The Hunger Games
by
–Suzanne Collins–
Remake by
ZER025
Di ubah seperlunya, di buat atas dasar kesenangan semata.
.
.
Hati – hati pegal terhadap leher bisa terjadi karena ini 9K words hehehe
.
.
Saat lagu kebangsaan berakhir, kami dibawa untuk diamankan. Kami memang tidak diborgol atau semacamnya, tapi sekelompok Penjaga Perdamaian menggiring kami memasuki pintu depan Gedung Pengadilan. Mungkin dulu banyak peserta yang berusaha melarikan diri. Meskipun aku tak pernah melihat kejadian semacam itu.
Selama berada di dalam, aku dimasukkan ke ruangan dan ditinggal sendirian di sana. Ini tempat termewah yang pernah kumasuki, dengan karpet tebal, kursi-kursi, dan sofa berlapis beludru. Aku tahu seperti apa beludru karena ibuku memiliki gaun dengan kerah berbahan itu. Sewaktu duduk di sofa, aku tidak tahan untuk tidak mengelus beludru itu berkali - kali. Sentuhan itu membantu menenangkanku ketika aku menyiapkan diri untuk menghadapi saat-saat berikutnya. Waktu yang diberikan kepada para peserta untuk mengucapkan salam perpisahan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Aku tidak bisa merasa merana, lalu keluar dari ruangan ini dengan mata bengkak dan hidung sembap. Menangis bukanlah pilihan. Akan ada lebih banyak kamera di stasiun kereta api.
Yang pertama datang adalah adik dan ibuku. Kuulurkan tangan pada Minyoung dan dia naik ke pangkuanku, kedua lengannya memeluk leherku, kepalanya di bahuku, sebagaimana yang sering dilakukannya saat dia masih balita. Ibuku duduk di sampingku dan memeluk kami berdua. Selama beberapa menit, tak ada yang bicara di antara kami. Kemudian aku mulai memberitahu segala hal yang harus mereka ingat untuk dikerjakan, karena sekarang aku takkan berada di sana untuk melakukannya.
Minyoung tidak boleh mengambil tessera. Jika mereka hati-hati mereka bisa bertahan hidup dengan menjual keju dan susu kambing milik Minyoung dan menjalankan usaha toko obat kecil yang sekarang diurus ibuku untuk penduduk Seam. Sehun akan mencarikan tanaman obat yang tidak bisa ditanam sendiri oleh ibuku, tapi ibuku harus hati-hati menggambarkannya pada Sehun karena pemahamannya pada tanaman obat tidak seperti aku. Sehun juga akan membawakan sisa daging buruang untuk mereka-aku dan dia sudah berjanji soal ini sekitar setahun lalu-dan tidak akan meminta bayaran, tapi mereka akan berterima kasih pada Sehun dengan memberinya barang-barang seperti susu atau obat-obatan.
Aku tidak mau repot-repot menyarankan Minyoung untuk belajar berburu. Aku pernah mengajarinya beberapa kali dan hasilnya kacau-balau. Dia ketakutan berada di dalam hutan. Setiap kali aku memanah sesuatu, matanya berkaca-kaca dan dia mengatakan bahwa kami mungkin bisa mengobati binatang itu jika kami bergegas pulang secepatnya. Tapi dia punya hubungan baik dengan kambingnya, jadi aku berkonsentrasi pada hal itu.
Setelah aku selesai memberi pengarahan tentang bahan makanan, cara berdagang, dan agar Minyoung tetap bersekolah, aku berpaling pada ibuku dan mencekal lengannya kuat-kuat. "Dengarkan aku. Ibu mendengarku?" Dia mengangguk, terkejut dengan keseriusanku. Dia pasti tahu apa yang hendak kukatakan. "Ibu tidak boleh menghilang lagi," kataku.
Mata ibuku tertunduk memandang lantai. "Aku tahu. Aku takkan melakukannya. Aku tidak bisa menahan apa yang-"
"Yah, kali ini ibu harus menahannya. Ibu tidak bisa cabut begitu saja dan meninggalkan Minyoung sendirian. Sekarang tak ada aku yang bisa menjaga kalian agar tetap hidup. Tak peduli apa pun yang terjadi. Apa pun yang Ibu lihat di layar TV, Ibu harus berjanji padaku bahwa Ibu lihat dilayar TV, Ibu harus berjanji padaku bahwa ibu akan terus berjuang!" Suaraku meninggi hingga berteriak. Dalam suaraku terdapat segenap kemarahan, segenap ketakutan yang kurasakan ketika dia meninggalkanku.
Ibuku menarik lengannya dari cekalanku, dan jadi ikutan marah. "Dulu aku sakit. Aku bisa mengobati diriku sendiri jika memiliki obat yang kupunyai sekarang."
"Kalau begitu minum obatnya. Dan urus dia!" sergahku.
"Aku akan baik-baik saja, Zi Tao," kata Minyoung, seraya menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Kau juga harus jaga diri. Kau sangat cepat dan berani. Mungkin kau bisa menang."
Aku tidak bisa menang. Minyoung pasti sadar betul hal itu dalam hatinya. Pertarungan pasti akan jauh di atas kemampuanku. Anak-anak dari distrik yang lebih kaya, di mana kemenangan adalah kehormatan besar, sudah berlatih sepanjang hidup mereka untuk pertarungan ini. Anak laki-laki yang ukuran tubuhnya dua kali lebih besar daripada tubuhku. Anak perempuan yang tahu dua puluh cara membunuhmu dengan pisau. Oh, tentu saja bakal ada orang - orang seperti aku nanti. Orang yang dihabisi sebelum pertarungan makin seru.
"Mungkin," jawabku, karena aku tidak mungkin bisa bilang pada ibuku untuk tetap berjuang jika aku sendiri sudah menyerah. Selain itu, bukan sifatku untuk kalah tanpa bertarung, bahkan saat kemungkinan untuk menang tampak begitu tipis. "Lalu kita akan kaya raya seperti Yoochun."
"Aku tidak peduli kita kaya atau tidak. Aku hanya ingin kau pulang. Kau akan berusaha, kan? Sungguh – sungguh berusaha?" tanya Minyoung.
"Sungguh-sungguh berusaha. Sumpah," kataku. Dan aku tahu, demi Minyoung, aku akan harus sungguh berusaha.
Kemudian Penjaga Perdamai berada di ambang pintu, memberi tanda waktunya sudah habis, lalu kami semua berpelukan sangat erat sampai sakit rasanya dan yang terus ku ucapkan adalah "Aku menyayangimu. Aku menyayangi kalian." Dan mereka membalas kata-kataku, kemudian Penjaga Perdamaian memerintahkan mereka keluar dan pintu pun tertutup. Kubenamkan kepalaku di salah satu bantal beludru seakan apa yang kulakukan ini bisa membendung segala yang terjadi.
Orang lain memasuki ruangan, dan ketika mendongak, aku kaget saat melihat ternyata yang datang adalah tukang roti ayah dari Wu Yi Fan. Aku tidak percaya dia datang mengunjungiku. Bisa jadi aku bakalan berusaha membunuh anak lelakinya sebentar lagi. Tapi kami lumayan saling mengenal, dan dia bahkan lebih mengenal Minyoung. Saat Minyoung menjual keju kambingnya di Hob, dia selalu menyisakan dua batang untuk tukang roti dan sebagai gantinya dia memberikan banyak roti. Kalau ingin melakukan pertukaran dengannya, kami selalu menunggu saat istrinya yang jahat sedang tidak ada karena suaminya jauh lebih baik. Aku merasa yakin dia tidak pernah memukul anaknya karena membuat roti hangus seperti yang dilakukan istrinya. Tapi kenapa dia datang menemuiku?
Tukang roti itu duduk dengan canggung di salah satu kursi empuk di ruangan ini. Dia lelaki bertubuh besar dengan bahu lebar dan bekas luka bakar di tangannya hasil bertahun-tahun di dekat oven.
Dia pasti baru mengucapkan salam perpisahan dengan putranya. Dia mengeluarkan kantong kertas putih dari saku jaketnya lalu mengulurkannya ke arahku. Kubuka
kantong itu dan kulihat ada kue di dalamnya. Kue adalah kemewahan yang takkan pernah bisa kuperoleh.
"Terima kasih," kataku. Tukang roti itu sering kali lebih banyak diam, dan hari ini dia tampak kehabisan kata - kata. "Aku makan roti Anda tadi pagi. Temanku Sehun menukarnya dengan tupai pagi ini." Dia mengangguk, seakan mengingat-ingat tupainya. "Bukan pertukaran yang menguntungkan Anda," kataku. Lelaki itu mengangkat bahu seakan menganggapnya sebagai hal sepele.
Selanjutnya aku tidak bisa memikirkan topik pembicaraan lainnya, jadi kami duduk dalam keheningan sampai Penjaga Perdamaian memanggilnya. Dia bangkit dan batuk untuk melegakan pernapasannya. "Aku akan mengawasi gadis kecilmu. Memastikan dia bisa tetap kenyang."
Aku merasa beban yang mengimpit dadaku langsung terangkat mendengar perkataannya. Orang-orang biasanya berdagang denganku, tapi mereka dengan tulus menyukai Minyoung. Mungkin akan ada cukup rasa suka yang mengupayakan Minyoung tetap hidup.
Tamuku berikutnya juga diluar diguaan. Luhan berjalan langsung ke arahku. Dia tidak tampak cengeng atau menghindar, malahan ada ketergesaan dalam nada suaranya yang membuatku terkejut. "Mereka akan mengizinkanmu memakai satu barang dari distrikmu di dalam arena pertarungan. Satu benda yang mengingatkanmu pada rumah. Maukah kau memakai ini?" Dia mengulurkan pin emas bundar yang tersemat digaunnya tadi siang. Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi sekarang aku melihat lambang burung yang sedang terbang.
"Pin milikmu?" tanyaku. Memakai tanda mata dari distrikku nyaris tak terlintas dalam benakku.
"Sini kupakaikan digaunmu ya?" Luhan tidak menunggu jawabanku, dia langsung menyematkan pin burung itu di pakaianku. "Zi Tao, janji ya kau akan memakainya di arena?" tanya Luhan. "Janji?"
"Ya," kataku. Kue. Pin. Aku dapat banyak hadiah hari ini. Luhan memberiku hadiah lain. Ciuman di pipi. Kemudian dia pergi dan aku berpikir mungkin selama ini sebenarnya Luhan adalah sahabatku.
Akhirnya, Sehun datang. Mungkin memang tidak ada unsur romantis dalam hubungan kami, tapi saat dia merentangkan kedua lengannya, aku sama sekali tidak ragu untuk masuk kepelukannya. Tubuhnya terasa tidak asing lagi-caranya bergerak, aroma kayu yang terbakar, bahkan suara detak jantungnya yang kukenal dari momen - momen sunyi saat berburu-tapi ini pertama kalinya aku sungguh-sungguh merasakannya, otot yang kuat dan keras menempel pada tubuhku.
"Dengar," katanya. "Memperoleh pisau seharusnya urusan mudah, tapi kau harus bisa mendapat panah. Itu kemungkinan terbaikmu."
"Mereka tidak selalu punya panah," sahutku, dan aku teringat pada tahun ketika hanya ada tongkat berduri yang dimiliki para peserta untuk saling menghantam satu sama lain.
"Kalau begitu buat saja sendiri," tukas Sehun. "Bahkan busur yang lemah lebih baik dari pada tak memilikinya sama sekali."
Aku pernah mencoba meniru busur panah buatan ayahku tapi hasilnya jelek sekali. Ternyata tidak semudah itu. Bahkan ayahku kadang-kadang harus membuang busur buatannya sendiri.
"Aku juga tidak tahu apakah bakal ada kayu di sana nanti," kataku. Pada tahun yang lain, mereka melempar semua orang ke daerah yang hanya ada batu-batu besar, pasir dan semak-semak. Aku benci pertarungan tahun itu. Banyak peserta digigit ular berbisa atau jadi gila karena kehausan.
"Selalu ada kayu," kata Sehun. "Sejak tahun itu ketika setengah peserta mati karena kedinginan. Tidak banyak hiburan dari tayangan tahun itu."
Memang benar. Kami pernah menonton para peserta dalam Hunger Games kedinginan sampai mati pada malam hari. Kau nyaris tidak bisa melihat mereka karena mereka hanya berbaring menggelung dan tidak ada kayu untuk dibuat api atau obor atau apalah. Tahun itu dianggap tahun yang antiklimaks bagi Capitol, hanya melihat kematian-kematian yang tenang dan tanpa darah. Sejak saat itu, biasanya selalu tersedia kayu untuk membuat api. "Ya, biasanya memang ada," kataku.
"Zi Tao, ini hanya perburuan. Kau pemburu terbaik yang kukenal," kata Sehun.
"Ini bukan sekedar perburuan. Mereka bersenjata. Dan mereka bisa berpikir," jawabku.
"Kau juga. Dan kau lebih sering latihan. Latihan sungguhan," katanya. "Kau tahu bagaimana membunuh."
"Bukan membunuh manusia," kataku.
"Sesulit apa sih?" tanya Sehun muram.
Yang membuatku bergidik adalah jika aku bisa lupa bahwa mereka manusia, maka tidak ada bedanya sama sekali.
Para Penjaga Perdamaian datang lebih awal dan Sehun minta waktu lebih, tapi mereka menariknya pergi dan aku mulai panik. "Jangan biarkan mereka kelaparan!" Aku menjerit memegangi tangan Sehun.
"Tidak akan pernah! Kau tahu aku takkan membiarkannya. Zi Tao, ingat aku..." katanya. Kemudian mereka memisahkan kami dengan paksa lalu menutup pintu dan aku takkan pernah tahu apa yang ingin Sehun katakan agar bisa kuingat.
Perjalanan dari Gedung Pengadilan sampai stasiun kereta api cukup singkat. Aku tak pernah naik mobil. Naik kereta kuda pun jarang. Di Seam, kami biasanya berjalan kaki.
Tidak menangis adalah keputusan benar. Stasiun kereta api penuh dengan wartawan lengkap dengan kamera mereka yang seperti serangga pengganggu diarahkan padaku. Tapi aku sudah sering berlatih menghapus segala bentuk emosi agar tidak terpampang di wajahku dan aku melakukannya sekarang. Sekilas kulihat diriku di layar televisi di dinding yang menyiarkan kedatanganku secara langsung dan aku bersyukur bisa tampil dengan wajah bosan seperti itu.
Sebaliknya, Yi Fan jelas habis menangis dan yang menarik darinya adalah dia tidak berusaha menutupinya. Aku langsung berpikir apakah ini strateginya untuk Hunger Games kali ini. Dengan tampil lemah dan ketakutan, dia meyakinkan peserta-peserta lain bahwa dia bukanlah lawan yang patut di perhitungkan, baru kemudian dia muncul sebagai jagoan. Hal ini berhasil buat anak bernama Lee Chaerin dari Distrik 7 beberapa tahun lalu. Dia kelihatannya cuma anak pengecut dan cengeng tak di perdulikan oleh semua orang sampai ketika tinggal beberapa peserta yang tersisa. Ternyata anak perempuan itu bisa membunuh dengan keji. Caranya bermain sangat cerdik. Tapi ini tampaknya strategi yang aneh dari seorang Wu Yi Fan karena dia putra tukang roti. Selama bertahun-tahun dia mendapatkan
cukup makanan, lagi pula mengangkat nampan-nampan roti kesana kemari membuat bahunya kekar dan kuat. Dia harus menangis sampai tersedu-sedu tanpa henti untuk meyakinkan siapa pun agar mau menganggap enteng dirinya.
Kami harus berdiri di ambang pintu kereta selama beberapa menit sementara kamera televisi melahap wajah kami bulat - bulat, kemudian kami diizinkan masuk dan untunglah pintu segera menutup di belakang kami. Seketika kereta api pun bergerak.
Kecepatan kereta api ini membuatku tercengang. Tentu saja, aku tak pernah naik kereta, karena melakukan perjalanan antar distrik termasuk kegiatan terlarang kecuali untuk melaksanakan tugas – tugas yang diperintahkan negara. Bagi distrik kami, tugas ini terutama mengangkut batu-bara. Tapi ini bukan kereta batu bara biasa. Ini salah satu kereta milik Capitol yang berkecepatan tinggi, dengan kecepatan rata - rata 250 mil per jam. Perjalanan kami ke Capitol akan makan waktu kurang dari sehari.
Di sekolah, mereka memberitahu kami bahwa Capitol dibangun di tempat yang dulu dinamai Pegunungan Rocky. Distrik 12 adalah wilayah yang dikenal sebagai Appalachia. Bahkan ratusan tahun lampau, mereka menambang batu bara disini. Itulah sebabnya para penambang kami harus menggali sangat dalam.
Entah bagaimana pelajaran di sekolah selalu kembali ke batu bara. Selain buku bacaan dasar dan matematika kebanyakan pelajaran yang kami terima berhubungan dengan batu bara. Kecuali untuk kelas mingguan tentang sejarah Panem. Kebanyakan sih omong kosong tentang apa saja utang kami terhadap Capitol. Aku tahu pasti banyak yang tidak mereka beritahukan tentang kejadian yang sesungguhnya terjadi pada masa pemberontakan. Tapi aku tidak menghabiskan banyak waktu untuk memikirkannya. Apa pun kebenarannya, aku tidak melihat itu sebagai cara yang bisa membantuku mencari makan.
Kereta peserta ini lebih mewah dibanding ruangan di Gedung Pengadilan. Masing-masing orang diberi kamar sendiri lengkap dengan kamar tidur, ruang pakaian, dan kamar mandi pribadi dengan air keran yang bisa mengucurkan air dingin dan panas. Di rumah kami tidak punya air panas, kecuali kami memasaknya.
Ada laci-laci yang penuh berisi pakaian-pakaian bagus. Jessica memberitahuku agar melakukan apa yang ingin kulakukan, memakai pakaian apa pun yang kuinginkan, segalanya yang ada disini bisa ku pakai. Hanya saja kau harus siap untuk makan malam dalam waktu satu jam. Aku melepaskan gaun biru ibuku lalu mandi air hangat dari pancuran. Aku tak pernah mandi dengan air pancuran. Rasanya seperti di bawah siraman hujan, hanya saja lebih hangat. Aku memakai kemeja hijau tua dan celana panjang.
Pada saat terakhir, aku teringat pin emas Luhan. Untuk pertama kalinya aku benar - benar memperhatikan pin itu. Ada perhiasan kecil bergambar burung emas dengan lingkaran emas di sekelilingnya. Burung itu menempel dengan lingkaran hanya di bagian ujung sayapnya. Tiba-tiba aku mengenali burung ini. Burung Mockingjay.
Mereka jenis burung yang lucu dan menampar wajah Capitol. Selama masa pemberontakan, Capitol membiakkan serangkaian hewan rekayasa genetika sebagai senjata. Istilah umum bagi hewan-hewan itu adalah mutan, atau kadang-kadang disingkat dengan sebutan mutt. Salah satunya adalah burung istimewa disebut Jabberjay yang memiliki kemampuan untuk mengingat dan mengulang seluruh percakapan manusia. Mereka adalah burung yang bisa terbang pulang ke sarang, semuanya jantan, yang dilepaskan ke wilayah-wilayah yang dikenal sebagai tempat persembunyian musuh Capitol. Setelah burung-burung itu mengumpulkan kata-kata yang didengarnya, mereka terbang pulang ke markas untuk direkam. Butuh waktu beberapa saat bagi orang-orang untuk menyadari apa yang terjadi pada distrik – distrik tersebut, bagaimana percakapan-percakapan pribadi bisa sampai ke telinga Capitol. Tentu saja kemudian para pemberontak mengibuli Capitol dengan kebohongan - kebohongan besar dan mereka tertipu habis - habisan. Sehingga markas yang jadi sarang burung itu pun ditutup dan burung-burung itu dibiarkan begitu saja agar punah di alam liar.
Hanya saja mereka tidak pernah punah. Malahan, burung-burung Jabberjay itu kawin dengan Mockingbird betina menciptakan spesies baru yang bisa meniru siulan burung dan melodi manusia. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk mengulang kata-kata tapi masih bisa meniru suara manusia sampai tingkat tertentu, mulai dari suara merdu bernada tinggi milik anak-anak hingga suara berat orang dewasa. Dan burung-burung ini bisa menciptakan ulang lagu. Bukan hanya beberapa nadanya, tapi seluruh lagu dengan berbagai versi berbeda, jika kau punya kesabaran untuk menyanyikannya pada burung - burung itu dan jika mereka menyukai suaramu.
Ayahku sangat menyukai burung Mockingjay. Sewaktu kami berburu, biasanya Ayah akan bersiul atau menyanyikan lagu yang rumit pada mereka, dan setelah jeda yang sopan, burung - burung itu selalu balas bernyanyi. Tidak semua orang mendapat kehormatan semacam itu. Tapi setiap kali ayahku bernyanyi, semua burung di sana akan diam dan mendengarkan dengan saksama. Suaranya begitu indah, bernada tinggi dan jernih juga penuh dengan getar kehidupan sehingga membuat orang yang mendengarnya ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan. Aku tak pernah sanggup melanjutkan latihan nyanyiku setelah ayahku tewas. Namun, entah bagaimana burung-burung kecil itu memberikan semacam kenangan. Seakan-akan ada bagian dari ayahku yang bersamaku, melindungiku. Kupasang pin itu ke kemejaku, dan dengan kain berwarna hijau gelap sebagai latar belakang, aku nyaris bisa membayangkan burung Mockingjay terbang di antara pepohonan.
Jessica datang menjemputku untuk makan malam. Kuikuti langkahnya melewati koridor sempit dan bergoyang-goyang menuju ruang makan dengan dinding berpanel kayu yang dipelitur. Di sana terdapat meja dengan piring-piring yang mudah pecah. Yi Fan duduk menunggu kami, kursi di sampingnya kosong.
"Di mana Yoochun?" tanya Jessica dengan nada ceria.
"Terakhir kulihat dia, dia bilang mau tidur siang," sahut Yi Fan.
"Yah, ini memang hari yang melelahkan," kata Jessica. Tapi, menurutku dia tampak lega tanpa kehadiran Yoochun, dan aku tidak menyalahkannya.
Makan malam disajikan satu demi satu. Sup wortel kental, salad sayuran, daging domba dan kentang tumbuk, keju serta buah - buahan, dan kue cokelat. Sepanjang makan, Jessica mengingatkan kami untuk menyisakan ruang di perut karena masih ada lagi makanan yang akan disajikan. Tapi aku makan sebanyak - banyaknya karena aku tak pernah makan makanan seperti ini, begitu lezat dan begitu banyak, dan karena mungkin saja hal terbaik yang bisa kulakukan sampai saat pertarungan tiba adalah menambah bobotku beberapa kilogram.
"Paling tidak kalian berdua masih punya sopan santun," kata Jessica saat kami menghabiskan makanan utama. "Pasangan tahun lalu makan segalanya dengan tangan seperti orang-orang tak beradab. Aku sampai tidak nafsu makan melihatnya."
Pasangan tahun lalu adalah dua anak dari Seam yang tak pernah melewati satu hari pun dengan makan kenyang. Dan saat mereka melihat makanan, sopan santun di meja makan pasti sudah tak dipikirkan lagi. Yi Fan adalah anak tukang roti. Ibuku mengajari aku dan Minyoung untuk makan dengan benar, jadi ya, aku bisa menggunakan pisau dan garpu dengan baik. Tapi aku amat membenci komentar Jessica Jung itu sampai - sampai aku sengaja menghabiskan sisa makan malamku dengan menggunakan tangan. Lalu aku
mengelap kedua tanganku dengan taplak meja. Perbuatanku membuat bibirnya terkatup makin rapat.
Kini setelah selesai makan, aku berusaha keras untuk menjaga agar makananku tidak naik lagi. Aku melihat wajah Yi Fan juga agak pucat. Perut kami berdua tidak terbiasa dengan makanan-makanan lezat seperti tadi. Tapi jika aku bisa tahan makan sup dengan daging tikus, jeroan babi, dan kulit pohon terutama di musim dingin-aku bertekad untuk bisa menahan makananku agar tetap di lambung.
Kami menuju gerbong lain untuk menonton tayangan ulang pemungutan di seantero Panem. Mereka berusaha mengatur acara itu berlangsung sepanjang hari agar satu orang bisa menonton seluruh pemungutan secara langsung, tapi hanya orang - orang yang berada di Capitol yang bisa menonton seluruhnya, karena mereka tidak perlu menghadiri pemungutan.
Satu demi satu, kami melihat pemungutan di distrik lain, nama-nama yang disebutkan, para sukarelawan yang maju menggantikan, atau lebih seringnya lagi tak ada yang mau menjadi sukarelawan. Kami memperhatikan wajah-wajah mereka yang akan menjadi lawan-lawan kami. Ada beberapa yang sulit ku lupakan. Anak lelaki mengerikan yang berlari maju untuk menjadi sukarelawan dari Distrik 2. Gadis berwajah sinis dengan rambut coklat gelap dari Distrik 5. Anak laki-laki yang kakinya pincang dari Distrik 10. Dan yang paling menakutkan, gadis berusia dua belas tahun dari Distrik 11. Dia memiliki mata cokelat gelap, tapi selain itu ukuran tubuh dan tingkah polahnya mirip Minyoung. Hanya ketika dia naik ke panggung dan mereka bertanya apakah ada sukarelawan, yang bisa kudengar hanyalah embusan angin kencang di antara gedung-gedung kumuh di sekitarnya. Tak ada seorang pun yang mau menggantikan tempatnya.
Terakhir, mereka menampilkan Distrik 12. Nama Minyoung disebutkan, aku berlari maju untuk menjadi sukarelawan. Kau tidak bisa mendengar keputusasaan dalam suaraku saat mendorong Minyoung ke belakang tubuhku, seakan aku takut tak seorang pun mendengarku dan mereka akan membawa Minyoung pergi. Tapi tentu saja mereka mendengarnya. Aku melihat Sehun menarik Minyoung menjauh dariku dan melihat diriku naik ke panggung. Para komentator tidak tahu harus berkata apa ketika melihat kerumunan massa menolak tepuk tangan. Salam hormat tanpa suara. Salah satu komentator mengatakan Distrik 12 selalu ketinggalan zaman tapi kebiasaan masyarakat setempat itu bisa tampak menawan. Seakan mendapat aba - aba, Yoochuun jatuh di panggung dan mereka mengerang kocak. Nama Yi Fan ditarik, dan dengan tenang dia mengambil tempatnya. Kami berjabat tangan. Mereka sampai ke bagian lagu kebangsaan lagi, dan acara pun berakhir.
Jessica menggurutu tentang keadaan wignya. "Mentor kalian harus belajar banyak tentang penampilan. Juga banyak belajar tentang bagaimana bersikap saat disorot televisi."
Tanpa disangka Yi Fan tertawa. "Dia mabuk," katanya di akhir tawanya. "Dia mabuk setiap tahun."
"Setiap hari," tambahku. Aku tidak bisa tidak takut menyeringai. Cara Jessica mengatakannya seakan - akan Yoochun cuma bersikap kasar dan sikap lelaki itu bisa diperbaiki dengan beberapa tips darinya.
"Ya," desis Jessica. "Kalian anggap ini lucu ya. Kalian tahu mentor kalian adalah penyambung hidup kalian kepada dunia luar dalam Hunger Games ini. Orang yang memberi kalian saran, mencarikan sponsor, dan menentukan hadiah - hadiah apa yang diberikan. Yoochun bisa jadi orang yang menentukan hidup dan mati kalian!"
Tepat pada saat itu, Yoochun terhuyung - huyung masuk ke dalam gerbong. "Aku ketinggalan makan malam ya?" katanya dengan suara tidak jelas. Kemudian dia muntah di atas karpet mahal dan jatuh ke kotorannya sendiri.
"Silahkan tertawa!" kata Jessica. Dia melompat dalam sepatu berhak lancipnya mengitari kubangan muntahan dan meninggalkan ruangan.
.
.
Selama beberapa saat, aku dan Yi Fan memandangi pembimbing kami yang berusaha bangun dari cairan lengket menjijikan yang menempel di perutnya. Bau muntah dan minuman keras yang tengik nyaris membuat makan malamku naik ke kerongkongan. Kami bertukar pandang. Jelas Yoochun tidak bisa diandalkan, tapi Jessica Jung itu benar tentang satu hal, setelah kami memasuki arena pertarungan hanya dia yang kami miliki. Seakan ada persetujuan bersama yang tak terucap, aku dan Peeta masing - masing memegangi lengan Yoochun dan membantunya berdiri.
"Aku kepeleset ya?" tanya Yoochun. "Baunya nggak enak," Yoochun menyeka tangannya ke hidung, mencoreng wajahnya dengan muntahan.
"Ayo ke kamar," kata Yi Fan. "Kita bersihkan tubuhmu."
Kami setengah membopong setengah menyeret Yoochun kembali ke gerbongnya. Karena kami tidak bisa menaruhnya di atas seprai berbordir cantik, kami menariknya ke bathtub dan menyalakan pancuran menyiraminya. Yoochun hampir tidak menyadarinya.
"Sudah, tinggalkan saja," kata Yi Fan padaku. "Biar kuurus dia."
Aku bersyukur karena aku enggan menelanjangi Haymitch, membasuh muntahan dari bulu dadanya, dan membaringkannya di ranjang. Mungkin saja Yi Fan sedang berusaha menjadi favoritnya saat Hunger Games dimulai. Tapi melihat keadaan Yoochun saat ini, dia takkan punya ingatan tentang hal ini besok.
"Baiklah," sahutku. "Aku bisa memanggil orang dari Capitol untuk membantumu.", Ada beberapa orang dari Capitol di kereta ini. Memasak untuk kami. Melayani kami. Mengawal kami. Menjaga kami adalah tugas mereka.
"Tidak. Aku tidak mau dibantu mereka," tukas Yi Fan.
Aku mengangguk dan berjalan menuju kamarku sendiri. Aku mengerti bagaimana perasaan Yi Fan. Aku sendiri tidak tahan melihat orang-orang dari Capitol. Tapi membuat mereka mengurus Yoochun mungkin bisa jadi semacam balas dendam. Aku jadi memikirkan alasan kenapa dia berkeras mengurus Yoochun seorang diri dan mendadak aku berpikir, Itu karena dia memang baik. Perbuatan baik yang sama seperti ketika dia memberiku roti.
Pemikiran itu membuatku terenyak. Wu Yi Fan yang jahat. Orang baik memliki cara untuk menyelinap masuk dalam diriku dan membusuk di sana. Dan aku tidak bisa membiarkan Yi Fan melakukan ini. Mengingat tempat seperti apa yang kami tuju. Jadi mulai sekarang aku memutuskan untuk tidak terlalu sering berhubungan dengan anak tukang roti ini.
Saat aku kembali ke kamarku, kereta berhenti di peron untuk menambah bahan bakar. Buru-buru aku membuka jendela dan melempar biskuit yang diberikan ayah Yi Fan keluar kereta, langsung menutup jendela itu. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi hubungan dengan mereka. Sayangnya, kemasan biskuit jatuh menghantam tanah dan pecah terbuka sehingga isinya tersebar membentuk rupa bunga dandelion. Aku hanya melihatnya sesaat, karena kereta bergerak lagi, tapi sesaat itu sudah cukup. Cukup untuk mengingatkanku pada dandelion lain yang kulihat dibelakang halaman sekolah beberapa tahun lalu...
Aku baru saja memalingkan wajahku dari wajah Yi Fan yang lebam ketika melihat dandelion
tersebut dan aku tahu harapanku belum musnah total. Kupetik bunga itu dengan hati-hati dan bergegas pulang. Aku mengambil ember dan menarik tangan MInyoung lalu berjalan menuju Padang Rumput dan ya, di sana penuh dengan titik-titik rumpun berwarna keemasan. Setelah kami memanen bunga-bungaan itu, mencari-cari di sekitar bagian dalam pagar sampai sejauh satu mil hingga ember kami penuh dengan dedaunan, tangkai, dan bunga-bunga dandelion. Malam itu, kami puas melahap salad dandelion dan sisa roti dari toko roti.
"Apa lagi?" Minyoung bertanya padaku. "Makanan apa lagi yang bisa kita temukan?"
"Segala macam makanan." Aku berjanji padanya. "Aku hanya perlu mengingat apa saja yang bisa dicari."
Ibuku memiliki buku yang dibawanya dari toko obat. Halaman-halamannya terbuat dari perkamen tua dan penuh dengan coretan-coretan tinta bergambar tumbuh-tumbuhan. Tulisan tangan yang ditulis dengan huruf balok menjelaskan nama tumbuhan itu, di mana mencarinya, kapan tumbuhan itu berbunga, dan apa saja kegunaan medisnya. Tapi ayahku menambahkan entri-entri lain dalam buku itu. Tumbuhan-tumbuhan yang bisa dimakan, bukan untuk pengobatan. Dandelion, pokeweed, bawang liar, cemara. Aku dan Minyoung menghabiskan sisa makan malam itu dengan membaca isi buku tersebut dengan tekun.
Keesokan harinya, kami bolos sekolah. Selama beberapa saat aku hanya berkeliaran di sekitar ujung Padang Rumput, tapi akhirnya aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk melewati bagian bawah pagar. Untuk pertama kalinya aku berada di sana sendirian, tanpa senjata ayahku yang bisa jadi pelindung. Tapi aku bisa mengambil busur kecil dan panah yang dibuatkan Ayah untukku dari pohon berongga. Mungkin aku tidak masuk ke hutan lebih dari dua puluh meter hari itu. Aku menghabiskan lebih banyak waktu di atas dahan pohon oak tua, berharap buruanku lewat. Setelah beberapa jam, aku beruntung bisa membunuh kelinci. Sebelumnya, aku pernah memanah kelinci dari arahan ayahku. Tapi kali ini aku melakukannya sendiri.
Sudah berbulan-bulan kami tidak makan daging. Melihat kelinci tampaknya memunculkan sesuatu dalam diri ibuku. Dia bangkit berdiri, menguliti bangkai kelinci itu, dan membuat rebusan daging yang di campur dengan daun-daunan yang berhasil di kumpulkan Prim. Kemudian dia bertingkah bingung lagi dan kembali ke tempat tidur, tapi ketika rebusan daging itu matang, kami memaksanya makan semangkuk.
Hutan menjadi penyelamat kami, dan makin hari aku masuk makin dalam ke hutan. Mulanya perlahan, tapi aku bertekad untuk memberi makan kami sekeluarga. Aku mencuri telur dari sarang burung, menangkap ikan dengan jala, dan kadang-kadang berhasil memanah tupai atau kelinci untuk dibuat rebusan daging, dan mengumpulkan berbagai tumbuhan yang mekar di bawah kakiku. Mengumpulkan tumbuhan lebih rumit. Banyak tumbuhan yang bisa dimakan, tapi sekali salah makan kau bisa tewas seketika. Aku berkali-kali memeriksa tumbuh-tumbuhan yang berhasil kukumpulkan dengan membandingkannya dengan gambar-gambar yang dibuat ayahku. Aku menjaga kami sekeluarga tetap hidup.
Awalnya, bila merasakan ada tanda bahaya, lolongan di kejauhan, dahan patah tiba-tiba, aku pasti langsung melesat lari ke pagar. Kemudian aku mulai berani memanjat pohon-pohon agar bisa kabur dari kejaran anjing-anjing liar yang biasanya cepat bosan lalu pergi. Beruang dan macan hidup jauh didalam hutan, mungkin mereka tidak menyukai bau jelaga dari distrik kami.
Pada tanggal 8 Mei aku pergi ke Gedung Pengadilan, mendaftar untuk jatah tessera, membawa pulang gandum dan minyak pertamaku yang jumlahnya tak seberapa dalam gerobak mainan Prim. Pada tanggal delapan setiap bulan, aku berhak mengambil jatahku. Tentu saja, aku tidak bisa berhenti berburu dan mengumpulkan makanan. Gandum yang kami terima tidak cukup untuk kebutuhan hidup, dan masih banyak barang yang harus dibeli, seperti sabun, susu, dan benang. Makanan-makanan yang tak perlu kami makan, mulai kutukar di Hob. Rasanya mengerikan masuk ketempat itu tanpa didampingi ayahku, tapi orang-orang di sana menghormatinya, dan mereka menerimaku. Hasil buruan tetaplah hasil buruan, tidak peduli siapa yang membunuhnya. Aku juga menjual hasil buruanku lewat pintu belakang rumah orang-orang kaya di kota, berusaha mengingat-ingat apa yang pernah diberitahu ayahku sambil belajar trik-trik baru. Tukang daging mau membeli kelinci tapi tidak mau tupai. Tukang roti menyukai tupai tapi hanya mau menukarnya dengan roti jika tidak ada istrinya. Pemimpin Penjaga Perdamaian suka kalkun liar. Sang wali kota menyenangi stroberi.
Pada akhir musim panas, aku sedang mandi di kolam ketika aku memperhatikan tumbuh-tumbuhan mulai tumbuh di sekelilingku. Tumbuhan jenis rimpang dengan dedaunan yang lancip. Bunga-bunganya bermekaran dengan tiga kelopak putih. Aku berlutut di dalam air, jemariku menggali lumpur lembut, dan menarik akar umbi-umbian dari sana. Umbi kecil berwarna kebiru-biruan dengan tampilan tidak menarik tapi bila direbus atau dipanggang rasanya selezat kentang. "Umbi katniss," bisikku pelan. Ini jenis tanaman yang menjadi asal-usul namaku. Dan bisa kudengar canda ayahku yang berkata, "Selama kau bisa menemukan dirimu, kau takkan pernah kelaparan." Selama berjam-jam aku mengaduk tepi-tepi kolam dengan ujung jari-jari kakiku dan tongkat kayu, lalu mengumpulkan umbi yang terangkat ke permukaan. Malam itu, kami berpesta ikan dan umbi katniss sampai kami merasa kenyang, perasaan yang akhirnya bisa kami rasakan setelah berbulan-bulan.
Pelan-pelan, ibuku kembali pada kami. Dia mulai membersihkan, memasak, dan mengawetkan sebagian makanan yang kubawa pulang untuk persediaan musim dingin. Orang-orang melakukan barter atau membayar kami dengan uang untuk ramuan ibuku. Suatu hari, kudengar ibuku bernyanyi.
Minyoung gembira ibuku kembali, tapi tetap mengawasi ibuku, menunggunya menghilang dari kami lagi. Aku tidak mempercayainya. Dan sisi beringas dalam diriku membencinya karena sikap lemah ibuku, karena melalaikan kami, selama berbulan-bulan yang harus kami lalui. Minyoung memaafkannya, tapi aku mengambil langkah mundur dari ibuku, membangun dinding untuk melindungi diriku agar tidak membutuhkannya, dan keadaan di antara kami tak pernah sama lagi. Kini aku akan mati tanpa punya kesempatan memperbaiki keadaan itu. Aku teringat bagaimana aku membentak ibuku tadi siang di Gedung Pengadilan. Tapi aku juga bilang aku sayang padanya. Jadi mungkin kata-kata itu bisa jadi penyeimbang. Selama beberapa saat aku berdiri memandang ke luar jendela kereta, berharap aku bisa membuka jendela lagi, tapi aku tidak yakin dengan kemungkinan yg bisa terjadi jika aku membuka jendela ketika kereta bergerak secepat ini. Di kejauhan, aku melihat cahaya dari distrik-distrik lain. Distrik 10? Aku tidak tahu. Aku memikirkan orang-orang yang berada di dalam rumah mereka, bersiap-siap tidur. Aku membayangkan rumahku, dengan jendela yang ditutup rapat. Apa yang sedang dilakukan Minyoung dan
ibuku sekarang? Apakah mereka sanggup makan malam? Menu malam ini adalah ikan kukus dan stroberi. Ataukah mereka membiarkan makanan itu tak tersentuh di piring? Apakah mereka menonton tayangan ulang rangkuman acara hari ini di TV tua yang ditaruh di atas meja menempel pada dinding? Tentu akan ada air mata lagi. Apakah ibuku bisa tetap bertahan, tetap kuat demi Minyoung? Atau apakah dia mulai menghilang lagi? Menempatkan beban dunia pada bahu adikku yang rapuh?
Aku yakin Minyoung akan tidur dengam ibuku malam ini. Membayangkan Buttercup yang budukan itu memposisikan dirinya di ranjang untuk mengawasi Minyoung membuatku tenang. Jika Minyoung menangis, binatang itu akan berjalan ke pelukan adikku dan bergelung di sana sampai Minyoung tenang dan tertidur lagi. Aku lega tidak menenggelamkan kucing itu dulu.
Membayangkan rumah membuat hatiku perih dengan rasa kesepian. Hari ini seakan tak pernah berakhir. Apa benar aku dan Sehun baru tadi pagi makan blackberry? Rasanya seperti kejadian yang terjadi dalam kehidupan yang lampau. Seperti mimpi yang panjang berubah menjadi mimpi buruk. Mungkin jika aku tidur, aku akan terbangun di Distrik 12, tempatku seharusnya berada.
Mungkin di laci-laci kamar ini terdapat banyak gaun tidur, tapi aku hanya melepaskan kemeja dan celana panjangku lalu naik ke ranjang hanya dengan pakaian dalam. Seprainya terbuat dari bahan yang halus seperti sutra. Selimut tebal dan empuk langsung memberikan kehangatan.
Jika aku ingin menangis, sekaranglah saat untuk melakukannya. Besok pagi, aku bisa membasuh bekas – bekas air mata dari wajahku. Tapi tidak ada air mata yang keluar. Aku terlalu lelah atau kebas untuk menangis. Satu - satunya hak yang kudambakan adalah berada di tempat lain. Jadi kubiarkan kereta ini membuaiku hingga terlena.
Cahaya kelabu membias di antara tirai ketika suara ketukan membangunkanlu. Kudengar suara Jessica, menyuruhku bangun. "Bangun, bangun, bangun! Hari ini hari besaaaaaar!" Sesaat aku membayangkan seperti apa rasanya berada dalam kepala wanita itu. Apa isi pikirannya saat dia terjaga? Mimpi apa yang menyambanginya pada malam hari? Aku sama sekali tidak tahu.
Kupakai baju hijau yang sudah kupakai sebelumnya karena bajunya masih bersih, hanya sedikit kusut karena semalaman teronggok di lantai. Jemariku menelusuri lingkaran di sekelilimg hiasan mockingjay emas dan aku teringat pada hutan, dan ayahku, saat Minyoung dan ibuku terbangun, dan segera bergegas dengan kesibukan.
Aku tertidur dengan rambut masih dikepang, hasil kepangan ibuku untuk Hari Pemungutan, dan bentuknya tidak terlalu berantakan, jadi kubiarkan saja rambutku masih terkepang. Tidak masalah. Capitol pasti tidak jauh lagi. Dan setelah kami tiba di kota, penata busanaku pasti akan mengatur penampilanku. Kuharap aku tidak mendapat penata gaya yang beranggapan bahwa telanjang adalah tren busana terbaru.
Ketika aku memasuki ruang makan, Jessica berjalan melewatiku dengan membawa secangkir kopi pahit. Dia menggerutu pelan dosis kecabulan. Yoochun, yang dengan wajah bengkak dan merah karena kejadian kemarin, tampak tergelak. Yi Fan memegang roti dan tampak malu.
"Duduk! Duduk!" seru Yoochun, melambaikan tangan padaku agar mendekat. Saat aku duduk di kursiku, piring-piring berisi makanan melimpah langsung tersaji dihadapanku. Telur, daging, tumpukan kentang goreng. Semangkuk besar buah-buahan yang ditaruh di atas es agar tegap dingin. Seranjang roti yang ditaruh di depanku bisa memberi makan keluargaku selama seminggu. Ada segelas jus jeruk, pada Tahun Baru ketika ayahku membelikan kami sebuah jeruk sebagai hadiah istimewa. Secangkir kopi. Ibuku amat menyukai kopi, yang nyaris tak sanggup kami beli, tapi rasa kopi di lidahku hanya pahit dan encer. Dan ada secangkir entah apa berisi cairan cokelat yang tak pernah kulihat.
"Ini namanya cokelat panas," kata Yi Fan. "Rasanya enak."
Aku meminum seteguk cairan panas, manis, kental itu dan langsung bergidik. Meskipun makanan lain memanggilku untuk mencicipinya, aku mengabaikan panggilan itu hingga aku menghabiskan cokelatku. Lalu aku memasukkan semua makanan yang bisa kutelan ke mulutku, banyak-banyak. Tapi berlemak. Pernah ibuku bilang padaku bahwa aku selalu makan seolah-olah aku ketakutan tak bisa melihat makanan lagi. Dan kujawab "Ya, betul, kecuali aku pulang membawa makanan." Ibuku langsung terdiam.
Ketika perutku rasanya nyaris pecah, aku duduk bersandar dan memperhatikan rekan-rekan sarapanku. Yi Fan masih makan, memecah rotinya dan mencelupkannya ke dalam cokelat panas. Yoochun tampak tidak peduli pada makanan di piringnya, tapi dia menenggak segelas jus berwarna merah yang ditambahkan cairan bening dari botol. Dari bau yang tercium, pasti cairan itu semacam minuman keras.
Aku tidak kenal Yoochun, tapi aku sering melihatnya di Hob, melemparkan segepok uang ke meja kepada wanita yang menjual cairan bening. Dia pasti bakal teler berat pada saat kami tiba di Capitol. Aku sadar bahwa aku membenci Yoochun. Tidak heran para peserta dari Distrik 12 tak pernah punya kesempatan menang. Bukan karena kami kurang makan dan kurang latihan. Beberapa peserta dari distrik kami cukup kuat untuk menghadapi pertarungan. Tapi kami jarang mendapat sponsor dan Yoochun-lah alasan utama kenapa kami tidak memperolehnya. Orang - orang kaya yang mendukung peserta - entah karena mereka bertaruh atas diri sang peserta atau hanya demi bisa pamer bisa memilih pemenang yang tepat-mengharapkan orang yang lebih elegan dibanding Yoochun untuk diajak bekerjan sama.
"Kau seharusnya memberi kami nasihat," kataku pada Yoochun.
"Ini nasihat untukmu. Usahakan tetap hidup," sahut Yoochun kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Aku bertukar pandang dengan Yi Fan sebelum aku sadar aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Aku kaget melihat ketegasan di matanya. Biasanya Yi Fan tampak begitu lembut.
"Lucu sekali," kata Yi Fan. Mendadak Yi Fan menepis keras gelas di tangan Yoochun. Gelas itu pecah berantakan di lantai, membuat cairan berwarna merah darah itu mengalir hingga ke bagian belakang kereta. "Tapi buat kami tidak lucu."
Yoochun berpikir sejenak, kemudian meninju rahang Yi Fan, hingga membuatnya terjatuh dari kursi. Ketika dia mengulurkan tangan untuk mengambil minuman kerasnya, aku menusukkan pisau ke meja, ke antara tangan dan botol minumannya, nyaris mengenai jemari Yoochun. Kusiapkan diri untuk mengelak hantaman Yoochun, tapi dia tidak membalas. Malahan dia duduk bersandar dan menyipitkan mata memandang kami.
"Hm, ada apa rupanya?" tanya Yoochun. "Apakah aku mendapatkan petarung sejati tahun ini?"
Peeta bangkit dari lantai dan meraup es dari bawah mangkuk buah, kemudian menempelkan es itu ke bagian memar di rahangnya.
"Jangan," sergah Yoochun menghentikan pergerakan Yi Fan. "Biarkan memar itu kelihatan. Penonton akan mengira kau sudah bertarung dengan peserta lain sebelum sampai ke arena pertarungan."
"Tapi itu melanggar peraturan," jawab Yi Fan.
"Hanya jika mereka menangkapmu. Memar itu menunjukkan kau berkelahi, tapi kau tidak tertangkap, itu lebih baik lagi." kata Yoochun. Dia berpaling memandangku. "Bisakah kau menggunakan pisau itu selain untuk menusuk meja?"
Busur dan panah adalah senjataku. Tapi aku juga sering menghabiskan waktu dengan melemparkan pisau. Kadang-kadang, aku melukai binatang dengan pisau ketubuh binatang itu sebelum aku mendekatinya. Aku sadar jika aku ingin menarik perhatian Yoochun, sekaranglah saatnya. Kutarik pisau dari meja, kupegang erat gagangnya, lalu kulempar ke dinding di seberang ruangan. Sebenarnya aku cuma berharap pisau itu bisa tertancap kuat di dinding, tapi pisau itu tersangkut di ruang sempit di antara dua papan, membuatku tampak lebih jago.
"Berdiri disini. Kalian berdua," kata Yoochun, mengangguk ke bagian tengah ruangan. Kami
mematuhinya dan dia berjalan mengitari kami, mengamati kami seperti yang kadang-kadang dilakukan binatang, memperhatikan otot-otot kami, mengamati wajah kami. "Hm, kalian tidak seluruhnya tanpa harapan. Tampak kuat. Dan setelah penata busana mendandani kalian, kalian pasti akan kelihatan menarik."
Aku dan Yi Fan tidak mempertanyakan hal ini. Hunger Games bukanlah kontes kecantikan, tapi peserta yang kelihatan paling tampan atau cantik selalu bisa menarik lebih banyak sponsor.
"Baiklah, aku akan membuat perjanjian dengan kalian. Kalian jangan menggangguku kalau aku ingin minum dan aku akan menjaga diri supaya tegap sadar untuk membantu kalian," kata Yoochun. "Tapi kau harus melakukan apa yang kuperintahkan."
Perjanjian ini memang tidak terlalu menguntungkan tapi bila mengingat sepuluh menit yang lalu, ini jauh lebih baik daripada tidak ada petunjuk sama sekali.
"Baik," sahut Yi Fan.
"Jadi bantulah kami," kataku. "Ketika kami sampai ke arena, apa strategi terbaik di Cornucopia untuk orang yang..."
"Satu-satu dulu. Beberapa menit lagi kita akan tiba di stasiun. Kau akan berada di tangan penata busana. Kau takkan menyukai apa yang akan mereka lakukan padamu. Tapi apapun yang terjadi jangan melawan," kata Yoochun
.
"Tapi..." aku hendak protes.
"Tidak ada tapi. Jangan melawan," ujar Yoochun, dia mengambil botol minuman keras dari meja dan meninggalkan ruang makan. Ketika pintu menutup dibelakanya, ruang makan berubah gelap. Masih ada sedikit cahaya di dalam, tapi di luar seakan - akan malam kembali menelan bumi. Kami pasti berada dalam terowongan yang menembus pegunungan memasuki Capitol. Pegunungan membentuk penghalang alami antara Capitol dan distrik-distrik sebelah timur. Nyaris tidak mungkin memasuki Capitol dari arah timur selain melewati terowongan. Keuntungan geografis ini adalah faktor utama penyebab kekalahan distrik-distrik ini dalam perang yang membuatku sekarang jadi peserta pertarungan hari ini. Karena para pemberontak harus memanjat pegunungan, mereka jadi sasaran mudah bagi angkatan udara Capitol.
Aku dan Yi Fan berdiri tanpa bicara ketika kereta api melaju cepat. Terowongan itu seakan tanpa akhir dan aku memikirkan berton - ton batu memisahkan diriku dengan langit, dadaku langsung terasa sakit membayangkannya. Aku benci terperangkap dalam batu seperti ini. Aku jadi teringat pada tambang dan ayahku, terjebak, tidak bisa menemukan cahaya matahari, terkubur selamanya dalam kegelapan.
Kereta akhirnya mulai melambat dan mendadak cahaya terang membanjiri ruangan. Kami tidak bisa menahan diri. Aku dan Yi Fan langsung berlari ke jendela untuk melihat apa yang biasanya cuma kami lihat di televisi, Capitol kota yang mengendalikan negara Panem. Kamera tidak menipu saat menggambarkan kemegahannya. Jika pun ada yang tidak tertangkap kamera adalah betapa besarnya gedung - gedung berkilau dengan warna-warna pelangi yang menjulang ke angkasa, mobil - mobil mengilat yang hilir - mudik di jalan - jalan lebar beraspal, orang - orang berpakaian asing dengan tata rambut aneh dan wajah - wajah yang dilukis yang tampaknya tidak pernah kekurangan makan. Semua warnanya tampak palsu, warna pinknya terlalu pink, warna hijaunya terlalu terang, warna kuningnya menyakitkan mata, seperti warna permen lolipop yang tak pernah sanggup kami beli di toko kecil di Distrik 12.
Orang-orang mulai menunjuk ke arah kami dengan penuh semangat ketika mereka mengenali kereta peserta Hunger Games memasuki kota. Aku melangkah mundur menjauhi kereta, muak melihat antusiasme mereka, tahu bahwa mereka tidak sabar lagi menonton kami mati. Tapi Yi Fan tetap bertahan, dia bahkan melambai dan tersenyum pada kerumunan orang. Dia baru berhenti melambai dan tersenyum ketika kereta memasuki stasiun, dan membuat kami terhalang dari pandangan.
Dia melihatku sedang memelototinya dan mengangkat bahu. "Siapa yang tahu?" katanya. "Salah seorang dari mereka mungkin orang kaya."
Aku telah salah menilainya. Aku memikirkan segala tindakannya sejak pemungutan. Caranya menggenggam tanganku. Ayahnya datang membawa kue dan berjanji untuk memberi makan Minyoung... apakah Yi Fan yang menyuruhnya? Air matanya di stasiun kereta. Mengajukan diri untuk memandikan Yooochun tapi kemudian menantang lelaki itu pagi ini ketika pendekatan baik-baik tampaknya gagal. Dan sekarang dia melambai di jendela, berusaha mengambil hati penonton.
Semua potongan itu kini berusaha kusatukan, tapi kurasakan Yi Fan tengah sedang menyusun rencana. Dia tidak menerima kematiannya. Dia sedang berusaha keras untuk tetap hidup. Dan itu berarti Wu Yi Fan yang baik hati, yang memberiku roti, sedang berusaha keras untuk membunuhku.
.
.
BRETTTTT!
Aku merapatkan gigi ketika Krystal, wanita dengan rambut biru cerah dan tato emas di atas alisnya, menarik lembaran kain dari kakiku dan mencabut bulu yang menempel di sana. "Maaf!" katanya dengan suara melengking tolol khas logat Capitol. "Kau banyak bulunya sih!"
Kenapa orang-orang di sini bicara dengan nada melengking tinggi seperti ini? Kenapa mulut mereka nyaris tidak terbuka saat bicara? Kenapa mereka mengakhiri kalimat dengan nada yang naik seakan - akan mereka mengajukan kalimat pertanyaan? Huruf vokal yang aneh, kata - kata yang terpotong dan huruf s yang diiringi desisan... tidak heran jika orang - orang tidak tahan untuk tidak menirukannya.
Krystal memperlihatkan wajah yang seharusnya menunjukkan rasa simpatinya. "Tapi kabar baiknya, ini yang terakhir. Siap?" Kupegang erat-erat kedua ujung meja dekat tempatku duduk dan mengangguk. Sapuan terakhir langsung mencabut bulu kakiku dalam sekali sentakan yang menyakitkan.
Aku sudah berada di Pusat Tata Ulang selama lebih dari tiga jam tapi aku belum bertemu penata gayaku. Jelas dia tidak minat menemuiku hingga Krystal dan anggota tim persiapan lain membereskan sejumlah masalah yang kelihatan jelas. Kegiatan persiapan ini antara lain menggosok tubuhku dengan sabun berpasir yang tidak hanya mengangkat kotoran tapi juga mengangkat tiga lapisan kulitku, membentuk kuku ku dalam bentuk yang seragam, dan yang terutama, mencabuti bulu-bulu dari tubuhku. Kedua kaki, lengan, dada, ketiak, dan beberapa bagian dari alisku, membuatku seperti ayam yang dibului, siap dipanggang. Aku tidak menyukainya. Kulitku rasanya ngilu, nyeri, dan mudah terluka. Tapi aku memegang janjiku pada Yoochun tak ada keluhan sedikitpun keluar dari mulutku.
"Kau anak yang oke," kata seorang lelaki bernama Key. Dia menggoyang-goyangkan rambut ikalnya yang berwarna oranye dan memulaskan lipstik berwarna ungu ke bibirnya. "Kami paling tidak tahan pada anak yang suka mengeluh. Minyaki dia!"
Krystal dan Luna, wanita bertubuh mungil yang seluruh tubuhnya disepuh dengan warna hijau kacang polong, menggosok tubuhku dengan losion yang mulanya terasa menyengat tapi kemudian menyejukkan kulitku yang pedih. Kemudian mereka menarikku turun dari meja, melepaskan jubah tipis yang kupakai dan kulepas berkali-kali. Aku berdiri telanjang sementara mereka bertiga mengelilingiku, memegang penjepit untuk mencabuti buluku yang tersisa. Aku tahu aku seharusnya malu, tapi rupa mereka tidak mirip manusia membuatku tidak bisa merasa risi, seolah-olah aku berdiri di depan tiga ekor burung eksentrik yang berwarna aneh dan sedang mematuk makanan di dekat kakiku.
Mereka bertiga mundur dan mengagumi hasil karya mereka. "Bagus sekali! Kau hampir kelihatan seperti manusia sekarang!" kata Key, lalu mereka pun tertawa.
Kupaksakan bibirku membentuk senyuman untuk menunjukkan aku berterima kasih pada mereka. "Terima kasih," ujarku dengan manis. "Kami tidak punya banyak alasan untuk tampil cantik di Distrik Dua Belas."
Ucapanku langsung mengambil hati mereka. "Tentu saja tidak, betapa malangnya dirimu!" seru Luna menepukkan tangan risau atas kemalanganku.
"Tapi jangan kuatir," kata Krystal. "Pada saat Hangeng selesai denganmu, kau pasti akan tampak memesona!"
"Kami janji! Kau tahu, setelah kita membuang bulu dan kotoran dari tubuhmu, kau ternyata tidak jelek!" kata Key memberi semangat. "Ayo kita panggil Hangeng!"
Mereka melesat keluar ruangan. Sulit bagiku untuk membenci tim persiapanku. Mereka semua idiot kelas berat. Namun, dengan cara yang aneh, aku tahu mereka tulus membantuku.
Kupandangi dinding-dinding dan lantai berwarna putih dingin dan menahan dorongan hati untuk mengambil jubahku. Tapi Hangeng, penata gayaku, pasti akan menyuruhku melepaskannya. Tanganku bergerak memegangi rambut, satu-satunya bagian yang tidak disentuh tim persiapanku. Jemariku mengelus hasil kepangan ibuku yang amat rapi. Ibuku. Kutinggalkan gaun biru milik ibuku dan sepatu di lantai kamarku di dalam kereta api, tak pernah berpikir untuk mengambilnya, dan berusaha memegang sesuatu yang mengingatkan aku pada ibuku, dan rumah. Kini aku berharap aku mengambil gaun itu tadi.
Pintu terbuka dan lelaki muda yang pastinya bernama Hangeng itu masuk. Aku terpana melihat betapa normalnya penampilan lelaki itu. Kebanyakan penata gaya yang diwawancara di televisi biasanya tampil penuh warna, riasan, dan dipermak dengan operasi sampai bentuknya mengerikan. Tapi rambut Hangeng yang dipotong pendek cepak tampak berwarna cokelat alami. Dia mengenakan kaus hitam sederhana dan celana panjang. Satu-satunya tampilan yang ditambahkan tampaknya cuma eyeliner berwarna emas metalik yang dipulas dengan halus. Warna itu menonjolkan titik emas yang ada dalam mata hijaunya.
Meskipun aku jijik dengan Capitol dan cara mereka berpakaian, aku tidak bisa menganggap betapa menariknya lelaki ini.
"Halo, Zi Tao. Aku Hangeng, penata gayamu." kata Hangeng berbicara dengan suara pelan, tanpa aksen Capitol yang terdengar dibuat-buat.
"Halo," jawabku hati-hati.
"Beri aku waktu sebentar, ya?" pintanya. Dia berjalanan mengelilingi tubuh telanjangku, tidak menyentuhku, tapi menyerap pemandangan setiap jengkal tubuhku dengan matanya. Aku menahan dorongan hati untuk menyilangkan tangan menutupi dada. "Siapa yang menata rambutmu?"
"Ibuku," jawabku.
"Indah. Klasik menurutku. Nyaris sempurna dengan raut wajahmu. Ibumu punya tangan yang cermat," kata Hangeng.
Ku kira aku akan didatangi seorang yang flamboyan, seseorang yang lebih tua yang mati-matian berusaha kelihatan muda, seorang yang melihatku sebagai sepotong daging yang siap disajikan. Hangeng sama sekali di luar perkiraanku.
"Kau baru ya? Rasanya aku tidak pernah melihatmu," kataku. Kebanyakan penata gaya tidak asing lagi, mereka yang mendampingi peserta yang berbeda setiap tahun biasanya itu-itu saja. Sepanjang ingatanku, malah ada yang selalu ada setiap tahun.
"Ya, ini tahun pertamaku di acara ini," sahut Hangeng.
"Jadi mereka sengaja memberimu Distrik Dua Belas?" tanyaku. Orang baru biasanya berakhir dengan kami, distrik yang paling tidak diinginkan.
"Aku meminta Distrik Dua Belas," kata Hangeng tanpa menjelaskan lebih lanjut. "Pakai dulu jubahmu lalu kita ngobrol."
Sehabis memakai jubah, ku ikuti Hangeng melewati pintu menuju ruang duduk. Dua sofa berwarna merah berhadapan disela meja rendah. Tiga bagian dindingnya kosong, dinding keempat sepenuhnya dari kaca, memberikan jendela pemandangan ke kota. Melihat cahaya di luar sana pasti sekarang sudah tengah hari, meskipun matahari berselimutan awan. Hangeng menyuruhku duduk di salah satu sofa dan dia duduk di seberangku. Dia menekan tombol yang berada di samping meja. Bagian atas meja itu terbuka dan dari bawah muncul meja kedua yang menyajikan makan siang kami. Ayam dengan potongan-potongan jeruk yang dimasak dengan saus krim ditaruh di atas roti tawar seputih mutiara, kacang polong hijau dan bawang bombay, roti manis yang dibentuk seperti bunga dan sebagai makanan penutup puding berwarna madu.
Aku berusaha membayangkan menyusun makanan seperti ini untukku di kampung halaman. Ayam terlalu mahal, tapi aku bisa menggantinya dengan kalkun liar. Aku harus menangkap kalkun kedua untuk ditukar dengan jeruk. Susu kambing bisa menggantikan krim. Kami bisa menanam kacang polong di kebun. Aku tinggal mengambil bawang bombay yang tumbuh liar di hutan. Aku tidak mengenali gandum yang jadi bahan roti ini, gandum jatah tessera biasanya hanya menghasilkan gumpalan roti berwarna cokelat yang tidak menarik. Rasa manis yang enak ini berarti menukar sesuatu dengan tukang roti, mungkin dua atau tiga ekor tupai untuk roti. Sementara untuk pudingnya, aku tidak bisa menebak apa saja bahannya. Untuk bisa sekali makan seperti ini, aku harus berburu dan mengumpulkan makanan selama berhari-hari, bahkan hasilnya pun bakal jauh di bawah makanan versi Capitol ini.
Aku penasaran, seperti apa rasanya hidhp dalam dunia dengan makanan yang langsung muncul sekali kau menekan tombol? Bagaimana aku menghasilkan waktu yang biasanya kuhabiskan dengan menyisiri hutan mencari makanan untuk bertahan hidup jika makanan semudah ini datangnya? Apa yang dilakukan para penduduk Capitol ini setiap hari, selain menghiasi tubuh mereka dan menunggi kiriman peserta terbaru untuk pertarungan dan mati demi hiburan?
Aku mendongak dan melihat mata Hangeng yang awas sedang memandangiku. "Pasti kau menganggap kami orang-orang hina ya," kata lelaki itu.
Apakah Cinna melihat di wajahku atau entah bagaiamana dia berhasil membaca pikiranku? Tapi dia benar. Segalanya tentang tempat ini kuanggap hina.
"Tidak apa-apa," ujar Hangeng. "Begini, Zi Tao, tentang kostum yang kau pakai untuk upacara pembukaan. Partnerku, Heechul, adalah penata gaya untuk rekan pesertamu, Yi Fan. Dan kami berniat mendandani kalian dengan kostum yang saling melengkapi," kata Hangeng. "Seperti yang kau ketahui, sudah jadi kebiasaan bahwa kostum harus menunjukkan ciri khas distrik."
Untuk upacara pembukaan, kau diwajibkan memakai pakaian yang menunjukkan industri utama distrikmu. Distrik 11, pertanian. Distrik 4, perikanan. Distrik 3, pabrik. Ini berarti dari Distrik 12, aku dan Yi Fan akan memakai semacam pakaian penambang batu bara. Karena pakaian pekerja penambang yang longgar tidak sedang jadi tren, peserta dari distrik kami biasanya memakai pakaian minim dan topi lengkap dengan lampunya. Pernah, peserta dari distrik kami telanjang bulat hanya ditutupi bedak hitam sebagai lambang abu batubara. Kostum distrik kami selalu mengerikan dan tidak bisa menenangkan hati para penonton. Kusiapkan diriku untuk menerima yang terburuk.
"Jadi aku akan memakai pakaian penambang batubara?" bertanya, berharap semoga pakaiannya masih sopan.
"Tidak juga. Begini, aku dan Heechul berpendapat bahwa kostum penambang itu terlalu sering digunakan. Tak ada seorang pun aku mengingatmu dengan pakaian semacam itu. Dan kami berdua beranggapan sudah tugas kami membuat peserta dari Distrik Dua Belas sebagai peserta yang tak terlupakan," jelas Hangeng
Pasti aku akan telanjang, pikirku.
"Jadi bagaimana kami memusatkan perhatian pada pertambangan batubara, kami akan memusatkan perhatian pada batu baranya," katanya lagi.
Telanjang dan tertutup abu hitam, sahutku dalam hati.
"Dan apa yang kita lakukan terhadap batubara? Kita membakarnya," kata Hangeng. "Kau tidak takut pada api kan, Zi Tao?" Dia melihat ekspresiku dan menyeriangai.
Beberapa jam kemudian, aku mengenakan pakaian yang bisa dianggap paling sensasional atau paling mematikan dalam upacara pembukaan. Aku mengenakan pakaian ketat terusan yang menutup tubuhku mulai dari mata kaki sampai leher. Sepatu bot kulit berkilau hingga ke lutut. Tapi mantel yang berkibar dengan warna oranye, kuning, dan merah dan penutup kepala yang senada yang menjadi penentu pada kostum ini. Hangeng bermaksud membakarnya tepat sebelum kereta kuda kami meluncur ke jalanan.
"Tentu saja, bukan api sungguhan, hanya api sintesis yang kupikirkan bersama Heechul. Kau benar-benar aman," kata Hangeng. Tapi aku tidak yakin diriku tidak akan terpanggang sempurna pada saat kami tiba ke pusat kota.
Wajahku nyaris bersih tanpa riasan, hanya sedikit highlight di sana-sini. Rambutku sudah disisir lalu dikepang dan dibiarkan jatuh di punggung seperti gayaku yang biasa. "Aku ingin penonton mengenalimu ketika kau berada di arena," kata Hangeng dengan pikiran mengawang. "Zi Tao, gadis yang terbakar."
Terlintas dalam pikiranku bahwa gaya Hangeng yang tenang dan normal sebenarnya hanya topeng yang menutupi jati diringa sebagai orang sinting.
Walaupun baru tadi pagi aku melihat karakter asli Yi Fan, aku sesungguhnya lega ketika melihatnya muncul dengan kostum yang sama denganku. Dia pasti tahu banyak hal tentang api, karena bagaimanapun dia kan anak tukang roti. Penata gayanya, Heechul, dan timnya menemani Yi Fan, dan semua orang dipompa semangat berlebihan mengenai kegemparan yang akan kami hasilkan. Kecuali Hangeng. Dia tampak sedikit letih ketika menerima ucapan selamat.
Kami dibawa ke lantai bawah Pusat Tata Ulang, yang pada dasarnya adalah kandang raksasa. Upacara pembukaan dimulai sebentar lagi. Pasangan peserta naik ke kereta yang ditarik empat ekor kuda. Kuda kami sehitam batubara. Binatang-binatang ini sangat terlatih, hingga tak perlu manusia untuk mengendalikannya. Hangeng dan Heechul mengarahkan kami ke kereta kuda dan menempatkan posisi tubuh kami dengan hati-hati, mengatur hiasan mantel kami, sebelum menjauh dan berdiskusi berdua.
"Bagaiamana menurutmu?" Aku berbisik pada Yi Fan. "Soal api ini."
"Akan kurobek mantelmu jika kaurobek mantelku," sahut Yi Fan dengan gigi terkatup.
"Oke," sahutku. Mungkin kami bisa melepaskan mantel secepat mungkin, kami bisa menghindari luka bakar yang lebih buruk. Tapi tetap saja buruk. Mereka akan tetap melempar kami ke arena tanpa peduli pada kondisi kami. "Aku tahu kita berjanji pada Yoochun bahwa kita akan melaksanakan apa yang mereka perintahkan, tapi kurasa dia tidak mempertimbangkan sudut ini."
"Di mana Yoochun? Bukankah dia seharusnya melindungi kita dari hal-hal semacam ini?" tanya Yi Fan.
"Dengan begitu banyak alkohol pada tubuhnya, mungkin tidak baik baginya untuk berada di dekat api yang berkobar," jawabku.
Tiba - tiba kami berdua tertawa. Kurasa kami berdua gelisah mengenai Hunger Games dan yang lebih menakutkan, kami takut dijadikan obor manusia, sehingga kami berbuat aneh.
Musik pembuka dimulai. Suaranya membahana, bisa didengar oleh semua orang seantero Capitol. Pintu - pintu besar terbuka memperlihatkan jalanan yang penuh orang. Perjalanan naik kereta kuda ini memakan waktu dua puluh menit dan berakhir di Bundaran Kota, di sana mereka akan menyambut kami, memainkan lagu kebangsaan, dan mengawal kami memasuki Pusat Latihan, yang akan menjadi rumah atau penjara kami sampai Hunger Games dimulai.
Peserta dari Distrik 1 keluar dari kereta kuda yang ditarik kuda-kuda seputih salju. Mereka tampak begitu menawan, warna perak disemperotkan ke tubuh mereka, dan mereka mengenakan tunik dengan perhiasan berkilau. Distrik 1 menghasilkan barang-barang mewah untuk Capitol. Terdengar suara pekikan membahana menyambut mereka. Distrik 1 selalu jadi favorit.
Distrik 2 mengikuti di belakang mereka. Tidak lama kemudian, kami mendekati pintu dan aku melihat di antara langit berawan dan matahari sore hari, cahaya mulai berubah kelabu. Peserta dari Distrik 11 baru melangkah keluar ketika Hangeng datang membawa obor menyala. "Mari kita laksanakan," katanya, dan sebelum kami sempat bereaksi dia sudah menyulut mantel kami dengan api. Aku terkesiap, menunggu rasa panas menjalar, tapi yang terasa hanya sensasi menggelitik yang samar. Hangeng naik di depan kami dan menyalakan penutup kepala kami. Dia mendesah lega. "Berhasil." Kemudian dengan lembut dia mengangkat daguku. "Ingat, kepala diangkat tinggi. Senyum. Mereka akan menyukaimu!"
Hangeng melompat turun dari kereta kuda dan punya gagasan terakhir. Dia meneriakkan sesuatu pada kami, tapi musik menenggelamkan suaranya. Dia berteriak sekali lagi dan membuat gerakan.
"Dia bilang apa?" aku bertanya pada Yi Fan. Untuk pertama kalinya, aku memandang Yi Fan dan menyadari bahwa di bawah api palsu yang berkobar, dia tampak mempesona. Pasti aku juga kelihatan mempesona seperti dirinya.
"Kurasa dia menyuruh kita berpegangan tangan," sahut Yi Fan. Tangan kirinya meraih tangan kananku, dan kami memandang Hangeng meminta penegasan. Lelaki itu mengangguk dan mengacungkan jempolnya, dan itulah hal terakhir yang kami lihat sebelum kami memasuki kota.
Penonton yang awalnya terkejut melihat penampilan kami segera bersorak dan berteriak, mengelu - elukan. "Distrik Dua Belas!" Semua kepala menoleh memandang aku dan Yi Fan, perhatian terhadap tiga kereta kuda sebelumnya teralih pada kami. Mulanya, aku tak sanggup bergerak, tapi kemudian aku melihat penampilan kami di layar televisi raksasa dan aku terpana melihat betapa menakjubkannya kami di layar itu. Salam cahaya senja yang makin kelam, kobaran api itu menyinari wajah kami. Mantel kami berkibar seakan menginggalkan jejak-jejak api. Hangeng benar dengan ide riasan wajah kami tidak terlalu
tebal, kami terlihat lebih menarik tapi wajah kami masih bisa dikenali.
Ingat, kepala diangkat tinggi. Senyum. Mereka akan menyukaimu! Kudengar suara Hangeng bergaung dalam kepalaku. Kuangkat daguku sedikit lebih tinggi, kutampilkan senyumku yang paling menawan, dan kulambaikan tanganku yang bebas. Aku bersyukur ada Yi Fan yang bisa kugenggam tangannya memberiku keseimbangan, dia begitu mantap, seteguh batu karang. Aku jadi semakin percaya diri, bahkan berani meniupkan ciuman kepada para penonton. Penduduk Capitol makin menggila, mereka melempari kami dengan bunga, meneriakkan nama kami, nama depan kami, yang dengan susah payah mereka cari dalam panduan program acara.
Musik yang bertalu-talu, sorakan, dan pemujaan mengalir masuk ke dalam darahku, dan aku tidak bisa menahan rasa girangku. Hangeng telah memberiku keuntungam besar. Tak ada seorang pun yang akan melupakanku. Baik wajahku, maupun namaku. Zi Tao. Gadis yang terbakar.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan percikan harapan muncul dalam diriku. Pasti paling tidak ada satu sponsor yang mau mendanaiku! Dan dengan ekstra bantuan, makanan, senjata yang tepat, aku bisa bertahan dalam Hunger Games.
Seseorang melemparkan mawar merah kepadaku. Kutangkap bunga itu, kucium pelan, dan kulemparkan ciuman kepada khalayak ramai ke arah pelempar bunga. Ratusan tangan terulur untuk menangkap ciumanku, seakan ciumanku nyata bisa dipegang.
"Zi Tao! Zi Tao!" kudengar namaku diserukan dari segala penjuru. Semua orang menginginkan ciumanku.
Baru pada saat kami tiba di Bundaran Kota, aku sadar bahwa aku sudah menghentikan peredaran darah tangan Yi Fan. Saking eratnya aku menggenggam tangan itu. Aku menunduk memandang jemari kami yang bertautan dan aku melonggarkan genggamanku, tapi Yi Fan tidak mau melepaskannya. "Jangan, jangan lepaskan aku," kata Yi Fan. Kobaran api membuat matanya yang hitam tampak menyala. "Aku mohon. Aku bisa pingsan akibat semua ini."
"Oke," sahutku. Jadi aku tetap berpegangan padanya, tapi aku tetap merasa janggal dengan cara Hangeng menggabungkan kami bersama. Rasanya tidak adil menampilkan kami sebagai tim lalu mengunci kami di dalam arena untuk saling membunuh.
Dua belas kereta kuda mengelilingi Bundaran Kota. Di gedung-gedung yang mengelilingi Bundaran, semua jendela dipenuhi oleh penduduk paling bergengsi di Capitol. Kuda-kuda berhenti tepat di depan mansion milik Presiden Kim Youngmin, dan kami semua berhenti berjalan. Musik berakhir dengan letupan riang.
Presiden, yang bertubuh kecil dan kurus dengan rambut seputih kertas, memberikan sambutan resmi dari balkon di atas kepala kami. Biasanya wajah-wajah para peserta tidak disorot kamera selama Presiden berpidato. Tapi di layar kulihat kami mendapat sorotan lebih banyak dari seharusnya. Malam yang semakin gelap, membuat penonton semakin sulit melepaskan pandangan dari tubuh kami yang berkobar. Ketika lagu kebangsaan dinyanyikan, kamera - kamera menyoroti wajah masing-masing peserta secara cepat, tapi kamera terus merekam kereta kuda Distrik 12 ketika bergerak memutari bundaran untuk terakhir kalinya sebelum menghilang ke Pusat Latihan.
Pintu baru menutup di belakang ketika kami diserbu oleh tim persiapan, yang melontarkan pujian tidak cerdas. Saat memandang ke sekeliling, aku melihat banyak peserta lain yang menatap kesal kepada kami, dan itu menegaskan perkiraan kami, yaitu kami begitu bersinar sehingga penampilan mereka jadi tidak berarti. Hangeng dan Heechul ada di sana, membantu kami turun dari kereta kuda, dengan hati - hati melepaskan mantel dan penutup kepala kami yang berkobar. Heechul memadamkan api dengan semacam semprotan kaleng.
Aku sadar aku masih berpegangan dengan Yi Fan dan ku lepaskan jemariku dengan susah payah. Kami memijat - mijat tangan kami masing - masing.
"Terima kasih mau memegangiku. Aku agak gemetar tadi," kata Yi Fan.
"Tidak kelihatan kok," kataku padanya. "Aku yakin tak ada yang tahu."
"Aku yakin penonton hanya tahu dirimu. Kau harus lebih sering lagi memakai api," ujar Yi Fan. "Cocok untukmu." Kemudian Peeta memperlihatkan senyum teramat manis yang di iringi kesan malu – malu sehingga menimbulkan aliran rasa hangat dalam tubuhku.
Bel peringatan berdentang dalam kepalaku. Jangan bodoh. Peeta menyusun rencana bagaimana membunuhmu. Aku mengingatkan diriku sendiri. Dia membuatmu terpikat agar kau jadi mangsa mudah. Semakin memikat dia, semakim mematikan pula dirinya.
Tapi bukan cuma Yi Fan yang bisa memainkan permainan ini. Aku berjinjit mencium pipinya. Tepat di bagian yang memar.
.
.
Tbc
.
.
Patah gak lehernya?
Selamat menikmati ya soalnya tiap chapnya minimal 8K hahaha
Untuk typo tolong di maklumi ya kkkk
