Ok, cerita ini akan saya lanjutkan krn banyak yang minta.

Gomen kalo mimin telat update ya.

Don't like don't read

Chapter2

Shikamaru pergi mengunnjungi toko mainan. Ia membelikan apa yang bocah nanas itu inginkan agar berhenti menangis. Selesainya dari sana, Shikamaru harus melapor kejadian ini ke Rokudaime Kakashi-sama.

Sesampainya di kantor hokage...

Tok.. tok...

"Masuk", seru pria bermasker Hatake Kakashi. Shikamaru membuka knop pintu lalu menutupnya kembali dan melangkahkan kakinya menghadap Kakashi yang sedang berkencan dengan tumpukan kertas.

"Doushita?", tanya Kakashi tanpa mengalihkan pandangan dari tu,pukan kertas yang menjulang sampai langit ke-7(?).

"Rokudaime-sama, ada hal yang sangat penting. Bisakah anda berpaling dari kertas itu sebentar?"

"Baiklah, tapi jangan terlalu formal memanggilku", Shikamaru menghirup nafas dalam-dalam lalu mnghembuskannya.

"Baiklah, begini aku menemukan bocah ini di hutan. Usianya sekitar 3 tahunan. Ntah dia datang darimana tapi aku tidak pernah melihat anak ini. Bahkan ia mirip denganku kecuali matanya dan lambang Nara"

"Hm? Nara katamu? Apa kau sudah menanyakan ke clanmu?", Kakashi mulai tertarik dengan obrolan ini.

"Sudah, tapi mereka tidak mengenalnya"

"Apa kau tahu siapa namanya?"

"tidak. Hanya ada kalung berbentuk liontin dan terukir huruf 'S' saja", Kakashi mengadahkan kepala ke langit-langit dan menghhela nafas.

"Baiklah, terima kasih atas informasinya Shikamaru. Aku akan menelitinya lagi. Ngomong-ngomong, apa kau tau siapa ibunya?"

"Tidak"

"Ahaha... baiklah, kau akan bertangung jawab mengurus anak ini. Aku tidak akan memberimu misi sampai aku menemukan siapa anak ini sebenarnya. Sekrang kau boleh pergi", Shikamaru membungkukan badan lalu pergi dari ruangan

###

Niat Shikamaru setelah ini adalah pulang dan tidur. Namun, menginget ia harus menjaga bocah annas yang 99% sangat mirip dengannya kecuali matanya ia urungkan kebiasaannya. Ia bingung harus kemana. Kerumah Ino? Tidak, ia kana dihadiahkan bertubi-tubi pertanyaan. Chouji? Tidak, mungkin akan sama seperti Ino. Naruto? Ia sudah menikah dan meningat ia sangat meber mulut. Shikamaru menghela nafas pasrah. Sebetulnya selama perjalanan, banyak orang yang membicarakannya.

'Hei bukankah itu Shikamaru-sensei?'

'Iya, hei lihat siapa yang ia gendong'

'Wah, bocah itu sangat mirip dengan Shikamaru-sensei'

'Tapi, masa iya itu anak nya Shikamaru-sensei?'

'Tidak mungkin! Shikamaru-sensei hanya mencintai gadis Suna, Temari-san saja'

'Tapi lihatlah, bocah itu sangat mirip. Aku yakin ia anak dari Shikamaru-sensei'

'Baka, Shikamaru-sensei belum menikah tau. Jangan mengambil keputusan seenaknya'

'Huh, baiklah'

Lihat? Apa kubilang? Sabar saja Shikamaru.

Shikamaru melirik ke bocah yang sedang memainkan mainan yang tadi ia beli didalam dekapannya. Ya, setidaknya anak ini sudah tenang. Tidak semenyusahkan wanita galak itu. Ah ya, mengingat tentang wanita galak itu, ia harus menjemputnya di gerbang Konoha pukul 13.00 siang. Dan sekarang sudah pukul12.30 siang. Ah, ia dibuat repot oleh wanita galak itu.

Gerbang Konoha

Beruntung wanita itu belum datang dan ia tepat waktu. Mungkin ia masih bisa bersantai dulu.

"Kau kuturankan sebentar ya. Aku capek menggendongmu seharian", bocah itu hanya menatap Shikamaru. Ia tidak berontak saat diturunkan ke tanah. Ia tetap asik kepada mainan yang dibelikan Shikamaru. Sedangkan Shikamaru hanya bertopang pada dinding gerbang menunggu wanita galak itu sambil memejamkan mata.

10 menit kemudian...

"Hei pemalas, sudah lama menunggu ya", Shikamaru mengenal suara ini. Oh, siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan pemalas atau yang lain selain putri dari Kazakage ke-4 dan Kakak perempuan dari Kazekage ke-5 berambut pirang kuncir dua dan poni yang ia sampingkan kekanan dengan membawa kipas yang ada dipunggungnya, siapa lagi kalau bukan Sabaku no Temari. Shikamaru membuka kelopak matanya dan menghela nafas.

"Tidak, aku baru saja sampai", dasar pembohong.

"Hoahm... sudalah ayo cepat", Shikamaru menggendong bocah itu lagi. Temari melirik bocah itu. Sangat mirip dengan Shikamaru.

"Shikamaru, siapa anak ini?", tanya Temari sambil menunjuk bocah nanas itu.

"Ha? Ah, dia anak hilang. Aku bertugas untuk menjaganya.", bocah itu sempat melihat Temari. Ia senang, lalu membuat gestur ingin digendong oleh Temari.

"Ah.. ah.. ah..", Temari memandang bingung bocah itu.

"Heh, kenapa dia?", Shikamaru hanya menyeringai.

"Sepertinya ia ingin digendong olehmu"

"Eh!?"

"Sudahlah kau lakukan saja. Aku cape menggendongnya", Shikamaru segera memberikan gelar menggendong(?) bocah nanas itu ke Temari

"C... chotto, kenapa aku?"

"dia yang meminta. Ini ambillah", Shikamaru menyerahkan bocah itu seolah bocah itu adalah barang tak berharga. Temari hanya merengut kesal. Sedangkan bocah itu memeluk dan menggelamkan kepalanya didada Temari.

'Hangat'

Itu yang dirasakan bocah tersebut. Temari hanya bersemu merah saja. Walau tipis namun maish bisa dilihat.

"Ayo cepat wanita merepotkan. Aku lelah menungumu", ah Shikamaru, kau membuat wanita itu kesal.

"Hei, kau bilang kau baru saja sampai, pemalas"

"Aku memang bilang bau sampai. Tapi 10 menit yang lalu"

"Tapi mengapa aku yang harus gendong bocah ini!?"

"Karena aku sudah menggendongnya seharian"

"Tap-", Shikamaru menggenggam tangan kiri Temari membuat wajah Temari semerah rambut adikknya.

"Mendokusei, kau cerewet sekali. Ayo cepat"

"E... eh!? C... chotto", Shikamaru menarik tangan Temari dan berlari layaknya orang pacaran eh bukan melainkan keluarga bahagia. Sayang, mereka tidak menyadari bahwa 2 pasang mata menonton adegan mereka daritadi.

###

"Ne Sakura, maukah kau menemaniku berbelanja?", tanya wanita berambut panjang selutut.

"Aku sedang sibuk pig, lain kali saja", seru wanita berambut pink dengan tanda wajik di jidat lebarnya #plak yang matanya tetap fokus pada buku entah apa itu namanya dan beberapa bahan alami yang sedang ia racik.

"Cih, temani aku sebentar"

"Ino, jangan mengganggu. Aku sedang konsentrasi", seru wanita itu ke wanita berambut panjang, Yamanaka Ino.

"sebentar saja", Ino menari tangan kanan wanita bermabut pink, Haruno Sakura yang sedang sibuk mengulek lebih tepatnya menumbuk bahan untuk err.. obat? Dan dengan refleks tangannya tertarik dan membuat racikannya tumpah.

Prang!

"...", Sakura terdiam. Ino merasa bersalah.

"A.. ah gomen Sakura. A.. aku... aku tidak sengaja.", Sakura masih saja diam.

"..."

"S... Sakura?"

"Ne pig.. apa kau tahu? Bahan-bahan ini adalah bahan terakhir yang ada di Konoha?"

"eh?"

"BAKA NO INO! AKU HARUS MENCARI BAHAN-BAHAN YANG SUSAH INI DI LUAR KONOHA!", Sakura menggoyangkan tubuh Ino dengan kasar. Ino tidak terima diperlakukan seperti ini ia membalasnya lebih kasar.

"LALU APA MASALAHMU HAH!? AKU HANYA MENGAJAKMU BERBELANJA FORHEAD!?"

"KAU MENUMPAHKAN RAMUN YANG HAMPIR JADI PIG!? KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB!"

"KENAPA HARUS AKU!? KAU YANG MEMBUATNYA SEHARUSNYA KAU YANG TANGGUNG JAWAB!"

"KAU YANG MEMBUAT MORTARNYA PECAH!"

"KAU YANG TIDAK PEDULI DENGANKU!", Sakura dan Ino bertengkar tanpa mempedulikan tatapan orang yang memandang mereka bingung. Ada juga yang menggeleng-gelenggkan kepala.

"KAU YA- eh? Ino lihat itu!"

"Jangan seenaknya mengganti topik Sakura!"

"Tidak, tapi lihatlah!", Sakura memutar badan Ino 180 derajat menghadap pintu keluar yang terbuka sangat lebar karena bau ramuan yang sangat menyengat. Mata Ino membulat, tidak percaya apa yang ia lihat. Shikamaru dan Temari. Berlarian layaknya orang yang sedang berpacaran. Shikamaru memegang tangan kiri Temari. Sedangkan wajah Temari merah layaknya tomat segar sambil mengomle ke Shikamaru. Dan tangan kanannya menggendong bocah nanas.

"Siapa yang Temari-san gendong?"

"Aku tidak tahu, tapi lihatlah. Ia sangat mirip dengan Shikamaru"

"Hah! Jangan-jangan mereka sudah..."

"Sudah apa?"

"Baka, jangan-jangan mereka telah melakukan 'itu' tanpa sepengetahuan Kazekage dan Hokage dan sekarang memiliki anak"

"NANI!? SONNA!"

"SHIKAMARU! BERANINYA KAU!", kedua gadis itu teriak-teriak layaknya orang gila yang kesurupan membuat orang-orang berpikir bahwa mereka harus dibawa ka RSJK (Rumah Sakit Jiwa Konoha).

Ditempat lain.

"Hatsyi!"

"Ada apa?"

"Tidak, sepertinya ada yang membicarakanku"

"Salah kau sendiri menarik tanganku ditempat umum"

"Memangnya tidak boleh?"

"B... bukan begitu"

"Lalu?"

"A... aku hanya malu saja"

"Keh, begitu saja malu. Bagaimana jika aku menciummu didepan umum", ah kalian pasti tau siapa yang berbicara. Yap, Shikamaru dan Temari. Mereka sudah berada di penginapan dan berada di kamar penginapan yang Temari pesan. Bocah nanas itu? Temari tidurkan dia karena sekarang jam tidur untuk balita. Ok kembali ke cerita. Temari menunduk malu. Tangannya ia kepal bersiap memukul Shikamaru.

"Dasar kepala nanas!"

"Apa? Kau ingin memukulku? Silahkan. Lagipula kau tahu kau tidak berani karena menggangu bocah itu tidur", ah... senjata makan tuan.

"Shikamaru ikut aku", Temari beranjak dari duduknya dan keluar dari penginapan diikuti Shikamaru yang memandangnya dengan bingung.

20 meter dari penginapan.

"Ada apa?", Temari mengeluarkan kipas kesayangannya. Shikamaru mulai bergidik.

"T.. tunggu, kau tidak ingin melakukan hal seperti waktu itu *ep 497* kan?", Temari hanya tersenyum tipis.

"Tidak, namun aku melakukan lebih keras dari WAKTU ITU! HIAAH!", dalam sekejap Shikamaru melesat jauh dari penginapan dan menuju ke langit hingga ada bunyi 'cling'.

"MENDOKUSEI!", suara itu terdengar seiring ia terbang.

Tbc...

Huwaaa... makin ga jelas n gaje.

Ane sekali, sangat aneh.

Tapi kali ini mimin buat sedikit panjang *dikit doang - -"*

Gomen ya kalo lama update. Mimin sempet kehabisan ide.

Chap selanjutnya mimin janji lebih cepat update, kalo bisa.

Ok balasan review yang kemarin

1. Nara: ini udah lanjut^^

2. esa badrul: ahaha... mimin lupa jelasin. Padahal di note hp mimin udah dijelasin.

3. Lin Xiao Li: iya, mungkin chap ini masih ada typo tapi mulai berkurang sepertinya. Shikamaru lupa sama anaknya kan karena Shikamaru tidak tahu bahwa bocah yang ia temukan adalah anaknya yang dari masa depan. Jadi ceritanya, anaknya itu kembali kemasa lalu karena ulah seseorang. Kalo pengen tahu baca aja cerita ini kelanjutannya gimana. Ngomongngomong mimin sering lo baca fanfic mu. Mimin suka ampe mimin copas trs mimin baca sendiri di note krn cape bolak balik masuk google - -"

4. Angelafiction : terima kasih atas pujiannya ^^. Bagaimana mereka tahu anak Shikamaru dari masa depan? Jawabannya sederhana. Karena, di clan Nara tidak ada ikat rambut yang menyerupai buah nanas selain Shikamaru dan ayahnya.

-sekian