Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre : Romance & Adventure
Rate: T
CANON
Chapter 2
Langit yang tadinya masih cerah kebiruan, kini mulai beranjak gelap kemerahan.
'Sepertinya akan turun hujan'
Pikir pemuda pirang yang berjalan menyusuri jalanan menuju kediaman Hyuuga bersama pujaan hatinya Sakura.
"Ada apa?" Tanya gadis disebelahnya nampak khawatir.
pemuda yang memiliki tiga goresan dipipinya itu menggeleng lemah.
"Aku rasa kita harus cepat, lihatlah langit sudah mendung, aku takut kau akan kehujanan nanti!"
Gadis bernama lengkap Haruno Sakura itu terkikik geli mendengar pernyataan atasannya, ia menyinggung bahu Naruto dengan genit.
"Hihi...Hokage-sama, anda tidak perlu secemas itu! Aku inikan ninja medis, aku bisa menjaga diri sendiri!"
"Tapi kaukan hanya seorang wanita!" Naruto menatap Sakura dingin. Dengan sengaja pemuda itu membuka jaket miliknya tanpa menghiraukan raut wajah heran Gadis disebelahnya.
"Kenakan ini!" Ujar Naruto menyodorkan jaket itu pada Sakura.
Gadis itu tak berkutik. Ia hanya bisa menatap wajah Naruto yang menyodorkan jaketnya dengan tatapan aneh selama beberapa detik.
"Kenapa?Apa belum puas memandang Rokudaime tampan ini semalam, nona?" Naruto mencoba menyadarkan Sakura yang diam dengan berpose keren.
"Eh?" Sakura tersadar, ia hampir terhanyut dalam hayalannya mengenai pemuda itu.
"Umm.. Apa kau menawarkan jaket itu untukku?" Tanya Sakura memastikan.
Naruto mengangguk mantap.
"Walaupun belum turun hujan,
lambat laun tubuhmu pasti merasa kedinginan juga kan? "
Sakura mengerjapkan matanya berulang kali. Ia masih belum yakin tentang siapa yang berada dihadapannya ini. Narutokah? Tapi, kenapa pemuda kekanak-kanakan itu berubah begitu cepat menjadi pria romantis seperti ini? Kenapa? Adakah sesorang yang dapat memberi tau Sakura saat ini?
Sebenarnya jawaban dari pernyataan itu sangat sederhana. Usia Naruto yang sudah memasuki 24 tahun dan jabatannya sebagai pemimpin desa, lambat laun mengubah sikapnya sedikit demi sedikit menjadi lebih dewasa.
Sakura menatap lekat-lekat jaket berwarna orange dihadapannya, dan entah kenapa ia merasakan kehangatan tiba-tiba mengalir dari ulu hatinya. Memang ini bukan pertama kalinya ia mendapat perhatian khusus dari Naruto, namun tetap saja pada saat mereka tumbuh dewasa seperti ini, hal sekecil apapun akan berefek lain dibanding saat mereka remaja dulu. Dibalik perubahan itu, ada satu hal yang tak berubah dari dulu hingga sekarang dari pemuda pirang itu, yaitu kemampuannya untuk membuat Sakura merasa seperti seorang wanita seutuhnya.
Wanita yang membutuhkan tempat berlindung, sandaran dan juga pujian dari seorang pria, walau sebenarnya ia tampak tak membutuhkannya sedikitpun.
Sakura mengambil jaket itu dengan senyum.
.
.
.
.
SEEK...
Suara pintu kamar Hinata yang digeser Hanabi.
"Nee-chan, maaf menggangu. Rokudaime sengaja datang kesini untuk mengunjungi Nee-chan. Apakah Nee-chan ingin menemuinya sekarang?"
Hinata membuka matanya. Tubuhnya masih berbaring diatas Futon membelakangi Hanabi. Ia sedikit terkejut mendengar pernyataan Hanabi itu. Sedikit rasa tidak percaya menghampirinya.
' Naruto-kun? Kenapa dia kemari?Apa karena ia kasihan saja melihatku?'
Hinata menggerakan tubuhnya untuk berdiri menghampiri adiknya.
"Nee-chan akan menemuinya sebentar lagi"
Hanabi tersenyum "Baiklah, kalau begitu aku akan memintanya untuk menunggu sebentar" Setelahnya pintu kamar Hinata kembali ditutup.
.
.
.
.
"Maaf membuat anda menuggu Hokage-sama!" Hinata membungkukkan badannya langsung saat sampai diruang tamu.
"Tidak apa-apa!" Ujar Naruto sambil tersenyum.
Hinata menegapkan badannya, seketika itu hatinya kembali nyeri.
Seorang Haruno Sakura duduk disebelah Naruto dengan jaket kesayangan pemuda itu.
'Sa-sakura-san dan jaket Naruto? aghh.. kenapa aku harus melihat pemandangan menyedihkan ini? apa Kami-sama sengaja membuatku hancur dengan melihatnya?' Hinata merintih dalam hatinya.
Sakura sendiri menyadari tatapan cemburu Hinata padanya. Ia mencoba bersikap biasa, namun rasa bersalah terus menghujamnya saat ini. Ia tau kalau Hinata sudah lama menyukai Naruto, bahkan ia tau seberapa besar pengorbanan wanita kurus itu untuk Naruto. Tapi, kenapa ia menghancurkan impian Hinata untuk memiliki Naruto jika ia tau pengorbanan gadis itu? Bukankah saat ini ia adalah orang jahat penghancur impian orang lain?
Andai saja saat itu Naruto tak menahannya, pasti ia sudah berlari meninggalkan tempat ini untuk menangis dan menampar dirinya sekarang ia hanya bisa menunduk meratapi kesalahannya.
Naruto tau apa yang terjadi saat ini, bahkan ini semua adalah rencananya dari awal.
Beberapa tahun lalu, menjelang kematian sahabatnya Neji, Naruto pernah mengucapkan janji untuk menjaga senyuman Hinata agar tidak pudar kepada Neji orang yang mengorbankan nyawanya demi dirinya dan Hinata.
Pemuda pirang itu mengambil nafas dalam-dalam, lalu ia mengeluarkannya secara perlahan. Ia memutuskan untuk bersuara setelah beberapa menit dalam kebisuan.
"Umm...Hinata, maafkan kedatanganku yang tiba-tiba ini. Aku kemari ingin mencicipi masakanmu, setelah lima tahun lamanya. Jadi, bersediakah kau memasak untukku sekarang?"
Sontak kedua wanita diruangan itu menatap Naruto tak percaya. Terlebih lagi dengan Hinata, ia benar-benar terkejut. Ia pikir kedatangan Naruto kemari hanya untuk menasehatinya. Gadis bermata Lavender itu nyaris kehilangan kesadaran. Kebiasaan lamanya saat bertemu Naruto kembali terjadi. Hanya saja, kali ini jantungnya berdebar lebih kencang.
Sedangkan Sakura, ia merasa tidak keberatan atas permintaan Naruto pada Hinata, ia tau kalau inilah yang semestinya Hinata dapatkan jika saja ia tak mengganggu hubungan mereka berdua.
Naruto menatap kearah Sakura " Dan aku juga ingin Sakura-chan memasak untukku! Aku ingin kalian berdua memasak masakan yang berbeda!"
Sakura terkejut bukan main. Ia tak habis pikir pada Naruto. Sebenarnya apa yang ingin diperbuat pemuda itu. Sakura mencoba meluruskan apa yang semestinya tak terjadi.
"Maaf Hokage-sama, bukannya aku tidak mau. Tapi kau tau sendirikan kalau masakanku itu... tidak enak!"
"Tak apa Sakura-san! Aku akan membantumu!" Sambung Hinata tersenyum.
Melihat itu Sakura tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
.
.
.
.
.
Sakura dan Hinata sedang berada didapur.
Celemek yang ditawarkan Hinata pada Sakura ternyata nampak indah ketika dikenakan. Begitu juga dengan Hinata, ia terlihat anggun persis seperti seorang istri yang sedang memasak untuk suaminya.
"Sakura-san? Kenapa diam saja?"
Sakura tersadar dari lamunannya menatap Hinata.
"Ti-tidak apa-apa Hinata-san. Kau terlihat anggun menggunakan celemek itu!"
Hinata menunduk. "Terima kasih. Tapi percuma saja, jika aku tak tampak seperti itu dimata Naruto-kun!"
Perasaan bersalah kembali menusuk kalbu Sakura.
Jujur, ia tak tau harus berbuat apa untuk memperbaiki semua kesalahannya. Haruskah ia merelakan Naruto? Tidak, ia tak ingin menyerahkan cintanya. Tidak untuk kedua kalinya setelah Sasuke. Lantas apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Maaf..." Ujar Sakura menatap Hinata dengan tatapan bersalah. Gadis Lavender itu memalingkan wajahnya.
" Sudahlah Sakura-san, sebaiknya kita lupakan masalah ini. Aku tak mau Hokage-sama menunggu lama dengan perut kosong!"
Sakura mengerti, ia menatap sendu bahan-bahan masakan didepannya.
"Baiklah, aku akan memasak Nikujaga, bagaiman denganmu Sakura-san?" Hinata tampak semangat sekali walau sebenarnya Sakura tau betapa hancurnya gadis itu.
"Sepertinya pembuatan Onigiri lebih mudah, aku akan memasak Onigiri!"
Hinata tersenyum pada Sakura. Setidaknya rasa bersalah Sakura sedikit berkurang melihat senyuman itu.
Kegiatan masak-memasakpun dimulai.
Sakura terlihat kesusahan saat mengepal dan menggulung Onigiri miliknya. Untung Hinata membantunya hingga selasai.
Akhirnya dua porsi Nikujaga dan Onigiri siap untuk dihidangkan. Namun ketika Hinata mengajak Sakura untuk mengantarkan masakan itu pada Naruto, Sakura menolak dengan alasan ingin menghias Onigirinya agar terlihat lebih menarik.
Hinatapun memutuskan untuk meninggalkan Sakura sendirian didapur.
.
.
.
.
.
Hinata berjalan mendekati meja makan tempat Naruto duduk menunggu. Gadis itu meletakkan dengan lembut nampan berisi Nikujaga diatas meja.
Naruto menatap penuh nafsu hidangan dihadapannya itu. "Wah... kelihatannya lezat. Tapi, mana Sakura-chan?" Naruto baru ingat dengan Sakura.
" Dia bilang ingin menghias Onigirinya agar lebih menarik!" Jelas Hinata.
"Oh..." Naruto mengangguk mengerti.
Setelah dua menit menunggu, Naruto tiba-tiba permisi ke kamar kecil dan Hinata langsung mengiyakan permintaan itu.
.
.
.
.
.
Sakura terdiam menatap Onigiri di hadapannya. Rasanya percuma, Onigiri ini ia hidangkan, toh masakan buatan Hinata sudah jelas lebih lezat walaupun ia dibantu. Gadis pinkish itu kembali mengingat cara Hinata memsak, wajahnya, gerakannya, bahkan tubuhnya yang indah itu juga teringat. Apa mungkin Uzumaki Naruto itu sudah buta karena menolak gadis yang bisa dibilang hampir sempurna itu dan lebih memilih dirinya yang jauh dari kata sempurna.
Sakura benar-benar menampar dirinya sendiri. Harusnya sedari dulu ia menyadari kalau ia tak berhak memiliki Naruto dan ia tak berhak mencintai Naruto setelah ratusan kali ia menolak bahkan menghina pemuda itu.
Sungguh tak tau bagaimana cara mengekspresikan semua perasaannya saat ini, yang ia tau hanya meneteskan air mata tanpa henti.
.
.
.
.
.
Niat untuk ke kamar kecil sebenarnya tak pernah ada pada hati Naruto sejak awal. Ia hanya mencari-cari alasan agar bisa mengintip Sakura didapur. Ia ingin tahu apa yang dilakukan gadis itu.
Naruto berjalan pelan mendekati pintu dapur dan mencari posisi dimana ia bisa mengintip dengan leluasa.
Namun ketika ia melihat Sakura, hatinya serasa teriris.
Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil membekap mulutnya.
Naruto yang melihat itu, tanpa sadar mencengkram kuat dada kirinya yang terasa sakit. Ia tak rela, sungguh tak rela jika wanitanya itu meneteskan air mata seperti ini. Tanpa menunggu lagi, ia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya menuju tempat Sakura.
"Sakura-chan? Kenapa kau sampai menangis begini? Apa Hinata menyakitimu?"
Pemuda itu memeluk tubuhnya dari belakang.
Sakura menggeleng cepat, ia menghapus air matanya dan membalikkan tubuhnya agar menghadap Naruto.
"Kenapa kau ada disini? aku tidak menangis, hanya saja mataku yang sedikit berair karena mengiris bawang!"
Naruto langsung menatapnya curiga.
PUK
Ia membenturkan jidatnya dengan jidat Sakura. Ia tau gadis itu berbohong padanya, makanya ia melakukan ini.
"Anata, kau tak bisa berbohong padaku!" Ujar pemuda itu lembut sambil meraih dagu lancip Sakura.
"Katakan saja apa yang terjadi sebenarnya!"
Sekarang Sakura benar-benar tak bisa mengelak lagi. Ia sudah begitu terpojok oleh Naruto.
"Aku... Aku mencintaimu, karena itulah aku menangis!"
Mulut pemuda itu langsung terbuka tanpa disadari. Ia begitu terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Sakura.
"Sa-Sakura-chan? K-kau... menyesal mencintaiku?"
Refleks tangan Sakura mencubit perut Naruto dengan keras. Pemuda itu hanya bisa merintih kesakitan oleh perlakuan wanitanya.
"BAKA! Mana mungkin aku menyesal mencintaimu. Hanya saja..."
"Hanya apa?"
Sakura mengalihkan pandangannya kesamping dan tak mau menatap mata pemuda itu.
"Kupikir aku tak pantas mencintaimu. Kau seorang Hokage yang terhormat, tentu kau lebih pantas didampingi wanita yang cantik, sopan, lembut dan pintar memasak seperti Hinata, bukan seperti diriku yang jelek, kasar dan tidak bisa memasak ini!"
Naruto tersenyum, ia meraih kedua telapak tangan Sakura dan mengangkatnya dengan lembut.
"Sakura-chan, Kau bukan wanita jelek, bagiku kau adalah seorang bidadari Surga yang turun ke bumi. Wajahmu, senyummu, terutama jidatmu yang indah itu membuatku selalu ingin mengecupnya. Soal sifat, padaku mungkin kau memang kasar, tapi aku tau kau sama seperti ibuku yang melampiaskan cintanya dengan sifat kasar. Dan aku tak peduli jika kau memasak tapi masakanmu itu tidak enak, bagiku yang terpenting adalah bagaimana usahamu untuk membuatkanku makanan. Seburuk apapun rasanya, akan kuhabiskan sampai butir terakhir, karena itulah tanda cintamu padaku. Sekarang, kau tak usah menghiraukan kekuranganmu, akan ada aku yang selalu mencintai semua kekurangan itu. Kau mengertikan, Sakura-chan?"
Gadis bernama lengkap Haruno Sakura berumur 24 tahun itu tak kuasa menahan derasnya terjangan air mata dipipinya. Ia terlalu terharu sekaligus bahagia mendengar pernyataan indah dari pemuda itu
Uzumaki Naruto. Satu-satunya pemuda yang lihai membuatnya terbang ke angkasa cinta, mengarungi kemerlapnya cahaya kasih dan sayang. Sungguh tak ada yang lain lagi yang mampu membuat gadis ini merasa begitu damai seperti sekarang.
Sudah ia putuskan untuk terus mendampingi Naruto sampai akhir hayatnya.
Sakura langsung menghambur ketubuh Naruto dan memeluknya dengan erat. Naruto membalasanya dengan pelukan lalu mengecup ubun-ubun gadis itu dengan lembut.
.
.
.
.
.
Hinata tersenyum saat Naruto dan Sakura datang menghampirinya.
Sebuah senyum palsu yang ia gunakan untuk menutup besarnya pilu hati yang ia rasakan. Ia tau apa yang terjadi saat Naruto dan Sakura berada di dapur. Bukannya tidak sopan, hanya saja saat Hinata menggunakan Byakugannya untuk mengintip, ada satu hal yang menjadi wewenang gadis itu. Dari awal ia sudah tau kalau kedatangan Naruto tak lain untuk menghiburnya, itulah wewenangnya.
Naruto duduk disamping kanan Hinata, dan Sakura duduk disamping kirinya dengan membawa piring berisi Onigiri.
"Gomen... Aku sudah membuatmu menunggu!"
Ujar Naruto dengan cengiran riang.
Sekali lagi Hinata hanya bisa tersenyum.
Melihat itu, tangan besar Naruto refleks untuk memegangi puncak kepala Hinata dan mengusapnya dengan lembut.
"Hinata, kau terlihat kurus sekarang. Apa kau jarang makan?"
Hinata tersipu malu, dan menggeleng.
"Jangan bohong, aku tau kau jarang makan. Sekarang ayo buka mulutmu, aku akan menyuapimu. Sekarang buka ya... aaa"
Naruto menyodorkan segumpal nasi dengan sumpit ke mulut Hinata.
Awalnya Hinata menggeleng tak mau, namun ketika Naruto memaksanya untuk membuka mulut, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Sakurapun tertawa geli melihat Hinata yang disuapi Naruto sampai belepotan kemana-mana.
Gadis Levender itu merasa malu, namun inilah yang ia butuhkah, setitik kebahagiaan semu di kehiduapannya yang sepi.
TBC
To Be Continue
Nikujaga: Masakan dari daging rebus dan kentang yang terasa sedikit manis
Onigiri:Nasi kepal yang dibungkus dengan lembaran rumput laut (Aku rasa kalian juga udah pada tau tentang makanan yang satu ini)
A/N:
Maaf kalau ficnya agak terkesan memaksa.
Makasih udah review/Favs/Follow ini fic
