(Huang Zitao. Wu Yifan) + Park Chanyeol

.|.

.|.

Kata para pujangga, cinta tidak mengenal apapun. Cinta sanggup menyeberangi batas sekaligus mengukurnya kembali. Cinta sanggup mengukir sebuah garis dan mengukuhkan pola-nya berkali-kali. Namun cinta yang aku miliki bukan hanya sekedar perandaian, cintaku nyata. Sama seperti kisah hidup dengan helaan nafas kasih di dalamnya.

.|.

.|.

Y-O-U

.

.

.

.

Semakin rela kau melepaskan

Semakin sedikit pula kemungkinan untuk ditinggalkan

Harumi Shiba

.

.

.

20 Juli 2000

"Hey, siapa namamu?" seorang anak kecil berusia 7 tahun, berambut hitam legam, berdiri ragu-ragu di balik sebuah batang pohon besar dengan kepala mungilnya mengintip malu-malu berusaha untuk melihat seorang anak kecil lain yang sekarang ini tengah duduk diam di sisi sebaliknya. Kepala anak kecil itu menunduk, pakaian yang dikenakannya berantakan dan terdapat banyak luka lebam-lebam di sekujur tubuhnya. Namun hal yang membuat bocah laki-laki yang masih berada di balik pohon tertegun adalah kenyataan bahwa sejak kedatangan anak itu di panti asuhan tempatnya tinggal, terhitung sekitar 3 jam yang lalu, anak berambut pirang tersebut sekalipun tidak mau berbicara kepada siapapun. Entah itu kepala panti, para pengasuh, ataupun pekerja lain yang ada disana, dia sedikitpun tidak mau bersuara. Zitao – nama anak kecil berambut hitam, mulai menduga jika anak itu bisu. Tapi pemikiran itu langsung ditepisnya ketika ia sempat mendengar sang anak bernyanyi-nyanyi kecil beberapa menit yang lalu.

Zitao penasaran

Zitao hanya ingin berkenalan dan memiliki teman

Semenjak ia tinggal di panti asuhan ini, tidak ada seorangpun yang ingin dekat dengan dirinya. Mereka membencinya tanpa alasan yang berarti. Mereka sering mengolok-ngolok Zitao bahwa dirinya adalah anak pembawa sial, karena itulah kedua orang tuanya tega membuangnya di penampungan ketika ia berumur 3 tahun. Tapi Zitao percaya itu hanyalah sebuah kebohongan. Baba dan Mamanya, tidak mungkin membuang dirinya-kan? Zitao anak yang baik dan penurut.

Mencoba berani, Zitao sedikit demi sedikit beringsut mendekati anak tampan berambut pirang tersebut. Berdiri di sebelahnya yang terdiam, dan karena masih tidak mendapatkan respon yang diharapkannya, Zitao tanpa sungkan langsung duduk disampingnya. Tangannya dengan gemetar terangkat, menempelkan sebuah plester kecil bergambar panda ke pelipis kiri anak pirang itu. Hingga sang empunya mengangkat kepalanya yang tertunduk karena terkejut.

Kelereng Hitam bertemu coklat muda

Dirinya seketika tertegun. Binar mata itu, adalah binar mata paling berkilauan yang pernah ia lihat seumur hidup. Begitu indah, misterius, namun juga tampak kesepian. Sama seperti dirinya.

"Apa itu masih sakit?"

Anak berusia sekitar 10 tahun itu masih saja bungkam, dengan netra kembarnya semakin intens mengamati makhluk indah di sampingnya. Matanya berkedip sekali lalu tanpa sadar mengusap lembut pucuk kepala Zitao. Yang saat ini sosoknya dalam mood bingung yang disengaja atau tidak -terlihat menggemaskan.

"Aku, Huang Zitao. Nama gege siapa?" anak itu seketika menarik kedua sisi bibirnya melengkung naik, walau samar. Perasaannya menghangat tiba-tiba mendengar lagi suara polos nan lembut tersebut. Suara ini merdu, berbeda sekali dibandingkan banyaknya suara yang sering ia dengar dulu. 'Mereka' terdengar kasar, penuh cacian dan yang paling ia benci adalah nada penuh tuduhan. Seolah ia adalah kesalahan yang sepatutnya harus dihilangkan, menyalahkan dirinya yang telah lahir ke dunia ini. Mungkin...

Kepalanya menunduk kembali, enggan lama-lama bertatapan dengan sepasang manik hitam yang begitu murni. Ia merasa takut, ia buruk, tidak pantas berdekatan dengan makhluk sepolos itu. Namun sebongkah sentuhan hangat membuatnya terjaga dari mimpi buruk, sentuhan tangan hangat dikedua pipinya menyadarkan sisi gelapnya bahwa ia tidak lagi perlu merasa sendirian. Ada sosok malaikat kecil di sampingnya. Malaikat kecil bernama 'Huang Zitao'

Dan setelahnya, ia tidak akan ragu lagi.

"Wu Yifan. Namaku Yifan."

Ia tidak akan pernah takut lagi menghadapi dunia. Meskipun seisi dunia menolak kehidupannya, seperti keluarga miliknya yang selalu mengharapkannya untuk lenyap, - Yifan, tidak akan pernah menyerah kembali untuk hidup.

.

.

.

23/02/2010 | 08:05 PM

To : LittlePanda

Subject : Terlambat

Maaf, malam ini gege terlambat pulang ke rumah. Jangan menungguku dan segeralah tidur. Kunci pintu depan dan minumlah obatmu, jangan sampai telat lagi. I love you.

- message delivered-

.

PUK!

"Hyung, kau sedang apa?"

Yifan tersentak kaget lalu buru-buru menutup ponsel-nya. Pria berusia 26 tahun itu menoleh dengan wajah keruh ketika mendapati seorang pria lain berdiri di belakangnya lengkap dengan senyum lebarnya yang kadang-kadang menjengkelkan. Yifan mendengus, kembali berkutat dengan kegiatan yang sebelumnya tertunda, melihat layar ponsel.

Pria itu, Park Chanyeol, seketika mengerutkan dahi bingung. Ia menggeser posisi berdirinya lalu dengan tidak sopannya mengintip apa yang dilakukan oleh Yifan. Padahal Yifan adalah bos-nya sendiri di perusahaan, sedangkan Chanyeol adalah salah satu wakilnya. Namun, itu tidaklah berlaku jika sudah usai jam kantor seperti ini. Peran mereka seketika berubah menjadi dua sahabat karib yang sejujurnya jarang akur satu sama lain. Salahkan sifat Chanyeol yang kadang-kadang sering membuat Yifan naik darah.

Melihat apa yang sedang digeluti sahabatnya, Chanyeol hanya tersenyum samar. Ia sempat berdehem kecil sebelum kembali bersuara.

"Yifan-hyung, pulanglah. Kau sudah 2 hari tidak pulang ke rumah-kan?"

Yifan bergeming, masih mengamati ponsel di tangan kirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Helaan nafas kecil terdengar dari celah bibirnya, ia kemudian menoleh dan memandang Chanyeol datar walaupun terkesan lemah.

"Tidak ada yang menungguku pulang." jawabnya singkat. Lalu berjalan melewati Chanyeol dengan sebelah tangan kembali mengotak-atik ponselnya. Menghiraukan sang sahabat yang kini tengah mendengus sebal sekaligus prihatin menghadapi tingkah lakunya. Chanyeol sudah terbiasa menghadapi hal itu bertahun-tahun lamanya.

"Terserah kau saja, hyung. Dasar keras kepala." bisiknya ditengah-tengah kesunyian, karena sosok Yifan sudah berlalu dari ruang kerja pribadinya.

.

.

23/02/2010 | 11:47 PM

To : LittlePanda

Subject : Mimpi indah

Sepertinya gege tidak akan pulang. Maaf, kau tidak apa-apa sendirian lagi malam ini-kan? Aku janji besok pagi akan pulang ke rumah. Selamat malam sayang, semoga mimpi indah. Maaf telah mengganggu waktu tidurmu.

-message delivered-

.

.

.

Keadaan ruang makan cukup hening. Hanya diisi oleh suara-suara benturan kecil antara sendok dan piring. Zitao duduk dikursinya dengan khusuk, pemuda yang tahun ini naik tingkat dua Senior High School itu sama sekali tidak terpengaruh dengan suara berisik samar-samar yang ada di sekitarnya. Maklum, ia tinggal di rumah kecil dengan keadaan tempat tinggal satu dengan yang lain jaraknya berdekatan. Perumahan tempatnya tinggal memang sederhana, cocok untuk kalangan kelas bawah seperti dirinya yang sejak dulu yatim piatu dan tidak mengenal orang tua.

Menunduk, Zitao mengamati ponsel yang tergeletak di atas meja samping kirinya. Dipandanginya layar benda sederhana itu lamat-lamat. Berharap layar hitam yang ada di sana berpendar dan bergetar pelan. Namun harapannya beberapa menit terakhir memang hanya sia-sia belaka. Benda itu tetap sunyi.

Pukul 07.10 AM

Zitao mendesah kecewa. Sebentar lagi ia harus bergegas untuk berangkat kalau tidak ingin terlambat ke sekolah. Tapi sedikitpun ia tidak bisa pergi dengan tenang jika sang gege belum pulang ke rumah mereka. Semalaman ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak hanya karena khawatir sang gege tidak akan kembali. Meskipun ia sendiri tahu, kakaknya tidak akan mungkin meninggalkannya seorang diri. Itu sudah janji mereka berdua.

Pukul 07:15 AM

Zitao akhirnya menyerah.

"Aku berangkat dulu, gege... "Bisiknya lirih entah pada siapa. Usai meminum obat, Ia beranjak dari tempat duduknya, menggendong ransel sedang warna abu-abu, lalu berjalan menuju pintu depan. Ia sudah meninggalkan sarapan untuk gege-nya di ruang makan, semoga sang kakak pagi ini benar-benar pulang sesuai janjinya dan Zitao tidak perlu lagi merasa khawatir. Ia hanya takut sendirian.

Setelah merapikan seragamnya dan selesai mengikat tali sepatu, ia membuka pintu rumah tepat seorang pemuda lain hendak membukanya dari luar. Mereka berdua masing-masing mematung. Hingga tubuh pemuda itu terhuyung sedikit kebelakang karena pelukan (tubrukan) dari Zitao. Bibirnya melengkung naik, menepuk lembut punggung pemuda panda tersebut sebagai penenang.

"Kenapa baru pulang?" lirih Zitao sekaligus melepas kegusarannya yang sejak tadi malam terus bercokol di dadanya. Mencoba untuk tidak terisak, Zitao semakin mengeratkan pelukan mereka berdua. Tidak sekalipun peduli meskipun pakaian sang gege sudah kotor dan bau keringat tercium kuat di udara. Sekali lagi, Zitao tidaklah peduli.

"Maaf, gege sibuk bekerja sayang ... "

Mata Zitao memanas. Lagi-lagi seperti itu. Tidak bisakah mereka kembali seperti dulu lagi? Zitao diam-diam tersenyum getir, merasa bodoh jika karena dirinya-lah sang gege banting tulang untuk menghidupi kebutuhan mereka berdua. Seandainya ia lebih berguna lagi dan tidak menjadi beban seperti ini, seandainya ia tidaklah sakit-sakitan seperti ini, seandainya saja...

"Sudah, jangan menangis. Hey, bukankah ini sudah hampir setengah delapan? Pergilah ke sekolah. Nanti kau terlambat."

Zitao menggeleng pelan di tengah-tengah pelukan mereka.

"Berangkatlah, gege janji akan berada di rumah katika kau pulang nanti." ujarnya lagi. Pemuda pirang itu melepaskan pelukan mereka lalu membagikan ciuman lembut di dahi Zitao. Sukses membuat sang empunya mengerjap pelan lalu setelahnya tersenyum lebar. Sebuah senyum hangat yang (percayalah) bisa mencairkan hati beku milik siapapun.

"Gege janji?" tuturnya penuh harap. Manik hitamnya berkilau, sehingga mau tidak mau, sang gege mengangguk pelan tanda meng'iya'kan. Tidak tega melukai sosok malaikat kecil yang sedari dulu berada di sisinya.

"Baiklah, kalau begitu aku berangkat. Sampai bertemu nanti siang~"

Setelah memberikan ciuman singkat di pipi, Zitao melangkah menjauh dengan langkah yang begitu riang. Tidak sekalipun sadar saat sepasang manik coklat memandangnya sendu di belakang tubuhnya. Ketika sampai di pertigaan sebuah jalan setapak, Zitao mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu mulai mengetikkan sesuatu.

.

.

.

24/02/2010 | 07:25 AM

From : LittlePanda

Subject : Jalan-jalan

Nanti siang gege harus menjemputku di sekolah. Aku ingin pergi jalan-jalan dengan gege, bolehkah? Sudah lama sejak terakhir kali kita pergi berdua. Mau ya? Ya? Kumohon~ Pokoknya aku tunggu!

-message received-

.

.

Yifan tersenyum lalu menutup ponsel flip-nya. Ia berdiri, mendekati pagar pembatas di atap gedung perusahaan miliknya. Atap bangunan itu dirancang sedemikian rupa sehingga nyaman untuk bersantai dan melepas penat, khususnya untuk Yifan sendiri. Karena memang tempat itu dibuat khusus untuk dirinya seorang dan tidak ada seorangpun yang boleh menginjakkan kaki di tempat itu. Tempat favorite Yifan, tempat ternyaman di dunia ini setelah keberadaannya di samping Zitao.

Diam-diam ia mengulum senyum. Sosoknya yang berdiri di dekat pembatas atap, dengan rambut pirangnya tertawan angin siang yang bertiup lembut, menjadikannya seperti jelmaan dewa yang diagungkan kesempurnaannya. Salah satu pahatan makhluk tuhan yang rupawan. Lebih dari sebutan apapun yang mencerminkan 'kesempurnaan' hidup yang dimiliknya, -Tampan, kaya dan terkenal- Yifan hanyalah manusia biasa yang masih memiliki sisi hambar.

Ia hidup, ia bernafas, ia juga masih menjalani rutinitas seperti kebanyakan manusia lainnya. Namun, sekali lagi ia hanya manusia biasa. Ia punya batas, ia memiliki dinding kokoh untuk dirinya sendiri. Lebih daripada milik orang lain, ia sedikit demi sedikit berusaha untuk mempertebal dinding tersebut. Karena ada sesuatu yang harus ia jaga. Ada seseorang, -malaikat kecil- yang sampai kapanpun akan Yifan jaga seumur hidup.

Drrttt!

Gadget miliknya bergetar pelan. Ia menghela nafas kecil sebelum merogoh benda pipih modern berwarna hitam dari saku jas-nya. Mengotak-atik sejenak, ia kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku.

"Nanti malam ya... " bisiknya terbawa angin.

Yifan berbalik, Sebelum benar-benar pergi, ia sempat membuka ponsel flip miliknya dan berkutat sejenak dengan benda sederhana tersebut.

.

.

24/02/2010 | 09:50 AM

To : LittlePanda

Subject : Pasti

Baiklah, aku pasti akan menjemputmu nanti siang. Bersiap-siaplah, gege akan membawamu ke sebuah tempat yang paling mengagumkan. Kau pasti suka. I love you, little angel . . .

-message delivered-

.

.

.

Zitao benar-benar tercengang. Ia tak menyangka sang gege membawanya ke sebuah tempat yang mengagumkan seperti ini. Setelah seharian mereka jalan-jalan ke berbagai tempat favorite Zitao seperti taman bermain, kedai eskrim hingga ke bioskop guna menonton film terbaru yang ditunggu-tunggu olehnya, kini tanpa disangka dirinya sendiri, sang gege membawanya ke sebuah atap bangunan kosong. Bangunan yang dulunya toko berlantai tiga yang saat ini sudah terbengkalai karena telah lama tidak dipergunakan. Di atas atap, Zitao masih terperangah kagum dengan pemandangan malam yang tersaji di depannya.

Langit bertahtakan bulan ditaburi banyak bintang yang berkelap-kelip cantik.

Sungguh, Zitao merasa seperti melihat mereka dari jarak dekat. Sangat dekat, seolah ia sanggup meraih salah satu-nya kapanpun ia mau. Jikalau memang bisa, ia ingin mengambil salah satu bintang dan memberikannya pada sang gege. Sosok yang hingga kini selalu menjaga dan melindunginya tanpa lelah.

"Nee gege, terima kasih... " ujarnya tulus. Berbalik dan menghadap sosok tersayang yang sejak tadi hanya diam mengamati tingkahnya.

"Terima kasih telah memberiku semua hal." imbuhnya, masih dengan lengkungan manis di bibir. Ia benar-benar tulus mengatakannya. Benar-benar bersyukur akan semua hal yang telah diberikan sang gege. Zitao tak peduli lagi tentang keberadaan orang tua ataupun keluarga. Zitao tak perlu lagi ada orang lain di sisinya.

Ia hanya perlu satu orang, ia hanya butuh sesosok dewa pelindung, yaitu sang kakak.

"Akulah yang seharusnya berterima kasih. Berkat dirimu, gege bisa bertahan hingga sekarang. Terima kasih, sayangku... "

Tanpa mengindahkan apapun lagi, Zitao langsung menerjang sosok pemuda berambut pirang tersebut. Air matanya menetes haru, bahagia mendengar sang gege begitu mempedulikan dirinya. Sosoknya yang bukan apa-apa.

Tuhan, sampai mati-pun hanya pemuda ini yang akan selalu menggenggam hatinya. Hingga ajal menjemputnya nanti, hanya sosok inilah yang akan selalu pasti memiliki hatinya. Ia sadar, jika waktu yang ia miliki saat ini tidaklah banyak.

Karena itu dengan mantab, bibirnya yang melengkung indah berbisik lembut juga menenangkan.

"Wu Yifan-gege, Wo ai ni..."

.

.

.

Special Edition (2016) - Dibalik keberhasilan dan kesuksesan pebisnis muda Wu Yifan

.

Majalah bisnis itu baru terbit dan beredar di pasaran sejam yang lalu. Tepatnya 01 Maret 2016 pukul 07.30 PM (malam). Chanyeol baru saja dengan antusias membuka dan membaca seluruh isinya lengkap tanpa tertinggal informasi sedikitpun. Majalah bisnis edisi kali ini khusus meliput tentang bos-nya sekaligus sang sahabat, Wu Yifan. Profile, bisnis, kedudukan dan seluruh aspek yang berkaitan.

Dimulai dari ia meniti karir sebagai wirausaha diusia yang masih tergolong muda, 20 tahun. Setelah sebelumnya ia pernah bergonta-ganti pekerjaan berulang kali karena memang dulunya ia hanya seorang lulusan SMA. Jatuh bangun, berlari, berjalan hingga merangkak, sudah berkali-kali Wu Yifan mengecap rasa-nya. Hingga semua perjuangan dan kerja kerasnya itu berbuah manis di tahun 2014 lalu, dirinya dinobatkan sebagai pebisnis muda yang paling berpengaruh di daratan Tiongkok. Eksistensinya yang dulu bukanlah siapa-siapa, bahkan kini figurnya disebut-sebut sebagai salah satu orang muda tersukses yang pernah ada. Sepak terjang kisah hidupnya seketika menjadi kejaran dan asupan para pengais berita.

Banyak yang akhirnya bertanya-tanya, apa atau siapa dibalik kesuksesan seorang Wu Yifan?

Dari situlah semua hal terungkap. Di dalam majalah itu disebutkan bahwa ada sesosok 'malaikat kecil' yang berada dibalik kejayaan dan kehebatan Wu Yifan. Sosok yang menurut informasi secara langsung, adalah seseorang yang menjadi alasan untuk sang pebisnis muda tetap melanjutkan langkah dan meraih mimpi-mimpinya. Karena tanpa sosok itu, disebutkan di dalamnya, Wu Yifan bukanlah apa-apa. Ia tidak akan pernah sesukses sekarang tanpa 'malaikat kecil' itu di sisinya.

Disebutkan lagi, -mereka berdua- telah saling mengenal sedari kecil. Dipertemukan di sebuah panti asuhan sederhana di pinggiran kota Beijing kala itu. Mereka akhirnya tumbuh bersama-sama hingga memutuskan untuk pindah dari panti asuhan saat Wu Yifan berumur 15 tahun. Pihak panti sempat menyebutkan jika mereka berdua (dulu) bagaikan kepala dan sepotong tubuh. Tidak bisa dipisahkan meskipun hanya sebentar. Begitu pula dengan tanggapan orang-orang terdekat (identitas dirahasiakan) bahwa mereka sejatinya sudah saling mengikat diri satu sama lain. Ada banyak ikatan yang bisa diutarakan seperti Persaudaraan, Cinta sejati, bahkan Belahan Jiwa

Hingga sampai pada titik puncak terakhir disebutkan, 'malaikat kecil' itu, siapakah sosok aslinya?

Seperti apa rupa wajahnya, sosok yang telah menjadi segala inspirasi bagi Wu Yifan?

Drrrttt!

Chanyeol terlonjak kaget, ia tengah fokus mengamati sebuah gambar di dalam majalah bisnis itu tepat suara getaran sebuah gadget mengganggunya. Mendesis pelan, ia meletakkan majalah itu ke atas meja. Mengotak-atik sejenak benda canggih itu lalu setelahnya ia membelalak horror.

"Sial, aku lupa lagi."

Panik. Chanyeol langsung beranjak dari ruang tamu apartement-nya dan berlari ke arah pintu. Ia benar-benar lupa akan janjinya dengan seseorang yang penting di luar sana malam ini. Ia bahkan tidak sempat menutup majalah bisnis yang masih tergeletak di atas meja, menampilkan dua buah potret wajah yang terpampang bersisihan.

Satu diantaranya, dikenal dengan nama Wu Yifan, lengkap memakai jas hitam formal yang begitu cocok dikenakan olehnya yang rupawan.

Sedangkan potret di sebelahnya, memperlihatkan seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun berambut hitam lembut dengan pakaian semi formal yang membalut sempurna tubuh rampingnya. Begitu menawan nan elok diwaktu bersamaan.

Kemudian di bawah gambar tersebut tertulis sebuah nama dengan tinta warna hitam.

- HUANG ZITAO -

.

.

.

.

01/03/2016 | 07:30 PM

To : LittlePanda

Subject : Selamat

Selamat untukmu panda kecilku, hari ini tepat 6 tahun kau pergi dari sisiku. Tepat hari ini pula, gege membiarkan semua orang mengingat perjalanan hidup kita berdua. Kau tidak keberatan-kan? Bagaimana kabarmu disana? Semoga kau selalu baik-baik saja. Gege sangat merindukanmu, sayang. I love you. I love you more. I love you forever.

Sending …

-message delivered-

.

.

Yifan menutup ponsel flip-nya tepat sebuah ponsel lain bergetar di tangan kirinya. Ponsel milik Zitao, dulu. Tangannya gemetar pelan hingga tanpa sadar, setetes air mata meluncur bebas dari sudut mata yang biasanya tajam. Ia mendongak, mengamati langit malam dengan jutaan bintang terbentang luas di singgasana langit.

"Zi, sudahkah kau melihat dari atas sana? Aku sudah sukses sekarang. Seandainya kau bisa menunggu sedikit lebih lama lagi, penyakit itu tidak akan pernah mengambilmu dari sisiku. Maafkan aku sayang, maaf karena telah gagal menjagamu."

.

.

.

.

.

'Cause you're the reason I feel alive

And there's nothing to — hold me down

You're the reason, I can spread my wings and fly

We have our own story

We all have the power to make a change

So just believe it

( Story – AI )

.

.

.

.

.

FIN