THIS IS A REALITY?

Chapter 2

Pairing : belom jelas, entar-entar aja deh!

Summary : Dimana ini? apa-apaan mereka itu, wajah sih tampan tapi….dandanannya norak banget!

Warning : OOC tak bias di hindari, typo(s), EYD kurang benar(uadah usaha dibenarin kok), dan segala kegajean lainnya.

.

.

.

Musim semi, adalah musim dimana bunga yang indah yang hanya ada setahun sekali mekar. Suasana hanggat sering menyelimuti masyarakat Tokyo, tapi entah mengapa dipagi musim semi ini kehangatan yang ditunggu-tunggu sama sekali tak kunjung datang, matahari yang seharusnya terbit dan menghangatkan pagi pun tak terlihat karna ditutupi awan hitam nan kelam, entah itu pertanda buruk atau bukan. Keadaan cuaca yang seperti itu membuat masyarakat Tokyo enggan meninggalkan tempat tidur mereka dan lebih memilih menghangatkan diri dibalik selimut mereka yang menjanjikan kehangatan. Namun berbeda sekali dengan sebuah rumah bergaya jepang kuno yang di huni oleh lima gadis tokoh utama kita. Tanpa memperdulikan rasa ngantuk yang di derita banyak orang, mereka sudah terlebih dahulu bangun dibandingkan ayam.

Saat ini mereka berlima sedang latihan pagi seperti biasa. Mereka tengah memperkuat ilmu beladiri masing-masing. Terlihat Tenten tengan berlatih menggunakan pedangnya melawan sebuah boneka besi yang memiliki banyak tangan, dengan gerakan tangan yang cepat diatas rata-rata, ia mengayunkan pedang bambunya pada sang boneka, entah kekuatan apa yang ia keluarkan, boneka itu sampai penyok dan jatuh kelantai saat terkena hantaman pedang bambunya. Lain halnya dengan Sakura yang sibuk memukul sansak dengan wajah santai, namun entah mengapa sansak itu melayang cukup jauh. Tak beda jauh dengan Ino yang kini tengah mengangkat barble untuk memperkuat staminanya saat membanting. Naruto yang awalnya tengah melatih kembali beberapa jurus karate seperti judan, jedan dan jodan serta beberapa jurus tendangan pun terlihat menghentikan aktivitasnya begitupula dengan Hinata yang sedang berlatih beberapa jurus tangkisan.

" Kalian mau kemana?" Tanya Sakura saat melihat Naru dan Hinata beranjak meninggalkan ruangan yang khusus dirancang untuk mereka latihan dan rapat.

"Hari ini kan giliran kami membuat sarapan?" sahut Hinata kalem.

"Kalau kalian ingin menggantikan, aku izinkan kok !" kata Naruto sambil nyengir pada teman-temannya.

"Enak saja, inikan giliranmu" kata Tenten tak terima.

"Udah….pergi sono, entar kita telat sekolah lagi. Hush…hush" usir Ino pada dua temannya yang dihadiahi lemparan sandal jepit dari Naruto dan kain lap lantai dari Hinata.

Hinata dan Naruto pun meninggalkan ruangan itu dengan gumaman-gumaman yang nggak jelas. Sebenarnya sih udah jelas, Hinata mengguman tentang makanan apa saja yang harus mereka sediakan, sedangkan Naruto malah mengupat-upat teman-temannya itu.

"Aku sering kali berpikir, bahwa Naruto itu mempunyai dua kepribadian." Kata Ino pelan.

"Kau juga?." Tanya Tenten antusias.

"Juga? " Tanya Ino heran.

"Ya…aku juga berpikir hal yang sama denganmu, aku sering berpikir Naruto itu punya dua kepribadian. Karena bagaimana mungkin orang yang sama sekali tidak bisa serius yang bahkan hamper 24 jam kerjanya nyengir dan pembawaannya ceria bisa secara drastis berubah jadi serius, pendiam,cerdas dan tenang. Bahkan kadang ia lebih tenang dan dewasa dari Hinata." Jelas teten panjang lebar.

"Ya…aku juga sempat curiga, tapi kita harus mempercayainya. Aku yakin ia akan menceritakannya pada kita nanti" Kata Sakura,yang tumben-tumbenya berbicara bijak.

"Hhmmm" Gumam Ino dan Tenten.

.

.

.

Di Konoha

Berbeda dari Tokyo, disini terlihat begitu hangat karena sang matahari bersinar dengan bersemangatnya. Terlihat lima pria dengan pakain kebesaran sebagai pangeran atau penerus klan keluarga masing-masing, mareka berjalan keluar dari gedung Hokage. Setiap langkah tangga yang mereka turuni, memperlihatkan betapa arogan dan sombongnya mereka. Kini mereka berada di penghujung tangga. namun aneh, mereka disambut oleh ratusan gadis dengan jejeritan histeris, seakan mereka adalah para boyband yang sedang mengadakan acara jumpa fans, dengan tanpa keraguan mereka menghentikan langkah mereka sebelum mencapai ratusan fanaticfans di bawah.

"Shikamaru, lakukan sesuatu" kata Kiba pada sang ketua.

"Yang benar saja, mentang-mentang aku ketua, kau ingin menyuruhku mengurus semua ini? Tanya Shikamaru merinding melihat gadis-gadis ganas di bawah sana.

"Benar, walau sehebat apapun taktik Shikamaru, kurasa menyingkirkan fans fanatik sangat mustahil, bahkan fansnya sendiripun tak bisa ia singkirkan" kata Neji datar namun membuat emosi sang Nara memuncak.

Melihat situasi yang mulai memanas antara dua pangeran yang notabene adalah temannya sendiri, Sai pun lansung mengalihkan topic pembicaraan agar kembali kejalan yang benar.

"Lalu… Bagaimana cara kita pergi?" Tanya Sai sambil melirik segerombolan gadis yang membawa kain kusut yang tertoreh namanya diatas.

"Jangan katakana, kita harus melewati mereka!" kata Kiba merinding. Oh ayolah, siapa sih yang mau melewati gerombolan orang-orang yang tergila-gila padamu, melakukan cara apapun untuk menyentuhmu, membuat baju kesayanganmu tak berbentuk dan tubuhmu dipenuhi cakaran. Siapa yang mau?

"Sas…bukankah semua keluarga Uchiha memiliki satu *Rilke-ring?"Tanya Shikamaru pada pemuda yang sedari tadi tak bersuara.

"Hn…kenapa?" Tanya Sasuke sok nggak tau.

"Sudah jelaskan? Gunakan cincinmu itu untuk memindahkan kita langsung ke Kumo!" Seru Sai emosi dengan kepura-puraan si Sasuke.

"Rilke-ring hanya digunakan saat kondisi benar-benar genting"sahut Sasuke menjelaskan.

"Lalu kau pikir ini tidak genting?" Tanya Kiba ikut-ikutan emosi. Sasuke pun mencoba mebaca keadaan, ia melihat bergerombol-gerombol gadis menatapnya dengan tatapan genit yang menyebabkan rasa mual yang berlebihan pada dirinya. Tanpa berpikir lebih jauh ia lansung menganggap ini kondisi yang sangat genting.

"Baiklah semuanya, berpegang padaku." Kata Sasuke yang membuat lega teman-temannya, karena mereka tidak ingin mati muda, apalagi sebelum menikah.

"Dari tadi kek" gerutu kiba dan Sai. Setelah itu Sasuke membaca mantra yang sama sekali tidak singkat, kemudian muncullah kabut yang menyelimuti mereka. Setelah kabut itu menghilang, para pangeran itupun menghilang bagai ditelan bumi.

.

.

Tokyo Gakuen

Tokyo Gakuen adalah sekolah biasa yang tidak masuk taraf internasional, namun peminatnya tak pernah berkurang dari tahun-ketahun. Disinilah Naruto dkk bersekolah, mereka selalu menjalankan misi-misi dari kepolisian tanpa diketahui pihak sekolah, hanya kepala sekolah dan wali kelas mereka yang diberi tahu tentang hal ini. Mereka kadang menjalankan misi hingga berminggu-minggu, sehingga mereka tidak dapat hadir kesekolah karena misi mereka diluar daerah. namun, para guru tak bisa komplent mengingat nilai mereka selalu tinggi dan Hinata, Sakura, dan Tenten adalah peraih juara Umum 1, 2, 3 disekolah ini. Meski sudah seminggu tak ke sekolah, mereka melangkah dengan penuh percaya diri memasuki gerbang sekolahnya.

"Hei, lihat itu. Hari ini mereka kesekolah." Kata Guren pada temannya.

"Siapa mereka?" Tanya Camellia pada Guren.

"Oh iya, kau baru pindah minggu kemarin ya. Mereka pun jarangg sekali datang kesekolah." Gumam Guren.

"Mereka itu cewek terpopuler di sekolah ini, selain cantik mereka juga cerdas. Namun sayang, sepertinya mereka nggak tertarik sama cowok, bahkan sempat digosipkan mereka itu lesbi."jelas Guren agak merinding.

"Hah? Kenapa sampai ada gosip begitu?" Tanya seseorang dibelakang mereka yang ternyata adalah Naruto.

"Kyaaaa." Teriak Guren dan Camellia yang kaget dengan kemunculan tiba-tiba Naruto.

"Na…Naru, ke..napa…?" Tanya Guren tergagap.

"Aah…tadi aku melihat kalian terus menunjuk kearah kami, aku pikir ada yang ingin kalian sampaikan." Jelas Naruto. "Jadi…. Apa maksudnya, kalau kami itu lesbi?" Tanya Naruto.

"Itu…anu…bu…" Racau Guren tak jelas dengan keringat dingin menetes dari keningnya. Oh ayolah, siapa yang mau jadi musuh super star di sekolah ini? Karena kalau ada yang berani, mereka akan dibully sampai mengundurkan diri dari sekolah.

"Itu karena, tingkah sok kalian yang selalu menolak cowok-cowok terkeren nan kaya dan lebih memilih menghabiskan waktu sesama kalian dari pada berkencan dengan mereka." Sahut seorang cewek berambut pink panjang dengan name taq Tayuya di dada kirinya.

"Tayuya? Apa yang kau katakan…" pekik Guren tertahan sambil memandang Naruto harap-harap cemas. Namun yang dipandangi malah mengangguk-anggukkan kepalanya seolah yang didengarnya adalah solusi bukannya penghinaan.

"Heii…kenapa Cuma diam?" Tanya Tayuya merasa dongkol karena kalimatnya tak ditanggapi. Guren hanya bisa pasrah melihat aksi teman dekatnya.

'Oh…jadi itu masalahnya' batin Naruto sambil nyengir. Guren,Tayuya, beserta Camellia bergidik melihat orang didepannya sedang nyengir tapi dibayangan mereka malah seperti seringaian.

"Bukankah itu keberuntungan untuk kalian? Kalau kami pacaran dengan mereka, lalu kalian bagaimana?" Tanya Naruto pada siswi didepannya.

Sedangkan Tayuya dan Guren terbengong-bengong mendengar jawaban sang tersangka, yang kelewat simple. Seperti seorang pencuri yang jika ditanya kenapa ia mencuri, dengan santai menjawab karena mereka suka.

"Kalian ini bagaimana? Kalau kami jadian dengan mereka, kalian marah karena kami merebut pangeran kalian, tapi kalau kami tolak, kalian bilang kami ini jual mahal. Lalu mau kalian apa?" Tanya Naruto yang entah kenapa, tiba-tiba serius dengan wajah tanpa cengiran dan pandangan tajam. Membuat Tayuya dkk merasa takut dan was-was.

"Naru..sedang apa kau disitu? Bel sudah berbunyi." Teriak Sakura agar Naruto segara memasuki kelas.

"Baik…" Sahut Naruto yang sudah kembali ceria, meninggalkan Tayuya dkk yang masih tercengang dengan sifatnya yang dengan mudahnya berubah-ubah.

.

.

.

"Jadi…kita ada dimana…" Tanya Neji memandang ngeri sekelilingnya, Nampak sebuah desa yang asri tanpa gedung pencakar langit, kedai-kedai sederhana dan orang-orang yang terus berlalu lalang. tapi bukan itu masalahnya.

"Apa-apaan pakaian mereka itu?" Tanya Kiba dengan wajah pucat. Nah inilah masalah dari tempat ini, mereka meliha semua orang disekeliling mereka memakai pakaian super ketat dengan warna-warna ngejreng. Persis seperti pakaian Lee namun dalam berbagai warna dikenakan oleh semua orang disitu tanpa terkecuali, baik laki-laki maupun perempuan dan yang tua maupun yang muda(Benar-benar dunia impian Lee dan Gai).

"Jangan-jangan kita berpindah kedimensi makhluk aneh." Kata Sai dengan wajah poker facenya.

"Dasar cincin sialan." Kata Sasuke sambil membanting cincinnya hingga hancur. Saat ini sepertinya ia lebih memilih melihat fans-fansnya dari pada kloninng-kloning temannya, Lee dalam warna berbeda.

"Tenanglah kalian semua. Sepertinya ini masih di benua api, mungkin ini salah satu desa di Kumo." Jelas Shikamaru menenangkan teman-temannya yang hampir kehilangan akal sehat mereka.

"Hah, jadi benar gosip yang mengatakan, bahwa desa yang menjadi perbatasan antara dimensi itu desa yang aneh, tapi ini sih kelewat eneh." Kata Sai, sedangkan Sasuke menyesali perbuatannya yang telah menghancurkan Rilke-ring.

"Lalu, apakah batu yang diberikan oleh Tsunade-sama itu menunjukkan reaksi?" tanya Neji mengingatkan teman-temannya akan tujuan awal mereka datang kemari.

"Hhmmm, batu ini sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun." Kata Shikamaru.

"Baiklah kalau begitu, ayo kita berkeliling." Usul Kiba yang ditanggapi dengan persetujuan teman-temannya.

"Hn." Guman Sasuke yang kemudian mengikuti langkah teman-temannya berkeliling desa yang aneh ini untuk mencari lima pendekar yang nantinya akan menyelamatkan Negara mereka. Di mulailah pencarian mereka yang melelahkan, dengan sesekali menutup mata agar tak melihat pemandangan yang membuat mual dan merusak mata itu.

.

.

.

Tokyo Gakuen

Saat ini Naruto dkk tengah duduk-duduk sambil bergosip ria didalam kelas karena sang guru yang tak dapat hadir dan mengajar seperti biasanya karena sedang ada rapat. Namun, kegiatan mereka terganggu oleh nada dering dari handphone hinata berbunyi.

"Moshi-moshi, ini Hinata ada apa inspektur Ibiki?" ucap Hinata membuat teman-temannya lansung terdiam dan saling berpandangan karena merasa firasat buruk.

"Apa?." Pekik Hinata shock setelah mendengar berita yang mengejutkan dari inspektur Ibiki.

"Baiklah kami akan segera kesana." Kata hinata yang sudah pulih dari rasa kagetnya dan menutup handponenya.

"Hipotesa Naru benar, namun kita salah memperhitungkan waktunya dan… itu telah terjadi." Kata Hinata yang membuat semua temannya terkejut tak terkecuali Naruto.

~Flasback on

"Ini hanya dugaanku, sasaran para perampok itu bukanlah gedung keempat toko permata itu. Melainkan gedung permata terbesar yang terdapat di samping kantor pusat kepolisian Tokyo." Jelas Naruto pada teman-temannya yang kini sedang mendengarkan hipotesisnya dengan serius.

Mendengar pendapat dari Naruto, Sakura, Hinata, dan Ino serta Tenten hanya bisa shock dan terkejut.

"Lalu mereka melakukan perampokan selama ini hanya untuk pengalih perhatian agar semua polisi berjaga di gedung itu sehari sebelum perampokan biasanya terjadi. Dan pada saat itu pusat kepolisian pasti renggang pengawasannya sehingga mudah bagi mereka untuk beraksi." Sambung Naruto lagi

~Flasback of

Sekarang Ino dan Sakura sibuk berlari-larian dikolidor menuju tempat parkir. mereka memang ke sekolah selalu mengendarai mobil.

"Ino cepatlah, kita harus mengeluarkan mobil dari parkiran." Kata Sakura yang berlari mendahului Ino.

"Iya…tunggu aku." Teriak Ino sambil mengejar Sakura. Saat ini Sakura dan Ino bertugas mengeluarkan mobil dari tempat parkiran yang banyak muatannya itu, sedangkan Naruto sedang berlari keruang wali kelasnya untuk minta izin pulang lebih awal, dan meminta tanda tangannya. Karna tanpa tanda tangan dari wali kelas atau guru yang piket, satpam tak akan membiarkan mereka keluar. Tenten masih dikelas untuk mengurus barang teman-temannya untuk dibawa ke mobil nanti, dan Hinata kini sedang mencari informasi tentang daerah yang akan mereka kunjungi di warnet sekolahannya ia kembali teringat kata-kata inspektur Ibiki. "Hinata, perampokan telah terjadi di Gedung terbesar toko permata disamping kantor kami. Kami benar-benar mendapat malu karena hal ini, kami tak dapat mendapat melindungi gedung itu, padahal bersebelahan." Tutur Ibiki

"Kami semua sibuk memperketat keamanan digedung keempat, sehingga melalaikan tugas kami sebagai polisi untuk melindungi semua tempat, bukan hanya gedung itu. Sekarang mereka kabur ke bukit Miho, tolong kalian kejar. Tolonglah, Hanya kalian yang bisa.

"Hinata, ayo cepat Ino dan Sakura sudah menunggu di parkiran." Teriak Naruto membangunkan Hinata dari lamunannya dan segera berlari menuju tempat parkir. Yang lain sudah menunggu didalam mobil dan mereka pun berangkat.

Bruummmm

.

.

.

Saat ini para pangeran kita sedang beristirahat sambil bersender di sebuah sumur tua yang jauh dari keramaian. Terlihat sekali mereka sedang dahaga bagai berada di gurun pasir tak diketahui dimana oase-nya.

"Sai…." Panggil Kiba dengan wajah memelas.

"apa?"Tanya Sai tak mengerti masud dari tatapan melasnya Kiba.

"Sihirmu itukan dapat mengeluarkan apapun dari kertas, kenapa tidak kau keluarkan saja orange jus?"Tanya kiba yang disambut sweatdroped berjamaah.

"Kib, sihirnya itu hanya dapat mengeluarkan makluhk-makhluk hidup, warnanya pun hitam bukannya orange." Sahut Sasuke

"kalau begitu kopi saja bagaimana? Warna-nyakan hitam putih!" tawar Kiba.

"Kau pikir aku ini tukang sulap apa?"ketus Sai.

Oke lupakan perdebatan nggak jelas mereka. Mari kita lihat cewek-cewek yang udah sampai ke bukit Miho. Segera mereka mencari jejak sang perampok. Tiba-tiba Naruto melihat sekelibat bayangan di arah 3 jarum jam. Lansung saja ia mengajak taman-temannya untuk memastikan itu.

Saat sampai ditempat yang ia yakini melihat bayangan tadi, mereka melihat sebuah sumur tua. Mereka pikir,mungkin ada sesuatu disana. Dan benar apa yang mereka pikirkan, karena disana ada sebuah koper yang sepertinya mereka cari.

"Hei itu koper yang kita cari?"Tanya Naruto

"Ya…sepertinya benar" Sahut Tenten.

Tanpa mereka sadari ada segerombolan orang yang sedang menyeringai pada mereka, gerombolan itu mendekati mereka yang sedang lengah dan mendorong mereka kedalam sumur….

"KYAAAAAA" Teriak Naruto, Sakura, Ino dan Tenten serta Hinata saat jatuh ke sumur yang seolah tak berujung.

*TBC*

*Rilke-ring adalah cincin yang terbuat dari makhluk air yang berfungsi untuk memindahkan kita ketempat yang kita inginkan,tapi kita harus sudah pernah pergi kesana sebelumnya.

Balasan review:

Misyel-senpai,

Terima kasih udah mau baca and ngeriview fanfic gaje nan lebay agon. Saya benar-benar terharu. Hiks tolong review lagi ya!

Hatake-sama-sensei,

Terimakasih atas review dan nasehatnya, tapi Agon agak kurang dalam mendeskripsikan sesuatu. Tapi saya akan coba . Sekali lagi terimakasih kalo baca jangan lupa review ya!

Oke minna, untuk menambah semangat Agon dalam mengetik fanfic tolong reviewnya ya!

REVIEW n REVIEW.