Kyuhyun dan Hyukkie asyik berbincang sambil berjalan menuju kelas. Ini sudah hampir tiga bulan dan sekolah sudah bisa mengatasi guncangan akibat kejadian dulu itu. Sekolah tetap ramai, para siswa tak jadi pindah. Ternyata diam-diam kejadian sebenarnya tersebar, meski hanya berupa rumor tak jelas. Entahlah.
Tapi hari ini kembali terlihat kerumunan-kerumunan. Sepertinya mereka asyik bergosip. Kyuhyun yang memang tak begitu pedulian, merangkul bahu Hyukkie, mengajaknya menjauh dari obrolan apapun itu. Hyukkie sebenarnya ingin tahu, tapi ia tak bisa menolak rangkulan Kyuhyun. Dengan bibir mengerucut, ia membiarkan dirinya ditarik Kyuhyun.
Setelah sampai di kelas Hyukkie dan memastikan Hyukkie duduk di bangkunya dengan benar, Kyuhyun melambai dan pergi ke kelasnya sendiri. Hyukkie menghela napas, sebenarnya ia merasa tak perlu lagi diperlakukan begitu oleh Kyuhyun. Tapi ya.. kembali ia tak bisa menolak. Ini sudah semacam rutinitas mereka sejak kecil.
"Hyukkie... kau tahu ada anak artis yang sekolah di sini loh..."
Hyukkie menyeringai –ternyata ia tak perlu penasaran lama-lama-, segera Hyukkie menoleh pada orang yang memanggilnya. Lalu tentunya Hyukkie menjadi pendengar setia tentang berita terbaru yang terjadi di sekolah mereka. Sesekali menimpalinya hanya bentuk perhatian saja, Hyukkie tak suka balas bergosip. Bel memutus perbincangan hot pagi itu. Seongsangnim masuk dengan seorang murid laki-laki yang menunduk dalam.
"Itu dia Hyukkie..." terdengar lagi bisikan di belakangnya.
Hyukkie hanya mengangguk. Keningnya sedikit berkerut. Ini yang ia tak suka kalau mendengarkan gosip, karena meski niatnya hanya ingin tahu tetap saja sedikit banyak ia terpengaruhi juga. Hyukkie berusaha mengenyahkan pikiran buruk tentang anak baru itu.
Tapi... ya.. benar ada aneh dengan siswa ini.
.
.
.
.
Reason (Lembar ke dua)
By Ciezie
Seluruh pemain bukan milik saya. Hanya meminjam nama dan sedikit karakter mereka. Fiksi yang terinspirasi dari kejadian nyata.
"Selalu ada alasan di balik peristiwa. Tentu saja tak selamanya itu alasan baik, kadang percaya tidak percaya alasan buruk lah yang ada karena manusia telah kehilangan sebagian sisi manusianya."
.
.
.
"Namanya Ricky..."
Kyuhyun mengangguk-angguk meski sambil tetap makan. Tentu saja mereka sedang ada di kantin dan kali ini Hyukkie lah yang jadi pembicara, sedangkan Kyuhyun sang pendengar.
"Orangnya imut Kyu... matanya keciiiiill seperti celengengan..."
Kyuhyun sedikit membeku, tapi ketika menoleh pada Hyukkie, anak itu masih asyik bercerita dengan polos. Kyuhyun meneruskan makannya sambil sesekali pikirannya menerawang.
"Tapi dia hanya diam sepanjang pelajaran. Tadi juga ketika istirahat dia tidak keluar Kyu. Aku ingin mengajak, tapi.. takutnya aku disangka.. ya ingin mendekatinya karena latar belakangnya itu..."
Ricky seperti cerita Hyukkie adalah anak dari pasangan artis terkenal. Sandra Park dan Park Jin. Pasangan suami istri ini laris di drama-drama Korea, meski kebanyakan hanya sebagai peran pembantu. Selain itu mereka juga cukup pandai dalam membawakan acara.
Sebelum memutuskan menikah mereka sempat menyangkal tentang kedekatan mereka. Meski sering dipasangkan dalam berbagai drama korea atau pun acara reality show, tapi mereka tetap mengaku hanya sebagai rekan kerja. Sampai ya pada akhirnya mereka mungkin tak sanggup lagi menutupi. Maka mereka pun go public tentang hubungan mereka, lalu melakukan pernikahan.
Awalnya karir mereka merosot, tapi mereka pasangan yang tak kenal menyerah dan jadilah mereka bisa membangun karirnya. Tapi belum lama mereka bisa menikmati ketenaran, muncul lagi masalah baru, ya soal anak mereka itu. Menurut gosip yang beredar, anak itu sama sekali tak mirip kedua orang tuanya, yang berarti kalau tidak hasil adopsi anak itu adalah hasil perselingkuhan Sandra Park.
"Harus kuakui dia memang tidak mirip Kyu.. tapi kan... pasti ada penjelasan ilmiahnya Kyu..."
Kyuhyun menghentikan makannya, sejujurnya ia sudah kehilangan selera makan dari tadi. Tapi kalau ia tiba-tiba menghentikan makan, Hyukkienya yang perasa itu pasti akan banyak bertanya dan Kyuhyun tak suka berbohong apalagi pada sahabatnya itu.
"Bisa jadi, kadang gen itu melintas generasi. Bisa jadi dia mirip kakek atau buyutnya. Dalam beberapa kasus pernah terjadi seperti itu."
Kyuhyun melihat Hyukkie tersenyum cerah, "Kalau aku bisa akrab dengannya akan kukatakan itu padanya Kyu..."
Kyu hanya tersenyum, selalu temannya yang satu itu memang tak bisa melihat orang yang bersedih tanpa ingin ikut campur di dalamnya dengan maksud membahagiakan mereka. Kyuhyun merangkul bahu Hyukkie. Pelan ia berbisik.
"Tapi ingat..."
"Dunia tak berjalan sesuai keinginanku..." potong Hyukkie membuat Kyuhyun terkekeh, "Aku sudah hapal kata-katamu itu."
"Tapi kau tetap tak bisa memahami maknanya kan?" Kyu mengacak rambut Hyukkie, membuatnya langsung mengerucutkan bibir tentu saja.
"Kauuu..." ucapan Hyukkie terhenti ketika dilihatnya Ricky yang berjalan melewati kantin. Hyukkie menyenggol bahu Kyuhyun. "Itu dia Kyu..."
Kyuhyun menatap Ricky sampai tak terlihat. Diam-diam ia menghela napas. Ia sebenarnya punya teori lain yang enggan ia sampaikan pada Hyukkie. Mungkin, ada kaitannya dengan sesuatu yang juga Kyuhyun lakukan.
.
.
.
.
"Eh maaf saya kira tak ada orang..."
Sosok itu tergagap dan begitu pun Hyukkie.
"Emmm Ricky... ssi... ma.. maaf.. saya..."
Tak Hyukkie sangka Ricky tersenyum manis. "Tak apa.. kau memerlukan obat? Aku hanya.. emmm sedikit lelah jadi ya aku ikut istirahat di sini..."
Hyukkie akhirnya masuk. Setelah meyakinkan diri tak ada maksud apa-apa dalam dirinya. Tak ada. Dia hanya ingin berteman dengan tulus.
"Aku hanya mengambil obat merah, tadi ada yang terjatuh..."
Dia mengangguk dan tersenyum.
"Ah iya... lanjutkan istirahatnya. Aku akan kembali ke kelas." Ucap Hyukkie setelah menemukan yang dicarinya.
"Terimakasih." Jawabnya dengan senyum.
Hyukkie balas senyum dan membungkuk. Sebelum pintu tertutup Hyukkie dapat melihat senyum itu memudar dari wajah Ricky.
.
.
.
.
Hyukkie bertemu lagi dengan Ricky ketika pulang sekolah. Ricky sedang berdiri di depan gerbang sepertinya menunggu jemputan, sedangkan Hyukkie juga menunggu Kyuhyun yang selalu saja ada urusan ketika semua murid sudah pulang. Hyukkie memberanikan diri untuk menyapa lagi.
"Hai.. kau menunggu jemputan?"
Ricky menoleh, setelah sesaat hanya menatap Hyukkie, ia lalu tersenyum. "Begitulah. Emmm kau?"
"Aku menunggu teman. Kami biasa pulang dan pergi sekolah bersama. Dan dia selalu saja ada urusan di tiap jam sekolah berakhir. Menyebalkan."
Ricky tersenyum, "Pasti menyenangkan."
"Hah?" Hyukkie menoleh dan mendapati pandangan redup Ricky.
"Menyenangkan kalau punya teman sedekat itu. Yang bisa dibagi apapun bersama."
Hyukkie tersenyum. "Kadang menyebalkan. Tapi ya lebih banyak menyenangkan. Emmm kau juga pasti punya teman kan?"
Ricky mengalihkan pandangan ke atas langit yang warnanya sendu. "Aku... aku tak punya. Dulu aku kira aku punya. Tapi teman takkan pergi ketika temannya mendapat masalah kan?"
Hyukkie mengerti, mungkin itu juga yang menyebabkan Ricky pindah sekolah. Gosip itu memang meledak belakangan ini. Dulu mereka keluarga yang terlihat normal dan bahagia. Hyukkie pernah melihat seluruh keluarga itu diwawancara dan mereka terlihat begitu bahagia. Dan tak ada orang yang menangkap ketidak miripan Ricky dengan kedua orang tuanya. Entah mengapa belakangan baru beredar soal ini.
"Hmmm mungkin mereka hanya terkejut dan tak bermaksud meninggalkanmu."
Ricky menoleh dan tersenyum lemah. "Mungkin..."
"Ah iya..." sebenarnya Hyukkie ragu mengatakan ini, tapi ia benar-benar ingin menghibur wajah kuyu itu. "Kau tahu kadang gen itu melintas generasi. Mungkin kau mirip dengan kakek atau kakek buyutmu."
Ricky terlihat membeku dan Hyukkie langsung memaki dirinya sendiri yang tak bisa menahan dirinya. Tapi tak lama Ricky menoleh dan mendekat. Giliran Hyukkie yang membeku di tempatnya.
"Kau mau jadi temanku Hyukkie?"
"Hah?"
Hyukkie buru-buru mengangguk dan bersyukur Ricky sama sekali tak marah dengan kekurangajarannya.
.
.
.
.
"Mau sampai kapan kau cemberut Kyu?"
Kyuhyun asyik menonton TV dan mengabaikan Hyukkie.
"Yaaaa... sampai kapan kau mau mendiamkanku?"
Hyukkie mendekat dan meletakkan minuman dan makanan ringan yang dibawanya dari dapur ke atas meja. Lalu ia mendudukkan dirinya di kursi, tepat di samping Kyuhyun.
"Aku hanya mengobrol dengan Ricky dan semuanya sudah kuceritakan padamu. Sama sekali tak ada yang kurahasiakan." Jelas Hyukkie ketika masih tak juga terdengar jawaban dari Kyuhyun.
Hyukkie mendesah dan meletakkan kepalanya di sandaran kursi. Ia selalu tak tahu bagaimana cara membujuk Kyuhyun.
"Aku tahu, hanya saja sesaat aku takut kau melupakanku setelah akrab dengannya."
Hyukkie langsung tegak lagi. Ditatapnya Kyuhyun yang berkespresi serius. Berarti ia benar-benar jujur.
"Kenapa aku begitu?"
"Ricky kaya, terkenal dan anak artis."
Hyukkie menggeplak kepala Kyuhyun yang langsung meringis dan memberinya death glare.
"Kau pikir aku orang seperti itu?"
Ekspresi Kyuhyun mengendur, "Tentu saja tidak. Itu hanya ketakutan pribadiku."
Hyukkie mendekat dan merangkul Kyuhyun. "Kau sahabat sejatiku mana mungkin aku melakukan itu. Soal Ricky aku hanya bersahabat dengannya."
Kyuhyun tersenyum dan balas memeluk.
.
.
.
.
.
Pagi itu ketika bertemu dengan Ricky di gerbang, Hyukkie segera melambai lalu ditariknya lengan Kyuhyun yang sebenarnya enggan, tapi Hyukkie mengatakan kalau tak ingin cemburu dan berpikiran yang bukan-bukan, lebih baik ikut berteman juga.
"Ini Kyuhyun…."
Kyuhyun member senyum (kalau itu bisa dibilang senyum) lalu membungkuk kilat.
"Salam kenal. Bolehkan aku juga jadi temanmu."
Kyuhyun tanpa sadar menoleh dan menatap Ricky. Detik itu juga semua perasaan cemburu itu menguap. Ricky benar-benar terlihat baik dan ya rapuh. Kyuhyun mengangguk. Dan mereka pun berjalan bersama menuju kelas Hyukkie. Kyuhyun menyadari begitu banyak orang yang berdesis-desis selama mereka berjalan.
"Aku akan ke sini, ketika istirahat nanti." Kyuhyun mengacak rambut Hyukkie seperti biasa, kemudian melambai pada Ricky dan bergegas keluar dari sana. Tidak, ia tidak pergi ke kelas, ada yang harus dia pastikan. Kyuhyun berjalan menuju laboratorium komputer.
.
.
.
.
.
"Mereka jarang di rumah. Setiap pulang selalu bertengkar. Aku jadi tak suka ada di rumah." Ricky mungkin menceritakan itu lebih karena dia sudah lelah dengan hidupnya.
Mereka sedang ada di rumah Hyukkie.
"Bahkan beberapa kali aku mendengar mereka mengatakan soal perceraian. Kalian tahu dunia selebritis tak seindah yang terlihat. Penuh perjuangan, kehilangan banyak waktu. Tapi dulu aku bisa menerima semuanya. Karena selelah apapun mereka akan pulang dan menyempatkan diri untuk datang ke kamarku, memberi ciuman selamat malam yang amat terlambat. Setiapa ada acara sekolah, sesibuk apapun mereka tak pernah mengabaikannya. Mereka selalu datang dan aku bangga ketika teman-temanku banyak bertanya soal orang tuaku."
Kyuhyun ingin sekali segera mengatakan hasil temuannya, agar sedikit berkuarang raut kesedihan di wajah Ricky, tapi ia tak tahu dari mana harus memulainya, terlebih seperti yang kalian tahu Kyuhyun tak pandai berbahasa halus.
Dan Kyuhyun bersyukur ketika Hyukkie memeluk bahu Ricky, hal yang mustahil dilakukannya. Ricky terlihat tenang sekarang.
"Kalian mau membantuku?"
Hyukkie dan Kyuhyun berpandangan sebelum akhirnya memandang Ricky.
"Aku ingin menyatukan mereka lagi. Aku yakin Mommy bukan orang yang akan berbuat perselingkuhan. Alasan satu-satunya adalah, aku .. ya mungkin aku adalah anak adopsi. Kalau itu benar, aku takkan marah pada mereka, aku akan pergi dan membiarkan mereka bersatu dan berbahagia tanpa kehadiranku."
Ah.. Kyuhyun tak tahan lagi. "Kau anak mereka." Ucapnya sedikit keras di luar kesadarannya.
"Hah?" Hyukkie dan Ricky serempak menolah pada Kyuhyun.
Kyuhyun mengeluarkan laptopnya, dan mengotak-atiknya sejenak. Setelah itu mengangsurkan laptop itu pada Hyukkie dan Ricky. Mereka berdua segera membaca apa yang tersaji di layar. Setelah selesai kembali menatap Kyuhyun tak mengerti.
"Biar kujelaskan dari awal. Ketika mendengar kasusmu ini, entah kenapa aku langsung berpendapat ini, meski aku tak yakin. Kau tahu kan Hyukkie, aku sempat melakukan operasi sebelum ini?"
Hyukkie mengernyit sesaat mengingat-ingat. "Operasi lipatan mata?"
Kyuhyun mengangguk. "Aku tak menyesalinya, aku terlihat lebih baik sekarang. Tapi seandainya boleh diulang, aku tak ingin melakukan itu. Kalau pun aku harus melakukannya itu hanya karena keadaan darurat saja."
"Lalu apa hubungannya dengan artikel itu dan orang tuaku?" Ricky masih tak mengerti sambungannya.
"Mereka berdua melakukan operasi plastic."
"Kalau ibuku ya… dia hanya memperbaiki sedikit mata dan hidungnya. Dan dia sudah mengakui itu di depan publik sebagaimana ditulis artikel tadi."
Kyuhyun mengangguk, "Ini hanya dugaanku, jadi kita perlu penyelidikan lebih lanjut lagi. Tapi kurasa ayahmu juga melakukan operasi. Kau mewarisi wajahnya mungkin, wajahnya yang dulu."
Ricky tersentak, ia mengernyit memandang Kyuhyun. "Hah? Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu?"
Kyuhyun menghela napas sejenak sebelum mulai menjelaskan.
"Ketika aku mencari tahu soal ibumu, aku menemukan banyak sekali referensi. Berbeda dengan ketika aku mencari tahu soal ayahmu, semua referensi hanya menunjukan dirinya dari remaja hingga saat ini. Masa lalunya hanya rumor-rumor tak berbukti yang beredar. Tak ada poto masa lalunya, tak ada sama sekal. Kecuali poto-poti ketika ia bayi. Yang belum terlihat bentuk mukanya. "
Ricky terhenyak di kursinya. Hyukkie langsung mengusap-usap bahunya.
"Aku tahu alasannya apa. Sama seperti saat aku melakukan operasi mungkin, dan mungkin juga dia menyesalinya sekarang." Desis Kyuhyun lebih karena tak ingin Ricky kecewa pada ayahnya sendiri.
"Aku mengerti soal itu. Aku takkan marah padanya. Aku punya ide untuk membuktikannya."
.
.
.
.
Mereka pergi ke rumah nenek Ricky di sebuah desa. Sangat sulit membujuk neneknya untuk memperlihatkan poto-poto ayah Ricky tapi setelah perdebatan panjang akhirnya dia diizinkan melihat. Meski Kyuhyun sudah menebak sebelumnya ia tetap terhenyak sendiri dengan kenyataan.
Mata Ricky tak mirip dengan ayahnya tapi selain itu semuanya persis sama. Wajahnya lonjong, sebenarnya wajah yang jarang di miliki orang Korea asli, yang biasanya berstruktur kotak. Wajahnya memang jauh berbeda dengan wajah saat ini. Sekarang rahangnya tegas dengan hidung mancung dan mata bulat.
"Dia selalu menangis ketika pulang sekolah karena dikira perempuan. Wajahnya memang terlalu halus. Dia meminta Halmeoni untuk mengoperasi wajahnya agar terlihat lebih laki-laki. Halmeoni sebenarnya tak setuju, tapi ya lidah manusia memang kejam, dia tak tahan dengan semua ejekan, hatinya halus. Maka Halmeoni dan Harabeoji mengumpulkan uang, bahkan dia pun sampai akhirya uang itu cukup dan terjadilah itu. Lalu kami semua pindah dari desa dulu. Memulai hidup baru."
Ricky diam, tapi matanya sangat merah.
"Jangan benci dia, dia sama menderitanya, bahkan dia juga mengakui tetap saja ada ejekan walau wajahnya seperti sekarang, Sebenarnya hatinya lah yang harus kuat. Dia bilang begitu."
Ricky mendekat dan memeluk Neneknya erat. "Aku mencintainya Halmeonie. Aku mencintai Umma dan Appa. Aku takkan membenci mereka."
.
.
.
.
Di perjalanan pulang mereka banyak diam, asyik dengan pikiran masing-masing. Hyukkie seperti biasa tak bisa menahan pikirannya untuk berkelan jauh. Siapa yang harus disalahkan? Ketidak puasan sifat manusia akan fisiknya? Atau orang-orang yang suka menilai fisik? Seandainya semua orang bisa menerima orang lain apa adanya, atau setidaknya tidak melakukan ejekan fisik, mungkin takkan ada orang yang berfikiran ingin merubah fisik yang sudah pemberian dari Nya.
Hyukkie sama sekali tak menyalahkan orang-orang yang melakukan operasi plastic itu. Mereka punya alasan kan? Tapi tetap ia juga tak bisa setuju. BUkankah semua sudah diciptakan sesuai takarannya? Tapi di sisi lain orang-orang pasti ingin terlihat lebih cantik, lebih baik. Apalagi pemikiran barat yang menyerbu tanpa ampun. Kecantikan versi mereka, adalah kecantikan fisik.
"Aku punya ide untuk menyatukan mereka lagi. Kalian mau membantuku?" ucapan Ricky menyadarkan mereka kembali ke dunia nyata.
Kyuhyun dan Hyukkie serempak mengangguk. Ricky tersenyum.
.
.
.
.
.
Sandra Park memasuki Restaurant mewah itu dengan sedikit penyamaran, kaca mata tebal juga topi lebar menutupi wajahnya. Di sebuah sudut, terlihat seseorang yang berpenampilan tak beda jauh darinya sedang duduk. Dia mendekat.
Orang itu berdiri dan untuk sesaat mereka hanya melakukan itu sampai kemudian mereka berpelukan erat. Sandra menangis di bahu Park Jin suaminya. Betapa ia rindu suasana seperti ini.
"Aku takkan membencimu, takkan pernah, aku tak hanya mencintai fisikmu. AKu mencintaimu." Bisiknya.
"Terimakasih. Terimakasih dan maaf untuk semuanya." Balas Park Jin.
Sementara itu di sudut lain tiga remaja sedang memandangi pemandangan itu dengan haru. Rencana mereka sukses. Kalian mau tahu apa yang mereka lakukan? Ricky mengirim e mail pada Park Jin atas nama Sandra dan sebaliknya.
Di email Park Jin, diceritakan semuanya tentang operasi dan alasannya. Tak lupa juga permohonan maaf. Sebaliknya di email Sandra, diceritakan bahwa Sandra sudah tahu soal itu dan tetap akan menerima Park Jin apa adanya.
Ya memang ada sedikit kebohongan, tapi ini kebohongan yang dibolehkan? Lagipula hasilnya baik kan dan sesuai isi dari surar elektronik itu. Ricky memeluk dua sahabat barunya dan berulang-ulang mengucapkan terimakasih.
.
.
.
.
.
KyuHyuk yang baru pulang dari main bola terdiam di ruang TV. Umma Hyukkie sedang menonton berita dengan sapu tangan di wajahnya. Terdengar isakan kecil. Hyukkie tersenyum pada Kyuhyun dan begitu sebaliknya. Rencana mereka berhasil.
Tayangan itu tentang konferensi pers keluarga park. Mereka dengan besar hati menjelaskan semuanya. Dan poin pentingnya, mereka secara tersirat memberikan pemahaman positif negative dari operasi kecantikan atau operasi plastic itu. Meski mungkin kasus seperti ini jarang terjadi.
Setelah puas, mereka beranjak ke kamar Hyukkie. Sama-sama berbaring di lantai yang dinginnya terasa nyaman di punggung mereka yang panas. Ricky menelepon mereka pagi tadi, untuk sementara dia dan keluarganya akan berlibur untuk menenangkan diri. Itu ide yang bagus menurut Kyuhyun. Hubungan mereka semua akan erat lagi.
"Kyu apa pendapatmu soal operasi kecantikan?"
"Hmmmm aku ada di tengah-tengah. Di satu sisi, kalau itu membuat mereka merasa lebih baik dan percaya diri, tentu tak masalah kan. Tapi di sisi lain, bayangkan kalau semua orang melakukan operasi?"
"Semua orang berwajah sama atau semua orang cantik. Dunia takkan seimbang justeru. Dunia unik dengan perbedaannya. Dengan perbedaan ada keinginan mengetahui dan saling mengenal. Tapi entahlah, kembali kepada pribadi masing-masing."
Hyukkie mengangguk-angguk. Benar, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Yang pasti Hyukkie setuju untuk operasi dengan dasar, kesehatan. Kalau untuk perbaikan, apalagi bagi mereka yang sudah mendapat fisik sempurna, sepertinya Hyukkie kurang setuju.
"Sudahlah… dunia ini tak…."
"Aku tahu Kyu…." Hyukkie mengerucutkan bibirnya yang disambut kekehan Kyuhyun.
Kyuhyun memeluk Hyukkie, "Tapi aku bangga mempunyai sahabat berempati tinggi sepertimu dan dunia membutuhkan banyak orang sepertimu."
Hyukkie diam-diam tersenyum. "Yaaaa panas… lepaskan!" Hyukkie berusaha melepakan pelukan Kyuhyun yang malah makin erat.
"Kyu….. ini kau masih berkeringat… yaaa lepaskan!"
Kyuhyun kembali hanya terkekeh dan mengabaikan omelan Hyukkie.
.
.
.
END
.
.
.
Kembali ini terinspirasi dari berita TV, meski sedikit berbeda sih hehehe
Berminat untuk ripiu?
