Disclaimer :
Bleach by Tite Kubo-sensei
Your Voice by Lenalee Shihouin
Pairing[s] : Ichigo Kurosaki and Rukia Kuchiki
Genre : Romance and …?
::: Chapter 2 :::
Again
"Laki-laki berambut orange?" Hinamori menggeleng menandakan dia tidak kenal.
"Kau yakin dia anak sekolah ini?" tanya Rangiku setelah Rukia bertanya pertanyaan yang sama pada perempuan satu ini.
"Aku bertanya pada kakakku, dia juga tidak tahu. Tapi aku yakin dia anak dari sekolah kita," kata Rukia yakin.
"Kenapa bertanya pada kakakmu? Kau ini polos sekali, Rukia," ujar Rangiku mengelus-elus kepala Rukia.
"Memangnya kenapa kalau aku bertanya pada kakakku, lagipula dia guru di sini, mungkin saja dia tahu," kata Rukia menepis belaian Rangiku pada kepalanya.
"Hisana-sensei itu guru kesehatan kelas reguler. Jangan bilang kau lupa kalau di sekolah ini memiliki dua gedung berbeda ya," kata Rangiku berkacak pinggang.
Rukia baru menyadari satu hal. Benar yang dikatakan Rangiku. Rukia berada di gedung kelas reguler yang berada di bagian timur, sedangkan gedung yang berada di bagian barat di sebut gedung kelas khusus. Khusus? ya, benar. Bisa dibilang kelas para seleb berkumpul, anak jutawan, itu jika keuangan keluarga bisa menyanggupinya, kalau tidak minimal harus mampu masuk berkat beasiswa. Intinya yang sangat kaya tau jeniuslah yang bisa diterima.
Rukia jadi ingat ketika Byakuya memberi pilihan kelas khusus untuknya ketika akan masuk sekolah ini. Tapi Rukia yang bisa dibilang tidak suka merepotkan orang lain itu dengan halus menolaknya. Bukan hanya karena takut memakai uang keluarga Kuchiki dalam jumlah yang banyak, tapi juga baginya masa SMA memang seharusnya dinikmati tanpa beban pikiran yang berarti.
"Ah! Benar juga Rangiku-san," kata Rukia setelah lumayan lama berpikir tentang ini dan itu.
"Apanya?" tanya Rangiku heran dan mengira pembicaraannya dengan Rukia telah berakhir sejak tadi.
"Seragamnya mirip dengan kita, tapi seingatku warna jasnya memang berbeda dengan jas yang dipakai anak laki-laki di sini," kata Rukia membiarkan mulutnya menggambarkan ciri-ciri orang yang dia cari.
"Warnanya putih?" tanya Rangiku seolah memastikan.
Rukia mengangguk cepat setelah seluruh ingatan tentang apa yang ia lihat kemarin tergambar jelas di memori otaknya.
"Kalau begitu tidak salah lagi. Ada perlu apa dengan siswa kelas khusus?" tanya Rangiku menyelidiki karena penasaran.
"Aku mau mengembalikan sesuatu. Terima kasih atas petunjuknya," kata Rukia kemudian memutar-balik langkahnya.
"EITTS! Tunggu dulu, Rukia!" cegat Rangiku menghalangi jalan Rukia.
Rukia yang kaget dengan refleks berhenti menuruti perintah Rangiku.
"Biar aku jadi petunjuk jalan," kata Rangiku setengah tertawa.
"Jangan, nanti dia malah keluyuran mencari pangeran impiannya di sana," ujar Hinamori yang sejak tadi hanya jadi penonton akhirnya angkat bicara.
Rangiku menandai wajah kesalnya dengan kerutan pada alisnya. Ternyata yang dikatakan Hinamori memang benar adanya. Hinamori tidak merespon apa yang telah digambarkan jelas wajah Rangiku, Hinamori justru memanggil Tatsuki Arisawa dan mengajaknya ikut andil dalam pembicaraan mereka.
"Mau ke gedung kelas khusus?" pertanyaan itu muncul dari mulut Tatsuki pada Rukia.
"Hmm, bisa antar Kuchiki-san ke sana?" tanya Hinamori.
"E-eh, tidak usah repot-repot, Hinamori. Aku bisa ke sana sendiri," Rukia berusaha menolaknya.
"Jangan bodoh, Kuchiki. Kau tidak tau seberapa luas gedung kelas khusus itu," kata Tatsuki menaikkan alis kirinya.
"Seluas apa? Bukannya sama saja dengan gedung sekolah kita?" Rukia bertanya.
"4 kali lebih luas dari yang kau lihat dari luar, Kuchiki. Untuk apa kau ke sana? Kalau tidak begitu penting, urungkan saja niatmu itu," kata Tatsuki menyarankan.
"Tidak bisa! Keputusan sudah bulat. Aku harus mengembalikannya!" kata Rukia berapi-api.
"O-oh, sebegitu pentingkah benda yang ingin kau kembalikan, Kuchiki-san?" tanya Hinamori yang terlihat agak kaget melihat Rukia bicara seperti tadi.
Rukia bergegas membuka tasnya dan menunjukkan sebuah payung berwarna coklat muda itu pada Hinamori, Rangiku, dan Tatsuki. Secara otomatis hal itu membuat mereka bertiga ternganga dan memandang heran pada Rukia.
"Pa-payung?" tanya Tatsuki.
"Cuma ini?" Rangiku bertanya dengan nada meremehkan kemudian mencoba menyentuh payung tersebut. Sedangkan Hinamori masih heran dengan apa yang dilihatnya.
"Iya, memang 'cuma ini', tapi berkat payung ini aku sungguh tertolong. Tidak sopan bila aku tidak mengembalikannya," kata Rukia.
"Urungkan saja niatmu," Tatsuki mengulangi sarannya pada Rukia.
Rukia dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata," aku bisa ke sana sendiri."
Rangiku, Hinamori, dan Tatsuki saling memandang seolah bertukar pikiran.
"Ku-kuchiki! Aku akan mengantarmu," cegat Tatsuki agak cemas saat Rukia sudah melangkahkan kakinya menjauh dari 3 orang ini.
"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Rukia.
"Tidak apa. Lagipula aku juga ingin menyapa temanku yang ada di sana," kata Tatsuki mengembangkan sedikit senyum pada bibirnya.
"Di sana nanti, jangan jauh-jauh dariku!" kata Tatsuki mengundang kerut pada kedua alis Rukia.
"O-okey," Rukia mengiyakan peringatan Tatsuki dan berjalan melewati koridor bersama Tatsuki menuju gedung sekolah bagian barat.
"Rukia itu benar-benar polos ya, padahal cuma payung," kata Rangiku pada Hinamori.
"Hmm, tapi mungkin bagi Kuchiki-san, payung itu adalah sepatu kaca yang harus dikembalikan pada sang pangeran," kata Hinamori tersenyum kecil.
"Haah… Kau berlebihan, dasar ketua klub drama," kata Rangiku memandang Hinamori.
"Ngomong-ngomong soal drama, kau sudah berubah pikiran tentang tawaranku jadi penyihir jahat, Rangiku-san?"
"Seumur hidup aku tidak akan mau!"
"Ehhh?"
.
.
Rukia dan Tatsuki telah sampai di depan gerbang pembatas antara gedung timur dan barat. Dibalik gerbang inilah Rukia berharap sekali lagi bertemu dengan laki-laki yang telah menolongnya itu. Mungkin kedengaran berlebihan, hanya demi sebuah payung inilah yang membuat Rukia membulatkan niatnya bertemu lagi dengan orang yang wajahnya begitu mirip dengan Kaien. Tapi berdasarkan norma kesopanan yang telah ditanamkan pada diri Rukia sejak kecil itu, dia akan tetap melakukannya.
Rukia menggenggam erat payung dalam genggaman tangan mungilnya kemudian menatapnya agak lama hingga ia menyadari sesuatu yang tertangkap mata violetnya.
"Rukia? Sampai kapan kau mau diam di sana?" tanya Tatsuki mengagetkan Rukia yang terperangah.
.
.
"Ingat apa kataku, jangan jauh-jauh dariku," kata Tatsuki yang entah ke berapa kalinya dia menasehati Rukia dengan kalimat yang sama.
"Tatsuki sepertinya sangat hafal dengan gedung ini," kata Rukia memulai pembicaraan setelah lama mereka berdua sama-sama terdiam.
"Hmm, temanku siswa kelas khusus, dia yang menunjukkan jalan ini padaku."
"Oooh.."
"Dia benar-benar beruntung bisa masuk ke kelas khusus berkat beasiswa."
"Oh, ya? Hebat!"
"Begitulah. Yah, walau dari tampangnya dia tidak kelihatan pintar sama sekali," kata Tatsuki diikuti tawa dari Rukia.
"Lebih baik kita temui temanku itu dulu, siapa tahu dia kenal orang yang kau cari," kata Tatsuki menghentikan langkahnya untuk sengaja mengatakan hal itu.
Rukia mengangguk menandakan dia menyetujui saran dari Tatsuki.
"Ng? Tatsuki!" panggil seorang laki-laki pada Tatsuki.
Tatsuki menoleh ke arah sumber suara kemudian dia melambaikan tangannya pada laki-laki itu. Rukia tidak terlalu jelas melihat laki-laki yang memanggil guardnya ini karena pandangannya tertutupi tubuh Tatsuki yang lebih tinggi darinya.
"Yo, sedang apa kau di sini?" tanya Tatsuki pada orang itu.
"Harusnya aku yang bilang begitu!" kata laki-laki itu, suaranya makin jelas terdengar nampaknya dia menghampiri Tatsuki.
"Aku mengantar temanku, dia mencari seseorang," kata Tatsuki mulai membuka celah pandangan untuk Rukia terhadap laki-laki lawan bicaranya.
"Ah! Kau!" teriak Rukia dan laki-laki itu bersamaan. Ternyata teman Tatsuki adalah orang sedang Rukia cari.
"Ka-kalian saling kenal?" tanya Tatsuki yang heran melihat dua orang di depannya saling tunjuk dan berteriak secara bersamaan.
"Oii, kau lama sekali. Kemana saja?" tanya seorang laki-laki lain, sepertinya pertanyaan itu untuk laki-laki berambut orange di hadapan Rukia ini.
Rukia dengan jelas melihat dua orang laki-laki di belakang si orange tersebut. Warna rambut dua orang lainnya sangat mencolok apalagi bila si orange ini ada di dekat mereka. Merah dan biru, ditambah orange, sungguh warna yang menyilaukan. Seperti melihat pelangi setelah hujan reda saja, ah, sayang tidak ada yang berwarna hijau.
"Pe-pelangi?" ujar Rukia tidak sengaja mulutnya mengatakan hal itu.
Terang saja kata yang keluar dari mulut Rukia mengundang tatapan sinis dari para pemilik rambut yang tersinggung. Wajah kedua orang ini memang agak sangar, membuat Rukia lebih memilih berlindung dibalik tubuh Tatsuki daripada menunjukkan wajahnya.
"Kuchiki?" tanya Tatsuki heran melihat Rukia berusaha bersembunyi di belakangnya.
"Ku-kuchiki? Kau Kuchiki Rukia? Adik Byakuya Kuchiki itu?" tanya si rambut merah yang langsung memperkenalkan diri pada Rukia.
"Renji Abarai, dan ini temanku Grimmjow Jaeger.. er.. Jaegerjasjus," katanya menyalami tangan Rukia seenaknya.
"Jaegerjaques!" teriak si pemilik nama dengan nada kesal kemudian menjitak kepala temannya itu.
"Ng, tenang saja, walaupun wajah mereka seperti preman, tapi mereka berjiwa budiman kok," kata si rambut orange membela temannya tapi justru mendapat hadiah dua pukulan sekaligus di kepalanya. Ya, tersinggung atas kalimat wajah mereka seperti preman itu tentunya.
"Kurosaki Ichigo?" ujar Rukia mulai memberanikan diri memulai pembicaraan.
"E-eh, iya? EEEH, DARIMANA KAU TAHU NAMAKU?" teriak si rambut orange yang sekarang diketahui bernama Kurosaki Ichigo itu.
"Aku juga baru sadar. Aku tahu dari sini," kata Rukia memperlihatkan pegangan payung milik Ichigo yang ternyata terdapat tulisan 'my lovely son, Kurosaki Ichigo'.
"A-AYAH!" teriak Ichigo langsung menyambar payung itu dari tangan Rukia.
Adegan tersebut mengundang tawa dari Tatsuki dan kedua orang teman Ichigo, tidak termasuk Rukia yang masih belum mengerti maksud teriakan Ichigo.
"Te-terima kasih atas bantuannya kemarin," kata Rukia kemudian sambil membungkukkan sedikit badannya di hadapan Ichigo.
"Ti-tidak perlu sungkan. Kau juga harus repot mengembalikannya padaku, harusnya kau simpan saja," kata Ichigo agak salah tingkah setelah jadi bahan tertawaan teman-temannya.
"AH! Aku lupa! Astaga, aku harus ke klub sekarang! Maaf Kuchiki! Ichigo, nanti antar Kuchiki sampai gerbang, ya!" ujar Tatsuki tiba-tiba dan langsung pergi tanpa mendengar jawaban ya dari Ichigo.
"Eh, oi, Tatsuki!" teriak Ichigo diiringi teriakan serupa dari Rukia.
"A-aku akan pergi sekarang!" ujar Rukia makin gugup berhadapan dengan orang yang sangat mirip dengan orang yang dicintainya.
"Eh, tu-tunggu, biar kami antar!" cegah Ichigo.
"Oi, Grimmjow, Renji!" sapa seseorang pada si biru dan si merah. Kali ini sapaan tersebut dari seorang gadis yang memiliki warna rambut yang tak kalah mencoloknya, hijau. Lengkap sudah personil pelangi kali ini.
"Nel? Ada apa?" tanya Grimmjow menoleh dengan malas.
"Kalian dipanggil Aizen-sensei, cepat temui dia. Jangan bilang kalian berulah lagi, ya," ujar gadis bernama Nel itu dengan sorot mata menyelidiki.
"Hee? Ada urusan apalagi?" tanya Grimmjow heran lalu menatap Renji. Renji hanya mengangkat sedikit bahunya dan menggeleng.
"Nah, kau antar dia sendiri saja, Ichigo," kata Renji kemudian berjalan mendekati Nel, begitu juga dengan Grimmjow.
"Ichigo mau kemana?" tanya Nel yang berharap Ichigo ikut bersama mereka. Tapi baru saja pertanyaan itu ia tanyakan, tubuhnya didorong Grimmjow dan Renji hingga membuatnya mau tak mau melangkah ke depan.
"Jaa, Ichigo. Jangan sampai terlambat ke kelas!" ujar Grimmjow melambaikan sebelah tangannya tanpa menoleh pada Ichigo.
"He-hei, tunggu! Kalian!" kata Ichigo yang bingung harus bagaimana bila diminta sendirian mengantar Rukia.
"A-aku bisa sendirian kok," ujar Rukia berjalan mundur dan langsung memutar balik langkahnya. Jantungnya tidak jua berhenti berdetak cepat sejak tadi, apalagi kalau harus berduaan dengan Ichigo dengan wajah Kaien ini, bisa-bisa dia pingsan.
"Ku-KUCHIKI! Arahnya bukan ke kanan, tapi ke kiri!" tunjuk Ichigo dengan tangan kirinya ketika Rukia berbelok ke arah kanan.
"O-oh, i-iya, aku lupa," ujar Rukia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
Ichigo menepuk dahinya agak keras melihat Rukia yang pasti akan tersesat bila tidak ia antarkan mengingat gedung ini sangat luas.
"Sudahlah. Ayo Kuchiki, aku antar," kata Ichigo memimpin jalan Rukia.
Rukia yang sangat berharap kalimat itu tidak terlontar dari Ichigo, bingung harus mengiyakan tawaran Ichigo atau tidak. Tapi bila dia tidak mengikuti Ichigo, dia yakin dia pasti akan tersesat. Rukia agak menjaga jarak langkahnya dengan Ichigo. Rukia bahkan tidak berani melihat wajah Ichigo yang sedang menatap lurus ke depan itu, sejak bersama Ichigo tadi Rukia hanya menundukkan wajahnya. Hingga ia tidak sadar kalau Ichigo menghentikan langkahnya dan ..
Bruaak! Rukia menabrak punggung Ichigo yang tegap itu.
"Ma-ma-ma-maaf!" ujar Rukia seraya bergerak mundur.
"Eh, iya, tidak apa-apa. Kita sudah sampai," kata Ichigo tersenyum.
'Astaga, dia makin mirip dengan Kaien bila tersenyum seperti ini,' batin Rukia sedikit mengintip ekspresi wajah Ichigo dan seketika itu juga wajahnya langsung memerah.
"Kuchiki, kau sakit?" tanya Ichigo agak khawatir melihat rona merah di pipi Rukia.
"Ti-tidak!" ujar Rukia kembali menjaga jarak dengan Ichigo.
"Hmm.. Semoga kita bisa bertemu lagi," kata Ichigo lagi.
'Tidak akan. Kuputuskan tidak akan bertemu denganmu lagi, maaf,' batin Rukia.
"Kuchiki?"
"I-iya, semoga kita.. bertemu lagi," Rukia berbohong dengan senyuman palsu di bibirnya. Kemudian dia berbalik arah keluar gerbang yang memisahkan antara gedung barat dan timur.
'Setelah aku keluar gerbang ini, aku tidak akan lagi berbalik. Maaf sudah membohongimu Kurosaki Ichigo. Maaf, tapi kita pasti tidak akan bertemu lagi,' batin Rukia dengan mantap melangkahkan kakinya.
'Sayonara, Kurosaki Ichigo.'
Keesokan harinya di toko buku.
"Aku beli yang ini saja," ujar Rukia memutuskan setelah sejak tadi dipusingkan oleh dua pilihannya.
"Kuchiki?" sapa seseorang. Rukia menoleh dan mendapati wajah dengan senyum yang tidak asing itu lagi.
"Ku-kurosaki!" Rukia kaget hingga hampir menjatuhkan buku pilihannya itu.
"Wah, kebetulan sekali," kata Ichigo lagi.
Rukia kemudian kabur dengan alasan ada urusan dan tidak jadi membeli buku yang sejak tadi dia pilih dengan penuh pertimbangan.
2 hari kemudian di mini market.
"Kuchiki?" sapa seseorang yang mulai Rukia kenali suaranya itu.
"Ku-ku-kurosakiii!" teriak Rukia mengagetkan orang-orang di sekitarnya.
Kali ini Rukia kabur dengan alasan tiba-tiba sakit perut.
3 hari kemudian di café.
"Ku-kurosaki!" ujar Rukia setelah melihat sosok Ichigo juga sedang ada di dalam café tersebut.
Rukia kemudian mengurungkan niatnya untuk masuk ke café tersebut dan buru-buru kabur sebelum Ichigo menyapanya.
4 hari kemudian di perpustakaan.
"Kuchiki? Kita bertemu lagi," sapa Ichigo dengan membawa setumpuk buku di kedua belah tangannya.
"KU-KUROSAKI ICHIGO!" teriak Rukia yang mengundang pengguna perpustakaan lain ber-sstt ria.
'Tu-tuhan, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau terus mempertemukan kami di saat aku ingin menghindarinya?'
.
.
TBC
Readers, kali ini saiaa mau nanya, genre chapter 2 ini mesti saiaa ganti jadi Romance and Humor atau tetap Romance and Hurt/Comfort? =3=
Maaf bila merepotkan =="
Ho, iyaaa, balasan review ~~
aRaRaNcHa : Waa~ Cha ngereview, makasssiiih...
Eka Kuchiki : Makasih udaaaah revieeew, senpaaaaiii *slow motion /plak/
Jee-ya Zettyra : Senpai, makasih udah review. Hubungan antara Kaien dan Ichigo? Masih rahasia, hehe^^
Ruki Yagami : Hmm, iya sih ya, mesti PD sama fic sendiri, makasih buat dukungannya. Lain kali dukung saiaa dengan cara ketik REG spasi Le- *plak
hitomi hitsugaya & Sayumi Vega : Makasih udah review.. Laen dari biasa? Ah, yang bener? -^^-
shiori momochan : Makasih buat kritiknya, Shiori-san ~ Semoga pada chapter ini dapat lebih baik lagi ya..
Kurochi Agitohana : Kemaren saiaa udah beritahu artinya'kan? iya'kan? Makasih udah review ^_^
eri-lovekyosohma : Yosh, salam kenal. Makasih reviewnya ~
Sader 'Ichi' Safer : Ya, ayo kita joget-joget kaya teletubis versi Hollywood [?] /pletak/
bl3achtou4ro : Ma-ka-sih sudah revieeeww ~~ Kaien matinya kenapa? Ikuti terus ceritanya. Kalau saiaa bocorin ceritanya ga seru lagi donk, hehehe.. Ntar bakal saiaa ceritain kok, tapi ntar yaa ~
Arlheaa : Pertanyaannya terjawab di chapter ini'kan? Makasih buat reviewnya^^
liekichi chan : Makasih buat reviewnya. Semoga chapter kali ini juga lebih baik lagi yaaaaa…
So-Chand 'Luph pLend' : Huwah, So-Chand, makasih buat review kamu yang singkat, padat, jelas tapi bikin saiaa semangat buat nge-update. Sankyuu!
minami kyookai : Makasih buat pertanyaan bertubi-tubinya, hahaha.. satu per satu pertanyaannya akan terjawab kok.
MaSkicHy ZaoLdyEcK: Makasih buat MaSkicHy-san yang jadi reviewer pertama pada fic ini.
