Learn With You chapter 2
.
.
.
Tak peduli sekarang atau dulu, nilai adalah tolak ukur bagi seorang guru pada muridnya. Seorang murid yang berbakat (misalnya, pintar menggambar, bermain catur, bela diri, bahkan berakting) jika nilainya jelek, tetap saja akan dianggap "tidak bertanggung jawab" sampai "pembangkang". Sebaliknya, jika seorang murid dengan nilai bagus walau hanya dalam satu bidang studi saja yang menonjol, akan dijuluki "murid teladan" bahkan dipuji, "hebat! Bahkan yang ini pun bisa!" oleh banyak guru.
Tak terkecuali sekolahku.
Di SMP tempatku bersekolah, ada sesuatu yang sangat fenomenal dan dikenal dengan nama "daftar merah". Isi dari daftar merah itu sendiri adalah kumpulan nama-nama murid teladan sebagai penghargaan untuk hasil ujian. Seratus siswa dengan nilai terbaik diantara satu sekolah dapat masuk dalam daftar itu. Biasanya nama mereka akan ditulis dengan huruf besar diatas sebuah kertas merah dan ditempel pada papan pengumuman sekolah. "Berapa poin lagi sampai kau bisa masuk daftar merah?" Itulah topik paling populer yang pada umumnya ditanyakan satu murid kepada teman lainnya.
Siswa atau siswi yang masuk daftar merah menjadi "kekuatan" bagi kelasnya juga dijadikan maskot kelas. Guru Joonmyun tersenyum senang sebab di kelasku ada banyak murid yang masuk dalam daftar merah. Guru bidang studi lain turut merasa bangga.
"Kalau salahsatu anak di kelas ini dapat masuk daftar merah di peringkat pertama pada ujian akhir semester nanti, aku akan mengajak kalian semua ke Jeonju ketika liburan sekolah." Mendengar penawaran menarik dari guru Seunghyun si pengajar sastra korea, yang mengatakannya sambil tersenyum lebar, seisi kelasku seketika bergemuruh senang. Kelas kami memiliki banyak murid yang tekun belajar sehingga selesai ujian selalu mendapat peringkat ketiga pada daftar merah. Jadi tidak salah bila kelas kami ingin menjadi peringkat yang pertama.
Daftar merah ya... ibarat kentut buatku.
Namun yang menarik perhatianku ialah Jinwoo yang ketahuan kudengar ikut mencicit senang. Sehingga membuatku tertarik untuk menghadap kearahnya, kemudian menodongkan pulpen seakan-akan benda kecil itu adalah mikrofon yang kugunakan untuk mewawancarai Jinwoo.
"Kim Jinwoo-sshi, numpang tanya..., apakah Anda yang berprestasi baik pernah dikeluarkan dari daftar merah?"
"Jangan terlalu kekanak-kanakan, oke?" Jawaban yang langsung diberikan Jinwoo membuatku mengkerut.
"Kau ini cerewet sekali seperti seorang gadis yang sedang pubertas! Berapa lama waktu yang kau sia-siakan untuk belajar?"
"Song Minho, kalau kau sendiri giat dan serius dalam belajar, kau juga bisa masuk daftar merah kok."
"Haha... Aku sendiri juga tahu bahwa diriku ini jenius. Dan bila aku menjadi terlalu pintar, aku akan takut pada diriku sendiri!" Kemudian aku tertawa tanpa rasa malu. Kepercayaan diriku yang serampangan memanglah kesombongan alami.
Aku punya sahabat bernama Kim Jiwon, kami betemu setiap pulang sekolah meski kami berbeda sekolah. Aku masih bersahabat dengan Jiwon sampai sekarang walaupun hanya satu tempat belajar ketika taman kanak-kanak karena kami bertetangga dengan jarak tiga rumah. Jiwon malas belajar sama sepertiku, tapi dia anak dari orang kaya. Setiap minggu anak itu membeli majalah remaja terbaru, dan meminjamkannya untukku. Siang itu kami duduk bersebelahan di sebuah halte dengan sepeda terparkir di sebelah kanan halte.
"Minho.." Jiwon memanggil namaku sambil melihat langit, kebiasaannya.
"Hm?" sahutku singkat sambil masih memperhatikan majalah baru yang dibawa Jiwon.
"Akhir-akhir ini kau semakin akrab dengan Kim Jinwoo ya?" tanya Jiwon, masih memandang langit dengan awan berbentuk seperti biri-biri. Kupikir orang yang suka memperhatikan langit sedikit bodoh.
"Akrab gigimu! Dia tidak ada bedanya dengan bibi-bibi penjual tahu. Kami hanya mengobrol layaknya teman sekelas biasa."
"Bukankah itu hal yang aneh? Apa yang kalian jadikan obrolan?" Jiwon menatap kearahku. Aku mengerutkan alis dan menutup majalah milik Jiwon sejenak.
"Apa saja," jawabku seadanya.
"Bagaimana bisa, padahal Jinwoo adalah murid teladan dengan reputasi bagus dan terpandang. Sedangkan kau anak umbaran dengan nilah menyedihkan. Bagaimana bisa dia punya hal yang dibicarakan denganmu?" Jiwon kembali menatap langit. Aku sampai mengkhawatirkan lehernya yang mungkin sewaktu-waktu bisa patah karena digunakan untuk mendongak terus.
"Hei, Jiwon," panggilku sambil mulai mengupil.
"Apa?"
"Aku ini orangnya spesial."
"Masa?" tanya Jiwon sambil setengah melamun. Fokusnya sudah dibawa lari biri-biri yang berada di langit mungkin.
"Benar. Bahkan keunikanku saja membuat diriku sendiri takut!" Kutempelkan kotoran yang berasal dari hidungku pada tas Jiwon yang berwarna marun tanpa sepengetahuannya.
.
.
.
Saat ujian berakhir, anak-anak kelasku sudah duduk di bus dengan tujuan ke Jeonju.
Jinwoo yang berada di peringkat pertama daftar merah.
Perjalanan dari Seoul ke Jeonju hanya memakan waktu tiga jam. Sepanjang perjalanan murid perempuan terus mengobrol tanpa henti, guru Seunghyun pun bingung mengapa anak gadis dapat berbicara dalam waktu yang sangat lama. Para lelaki akan meramaikan suasana dengan berbagai cara. Terkecuali Jinwoo, dia memilih hanya menjadi penonton yang sesekali tertawa. Hari itu, entah kenapa dia memilih untuk duduk denganku. Aku membiarkannya di dekat jendela karena Jinwoo bilang dirinya sangat menyukai perjalanan. Di saat tertentu Jinwoo ternyata bisa menjadi sangat childish. Aku sempat takut sikapnya yang dewasa mempengaruhinya sampai menjadi "tua sebelum waktunya". Tapi pada kenyataannya Jinwoo sendiri masih muda.
Ketika sampai di Jeonju, keinginan anak-anak untuk langsung berkeliling dan berbelanja terhalang. Sebab guru Seunghyun langsung membawa kami semua menuju salahsatu Hanok untuk meditasi.
"Kenapa meditasi? Bukannya kita jauh-jauh berada disini untuk bersenang-senang?" Yang pertama kali protes dengan berani adalah Hanbin setelah dia mengangkat tangannya dan dapat perhatian dari guru Seunghyun.
"Kalian terlalu ribut dan butuh meditasi untuk menenangkan diri serta memperbaiki jiwa. Terutama Song Minho yang selalu merepotkan Kim Jinwoo." Guru Seunghyun menjawab dengan tenang dan tetap tersenyum. Kami semua yang hanya berstatus murid pun mendesah pasrah. Apalagi aku yang tadi sempat disindir olehnya. Jinwoo bahkan langsung tersenyum aneh kearahku.
Aku dan teman-teman sekelas mendapati Hanok yang kebetulan ruang yang kami gunakan sedang digunakan juga oleh beberapa mahasiswa untuk meditasi. Sepertinya mereka menenangkan pikiran sebelum ujian. Kemudian, guru Seunghyun memberikan peringatan, terutama kepada kami-kami yang nakal dan biasa susah diatur.
"Kakak-kakak di dalam mencoba mencari ketenangan disini. Tolong jangan buat keributan. Begitu masuk kalian tidak boleh mengeluarkan suara, tidak boleh membuka mata, tidak boleh tertidur! Kita adalah tamu, tidak boleh mengganggu latihan kakak-kakak ini." Guru Seunghyun tampak sangat serius. Seluruh murid mulai mengangguk perlahan tanda mengerti.
"Tenang saja pak! Kami juga bisa menjadi anak yang baik." Hoseok tersenyum menampakkan giginya. Melihatnya berlagak sok keren membuatku ingin muntah.
Kami melepaskan sepatu dan memasuki ruangan meditasi yang kecil dengan tenang. Lalu mulai bermeditasi dengan posisi duduk bersila. Tanpa suara sedikit pun, tanpa membuka mata, dan tidak tahu harus berapa lama bermeditasi. Itu semua menyebabkan kami yang memang pada dasarnya tidak bisa diam menjadi tidak sabar.
Seunghoon yang duduk di sebelahku tertidur sampai mendengkur membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Sehingga dengan terpaksa aku membuka mata sebab tubuh Seunghoon yang hampir ambruk mau-tidak-mau membuatku harus menahan tubuhnya. Gagal sudah rencanaku untuk bermeditasi dengan baik. Sekilas kulihat Hoseok yang duduk di depanku membuka mata dan menyaksikannya juga. Lalu kami berdua tertawa tanpa suara.
"Kita dorong dia?" Hoseok menggunakan bahasa bibir. Namun aku menggeleng dan malah melepas kaus kaki yang sudah bau keringat karena kebetulan sudah dua hari belum dicuci.
"Lihat aku." Kuarahkan kaus kakiku tersebut kearah hidung Seunghoon dengan wajah jenaka. Seketika Seunghoon terbangun sampai membuka matanya, kasihan sekali dia. Mungkin rasanya seperti setelah terbang di langit biru, tiba-tiba langsung terjatuh ke jurang tanpa dasar. Wajah Seunghoon yang jengkel seketika langsung terarah tepat di depan wajahku.
"Tidak sopan!"
"Kau tertidur sih. Paling enak ya dikerjai!" Aku membalas bisikan kesal Seunghoon dengan bisikana pula. Masih takut mengganggu yang lainnya.
"Hei, begini yang disebut tidak sopan..." Kulihat Hoseok melepas kaus kakinya. Kukira dia ingin meniru caraku, ternyata tindakannya lebih berani. Telapak kakinya ia arahkan ke hidung Koo Junhoe yang tampak sangat serius bermeditasi. Namun Junhoe masih tidak peduli.
"Ooh.. begitu, begitu.. baiklah." Seunghoon turut membebaskan telapak kaki kanannya dari kaus kaki kemudian ikut serta mengarahkan kaki di depan hidung Junhoe sambil menggerak-gerakkannya. Aku mengikuti perbuatan usil mereka berdua. Junhoe si tampan yang suka menyanyi di kelas itu mulai bereaksi dengan menggerak-gerakkan hidungnya tidak nyaman.
Setiap anak yang membuka mata melihatnya, dan tak bisa menahan tawa. Sampai membuat Hanbin yang bahkan tertidur sejak pertama meditasi dimulai langsung terbangun. Jinwoo yang baik pun membuka matanya kemudian diam-diam tertawa.
Tawa itu membuat Junhoe membuka mata. Guru Seunghyun membuka mata. Bahkan kakak-kakak mahasiswa juga membuka mata. Berdosa, berdosa.
Dengan cepat aku memakai kembali kaus kakiku. Namun Hoseok dan Seunghoon terlambat menarik kakinya ketika guru Seunghyun akhirnya memergoki. Wajah Junhoe seketika berubah, dia terlihat telah siap meledakkan amarah.
Guru Seunghyun menjewer telingaku, menarik Seunghoon, Hoseok, dan Junhoe-yang sebenarnya hanya korban-keluar dari ruang meditasi.
"Kalian benar-benar ingin membuatku marah ya? Tiba-tiba membuatku sebegini malu! Berdiri setengah berlutut di sini sampai meditasi semua orang selesai!" Wajah guru Seunghyun yang biasanya sabar dan tenang tampak begitu kesal. Ia terlihat sedih ketika mendengar gelak tawa yang berasal dari belakangnya.
"Pak! Saya korban!" Junhoe berteriak merana, tangannya terkepal.
"Kau pasti berbuat sesuatu. Kalau tidak, mana mungkin mereka mengerjaimu? Cepat tekuk lutut!" Guru Seunghyun sangat marah. Junhoe yang takut langsung menekuk lututnya.
Di bawah matahari terbenam, aku, Seunghoon, Hoseok, dan orang yang sebenarnya tidak bersalah, Junhoe, bersama-sama menekuk lutut di depan ruang meditasi. Merasakan semilir angin yang bertiup membawa bau hijau daun sebetulnya tidak terlalu buruk.
"Sial, apa yang barusan kalian lakukan!? Sangat tidak sopan, kenapa memilihku!? Kenapa tidak memilih Kim Jongdae?" Pernyataan tidak termia dari Junhoe yang memecah keheningan diantara kami berempat. Ia marah sampai nafasanya tersengal-sengal.
"Minho yang memulainya." Hoseok langsung menudingku. Benar-benar licik.
"Enak saja. Aku sedang mengerjai Seunghoon, Hoseok yang pertama kali mengarahkan kakinya ke depan hidungmu, oke?" jelasku membela diri.
"Sama saja! Tidak boleh mengerjai orang, bau tau!" Junhoe akhirnya menyerah dengan posisi setengah berlututnya. Dia duduk di lantai kayu teras Hanok sambil merentangkan kaki, mencoba bersantai. Aku dan dua orang kunyuk yang tersisa dengan posisi setengah berlutut pun akhirnya mengikutinya.
"Sudahlah, lagipula membosankan berada di dalam. Setidaknya disini tidak perlu berdiam diri," ujar Seunghoon santai. Dia memang sangat santai dalam menjalani hidupnya.
"Betul, sepuluh tahun lagi jika kita mengingat ini, pasti akan sangat lucu." Aku menaik-turunkan alisku. Saat itu, akulah yang memulai dan menyelesaikan permalahan.
"Tidak perlu menunggu sepuluh tahun. Sekarang saja sudah sangat lucu." Hoseok membaringkan tubuhnya dan menghela nafas panjang. Aku dan Seunghoon mengikutinya, memperhatikan Junhoe yang tenggelam dalam lamunan. Memandang langit sore dengan mata berbinar.
"Oh ya.. Koo Junhoe." Kupanggil namanya tanpa merubah posisi berbaringku.
"Hm?" Dia hanya menggumam. Sejak kapan Junhoe mulai bisa tenang setelah amarah yang tadi menggebu-gebu?
"Setidaknya udara disini lebih segar kan?" ledekku kemudian disusul gelak tawa mengejek dari Seunghoon serta Hoseok.
"Sialan." Pada akhirnya Junhoe ikut berbaring.
Selesai makan malam sederhana, karena semuanya belum tidur, aku langsung mengeluarkan catur dan menarik perhatian banyak orang. Khususnya Jinhwan yang kebetulan penggila catur.
"Aku menantang seluruh lelaki di ruangan ini untuk bertanding denganku. Dengan taruhan, yang menang akan mendapatkan kotak susu jatah sarapan untuk besok dari yang kalah. Silahkan dicoba!" Teriakanku terdengar begitu lantang untuk ukuran kamar anak laki-laki yang terbilang tidak terlalu luas. Tanpa menunggu waktu lama, Jinhwan sudah kupastikan langsung duduk di hadapanku dan caturku.
"Kebetulan aku tidak suka susu." Jinhwan menatapku penuh dengan ledekan.
"Pantas kau pendek."
"Kupastikan kau kalah dariku yang sudah ahlinya dalam bidang catur!"
"Dan kupastikan kau makan kotoranmu sendiri." Dengan begitu, persaingan dimulai.
Saat kecil, aku pernah bermain catur dengan ayahku. Sehingga aku dapat mengetahui cara bermainnya meski belum pernah mempraktekannya. Bahkan aku sendiri tidak tahu bahwa aku hebat. Dengan hitungan menit, Jinhwan langsung tumbang atas perlawananku.
Melihat Jinhwan yang bahkan sebelumnya tidak pernah kalah dari siapapun dalam hal bermain catur malah cepat kalah di tanganku, membuat mental anak lain ciut. Sehingga saat aku melontarkan lagi dengan bangga siapa yang ingin bertanding selanjutnya, tak ada yang bergeming.
Sampai tiba-tiba Jinwoo duduk di depanku dengan tenang.
"Bolehkan aku menjadi putih?"
"Kau mau apa?" tanyaku tidak percaya.
"Oh, ayolah. Mendapat tiga kotak susu saat sarapan sangat menyenangkan." Jinwoo tanpa rasa malu sedikitpun mulai menata bidak catur. Sesuai keinginannya, dia menjadi bidak putih.
Nilai Jinwoo di sekolah sangat bagus, tetapi tidak demikian halnya di papan catur. Beberapa anak berdiri untuk memperhatikan kami bertanding, mereka sepertinya merasa tertarik karena Jinwoo yang biasanya diam, tiba-tiba menantangku yang suka buat ribut di depan banyak orang. Dengan cepat, aku dapat menaklukan Jinwoo, aku berencana mengambil bidaknya satu per satu, hanya menyisakan "raja"-nya, kemudian menuntaskannya disaat yang tepat.
"Minho, caramu mengerjai Junhoe hari ini sangat kekanak-kanakan," ucap Jinwoo sambil menggelengkan kepala.
"Kalau kekanak-kanakan, kenapa kau tertawa?" tanyaku menyindir.
"Tolong ya, siapapun yang melihat pasti tertawa, oke?"
"Kau masih berani bicara? Kalau bukan karena kau tertawa, aku, Seunghoon, Hoseok tidak akan dihukum. Dan bisa terus mengerjai Junhoe bahkan menambah korban Hanbin. Sial, disaat liburan begini pun harus menerima hukuman!" Aku melotot kearaah Jinwoo, menakut-nakutinya.
"Hei, aku ambil kudamu!" Tiba-tiba Jinwoo berseru riang dan kudapati dia mengambil kudaku.
Aku terkejut, bagaimana bisa?
"Kau gila, ya? Mana ada permainan catur seperti ini?"
"Kau begitu jago, tak masalah kan aku mengambil satu kuda? Kau takut? Sungguh kekanak-kanakan."
"Apa hubungannya dengan kekakan-kanakan? Sudahlah, memberikan kuda untukmu juga tidak apa, toh dari awal aku sudah mencukur kepalamu."
"Mencukur kepala?"
"Iya, mengambil rajamu. Kasihan sekali, hahaha, skak!"
"Sungguh keterlaluan." Jinwoo dengan cepat mengambil bentengku.
Aku tersenyum licik, melanjutkan permainan catur antara aku dan Kim Jinwoo. Persaingan kami semakin sengit dan para cowok yang melihatnya sampai ikut gemas mengikuti alur permainan ini. Namun entah dewi fortuna yang sedang tidak berpihak padaku atau apa, pertahananku seiring berjalannya waktu malah semakin melemah.
"Kau sungguh kekanak-kanakan, tapi kalau bermain catur sangat serius." Jinwoo benar-benar menyelesaikan permainan. Dia membuat rajaku terjebak, sekali bergerak dialah yang menang.
Sialan.
"Masih bisa dibilang yang paling jago? Akhirnya kau kalah dariku kan?" Tampang Jinwoo begitu belagu dan tak pernah kulihat sebelumnya.
"Ini rumit. Kau pasti menggunakan sihir."
Seketika seluruh murid laki-laki tertawa terbahak-bahak diatas penderitaanku yang harus menyerahkan jatah kotak susu untuk sarapan pagikuku sendiri serta jatah kotak susu Jinhwan yang kumenangkan kepada Jinwoo.
Ya begitulah.. hubunganku dengan Jinwoo seperti catur. Rumit dan menyebalkan.
Guru Joonmyun datang dengan muka sedih selesai pelajaran terakhir. Dan benar, beliau sengaja datang ke kelas sebelum anak-anak pulang untuk menyampaikan kabar buruk.
"Sesuai dengan peraturan baru sekolah, setelah ujian kenaikan kelas akan ada penggolongan kelas. Kelas A terdiri atas murid-murid yang berprestasi dan mudah diatur, kelas B diisi oleh murid dengan kemampuan standar atau orang-orang tersisih yang belum dapat kesempatan masuk kelas A. Kelas C sudah jelas berisi murid-murid nakal yang sering membuat masalah serta tidak serius belajar. Hal tersebut untuk mendukung kenyamanan bagi murid-murid giat belajar agar proses belajar mereka jadi lebih nyaman. Nah, agar tidak digolongkan ke dalam kelas C, mulai tingkatkan kemampuan belajar kalian, mengerti?" Sahutan mengerti seketika membalas penjelasan panjang lebar guru Joonmyun.
Pengumuman dari guru Joonmyun membuatku terkejut.
Sejak awal, Jinwoo yang duduk di belakangku sudah beberapa kali mengingatkanku untuk belajar. Kalau tidak, aku tidak akan bisa masuk ke SMA kesenian impianku. Aku sudah putus asa untuk meningkatkan nilaku. Namun lama-kelamaan, aku takut tidak bisa memenuhi syarat untuk bisa masuk ke kelas A dan menjadi orang terbelakang di kelas C...
Siang itu aku menceritakan semuanya kepada Jiwon sambil makan roti isi di bawah pohon diiringi semilir angin yang sejuk. Seperti biasa, dia mendengarkanku sambil menatap langit. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Jiwon, tapi pastinya dia sedang membayangkan sesuatu.
"Menurutmu? Apa kau akan ditolak dari kelas A?" Jiwon bertanya tanpa ragu.
"Dikeluarkan gigimu! Aku pasti bisa masuk kelas A, hal seperti itu mudah diatur." Aku pura-pura membaca komik, tapi sebenarnya dalam hati aku khawatir. Semakin khawatir.
"Kalau dipikir-pikir masuk kelas C tidaklah terlalu buruk. Kau tidak perlu susah-susah belajar, bahkan ketika kau menggambar komik atau membuat keonaran di tengah pelajaran tidak akan ada yang mempedulikanmu." Jiwon menggigit sekali lagi roti isinya. Mengunyah dengan perlahan dan masih memperhatikan langit.
"Tutup mulutmu!" Aku mengembalikan majalah kepada Jiwon kemudian menggaruk kepala frustasi. Tapi kalau dipikir-pikir omongan Jiwon ada benarnya... Tapi! Entah kenapa, aku tetap saja tidak rela bila aku sampai tidak bisa masuk kelas A. Aku sendiri tidak tahu alasannya!
"Bukannya kau selalu menginginkan kebebasan. Sudah, masuk saja ke kelas C."
"Aku tidak mau!"
"Mengapa? Kau ingin menjadi anak teladan sekarang?"
"Tidak tahu... tapi, aku ingin berubah." Tanpa sadar aku berkata seolah-olah aku sudah sadar diri bahwa tengah beranjak dewasa. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri karena aku merinding akan diriku sendiri.
"Terserah kau lah... Ayo pulang! Kalau ingin masuk kelas A belajarlah." Sindirian Jiwon telak seperti memukul kepalaku. Aku menggerutu, kemudian ikut mengambil sepedaku dan menyusul Jiwon menuju arah pulang.
Temperamen Jinwoo yang seperti bibi-bibi semakin menjadi-jadi. Di kelas tambahan, pulpen Jinwoo semakin lama semakin dalam menusuk punggungku. Aku yang kesakitan menolehkan kepala.
"Kau mau bagaimana sekarang? Bukankah dari awal aku sudah bilang untuk lebih rajin belajar? Sekarang menyesal, kan?" Jinwoo mulai mengomel dengan tatapan tajam.
"Ya Tuhan, bukan kau yang akan masuk kelas C. Apa gunanya melotot padaku? Lagipula Jiwon sahabatku mengatakan kalau aku masuk kelas C, aku bisa menggambar komik sesuka hati. Tidak buruk juga," ujarku, tetapi sesungguhnya perkataan ini berlawanan dengan hatiku.
"Ambil buku Biologi." Jinwoo mengerutkan kening, tidak membiarkanku untuk mengelak. Dan menyodorkan tangannya kearahku menunggu benda yang dia minta dariku.
"Untuk apa? Kau tidak membawa ya?"
"Sudahlah, cepat!" Jinwoo mendesakku dan akhirnya dengan terpaksa aku merogoh tasku untuk menyerahkan buku biologi-ku padanya.
Setelah satu jam pelajaran berlalu, Jinwoo menusukkan pulpennya lagi. Membuatku menoleh kesal, namun sebelum aku memprotesnya, dia menyerahkan kembali buku biologi milikku. Ternyata dia memberikan tanda stabilo berwarna kuning pada beberapa bagian. Dia juga memberikan tanda pada hal-hal penting di latihan soal.
"Kalau kau mempelajarinya dengan baik mungkin di dalam ujian pun tidak akan ada masalah." Jinwoo memberitahuku dengan serius. "Ah, dan juga mulai sekarang setiap selesai kelas kerjakan satu soal matematika. Lakukan setiap hari," tambahnya seenaknya
"Hah!?" Aku terkejut. Namun tidak bisa mengelak Jinwoo yang memperhatikanku.
"'Hah' apa? Ini semua kau yang menyebabkannya sendiri." Jinwoo membuka daftar nilai hasil ujian lalu. Sambil menunjuk nila, ia berkata, "Nilai bahasa inggris-mu bagus, Mandarin dan Sejarah lumayan, Geografi buruk, Biologi, Fisika, Kimia, Matematika sangat buruk. Kalau bukan karena kau bodoh, pasti karena kau malas belajar, atau mungkin karena cara belajar yang salah. Apakah kau merasa bodoh?"
"Apa dan apa?" Aku tidak bisa berpikir, kupingku rasanya panas. Baru kali ini aku diomeli oleh laki-laki seumuranku sebegini panjang.
"Song Minho, kau bodoh ya?" Jinwoo terus menatapku, tidak membiarkanku menoleh kearah lain.
"Sial, tentu saja tidak." Aku sampai merasa kesulitan bernafas.
"Kalau begitu tunjukkan padaku." Jinwoo menatapku lekat-lekat. Nada bicaranya sangat serius.
Aku bengong dan merasa kehabisan kata-kata menatap Jinwoo. Tiba-tiba, sesuatu yang sangat rumit mengusik hatiku.
Aku yang penuh percaya diri serta selalu tertawa dan bercanda seharusnya menolak hal ini. Namun aku tahu, aku tidak bisa menolak kebaikan hati Jinwoo. Disebut bodoh pun aku tidak peduli karena aku tidak bisa menghindari perhatiannya yang tulus.
Entah apa yang kupikirkan dan kurasakan. Sebenarnya aku tidak ingin masuk kelas C dan ingin masuk kelas A yang ibarat hal yang paling tidak mungkin di dunia yang bisa kulakukan bukan karena takut terbelakang dan dikumpulkan bersama anak-anak yang kenakalannya lebih parah dariku.
Melainkan, aku ingin tetap bersama seseorang...
a/n: guess who's back~~ xD *plak* Akhirnya saya melanjutkan cerita iniii. Maaf kalau lama, karena akhir-akhir ini perasaan saya tidak enak dikarenakan tugas yang menumpuk dan tidak kunjung selesai T^T Well, makasih banyak yang sudah mau menyempatkan waktu untuk baca bahkan reviews di chap sebelumnya *deepbow* dan ternyata readers tercinta nyadar juga kalau cerita ini terinspirasi sama You Are The Apple of My Eye xD *ketauandeh* Bagaimanapun, saya tidak ada maksud buruk, hanya terlalu suka dengan ceritanya serta pair MinWoo jadi saya mix jadi satu, yehehehe~
Pokoknya makasih buat yang baca, saya harap anda memberikan reviews juga untuk chap kedua ini~ karena reviews adalah kekuatan saya untuk melanjutkan cerita :3 sampai jumpa di chapter selanjutnya~
