Suasana makan malam yang tenang di sebuah apartemen mewah milik putra tunggal keluarga Park. Tak ada percakapan yang hangat dimeja makan. Hanya terdengar suara dentingan pelan antara peralatan makan yang digunakan.
Tiga orang berada pada satu meja makan yang sederhana. Tuan Park, Park Yoochun dan Minyoung.
Dua orang paling muda disana hanya bungkam—rasa segan menyergap mereka kala melihat tatapan yang berbeda dari kepala keluarga Park itu. Yoochun paham jika sang appa masih merasa kecewa padanya. Tapi apa mau dikata—nasi sudah menjadi bubur—dirinya sudah kepalang basah. Namja itu telah menggaet beberapa pemegang saham dan investor yang tertarik dengan keuntungan yang akan didapatkannya dari megaproyek itu. Dana yang sudah diperolehnya pun tidak dapat ia tarik kembali.
Ddrrrrtt ddrrrrrtt
Getaran ponsel memecah keheningan makan malam itu. Yoochun mencoba mengabaikannya kali ini. Namun getaran ponsel—yang sempat berhenti beberapa sekon sebelum bergetar kembali—selama hampir tiga menit itu akhirnya dapat mengalihkan perhatian namja bermarga Park tersebut.
"Maaf, aku harus mengangkat telepon dulu."
"Hn. Sepertinya memang ada hal yang genting," Tuan Park berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari meja makan.
Yoochun beranjak dari kursinya menuju meja kecil disamping pantry dapur. Dahinya bergerenyit heran saat melihat nomor pemanggil yang tertera.
'Nomor kantor polisi? Ada apa ini?'
Dengan perasaan tidak nyaman yang mulai bergejolak, Yoochun pun mengangkat panggilan tersebut.
KLIK
"Yeobeoseyo?"
.
.
.
Vans' Present
======================== THE VIRUS =========================
Disclaimers: God, their parents, and themselves
Warning: Shounen-ai, gore, thriller, a lil bit of angst and amburegul
.
.
.
"Hosh.. Hosh-.."
Yoochun berlari menuruni tangga apartemen mewahnya yang berlantai dua. Tangannya dengan terburu-buru mengancingkan jas mahalnya. Raut wajahnya tampak berantakan.
"Oppa, tasnya sudah siap. Barang-barang yang oppa minta juga sudah aku masukkan-" Minyoung berusaha mengejar langkah kaki panjang tunangannya. Wajah cantiknya terlihat kebingungan dan khawatir. Sesaat setelah Yoochun menerima telepon tadi, namja tampan itu langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
Tunangannya juga yang menyuruhnya untuk segera menyiapkan barang-barang Yoochun.
"Sebenarnya apa yang terjadi, oppa?"
"Kau tenang saja. Tetap disini dan jangan lupa kunci pintunya," sahut Yoochun sambil memakai sepatunya tanpa menoleh kearah Minyoung.
Minyoung menatap kepergian Yoochun dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapannya menerawang jauh kedepan. Perasaan buruk yang menyergapnya sejak tadi siang tidak dapat ia abaikan begitu saja.
"Semoga kau baik-baik saja, chagi-.." lirihnya.
Yeoja berambut kecoklatan itu menghampiri sofa lalu mendudukkan dirinya disana. Diliriknya sebuah bingkai foto diatas nakas samping sofa yang berisi foto dirinya bersama Yoochun satu bulan yang lalu, tepat dihari pertunangan mereka.
Minyoung kembali menerawang. Pikirannya hari ini sudah lari kemana-mana, selalu tidak fokus saat mengerjakan sesuatu. Jantungnya pun beberapa kali terasa berdebar kencang. Padahal ia tidak melakukan aktivitas berat apapun.
Ia menghela nafas berat. Diliriknya kembali foto itu. Senyuman casanova milik Yoochun—yang mampu membuat semua yeoja luluh dibuatnya—terpatri disana.
Minyoung jadi ingat saat pertama kali mereka bertemu. Saat itu ia baru saja diputuskan oleh (mantan) kekasihnya, secara tak sengaja bertemu dengan Park Yoochun yang ternyata adalah relasi sang ayah.
Setelah beberapa hari mereka mengakrabkan diri, namja pewaris Shinki Inc. itu ternyata malah dijodohkan dengannya. Tentu saja Minyoung merasa senang. Yoochun itu seorang namja yang tampan, cerdas, pandai berbisnis dan pastinya juga mapan dalam segi materi.
Persis seperti pangeran yang Minyoung impikan sedari kecil. Namun satu hal yang selalu Minyoung ragukan dari tunangannya itu.
Cinta.
Ya, cinta.
Meskipun kini mereka tampak mesra dan saling membuat nama panggilan satu sama lain, namun Minyoung menyadarinya. Hati Park Yoochun tidak ada padanya.
.
.
.
.
.
"Aish~ Minggir sedikit. Beri aku jalan!"
Terlihat kerumunan orang berdesak-desakkan diluar gedung Shinki Inc. Mereka semua—yang ternyata adalah wartawan—tampat berteriak-teriak meminta penjelasan dari pihak terkait.
Berita menyebar begitu cepat. Entah siapa yang telah membocorkannya kekhalayak ramai. Karena kurang dari dua jam setelah pelaporan itu, para wartawan dari berbagai media sudah berkumpul disana.
"Yeorobun, tolong perhatiannya sebentar!" seru seorang namja berseragam polisi datang menghampiri kerubunan para wartawan tersebut.
Serempak semua mata para pencari berita itu mengalihkan pandangannya keasal suara. Terlihat seorang namja bertubuh tinggi menjulang berseragam polisi lengkap dengan sebuah jubah panjang—yang menandakan namja itu bukanlah seorang polisi biasa.
"Nuguseyo?" tanya seorang wartawan.
"Shim Changmin imnida. Inspektur polisi Seoul," ucap namja itu dengan intonasi yang penuh dengan ketegasan.
Suasana yang tadinya memanas mulai tenang kembali. Namja yang mengaku bernama Shim Changmin itu menaiki undakan sebuah batu yang tidak jauh dari sana. Mata bambinya menatap tajam para wartawan.
"Saat ini, situasi didalam sana benar-benar dalam kekacauan-"
Semua menyimak perkataan sang Inspektur yang kini sedang berdiri tegap dihadapan mereka. Tidak menoleh sedikitpun meski suara derap langkah beberapa tentara melewati mereka. Bahkan beberapa diantara mereka sudah menyiapkan alat perekam suara, menyiapkan catatan, dengan kamera yang tetap menyala.
"Kami himbau kepada masyarakat sipil untuk menjauh dari tempat ini minimal dalam radius lima belas kilometer. Jika perlu, siarkan berita pada seluruh masyarakat Seoul untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman diluar kota-"
"Tunggu sebentar, Shim Changmin-ssi-" sela seorang wartawan namja bertubuh mungil berkalungkan logo sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penyiaran—dengan nama asli Kim Junsu. Namja berkacamata itu bertanya tanpa melepaskan tatapannya pada sang Inspektur.
Changmin berdeham pelan sebelum memberikan gestur mempersilahkan Junsu untuk melanjutkan perkataannya.
"Apa kau tidak berpikir jika dengan perkataanmu itu akan semakin memperkeruh keadaan yang sedang kacau ini, Inspektur? Bukankah kau tahu, media dapat memperkeruhnya dengan berbagai macam spekulasi seputar hal yang sedang terjadi didalam Shinki Inc. dan dengan perkataanmu tadi—yang menyarankan untuk memberitahu seluruh warga Seoul untuk mengungsi keluar kota, apakah itu tidak aneh? Apakah akan akan sebuah bom serupa bom atom yang akan meledak? Sebenarnya apa yang sedang terjadi didalam sana? Kenapa kepolisian dan militer mencoba menutupinya dari media dan malah memerintah kami—wartawan—seperti itu?!" cerocos Junsu tajam.
Perkataan namja bertubuh mungil dan berkacamata itu sontak membuat semua wartawan yang ada disana berbisik-bisik heboh. Ada benarnya juga. Sebenarnya seberapa besar kekacauan yang sedang terjadi di Shinki Inc. hingga membuat sang Inspektur polisi memerintahkan wartawan untuk menyebarkan berita seperti itu?
"Tidak ada hal yang akan aku jelaskan lagi pada kalian. Hal itu lebih dari wewenangku disini. Jika ingin bertanya lebih lanjut, sebaiknya kalian bersabar. Namun hal yang paling utama sebagai aparat dan pelindung masyarakat sipil adalah mendahulukan keselamatan masyarakat tersebut-
"-Dan kalian sebagai awak media—penyalur informasi pada masyarakat, sebaiknya ikut bekerjasama dalam hal ini. Tugas kalian sekarang adalah: silahkan kembali ke kantor penyiaran kalian secepat mungkin, dan beritakan bahwa akan ada serangan besar-besaran di Seoul. Beritakan juga kalau Seoul sudah harus dikosongkan dalam tenggat waktu satu kali dua-puluh empat jam dari sekarang. Kalian mengerti?"
Para wartawan yang sempat terpana mendengar perkataan Changmin hanya dapat menganggukkan kepala mengerti. Tak lama kemudian mereka pun membubarkan diri. Berlari dengan cepat menuju mobil mereka yang terparkir di halaman gedung Shinki Inc. yang telah dipenuhi mobil-mobil polisi dan militer.
Changmin—masih dengan air mukanya yang tenang namun menghanyutkan itu masih terdiam ditempatnya berdiri. Pikirannya melayang sesaat sebelum sebuah suara kembali menginterupsinya.
"Jeogiyo, Shim Changmin-ssi, apa Park sajangnim ada disini?"
Changmin menundukkan kepalanya guna melihat orang yang sedang mengajaknya berbicara. Tentu saja menunduk karena posisi Changmin masih berdiri diatas undakan batu.
Dilihatnya namja bertubuh mungil dan memakai kacamata beserta namja bertopi—sepertinya teman namja mungil itu—tengah berdiri kurang lebih dua meter dihadapannya. Namja itu—wartawan yang menanyainya dengan pertanyaan cepat yang membuat telinganya berdengung sesaat.
"Aku belum tahu keberadaan CEO Shinki Inc. itu. Kenapa kau masih disini? Bukankah seharusnya kau melaksakan tugas yang tadi kuperintahkan?" tanyanya sengit.
Junsu memasukan alat tulisnya kedalam tas punggungnya lalu mengeluarkan sebuah handy-cam dari dalam benda tersebut. "Aku adalah pencari berita. Tugasku adalah mencari berita aktual secara terperinci. Bukan untuk menurutimu, Inspektur Shim," ujar namja berkacamata itu tak kalah sengit.
Matanya yang agak sipit menatap Changmin dengan tatapan yang sulit diartikan. Begitupun Changmin yang menatap Junsu dengan sorot mata yang kurang lebih sama dengan Junsu. Namun lebih datar dan dingin.
"Terserah padamu. Apapun yang terjadi, bukan tanggung jawabku sepenuhnya. Sekarang kau bisa melakukan apa saja sesukamu. Tapi satu hal yang harus kauingat-"
Changmin maju satu langkah. "Jangan ganggu siapapun. Baik itu polisi, militer, ataupun orang Shinki Inc.-.. Itupun jika masih ada," sang Inspektur berkata dengan nada rendah diakhir kalimat seolah sedang bergumam.
Junsu mengerenyitkan dahi, "Apa maksudmu dengan 'jika ada'?" ia mengaktifkan alat perekamnya tanpa disadari oleh Changmin.
Namja bertubuh tinggi yang berprofesi sebagai Inspektur polisi itu hanya bersidekap dengan bibir yang menyeringai kecil. "Silahkan kau cari tahu sendiri. Pikirkan dengan keras sekeras kekeraskepalaanmu itu. Aku sudah memperingatkanmu tadi. Tapi biar kuperingatkan sekali lagi, Kim Junsu-ssi. Sebelum temanmu yang satu itu mati berdiri-" tunjuknya pada namja bertopi dibelakang Junsu.
Namja itu kini tampak gelisah—tak hentinya menengok ke belakang. Sepertinya ia berkeinginan untuk lari dari tempat itu. Dan benar saja, detik berikutnya namja bertopi itu akhirnya berani membuka suaranya. "Junsu-ya… To-tolong berikan kunci mobilnya padaku-"
Junsu mendengus mendengar permintaan rekannya yang satu itu. "Lee Hyukjae-ssi, kenapa kau jadi berubah pikiran? Bukannya tadi kita sudah sepakat kalau akan tetap tinggal disini?!"
Namja bertopi yang bernama Lee Hyukjae itupun meraih tangan Junsu. "Junsu-ya, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Perasaanku benar-benar tidak enak. Palliwa, Suie.." Hyukjae mencoba menarik tubuh Junsu. Namun Junsu tetap bersikeras untuk tidak beranjak dari tempatnya.
"Lepaskan aku, Hyukkie. Jika kau tidak mau bersamaku lagi, terserah! Ini kunci mobilnya-" Junsu merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kunci mobil dengan gantungan kunci lumba-lumba. "Aku akan mencari berita sendiri. Kau pulang saja sana," ujarnya ketus.
Junsu memalingkan wajahnya kearah Changmin yang masih tetap pada posisinya semula. Setelah menerima kunci mobil tersebut, Hyukjae langsung berjalan setengah berlari menuju tempat mereka memarkirkan mobil tadi. Mobil itu terparkir tepat ditepi jalan yang mengarah menuju gedung Shinki Inc.
Mobil sudah terlihat, beberapa meter didepannya. Iapun memasuki mobil kantor yang dibawanya bersama Junsu tadi. Entah mengapa kini perasaannya benar-benar tidak enak. Sebenarnya ia merasa buruk sudah meninggalkan Junsu sendirian ditempat yang belum ia ketahui seberapa berbahayanya konflik yang terjadi. Namun kali ini ia lebih menuruti perasaannya.
TOK TOK
Hyukjae menengok ke kaca pintu mobil. Dapat dilihatnya seorang namja yang memakai pakaian kantor berlumuran darah. Iapun menurunkan kaca pintu mobilnya. "O—omo.. Apa yang terjadi padamu? Kau kenapa?" sahutnya panik.
Segera dibukakannya pintu mobil, "Ayo cepat masuk. Akan aku antarkan kau ke rumah sakit," ucapnya sembari memapah namja asing itu masuk kedalam mobilnya. Setelah itu, Hyukjae pun kembali memasuki mobilnya dari arah yang berlawanan. Distaternya mobil lalu kemudian mengemudikannya dalam kecepatan normal.
"Jeogi-.. Kumohon bertahanlah. Kita akan segera sampai."
Namja asing berlumuran darah itu mengerang pelan. Matanya terpejam erat dengan keringat dingin yang mulai bercucuran dipelipisnya.
Hyukjae yang panik makin mempercepat laju mobilnya. Matanya sesekali melirik namja asing yang tengah kesakitan disampingnya. Entah darimana datangnya namja tersebut. Namun Hyukjae tak peduli. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa namja disampingnya itu.
.
.
.
.
.
"Aku sangat mengapresiasi semangatmu, Junsu-ssi. Kalau begitu, sekarang mari ikut denganku. Ada beberapa hal yang akan aku memuaskan rasa penasaranmu-"
Changmin serta Junsu yang mengikuti dibelakangnya berjalan menuju sebuah tenda darurat yang berukuran paling besar diantara tenda-tenda yang ada. Para anggota polisi dan tentara berseliweran kesana-sini. Entah apa yang sedang mereka kerjakan, Junsu tak tahu pasti. Mereka semua terlihat sibuk dan terburu-buru. Mustahil baginya untuk menginterupsi tugas para aparat tersebut hanya untuk bertanya tentang apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
Kedua namja berbeda tinggi tubuh itu masih tetap bungkam, bahkan saat mereka sampai di tenda itupun mereka masih belum mengeluarkan sepatah katapun.
Mata sipit Junsu sedikit membeliak saat melihat seseorang yang dikenalnya kini sedang duduk diatas sebuah kursi kayu—berpakaian lusuh dengan beberapa bercak darah disana. Iapun segera menghampiri seorang namja cantik yang sangat dikenalnya itu.
"Joongie-hyung, wae geurae? Neo gwaenchana?"
Kim Jaejoong, namja cantik yang dipanggil Junsu tadi ternyata adalah sepupu Junsu yang memang bekerja di Shinki Inc. sebagai pegawai biasa.
Jaejoong menatap Junsu dengan mata bulatnya yang menawan. Namun mata itu memancarkan ketakutan dan kegelisahan dari tatapannya. "Suie-.." panggilnya agak tercekat. Jaejoong memeluk Junsu dengan erat. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Changmin masih berdiri kaku disamping Junsu. Ditolehkan wajahnya kesamping. Tak jauh dari berdirinya ia terdapat dua orang namja dengan seragam militer lengkap tengah memperhatikan mereka. Changmin membungkuk sebentar sembari menyapa dua namja bertubuh kekar itu, "Annyeong haseyo, Komandan Oh, Kapten Jung."
Dua namja kekar berseragam militer itu juga balas membungkuk pada inspektur muda Seoul tersebut. Namja jangkung bermarga Shim yang digadang-gadang akan menjadi Kepala Kepolisian Korea Selatan itu kini ada bersama mereka. Terjun langsung ke lapangan guna menyelidiki kasus yang tengah terjadi saat ini.
"Inspektur Shim, ada beberapa hal penting yang harus kita bicarakan. Tapi sebelum itu, kita harus menunggu kehadiran CEO Shinki Inc., Park Yoochun-ssi," ucap Jihoo. Tatapan tajam matanya pun beralih pada dua namja berpakaian kasual yang berdiri disamping Changmin. "Dia Kim Jaejoong, satu-satunya saksi mata yang dapat bertahan hidup dalam kejadian ini-" Jihoo mencoba menerangkan pada Changmin perihal namja berpakaian lusuh—yang berparas menawan itu.
Namun tak lama kemudian tatapan tajam Jihoo beralih pada namja berkacamata yang satunya, Junsu. Changmin yang mengerti arti tatapan sang Komandan pun melirik Junsu sesaat sebelum menjelaskan, "Dia Kim Junsu, wartawan keras kepala yang nekat bertahan disini. Tenang saja, Komandan Oh. Dia dibawah pengawasanku mulai saat ini," jelasnya mencoba meyakinkan Komandan dan Kapten militer didepannya.
Kapten Jung Yunho yang sedari tadi diam saja akhirnya membuka suara, "Baiklah, sebaiknya kita duduk dulu dengan tenang sambil menunggu Park Yoochun-ssi tiba."
Akhirnya semua namja yang ada di tenda besar itu mendudukkan dirinya pada kursi-kursi kayu yang memang tersedia disana. Junsu dan Jaejoong duduk bersebelahan didekat sebuah meja rakitan yang diatasnya ada seperangkat komputer dan beberapa monitor kecil disekelilingnya. Sedangkan tiga namja lain—yang bukan masyarakat biasa itu mengobrol serius tak jauh dari keberadaan Jaejoong dan Junsu.
Sepuluh menit sudah mereka menunggu. Namun orang yang ditunggu belum juga tiba. Sesekali Changmin yang sudah merasa bosan mencoba mengusir rasa bosannya dengan berjalan mondar-mandir sambil memainkan ponsel canggihnya. Inspektur polisi itupun sesekali melirik Junsu yang masih anteng mengobrol ringan dengan Jaejoong yang masih saja tertunduk lesu.
Bagaimanapun juga, Junsu kini adalah tanggung jawabnya—berada langsung dibawah pengawasannya. Ia harus bekerja lebih keras mulai dari sekarang. Instingnya mengatakan bahwa namja mungil berkacamata satu itu pasti akan berguna nantinya. Entah apa yang dimaksud, tetapi Changmin selalu yakin pada intuisinya itu—yang terkadang memang berfungsi sangat baik.
SREEET
"Maaf menunggu lama!"
Semua mata pun tertuju pada asal suara. Seorang namja berbalut jas semi-formal yang menggendong sebuah ransel dipunggungnya. CEO Shinki Inc., Park Yoochun.
.
.
.
.
.
Yoochun menggeram frustasi setelah mendengar pengakuan saksi mata yang juga salah satu karyawan di perusahaannya itu. Sebuah kesalahan fatal—yang entah bagaimana awal terjadinya hal tersebut. Megaproyeknya kini hancur sudah. Yoochun pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Benar-benar tidak tahu!
Obrolan serius yang panjang bersama para petinggi militer dan polisi itu belum membuahkan solusi yang dapat memecah jalan buntu masalah yang terjadi. Terlebih mereka belum tahu benar—dalam artian melihat secara langsung—apa yang terjadi didalam sana. Namun berdasarkan kabar yang Jaejoong sampaikan tadi, membuat mereka antara percaya dan tidak percaya.
Ia sempat terkejut saat melihat keberadaan seseorang disana. Namja manis yang lebih pendek darinya—yang bernama Kim Junsu itu. Tak menyangka jika Junsu akan berada disana, melihat betapa bodohnya ia.
Kim Junsu, kekasihnya semasa kuliah dulu—yang kini menjadi mantan kekasihnya.
Yoochun memejamkan matanya sesaat. Mencoba berpikir keras guna mencari alternatif pemecahan masalah yang kini tengah dihadapinya. Sebenarnya tidak akan menjadi hambatan jika saja ruang lingkupnya hanya meliputi Shinki Inc. Tetapi ini menyangkut keselamatan seluruh warga kota Seoul bahkan Korea Selatan!
Tiba-tiba Yoochun membuka matanya. Ada beberapa hal yang mungkin dapat membantu mereka menyelesaikan masalah—hal itu berkelebatan dalam otaknya yang terbilang jenius. Namja bermarga Park itu segera menuju seperangkat komputer yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
"Komandan Oh, apakah aku boleh menggunakan komputer ini?" tanyanya pada Jihoo yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala darinya.
Sebagai seorang pewaris perusahaan yang bergerak dibidang teknologi dan farmasi, tentu saja tidak hanya persoalan bisnis saja yang ia kuasai. Ia dituntut untuk menguasai teknik komputerisasi dan pengetahuan akan obat-obatan. Yoochun mulai mengotak-atik program komputer didepannya itu dengan raut wajah yang serius.
Namja tampan itu mencoba membuka sebuah situs yang dikhususkan untuknya guna memasuki data base dan operasi sistem Shinki Inc. Situs ini sengaja dibuatkan oleh sang appa untuk mengatasi keadaan darurat yang bisa kapan saja terjadi didalam perusahaan itu. Dan kini situs itu benar-benar dibutuhkan olehnya. Appanya memang pemikir yang sangat hebat.
"Inspektur Shim, Komandan Oh, Kapten Jung—adakah dari kalian yang dapat menghubungi bagian pertahanan wilayah untuk segera menaikkan 'Tembok Darurat' itu?" pinta Yoochun dengan tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer didepannya.
Tiga namja berseragam itu mematung sesaat setelah mendengar permintaan namja CEO Shinki Inc. itu. "Darimana kau mengetahui tentang tembok itu, Yoochun-ssi?" gumam Yunho dengan nada rendah yang terdengar seperti menggeram.
"Kalian jangan salah sangka dulu. Tentu saja aku tahu karena memang kami yang merancang sistem 'Tembok Darurat' itu. Mungkin hanya Presiden dan para Menteri saja yang mengetahuinya, karena ini memang data top secret-" Yoochun mencoba menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara meraka dalam keadaan genting seperti ini.
"Tolong jangan terlalu membuang banyak waktu, karena mungkin—"
Ucapan Yoochun terhenti saat melihat layar monitor komputer yang berukuran lumayan besar itu menampakan sebuah rekaman. Tadi sebelumnya namja tampan itu berbicara sambil membuka akses seluruh CCTV yang terpasang ditiap sudut kota Seoul. Bertepatan pada kalimat terakhir yang diucapkannya, nampak sebuah rekaman yang menampilkan seorang namja yang tengah meronta dan berteriak kencang karena ada bagian tubuhnya yang tercabik.
Dapat terlihat dengan jelas bagaimana makhluk yang sedang bergelut dengan namja bertopi itu mencabik tangan sang namja malang tersebut. Nampak sang namja tergeletak ditengah jalan dengan keadaan mengenaskan. Ia masih hidup, namun sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk bangkit. Sedangkan makhluk menyeramkan itu terus saja menyerangnya dengan membabibuta.
Semua mata yang menyaksikan menatap tak percaya. Jaejoong menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tubunya bergetar, terisak hebat. Junsu memicingkan matanya. Seolah tersadar akan sesuatu, mata sipit Junsu membelalak lebar.
Pakaian itu..
Topi yang dikenakan namja malang itu..
"Bukankah itu temanmu yang tadi, Junsu-ssi?"
.
.
.
======================== T B C ==========================
.
.
.
Vans' cuap:
iHola, reader-ssi~ Vans balik lagi bawa chapter lanjutan The Virus. Semoga suka dengan lanjutannya :D
Maaf kalo chapter yg satu ini rancu dan ngelantur. Kalo ada yg salah, tolong dikoreksi, ne? :)
jema Agassi-ssi: Iya, ularnya sengaja dibawa ke Aussie karena di Afrika kurang peralatan. Tadinya mau di Jerman, cuman keknya Aussie lebih cocok. Wkwkwk xD #ngaco
Gomawo yang sudah mampir, ripiu, bahkan follow ff Vans^^ *bows*
FlowAara23 | DasyatNyaff | | Seth Chaos | zahra32 | nabratz | jema Agassi | zuzy delya | JN Malfoy | VanHunHan2
