standard disclaimer applied
inspired by EXO NEXT DOOR and HI SUHYUN - Different Music Video
You Stole My Heart
Chapter 2
Sejak kemarin Minseok terus mengurung diri didalam selimut bergambar serigala abu-abu miliknya—sangat tidak cocok dengan wajah manisnya. Bahkan sampai-sampai Minseok rela membuang waktu dan tidak mengamati Luhan. Akh, Minseok rasanya malu sekali sampai jantungnya serasa ingin keluar melewati mulutnya.
Euwh.
Meski sebenarnya Minseok sama sekali tidak melakukan hal yang memalukan dan sebenarnya laki-laki manis itu sama sekali tidak punya alasan untuk malu. Lagian untuk apa juga Minseok malu pada dua orang yang bahkan tidak dikenalinya (kecuali Luhan tentunya) dan tidak mengenalinya?
Entah mengapa begitu sadar bahwa Luhan tidak mengenalnya sedikit membuat hati Minseok seperti tergores benda tajam, rasanya perih sekali.
"Minseokkie, kamu kenapa sih?" tanya Sungmin yang masuk begitu saja kedalam kamar Minseok dan menatap adik kesayangannya itu yang masih bersembunyi dalam selimut yang sekarang terlihat seperti bakpao dengan motif serigala.
"Aku tidak kenapa-kenapa kok, hyung."
Sungmin hampir saja mengeluarkan ledakan tawa, habisnya Minseok menjawab pertanyaannya dengan posisi yang sama—masih berada didalam selimut dan itu membuat bakpao dari selimut jadi-jadian itu terlihat seperti bergerak-gerak lucu karena sepertinya adiknya itu sedikit mengerakkan tubuhnya saat menjawab pertanyaannya (tanda bahwa Minseok sendiri tidak yakin dengan jawabannya).
"Minseokkie, keluarlah dari bakpao jadi-jadian itu," ujar Sungmin dengan santai dan duduk ditepi ranjang Minseok. "Pipimu saja sudah seperti bakpao."
Kesal karena pipi chubby-nya disebut bakpao oleh sang kakak berhasil membuat Minseok mendudukkan dirinya atas ranjangnya dan menatap Sungmin dengan tatapan kesal.
"Omona, sekarang kamu terlihat seperti bakpao yang dibungkus." Sungmin tersenyum saat melihat selimut yang masih menutup tubuh Minseok dari atas kepala sampai bawah kaki kecuali wajah lalu mencubit pipi kiri Minseok dengan pelan.
"Kalau hyung kesini hanya mengangguku sana pergi," kata Minseok dengan sedikit tajam lalu menurunkan sisi selimut yang masih ada di kepalanya ke bahunya.
"Hahaha, tajam sekali perkataanmu Minseokkie." Sungmin mendramatis dengan mencoba terlihat terluka karena perkataan adiknya itu.
"Sungguh, sebenarnya kenapa hyung kemari?"
"Awalnya hanya ingin tahu apakah kamu menghabiskan sarapan yang aku antarkan dan ternyata kamu memang rakus sekali," goda Sungmin dan kembali mencubit salah satu pipi Minseok.
"Hyung!"
"Baiklah-baiklah. Aku ingin mengajakmu keluar rumah, jalan-jalan disekitar komplek perumahan kita mungkin. Aku sama sekali tidak ingin kamu menjadi anti-sosial Minseokkie, bagaimana?"
Tawaran yang menarik. Lagipula sejak Sungmin masuk universitas, mereka berdua sudah jarang sekali melakukan yang namanya jalan-jalan bersama.
"Umm…." Minseok hanya menguman tidak jelas.
"Bagaimana? Kamu lama sekali berpikirnya," desak Sungmin yang sudah tidak sabar karena bayangan bahwa nanti dirinya bisa mengerjai Minseok terus memenuhi pikirannya.
Oh, sebenarnya Sungmin itu kakak yang baik ataukah jahat?
Minseok berpikir keras, kemungkinan dirinya akan bertemu dengan Luhan dan Sehun lagi lumayan besar jika kalian masih ingat dengan kenyataan bahwa mereka bertetangga dan rumah mereka bersebelahan. Tapi, tawaran jalan-jalan dari Sungmin terdengar sangat menyenangkan karena pasti jika nanti Minseok minta sesuatu saat acara jalan-jalan mereka dengan senang hati Sungmin akan membelikannya.
Dan lagi saat ini Minseok sedang sangat ingin meminum cappuccino dari kedai kopi yang berada tidak jauh dari kawasan rumahnya yang memang sangat strategis. Tapi bagaimana jika nanti dia bertemu oleh Luhan?
"Baiklah hyung. Aku siap-siap dulu, hyung tunggu saja dibawah."
Cappuccino selalu menang bagi Minseok yang merupakan seorang penyuka minuman penuh kafein itu.
Minseok dengan cepat langsung menghempaskan selimut yang ada ditubuhnya dan turun dari ranjangnya. Melihat betapa semangatnya adik tercintanya itu langsung membuat Sungmin tersenyum lebar dan mengangguk setuju untuk menunggu sang adik di bawah sebelum akhirnya meninggalkan Minseok sendiri di kamar.
.
.
.
"SUNGMIN-HYUNG!"
Sudah lama. Sudah lama sekali Minseok tidak berteriak senyaring itu pada Sungmin yang saat ini asik tertawa hingga terpingkal-pingkal saat melihat Minseok yang duduk disalah satu dahan pohon sudah menunjukkan ekspresi wajah yang hampir menangis. Meski sejujurnya teriakan Minseok cukup bisa menyakiti telinga Sungmin, tapi rupanya kakaknya itu mengacuhkannya dan terus terawa.
"Hyung! Kamu benar-benar kejam!" teriak Minseok lagi tapi dengan lebih pelan, kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Hahahaha, Minseokkie coba kamu lihat wajahmu! Ah, bayi oppa yang manis! Hahahaha…," tawa Sungmin benar-benat tidak akan berhenti dengan mudahnya.
Apa tadi Sungmin secara tidak langsung menyebut Minseok manis?—coret, Sungmin menyebut Minseok manis secara langsung tadi.
"HYUNG AKU INI LAKI-LAKI!" Minseok berteriak dengan penuh rasa frustrasi. "Dan lagi apa-apaan dengan kata 'oppa' tadi?"
"Oh, hahahaha…," perlahan Sungmin mulai berhenti tertawa. "Minseokkie, wajahmu itu manis coba saja lihat kedua matamu yang sudah berkaca malah membuatmu terlihat seperti gadis yang akan menangis."
"Hyung! Kumohon singkirkan anjing-anjing itu!"
Ah, tanpa disadari bukan hanya kedua mata Minseok yang seperti kucing. Tapi juga rasa takutnya pada anjing yang semakin membuatnya terlihat seperti anak kucing yang lemah dan tak berdaya.
"Sungmin-hyung?"
Suara yang tidak asing itu berhasil membuat Minseok dan Sungmin memberikan reaksi yang berbeda, terlihat Minseok yang langsung terdiam membeku sedangkan Sungmin dengan santainya menoleh kearah sumber suara dan menyapa sang pemilik suara.
"Ah, Luhanie. Sedang jalan-jalan? Eh, ternyata ada Sehunnie juga." Sungmin memberikan senyuman ramah pada dua orang laki-laki yang lebih muda dihadapannya.
"Ne, aku sedang bosan di rumah." Luhan menjawab pertanyaan Sungmin dengan singkat dan jelas.
"Bukannya itu anjing milik Jongin, kenapa bisa ada disini?" tanya Sehun yang memang sudah akrab dan kenal dengan semua tetangganya—karena dirinya sering keluar rumah untuk membeli bubble tea.
"Aku mengajaknya jalan-jalan," jawab Sungmin dengan senyuman misterius yang terukir diwajahnya.
Minseok yang sedari tadi hanya diam cuma bisa menatap Luhan yang terlihat begitu dekat dengannya, jika Minseok turun dari pohon ini bisa dipastikan mereka nanti akan bertatapan dan memikirkannya saja sudah membuat jantungnya berdetak begitu kencang. Hanya saja tiba-tiba kegugupan yang tadi melandanya menghilang saat mendengar jawaban Sungmin atas pertanyaan Sehun.
Oh, jadi hyung-nya itu sengaja membawa tiga anjing milik Jongin?
"Tapi kenapa anjingnya hyung diamkan dibawah pohon itu?" tanya Luhan yang entah mengapa langsung kembali membuat Minseok serasa meleleh setiap kali mendengar suara laki-laki itu.
Suaranya benar-benar sangat merdu, seperti seorang penyanyi.
"Itu kare—"
"Minseok-hyung?" Sehun mendongak dan menemukan Minseok yang berada diatas pohon dengan heran, bahkan tanpa sengaja ia memotong perkataan Sungmin. "Kenapa hyung berada diatas pohon?"
Sungmin langsung terlihat mencoba menahan tawanya sedangkan Luhan ikut mendongakkan kepalanya dan kedua mata rusa-nya kembali bertemu dengan kedua mata kucing Minseok seperti yang terjadi kemarin. Lagi, rona merah kembali menganti warna putih dikedua pipi chubby Minseok.
Ah, jika saja Minseok itu kura-kura pasti sudah sejak tadi ia bersembunyi didalam tempurungnya.
.
.
.
Luhan hanya diam menatap sepasang mata kucing Minseok yang begitu indah dan entah mengapa ada sedikit perasaan aneh yang menghampirinya seperti kemarin saat mereka berdua saling menatap—hanya saja perasaan aneh kali ini lebih terasa nyata. Belum lagi reaksi Minseok yang benar-benar terlihat seperti kucing yang terjebak diatas pohon dan minta untuk segera diturunkan.
Ah, bagaimana bisa ada laki-laki semanis ini?
Menyadari ada yang janggal dengan keadaan ini—Minseok yang terduduk disalah satu dahan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Luhan langsung mengalihkan pandangannya pada tiga anjing yang katanya milik seseorang bernama Jongin yang dibawa jalan-jalan oleh Sungmin tengah berada dibawah pohon yang dahannya menjadi tempat Minseok 'terperangkap'.
Baiklah, sepertinya Luhan mengerti apa yang terjadi.
"Kamu takut dengan anjing, Minseok-ssi?" tanya Luhan dan kembali menatap kedua mata kucing laki-laki yang masih terperangkap diatas sana.
Minseok terdiam—begitu juga Sungmin dan Sehun begitu mendengar pertanyaan Luhan yang bisa dengan cepat mengetahui bahwa Minseok takut pada hewan berkaki empat bernama anjing.
"I-Iya." Minseok hanya bisa menjawab dengan nada pelan.
"Wah, aku tidak menyangka Sungmin-hyung sejahil ini," kata Sehun sambil menatap Sungmin tidak percaya. Ternyata dibalik wajah polos Sungmin terdapat sifat yang begitu jahil seperti ini.
"Arasseo." Luhan tiba-tiba berjalan mendekati ketiga anjing yang asik mengitari pohon tempat Minseok terperangkap dan mulai menjauhkan anjing-anjing itu dari sana.
Kepala Luhan mendongkak dan kedua matanya kembali bertemu dengan kedua mata Minseok yang menatapnya dengan heran—yang berhasil membuat laki-laki itu terlihat berkali-kali lipat lebih manis. Tiba-tiba kedua tangan Luhan terulur lalu menyentuh pinggul Minseok yang langsung menunjukkan ekspresi kaget dan ekspresi kaget itu semakin menjadi-jadi saat Luhan mengangkatnya turun dari dahan pohon yang memang tidak terlalu tinggi tapi aman dari anjing-anjing yang tadi ada dibawahnya.
"W-Wah." Sehun dan Sungmin kehabisan kata-kata saat melihat adegan heroik yang begitu 'wow' dihadapan mereka.
"Gwenchana?" tanya Luhan begitu Minseok sudah menginjakkan kakinya ke bumi. Luhan sedikit mengernyit saat sadar bahwa sedari tadi Minseok terus-menerus menundukkan kepalanya. Apakah laki-laki manis dihadapannya ini tidak ingin menatapnya? Maksudnya seseorang yang sudah menyelamatkannya—yaitu dirinya, Luhan.
"N-N-Nan g-gwenchana," jawab Minseok yang terlihat begitu susah payah untuk mengeluarkan dua patah kata itu.
"Luhannie, kamu harusnya tidak usah sampai mengangkat Minseokkie seperti tadi. Itu tadi sangat heroik," celoteh Sungmin yang sudah kembali mendapatkan kata-katanya.
"Gege benar-benar tidak bisa diprediksi." Sehun geleng-geleng kepala—seakan tidak percaya dengan apa yang tadi disaksikannya.
"Habisnya tadi Minseok-ssi terlihat sangat ketakutan," kata Luhan untuk membela dirinya, kepalanya menoleh kearah Sungmin dan Sehun tetapi entah mengapa sejak tadi kedua tangannya masih betah di pinggul Minseok.
"G-Gu-Gumawo L-Luh—"
GUK! GUK!
Secara mendadak ketiga anjing yang tadinya sudah disingkirkan Luhan sedikit jauh dari pohon berlarikan mendatangi Minseok dari belakang yang sontak langsung membuat laki-laki berwajah manis itu panic bukan main. Sungmin yang sadar bahwa sejak tadi dirinya tidak memegang tali ketiga anjing itu pun ikut panik, kalau sampai adiknya pingsan bisa-bisa dirinya terkena amukan ibu mereka.
GUK!
"Andwae!" pekik Minseok dengan kedua mata yang berarik karena ketakutan dan secara repleks langsung memeluk seseorang yang ada dihadapannya—Luhan untuk mencari perlindungan.
Luhan hanya bisa terdiam karena kaget dengan tindakan Minseok yang memeluknya dengan begitu erat dan juga membuatnya merasakan perasaan aneh lainnya.
"Sehun, cepat bantu aku!" seru Sungmin dengan cepat sebelum ketiga anjing milik Jongin itu bisa mendekati adik tercintanya.
Baiklah, sepertinya bisa bilang bahwa sebenarnya Sungmin itu adalah kakak yang baik. Hanya saja sedikit jahat.
.
.
.
"Minseok-ssi," panggil Luhan yang mencoba tenang. "Kamu memelukku terlalu erat. Aku sulit bernapas."
Apa?
Apa kata Luhan tadi?
"E-EH?!" Minseok langsung memekik dan melepaskan pelukanya pada Luhan, wajahnya kembali bersemu merah bahkan lebih merah dibanding sebelumnya. Bahkan telinganya pun ikut berwarna merah karena malu, belum lagi kenyataan bahwa dirinya baru saja memeluk Luhan!
Demi galaxy yang Yifan sukai, Minseok malu sekali!
"Omona, Minseokkie… kamu benar-benar suka sekali cari-cari kesempatan," goda Sungmin yang sudah berhasil mengamankan ketiga anjing milik Jongin.
"A-Aniyo. A-Aku tidak s-sengaja!" elak Minseok yang memberikan tatapan nelangsa pada Sungmin—memohon pada kakaknya itu untuk segera membawanya pulang. Masa bodo dengan cappuccino yang belum sempat dipintanya, pokoknya saat ini yang di inginkannya cuma kembali pulang ke rumah.
"Seokkie kamu sakit?" tanya Sungmin yang heran dengan tingkah Minseok belum lagi kegagapan yang tiba-tiba menyerang adiknya itu. "Aku baru sadar, sejak tadi kamu bicara dengan gagap."
Ingin rasanya Minseok berteriak pada kakaknya itu untuk segera membawa pulang. Sekarang! Tidak bisa ditawar-tawar, Minseok benar-benar tidak tahu harus bersikap apa lagi dihadapan Luhan. Semuanya tidak ada yang berjalan dengan benar.
"Sepertinya Minseok-hyung memang sedang sakit," kata Sehun yang sadar bahwa gerak-gerik Minseok memang sedikit aneh. "Wajahnya juga memerah."
"Kamu deman Minseokkie?!" pekik Sungmin yang langsung menatap Minseok dengan tatapan khawatir yang begitu berlebihan.
"Tapi dahinya tidak terasa panas," sahut Luhan dengan santai.
Merasa ada yang aneh dengan perkataan Luhan, Minseok menatap keatas dan menemukan punggung tangan Luhan yang menyentuh dahinya—mencoba untuk memastikan apakah suhu tubuhnya normal atau tidak. Tapi bukannya menemukan suhu tubuh Minseok yang panas, Luhan malah berhasil membuat wajah semakin penuh dengan rona merah.
Belum lagi wajah Luhan yang begitu dekat dengan wajah Minseok. Kalau begini terus bisa-bisa—
"MINSEOKKIE!"
—Minseok jatuh pingsan.
.
.
.
Finish or To Be Continue?
Author's Note :
Pertama-tama, aku pengen ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para readers yang menyempatkan review bahkan sampai memberikan sambutan hangat dan dukungan padaku. Jujur, aku enggak pernah dapat isi review yang begitu hangat selama aku jadi author (Aku juga seorang author selain di screenplays dengan akun yang berbeda). Aku terharu dengan readers yang juga dengan terbukanya menyampaikan pendapatnya tentang berkurangnya author ataupun fanfic LuMin/XiuHan. Rasanya seperti benar-benar diterima di fandom LuMin/XiuHan Shipper. Semoga kalian semua suka dengan chapter 2 ini, karena jujur aku senyum-senyum sendiri waktu bikinnya xD.
P.S : Aku juga berterima kasih buat beberapa readers yang ngasih aku nickname (yaitu : De, Del, and Shine).
.
Special Thanks to :
Imeelia, NunaaBaozie, Meilinda600, invhayrani, fadhila, ciandys, Afyb, elfishminxiu, hanachoco, Buku996, Kazeko Aoi to Kamui Seiyuu, sukha1312, Kimmie179, XiuLu, saya. ochestra, xiutohan, dn, elferani, jesxiuhan, VereisungOne(exofficial61), serahLodah, Lu HanMin, HamsterXiumin, MinYeolKook, thedolphinduck, jiraniatriana, Guest, minseokchan.
.
Frequently Asked Questions :
Minseok ini anaknya doyan internet apa gimana kok bisa agak anti sosial gitu. Umm, Minseok cuma kurang suka keluar rumah. Duh, ini kok sifat aku banget. Tapi Lu-ge biasa aja liat Minseoknya. Di chapter ini udah enggak biasa aja kan?. Ntar dia (Minseok) punya sahabat gak? Macem Gayoung gitu? Em, sedang dipikirkan tapi sih aku berharapnya Minseokkie punya sahabat ^^. Nih ff gak bakalan jadi angst kan? Tenang aja enggak, ff ini sesuai dengan genre yang udah tercantum yaitu romance/drama. Jaga kesehatan ya! Makasih udah ngingetin :) . Luhan~ Di-stalk sama Minseokkie gimana rasanya, hm? Enak ya~. Ada baiknya kita tanya pada Lu Han-nya langsung (Luhan : Apa? Aku di-stalk sama siapa? M-Minseok?). Minseok hobinya ngintip-ngintip Luhan xD, seterpesona kah itu sama Luhan? Ayo kita tanya langsung keorangnya (Minseok : E-Eh? A-Aku… A-Aku…). Tumben itu Luhan rada cool gitu. Mungkin itu caranya buat menarik perhatian Minseokkie xD (Luhan : Yak! Aku memang cool!).
.
Thanks for reading.
Mind to review? Reviews are what keeping this story alive.
xoxo
hunshine delight
