hadooohh... sori semuanya telat apdet! buntu ide berhari-hari sih... *membungkukmintamaaf. Sekarang udah ke chappie 2! maaf kalo humornye garing segaring keripik singkong kesukaan saya...
Arthur, atau kali ini panggil saja dia 'Peri Alis Tebal', berkata, "Ya, Vash. Memangnya kenapa?" Peri Senapan menjawab, "Tidak apa-apa. tumben saja melihatmu turun dari rumahmu di gunung itu." Arthur menggertakkan giginya.
"Aku kesini, karena aku merasa marah. KENAPA AKU TIDAK DIUNDANG, BLOODY GIT?" teriak Peri Alis Tebal marah. "M-maaf, aru. Undangan anda jatuh ke sungai dan hanyut di perjalanan ke rumah anda di gunung Kilimanjaro!" kata Yao meminta maaf. "Kalau begitu, kenapa kau tak membawa cadangannya?" tanya Peri Alis Tebal. "Saya lupa, aru~" kata Yao. "Dasar." Komentar Arthur.
"Emm… Arthur, kau kan sudah disini. Jadi, kenapa kau tidak berikan saja hadiahmu?" tanya Peri Moe, dengan jurus imut yang membuat Peri Alis Tebal luluh (tunggu. Kita sedang membuat fic Prufem!Aus, bukan UKLiech!). "Baiklah." Katanya sambil mengeluarkan cangkir teh ajaibnya dan maju. "Dia memang akan menjadi gadis yang serius, tegas, pintar, dan lain-lain seperti yang kalian sebutkan. Tapi, pada hari ulang tahunnya yang ke-19, sebelum bulan purnama muncul, dia akan menyentuh sebuah… emm… piano dan dia akan MATI! Bua-ha-ha- uhuk-uhuk…" Peri Alis Tebal terbatuk-batuk saat ia tertawa. Tiba-tiba, Runa datang dan membawakan obat Ne-piiip-. "Kau belum minum obatmu hari ini." Katanya sambil menyerahkan obat itu.
"Ah, aku lupa." Kata si peri gak-pinter-jadi-penjahat itu dan menerima obatnya. Lalu dia mengambil sendok yang entah napa sudah nangkring duluan di meja sebelah.
Setelah minum obat, ia melanjutkan kata-katanya. "Ya sudah. Itu hadiah dariku, sekian dan terimakasih. Selamat tinggal!" Lalu dia menghilang dan menyisakan asap yang sama dengan asap kebakaran hutan di tempatnya Nesia.
Semua yang ada di situ terkejut. "Bagaimana ini?" tanya ratu cemas. "Hei Eliza, bisa tidak kau batalkan?" Tanya Peri Senapan. "Aku… tidak bisa. Kau tahu kan, dia 'peri' terkuat yang ada disini?" Jawab Peri Fujo. Sang raja yang lagi enak-enakan tidur pun terbangun mendengar keributan di luar. Ia bergegas turun ke bawah. "Ada apa sih… ngegangguin gue tidur aja…" Kata sang raja menggunakan bahasa gaul. "Itu lho, Pa… ada kutukan dari peri gaje tiba-tiba dateng, kalo anak kita nyentuh piano sebelum bulan purnama muncul di hari ultahnya yang ke-19, dia bakal mati." Kata sang ratu menjelaskan.
"Woh, baguslah kalo begitu, kita tak perlu beli stok makanan banyak-banyak… tak perlu beli baju banyak-banyak, dan penghematan lainnya…" Kata sang raja setengah mengantuk. Otomatis, sang ratu menggetok suaminya dengan mesin kasino (whoa…)
"Oke, oke…" Kata sang raja dengan benjolan tiga buah di kepalanya hasil dari getokan mesin kasino tadi. "Kalau begitu, sepertinya kita harus… Apa ya…" katanya dengan bingung. Sang ratu hanya bisa ber-facepalm-ria melihat suaminya yang coretsangatcoret agak lambat bereaksi itu.
"Tapi, mungkin aku bisa merubahnya." Kata Peri Fujo. "Ya sudah, coba saja." Kata Peri Senapan. Peri Fujo pun mengeluarkan doujin R-18 ajaibnya dan mengayunkannya di dekat Putri Rosalie. "Kutukan ntu peri gaje tak bisa kubatalkan, secara aku bukanlah pengundo. Tapi, aku mungkin bisa mengubahnya. Kau tak akan mati, tapi hanya tertidur panjang hingga dibangunkan oleh sebuah ciuman cinta sejati…" Dan dalam hati ia berharap 'Semoga dengan kedatangan anak ini, penghasilanku tambah tinggi!'
"Emm… Yang Mulia, bagaimana jika ketiga 'peri' membawa Putri Rosalie ke tempat mereka di hutan tropis, aru? Aku yakin, disana cukup terpencil dan jauh dari ntu peri gaje, aru. Lagipula, kalau dia dibiasakan untuk tinggal di daerah terpencil, dia bisa belajar untuk bertahan hidup, aru~" Usul Yao. Ratu hanya bisa bertampang watdepak dan berpikir, 'Emang anak gue udah tingkatan penggalang ramu? Kenal pramuka aja kagak…'
Meski begitu, usul Yao disetujui, dan ketiga 'peri' itu merasa mereka akan segera tekor sebentar lagi. Tiba-tiba, Peri Fujo mendapat ide. "Emm… Vash, bisa nggak kamu tanggung semua keperluan Putri Rosalie, seperti susunya, makanannya, de-el-el deh…" katanya dengan jurus puppy eyes yang kira-kira bisa diartikan 'Tendanglah aku~' #digetokwajan
"Emang uangmu kemana?" Tanya Peri Senapan. "Uangku…" Kata Peri Fujo agak tidak enak, "Habis buat 'keperluan' itu…" Jawabnya malu-malu. "Lalu, bagaimana dengan Lily?" tanya Peri Senapan. "Kak, bukannya, kakak yang mengatur semua urusan keuanganku?" Tanya Peri Moe. Alhasil, Peri Senapan pun terpojok. Sepertinya, dia memang ditakdirkan untuk menanggung urusan keuangan mereka. Belum lagi Putri Rosalie yang dengan usul Yao yang sak penake dhewe* itu, malah tinggal di rumah 'angker' mereka dan menjadi orang berikutnya yang ditanggung olehnya.
Para 'peri' pun membereskan barang-barangnya Putri Rosalie, dibantu oleh tiga pelayan istana yang bernama Toris, Eduard, dan Raivis. Setelah itu, mereka pergi ke hutan membawa Putri Rosalie untuk tinggal bersama mereka.
Sementara itu, sang ratu dan suaminya... "Pa, kan katanya anak kita bakal tidur kalo nyentuh piano, berarti, apa kita harus menghancurkan semua piano yang ada di seluruh kerajaan?" Begitu ratu selesai mengucapkan pertanyaannya, segerombolan orang, yang merupakan pianis dari seluruh penjuru kerajaan datang dan memprotes. "Nanti kalau gak ada piano, kita main apaan, BOUZOUKI?" tanya seorang pianis. "BOUZOUKI DARI HONGKONG? Bentuknya kan beda jauh!" Hardik pianis lainnya. Otomatis, Hong Kong pun bersin lagi. Karena didesak oleh para pianis itu, keputusan akhirnya adalah, mereka tidak menghancurkan piano, melainkan bouzouki (Apa nyambungnya coba?).
Peri Fujo kembali menggunakan sihir 'cabut', dan mereka pun sampai balik ke rumah pohon mereka. "Sebaiknya, kita rubah dulu rumah pohon ini untuk sementara." Kata Peri Senapan. Dia melambaikan senapan ajaibnya dan mengubah rumah pohon itu jadi rumah gubuk. "Ide bagus! Tapi… ntar koleksiku gimana?" Tanya Peri Fujo. "Urusanmu." Jawab Peri Senapan pendek.
"Kayaknya, kita perlu membuat ruang bawah tanah deh." Usul Peri Moe. Dengan sekali lambaian pitanya, ia membuat ruang bawah tanah yang sangaaaa…t luas. Selama 'improvisasi' rumah dari adiknya, Peri Senapan hanya bisa diam sambil berpikir, 'Duh, ni rumah udah terkenal angker, gimana nantinya ya, dengan kehadiran anak ini…'
"Oh, kita juga perlu sedikit samaran." Kata Peri Fujo. "Ide bagus." Kata Peri Moe yang langsung berjalan pergi ke dapur. "Kita emang mo jadi apa?" tanya Peri Senapan. "Emm… nelayan?" usul Peri Fujo ragu-ragu. "Mo melaut kemana? Kita ini di tengah hutan, bukan di pantai!"
"Kak, beras kita habis, kak…" kata Peri Moe yang tiba-tiba muncul dari dapur. "Jadi petani?" Tanya Peri Senapan ke Peri Fujo. "Boleh juga. Nanti kusiapkan barang-barangnya." Jawab Peri Fujo setuju dengan ide tiba-tiba ini. "Sekarang, serahkan pistol ajaibmu." Kata Peri Fujo. "UAPA? Jangan!" Kata si Peri Senapan berusaha mempertahankan pistolnya. Tapi, Peri Fujo bisa mengambilnya dengan mudah, dan… ditukar dengan cangkul, seekor kerbau, dan bajak. "Pake ini. Naikin kerbaunya sekalian. Ingat, berbaurlah dengan petani lain. Jangan menyendiri, nanti kau dianggap berbeda." Kata Peri Fujo sambil menyerahkan ketiganya. "B-baiklah." Kata Peri Senapan yang tidak pernah tahu cara bertani. Dia pun pergi keluar hutan untuk mencari lahan.
"Sekarang, kita harus menyamarkan nama Putri Rosalie." Kata Peri Fujo. "Kak Eliza, kucari dulu namanya di buku nama." Kata Peri Moe sambil menarik sebuah buku tebal dari rak. "Hmm… kalau namanya Putri Mawar, bagus nggak, Kak Eliza?" "Nama dari mana itu?" Tanya Peri Fujo. "Dari Indonesia." Kata Peri Moe. "Boleh. Lagipula, namanya beda jauh dengan Rosalie." Kata Peri Fujo setuju. Sementara itu, di tempat lain, seorang gadis berambut hitam dan berkulit sawo matang bersin.
huahhh... selese! di chapter ini, gw ingin berterimakasih kepada adik gw yang dengan awesome-nya membantu memberikan ilham *?* dan ide. Later in the nextie chappie!
