[Chaptered]
Title : Baby Maybe... ~I'm Fudanshi
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shonen Ai, Comedy.
BGM : W~Inds - Baby Maybe
Namaku Uchiha Sasuke, mau panggil Sasu atau Suke, It's OK! Tapi biasanya aku terkenal dengan panggil Sasuke. Aku mahasiswa semester 3, jurusan arsitek. Sebelumnya, kehidupanku biasa-biasa saja dan normal, mungkin bisa dibilang sedikit mendekati normal, tapi semuanya berubah menjadi tidak biasa dan benar-benar jauh dari kata normal.
Kejadiannya begitu cepat, hanya 1 malam, aku berubah menjadi ehem.. gay... Sehari yang lalu, tepatnya saat Dobe menyatakan perasaannya padaku di hari ulang tahunnya, awalnya aku shock, tentu saja harus shock, bagaimana tidak? Tiba-tiba saja kawan sekampusku menyatakan cintanya padaku!
Yah, karena bujukan maut dari kawan-kawan, akhirnya aku menerima cintanya tanpa ba-bi-mu-ba-bi-ku lagi. Lagi pula, tidak ada ruginya menjalin hubungan dengan Dobe, dan aku juga sudah terlanjur tidak normal, gara-gara bergaul dengan kawan-kawan yang tidak normal juga. Dan pesanku, bergaullah pada yang normal, jika ingin normal juga.
"Dei~ maukah kau menemaniku ke kantin?", tanya Sasori sambil sedikit membungkuk menjulurkan tangan kanannya kepada Deidara.
"Tentu saja, oh Sasoromeoku un!", kata Deidara dengan dramatisnya sekaligus terharu.
Deidara menyambut tangan Sasori sambil tersenyum cantik, dan Sasoripun membalasnya dengan senyuman mesumnya. Melihat moment SasoDei yang sangat dramatis, pasangan ShikBapun tidak mau kalah.
"Ayo, Kib!", kata Shikamaru meletakkan tangan kirinya di pinggang.
"Let's go to kantin!", sambung Kiba sambil mengaitkan tangan kanannya di tangan kiri Shikamaru.
Aku hanya bisa menyeringai melihat kemesrahan mereka. Mereka sama sekali tidak malu, padahal ini masih di area kampus.
"Apa kau mau ke kantin, Dobe?", tanyaku pada Dobe.
"Aku akan ikut, kemanapun Sasuke pergi", jawabnya sambil tersenyum padaku.
"Kalau begitu, ikut aku ke kantin", kataku mulai berjalan menyusul duo pasang itu.
Dobe dengan patuhnya mengikutiku dari belakang. Aku sengaja berjalan lebih cepat dari Dobe, tidak ada niat ingin melakukan hal sama seperti SasoDei dan ShikBa lakukan, tidak ada upacara bergandengan tangan menuju kantin.
"Ehem, ehem un", deheman kuat Deidara sambil melirik ke arahku.
"Ehem!", deheman ShikBa serentak sambil melirik ke arahku.
"Apa maksud deheman kalian itu?", tanyaku merasa risih ditambah lagi dengan tatapan mereka berempat.
"Gandeng, mas un! Digandeng un!", ketus Deidara.
"Kau tidak ingin kehilangan Dobe, kan?", tanya Sasori menimpali.
Ih! Norak deh kalian ini!
"Gandeng, mas! Digandeng ukenya!", seru ShikBa kompak.
Yang benar saja? Masa aku harus menggandeng Dobe di tengah keramaian ini?
Aku menghentikan langkahku dan memandang ke arah Dobe. Dia hanya tersenyum ketika aku memandangnya.
". . ."
"Hahaha...", tawaku tidak jelas.
". . .", Dobe hanya memiringkan kepalanya, dia pasti heran melihat tingkah ahoku ini.
"Mereka konyol, ya?", tanyaku cengesesan, aku tidak tahu mau berkata apa lagi.
Aku sedikit canggung dan malu gara-gara aku kejadian semalam. Aku menciumnya tiba-tiba! Bayangkan itu saudara-saudari!
"Ayo!", ajak Dobe sambil menarik tasku yang menggantung di pundak kananku.
Akhirnya kami ke kantin tanpa harus bergandengan tangan. Aku berjalan dengan canggungnya bersama Dobe yang memegang ujung tasku di sebelah kananku. Yah, begini lebih baik.
Sesampainya di kantin.
"SasoDei! ShikBa! SasuNaru! Di sini!", teriak Sai dari meja paling pojok sambil berlambai-lambai pada kami.
Dengan segera kami berjalan menghampiri Sai. Di sana ada Suigetsu yang duduk di sebelah kiri Sai. Di hadapannya ada Gaara dan Neji.
Aku menarik kursi dan duduk di sebelah kanan Sai, dan Dobe duduk di sebelah kananku. Sedangkan SasoDei dan ShikBa duduk di meja terpisah, tapi bersebelahan dengan kami.
"Ayo, kita rayakan hari jadinya SasuNaru!", seru Sai bersemangat.
Aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Tidak perlu dirayakan. Aku sedang bokek", tolakku.
"Tidak apa-apa un. Di sini ada Mister Ai dan Mister Iklan Shampoo yang akan menjadi sponsor utama moment ini un. Benar kan NejiGaa un?", tanya Deidara sambil melirik ke arah Gaara dan Neji.
Gaara hanya tersenyum.
"Jangan sungkan, friends!", kata Neji layaknya seorang mister.
"NejiGaa? Sejak kapan kalian menjadi couple?", tanyaku heran.
"Kau benar-benar tidak peka, Sasuke", kata Suigetsu yang sibuk dengan PSPnya.
"Jangan katakan kalau ada juga pasangan SuiSai di sini", kataku sambil melirik Suigetsu dan Sai.
"Hahah.. Mana ada, mana ada pasangan itu!", bantah Sai sambil tertawa.
"SuiSai, masih dalam tahap PDKT", ralat Suigetsu dengan PDnya.
Sai hanya menggaruk-garuk kepalanya, aku dapat melihat wajahnya memerah.
Jashin! Jadi selama ini aku sudah bergaul dengan kawan-kawan yang tidak normal.
"Dan sepertinya ada couple baru lagi", kata Sasori sambil menunjuk sesuatu di belakangku.
Dengan segera aku berbalik, begitu pula dengan yang lainnya ikut memandang ke arah yang ditunjuk Sasori.
Di sana kami melihat ada Kakashi-sensei dan Iruka-sensei tengah makan besama.
"KakaIru moment", bisik Shikamaru yang terdengar sampai ke telingaku.
"Come on! Itu kan cuma makan siang biasa", bantahku.
"Perhatikan kaki mereka, Sasuke", bisik Dobe.
Dan akupun memperhatikan kaki mereka.
Mulutku menganga lebar. Ketika melihat kaki kanan Iruka-sensei tengah mengrape-rape paha Kakashi-sensei! Sedangkan Kakashi-sensei hanya senyum-senyum geli. Kurasa aku benar-benar tidak percaya dengan dunia yang telah lama ku tempati ini.
Cepreet. Cepreet. Cepreet. Cepreet. Cepreet.
Terdengar suara kamera.
Dan aku langsung berbalik ke sumber suara yang berasal dari belakangku.
"Kalian sedang apa?", tanyaku heran ketika melihat Sasori, Kiba, Gaara dan Neji memotret sesuatu dengan ponsel mereka.
"KakaIru moment donk un!", jawab Deidara.
"Moment seperti ini tidak boleh diabaikan tapi wajib diabadikan", sambung Gaara tersenyum pada ponselnya.
Neji hanya menyeringai memandangi ponselnya.
"Upload ya, dan jangan lupa tag ke aku", kata Suigetsu.
"Tag ke aku juga!", sambung Sai.
"Bluetoot, donk Sas un!", kata Deidara mengeluarkan ponselnya.
"Sip!", sahut Sasori.
Begitu pula dengan ShikBa yang sibuk bluetoot-bluetootan sambil berseringai mesum.
"Apa kau mau juga, Naru un?", tanya Deidara.
Dobe tersenyum, dia mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dengan segera aku mencegah niatnya itu.
"Kau jangan terpengaruh dengan mereka", bisikku.
Dobe mengangguk pelan dan tidak jadi mengeluarkan ponselnya.
"Gomen Deidara, Sasuke melarang Naru", kata Dobe dengan polosnya.
"Sasuke payah un! Masa kau tidak tertarik dengan moment ini un?", cibir Deidara.
"Tapi aku yakin, nantinya kau akan terbiasa", sambung Neji sambil menyimpan ponselnya.
"A, B...", kata Gaara sambil mendekati diri ke Neji dengan ponsel di tangan kanannya.
"C!", sambung Neji dan Gaara bersamaan.
Cepreet.
NejiGaa moment terpotret di ponsel Gaara.
Aku hanya menghela napas.
"Sebenarnya kalian ini kenapa sih? Apakah ini sifat asli kalian? Biasanya kalian tidak seperti ini", tanyaku heran melihat sifat mereka yang berubah 180 derajat celcius.
"Kami Fudanshi un", jawab Deidara.
"Fudanshi? Apa itu?", tanyaku makin bingung.
"Julukan untuk laki-laki yang menyukai percintaan sesama laki-laki", jelas Sai.
"Gomen sudah merahasiakan hal ini darimu", sambung Sasori.
"Gomen, Sasuke", kata ShikBa kompak.
"Gomen juga~", sambung NejiGaa.
Sai hanya tersenyum, Suigetsu masih asyik dengan PSPnya, Dobe hanya tersenyum, apa dia juga Fudanshi?
"Kami sengaja merahasiakan sifat asli kami un. Kami takut kau akan menjauhi kami karena hobi kami yang agak ajaib ini un. Bagiku, kehilangan satu kawan lebih menakutkan daripada kehilangan harga diri un", jelas Deidara.
"Dan karena kau telah berpacaran dengan Naru, jadi kami bisa bebas memperlihatkan sifat asli kami", sambung Sasori.
Yang lain ikut mengangguk membenarkan perkataan SasoDei.
"Jadi, jangan merasa risih ya dengan sifat kami yang satu ini", kata Sai menepuk pundakku.
"Awalnya, aku merasa aneh saja melihat sifat kalian yang seperti ini. Biasanya kalian tidak seperti ini. Tapi setelah mendengarkan penjelasan kalian, aku jadi paham. Kuharap kalian tidak perlu menyembunyikan apa-apa lagi dariku, bagaimanapun anehnya kalian, aku tetap akan berteman dengan kalian. Kalian sudah aku anggap sebagai saudara tiriku sendiri. Sankyu atas perhatian kalian, aku ucapkan sankyu sekali lagi. Wassalam", ceramahku ala ustadz.
Mereka tertawa lepas sambil bertepuk tangan setelah mendengar ucapanku tadi.
"Jadi un? Apa kau mau menjadi seorang Fudanshi un?", tanya Deidara.
"Tidak!", tolakku.
"Suatu saat nanti kau pasti akan mengetahui indahnya dunia Fudanshi itu", sambung Sasori berapi-api.
Mengapa setiap kali Deidara berkata, Sasori selalu saja menyambungnya? Dan yang lain hanya diam dan mengikuti? Apakah skenarionya memang seperti itu author?
"Bagaimana dengamu, Naru un?", tanya Deidara.
"Kalau Sasuke, tidak. Maka Naru juga tidak", jawab Dobe.
"I Love U, Dobe", kataku sambil merangkul pundaknya.
"Ciiiieeeee~", seru mereka sambil menatapku.
Dengan segera aku menutup mulutku yang telah berbicara tanpa berpikir dulu. Aku tidak serius mengatakan itu, Dobe! Ciyus deh!
Sore harinya. Aku dan Dobe ke toko buku. Ini tidak bisa dibilang kencan lho. Cuma sekedar membeli buku pelajaran saja, sudah itu pulang.
Sebelum pulang aku melihat sepasang laki-laki yang kukenal. Setelah memperhatikan mereka lebih jelas, rupanya itu Shino dan Kankurou, teman sekampusku meskipun kami tidak satu kelas. Mereka masuk ke toko aksesoris sambil bergandengan tangan. Jashin! Bergandengan tangan! Tangannya bergandengan saudara-saudari!
Dengan segera aku membuntuti mereka dengan mengendap-ngendap. Kulihat Kankurou tengah menyematkan cincin di jari Shino dan Shino hanya malu-malu putri malu. Tanpa berpikir panjang lagi, aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan memotret mereka. Aku menyeringai memandangi foto-foto mereka yang telah tersimpan di ponselku.
"KankuShino moment?", bisik seseorang dari belakangku.
"Benar!", anggukku sambil berseringai.
Suara ini...
"Do, Dobe!", teriakku kaget ketika melihat Dobe ada di belakangku.
Bagaimana bisa aku melupakan keberadaan Dobe demi moment aneh ini!
"Apakah Sasuke sudah mulai tertarik dengan dunia Fudanshi?", tanya Dobe sambil tersenyum.
"Hehehehe...", aku hanya bisa tertawa kecut.
Aku terjongkok sambil menyembunyikan wajahku. Aku telah terkontaminasi oleh virus Fudanshi yang dibawa oleh kawan-kawanku!
"Tidak apa-apa, Naru juga akan menemani Sasuke terjun ke dunia Fudanshi", hibur Dobe sambil mengelus-ngelus rambutku.
Baby Maybe... ~I'm Fudanshi - End
Lagi-lagi terputus di series berikutnya...
