Title: Wishes

Cast: VIXX - Ken, Leo

Pairing: Keo

Rate: T

Chapter: 2/5

Genre: Drama, Romance

A/N: Haaaiii! Wah, akhirnya bisa update... Kemaren-kemaren sibuk banget, jadi maaf ya karena author nggak menepati janji untuk update cepet kali ini. Dan untuk chapter selanjutnya juga nggak tahu bakal bisa cepet apa nggak. Hehe... Okay! Please enjoy the 2nd chapter ^^


CHAPTER 2 : The Feelings

Sudah waktunya pulang. Taekwoon kini merasa sangat lega karena ia dapat menyelesaikan pekerjaannya bahkan lebih cepat dari waktu yang diberikan sang atasan. Taekwoon bahkan tertawa dalam hati mengingat ekspresi atasannya yang hanya melongo ketika Taekwoon bilang ia sudah mengirim e-mail saat makan siang.

Setelah turun dari bus, Taekwoon masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai di apartemennya. Tapi Taekwoon merasa kesal saat ia sadari malaikat itu masih mengikutinya di belakang sejak tadi siang.

"Hey, malaikat jelek."

"Yes, sir?!" Jawab Ken dengan memberi hormat selayaknya tentara.

"Kenapa kau masih mengikutiku kemana-mana?!"

Taekwoon berbalik, dan menemukan Ken tepat di belakangnya. Ia tahu itu. Tapi ia tidak tahu bahwa Ken berjalan sangat dekat dengan punggungnya. Alhasil, keduanya terkejut ketika wajah mereka berjarak sangat dekat.

Ken tersenyum polos, kemudian mundur selangkah, membuat jarak antara mereka. "Te- tentu saja. Aku kan guardian angel-mu. Jadi aku harus selalu bersamamu."

"Ha- haruskah?"

"Ne! Kau tidak ingat siapa yang membantumu menyelesaikan tugas lebih cepat?!" Ken memasang wajah kesal.

"Ck. Sesukamulah."


Sampai di apartemen Taekwoon. Taekwoon langsung masuk ke kamarnya untuk ganti baju, sedangkan Ken masih berdiri di depan pintu, melihat sekeliling. Memang apartemen Taekwoon tidak terlalu besar, tapi Ken cukup terkesima melihat barang-barang seperti TV, Kulkas, atau barang-barang lain yang tidak ada di dunianya.

"Hei. Kau kenapa?" Tanya Taekwoon, yang sudah keluar dari kamar dan kini berpakaian santai. Hanya kaus dan celana training.

"Ah? Ti- tidak. Hanya saja banyak barang yang aku tidak pernah lihat sebelumnya." Ucapnya sambil berjalan masuk. Matanya masih memperhatikan beberapa barang. Dan kini ia berada di depan TV.

Taekwoon hanya tertawa pelan. "Benarkah? Hm, aku jadi penasaran seperti apa duniamu."

Ken dengan cepat menoleh. "Ya! Kau itu manusia! Tidak boleh bicara seperti itu!" Omel Ken.

"Ya, ya. Aku tahu..." Kata Taekwoon sembari duduk di sofa, berhadapan dengan TV dan sosok Ken. Sedangkan Ken kini menatap benda yang ada di depannya.

"Hei. Lempengan hitam apa ini?"

"Bukan lempengan hitam. Itu televisi."

Ken menoleh menatap Taekwoon. "Tele- apa?"

"Televisi. Kau bisa menyaksikan hiburan, berita, pendidikan, atau apa pun. Tapi kau harus tahu jadwal tayang acara yang ingin kau tonton." Jelas Taekwoon. Dalam hati ia merasa aneh. Baru kali ini ia menjelaskan fungsi TV pada seseorang.

"Berita? Dan pendidikan? Dari benda hitam ini?!" Ken kembali menatap benda hitam itu, kalo ini lebih dekat.

"Tidak benar-benar hitam." Taekwoon tertawa pelan, kemudian mengambil remote yang ada di sampingnya. "Kau harus menyalakannya terlebih dahulu." Kemudian ia memencet tombol 'ON'.

"WHOAAA!" Ken menjerit sambil melompat ke sofa, dan menyembunyikan wajahnya di pundak Taekwoon.

"Hey! Kau kenapa?!"

"Be- benda itu jadi begitu dengan sendirinya... Aku bersumpah aku tidak melakukan apa pun! Aku bahkan tidak menyentuh sedikit pun! Itu bukan salahku!" Ken mengoceh dengan nada ketakutan, masih di pundak taekwoon.

"Pfft. Kau itu benar-benar-" Kemudian Taekwoon tertawa terbahak-bahak.

"Ke- kenapa kau tertawa?!"

"Tak ada yang terjadi pada televisinya. Aku hanya menyalakannya menggunakan remote ini." Setelah, tawanya mereda, Taekwoon menekan tombol untuk mengganti channel. "Lihat? Itu bukan salahmu. Remote ini bisa mengubah channel dan mengatur volume dari jarak jauh."

Ken menatap remote di tangan Taekwoon, kemudian merebutnya. "Seperti tongkat sihir?!"

"Uhm... Bukan. Itu hanya-" Taekwoon berniat menjelaskan lebih. Tapi ia lihat Ken begitu bahagia dengan 'tongkat sihir' itu. Taekwoon pun menyerah. "Ugh. Dasar norak. Yah, sesukamulah."


Lima menit berlalu sejak Taekwoon membiarkan Ken dengan antusias menggonta-ganti channel. Sedangkan dirinya sendiri sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba Taekwoon sadari channel di TV behenti berganti. Ia menoleh ke sampingnya, dan menemukan malaikat itu tengah tertidur dengan bersandar ke bahunya. Taekwoon menatap wajah Ken.

"Manisnya... Malaikat ini benar-benar polos." Benak Taekwoon. Ia tersenyum, dan mengusap surai pirang milik malaikat itu. Kemudian ia menyadari sesuatu, "Tunggu! Apa ini? Apa yang baru saja aku pikirkan? Jung Taekwoon, kau sudah gila!"

Taekwoon menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian beranjak bangun dengan perlahan. Ia tak mau membangunkan Ken yang tertidur pulas. Perlahan, ia letakkan tubuh Ken agar malaikat itu berbari di sofa. Kemudian ia mematikan TV dan beranjak masuk ke kamar untuk tidur.


Hari berikutnya. Taekwoon tak tahu kenapa ia harus berdiri di ruang pantry. Yah, sebetulnya, lagi-lagi ia dapat hukuman karena tak sengaja menumpahkan kopi di pekerjaan rekan kerjanya. Dan hukuman kali ini adalah mencuci piring. Terdengar sepele. Tapi piring yang harus ia cuci berjumlah lebih dari 100. Taekwoon juga tidak tahu bagaimana kantor seperti ini punya lebih dari 100 piring untuk makan. Ia yakin gedung ini bukan restoran.

Sekali lagi, Taekwoon hanya bisa meratapi hukumannya yang menggunung. Tapi kemudian, ia teringat akan sosok itu.

"Yah, Ken-ah! Kau dimana?!" teriaknya memanggil nama malaikat itu.

Tiba-tiba Ken muncul di sampingnya, dengan tangan menutupi kedua telinganya. "Yah, hyung! Aku ada di sini! Kau tidak perlu berteriak begitu! Aku selalu bersamamu, kok!"

Taekwoon tidak menjawab, hanya terus menatap Ken.

"A- apa? Kenapa kau menatapku begitu?!"

"Ken-ah, bantu aku!" Taekwoon tiba-tiba memeluk Ken dengan erat. Ken terkejut. "Bantu aku menyelesaikan hukumanku~"

Ken mendorong tubuh Taekwoon menjauh karena merasa aneh. "A- apa lagi sekarang? Kau dapat hukuman lagi?!" Taekwoon mengangguk. Ken melongo, "Ck, manusia yang satu ini... Baiklah, aku akan membantumu."

"Gomawo Ken-ah!" Taekwoon kembali memeluk Ken, dan Ken lagi-lagi mendorongnya menjauh.

"Tapi tolong... Jangan memelukku lagi!" Teriak Ken, membuat Taekwoon terkejut.

"Ba- baiklah. Ma- maaf."

"Fiuh... Berikan sponge itu!" Taekwoon memberikan sponge di sudut tempat cuci piring itu kepada Ken. Sekali lagi, muncul cahaya dari tangan Ken, kemudian menghilang. "Ini! Tinggal gosok sekali, dan akan langsung bersih seluruhnya."

Taekwoon mencobanya. Dan benar kata Ken, piring itu langsung bersih tanpa noda sedikit pun. "Wha, cool! Terima kasih, malaikat norak!"

"Ck, dasar menyebalkan. Tapi sama-sama." Gumam Ken.

Taekwoon melanjutkan pekerjaannya menyuci piring, sedang Ken hanya berdiri di sampingnya. tanpa peduli.

Tiba-tiba, Taekwoon punya ide. "Heh, malaikat norak, lihat sini!"

"Apa lagi-" BYUUR! Taekwoon mencipratkan air ke wajah Ken. "Yah, hyung! Ige mwoya?!"

"Pfft, wajahmu lucu dengan busa di wajahmu itu. Haha..." Taekwoon tertawa terbahak-bahak.

"Ck. Kau menyebalkan, hyung!" Taekwoon tidak peduli dengan omelan Ken. Ia hanya terus tertawa. Kemudian, Ken mendapat ide. "Yah, hyung! Kau tahu, kau itu tampan."

"Ha? Yah, semua orang tahu itu."

"Ne! Dan kau akan terlihat lebih tampan dengan... INI!" Ken mengambil selang yang tersambung dengan keran, dan menyiram tubuh Taekwoon, dan kini Taekwoon basah kuyup.

"Bajuku! Ken, kau menyebalkan!"

"Begitu pun kau, hyung. Haha!" Taekwoon menatap Ken dengan tatapan kesal. Ia pun memutuskan untuk balas dendam.

"Rasakan ini!" Taekwoon merebut selang dari tangan Ken dan menyiram malaikat itu. Keduanya pun bermain air layaknya anak kecil.


Ditengah permainan mereka, kaki Taekwoon tiba-tiba tergelincir karena lantai yang licin, dan itu membuatnya jatuh ke arah Ken. Kini, tubuh mereka terjatuh di lantai, dengan Taekwoon berada di atas menimpa Ken. wajah mereka berjarak sangat dekat. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Apa ini? Aku merasa aneh. Malaikat ini sangat... Manis. Tunggu! Lagi-lagi aku berpikir begitu, bagaimana bisa?! duh, perasaan apa ini?!"

"Ti- tidak! Aku merasakan sesuatu yang aneh. Hyung terlihat sangat... Tampan... Tidak... Tidak! Hentikan, Ken! Kau tidak boleh berpikir seperti itu!"

Yang sadar dari pikiran mereka duluan ada Taekwoon. "Ah, ma- maaf." Ia bangun dari posisinya. Kemudian membantu Ken pula untuk bangun.

"A- aku harus kembali bekerja." Ucap taekwoon sembari melanjutkan tugasnya mencuci piring.

"Ya, benar! Dan aku- Aku akan- Ah! Aku akan mengeringkan pakaianmu!" Ucap Ken sembari mengulurkan tangannya, dan muncullah angin panas dari telapak tangannya untuk mengeringkan pakaian Taekwoon.

Hening. Tak ada lagi yang berbicara. Keadaan benar-benar canggung.

.

.

.

.

.

To Be Continued


A/N: Dan... barulah terlihat betapa ooc-nya Taekwoon di sini. Haha...

Okay, guys! Please review, Author would be glad to know your opinions about this story, it may help her to increase some her writtng ability. Thanks for reading! See ya in the next chappie~ ^^