Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, but the story is purely mine..

Warnings: M for language, Maybe Lime (WAY later on), AU, OOC, typos. Don't Like, Don't Read. You've been warned

.

.

.

Endlessly

Sakura menatap punggung Naruto yang berjalan di depannya. Otaknya berkonsentrasi untuk tidak melakukan hal-hal memalukan lagi di hadapan pria pirang ini.

"Sakura-chan..masuklah" Naruto membukakan pintu ruangan untuknya, kemudian mengikutinya masuk ke dalam.

Sarutobi Hiruzen mengangkat kepalanya. "Aaah..Haruno-chan, silahkan duduk," Matanya menyipit karena tersenyum. "Kami sudah berunding tentang hasil audisimu tadi.."

"Jujur saja Haruno-chan, kami ragu...Kau jelas belum memenuhi standar untuk menjadi seiyuu bagi agency kami...tetapi..."

Suara Hiruzen berikutnya hanya berdengung di telinga Sakura, dia justru sibuk memperhatikan Naruto yang juga tampak tidak tertarik dengan omongan pria tua itu dan lebih memilih untuk memainkan kuku-kuku jarinya.

"...Jadi sekali lagi, selamat bergabung dengan kami Haruno-chan. Gunakan kesempatan ini dengan baik!"

Krik..

krik...

"Eh? Haruno-chan? Kau mendengarkanku?"

"E-Eh..Hai..eh? Nani?"

"Ahaha..aku tahu Naruto lebih tampan dariku Haruno-chan..tapi tolong perhatikan aku sebentar" Mata pria itu menyipit menahan tawa. "Kau...diterima!"

"Berterimakasihlah pada Naruto, dia telah berhasil meyakinkan kami bahwa kau berbakat"

"Tapi kau punya satu syarat..kau butuh usaha yang lebih keras daripada seiyuu yang sudah memperoleh pendidikan khusus."

Naruto mengalihkan perhatian dari kuku-kukunya ke arah Sakura "Hai.. Benar sekali, dan aku sudah setuju untuk membantumu Sakura-chan," Tangan kanannya terangkat, bertumpu pada meja untuk bertopang dagu. "Asal kau berjanji kau akan lebih memperhatikan apa yang kuajarkan padamu dan bukan memperhatikanku memainkan kuku-kuku jariku."

Naruto tersenyum padanya, dan saat itu Sakura menyadari... Dia baru saja mempermalukan dirinya lagi.

.

.

.

Sakura keluar dari kantor agency, Sarutobi-san berkata dia akan menandatangani kontrak pertamanya minggu depan, tapi sebelum itu dia harus menjalani latihan khusus bersama Naruto. Ah, mungkin dia juga bisa menemui Sai untuk dan minta tolong untuk mengajarinya nanti malam.

Ah..Sai..

Sakura harus menelepon Sai sekarang juga untuk berterima kasih, bagaimanapun juga pria berambut hitam itulah yang membuatnya bisa mengikuti audisi. Sakura mengeluarkan ponselnya,mencari nama Sai di kontakknya.

"Moshi-moshi" Sai menjawab pada deringan ke tiga

"Sai..Aku diterima!" Sakura menahan suaranya untuk berteriak, namun diurungkannya, tak ingin membuat telinga Sai tuli mendadak.

"Heh? Yokattaaa.. Ahaha..Syukurlah, Selamat datang di pekerjaan ini Sakura.. Kuharap kau akan menikmatinya"

"Ahaha..terima kasih Sai.. Ijinkan aku mentraktirmu makan malam...hitung-hitung sebagai ucapan terimakasihku.." Sakura tersenyum, dia membayangkan Sai juga sedang tersenyum sambil mengangkat telponnya di ujung sana.

"Kalau begitu..kau harus menyiapkan uang yang banyaaak sekali.. Karena nanti malam aku ingin makan sampai perutku kenyak tak bisa jalan..haha"

Dan Sakura merasakan senyum di wajahnya memudar. "Cho-Chotto matte...aku kan belum menerima gaji Sai.. Jadi uangku..uangku.."

Klik

Sai memutuskan sambungan.. Sial.. Sepertinya harus ada seseorang yang mengajari pria kurus itu tentang bagaimana cara memperlakukan wanita. Mana ada lelaki yang terang-terangan mengatakan akan menguras isi dompet wanita yang mentraktirnya? Sakura menghela napas, meskipun dia baru mengenal Sai selama beberapa hari, dia tahu kalau dibalik sikapnya yang menyebalkan dan kurang peka, Sai orang yang baik

Sakura melanjutkan langkah kakinya, matanya memandang berkeliling. Tapi kemudian, langkahnya terhenti mendadak. Kali ini matanya membelalak, menyadari kebodohannya. Dia lupa untuk menanyakan arah pulang menuju flatnya. Tangannya kembali meraih ponsel di sakunya,

"Moshi-moshi.. Sai..tolong aku tersesat..."

.

.

.

Matanya memperhatikan sang dosen yang sedari tadi masih asyik memaparkan tentang teori komunikasi Littlejohn. Beberapa mahasiswa menguap, meletakkan kepalanya di meja, dan tampak sama bosannya dengan dia. Menyerah, Sakura memutuskan mengabaikan entah apapun teori yang akan dikeluarkan oleh mulut dosennya.

Tangannya lincah menggoreskan pena di halaman notes yang dia buka secara asal. Perlahan tapi pasti coretannya mulai membentuk karakter anime favoritnya. Maklum saja, sejak kecil anime dan manga adalah dunianya. Dia tumbuh dengan buaian berbagai dunia menakjubkan tersebut, dunia di mana kebaikan selalu menang atas ketidakadilan.

Hal ini yang membuat Sakura menjadi gadis pemimpi tingkat tinggi. Itu pula sebabnya dia sering sekali menenggelamkan pikirannya dalam lamunan. Dunia imajinasi yang hanya miliknya seorang.

Sakura melirik jam tangan merah yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

Lima belas menit lagi.

Dia berjanji untuk bertemu dengan Naruto seusai kuliah, dan dia berharap semoga Naruto tak akan membosankan seperti dosennya ini.

Naruto adalah seorang seiyuu yang terkenal, dia bahkan memenangkan penghargaan sebagai seiyuu pria terbaik tahun lalu. Itulah alasan mengapa ketika bertemu dengan pria itu, Sakura merasa familiar dengan suaranya. Banyak karakter anime favoritnya yang ternyata diisi suaranya oleh Naruto.

Dan membuat jadwal untuk bertemu dengan Naruto tidak semudah menjentikkan jari. Musim ini saja ada 3 judul anime yang memakai jasanya menjadi pengisi suara. Belum lagi berbagai acara radio dan TV. Ah, Selain itu, dikaruniai wajah yang tampan dan suara emas juga memuluskan jalannya menjadi penyanyi solo. Naruto benar-benar punya seabrek kegiatan yang berjubel di jadwalnya.

Oleh karena itu, ketika Naruto menelponnya semalam memberitahu dia punya dua jam kosong di sela-sela aktivitasnya siang ini, Sakura langsung mengiyakan, meskipun itu berarti mengorbankan waktu makan siangnya. Dia tidak ingin terlambat. Dia tidak ingin mengecewakan pria itu. Pria yang membantunya lolos audisi. Pria yang mampu membuat lututnya terasa seperti jelly hanya dengan membisikkan kata-kata menenangkan di telinganya.

Blush..

Sakura merasa wajahnya menghangat ketika teringat kejadian itu. Demi Tuhan..Naruto seorang seiyuu, tentu saja suaranya seksi! Dia menggelengkan kepalanya, berharap bisa mengusir suara Naruto yang kembali terngiang di telinganya.

Sakura mengembalikan perhatiannya ke depan, tepat ketika dosennya mengakhiri kuliah hari itu dan memberi tugas membuat esai tentang teori-teori komunikasi masyarakat. Sakura menjejalkan barang-barangnya asal kedalam tasnya, dia harus segera bergegas menemui pria pirang itu di studio sekarang juga.

.

.

.

"Sumimasen...," Sakura membuka pintu studio, melirik kanan kiri, tampak beberapa orang yang tengah sibuk bekerja menghadap berbagai macam perangkat dengan banyak tombol, benda-benda ini benar-benar asing untuknya.

"Sakura? Apa yang kau lakukan di sini? Merindukanku?"

Sakura menemukan sesosok pria yang ia kenali. "Sai? Kau disini?"

"Aku bukan mau menemuimu... Aku punya janji untuk menemui Naruto..." Sakura mengedarkan pandangannya, "Eh, Sai..kau satu proyek dengan Naruto?"

"Ah, iya, kami sedang terlibat dalam satu judul anime"

" Naruto-senpai masih di dalam, proses afureco* nya belum selesai."

Sakura mengernyit, "Afureco?"

"Yup... Afureco itu salah satu jenis proses pengisian suara. Sebagai seorang seiyuu, kau juga harus mengetahui ini Sakura," Sai menepuk rambut pink nya perlahan "Tak usah panik, aku akan membantumu pelan-pelan..."

Naruto baru menemui Sakura selesai ketika Sai telah selesai menjelaskan perbedaan antara Afureco dan Puresuko**.

"Ah, Sakura-chan sudah mengenal Sai rupanya?"

"Hai..Naruto-senpai, Sakura tetangga seberang flatku"

Sakura terpaku. Ini memang bukan pertama kalinya Sakura melihat Naruto, tapi dia tetap tidak bisa-tidak terkesan dengan penampilan pria itu. Betapa inginnya Sakura menenggelamkan jemarinya di antara helaian pirang jabrik tersebut, membuatnya makin berantakan dengan menarik rambutnya pelan...pelan.. Dia juga ingin melarikan tangannya di wajah tan tersebut, menelusuri hidung mancungnya..membelai pipinya.. kemudian, bibirnya yang menggoda..

"..ra..Sakura.." Gadis pink itu tersentak ketika Sai menggoyang bahunya, pipinya memanas. Demi Tuhan! Apa yang dia pikirkan?!

"Hah.. Kau ini sering sekali melamun Sakura.. Naruto-senpai sudah datang, aku pergi dulu.." Sai bangkit dari duduknya, membenahi lengan kemejanya yang tergulung, "Kau tahu arah pulang ke flat kan?"

Sakura terdiam, mengangguk perlahan. Matanya mengerling pada Naruto yang entah sejak kapan sudah duduk di hadapannya.

"Baiklah, segera telpon aku jika kau butuh bantuan."

"Sai... kau ini mulai bertingkah seperti seorang ayah yang anaknya akan kencan saja. Tenanglah, Sakura-chan bersamaku...Aku tidak akan menggigitnya." Naruto mendengus, menahan tawa. " Atau... Jangan bilang kau berpikiran kalau aku adalah orang mesum yang mengincar gadis-gadis muda hmm? Sial!"

Sai tersenyum simpul, "Ahaha..tentu tidak Naruto-senpai, di usiamu yang sudah kepala tiga dan belum juga menikah, aku cenderung berpikir kalau kau sebenarnya tidak tertarik pada gadis..ahaha.."

"Hah?A-Apa? Maksudmu aku gay?" Naruto bangkit dari kursinya, menyambar kepala Sai, dan mengepitnya di ketiak.

"Ahaha..aku..uhuk..tidak bilang begitu senpai..Ahaha..haha.."

Sakura melongo melihat adegan dua pria di depannya. Mereka berdua sama-sama sudah berusia matang, tapi tingkahnya sungguh masih kekanakan.

"Naruto...Sai...Berhentilah.. Kalau tidak aku bisa benar-benar mengira kalian pasangan gay"

Dan perkataan Sakura manjur bagaikan mantra, mereka berhenti, buru-buru memisahkan diri ketika menyadari posisi mereka yang kini saling mengait satu sama lain.

Sai pergi tak lama kemudian, setelah kembali melemparkan beberapa ledekan yang dibalas dengan acungan tinju Naruto.

"Gomen Sakura-chan, beginilah cara kami menghibur diri. kami memang sering meledek, bahkan kadang sedikit menggunakan pukulan untuk menirukan adegan anime yang kami perankan. Semoga kau terbiasa."

"Eh? Memukul?" Sakura tak menyangka mereka seekstrim itu.

"Yup, tapi tenang saja, tangan para seiyuu tidak terbiasa digunakan untuk menyakiti orang lain." Naruto mengangkat tangan kanannya, "Hah..tangan kami hanya biasa digunakan untuk membolak-balik halaman script"

Tangan Naruto praktis menyita perhatian Sakura, kembali membuatnya berkhayal... Telapak tangan Naruto besar dan kokoh, pasti hangat sekali untuk digenggam dengan tangan kecil miliknya. Cukup... Dia baru bertemu selama 20 menit dengan Naruto, dan dia merasa kewarasannya bisa terancam kalau terlalu banyak berpikiran aneh-aneh tentang pria itu.

"Saa..Sakura-chan, ayo kita mulai latihan pertama hari ini.." Naruto meraih jilidan script dan menyerahkannya pada Sakura. "Buka halaman tiga, aku ingin kau membaca dialog untuk tokoh Mariko, dia seorang gadis muda yang memiliki karakter periang dan penuh semangat."

Sakura menuruti instruksi Naruto, jemarinya beringsut mencari halaman tiga. Emeraldnya mencermati huruf-huruf yang tercetak dengan tinta hitam tersebut. Oh Tuhan...Dia melupakan satu hal yang penting.

Bagaimana bisa dia menjadi seiyuu kalau dia saja nyaris buta huruf kanji?

"Sakura? Kau sudah bisa mulai" Naruto mengamatinya yang tak kunjung membuka suara.

"Ah..Hai..Ummm... "

Bagaimana ini?

Naruto mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sakura, "Ayo Sakura, kau ada kesulitan?"

Sakura menunduk, mendadak merasa menyesal karena mengabaikan ayahnya yang terlampau sering cerewet meneriakinya untuk lebih serius belajar kanji.

"Gomen, Ano...bisakah aku minta scriptnya ditulis dalam huruf hiragana saja?"

Alis Naruto terangkat, "Hiragana? Sakura-chan, jangan bilang kalau kau...tidak bisa membaca kanji?"

"Bu-Bukan seperti itu, aku...aku...bisa...beberapa." Dia menunduk makin dalam, membuat helai-helai pink menutupi hampir seluruh wajahnya.

"Haaaah...apa boleh buat.." Naruto meraih bolpoin di sakunya, "Aku akan membantumu menerjemahkan kanji-kanji ini dan menulisnya kembali dalam bentuk hiragana."

"Sepertinya kau butuh belajar lebih...lebih...lebih...keras". Naruto tersenyum, bangkit dari duduknya dan beranjak tepat ke sebelah Sakura.

"I-Iya Naruto. Mohon bantuannya!" Dia menundukkan kepala pink nya. Merasa menjadi orang yang benar-benar tak berguna.

Pluk

Dia merasakan sesuatu membelai kepalanya. Pipinya memanas, Ini tangan Naruto. Tidak... Bagaimana mungkin sebuah sentuhan kecil bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini?

Sakura mendongak, dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma cologne yang dipakai pria itu, matanya bisa mengamati garis-garis yang terdapat di pipi tan tersebut. Tanda lahir? Entahlah. Sakura hanya merasa dia sanggup untuk bertahan memandangi wajah itu seumur hidup.

"Sakura-chan, kau akan mendapatkan kontrak pertamamu minggu depan kan?" Naruto menunduk, tangannya masih berkutat menerjemahkan kanji-kanji untuk Sakura.

Sakura menganggukkan kepalanya, matanya melirik deretan huruf-huruf yang sedang digoreskan pria itu di atas script. Dia membacanya dari samping, sedikit geli ketika menemukan fakta betapa jeleknya tulisan tangan pria pirang itu.

"Ne, Sakura-chan.. Apakah kau keberatan untuk pulang terlambat malam ini? Aku pikir kau memang butuh latihan ekstra."

"Eh? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu Naruto?"

Dia menggaruk rambut jabriknya, dan membuat helaian pirangnya makin berantakan, "Sebenarnya aku sudah tidak punya pekerjaan lagi setelah ini, tadinya aku berencana beristirahat" Naruto meletakkan bolpoinnya, menyerahkan kembali script kepada Sakura. "Tapi setelah melihat keadaanmu, kupikir ini bukan waktunya untuk bersantai-santai."

"Sakura-chan. Ayo kita pindah ke tempat yang lebih nyaman!"

Sakura menyadari tangannya kini berada dalam genggaman Naruto, benar dugaannya. Sentuhan tangan pria itu terasa nyaman. Dan dia menurut begitu saja ketika pria itu membimbingnya beranjak berpindah tempat.

.

.

.

Naruto menyodorkan sekaleng susu coklat dingin yang sebelumnya ia beli dari vending machine. Dan disinilah mereka, di lantai teratas gedung studio. Behadapan dengan pemandangan hiruk pikuknya kota Tokyo di sela-sela gedung-gedung yang menjulang. Sakura membuka kaleng minumannya, menyesap isinya perlahan, naik tangga ke tempat ini cukup membuat tenggorokannya kering. Di sampingnya tampak Naruto juga tengah bersandar di dinding pembatas. Kaleng soda minumannya tampak telah terbuka, dan kini berada di sebelah kanannya.

"Silahkan kau baca line yang ini Sakura-chan." Naruto menunjuk sebaris kalimat dalam script.

"Hai.." Sakura menarik nafasnya perlahan, berusaha menerjemahkan tulisan cakar ayam itu dan mulai membacanya, berusaha sekeras mungkin agar feel yang termuat dalam sebaris kalimat tersebut bisa tersampaikan sempurna.

"Tambahkan passion Sakura-chan! Karakter yang sedang kau perankan ini memiliki sifat dengan semangat yang meluap." Naruto meraih kaleng minuman di sampingnya, mengarahkannya menuju bibirnya. "Suaramu adalah nyawa bagi karakter ini. Jika kau berhasil menyampaikannya dengan baik, maka karakter ini akan seolah menjadi hidup."

"Namun sebaliknya, jika kau gagal. Maka karaktermu hanya akan terlihat seperti penyanyi yang sedang lipsync. Buruk sekali."

Sakura mengangguk mantap "Aku akan berusaha keras!"

"Aku yakin kau bisa..." Naruto mulai menyesap kaleng susu coklat di tangannya.

"Terima kasih banyak, tapi..."

"Ada apa Sakura-chan?" Naruto menelengkan kepala pirangnya. Matanya menuju ke arah Sakura. Sekali lagi, bibirnya mengecap cairan dalam kaleng tersebut. Tapi kenapa gadis itu kini menatapnya dengan wajah memerah?

"Ano... Kau...meminum kaleng minumanku Naruto."

Ciuman tidak langsung

Naruto meminum minuman kalengnya, bibir menggoda milik pria itu menempel tepat dimana bibirnya berada sebelumnya. Pikiran Sakura kembali melayang pada beberapa adegan anime-anime shoujo yang sering ditontonnya. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memanas.

"Ah, gomen Sakura-chan.." Naruto menyeringai, "Kalau ciuman tidak langsung saja bisa terasa semanis ini..."

"Aku jadi penasaran bagaimana rasanya berciuman langsung denganmu"

Tangan tan pria tersebut tergerak untuk menemukan dagu Sakura yang masih menunduk, membimbingnya agar menatap iris sapphire miliknya.

"Kau gadis yang menarik Sakura-chan.."

Dan gadis itu bersumpah demi seluruh jagat raya dan seisinya, bahwa dia rela jika nyawanya dicabut sekarang juga. Sekarang, ketika dia merasakan bibir lembut pria itu mulai menempel lembut pada bibirnya.

Hanya seulas sapuan kecil, namun mampu membuat seluruh sel syaraf Sakura tergetar bahagia. Dan kini ketika bibir pria itu meninggalkan bibirnya, dia merasa hampa.

Pandangan matanya bertemu dengan mata biru cemerlang Naruto, meski bibir mereka sudah tak lagi saling menempel, dia masih bisa merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya.

Tak butuh waktu lama bagi Sakura, untuk mendapati dirinya kini kembali tenggelam dalam ciuman yang bukan lagi sekedar sapuan, melainkan sudah berubah menjadi lumatan-lumatan lembut. Sakura membalas ciuman pria itu penuh hasrat, seiring dengan meningkatnya intensitas ciuman yang dia rasakan di bibirnya. Tangannya kini sudah tenggelam dalam helaian pirang pria itu, bergerak serasi dengan tangan Naruto yang semakin menekan tengkuknya untuk menciumnya lebih dalam.

Sadar akan kebutuhan oksigen memaksa mereka berdua untuk melepaskan bibir yang masih bertaut. Keduanya terengah-engah, meraup udara sebanyak-banyaknya.

"Haaaah..Hah..Gunakan passion seperti ini Sakura. Gunakan hasrat yang sama besarnya seperti saat kita berciuman tadi. Hah..Haaaah..."

"Gunakan semangat seperti itu untuk menghidupkan karaktermu" Naruto menjauhkan wajahnya dari Sakura, nafasnya sudah mulai teratur, kembali menyandarkan punggungnya pada dinding pembatas.

Gadis itu mengerjap. Jadi...ciuman tadi hanya untuk mengajarkan passion padanya? Untuk memancing hasrat dan semangat agar muncul dalam dirinya?

Hey, kenapa tiba-tiba hatinya terasa nyeri? Memangnya apa yang dia harapkan? Tidak mungkin Naruto menciumnya dan langsung berkata bahwa pria itu jatuh cinta padanya?

Jatuh cinta?

Omong kosong. Selama 23 tahun hidupnya, dia hanya pernah jatuh cinta pada karakter-karakter anime favoritnya. Dia belum pernah bertemu seorang pria yang bisa membuat hidupnya jungkir balik seperti ini. Pria yang mampu mengisi lamunan-lamunannya tiap hari.

Dan seiring nafasnya yang kini mulai teratur, Sakura menyadari satu fakta baru.

Dia jatuh cinta pada Namikaze Naruto.

To Be Continue

Notes:

*) Afureco : berasal dari kata after recording, proses pengisian suara dengan cara dialog direkam sambil melihat percakapan karakter di layar

**) Puresuko : dari kata prescoring, proses dimana para seiyuu merekam suara di depan layar kosong atau sketsa anime yang sedang diproduksi.

Akhirnya netes juga ini Chap 2.. ^^ Terimakasih buat para readers-san yang sudah berbaik hati review, comment, fave, atau follow cerita dari author baru ini.. :) Author balas dulu review chap 1 kemarin..here they are...

andypraze; Terimakasih reviewnya andy-san. Kita lihat saja apakah nanti Sakura bakal melupakan tujuan awalnya..biarkan waktu yang menjawab semua *dijitak* Yosh! Arigatou..ini sudah update!

minyak tanah; Lemon saya simpan dulu...hoho..

LuphNARUSAKU; yihaaaa...ini sudah update.. terimakasih reviewnya.. ^^

Cindy elhy; Terima kasih Cindy-san, walaupun ga kilat tapi ini sudah saya update..douzo...

Dan semua pereview yang tidak mencantumkan namanya... terima kasih sudah membantu author ini untuk memperbaiki diri..

Yosh! Author amatiran ini sekali lagi mohon review dari semua readers-san yang baik.. Review dari anda adalah semangat saya dalam berkarya.. ^^