Disclaimer : Riichiro Inagaki n' Yusuke Murata
Neheeee~
Ciao Ciao Minna~san!
Update yang telah ditunggupun tibaaaa
Arigatou buat semua yang telah mendukungku! Thanks atas kritik n sarannya!
Silahkan dinikmati! Maaf kalo rada-rada aneh gimana gituu
----------------------------------------0o0o0o0o0o0o0-----------------------------------------------
|Salahmu mgikut aku. Bodoh.| Kata Mamori. Tiba-tiba Mamori kehilangan keseimbangan dan hampir membentur lantai kalau saja tangan besar dan hangat Hiruma tidak menahannya.
"Kau ini kenapa sih???" Tanya Hiruma.
"Sori. Cuma flu." Jawab Mamori sambil menegakkan badannya.
"Hn."
Ini nggak baik. Badan Manager sialan demam. Apa kuantar ke rumahnya saja ya? Tapi nanti bisa-bisa dikira yang nggak-nggak lagi. Gimana ya?
"Oi Manager sia-"
BRUGH! Mamori jatuuh pingsan. Wajahnya benar-benar memerah karena suhu tubuhnya yang terus meninggi.
"O, oi!" Hiruma panic ½ mati. Ia segera menggendong Mamori keluar Minimarket. Minimarket yang untungnya tak jauh dari rumah Mamori. Setelah 15 menit berjalan, Mamori tersadar dari pingsannya.
"Hi, Hiruma-kun???" Pekik Mamori. Wajah Mamori Blushing setengah mati melihat posisinya digendong di punggung Quarterback itu.
"Jangan teriak di kupingku Manager sialan." Gerutu Hiruma.
"Ma, maaf! Apa yang terjadi?" Tanya Mamori.
"Kau pingsan. Karena itu kubawa kau pulang ke rumahmu. Kurasa tak jauh dari sini." Jawab Hiruma.
"Lho, memangnya Hiruma-kun tahu ya rumahku?" Tanya Mamori polos. Hiruma langsung Blushing. Yang namanya Hiruma nggak mungkin nggak bisa mengelak dari kenyataan. Selalu saja ada 1001 alasan.
"ke ke ke ke sebagai majikan, aku harus tahu dimana budakku tinggal." Jawab Hiruma.
"Mou Hiruma-kun! Aku ukan budakmu tahu!" Bantah Mamori jengkel.
"Ke ke ke ke Diam dan tutup mulutmu. Sudah sampai tuh." Kata Hiruma sambil menurunkan Mamori.
"Arigatou, Hiruma-kun." Kata Mamori sambil tersenyum lembut. Hiruma yang Stay Cool sebenernya gelagapan ngeliat Mamori senyum seperti itu.
"By the way, Sepi ya rumahmu?" Tanya Hiruma mengalihkan topic pembicaraan.
"Ah itu, Orang tuaku pergi ke desa."Jawab Mamori.
"Jadi kau sendirian?" Tanya Hiruma.
"He em. Ya sudah. Aku ke dalam dulu ya. Oh ya. Mau mampir?"
"Eh hng.."
"Mau nggak?" Ulang Mamori.
"Ya udah." Jawab Hiruma yang sukses jantungnya copot. (Mati dong? *Di Bazooka Hiruma*)
Di dalam rumah, Mamori mempersilahkan Hiruma duduk di ruang tamu
______________________________________________________________________________
Aya: Haduh nggak sekalian di kamar aja sihhh…
Mamori : Hah?? Ngapain??
Hiruma : Gw gampar mati lho! (Siap dengan Bazookanya)
Mamori : Jangan-jangan!????!!! (Siap dengan Cangkulnya
Aya : Hwaaaaa Ampuun Mamo-sama! Hiru-sammaaa!!! (Author lost signal gara-gara dikubur hidup-hidup oleh kedua setan)
______________________________________________________________________________
Mata emerald Hiruma menatap tajam sesosok seorang wanita muda yang tengah membersihkan WC *Di gaplok Mamori* Eh maaf salah. Yang bener lagi bikin kopi. Hiruma terus memperhatikan cewek itu.
Sialan manis banget sih nih manager. Salahmu lho ya aku jatuh cinta sama kamu! Ahhhh Manager sialan yang bikin jatuh cinta! Sialaannn…
"Hiruma-kun?" Panggil Mamori .
"Hng?" Balas Hiruma.
"Ngelamun? Ntar kesambet Malaikat lho." Sindir Mamori sambil meletakkan Coffee di depan Hiruma.
"Hah? Kesambet malaikat?" Ulang Hiruma.
"Iya. Kamu kan setan. Kalo setan kesambet setan nggak ada ceritanya. Baru kalo setan kesambet malaikat ada kali ya." Jawab Mamori yang sekali lagi, sok Innocent.
"Hah? Ntar kamu malah pingsan kalo ngeliat aku jadi baik kaya pas di festival olahraga! (Perhatian! Baca Manga Eyeshield 21 vol.15)
"Ih waw, pingsan? Membayangkan aja udah muntah-muntah!" Ucap Mamori,
"Huh masih lebih baik daripada melihat komite disiplin sekolah jadi nenek-nenek mafia gitu." Balas Hiruma.
"Ah nggak tahu deh! Susah ngomong sama kamu!" kata Mamori nyerah.
"Setan jangan didebat dong! Ya pasti kalah!" Kata Hiruma sambil terkekeh melihat Mamori memonyongkan bibir 5cm.
JTAAAR!!!
PET'S!
"KYAAAA!" Jerit Mamori saat tahu sekelilingnya gelap.
"Tch. Berat tahu, Manager sialan." Kata Hiruma yang ketibam Mamori yang seberat Gajah itu *Di tembakin Mamori*
"Ma, ma, maaf Hiruma-kun!"
"Kamu ini kenapa sih? Cuma mati lampu sama petir doang aja takut." Kata Hiruma yang mengelus kepalanya yang kejatoan beratnya Mamori *Sekali lagi di tembakin Mamori*
"Uh aku kaget tahu!" Gerutu Mamori yang sekali lagi sukses berbimoli(Bibir monyong lima senti)
"Lebaynya Manager-ku iniii." Sekarang giliran Hiruma yang berBimoli ria *Di hajar Hiruma*
"Biarin!"
Keheningan melanda (Emangnya bencana ya??) ruangan itu. Baik Hiruma maupun Mamori tetap diam menunggu nyalanya lampu diam tanpa kata.
"Oi manager sialan." Panggil Hiruma memecah kesunyian.
"Apa?" Balas Mamori.
"Kamu. ." Kata-kata Hiruma terputus.
"Kamu apa? " Tanya Mamori.
"Never mind." Jawab Hiruma.
"Ukh apaan sih?"
"Dibilangin. Nggal usah dipikirin. Cuma asal ngoceh kok."
"Ya udah."
Ruangan kembali hening. Mamori yang tiba-tiba sesak jatuh di sebelah Hiruma.
"Ho, Hoi! Manager sialan!" Panggil Hiruma. Tiba-tiba ia merasakan panas yang hebat di tangannya. Mamori benar-benar demam.
"Kau kenapa?!" Tanya Hiruma panic.
"Ukh… Kepalaku.." Jawab Mamori lemah sambil memegangi kepalanya.
"Tch." Hiruma menggendong Mamori dan membawanya ke kamarnya. Lampu masih saja mati dan hari semakin larut. Matahari mulai tenggelam di ujung barat. Jam menunjukkan pukul 6 sore. Sudah ½ jam sejak mati lampu. Hujan menunjukkan tanda akan jatuh lagi. Petir menggelegar di selurh penjuru Kanto. Mamori yang akhirnya tertidur setelah di jaga Hiruma. Deti demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, dan berubah menjadi tertidur selama 2 jam, Mamori terbangun dan mendapati Hiruma yang mendengkur lembut tidur di sebelahnya.
"Hi|ruma-kun?" Bisiknya. Tapi Hiurma tetap tertidur. Mamori hanya tersenyum dan mengelus lembut rambutnya.
"Oi manager sialan. Kau sudah sadar ya?" Tanya Hiruma tiba-tiba.
"A, ano etto…" Mamori blushing ½ mati gara-gara mengingat dia mengelus kepala landak itu *Di boom Hiruma* hiruma bangun dari tidurnya dan duduk manis di depan Mamori kayak anak anjing yang ngeles minta dikasi makan *Di Bantai Hiruma*
"Kau ngapai tadi?" Tanya Hiruma to-the-point.
"E, etto.. tadi aku nggak ngapa-ngapain kok. Cu, Cuma…" Mamori blushing ½ mati. Tapi sayang, sebelum Mamori melanjutkan kata-katanya. Hiruma menyegel bibir kecil dan lembut Mamori dengan bibirnya. Lidah mereka mulai beradu. Yang namanya manusia pasti butuh bernafas. Mereka melepaskan ciuman mereka untuk sesaat.
"Hi, Hiruma-kun?" Tanya Mamori kaget dengan tatapan Apa-yang-kau-lakukan-tadi-?
"Ke Ke Kea pa Manager sialan?" Jawab Hiruma dengan senyum jahil-nya.
"Ka, kamu ngapain sih t, tadi?" Tanya Mamori yang gagap.
"menurutmu?"
"Etto, ka, kamu… " Belum smepa Mamori berbicara lebih banyak lagi, Hiruma menyela dengan cepat.
"That's Your Fault."
"Ha?" Tanya Mamori telmi gimana gitu *Di hajar pake sapu sama Mamori.
"Ini salahmu. Gara-gara kamu! Gara-gara kamu aku jadi jatuh cinta sama kamu!" Seru Hiruma. Pernyataan cinta yang dahsyat ala Hiruma yang sukses membuat Muka Hiruma jadi merah kayak kepiting rebus itu telah membuat hati Mmaori hangat. Pemilik mata Biru itu tersenyum lembut
"Aishiteru yo, Hiruma-kun"
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++Riiku : Nyohooooo Maaf Gaje. . .
Hiruma : Oh baru nyadar ya kamu? (meletuskan Peren karet)
Shino : Ughh Dikit amat! Jangan pelit-pelait napah!
Hiruma : Tau nih! Udah update telat! Ngetik banyak Typo-nya! Dikit lagi!
*Author benar-benar terpuruk dengan pernyataan dari Shino dan Hiruma. Karena itu Author saat ini sedang merencanakan sesuatu yang Gila untuk membalas dendam Hiruma! Apakah yang akan terjadi??????*
Jikai, Chapter 3 : Crazy Exam
Don't Miss it! (Promosi Gaje)
