Genre : Family-Range, Incest, GS for All Uke
Rating : M
Length : Chaptered
Cast :
Oh Sehun
Xi Luhan
Others
.
Perhatian! terdapat adegan NC di awal chapter ini
.
.
Princess Jewel Shiny Present
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
-Previous-
"Hah.. dinginnya" Ujar sang kakak merangkul pinggang sang adik
"Tentu saja, hujannya sangat deras dan membuat malam ini terasa begitu dingin" lalu Luhan merasakan sebuah tangan merambat ke bagian atasnya
"Kalau begitu apakah kau mau menghangatkan malam bersamaku?" tawar sang kakak lalu meremas dada sang adik
"Mhh.." Luhan melenguh dan hanya memberikan anggukkan kepalanya sebagai jawaban
.
.
.
- How Jerk Is My Family (Chapter 2) -
.
.
.
Sang kakak pun mendekatkan wajahnya kearah sang adik lalu menempelkan bibir mereka dan dengan gemas ia menarik serta mengigit bibir bagian bawah Luhan.
"Akhh.." Erang Luhan lalu membuka mulutnya dan langsung disumpali dengan lidah penuh sang kakak membelitnya, hingga terdengar suara kecapan-kecapan akibat percumbuan mereka
Tangan sang kakak pun tidak tinggal diam, tangan kirinya ia gunakan untuk meremas dada Luhan secara bergantian dan tangan Luhan pun kini mengalungi lehernya, seakan mendapat lampu hijau, tangan kanan sang kakak pun menekan tengkuk Luhan guna memperdalam cumbuan mereka.
"Aku merindukanmu Luhan" geram sang kakak dengan nada rendah
Tanpa menunggu jawaban Luhan, sang kakak langsung menyampirkan Luhan di pundaknya bak seonggok karung beras dan membawanya ke kamarnya.
~Brak~
Dengan kasar sang kakak menghempaskan tubuh Luhan ke ranjangnya lalu merangkak naik, mengungkung Luhan di bawahnya, pandangan mereka pun beradu.
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang" gumam sang kakak
"Apa?" Tanya Luhan
"Kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan.. menggoda"
"Oppa baru menyadarinya?" Jawab Luhan mengedipkan sebelah matanya
Luhan menarik tengkuk sang kakak yang berada diatasnya, lalu dengan ganas meraup bibir sang kakak yang dengan senang hati menyambutnya.
"Mhh" Luhan melenguh saat tangan sang kakak menyingkap baju nya dan mulai membelai perut ratanya dari dalam, tangan Luhan pun tidak tinggal diam, ia bawa tangannya menuju pusat gairah sang kakak dan membelainya pelan dari luar celana yang sang kakak kenakan.
Ciuman sang kakak pun turun menuju leher Luhan, menghirup aroma bayi yang masih melekat pada diri Luhan, menjilatnya lalu mengigitnya pelan hingga meninggalkan bekas yang tidak begitu kentara di kulit Luhan dan Luhan menyadari sesuatu yang terasa janggal.
"Ada apa? Apa oppa takut?" Tanya Luhan setelah merasakan gigitan sang kakak yang seakan ragu dan mensejajarkan wajah mereka
"Bukan, hanya saja ini pertama kalinya kita melakukannya lagi setelah waktu yang lama, aku hanya jadi.. kurang terbiasa, mungkin" Jawab sang kakak –menurut Luhan - terdengar palsu
"Kalau begitu ayo buat diri kita terbiasa dengan ini"
"Atau mungkin sebaiknya tidak, aku hanya takut ini akan menjadi kebiasaanku" jawab sang kakak menolak
"Yang mana? Bagian mana yang membuat oppa takut?" Tanya Luhan kebingungan
"Memberi tanda, hanya saja aku kurang suka dengan bagian itu" jawab sang kakak dengan alasan yang menurut Luhan terlalu munafik
"Baiklah, setidaknya inti seks bukanlah hanya sebuah kissmark" Jawab Luhan dengan nada yang terdengar tidak suka
"Kalau begitu bisa kita lanjutkan?"
"Hm.. Baiklah"
Sang kakak pun meloloskan baju Luhan dari tubuhnya dan seketika dua buah bongkah dada berisi tersaji dihadapannya dan tanpa ragu ia melahapnya, menghisap dan menjilatnya rakus bak bayi sekarat serta tangannya pun meremas dan mencubit gemas nipple Luhan yang tak terjamah oleh mulutnya.
"Ahn.. oppa" Desah Luhan menggeliat kecil, tangan Luhan pun menarik-narik baju sang kakak dan seakan mengerti sang kakak pun ikut meloloskan bajunya.
Tangan sang kakak yang menganggur pun ia bawa untuk mengelus klitoris Luhan dari luar celana dalamnya, dengan tak sabar Luhan menarik tengkuk sang kakak lalu mengamitnya dan membalikkan posisi mereka, sehingga kini Luhan berada diatas menduduki kejantanan sang kakak.
"Biar aku yang melakukannya"ujar Luhan yang hanya dibalas seringaian oleh sang kakak
Dengan tidak sabar Luhan melepaskan celana dalamnya sendiri dan melepaskan seluruh kain yang masih tersisa di tubuh sang kakak lalu terpampanglah di hadapannya penis berurat sang kakak, Luhan pun langsung menyambarnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Arggh.. Terus Lu.. Seperti itu" Luhan pun menaikkan tempo kulumannya
"Arghh.. Arggh.. Lu sebentar lagi" Geram sang kakak saat akan mencapai puncaknya, dengan tiba-tiba Luhan melepaskan kulumannya
"Tidak berpikir aku akan membiarkan oppa klimaks di dalam mulutku kan?" Ujar Luhan lalu meludahi penis sang kakak
Luhan pun merangkak kembali kepangkuan sang kakak, mengangkat sedikit bokongnya sambil memegang penis sang kakak lalu dengan perlahan ia memasukkannya ke dalam vaginanya dan mulai menggenjot dengan tempo cepat.
"Ahh.. Ah.. Ahh.." Desah Luhan saat penis sang kakak berkali-kali menghujam titik kenikmatan dalam tubuhnya, surai kelam miliknya pun berkibas menambahkan kesan seksi di mata sang kakak
"Arrgh Lu kauhh nikmat, ter-ushh Lu hmm" Desah sang kakak bersahutan
Pemandangan indah pun tersaji di hadapan sang kakak, penisnya yang keluar masuk di dalam sana serta kedua payudara berisi Luhan yang ikut turun naikseirama dengan genjotannya, ia pun memegang panggul Luhan membantunya menaik turunkan tubuhnya.
Karna tak mau di anggap pasif, sang kakak pun membalikkan posisi mereka lalu mengangkakkan kaki Luhan lebar-lebar dan dengan tak sabar memasukkan kembali penisnya kedalam vagina Luhan, tangannya yang menganggur pun ia gunakan untuk meremas kedua dada Luhan.
"Oppa yahh terrush di-hmm situ eungh" Desah Luhan dengan mata terpejam
"Kenapa Lu? Apahh penishh op-pa mem-mh buath muhh nikmat? Ahh.. Ah.. Desahhh kan nama oppahh Lu"
"Nyahh.. op-pa mm Chan-yeolll oppaaa akuhh suka Ah.. hnn.." Erang Luhan
Kamar itu pun menjadi saksi –lagi- akan nafsu birahi dari sepasang lelaki dan wanita yang untuk kali ini berstatus sebagai sepasang kakak dan adik, desahan dan erangan dari keduanya pun seakan menjadi lagu pengiring pada dinginnya malam itu.
.
.
.
.
Paginya Luhan merasa terusik dari tidurnya saat merasakan benda basah berkeliaran disekitar dadanya, dan saat membuka mata pemandangan yang tersaji di hadapannya adalah kepala dan tangan sang kakak yang tengah bermain di payudaranya.
"Ehmm.. Apa yang kau lakukan oppa?" Tanya Luhan
"Mengambil jatah susu pagiku" Jawab Chanyeol santai
"Ayolah oppa hentikan, aku ingin mandi"
"Hmm.. Mau mandi bersama?" tawar sang kakak
"Tidak terima kasih"
"Ayolah jangan sok jual mahal begitu" setelah itu Chanyeol memasukkan –kembali- penisnya ke dalam vagina Luhan
"Oh sial, keluarkan sekarang" titah Luhan
"Kupikir morning sex di Minggu pagi tidak buruk" goda Chanyeol dengan brutal menggenjot vagina Luhan
"Ashh.. Oppahhh akuhh harussh mandiii" Terang Luhan di sela desahannya
Chanyeol pun mengalungkan kedua kaki Luhan ke pinggangnya lalu menggangkat tubuh Luhan tanpa melepaskan pergumulan mereka dan membawanya ke kamar mandi, desahan dan erangan pun kembali menghiasi awal minggu pagi mereka kali ini.
.
.
.
.
~ Dapur ~
Luhan sedang berkutat dengan beberapa bahan makanan di hadapannya, mencoba mengolah sayur, beberapa potongan daging serta beberapa butir telur untuk sarapannya dengan sang kakak.
"Sandwich?" Tanya Luhan entah pada siapa
Tak lama setelah itu sang kakak datang dengan setelan santainya, kaos putih polos berlengan pendek yang dipadu padankan dengan celana selutut berwarna krem. Dan Luhan pun juga memakai setelan yang hampir sama, kaos putih polos berlengan panjang serta hotpants jeans bermotif sobek.
"Setelan yang serasi dan sang wanita yang tengah membuatkan sarapan di minggu pagi, bukankah kita seperti pasangan suami-istri yang baru menikah?" Canda sang kakak
"Dalam mimpi mu"
"Mimpiku? Berarti semua terserahku?"
"Daripada terus mengoceh tidak jelas, bisakah oppa ku yang tersayang ini membantuku?"
"Tentu saja, oppa mu yang tampan dan baik hati ini pasti akan membantu adiknya yang sangat cantik itu" jawab Chanyeol terdengar menjengkelkan
"Buatkan susu dan siapkan piringnya" Suruh Luhan
Sang kakak pun mengambil dua buah gelas di nakas lalu mendekat kearah Luhan dan mengarahkan tangannya ke dada Luhan yang dengan sigap menepisnya.
"Oppa mau apa?" Tanya Luhan
"Membuat susu" Jawab Chanyeol dengan wajah sok polosnya
"Yang kumaksud susu yang ada di rak, bukan yang ada dibalik bajuku oppa" Jawab Luhan dengan tatapan datarnya
"Hm.." Gumam Chanyeol lalu melaksanakan perintah Luhan
Beberapa saat kemudian Luhan sudah menyelesaikan masakannya dan Chanyeol pun sudah menyiapkan peralatan makannya, mereka pun menyantap sarapan pagi mereka bersama dengan saling melempar candaan diselanya.
~Drrt.. Drrtt.. Drrt..~
Telpon Chanyeol berdering
"Yeoboseyo, Mommy" ujar Chanyeol memulai percakapan
"Bagaimana kabarmu dan Luhan?" Tanya sang ibu
"Kami baik, dan kami sedang sarapan bersama sekarang" Jawab Chanyeol
"Loudspeaker sayang, mommy ingin mendengar suara Luhan juga"
Chanyeol pun mengetuk tanda seperti mic pada layar telponnya dan membiarkannya tergeletak begitu saja di atas meja.
"Luhanaah kau disana? Mommy dan daddy sudah sampai di Kanada" Tanya sang ibu
"Ya Mommy, syukurlah jika kalian sampai dengan selamat" Jawab Luhan
"Besok kalian UTS kan? Belajar dengan giat ya sayang, jangan buat rumah kita kebakaran" Terdengar kekehan kecil dari sang ibu di seberang sana
"Araso mom, bahkan tanpa belajar pun nilai ku tidak pernah jelek, kecuali Chanyeol oppa.. pffttt.." Ucap Luhan sambil menggigit bibirnya menahan tawa
"Wae? Wae? Wae? Nilai ku juga tidak pernah jelek" Seru Chanyeol tidak mau kalah
"Ne, Mommy percaya kalian, jaga diri kalian sayang mommy dan daddy mencintai kalian" Ujar sang ibu
"Ne, Aku juga mencintaimu mom" Balas Luhan dan Chanyeol pun mematikan sambungan telpon mereka
"Setelah ini apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Chanyeol
"Entahlah, sedang malas olahraga"
"Kalau oppa lihat, sepertinya perutmu mulai menimbum banyak lemak, tetap tidak ingin olahraga?"
"Kapan?" Tanya Luhan
"Apanya?" Tanya Chanyeol balik
"Melihat perutku"
"Oh.. Tadi malam"
"Heol.. Aku selesai.. Jika oppa sudah selesai, cuci piringnya sendiri " Titah Luhan lalu berdiri menuju bak cuci piring
"Hm.."
.
.
.
.
Setelahnya Luhan hanya bermalas-malasan di ruang tv, merebahkan dirinya di sofa sambil menonton acara gossip di siang hari. Lalu Chanyeol datang dan duduk di sofa single yang berada di samping sofa yang tengah Luhan rebahi.
"Berapa lama UTS mu" Ujar Chanyeol membuka percakapan
"10 hari" jawab Luhan singkat
"2 minggu pfftt.. selamat anak kelas satu" ujar Chanyeol menahan tawa (mereka sekolah hanya senin-jum'at)
"Huwaa.. Mereka memang menyebalkan, mereka bilang karna anak kelas satu belum memiliki jurusan jadi mereka mengujikan semua mata pelajaran" Jawab Luhan manja dan merengek pada kakaknya
"Mereka siapa yang kau maksud?"
"Guru-guru itu, siapa lagi?"
"Jangan mengumpat pada gurumu, tanpa mereka kau tidak akan pintar" Jawab Chanyeol menyentil dahi Luhan
"Akhh.. Sakit, memangnya oppa UTS berapa hari?" Ujar Luhan sambil mengusap dahinya
"7 hari"
"Hee.. Sebentar sekali, enaknya jadi oppa"
"Kau kira, oppa bahkan setres memikirkan bagaimana ujian nanti"
Tak ada percakapan lagi diantara mereka, sepanjang hari itu pun hanya mereka habiskan untuk bermalas-malasan satu sama lain, hingga malam menjelang.
.
.
.
.
Ke esokan paginya Luhan dan Chanyeol bergegas menuju sekolah bersama menggunakan mobil milik Chanyeol untuk mengikuti UTS yang akan berlangsung selama kurang lebih dua minggu.
.
.
.
.
Dua minggu itu pun menjadi dua minggu yang membosankan bagi Luhan maupun Chanyeol, namun mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersantai di hari libur guna menghilangkan penat akan rutinitas mereka.
.
.
.
.
~ Jum'at Malam ~
"Hah, senangnya UTS sudah berakhir," Ucap Luhan yang tengah menikmati makan malamnya bersama sang kakak
"Bagaimana UTS mu?" Tanya Chanyeol
"Mengerikan.. Tapi sudah bebas, Woah.. Kenapa Jajjangmyeon ini rasanya berkali-kali lebih nikmat dari biasanya?" Seru Luhan heboh
"Kau berkata seperti habis perang saja, dan kau tau oppa malah merasa bosan, selama tiga hari tidak sekolah oppa mencoba mengencani beberapa wanita tapi tidak mendapatkan hasil sama sekali"
"Benarkah? Mungkin ketampanan oppa sudah memudar" jawab Luhan sekenanya
"Atau mungkin mata mereka yang minus"
"Kalau begitu jangan kencani wanita berkacamata"
Chanyeol tidak menjawab pernyataan Luhan lagi, namun ia hanya memandangi Luhan dengan seksama.
"Wae? Kenapa oppa memandangku seperti itu? Apa kuah jajjangmyeon mengotori wajahku?" Tanya Luhan beruntun
"Tidak, oppa hanya memikirkanmu yang sedang memakai bikini"
"Heol.. Pemikiran macam apa itu" Seru Luhan dan hanya di balas kekehan oleh Chanyeol
.
.
.
.
Satu minggu berlalu begitu saja untuk Luhan dan Chanyeol yang kerap di warnai dengan canda dan tawa oleh tingkah konyol sang kakak.
Kejadian tiga minggu yang lalu pun terulang kembali.. tidak di sofa, diatas meja ruang tv, kamar Luhan, taman bahkan gudang kini menjadi saksi bisu atas pergumulan kedua kakak beradik itu.
~Rabu Malam~
~Dapur~
Malam ini sama seperti malam yang biasanya tanpa kehadiran orang tua mereka, Luhan yang bertugas sebagai pembuat makanan itu pun tengah berkutat di dapur dengan dua bungkus ramyun instan di hadapannya.
"Masak apa hari ini?" Tanya Chanyeol yang tiba-tiba sudah ada di meja makan
"Hanya ramyun" Jawab Luhan sekenanya
"Oh.." Sahut Chanyeol lalu mendekat kearah Luhan
"Kau bisa tambahkan telur rebus ke dalamnya" ujar Chanyeol mengambil dua buah telur mentah lalu merebusnya di panci di sebelah Luhan (sumpah ini kebiasaan saya saat makan mie)
"Geurae" Selanjutnya hanya keterdiaman yang menyambut mereka
"Mungkin ini agak sedikit terlambat, tapi bagaimana nilai-nilaimu?" Tanya Chanyeol memecah keheningan
"Baik, setidaknya tidak ada ujian perbaikan untukku, bagaimana dengan oppa, apa masih ada nilai yang bagus?"
"Ada apa dengan pertanyaanmu, tentu saja bagus, well.. setidaknya hanya dua mata pelajaran yang membuatku harus mengikuti ujian perbaikan"
"Pfftt.. Hanya?"
"Wae kau ingin sombong?"
"Tidak mak-, ah sudah matang" Ujar Luhan lalu mengangkat panci panas berisi ramyun itu lalu menuangkannya ke dalam dua buah mangkuk
"Telurnya sudah matang?"
"Hm.." Angguk Chanyeol
"Biar aku yang mengupasnya" Saat Luhan akan mengupasnya Chanyeol merebutnya
"Tangan wanita harus tetap halus, jadi biar lelaki yang melakukan ini" ujar Chanyeol dengan –sok- jantannya lalu duduk di kursi seberang Luhan
Dengan lahap mereka menyantap ramyun di hadapan mereka, menit demi menit berlalu saat ramyun di kedua mangkuk mereka telah habis dan entah siapa yang memulai kini kedua bibir mereka tengah berpagutan.
Semakin lama mereka semakin berani dan kini tanpa di sadari Luhan sudah berada di atas meja tepat di hadapan Chanyeol dengan kedua kaki menjuntai, serta tangan Chanyeol yang mulai melucuti satu persatu piyama di tubuh Luhan lalu melepaskan celananya sendiri.
Dan –lagi- pergumulan itu terjadi, Luhan duduk di atas meja makan dengan kedua kaki mengangkang lebar dengan Chanyeol yang menggagahinya dalam posisi berdiri.
"Apa yang kalian lakukan?"
Dengan tiba-tiba sebuah teriakan mengejutkan mereka, keduanya pun menoleh lalu membulatkan kedua matanya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: Saya kambek.. Pada nyangka si kakak itu Sehun :v kasian kalo dia kakaknya kebagian encehnya dikit *apaini
Saya apdet lama karna modem saya lagi-lagi error dan belum diisi, juga terjadi kesalahan dan saya harus menulis ulang padahal udah sampai chap 3 :'(
Chap ini ngebosenin dan mengecewakan kan? saya tahu karna saya juga merasakannya, maafkan saya :'( karna saya rasa jika alurnya di percepat akan terkesan dipaksakan.
Terakhir saya mengucapkan banyak terima kasih buat yang sudah RFF, saya gk nyangka banyak yang respon ff ini dan semoga kalian tetap terhibur dgn ff saya.
-Sekian dari saya-
I Lup Yu Al
Salam Civok.. ~Muachh~
