REMAKE NOVEL : LOVE ABUSE (Cinta Tanpa Rekayasa) ―Karangan Laurentia Mira.
Byun Jae
is
SHOWTIME
New Fanfiction of EXO,
EXO―GS―ChanBaek's couple
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
And suprising guest next chapter!
Genre
Thriller || Romance
Rating
NC17
Disclaimer
Remake Novel karya Laurentia Mira yang berjudul ―Love Abuse (Cinta Tanpa Rekayasa)
EXO―Dan beserta cast yang lain Milik Tuhan, Milik Orang Tua mereka, dan Milik Agency mereka masing-masing.
NO BASH―NO SILENT READERS―DON'T LIKE DON'T READ!
HAPPY READING!
.
.
Chapter 1
.
.
.
BYUN BAEKHYUN terbangun dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya yang ramping. Direnungkannya sebentar mimpi yang baru saja mengganggu tidurnya.
Ah! Sial. Peristiwa itu lagi, batinnya dalam hati.
Seakan teringat akan sesuatu yang penting. Baekhyun mengulurkan tangannya ke bawah bantal dan menarik keluar sebuah foto yang nampaknya sudah using. Ia menatap seraut wajah yang terlukis di sana dengan rindu, lalu mendekap foto itu erat-erat di dadanya.
Foto itu menjadi satu-satunya kenangan dari Eomma Baekhyun yang mengingatkannya akan kenangan indah semasa kecil. Dalam foto itu mereka berdua tengah tertawa lepas. Baekhyun kecil dengan rambutnya yang ikal digendong di punggung eomma nya. Latarnya adalah pantai yang disinari cahaya mentari sore dan beberapa bangunan pasir kecil di depan mereka. Itu adalah foto saat mereka berlibur ke Jeju, saat Baekhyun masih berumur delapan tahun, saat itu ia masih merasakan kasih sayang eomma nya, saat ia masih bisa tertawa lepas, dan saat ia belum merasakan begitu kesepian seperti saat ini. Foto sang eomma dan kenangan didalamnya menjadi satu-satunya sumber kekuatan Baekhyun saat sedang gundah. Pagi ini, ketika ia diusik kembali oleh bayangan masa lalu dalam mimpinya, ia membutuhkan kekuatan ibunya lebih daripada hari-hari yang lalu.
Dikecupnya wajah cantik dalam foto itu, lalu Baekhyun pun bergegas turun dari tempat tidurnya.
Jam setengah tujuh, kata gadis itu sambil mengamati jam tangan yang tergeletak di atas sebuah meja rias. Dibukanya jendela kamarnya lebar-lebar dan ia menghirup napas dalam-dalam, berharap suasana hatinya bisa lebih ringan.
Apartemen tempat Baekhyun tinggal tidaklah besar namun tertata dengan apik. Dengan sebuah sebuah akuarium mini dengan hiasan air mancur yang mengalir masuk ke dalam akuarium tempat tinggal ikan-ikan koi kesayangannya yang terletak disudut ruangan mengarah ke balkon apartemennya.
Sejenak Baekhyun menikmati keindahan pagi hari. Didengarnya suara gemericik air, dirasakannya sinar mentari yang mengelus kulitnya, diamatinya suara kesibukan kota Seoul di pagi hari di luar apartemennya, suara orang-orang yang sudah mulai sibuk melakukan aktivitas dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Namun, kemudian deringan handphone membuyarkan semua lamunannya.
"Halo, Nona! Sudah bangun?" sebuah suara menyapanya.
Baekhyun menghela napas sejenak.
Suara di seberang dikenalnya sebagai suara Kim Jongin, rekan kerjanya di Huston Lawyer Association ―tempatnya bekerja. Pria ini juga seorang pengacara muda seperti dirinya, tapi gila kerja. Dia hampir selalu datang paling pagi ke kantor tetapi pulang paling malam disbanding semuanya. Bahkan beberapa kali dia menginap di kantor dengan alasan menyelesaikan kasus. Kinerjanya, lumayan. Kim Jongin berhasil memenangkan beberapa kasus pidana. Hanya saja, banyak orang yang kurang menyukai sifatnya yang terlalu ambisius.
Nah, kalau kali ini Kim Jongin menelepon Baekhyun, artinya pasti ada kasus yang baru tiba di meja pimpinan.
"Halo, Jongin! Ada kasus apa?" Tanya Baekhyun dengan malas.
"Ah! Kau pasti baru bangun. Berhati-hatilah kau Baekhyun! Kata Ibuku kalau bangun kesiangan rejekimu dipatok ayam" Jongin menimpali dengan semangat.
Kau memang aneh, energimu seperti tidak ada habisnya, timpal Baekhyun dalam hati.
"YAAA! Jangan kelamaan basa-basi. Kasus apa lagi kali ini? Pembunuhan mutilasi? Korupsi pejabat? Atau penggelapan uang milyaran?" Baekhyun menebak sekenanya saja, kesal karena suasana paginya dirusak oleh urusan pekerjaan.
"Whoaaa! Jangan sarkastik begitu, Baek! Dijamin, kasus yang ini benar-benar heboh!" Jongin berusaha menyakinkan Baekhyun.
"Kau tahu, artis cantik dan sexy Do Kyungsoo melaporkan karyawannya telah melakukan pelecehan seksual!"
Pikiran Baekhyun pun langsung melayang pada sosok seorang gadis muda yang baru-baru ini mencapai popularitasnya di dunia hiburan. Tampang cantik dan body sexy nya yang menjadi daya Tarik utamanya. Wajahnya yang cantik itu kerap menghiasi layar-layar kaca. Menjadi bintang iklan ataupun bintang utama sebuah drama. Namanya menjadi jaminan sebuah film laris di pasaran.
"Bagaimana kasus posisinya?" Tanya Baekhyun kemudian.
"Wah! Aigoo, si Nona sudah mulai sadar ternyata!" Jongin semakin bersemangat dengan nada terkekeh dan itu membuat Baekhyun memutar bola matanya malas dengan tanggapan Jongin.
"Beberapa bulan yang lalu ramai di berita kan kalau Do Kyungsoo membuat sebuah perusahaan kosmetik, kan?"
"Mungkin" jawab Baekhyn sekenanya. "Aku paling tidak suka mengikuti berita para artis"
Kini Jongin menganggapi kesinisan Baekhyun dengan cuek dan melanjutkan ceritanya, "Pria ini bekerja di perusahaan Do Kyungsoo sebagai Programmer. Namanya Park Chanyeol. Siapa sangka, lelaki itu tidak bisa menahan nafsu. Begitu ada kesempatan berduaan dengan bos cantiknya. Dia langsung berusaha memuaskan hasrat terpendamnya. Bahkan katanya pelecehan seksual itu dilakukan di rumah Do Kyungsoo! Bayangkan, pelecehan macam apa yang diterima gadis itu sampai berani menempuh jalur hukum seperti ini!"
Baekhyun kembali teringat dengan mimpinya pagi ini. Masalah pelecehan seksual selalu membuat dirinya menggigil, seakan membangunkan kenangan masa lalunya yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Aneh! Tidak biasanya lawfirm kita mengurusi hal yang beginian. Lalu, kita akan mewakili siapa?" Baekhyun sengaja mengajukan pertanyaan itu untuk mengalihkan perhatiannya sendiri.
"Nah! Itu dia, Baek! Kita akan membela si pelaku! Jadinya kurang kesempatan juga untukku mendekati Do Kyungsoo. Ah! Sayang sekali, kan?"
"YAA! YAA! Ternyata kau itu sama saja dengan siapa namanya? Tidak tahan melihat perempuan cantik dan sexy, ingin menerkamnya. Dasar mesum!"
"YAAAA!" Pekik Jongin tidak terima disamakan dengan pelaku pelecehan seksual dan dikatai mesum oleh Baekhyun "Sorry! Aku tidak seperti Park Chanyeol itu. Kalau aku mendekati Do Kyungsoo dengan cara paling elegan. Akan ku ajak dia ke tempat-tempat yang paling romantis. Setiap hari akan ku bawakan buket bunga mawar terindah. Oh! Tidak, bunga tulip saja, dan…"
"Stop! Tidak usah menjelaskan semua rencana gombalmu itu Jongin. Karena aku tidak mau tahu! Dan tidak peduli sama sekali!" Baekhyun menyela tak sabar "Daripada rejekiku hilang dipatok ayam, lebih baik aku cepat-cepat mandi dan pergi ke kantor"
"Ah! Si cantik satu ini galak sekali, kau sama sekali tidak suka dengan cerita cinta romantis" Jongin itu seakan menyesali dirinya sendiri.
"Kadang aku berpikir! Kau tidak menyukai pria kah? Apa Byun Baekhyun yang terkenal dan kukenal itu ternyata penyuka sesama jenis?" goda Jongin kemudian.
"Enak saja! Aku wanita normal!" protes Baekhyun.
"Bukannya aku tidak suka dengan pria" ucapannya setengah menerawang " Aku cuma tidak percaya kalau di dunia ini masih ada cinta sejati" Baekhyun menghela napas berat "Istri-istri dipukuli, anak bayi dibuang, Ayah memperkosa anak gadisnya, apa itu yang namanya cinta?"
"Itu namanya tragedi Baek! Dan bukannya cinta Baekhyun sayang. Tapi, di dunia ini ada banyak kisah lain yang tidak setragis itu. Banyak juga istri yang bahagia, anak-anak yang masih bisa merasakan kasih sayang orang tuanya…"
"Mungkin" sela Baekhyun "Tapi yang jelas bukan untukku!"
"Kau cuma harus berani untuk memulainya, Baek!"
"Sama siapa? Aku tidak tahu jenis laki-laki yang baik seperti apa"
"Sama aku saja! Laki-laki tipeku ini terbukti sangat setia, menghormati wanita, tidak sombong, dan rajin menabung"
Seketika tawa Baekhyun pecah "Hahahahaha… itu sama saja dengan menjerumuskan dirimu sendiri Jongin! Kau gila kerja mana bisa mengurusiku? Apalagi reputasi playboymu sudah terkenal seantero negeri ini!"
"YAA! Coba dulu baru kau boleh komentar macam-macam!" Jongin membela diri "Jadi, mala mini kita keluar?"
"Hahahaha… silahkan kau bermimpi!"
"Whoaa! Kalau anak gadis sudah tidak bisa diajak baik-baik biasanya harus dipaksa! Apa kau mau aku paksa? Hahaha…"
Candaan Jongin memupuskan tawa dari wajah cantic Baekhyun. Ia kembali teringat dengan mimpi buruknya pagi ini.
"Aku tutup teleponnya sekarang! Oke!" nada suaranya berubah dingin "Sampai ketemu di kantor".
Baekhyun pun memutuskan sambungan teleponnya. Membiarkan lawan bicaranya di ujung sana bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Setelah menghembuskan napas panjang, ia pun segera berlalu dari kamarnya dan memasuki kamar mandi.
Guyuran shower air dingin menyejukkan namun tidak cukup menghilangkan kekesalannya pada Jongin atau pikiran akan mimpinya pagi ini. Baekhyun memandangi bayangannya di cermin wastafel, mengamati goresan luka di sekitar dadanya. Semua goresan itu menjadi bukti nyata tentang kekerasan yang pernah dialaminya tiga belas tahun silam. Dielusnya goresan tersebut bagaikan sebuah kotoran yang dapat di hilangkan. Pikirannya melayang ke masa lalu, tepat di hari ulang tahun nya yang ke―12. Saat sebuah tragedi menimpanya. Otaknya seperti sebuah kaset film yang memutar kembali memori masa lalunya.
.
.
.
―FLASBACK―
.
.
.
Saat itu Eomma telah menyiapkan sebuah jamuan makan malam untuk merayakan ulang tahun sekaligus kelulusanku. Di atas meja telah terhidang beberapa masakan : Bulgogi, Kimbap, dan Cake Blackforest kesukaanku. Ya, semuanya memang makanan kesukaanku. Tiga buah piring tertata rapi di atas meja, tertelunkup di atas taplak putih bersih. Di tengah meja diletakkan karangan bunga mawar, bunga kesukaan Eomma. Aku sempat bertanya, apa Appa tidak akan protes jika melihat bunga itu. Maklum, Appa tidak menyukai bunga. Tapi Eomma menjawab, biar saja! Karena ini untuk menyenangkan aku dan merayakan keberhasilanku.
Peristiwa yang seharusnya dirayakan dengan gembira itu berubah menjadi bencana saat Appa pulang. Nampaknya hari itu merupakan hari terakhir Appa bekerja setelah menerima surat Pemutusan Hubungan Kerja seminggu sebelumnya. Pulang dengan keadaan mabuk dan marah-marah membuat keadaan rumah seketika berubah mendung. Eomma berusaha membujuk Appa, berharap ada sedikit belas kasihan dari pria itu terhadap anak tirinya yang sedang berulang tahun. Namun, bukannya tenang, Appa semakin bengis dan kasar. Ia mulai berteriak-teriak, memuntahkan kata-kata kasar di hadapan Eomma.
"Jangan marahi Eomma!" pintaku sambil menangis "Kalau Appa mau, biar ulang tahunku ini dibatalkan saja! Asal Appa tidak marah lagi pada Eomma"
"Baekhyun! Berhenti merengek!" perintah Eomma "Masuklah ke dalam kamar dan kunci pintu kamarmu!"
"Tidak! Eomma, akum au tetap di sini" aku bersikeras.
Mungkin saat itu aku khawatir melihat Eomma yang terancam atau mungkin aku merasa cukup kuat untuk melindungi Eomma. Satu-satunya orang kesayanganku di dunia ini. Bagaimanapun aku mengabaikan perintah Eomma dan tetap berada di tengah-tengah kekacauan keluargaku.
Teriakan-teriakan penuh amarah dan emosi melampaui batasnya mulai berubah menjadi tindakan fisik. Aku menyaksikan ketika tamparan keras melayang ke pipi Eomma. Aku panik ketika melihat Appa yang semakin kalap berkali-kali menghantamkan pukulan ke tubuh Eomma yang kecil.
"APPA…! APPA…! TOLONG HENTIKAN!"
Aku mulai menjerit-jerit frustasi, meminta pengampunan, tetapi Appa tidak peduli. Ia tetap memukuli Eomma sampai akhirnya aku pun menyaksikan tubuh Eomma terkulai lemah.
"EOMMA! EOMMA!"
Saat itu ku kira Eomma sudah kehilangan nyawanya. Aku pun mengiba memanggil-manggil namanya. Ku dekap tubuh yang telah melahirkanku itu dengan gemetaran. Ku guncang-guncang sambil terus berharap bahwa Eomma akan membuka matanya kembali. Tapi tubuh itu tetap kaku dan tidak beranjak.
Aku menoleh pada Appa meminta pertolongan. Namun, alangkah terkejutnya aku ketika melihat Appa mendekat sambil membawa sebuah pisau di tangannya ―pisau yang semula akan digunakan Eomma untuk memotong kue kesukaanku. Sorot mata pria itu kejam dan keinginan untuk membunuh membuatku gemetar. Kupikir, itu adalah akhir dari kehidupanku.
Dalam sekejapa Appa telah berdiri di hadapanku sambil mengarahkan pisau ke dadaku. Aku pun pasrah. Kedua tangan ku kepalkan, aku mengumpulkan segenap kekuatan yang tersisa. Kedua mata pun kupejamkan. Aku menanti saat-saat kematian tiba sambil terus mendaraskan doa.
Tiba-tiba rasa sakit membelah dada.
Aku pun membuka mata dan melihat Appa sedang merobek-robek pakaian yang kukenakan dengan brutal. Setiap sabetan pisau membuat sebagian kulit yang terlindungi di balik bajuku menganga dan berdarah.
Tiba-tiba aku pun sadar! Aku harus berjuang untuk mendapatkan kebebasanku karena Appa yang gelap mata berniat menodaiku, merebut kehormatan diriku. Seketika aku mulai memberontak. Kupukul tubuh pria itu kuat-kuat, namun aku semakin terperangkap. Meskipun berusaha mengerahkan seluruh tenaga yang kumiliki, tetap saja kekuatanku tidak sebanding dengan kekuatan seorang pria dewasa seperti Appa. Tubuhku dihempaskan ke lantai, sedangkan kedua kaki pria itu menghimpit demikian kuat. Tangan yang semula menggenggam pisau beralih menguasai kedua tanganku. Kemudian pria itu mulai menyurukkan wajahnya ke leher dan pundakku, membuat luka di dadaku terasa semakin nyeri. Dengan kasar ia menciumku, membuatku muak dengan dengan napasnya yang berbau alcohol bercampur dengan bau amis darah. Merasa belum cukup, dengan kasar ia merampas seluruh pakaian yang menutupi tubuhku. Seringai mengerikan menghiasi wajah pria itu saat matanya menikmati tubuhku yang baru tumbuh.
Aku mulai menjerit-jerit meminta pertolongan, namun tidak ada suara yang keluar dari kerongkonganku.
Aku terlalu takut… sungguh ketakutan luar biasa yang aku rasakan.
Tiba-tiba sesosok tubuh berdiri di belakang Appa. Tangannya menggenggam pisau yang sebelumnya digunakan untuk mengancamku. Menyadari kehadirannya, pria itu pun membalikkan tubuhnya. Namun, dalam sekejap ia jatuh dalam keadaan tak bernyawa. Karena, sebuah pisau telah tertancap di dada kirinya.
.
.
.
―FLASHEND―
.
.
.
PARK CHANYEOL memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi. Peluh bercucuran di tubuhnya yang atletis. Sudah beberapa kali ia mengelilingi taman kota sejak kepergiannya tadi pagi.
Kehadirannya di taman itu membuat beberapa gadis muda melirik manja dan nakal, berusaha menarik perhatiannya. Chanyeol memang tampan. Tulang rahang yang membingkai wajahnya Nampak demikian kuat dan sempurna. Rambutnya yang hitam dengan tatanan rapi menutupi sedikit telinga perinya dan membuatnya mendapat nilai ketampanannya sungguh didalam kriteria para pria dewasa. Dan ia memiliki mata yang bulat dengan bola mata kecoklatan yang senada dengan wajah rupawannya.
Beberapa orang yang dikenalnya melayangkan senyuman, menyapanya dengan ramah, namun Chanyeol tidak mengubrisnya. Ia berlindung di balik kacamata hitamnya, berusaha menghindari tatapan bersahabat dari orang-orang yang lewat. Hari ini ia sedang tidak ingin beramah-tamah dengan siapapun karena pikirannya penuh dengan masalah yang sedang menimpanya.
Sampai beberapa bulan yang lalu Chanyeol menyangka hidupnya telah lengkap. Perjuangannya di bangku kuliah untuk menyelesaikan S2 nya telah diterimanya tiga tahun silam. Sebagai seorang sarjana dengan lulusan terbaik dan ia kembali lagi ke Seoul untuk mencari peluang kerja untuk karirnya. Tidak lama menganggur Chanyeol berhasil mendapatkan posisi sebagai programmer di sebuah perusahaan kosmetik milik seorang arti terkenal. Chanyeol menyukai pekerjaan ini, lagipula gajinya pun lumayan.
Pertemuan pertamanya dengan Do Kyungsoo terjadi secara tidak sengaja. Malam itu, seperti biasa Chanyeol bekerja lembur di kantornya. Ada target pembuatan program yang harus segera diselesaikannya. Saat itulah melalui kaca ruangannya ia melihat sang artis menyeruak masuk bersama dengan seorang pria yang akhirnya diketahui Chanyeol dan Zhang Yixing, salah satu musisi dan juga aktor pendatang baru berdarah Chinese sekaligus kekasih Kyungsoo. Tanpa menyadari kehadiran Chanyeol, artis cantic itu pun saling melepas rindu bersama kekasihnya. Mereka tidak berkepentingan dengan apa yang dilihatnya, Chanyeol pun berusaha untuk tetap memfokuskan perhatian terhadap pekerjaannya.
Beberapa saat berlalu sampai akhirnya Chanyeol mendengar percekcokan di antara kedua insan itu. Suasana pun bertambah panas saat Yixing mulai melontarkan hinaan pedas untuk Kyungsoo. Mau tak mau telinga peri Chanyeol mendengarkan keributan itu.
Merasa terganggu, ia pun memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan dan menjauh dari arena peperangan yang bukan urusannya.
PRANGGG….!
Tiba-tiba suara kaca pecah mengejutkan Chanyeol, disusul dengan teriakan seorang gadis.
"Yixing, aku mohon! Jangan lakukan! Kau menyakitiku!"
Kyungsoo!
Insting kelelakian Chanyeol pun muncul. Dalam sekejap ia telah menghampiri ruangan tempat Kyungsoo berada.
Setibanya di sana ia melihat posisi Kyungsoo yang telah terpojok di sudut ruangan. Tangan Yixing menekan leher Kyungsoo dan membuatnya sulit bernapas. Pecahan kaca yang nampaknya berasal dari sebuah pigura foto berserakan di sekitar mereka. Kedua insan yang sedang bergulat itu pun menoleh, menyadari kehadiran seorang pria asing di tengah mereka.
Tanpa berpikir panjang Chanyeol pun bertindak untuk menyelamatkan sang gadis. Direnggutnya kerah baju Yixing lalu dihantamkannya sebuah pukulan di wajah aktor tampan itu. Lelaki itu mengumpat, menyumpahi campur tangan Chanyeol dalam urusan pribadinya, lalu ia pun melawan. Dengan kekuatan yang tidak disangka Chanyeol sebelumnya, Pria itu melayangkan sebuah pukulan keras yang tepat mengenai pelipis kanannya.
Rasa pusing segera menyergap membuat Chanyeol pun terhuyung, sedangkan Yixing telah bersiap untuk menyerang kembali. Tanpa menunggu kesempatan, Chanyeol kembali melayangkan pukulannya. Kali ini ia berhasil mengenai perut bawah Yixing dan membuatnya terjatuh.
"Kau! Keluar dari sini!" teriak Kyungsoo yang tiba-tiba mengakhiri pertempuran kedua lelaki itu. Mereka sama-sama menoleh untuk memastikan kepada siapa gadis itu berteriak. Namun tatapan tajam Kyungsoo terhadap Yixing membuat Chanyeol yakin bukan dirinya yang diusir. Tanpa berbicara, aktor berdarah Chinese itu pun memungut jaket kulit miliknya kemudian berlalu dari ruangan.
Kyungsoo pun melemah. Seluruh kekuatannya seperti terkuras habis. Ia terduduk di lantai dan mulai menangis.
Chanyeol tidak pernah melihat seorang gadis menangis sebelumnya. Hatinya pun tergerak. Diraihnya Kyungsoo ke dalam pelukannya dan dibiarkannya gadis itu meluapkan emosinya selama beberapa saat.
"Aku Do Kyungsoo" ucapan yang lembut itu tiba-tiba menyadarkan posisi Chanyeol. Ia segera melepaskan pelukannya namun tidak mengalihkan pandangannya dari gadis cantik bermata bulat itu.
"Aku Park Chanyeol, Programmer! Senang bertemu dengan Anda" Chanyeol memperkenalkan dirinya sambil membantu Kyungsoo berdiri.
"Sepertinya aku harus segera memanggil petugas kebersihan untuk membereskan semua kekacauan ini" Kyungsoo bergumam sambil memandang berkeliling ruangan. Tangannya meraih gagang telepon, menekan beberapa nomor, hingga akhirnya memerintahkan seorang cleaning service agar segera datang.
"Hmm… Banyak yang harus diperbaiki" Chanyeol mengikuti arah pandangan Kyungsoo dan menyadari ada begitu banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat perkelahiannya tadi dengan Yixing.
Ia pun berjongkok untuk memungut pigura foto dan membersihkan dari serpihan kaca sebelum kemudian meletakkannya kembali di atas meja kerja Kyungsoo. Chanyeol bisa melihat dengan lebih jelas foto itu. Bukan gambaran kemesraan Kyungsoo dengan Yixing seperti yang semula diduga Chanyeol, namun berisikan lukisan tangan dari seorang seniman yang mengguratkan wajah elok Kyungsoo di atas sebuah kanvas.
"Biarkan saja!" ucap Kyungsoo menghentikan aktivitas Chanyeol "Kurasa sebentar lagi akan ada yang datang untuk membereskan semuanya"
Raut wajah Kyungsoo menjadi murung tatkala ia mengambil sebuah patung ballerina di antara barang lain yang berserakan di lantai.
"Sayang sekali patung kesayanganku ini harus hancur" diusapnya gadis penari itu dengan penuh kasih sayang, dibelainya kaki sang penari yang sekarang hanya tersisa sebelah.
"Maafkan aku!" sesal Chanyeol.
"Tidak! Kau tidak perlu minta maaf" timpal Kyungsoo sambil mengulas senyum dari love lips nya "Kalau tidak ada kau! Mungkin leherku sudah patah. Kau datang menyelamatkanku tepat waktu. Terima kasih"
Chanyeol senang mendengar pujian yang diucapkan Kyungsoo. Lebih dari itu, ia terpukau dengan menatapa wajah Kyungsoo yang tersenyum memmbuatnya tergoda untuk melakukan pendekatan terhadap gadis itu.
"Yah… kurasa kita beruntung karena hal yang paling penting sudah aman dan tidak lecet sedikitpun" Chanyeol memusatkan tatapannya tepat pada wajah Kyungsoo, membuat gadis itu salah tingkah hingga akhrinya memalingkan wajahnya.
"Aku harap peristiwa hari ini tidak kau sebarluaskan pada siapapun" ucap Kyungsoo sambil merendahkan suaranya "Bisakah kau menjadikannya sebagai rahasia di antara kita saja?"
"Tenanglah!" Chanyeol menenangkan "Aku tidak akan membeberkannya! Rahasia ini akan aman"
Selama beberapa detik sesudahnya Chanyeol tetap memandangi Kyungsoo. Ia menikmati wajah mungil gadis itu dan sorot matanya yang berpendar seperti anak kecil. Kyungsoo Nampak begitu lembut, hampir seperti keramik antik yang takut pecah jika disimpan sembarangan.
Jika di lihat dari usaia mereka, Chanyeol bisa memperkirakan bahwa ia tidak terlalu tua dari Kyungsoo. Chanyeol yang berumur 23 tahun terpaut satu tahun dengan Kyungsoo. Selama ini Chanyeol tidak pernah tertarik pada perempuan karena ia sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya, hingga tidak ada waktu baginya untuk menjalin hubungan asmara. Namun entah apa yang merasuki pikirannya saat itu karena pada akhirnya Chanyeol berkata "Sebagai biaya tutup mulut! Bagaimana jika kita makan malam bersama?"
Ajakan kencan dari Chanyeol yang tiba-tiba mengejutkan Kyungsoo. Membuat rona merah membekas di pipinya yang putih seperti bayi. Bagi Chanyeol kecantikan gadis itu bagaikan lukisan dewi Yunani yang diabaikan oleh kuas-kuas sang maestro. Ia terpesona pada Kyungsoo dan buta karena keelokannya.
"Makan siang dengan secangkir kopi" senyuman polos menghiasi wajah cantiknya.
Chanyeol pun mengangguk, bersyukur karena langkah pertamanya mendapatkan hati Kyungsoo berhasil tanpa hambatan.
Makan siang yang pertama berubah menjadi yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Bosan dengan hidangan yang itu-itu saja mereka mulai teratur mengadakan jamuan makan malam berdua. Sebulan setelah peristiw itu Chanyeol dan Kyungsoo semakin dekat saat keduanya memutuskan saling berkomitmen. Chanyeol merasa ia telah meraih pencapaian sempurna dalam kehidupan manakala menjadikan Kyungsoo sebagai kekasihnya ―satu-satu wanita pengisi hatinya.
Namun kegembiraan memiliki Kyungsoo waktu itu sungguh berbeda dengan perasaannya saat ini. Bahkan Chanyeol menyesali semua keputusannya. Mengajak Kyungsoo memasuki hatinya ternyata bukan akhir yang bahagia, sebaliknya hal itu menjadi awal kehancurannya.
Andai, waktu dapat kuputar kembali, aku tidak menginginkan pertemuan itu terjadi, batin Chanyeol.
Ia pun menghentikan laju sepedanya. Diliriknya jam tangan. Diputuskannya untuk menghentikan olahraga pagi hari ini. Karena ia ada janji yang harus ia hadiri, janji dengan pengacara yang akan membela hak-haknya.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Ohh yeah, c'mon!
Take your time waenji dugeundaeneun bamiya
Na na na… Na na na…
Ehya, hehehehe Annyeong haseyo!
Hmmm, setelah liat beberapa review di prolog aku langsung bilang "Whoaaa! Tanggapannya daebak" hehehehehe. Terimakasih untuk para readers yang sudah me-review, men-follow, dan men-favoritkan fanficnya. Aku akan berusaha update! Tapi, tak bisa janji untuk fast update. You know what I mean lah yawww. Ahya, aku seneng banget kemarin waktu liat beagle line di airport kompak banget pake kacamata Harry Potter. Pengen ku bawa pulang aja rasanya LOL XDD canda hehehehe. Readers, gimana puasa kalian? Full kah hari ini? Pasti full dong ya. Sebentar lagi lebaran ya, udah nggak terasa aja udah mau di penghujung bulan Ramadhan.
Ohya, salam kenal untuk readers-readers yang baru baca fanficku. Kalian bisa berteman denganku di LINE dan juga bisa melihat fanficku yang lain di Wattpad. Semoga kalian suka semua fanfic yang kubikin untuk kalian! Hehehehe
Ini ID LINE dan Wattpad ku ya, silahkan di add dan di follow :D aku akan menyambut kalian dengan senyuman! :D
ID LINE : Byun_Jae
Wattpad : Thunderlight21
Bagi yang mau Pin BBM ku, kalian bisa pm hehehehe
And big thanks to :
Chiisai2026, Baby niz 137, neli amelia, XiaoRey61, CussonsBaekby, Fione Maple, Bella Tegarwati Simamora, AuliaPutri14, BabyZi, Misunnie, , phantom.d'esprit
Makin penasarankan sama lanjutan ceritanya. Dan penasaran juga kan bagaimana kesan pertama pertemuan Baekhyun sebagai pengacara pembela dan Park Chanyeol sebagai klien yang dituduh tindakan pelecehan seksual? Silahkan terus ikuti next chapter fanfic ini ya hehehehehe. Dan tentunya tak lupa, review juseyoo~~~~~ Kamsahamnida! Sarangheo~~~~~
