itu tidak apa-apa. Namun kali ini bolehkan saya meminta sesuatu dari anda?"

"Permintaan? Apa itu?" tanya Sang Ratu.

"Jika diperbolehkan, apakah kami bisa ikut berperang dengan kalian?"

Lalu suasana di ruang tersebut menjadi hening, sembari menatap pada Issei.

"HA~~?"

Suara sang Ratu akhirnya memecahkan keheningan singkat tersebut.

TO BE CONTINUED...

PLEASE LIKE AND REVIEW.. ^O^)/

HOPE ENJOY...

SEE YA NEXT TIME...