Preview

"Kalau begitu istirahatlah. Umma ingin menemani appamu dulu ne" balas Choi Taemin―umma Siwon.

Beda Kibum, beda lagi Siwon. Appanya―Choi Minho, mengalami struk ringan yang menyebabkan kaki kanan dan tangan kanannya tak bisa digerakkan. Otomatis perusahaan diambil alih oleh Siwon atau ummanya.

"Ne umma~" jawab Siwon sambil tersenyum miris.

.

Title : Change Sex Orientation

Author : Hannie Agustina

Cast : Super Junior, SHINee, TVXQ, and EXO

Pair : CRACK PAIR FOR SUPER JUNIOR except Kangteuk, Yewook, Eunhae ((KiHaeWonKyuHan)), PURE PAIR FOR other group

Genre : Drama, Romance, Hurt/comfort, Family, little bit Humor

Rate : M

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Warning : GEDER SWITCH! SEX SLAVE! DON'T LIKE PAIR, DON'T READ! IF YOU STILL READ, IT MEANS YOU BLIND! SO, JUDGE THIS FF FROM STORY LINE!

.

.

Don't be SILENT READERS!

-Change Sex Orientation-

.

Lee Apartment

"Hiks... hiks... hiks... " isak seorang yeoja―Donghae.

"Hae! Appa memang bodoh Hae! Appa memang tak punya apa-apa! Appa memang mengajarimu dengan lembut! Tapi appa akan tegas mulai sekarang!" bentak sang appa dengan wajah menahan amarah.

"Ta―tapi appa! Umma..."

"Appa masih bisa mencari pekerjaan" sahut appanya memotong omongan anaknya.

"Tapi tak akan cepat appa! Aku tak mau umma kenapa-napa! Hiks... hiks..." protes Donghae.

"Kau boleh membantunya Hae! Boleh! Tapi tidak dengan menjual tubuhmu!" bentak sang appa.

"Hiks... hiks... aku harus appa hiks..."

"Tidak Hae! Lee Donghae dengarkan appa!" perintah sang appa sambil menangkup pipi anaknya. Menyatukan dahi mereka. "Lee Donghae! Sesusah apapun kita! Kita harus tetap tegar, eoh? Jangan pernah putus asa... ne" jelas sang appa. Donghae hanya mengangguk dalam diam.

"Aku menyayangimu appa" lirih Donghae, lalu menghambur ke pelukan sang appa.

"Nado Hae~" balas sang appa.

.

.

.

Perlahan seorang gadis membuka kedua matanya yang terpejam. Mengerjap sebentar untuk membiasakan bias-bias cahaya yang masuk. Sedikit pening dirasakan gadis itu.

"Ennggghhh~ jam berapa ini?" lenguhnya lembut.

Tangannya menggapai-gapai jam weker berbentuk ikan badut yang berada di meja nakasnya. Matanya mencoba meneliti jarum jam. "Oh jam 8~" desahnya lega.

"MWO?! Jam 8! Aigooo!" tiba-tiba saja Donghae berteriak kesetanan.

"Donghae! Hyukkie menjemputmu!" teriak sang appa dari bawah.

"Ne appa! Akhhh! Aku telat!" teriaknya sambil mondar mandir di dalam kamar. "Aigooo... kenapa bisa kesiangan si" dumelnya, engerucutkan bibirnya imut.

Hyukkie dan Onew―appanya Donghae terkekeh mendengar kepanikan dari kamar Donghae. Ini memang biasa terjadi ketika Donghae terlambat bangun. Hyukkie yang sudah bersamanya sejak SMA sampai sekarang mereka kerja, hapal betul dengan sikap sahabatnya ini.

"Hyukkie, appa minta tolong ne. Jaga Donghae" ucap Lee appa serius.

"Ne, appa. Memangnya apa lagi yang dilakukan Hae?" tanya Hyukie a.k.a Eunhyuk.

"Tadi malam... dia... dia ingin menjual tubuhnya" ucap sang appa tak enak.

"Mwo?!" kaget Hyukie.

"Appa mohon padamu Hyukie. Jaga dia ne" pinta Lee appa.

"Pasti appa. Pasti!" ucap Eunhyuk mantap.

Brak

"Hyukie kajja!" seru Donghae yang sudah siap. Terburu-buru Donghae mengecup dua belah pipi appanya, sementara tangannya sudah menarik Eunhyuk.

"Hae! Makan dulu ne" suruh sang appa.

"Ani appa! Kita sudah terlambat!" tolak Donghae sambil menggelengkan kepalanya, lucu.

"Makan dulu saja Hae. Aku juga lapar" sahut Eunhyuk.

"Tapi Hyuk..."

"Sarapan dulu, Hae. Yang punya cafenya saja ingin makan" sambung sang appa.

"Ugh... baiklah" kesal Donghae dengan bibir yang mengerucut imut.

Donghae memang bekerja di cafe milik Hyuk. Setelah mereka lulus kuliah, Hyukie membuat sebuah Cafe dibantu oleh Donghae yang menjadi akuntannya. Donghae jurusan Akutansi dan Hyukie jurusan Bisnis. Appanya Eunhyuk bisa dibilang orang yang lumayan mampu, memiliki beberapa cafe yang sudah tersebar di Korea Selatan.

"Selesai!" riang Donghae.

"Ya sudah! Kajja!" ajak Hyukie sambil menggenggam tangan Donghae.

.

.

.

Tous Les Jours Cafe

"Hae~ coba cake buatan oppa" pinta Heechul selaku chef di sana.

"Eumm~ massita!" seru Donghae riang, "tapi... ini bukan resep hasil curian dari Hongki unnie 'kan?"

"Yak! Enak saja... kami berdua membuat bersama!" seru Heechul.

"Apa hyung membuatnya tengah malam?" goda Eunhyuk yang baru saja datang.

"Yak! Apa maksudmu, eoh!" balas Heechul semakin kesal.

Cling

Bunyi bel pintu terbuka di pagi hari. Pelanggan pertama untuk pagi hari ini. dan dengan begitu acara ngobrol pagi sesama karyawan harus terhenti.

.

.

.

Choi Group

Seorang namja bertubuh atletis sedang berkutat dengan dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. Beginilah pekerjaannya di siang hari. Mengurusi perusahaan raksasa, diusianya yang masih terbilang muda.

Kring

"Yoboseyo"

"..."

"Suruh dia masuk"

Tok tok tok

"Masuk"

"Wonnie~" panggil seorang namja yang tak lain dan tak bukan Hankyung.

"Baby~" balas Siwon sambil beranjak dari kursi kebesarannya menuju pujaan hatinya. "Bagaimana pekerjaanmu, ge" goda Siwon.

"Yak! Jangan panggil aku gege!" balas Hankyung sebal.

"Ne, maaf jagi~. Ayo makan!" ajak Siwon sambil mengenggam tangan namjachingunya.

"Kajja! Oh ya! Kita coba Tous Les Jours Cefe! Cafe itu sedang ngetren dikalangan karyawanku"

.

.

.

Bunyi dentingan garpu, sendok dan berbagai macam alat makanan berdenting cukup keras di cafe itu. Akhir-akhir ini Les Jours Cafe, menjadi cafe pilihan karyawan muda. Dan karena itu cafe ini membuka beberapa cabang di pusat perkantoran.

"Hae~ temani aku mengambil arsip keungan di Gwangjun yuk" pinta Eunhyuk.

"Tapi Hyuk~ ini belum selesai" protes Donghae.

"Kau tak akan menyelesaikannya, kalau kau tak mempunyai arsip cabang lain Hae~. Aku janji habis itu kita menemui ummamu" jelas Eunhyuk, masuk akal.

"Jinja?! baiklah" jawab Donghae berbinar.

Begitu mereka ke luar ruangan, pandangan mereka di suguhkan oleh pelayan yang berlalu lalang dan pelanggan yang semakin bertambah banyak.

"Kau hebat Hyuk. Cafemu sekarang jadi ramai pelanggan" bisik Donghae.

"Itu semua berkat nona Lee yang membantuku" balas Eunhyuk sambil merengkuh pinggang ramping Donghae agar merapat ke arahnya.

Bukan lagi rahasia bagi pelayan dan karyawan Eunhyuk, kalau Eunhyuk menyukai Donghae. Rasa sayang ah... bahkan cintanya Eunhyuk pada Donghae tak berkurang sedikit pun, mulai dari pertama kali bertemu sampai sekarang. Kenapa tak berpacaran saja? Masalahnya adalah Donghae tak ngeh dengan perasaan sahabatnya itu. Entah dia kelewat polos, babo atau memang cuek. Padahal hampir semua karyawan bisa melihat dengan jelas pancaran cinta Eunhyuk untuk Donghae.

"Hahaha... bisa saja" balas Donghae.

"Kajja!" ajak Eunhyuk seraya menautkan jari tangannya pada jari tangan Donghae.

Bruk

Sebuah debuman halus tercipta kala tabrakan pundak antara Donghae dengan seorang namja bertubuh atletis. "Ugh..." keluh Donghae.

"Ah... mi― kau!" ucap namja itu sambil menunjuk tepat di depan muka Donghae.

"Kau!" kaget Donghae.

"Hae~ kau mengenalnya?" tanya Eunhyuk yang khawatir dengan 'sahabat'nya.

"Ani!" jawab Donghae kalang kabut sambil menarik genggaman tangan Eunhyuk.

"Yak! Kau kan yang tadi mal― mmmhhh" omongan Hankyung terpotong oleh dekapan mulut dari Donghae.

"Ani~ Hyuk~" sergah Donghae terburu-buru.

"Kau sudah memiliki namjachingu tapi kemari― mmmhhh" sekarang giliran ucapan Siwon yang terhenti akibat bungkaman tangan Donghae.

"Hae~ sebenarnya siapa mereka?" tanya Eunhyuk makin bingung.

"Mereka... mereka... mereka kenalanku. Ya kenalanku... ya benar itu. Ya kan? Tuan... emmhh" ucap Donghae terbata-bata. Masih dengan mempertahankan bekapan tangannya di kedua mulut namja tinggi itu.

"Yak!" seru Hankyung melepaskan bungkaman Donghae. Siwon yang baru sadar karena seruan namjachingunya segera melepaskan bekapannya juga."Kau wa― emmhh" belum sempat Hankyung berbicara, lagi-lagi Donghae membekapnya.

Sreet

Jengah akan kelakuan Donghae dan kedua namja yang dibungkam Donghae, Eunhyuk menyeret Donghae agar menjauh dari mereka. "Ku tunggu penjelasanmu Hae" ucap Eunhyuk dingin.

"Yak dasar wanita jalang!" teriak Hankyung yang sudah emosi akut.

Refleks Donghae menutup kedua kuping Eunhyuk, membuatnya sedikit limbung ke arah Eunhyuk. Untung saja Eunhyuk sigap menahan pinggang Donghae dengan tangannya hingga jarak mereka benar-benar sedikit. "Hati-hati" bisik Eunhyuk tersenyum simpul.

"Ne! Kajja!" ajak Donghae, kembali menarik tangan Eunhyuk.

.

Sihan Side

"Mwo?! Apa yang mereka lakukan di depan pintu masuk?" tanya Hankyung.

"Tak usah diurusi baby~" jawab Siwon malas.

"Ta―tapi... dia benar-benar sangat menyebalkan Wonnie~" adu Hankyung manja.

Siwon mengangkat alisnya, bingung. Biasanya namjachingunya ini tak bereaksi sama sekali dengan perdebatan-perdebatan kecil, tapi kenapa sekarang dia tersulut. "Baby~ gwenchana?" tanya Siwon khawatir.

"Yak! Wonnie! Emang aku kenapa, eoh?" tanya balik Hankyung.

"Kau― sudahlah... kajja kita pesan" ajak Siwon.

"Kajja~"

.

.

.

Kim Mansion

Seorang Tuan Muda Kim sedang bersiap-siap ke kantor. Namun...

Tok tok tok

"Masuk" suruh Kibum kepada si pengetuk pintu.

Seorang yeoja paruh baya yang dilansir adalah umma dari Kibum berjalan memasuki kamar. Seulas senyum manis terukir di bibirnya, senyuman tulus yang sudah jarang Kibum lihat. "Bum~ah" panggil sang umma.

"Um―umma" kaget Kibum karena tak biasa ummanya menyapanya apalagi masuk ke dalam kamarnya. Apa ummanya sudah sehat?

"Kenapa lama sekali? Saehee sudah menunggu di bawah... kajja~" ucap ummanya.

Deg

Pupus sudah harapan yang sedikit tumbuh itu. Digantikan dengan raut wajah yang sulit diartikan. Kibum memang selalu menyimpan ekspresinya, sekali pun oleh namjachingu atau sahabatnya.

"Saehee sudah meninggal umma. Kapan umma sadar, eoh?" lirih Kibum yang masih sanggup di dengar oleh Ryeowook.

"Ani! Ani! Ani Kim Kibum! Saehee masih hidup! Cepat ke bawah! Adikmu sedang menunggumu di bawah Kim Kibum!" bentak Ryeowook histeris.

"Ani umma! Umma dengarkan Kibum!" perintah Kibum sambil memegang kedua pergelangan tangan ummanya. "Kim Saehee―adikku, anak umma. Dia sudah meninggal. Dia sudah tenang di surga umma. Umma jangan membuatnya sedih. Dia bahagia umma" jelas Kibum lembut.

Perlahan Kibum mulai melunakkan genggaman tangannya pada pergelangan tangan ummanya. Membawa sang umma ke dalam pelukannya. "Apa umma boleh menyusulnya? Boleh? Boleh kan? Umma akan bawakan coklat dan permen yang banyak untuk Saehee. Kau juga akan belikan kan? Ya kan, Bummie?" tanya sang umma layaknya seorang anak kecil yang meminta jawaban benar pada appanya.

"Ne umma~ ne~ pasti~" jawab Kibum. Senyum miris terukir di bibirnya. Setetes air mata jatuh ke pipi seputih saljunya. Kelakuan ummanya semakin hari seperti anak kecil.

"Wooky~" panggil Yesung sambil tersenyum. Melihat putra sulungnya yang mampu menenangkan sang umma.

Kibum memang jagonya menenangkan sang umma. Sayang Kibum selalu pergi pagi dan pulang tengah malam karena pekerjaannya. Jadi, ummanya terkadang hanya bermain dengan sang appa dan boneka jerapahnya.

"Sungie~" balas Ryeowook riang. Segera mungkin Ryeowook menghampiri Yesung dan langsung memeluknya. "Sungie, kata Bumie aku boleh menyusul Saehee. Sungie, mau ikut ga? Tapi... kalo Wooky pergi nanti boneka jerapah Wooky sama siapa? Aha! Dia juga akan ikut" cerocos Ryeowook layaknya anak kecil.

"Ne~ Sungie mau ikut. Tapi Wooky makan dulu ne" balas Yesung tersenyum lembut.

"Nde... nanti beli permen dan coklat buat Saehee ne. Bummie juga ne" pinta Ryeowook.

"Ne umma~" balas keduanya kompak. "Appa, umma, aku berangkat dulu ne" ucap Kibum berpamitan. Ryeowook mengangguk imut.

"Bekerjalah dengan benar, Bum~ah" bisik Yesung.

"Huft... ne appa" balas Kibum.

.

.

.

Cho Mansion

Dentingan garpu beradu dengan sendok terdengar di kediaman keluarga Cho. Sepasang suami istri sedang makan sambil membicarakan berbagai macam hal.

Tidak jauh dari sana Kyuhyun menatap nyalang pemandangan di depan meja makan. Meja makan 'keluarganya'.

.

Flashback

"Umma aaa~" pintah namja cilik berumur 4 tahun. Sang umma langsung menyendokkan makanannya.

"Umma aaa~" seorang namja dewasa ikut-ikutan meminta suapan dari sang istri.

"Ich... appa tak boleh" protes sang anak pada appanya.

"Andwee! Appa juga mau! Minnie aaa~" rajuk sang appa.

"Shireo! Bwee" ejek sang anak pada sang appa.

Ummanya yang melihat mereka hanya bisa tersenyum bahagia. Keceriaan memang tak pernah luntur dari keluarga kecil ini.

Flashback End

.

"Umma~" lirih Kyuhyun saat kenangan-kenagannya singgah dalam pikirannya. "Umma pasti bahagia di sana" lirih Kyuhyun.

Kyuhyun mulai bersiap memasang tampang dingin. Berusaha menutupi kesedihannya. Berjalan begitu angkuh di hadapan appa dan umma barunya, tanpa berniat sedikit pun untuk menengok ke arah mereka.

"Kyuhyun" panggil sang appa.

"Makan dulu nak" sambung sang umma.

"Aku tak lapar" jawab Kyuhyun dingin.

"Appa! Umma! Kyuhyun oppa! Selamat pagi!" seru seorang yeoja.

Dia adalah adik angkat Cho Kyuhyun, namanya Tao. Beda dengan Kyuhyun yang menolak Leeteuk sebagai ummanya, Tao justru menerima Kangin dengan senang hati. Wajar saja Tao tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang appa. Appanya meninggal sebelum dia sempat di lahirkan ke dunia.

"Pagi!" jawab sepasang suami istri itu.

"Kyu antarkan adikmu kuliah dulu" perintah sang appa.

"Mobilku terlalu bagus untuk dinaiki oleh dia" jawab Kyuhyun yang langsung melangkah keluar. Meninggalkan raut sedih di wajah sang adik.

"Kyu oppa~" lirih sang adik.

"Jja! Makan Tao" ujar Leeteuk memecah kecanggungan.

.

.

.

Eunhae Side

Setelah mengumpulkan arsip dari cabang Gwangjun, perjalanan mereka dilanjutkan menuju Seoul Hospital. Tadinya mereka berniat makan dulu di sana tapi karena Donghae sudah merengek minta bertemu dengan ummanya, jadi tak ada acara makan.

"Umma~" panggil Donghae dengan suara lirihnya.

Di sana, di tempat tidur, terdapat seorang wanita paruh baya yang cantik sedang tertidur. Tak jauh dari sana, appanya sedang membaca koran. Rutinitas sang appa selama menunggui ummanya.

"Eh, Hae~Hyukkie~ kau sudah pulang?" tanya sang appa.

"Ne, appa" jawab Eunhae kompak.

Donghae menghampiri ranjang ummanya, mencium keningnya sekilas. Kemudian meraih tangan ummanya untuk dicium dan digenggam. "Umma, Hae datang" ucap Donghae sambil mengelus surai ummanya.

"Nhhg~" merasa tergangu, sang umma melenguh pelan. "Hae" panggilnya dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.

"Ne umma. Hae di sini. Bagaimana keadaan umma?" jawab dan tanya Donghae.

"Hyukie~" panggil sang umma, tak mengindahkan pertanyaan anaknya. Matanya tertuju pada Eunhyuk yang berada di belakang putrinya.

"Ne umma" balas Eunhyuk. Mendekatkan ke arah umma Donghae. Tersenyum dengan gummy smilenya ke arah ummanya Donghae.

"Sudah pulang, eoh?" tanya sang umma. Eunhae mengangguk. "Hae~ah mian umma hiks... merepotkanmu. Umma tak berguna hiks... hiks..." Lee Kibum a.k.a Key terisak.

Sontak sang appa menghampiri dan menenangkan sang umma. Donghae yang melihatnya malah ikut menangis. Hatinya begitu sedih melihat kondisi ummanya yang biasa ceria harus terbaring lemas di rumah sakit. Hyukie yang sudah paham situasi langsung memeluk Donghae, membantu menenagkannya.

"Kenapa appa punya dua yeoja yang sangat cengeng, eoh?" canda sang appa sambil mengecup pucuk kepala ummanya.

"Hiks... appa~" rengek keduanya kompak.

Kemudian suasana menjadi ceria kembali. Memang dasar anak dan umma sifatnya tak berbeda. Akan cepat menangis dan akan lebih cepat lagi ceria kembali. Itulah yang membuat setiap masalah yang mereka hadapi terselesaikan dengan cepat.

Sedang asik-asiknya bersenda gurau, pintu kamar rawat diketuk seseorang. Tak lama seorang suster masuk dan meminta salah satu dari mereka ikut. Donghae yang mengerti langsung mengikuti suster tersebut.

.

"Silahkan masuk, nona" suruh suster.

"Annyeong" sapa Donghae ramah, setelah masuk ke ruangan uissanim.

"Annyeong. Donghae-ssi" balasnya.

"Ada apa Shin uissanim?" tanya Donghae.

Sejenak sang dokter membenarkan kacamata dan mengambil dokumen. Dokumen―laporan kesehataan ummanya. "Begini Donghae-ssi. Ummamu, kangker payudaranya sudah mulai menyebar ke jantung. Sebaiknya ummamu harus segera operasi, kalau tidak... aku tak berani memprediksinya" jelas Shin uissa serius.

Donghae yang mendengarnya hanya mampu mengigit bibirnya, menahan isakkan yang lolos. "Ne. Lakukan operasi saja, Uissanim" jawab Donghae.

"Kalau begitu selesaikan dulu administrasinya ne"

"Ne"

"Suster! Bisa kemari sebentar" panggil Shin uissa.

"Ne"

"Tolong antarkan nona Donghae-ssi ke loket untuk mengambil surat-surat administrasi" jelas Kang uissa.

"Ne. Mari nona" ajak suster itu.

Donghae pun di bawa ke loket administrasi. Mengurusi beberapa keterangan umma. Begitu ia melihat jumlahnya, dia terdiam sejenak. Biaya operasi memang sangat mahal. Bahkan kalau pun dia bekerja untuk Hyukkie, sampai tua pun belum tentu akan terkumpul.

'Dari mana aku aku bisa mendapatkan 400juta won' batin Donghae miris.

"Bagaimana, nona?" tanya suster menyadarkan Donghae dari lamunannya.

"Bisakah di cicil, sus?" tanya Donghae, berharap.

"Bisa nona"

"Huft... syukurlah. Tapi batas waktunya sampai kapan ya?"

"Untuk pembayaran pertama, dilakukan minggu ini minimal seperempatnya. Untuk cicilannya, batas waktu sekitar satu bulan setelah umma anda pulang" jelas sang suster.

'Ottokhe?' batin Donghae panik.

Drrttt drrtt

"Eh? Ah baiklah sus. Suratnya saya bawa ne" ujar Donghae buru-buru. Segera mungkin dia menjauh untuk mengangkat telepon.

"Yoboseyo"

"Bagaimana? Apa kemarin berhasil?" tanya suara seorang wanita paruh baya dari seberang telepon.

"Emhh... itu, belum nyonya. Tapi mereka menunjukkan reaksi. Malam ini dan seterusnya aku akan lebih berusaha, nyonya" jawab Donghae mantap.

"Baiklah. Ambillah pakaianmu di ruang ganti di sana" jelas sang penelpon.

"Ne, nyonya"

Click

"Huft~" desah Donghae berat.

.

Lily Room

Drrtt drrtt

"Hae?" pikir Eunhyuk bingung. Untuk apa Donghae menelpon kalau mereka masih satu gedung?

"Yoboseyo"

"Hyuk... mian aku ada urusan. Jadi aku pulang duluan. Bilang pada appa dan umma, aku duluan. Gumawo Hyukkie"

Click

Tanpa menunggu jawaban Eunhyuk, Donghae menutupnya.

"Ada apa, Hyuk?" tanya Key umma.

"Donghae pergi. Sepertinya ada urusan, umma" jawab Hyukkie.

"Oh. Hyuk sini" pinta Key umma.

"Ne"

"Kau menyayangi putriku? Ani... kau mencintai putriku?" tanya Key umma.

Deg

Sontak Eunhyuk membelalakan matanya, kaget. Pasalnya kedua orang tua Donghae tak tahu akan perasaannya.

"Seorang umma tak akan bisa dibohongi. Umma tahu Hyuk. Dari dulu, eoh?" goda sang umma. Eunhyuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian mengangguk. "Kalau begitu. Jaga dia untuk umma dan appa. Mungkin umma tak akan bertahan" lirih Key umma.

"Umma!" bentak Eunhyuk dan Onew appa.

"Hahha... takdir tak ada yang tahu Lee Jinki" guarau Key umma.

"Umma tak boleh bilang begitu. Donghae akan sedih bila mendengarnya" sambung Eunhyuk.

"Dan kau yang bisa menenangkannya, Hyuk. Aku benar-benar meminta tolong padamu untuk menjaganya" serius Key umma.

"Huft~ baiklah" desah Eunhyuk.

"Yak! Kau tak mau dengan putriku, eoh!" seru Onew appa pura-pura marah.

.

.

.

TBC

.

Entah kenapa aku males bikin chap ini. Hambar banget. Feelnya ga adaan?

Yang nunggu NC sabar ya. 3some, 4some, 5some doain aja authornya kuat buatnya. Tapi mian… jeongmal mianhe… mungkin ga ada nc yaoi. Saya tak kuat membuatnya, ga bisa ngebayanginnya *padahal bisa baca nc yaoi#plak

Gumawo yang sudah mau membaca ff ini apalagi sampai mereviewnya

.

Mind To Review?