Disclaimer : I do own nothing.

.

.

Youth Hurts (Love In The Ice)

Author: Nakki Desinta

.

.


Chapter 2 : Who Are You?


.

.

.

Saatku bangun tidur, mataku berat dan bengkak serta diperparah dengan warna merah yang menutupi seluruh kornea mataku. Entah apa yang terjadi padaku, tapi aku sepertinya menangis hingga tertidur, karena aku tidak makan malam dan saat aku terbangun, aku langsung mandi dan berangkat sekolah. Tidak menunggu sopir keluarga mengantarku, karena aku memilih bis untuk mengantarku ke sekolah.

Sang penjaga rumah sempat bertanya kenapa aku berangkat sendiri, bahkan dia hendak menelepon petugas rumah tangga utama karena aku berangkat sendiri tanpa iring-iringan, tapi aku katakan bahwa aku ada latihan pagi sebelum pertandingan dan tidak ingin merepotkan sopir yang belum masuk jam kerja mereka. Aku sempat mendengarnya memanggil namaku saat aku berlari keluar pagar, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya.

Terlalu pagi mungkin aku sampai di sekolah, tapi ini yang aku butuhkan. Pergi dari rumah yang tidak aku temukan lagi letak kenyamanannya. Seluruh anggota keluarga Kuchiki bisa menolakku, dan aku tetap bersabar karena aku yakin pada kebaikan hati kakak, tapi aku memang bukan ahlinya menilai kepribadian seseorang. Semuanya sama saja! Seluruh anggota keluarga Kuchiki tidak ada yang bisa tulus tanpa pamrih. Jika mereka berpikir seseorang tidak ada gunanya bagi mereka, maka mereka tidak akan berlaku baik padanya.

Langkah kakiku perlahan memasuki halaman sekolah yang masih sepi. Aku berjalan masuk ke gymnasium yang berfungsi sebagai tempat olahraga seperti basket, volly, bulu tangkis, dan olahraga sejenis. Tempat dimana bangku-bangku panjang berjajar dalam satu bentuk melingkari lapangan yang berada di tengahnya. Aku meletakkan tasku dan merebahkan diriku di kursi barisan tengah sambil melihat langit-langit gymnasium yang membentuk setengah lingkaran, mirip kubah.

Semua tidak akan sama lagi.

Aku tidak akan mampu berhadapan dengan kakak Byakuya dengan perasaan sekacau ini. Apa sebaiknya aku kabur saja? Meninggalkan surat wasiat yang mengatakan bahwa aku berterima kasih atas kebaikan mereka, menyatakan kalau aku tidak betah dan memilih kabur? Sepertinya sangat tidak masuk akal. Hal itu hanya akan menjatuhkan nama keluarga kan? Sudah susah-susah mengadopsi, tapi ternyata yang diadopsi tidak cukup berharga untuk masuk dalam keluarga.

"Hah..." aku menghela napas berat dan terpejam, mataku berat, mungkin karena bengkak juga jadi terasa tidak nyaman begini.

"Pergi? Tinggal? Pergi? Tinggal? Pergi... Tinggal..." aku menghitung dalam hati, mengucapkan kata pergi dan tinggal bergantian dengan tujuan begitu sampai hitungan seratus aku akan mendapatkan jawaban yang tepat. Persis dengan caraku menjawab pertanyaan pilihan ganda yang tidak kumengerti bagaimana menalarkan soal dan jawabannya.

Bang!

Pintu gymnasium terbuka kasar, seolah ada tenaga besar yang membantingnya tanpa ampun. Sontak aku terduduk dari tidurku, melihat pintu masuk yang terbuka satu sisinya, menujukkan sosok yang hanya berupa bayangan hitam karena latar belakang cahaya matahari yang perlahan naik di belakangnya. Kurus dan berpostur kaku, bisa dengan mudah aku kenali sosok kurus Ulquiorra hanya dengan melihat siluetnya saja.

Aku sedang tidak punya tenaga untuk banyak berdebat dengannya mengenai kejadian kemarin, jadi sebaiknya aku simpan tenagaku untuk pertandingan hari ini. Lagi pula kenapa dia harus membuka pintu sekasar itu? Kalau punya cukup energi, sebaiknya dia gunakan untuk latihan, bukan malah merusak fasilitas sekolah. Ah, dari pada memikirkan orang sepertinya, sebaiknya aku kembali memberi waktu pada badanku. Akhirnya punggungku kembali menempel pada bangku panjang, dengan tas yang berisi pakaian ganti yang kujadikan bantal, dan terpejam seraya mulai menghitung lagi dari nol.

Langkah kaki yang mendekat padaku terdengar sekali cepat dan terburu-buru. Aku tetap santai, tidak peduli, dia kira aku bisa dia kerjai lagi seperti kemarin? Dia kira kalau dia berlari ke arahku, aku akan langsung ikut panik dan bertanya ada apa?! Tidak, terima kasih.

"Jangan ganggu! Suasana hatiku sedang buruk, jangan sampai kau kujadikan sandsack!" gumamku begitu suara langkahnya berada tepat di dekat kepalaku. Aku terdiam, memasang telinga lebih tajam, menunggu reaksinya, entah apa yang akan ia lakukan. Dia tipikal yang sulit untuk ditebak, sekalipun wajahnya selalu datar begitu, tapi apa yang ada dalam benaknya belum tentu 'begitu'. Bagaimana kalau dia tiba-tiba melakukan apa yang ia lakukan padaku kemarin?

Tidak!

Aku terlonjak dari bangku, merinding sekujur tubuh begitu merasakan jemari dingin menyentuh tengkukku, ternyata cowok irit bicara ini memang ingin mengulang kesalahannya lagi.

"Mau apa kau? Kau mau aku pukul? Aku masih bisa sabar kemarin, tapi jangan harap hari ini aku akan diam!" ancamku seraya mengangkat tinjuku ke arahnya.

Ulquiorra tetap diam, dia justru menarik tasku, sementara ia duduk, dan tasku ia letakkan di seberangnya. Alisnya yang selalu mengerut dalam, terangkat saat mata kami bertemu, aku tidak melihat ada sesuatu yang aneh, tapi apa yang ia lakukan selanjutnya adalah hal teraneh bagiku. Dia menjulurkan tangan ragu-ragu, meraih bahuku.

"Apa? Mau apa kau?" aku menurunkan tangannya, tapi ia mengangguk dan kembali menyentuh tempat yang sama. Aku jadi balik bingung. Orang ini mau apa sih? Akupun memberi kesempatan untuknya, karena ia membuka bibirnya seolah akan berucap, tapi kembali terkatup saat mataku mendelik padanya.

Ulquiorra menarik bahuku, dan sebelah tangannya dia gunakan untuk memegang bagian belakang kepalaku, aku agak canggung saat ia mengarahkanku untuk rebahan, hingga akhirnya aku terbaring dengan pangkuannya menjadi alas. Pangkuannya keras dan bertulang, aku tidak berharap akan mendapat kenyamanan dengan rebahan di atas alas seperti ini. Tangannya menjaga wajahku agar tidak menghindar darinya. Mau tidak mau aku menatap langsung ke matanya, membiarkan dia meneliti mataku yang merah.

"Aku sedang sakit mata, kau tidak takut tertular?" celetukku sengaja, ingin membuatnya takut dan membiarkanku, meninggalkanku sendirian rebahan di sini.

"Seharusnya kau yang takut karena aku terkenal bawa sial," jawabnya perlahan. Suara Ulquiorra adalah benda termahal di jagad raya, namun mendengar suaranya yang serak dan lembut, membuatku yakin kalau orang ini memang memiliki sikap yang bisa cenderung menenangkan orang lain. "Apa yang dilakukan Kuchiki Byakuya?" lanjut Ulquiorra seraya mengusap pipi kananku, tempat dimana kakak mendaratkan tangannya. Wajahnya menunduk dalam hingga suara bisikannya yang begitu halus mampu kudengar. Jarak yang ia ambil sangat dekat, seolah dia takut ada yang akan mendengar suaranya di tempat sekosong ini.

Tentu saja aku kaget dengan pertanyaan Ulquiorra, seolah dia tahu kalau pipiku baru saja mendapat kejutan yang tidak diinginkan kemarin sore. Ah, kalau diingat lagi hatiku seperti tertusuk berulang kali. Apa tidak cukup dengan menangis semalaman?

"Sejak melihat bagaimana sikapnya saat kalian mengunjungi makam Kuchiki Soujun, aku tahu kalau dia akan menjadi seperti ini," gumam Ulquiorra seraya mengecup pipiku.

"Kau tahu?" aku membelalak. Kaget karena dia tanpa basa basi mengecup pipiku, dan lebih kaget lagi karena mendengar kata-katanya. Tahu darimana dia mengenai acara kami saat mengunjungi makam Kuchiki Soujun. Apakah dia stalker?

"Aku melihatmu dengan jelas, sebelum kau melihatku dan memilih untuk mengabaikanku."

Oh ya! Tanganku kutepuk keras begitu teringat sosok yang aku lihat di makam, tapi tidak kulanjutkan acara mencari tahunya.

"Jangan pernah dekat dengannya, Rukia. Kau hanya akan dijadikan objek penderita olehnya, karena dia tahu kalau kau tidak akan pernah bisa menjadi miliknya," ucap Ulquiorra dengan mata menerawang menatap langit-langit bangunan. Aku menalarkan tiap kata dari Ulquiorra, tapi aku tetap tidak mengerti intinya, kalimatnya terlalu rumit. "Kuchiki Byakuya tidak pernah menganggapmu sebagai adik. Entah dia melihatmu sebagai seorang Rukia, atau pengganti istrinya."

Keterkejutan itu terlalu dalam menusukku, sampai seluruh otakku berhenti berputar dan meminta untuk segera dipakai untuk melihat lagi bagaimana sikap kakak Byakuya padaku. Dia memang baik, sekalipun banyak yang bilang dia seorang bertangan besi, tapi aku bisa melihat kelembutan dalam sikapnya. Tapi aku baru enam belas tahun, dan kakak Byakuya hampir tiga puluh tahun. Lalu bagaimana mungkin dia bisa berpikir aku ini pengganti istrinya yang telah meninggal? Terlebih lagi aku adalah adik dari istrinya, dan dia adalah pria terhormat dari keluarga bangsawan Kuchiki, apa yang akan dikatakan orang-orang kalau ternyata dia mengadopsiku untuk...

Sebentar! Lagipula kenapa Ulquiorra bisa tahu hal itu? Jangan-jangan dia hanya membual agar aku dan kakak Byakuya menjauh (sekalipun kenyataannya kami sudah sangat jauh sekarang).

"Apa maksudmu mengatakan ini semua?" aku memicing menatap Ulquiorra.

"Karena kau orang spesial untukku."

"Ha? Sejak kapan?"

"Kau yang memulai semuanya. Kau tidak bisa mundur begitu saja ketika aku menerimamu. Kau keras kepala dan sulit ditolak, karena itu aku tidak akan menghindar lagi."

"Aku?" aku makin bingung dibuatnya. "Kapan aku memulai? Darimana? Tentang apa?" cecarku mencari penjelasan yang lebih masuk akal.

"Kau mendekatiku saat orang-orang memberi peringatan agar kau menjauhiku. Kau tetap berlatih lari berpasangan sekalipun aku mengacuhkanmu agar kau tidak ikut lomba. Kau bahkan masih saja mau bicara denganku sekalipun aku tidak pernah meresponmu," tutur Ulquiorra dengan jari menelusuri garis wajahku, membelai alisku, menarik garis lurus dari tengah dahi hingga ujung hidungku dan turun ke bibirku, mengusapnya dengan ibu jarinya. Aku merinding, perasaan aneh menyerang perutku, aku merasa gugup seketika. Caranya menyentuhku sungguh berbeda dengan sentuhan cowok yang pernah aku kenal sebelumnya. Sentuhan Ulquiorra meninggalkan gelenyar di sudut hatiku dan mengirimnya ke perutku hingga isi perutku bergolak semua.

"Tap-tapi aku melakukannya karena aku terbuka berteman dengan siapa saja, bukan berarti..."

Ulquiorra meletakkan telunjuknya di bibirku, menghentikan kalimat yang hendak aku gunakan untuk menyangkal semua kenyataan yang ia paparkan. Aku memang berusaha mendekatinya karena dia punya sesuatu yang menarik perhatianku, tapi bukan berarti aku naksir dia.

"Kau tidak perlu menyangkalnya, karena aku lebih tahu dari siapapun di dunia ini ..." gumam Ulquiorra yang kemudian menutup pandanganku dengan tangannya, dan detik kemudian aku merasakan sesuatu yang basah dan liat menyentuh permukaan bibirku. Aku cukup sadar itu adalah lidah Ulquiorra, dan aku membiarkannya menarik daguku, membuka bibirku untuk menerimanya. Dalam satu gerakan lambat lidahnya menyapa lidahku. Dalam kegelapan penglihatanku, aku mampu merasakan indra lain dalam diriku menajam. Lidahnya menyapa barisan depan gigiku, mengirim panas yang mendesak memenuhiku, aku tidak mengerti apa yang harus dilakukan dalam ciuman yang melibatkan lidah seperti ini, jadi aku hanya pasif saat ia menjelajahi lidahku, setiap geliut gerakan lidahnya menyentak gairahku. Tanganku sampai mencengkram pergelangan tangan Ulquiorra agar aku tetap mampu menahan diri dari buncahan perasaan yang mendesak ini.

Aku bahkan belum cukup umur untuk mengalami ini semua. Aku baru enam belas tahun, belum saatnya mengenal...

Tapi aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku merasa membutuhkan ini semua. Sentuhan Ulquiorra, kehadirannya, seolah seluruh tubuhku selalu merindukannya. Berapa lama kami bisa bertahan dalam ciuman ini? Paru-paruku mendesak untuk menghentikan segala macam kegiatan yang menghadang asupan oksigen.

Tibat-tiba Ulquiorra menarik diri, dan melepaskan tangannya yang menutupi mataku. "Ada orang datang," bisiknya seraya mengecup dahiku cepat.

"Kuchiki?"

Aku terbangun dari pangkuan Ulquiorra, langsung berdiri tegak, mendapati Uryuu dan Senna berdiri manatap kami dari pintu masuk gymnasium. Mereka terlihat seperti baru ikut tantangan rumah hantu, dan di sini kami yang menjadi hantunya, karena wajah mereka terlihat aneh mungkin. "K-kau dan Ulquiorra?" gagap Senna yang langsung menekap mulut.

"Ini tidak seperti yang kalian..." ucapanku terhenti karena tiba-tiba saja Ulquiorra merangkulkan tangannya di pinggangku, dan menyandarkan kepalanya ke bahuku, bersikap sangat manja bergelayut padaku.

"Kami tidak bermakasud mengganggu, tapi sebentar lagi festivalnya dimulai." Kali ini Uryuu yang angkat bicara. Sumpah! Aku bisa melihat wajah mereka bersemu merah dari jarak sejauh ini. Memangnya apa yang mereka lihat? Jangan bilang mereka melihat aku dan Ulquiorra ciuman tadi. Usai mengucapkan tujuan kedatangan mereka, dua orang pejabat kelasku itu meninggalkanku dan Ulquiorra.

"Ini gara-gara kau!" umpatku seraya meninju dada Ulquiorra pelan, dan dia mengendikkan bahu perlahan. Dia meraih tasku dan menyampirkan tasnya di punggung, berjalan meninggalkanku, seolah aku marah sendiri tanpa sebab.

"Jawab aku, Ulqui! Jangan kabur!" aku berlari mengejarnya. "Berhenti! Kenapa kau harus menyembunyikan suaramu dari orang lain? Jawab aku, Tuan Irit Bicara!" pekikku dengan suara membahana ke seluruh gymnasium, dan Ulquiorra berhenti di anak tangga yang hanya tingal lima lagi harus ia tapaki untuk mencapai pintu masuk. Dia berbalik, sangat lambat seolah membiarkanku mengejarnya.

"Apa? Mau apa kau?" tantangku seraya berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang.

Ulquiorra menunjuk mulutnya seketika, dan dia bicara dalam bahasa bibir, 'Hanya dirimu yang aku biarkan mendengar suaraku.'

Hanya aku?

Suara serak dan lembut seperti itu dia sembunyikan hanya untuk aku dengar? Dasar penipu! Mana mungkin aku percaya pada kata-kata seperti itu, tapi tetap saja aku merasakan pipiku sudah berubah warna. Menghangat sampai ke pipi.

Urutan pertandingan dimulai dari sepak bola, basket, volly, dan yang terakhir baru lari berpasangan. Panitia sengaja memilih urutan seperti itu agar pertandingan yang dilaksanakan di outdoor tidak harus kami lakukan di bawah terik matahari. Hanya saja aku jadi menunggu lama sekali, menonton pertandingan yang sangat panjang sebelum waktu tandingku datang.

Untuk pertandingan sepak bola kami tidak buruk, karena mendapat posisi kedua. Sedangkan pertandingan basket, sudah pasti kami juara satu. Siapa yang bisa menyangkal kegesitan Senna dan Uryuu, mereka adalah ace dari kelas kami. Mereka mendominasi cetakan poin, dan tidak tampak kelelahan sekalipun harus melewati tiga pertandingan sekaligus dalam sehari. Sedangkan volley, kami tidak terlalu beruntung, karena kami kalah telah di babak penyisihan. Yah, setidaknya kami masih punya harapan untuk jalan-jalan keluar kota, karena hadiah untuk kelas yang menang dalam festival olahraga kali ini adalah jalan-jalan. Juara ketiga ke pemandian air panas (onsen), juara kedua keluar kota, sedangkan juara pertama adalah ke luar pulau. Sungguh sekolah Karakura sangat berlebihan, hanya untuk festival saja mereka berani memberikan hadiah semahal ini.

Sekarang giliran lari berpasangan, sudah setengah lima sore, dan kami harus menempuh jarak seratus meter dengan kaki terikat dengan pasangan kami, persis seperti latihanku dengan Ulquiorra kemarin sore. Latihan singkat dan sepertinya tidak cukup untuk menghadapi pertandingan hari ini.

Ulquiorra meraih saku celana olahraganya dan mengeluarkan salep yang kemarin ia gunakan untuk mengobati kakiku, dan sempat-sempatnya dia mengoleskannya di lukaku. Tindakannya tentu saja menarik perhatian semua orang. Padahal dengan kami berpasangan sebagai wakil dari kelas XI-1 saja sudah menjadi bahan perbincangan orang-orang. Ditambah lagi dengan sikap Ulquiorra yang seperti ini, bahkan sampai juri yang memegang pita finish saja sampai ternganga selama hampir dua menit.

Aku canggung bukan main, kikuk, gugup, takut, pokoknya semua macam perasaan tegang bercampur aduk dalam hatiku. Bagaimana ini? Aku bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi kakak Byakuya begitu mendengar apa yang dilihat mata-matanya hari ini. Bahwa aku berduaan dengan Ulquiorra dan berciuman di gymnasium sekolah, dan, dan... Argh! Kepalaku penuh seketika.

"Seluruh peserta bersiap di garis start!" pekik Pak Ishida yang membuyarkan perhatian semua orang dariku dan Ulquiorra.

Seluruh pasangan peserta berdiri dengan tubuh condong, siap untuk berlari ketika peluit dibunyikan. Tapi apa yang dilakukan Ulquiorra? Dia selalu bertindak di luar dugaan! Dia malah mengulurkan tangannya padaku, memintaku menggenggamnya, seperti yang kami lakukan kemarin, dan dia memberi aba-aba dengan tangan kirinya yang terayun, dan aku mengangguk sambil menautkan tangan kami.

"Maju Pasangan XI-1! Kalian pasti bisa!" Keigo si Mulut Besar langsung berteriak menyulitkan posisiku. Tentu saja aku makin malu dia berteriak seperti itu.

"Diam kau, Keigo! Aku tidak perlu sorakan semangat macam itu!" umpatku kesal.

"Aku hanya mendukungmu, Kuchiki dan... Schiffer! Kalian harus menang. Biarkan kelas kita jalan-jalan ke onsen kali ini!" sahut Keigo cuek.

"Kau merusak konsentrasinya, Keigo!" protes Uryuu seraya menepuk kepala Keigo keras-keras.

Aku tersenyum melihat Uryuu yang ternyata bisa bersikap sadis juga pada orang lain. Tidak salah dia menjadi ketua kelas kami, karena dia mampu mengendalikan para penghuni dengan caranya sendiri. Mungkin itu akibat pengaruh ayahnya juga.

"Bersedia! Siap!"

Priiitt!

Kami berlari perlahan tapi pasti, bukan dibilang berlari juga sih, lebih mirip jalan cepat, karena Ulquiorra sangat menjaga ritmenya dan mencegah kami berdua jatuh. Aku sempat melirik lima belas pasangan lain yang kesemuanya sempat jatuh dan kembali berdiri, mereka jadi bahan tertawaan para penonton, tapi aku mengerti dengan pasti sakitnya badan ketika jatuh, bukan hanya sendiri tapi berdua, rasa bersalah pasti ada kalau jatuh gara-gara diri sendiri.

"Atur napasmu, Rukia," bisik Ulquiorra ketika kami sudah mencapai tiga perempat jarak lintasan, memang napasku sudah mencapai batasnya, mau tidak mau sesak menyerang paru-paruku. Ternyata lari berpasangan itu tidak mudah, aku hampir berulang kali terjerembab, tapi tangan Ulquiorra selalu menangkapku, dan karena itu juga di tengah perjalanan dia melepas genggaman tangannya dariku dan merangkul pinggangku, mengimbangi tubuh setiap kali kami akan jatuh.

"Pasangan dari kelas XI-1 memimpin! Apakah mereka akan menjadi pemenangnya kali ini?" suara komentator menggelegar di pengeras suara.

Kalau dipikir-pikir porsi pertandingan lari berpasangan ini sangat sedikit, jadi dari empat pertandingan ini, lari berpasangan hanya memberi kontribusi poin 12% dari keseluruhan poin, jadi kalaupun kami menang, tidak akan banyak memberi peluang untuk kemenangan secara keseluruhan. Padahal aku sudah latihan sampai kakiku lecet begini. Ya nasib, ya nasib...

"Pasangan dari kelas X-2, yaitu Hitsugaya dan Momo mulai menyusul Kuchiki dan Schiffer. Kira-kira siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertandingan kali ini. Dan apakah kelas XI-1 berhasil menang dan menjadi juara ketiga? Kita lihat sebentar lagi!" komentator terus saja berisik, membuat telingaku sakit. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan berjuang sebegini kerasnya untuk membuktikan kesungguhanku.

"Aku harus menang, aku tidak mau kalah padahal sudah babak belur begini!" pekikku seraya memberi aba-aba pada Ulquiorra untuk mempercepat serta memperlebar langkah kakinya. Aku menarik dan menghembuskan napasku dalam hitungan yang teratur, membiarkan paru-paruku bekerja ekstra hari ini. Hanya untuk hari ini sampai...

Apa ini?

Aku menoleh pada Ulquiorra yang tetap berlari dengan tenang, tapi aku tidak merasa sedang berlari, sebelah kakiku tidak menjejak tanah. Ulquiorra mengangkat tubuhku dengan sebelah tangannya, mengambil kendali atas pergerakanku sepenuhnya.

"Apa yang kau lakukan?" bisikku tidak percaya. Bagaimana mungkin aku percaya padahal badannya kurus begini, tapi dia mampu mengangkat bobot tubuhku hanya dengan sebelah tangannya?

"Kau ingin menang, kan?" Ulquiorra berbisik dan memperlebar langkahnya, dan dia membawa kami menembus pita garis finish dengan santainya, meninggalkan pasangan dari kelas satu tadi di belakang kami.

"Yeah! Kalian keren!" aku mendengar suara keras Keigo berteriak dari garis start, dan semakin dekat.

"Hebat!" Keigo lari berhambur dan mendorong bahuku penuh sukacita, tapi hasilnya aku kehilangan keseimbangan tubuh.

"Whoa...!" aku sudah memejamkan mata dan menyiapkan tangan untuk menopang badan di tanah.

"Awas!" Suara Senna terdengar keras, ngeri.

Dan...

Buk!

Aku reflek membuka mata, dan mendapati Ulquiorra berada di bawahku, aku jatuh tepat di atas badannya. Dia mengendikkan bahu santai, sementara aku tersenyum begitu senang, karena kami menang.

"Kau hebat! Kau pahlawanku hari ini!" desisku tanpa malu-malu lagi, karena aku benar-benar bahagia sebagai pemenang dalam pertandingan kali ini, dan aku tidak ragu memeluk Ulquiorra.

"Benarkah? Bukannya kau yang terlalu keras kepala!" Ulquiorra berbisik pelan saat euphoria kemenangan kelas XI-1 menyelubungi kami. Ternyata usahaku, eh bukan, usaha kami, tidak sia-sia! Kami menang dan membuat kelas kami bisa berlibur ke onsen. Keigo berulang kali mendorong-dorong bahuku gemas, membuatku makin tidak nyaman karena aku masih menindih Ulquiorra, tapi sang subjek penderita malah tenang saja dan terus memelukku.

"Emm, selamat dan terima kasih untuk kalian berdua," ucap Hanatarou yang kebetulan berjongkok di dekat kami, wajahnya bersemu saat bicara dengan kami.

"Sudah-sudah! Kalian membuat mereka sesak!" pekik Uryuu, dan dengan satu kalimatnya itu dia berhasil membubarkan kerumunan yang membuat kami sulit bergerak.

Senna membantuku membuka ikatan simpul di kakiku dan Ulquiorra, dia terlihat senang dan tidak keberatan sama sekali berdekatan dengan Ulquiorra. Kurasa dengan kejadian ini, rumor yang mengatakan bahwa Ulquiorra membawa kesialan bisa disangkal. Tidak ada manusia yang benar-benar membawa sial untuk orang lain jika dia tidak berniat jahat, dan aku yakin Ulquiorra tidak berniat jahat sama sekali.

"Terima kasih, Senna!" ucapku dan langsung berdiri tegak agar tidak terlalu lama bertumpu pada Ulquiorra.

"Hore kita menang, kita menang! Juara tiga juga tidak apa-apa, yang penting kita liburan!" senandung suara sember Keigo dan empat orang komplotan yang selalu bersamanya ikut meramaikan lapangan. Sudah lama sekali rasanya aku tidak berada dalam lingkaran kesenangan seperti ini.

"Kuchiki, kau tidak mau minum?" Aku memutar badan, ke belakang, ke arah datangnya suara Hanatarou. Namun kepalaku berputar cepat, pandanganku kabur, dan melihat Hanatarou jadi ada dua, aku menggeleng lagi, dan melihatnya kembali jadi satu. Kenapa dengan kepalaku? Argh... sakit!

Kuremas kepalaku yang mendadak sakit dan berat, mataku terpejam agar tidak semakin pusing .

"Kuchiki?"

"Ku... chi... ki?"

"Ku-"

Pandanganku semakin gelap dan aku tidak mampu menahan diri lagi ketika sakit itu semakin parah menyerangku. Dunia seperti limbung dan aku kehilangan tenaga untuk bertahan.

.


.

.

"Dia sudah tertidur lebih dari lima belas jam, Dokter. Apakah ini wajar?"

Mataku terbuka, lebih tepatnya kaget ketika mendengar suara cemas kakak Byakuya di telingaku. Aku melirik kananku, dan beruntungnya aku berada di kamarku sendiri, bukan di rumah sakit seperti yang aku takutkan. Apa yang terjadi padaku setelah festival olahraga sekolah?

"Ini wajar, Pak Kuchiki. Pasien kelelahan, hanya itu permasalahannya. Anda tidak perlu cemas."

Dokter yang berjubah putih terlihat seperti sangat tertekan dengan pertanyaan kakak Byakuya, dan aku mengerti penyebab tekanan yang kakak berikan pada dokter berwajah tirus itu.

"Emm, boleh aku minta air?" ucapku seketika, karena tenggorokanku kering sekali. Kapan terakhir kali aku minum? Rasanya sudah lama sekali.

"Kau sudah sadar, Rukia?" kakak duduk di sisi tempat tidur dan meraih tanganku. Aku tersenyum menenangkan, meyakinkan bahwa aku tidak sakit, sama sekali tidak sakit.

Pelayan memberikan segelas air dan sebuah sedotan padaku, membiarkanku minum lewat sedotan, padahal aku ingin meneguknya cepat, aku seperti musafir yang baru saja melintasi gurun tak berujung. Haus sekali sampai membuat frustasi.

Sang pelayan meletakkan gelas yang kosong di meja sebelah tempat tidurku, tapi aku masih belum cukup memenuhi dahagaku. "Emm, boleh aku minta satu lagi?" bisikku malu-malu, dan sang pelayan tersenyum lembut, seolah tindakanku terlihat lucu olehnya.

"Silahkan, Nona," dia menyodorkan gelas kedua padaku, dan ternyata aku baru merasa cukup saat gelas ketiga habis aku seruput.

Dokter tersenyum padaku, ramah dan penuh pengertian.

"Lain kali jangan coba-coba banyak menguras energi saat Anda kurang tidur," bisik dokter.

"Maaf sudah membuat semuanya cemas," kataku perlahan, dan aku benar-benar menyesal telah membuat semuanya khawatir dengan keadaanku yang sebenarnya bisa dibilang sepele.

"Tidak apa, hanya saja Anda tidur lebih dari waktu normal sehingga Pak Kuchiki hampir saja membawa Anda ke rumah sakit," jelas dokter perlahan.

Aku melirik kakak Byakuya yang membuang wajah, seolah tidak enak hati karena dokter telah membuka satu informasi yang sepertinya tidak rela ia buka. Mendapati kakak Byakuya yang mendadak berubah diam dan menguarkan aura tidak suka, dokter yang masih tersenyum padaku sepertinya langsung sadar kalau keberadaannya tidak dibutuhkan lagi. Dia pun pamit dengan senyum kaku, menunduk sangat dalam pada kakak Byakuya, terlihat sangat ingin dimaafkan atas kelancangannya, tapi dia harusnya mengerti seperti apa tabiat kakak Byakuya yang notabene adalah kepala keluarga bangsawan Kuchiki yang merupakan kepala dari semua keluarga bangsawan.

Suasana kaku menyelimuti kami ketika pelayan ikut keluar mengantar sang dokter.

Suara detik jam di meja belajarku seperti detak jantung orang menjelang kematian.

"Rukia..."

"Iya, Kak?" Aku menjawab terlalu bersemangat karena aku kaget sendiri saat mendengar suara berat kakak Byakuya. Mata kami bertemu sesaat, tapi entah mengapa aku merasa harus membuang pandanganku ke tempat lain, sehingga aku berbalik menekuri ujung kakiku yang tertutup selimut berwarna biru laut. Untung saja warnanya biru, jadi bisa memberikan efek tenang padaku.

Kakak Byakuya bergerak dari posisinya, menggeser posisi duduknya hingga menghadapku. Aku cukup waspada saat tangannya terangkat, sekilas tragedi tamparan itu melintas di benakku, membuatku agak menegang, tapi yang aku dapati kemudian adalah tangan kakak Byakuya yang menggenggam tanganku, meraihnya dengan sangat lemah.

"Maaf aku telah membuatmu sampai seperti ini," bisik kakak penuh kegelisahan dan putus asa.

"Aku tidak apa-apa," jawabku tenang. Aku tidak akan mengatakan apapun yang bisa membuatnya semakin merasa bersalah, karena aku sangat sadar akan satu hal dalam hatiku. Aku tidak mudah memaafkan orang yang telah membuatku sakit hati, aku pendendam, dan semua orang di Hueco Mundo tahu hal itu. Jadi lebih baik kukunci mulutku sebelum aku mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat kakak marah dan mengamuk. Aku juga tidak akan merespon apapun atas permohonan maafnya, karena aku tidak mudah untuk memaafkan.

"Kau masih marah? Aku hanya tidak ingin kau melakukan hal yang tidak pantas hingga para tetua semakin memojokkanmu, Rukia. Aku ingin mereka menerimamu sebagai anggota keluarga, karena itu aku mohon agar kau menjaga tingkah lakumu."

Kemarahan memenuhi seluruh akal sehatku. Aku memandang kakak Byakuya, melihat wajahnya yang tetap datar ketika ia mengatakan kalimat yang amat sangat tidak bisa aku terima. Tanganku terkepal merenggut selimut yang menutupi sebagian besar tubuhku, aku harus menahan amarahku. Jangan biarkan diriku sendiri meledak, jangan-jangan.

"Rukia, aku mohon maaf jika apa yang aku lakukan..." kakak Byakuya meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat namun penuh keraguan, wajahnya yang seperti ini justru tidak membuat belas kasih dalam diriku muncul, justru semakin menyulut kemarahanku.

"Apakah Anda menyesal?" aku berbisik dengan menatap matanya langsung.

Kakak bertanya lewat sorot matanya, terlihat tidak percaya.

Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dan beranjak dari tempat tidurku, melangkah menuju meja belajar, tempat di mana aku meletakkan salinan surat pengangkatanku sebagai anggota keluarga Kuchiki. Mereka meletakkannya dalam sebuah pigura berwarna cokelat dengan ukiran rumit yang berlambang simbol keluarga Kuchiki. Kepalaku masih terlalu berat untuk diajak berdiri, tapi aku berpegang kuat pada meja, bersandar pada tepinya dengan tangan menggenggam pigura.

"Aku bertanya dengan sungguh-sungguh, kakak Kuchiki Byakuya yang terhormat. Aku bukan dari keluarga besar yang patut dibanggakan, hanya kebetulan Anda menemukanku di jalanan, dan kebetulan aku mirip dengan almarhumah istri Anda. Aku berusaha untuk diterima dalam keluarga ini, mempelajari dengan sungguh-sungguh tradisi dan tatakrama seorang bangsawan. Namun satu hal yang seharusnya Anda bisa terima, bahwa aku bukan manusia sempurna yang bisa dirubah dalam waktu singkat. Aku juga ingin diterima dalam keluarga ini sebagaimana adanya diriku. Diriku yang ternyata tidak bisa dengan mudah diubah dalam pengaruh tradisi dan tatakrama keluarga ini."

Wajahku terangkat, menatap langsung mata kakak Byakuya. Entah aku masih pantas menyebutnya kakak atau tidak, tapi selama status ini belum aku lepas, aku masih terikat aturan untuk memangilnya dengan sapaan hormat.

"Jika mengadopsiku hanya akan menjadi beban dan noda yang tidak bisa dihilangkan. Bukankah lebih baik jika aku tidak ada?"

Kakak beranjak dari kursinya, seperti hendak menerjangku lagi, dia kehilangan semua pengendalian dirinya ketika aku merapatkan bibir, tapi ia berhenti tepat satu langkah di depanku.

Kuberanikan diri menatap matanya yang mengobarkan amarah. "Ini bukan pemikiran sesaatku karena kejadian dua hari lalu." Aku menarik napas panjang dan melanjutkan, "Aku sudah memikirkannya sejak lama. Jadi aku memilih untuk kembali menjadi seorang Rukia, yang hidup di jalanan, jika semua proses adopsi ini hanya akan menyulitkan keluarga Kuchiki dan aku. Aku kembalikan surat ini, dan sebagai gantinya aku meminta kebebasanku lagi," bisikku dengan tangan gemetar menjulurkan pigura di tanganku.

Mata kakak membelalak lebar seperti hendak melompat dari tempatnya. Aku tetap tenang menahan kakiku yang semakin kehilangan tenaga.

"Rukia, beraninya kau berkata seperti itu!" Kakak mengguncang bahuku keras, membuat kepalaku berputar. "Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke tempat kotor itu. Kau tidak tahu seperti apa bahaya yang ada di lingkungan kasar seperti itu, dan aku tidak mau kau mengalami sesuatu yang buruk." Kakak melembut seketika, wajahnya menyiratkan iba yang tidak aku mengerti, namun detik kemudian wajahnya semakin dekat, dan seluruh syaraf dalam tubuhku berteriak penuh waspada. Aku tidak bisa membiarkan kakak lebih dekat dari ini, atau dia akan melakukan...

Wajah kakak semakin dekat, dan bibir kami hampir bersentuhan ketika ia berbisik, "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, karena aku men-"

Tok! Tok!

Kakak menunduk, dan kemarahannya kembali menyerang, tangannya mencengkram bahuku hingga tulangku seperti akan remuk. "SIAPA?" kakak berteriak pada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.

"Permisi, Tuan Byakuya. Cucu Tuan Yamamoto datang ingin menjenguk nona Rukia."

Aku terdiam, menunggu reaksi selanjutnya dari kakak Byakuya. Tadinya kukira dia akan sedikit mereda ketika tahu ada orang yang akan menjengukku (sekalipun aku tidak mengenali siapa orang yang disebut pelayan dengan cucu Tuan Yamamoto itu), namun yang aku dapati malah wajah kakak yang membara merah, menunjukkan kemarahan yang lebih menyala, bahkan tangannya yang mencengkram bahuku ikut gemetar bersama tubuhnya.

"Biarkan dia masuk," ucap kakak seraya melepas bahuku, berjalan menuju pintu yang perlahan terbuka.

Aku menghembuskan napas berat yang sedari tadi aku tahan, jantungku seperti akan merobek dadaku saat melihat kakak yang marah dan hendak menciumku.

Benarkah kakak akan menciumku? Aku tidak percaya kakak benar-benar melihatku bukan sebagai adik dari istrinya. Lalu bagaimana ia melihatku? Sebagai seorang perempuan utuh yang bisa ia jadikan...

"Silahkan." Suara kakak dingin dan kaku, sangat tidak bersahabat ketika mempersilahkan tamu masuk. Aku menoleh ke pintu, dan seketika itu juga lututku tidak mampu menopang bobot tubuhku lagi. Aku limbung ke lantai, menjatuhkan pigura di tanganku hingga menimbulkan suara gaduh karena kacanya ikut pecah saat menghantam lantai. Aku hanya mampu terduduk lemas menatap pecahan kaca di atas surat pernyataan adopsiku. Kepalaku berat, karena aku tidak mampu berpikir lagi ketika melihat wajah yang tak aku sangka hadir di kamarku.

"Anda tidak apa-apa, Nona?" Pelayan berlari panik menghampiriku, tapi aku menggeleng pelan, sibuk meredakan jantungku yang berdetak luar biasa cepat.

Jeda sejenak dalam ruangan, dan detik kemudian sang pelayan pamit pergi dalam suara langkah yang tenang.

Sepasang tangan pucat meraih pergelangan tanganku, membantuku berdiri dan kembali ke tempat tidur.

"Aku datang di saat yang tepat?" bisiknya seraya membantuku duduk di tempat tidur, dan aku bisa merasakan napas hangatnya menyapa pipiku, memberikan sensasi nyaman yang aku butuhkan, dan tanpa kusadari air mataku menetes, melepas gelisah, takut dan perih dalam hatiku.

"Ssst, tenanglah. Dia tidak akan berani melakukan apapun padamu. Dia akan bernasib sial jika berani menyentuhmu lebih dari ini. Karena aku tidak akan membiarkannya begitu saja."

Aku mendongak, menatap sepasang mata berwarna emeraldnya. Pandanganku berbayang akibat airmata yang menggenang, tapi aku tidak mampu menahan diri lagi, dan akhirnya tanganku merangkul lehernya, merangkulnya erat untuk menyembunyikan wajahku dari pandangannya.

"Aku hanya tidak mengerti. Jika memang aku tidak pantas, bukankah lebih baik membatalkan semua adopsi konyol ini?! Aku juga lebih senang jika aku bisa kembali ke kehidupanku sebelum ini," keluhku sambil mengusapkan wajah di lekuk bahu Ulquiorra. Aku membiarkan seluruh pertahananku luruh bersama tangisku. Kepalaku sakit dan berat, tidak mampu lagi berpikir panjang ketika semua kejadian ini menyerangku dalam satu waktu. Kakak Byakuya adalah satu-satunya orang dalam keluaga Kuchiki yang aku hormati dengan segenap hatiku. Kakak selalu memperlakukanku selayaknya manusia utuh, bukan seperti anggota keluarga lain yang justru memandangku sebelah mata. Tapi jika ternyata motif dari semua sikap baiknya karena maksud seperti ini, aku pun tidak bisa mempercayainya lagi. Sama sekali tidak.

"Aku berharap tidak pernah diadopsi, aku hanya ingin menjadi-"

"Cukup, Rukia," Ulquiorra berbisik pelan dengan tangan melengkung erat di punggungku, hingga aku merasakan suhu tubuhnya yang lebih hangat dariku. "Jika kau tidak diadopsi dalam keluarga ini, maka kau, maupun aku tidak akan pernah menemui takdir yang harus kita jalani," lanjutnya seraya mengusap rambut hingga punggungku.

Aku tidak mengerti takdir apa yang harus aku dan Ulquiorra jalani, takdir adalah sebuah kata rumit yang tidak bisa aku jabarkan sekalipun bisa diucapkan dengan mudah.

"Istirahatlah, kau membutuhkannya."

Ulquiorra melepaskan pelukannya, mengarahkanku untuk rebahan, dan dia berhenti bergerak ketika piyamaku yang tersingkap, menunjukkan bekas luka di sisi pinggang hingga perutku. Luka sepanjang hampir lima belas sentimeter, bekas jahitan dan parut yang sangat kasar. Sontak aku menarik turun piyamaku, tidak rela dia melihat bekas luka sejelek ini.

"Jangan kau tutupi, Rukia. Aku ingin melihatnya, aku ingin mengenalmu seutuhnya." Laki-laki bermata sayu itu meraih tanganku, menurunkannya dan membuka kembali piyamaku, menunjukkan bekas lukaku ke udara, dan wajahku memanas seketika. Aku tidak percaya diriku sendiri yang bisa membiarkan seorang laki-laki melihat luka ini.

"Apa yang terjadi?" bisik Ulquiorra dengan wajah hanya berjarak satu kepal tangan dari perutku.

Aku agak mengangkat tubuh untuk bersandar pada sikuku, melihat jemari Ulquiorra yang perlahan menelusuri bekas luka, mengirim hawa dingin dari tangannya kepadaku. Sekalipun ia memiliki suhu tubuh yang hangat, tapi ujung jarinya begitu dingin, hampir menyerupai es.

Aku menyandarkan kepala di bantal, menarik napas sebelum mengenang saat-saat paling menyakitkan dalam hidupku. Rasa nyerinya masih mampu aku rasakan setiap kali aku mengingatnya. "Waktu umur dua belas tahun aku ditabrak mobil dan terlempar ke badan jalan, tapi tubuhku terlempar hingga beberapa meter dan menghantam tumpukan rongsokan, dan saat aku tersadar, ada potongan kaleng bersarang di perutku," jawabku dengan napas tertahan, tidak ingin menunjukkan wajah lemahku padanya.

Terhantam mobil adalah kejutan yang tak kuduga, tapi terlempar hingga menyebabkan sebuah lempengan kaleng karatan menembus perut adalah sakit yang tidak aku harapkan sama sekali. Aku bahkan masih sangat sadar ketika tanganku bergerak sendiri mencabut potongan kaleng itu. Ngilu, nyeri, semua sakit menyerangku, tapi akhirnya aku pingsan juga, dan tersadar sudah berada di rumah sakit.

"Maaf..."

"Kenapa kau harus minta maaf, itu bukan sa-, Hey! Apa yang kau lakukan?" Aku terkesiap ketika melihat kepala Ulquiorra yang semakin menunduk, dan Ulquiorra mengecup bekas lukaku. Bukan hanya sekali, dia mengecup sepanjang bekas lukaku. Bibirnya dingin, tapi itu justru mengirim kehangatan ke seluruh tubuhku. Perutku melilit, wajahku panas, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Apa aku bisa tenang ketika seorang cowok menciumi perutku seperti ini? Dia bahkan melakukannya tanpa beban, seolah aku memintanya melakukan semua tindakan tak terduga ini.

"Jika saja aku mengenalmu lebih cepat, kau tidak akan mengalami hal seperti ini," bisik Ulquiorra ketika dia kembali tegak dan menatapku. Aku merasa jauh lebih malu ketika Ulquiorra memergokiku yang tengah menahan napas dengan wajah panas membara seperti ini. Dan sekali lagi dia membuatku tidak bisa berkutik dengan senyum tipisnya. "Tidurlah," ucapnya lagi.

Ulquiorra bergerak masuk ke bawah selimutku, aku kikuk sekali ketika ia menarikku hingga tubuh kami merapat. Tangannya yang satu ia jadikan alas kepalaku, sontak aku membeku. Apakah ini baik? Berada dalam satu selimut dengan orang yang baru aku kenal hanya dalam hitungan bulan, dan dia tengah merangkulku, membelai rambutku serta menepuk ringan punggungku, seolah sedang meninabobokanku.

"Aku akan mengingat saat ini dengan baik, dan aku berharap tetap bisa mengingatnya suatu hari nanti."

Aku mendenguskan tawaku mendengar ucapan Ulquiorra, dan menatap wajahnya lekat-lekat. "Memangnya kau bisa berharap tidak pikun ketika usiamu sama dengan para manula?" celetukku sambil menarik sudut-sudut bibir, menahan tawaku lolos. Namun yang aku dapatkan bukan reaksi yang aku harapkan. Ulquiorra seperti kehilangan sama sekali selera humornya, dia tidak merubah raut wajahnya sedikitpun, dia tetap memberikan wajah kaku sambil menatapku dalam.

Dia membelai pipiku perlahan, dan mengerjap lama sebelum berkata, "Kau tidak akan tahu ketika saat itu tiba, Rukia. Jangan menyesal jika kau menangis ketika aku tidak bisa mengingatmu lagi."

"Ya, ya. Saat itu mungkin aku juga sudah sama pikunnya denganmu, dan harus berjalan dengan tongkat. Oh ya, satu lagi!" aku menunjuk gigiku sendiri seraya menambahkan, "Juga sudah tidak punya gigi lagi untuk mengunyah," candaku lagi.

Ulquiorra tersenyum tipis. Mungkin bibirnya menunjukkan salah satu indikasi bahagia, tapi aku sama sekali tidak melihat kebahagiaan itu di kedua matanya. Dia seperti akan meneteskan air mata ketika tersenyum. Adakah yang salah dengan ucapanku?

"Tidurlah, jangan berpikir macam-macam," gumamnya seraya mengusap kepalaku, menarikku merapat pada lehernya.

Ulquiorra penuh dengan rahasia.

Dan aku tidak pernah tahu jika rahasia itu akan memberikan kesedihan yang mendalam. Mungkin aku akan mempertanyakan senyumnya hari ini pada sisa hidupku.

.


.

.

Aku terbangun dengan perasaan ringan, tapi begitu aku melihat kanan dan kiriku, tidak ada lagi kehadiran Ulquiorra, bahkan jejak hangat tubuhnya saja tidak ada. Waktu menunjukkan sudah menjelang siang, dan aku beruntung sekali karena hari ini libur.

Langkah kakiku berat, tapi kebalikannya, kepalaku terasa begitu ringan, tidak seberat waktu aku bangun dari pingsanku kemarin. Koridor rumah keluarga besar Kuchiki terlihat begitu panjang bagi pandanganku yang lelah. Namun angin segar pagi hari menerpa wajahku, aku melihat taman bagian tengah bangunanan bergaya Jepang klasik ini menguarkan wangi bunga yang bermacam-macam, meringankan cemas yang tiba-tiba melandaku ketika sebuah suara langkah mendekat.

"Kau sudah bangun?"

Kepalaku menoleh perlahan, dengan segera aku membalikkan badan, membungkuk penuh hormat pada sosok sepuh kakek, Kuchiki Ginrei. Aku tidak pernah menyangka harus bertemu dengannya sepagi ini. "Ya, aku baru saja bangun dan ingin berjalan sebentar, Kek," jawabku bingung, karena aku sendiri bingung kemana akan melangkah, yang pasti aku tidak suka tinggal lama-lama di kamar.

"Kau sudah merasa lebih baik?"

Aku mengangguk dalam.

"Baguslah. Karena kau harus mengunjungi Kakek Yamamoto, sebaiknya kau segera mandi dan siapkan diri," tutur kakek dengan alis terangkat, mau tidak mau aku pertanyaan bermunculan di benakku. Pertama nama itu kembali terucap, karena sepertinya kemarin ada yang menyebut nama itu, tapi siapa dan di mana aku lupa. Kedua, siapa orang ini sampai aku harus mengunjunginya tepat setelah aku bangun dari pingsan dadakan pasca festival olahraga sekolah.

"Baiklah, aku permisi," kataku cepat, dan aku kembali ke kamar, mengikuti perintah kakek Ginrei. Hanya butuh lima belas menit untuk membersihkan badan, dan saat aku keluar kamar mandi, makanan sedang disiapkan oleh pelayan di kamarku.

"Nona, Tuan Byakuya meminta Nona segera menyusul ke halaman parkir setelah makan."

"Terima kasih," aku menjawab sekenanya, dan mengendikkan bahu ketika melihat makanan yang mewah berbaris di meja, meminta untuk aku santap, tapi perutku sedang dalam masa perang dingin dengan makanan enak. Aku ingin makan ramen, bukan makanan seperti ini...

.


.

.

Kakak Byakuya seolah mengunci mulutnya rapat-rapat. Pandangannya jauh lebih dingin dari yang pernah aku lihat, dia melihat lurus ke jalan, sama persis seperti yang dilakukan sopir kantor. Wajahnya terlihat tegang dan tidak bersahabat. Mungkin kebanyakan orang melihat kakak yang berwajah seperti ini, tapi aku tidak pernah sekalipun mendapati wajahnya yang hampir tidak memiliki warna, hingga aku berpikir bahwa kakak sedang mengalami peperangan dalam benaknya sendiri.

Hari sudah menjelang makan siang, dan entah butuh berapa lama lagi hingga kami sampai, karena aku juga tidak mengetahui dimana keberadaan tempat milik kakek Yamamoto. Aku hanya mengetahui bahwa orang bernama kakek Yamamoto ini adalah orang yang dihormati oleh seluruh keluarga Kuchiki. Bahkan sampai kakek Ginrei mengatakan bahwa aku harus menjaga sikapku, jangan pernah membuat kesan buruk.

Mobil memasuki sebuah gerbang ukuran besar yang bermotif bunga sakura. Mewah sih terlihat di mata, tapi aku tidak mengerti nilai estetikanya ketika motif bunga itu dipadukan dengan ukiran berwarna kayu dalam siluet naga dan wanita penari kabuki.

Aku tidak terlalu kaget ketika kami disambut dua orang pelayan dengan seragam pelayan ala kerajaan Inggris. Kami diantar masuk ke sebuah ruang tamu dengan hiasan sederhana bernuansa klasik. Mataku haus sekali berjelaga mencari sesuatu yang mungkin terlihat tidak senada dengan dekorasi ruangan, tapi yang aku temukan hanya hiasan yang semakin diperhatikan malah semakin memikat. Semuanya seperti disusun dengan acuan pemuas pandangan, bahkan sampai beberapa lukisan di dinding tidak bertabrakan satu sama lain, sekalipun kesemuanya abstrak, aku tidak melihat ada yang aneh dari semuanya. Yah, mungkin itu karena aku tidak mengerti nilai seni dan estetika. Sebagai informasi saja, sekalipun aku sudah diajari sampai begitu mendalam mengenai ilmu seni, tetap saja otakku bebal dengan hal-hal seperti itu.

Kakak Byakuya berdiri kaku di sebelahku, entah mengapa aku mendadak mendapati sikapnya yang siaga. Sampai detik sebelumnya dia masih duduk dengan tenang, sekalipun wajah garangnya tidak juga luntur, tapi sekarang sekujur tubuhnya memancarkan aura waspada.

"Selamat datang, Kepala Keluarga Kuchiki. Silahkan duduk," ucap seorang kakek tua dengan jenggot panjang hampir menyentuh lantai. Aku melihat sosok kakek yang sama sekali tidak bungkuk sekalipun sudah sangat berumur. Dia terlihat masih sangat segar sekalipun tongkat berada di tangannya. Aku sontak beranjak dari dudukku, membungkuk penuh hormat karena aku terlambat menyadari kehadiran seseorang yang sepertinya sangat dihormati kakak. Kakak sampai membungkuk begitu dalam pada orang dengan luka berbentuk silang huruf 'X' di wajahnya itu.

"Inikah Rukia? Adik adopsi di keluarga Kuchiki?" ucap kakek itu seraya melirikku dengan mata memicing, sontak aku membungkuk lagi dengan mata takut-takut melirik kakak Byakuya, dan kakak hanya mengangguk kaku menjawab pertanyaan kakek di hadapanku.

"Selamat sore, saya Rukia."

"Aku tidak pernah menyangka akan menyukaimu saat pertama bertemu," bisik sang kakek seraya tersenyum lebar, dan aku kembali mengerutkan alis bingung.

Mungkin ini orang yang disebut dengan nama kakek Yamamoto. Aku hanya bisa menebak, karena aku tidak diberikan informasi sama sekali, jujur saja ini agak membuatku frustasi mencari kebenaran seperti ini.

"Kau bisa keluar, Ulquiorra. Aku tidak akan berkomentar apa-apa lagi," ucap kakek.

Aku menoleh pada kakak, kali ini aku benar-benar menoleh padanya dengan mata membelalak dan bertanya. Karena baru saja nama salah satu teman sekelasku disebut, bahkan dengan nada yang begitu bersahabat. Kemarin juga Ulquiorra datang ke kamarku tanpa beban, dan aku rebahan di sampingnya, tanpa satupun anggota keluarga yang memprotes, bahkan setidaknya mengatakan pada kami bahwa itu sangat tidak pantas. Sebenarnya siapa sih Ulquiorra itu? Aku baru hendak membuka mulut untuk bertanya, tapi Kakak Byakuya melangkah mendekat pada kakek berkepala plontos itu dan berkata, "Tuan Yamamoto, adikku-" ucapan kakak terhenti ketika sosok pucat Ulquiorra muncul dari kusen ruangan yang tertutup tirai yang terbuat dari kain bermotif batuan berbeda bentuk dan warna.

"Mohon maaf sebelumnya, tapi cucuku tidak terbiasa bicara langsung, jadi harap dimaklumi," jelas kakek Yamamoto dengan wajah pasrah, dan aku bisa melihat sorot matanya yang menunjukkan keseriusan juga kebanggaan.

"Nona Rukia. Mungkin ini agak aneh, tapi aku sengaja memanggil anda ke sini untuk bisa melihatmu langsung, dan membicarakan sedikit bisnis dengan Kepala Keluarga Kuchiki. Sementara kami bicara, kau bisa berjalan-jalan dengan cucuku."

Aku kembali tengok kanan kiri, persis orang linglung yang tidak tahu kemana arah semua urusan ini. Jadilah aku melihat kakek Yamamoto dan kakak Byakuya bergantian, sampai aku merasa kepalaku akan lepas dari porosnya.

"Aku akan menjemputmu begitu pembicaraan kami selesai," gumam kakak Byakuya seraya mengangguk meyakinkanku, dan mau tidak mau aku pergi. Siapa juga yang masih bisa tinggal di saat sudah diusir begini, maka jadilah aku beranjak dari sofa dan menghampiri Ulquiorra.

Ini sebenarnya ada apa sih?

Tolong! Apa tidak ada satu orangpun yang bisa menjelaskannya padaku?

.


.

.

Sekali lagi aku berada di mobil.

Bingung kan?! Aku sendiri juga bingung!

Aku menurut saja saat Ulquiorra menggiringku ke parkiran, dan mengisyaratkanku untuk masuk ke jok belakang mobil, dengan dia menyusul di sebelahku. Mobil melaju cepat memasuki jalan bebas hambatan. Entah kemana kami akan pergi, lagipula kalau aku pergi, nanti bagaimana dengan kakak Byakuya? Dia mau menjemputku dimana kalau aku pergi saja tanpa sepengetahuannya, terlebih lagi aku bisa bersumpah demi... pokoknya demi apapun yang bisa aku jadikan dasar sumpahku! Aku bersumpah kalau Ulquiorra, alias makhluk yang jarang bicara tapi suka bertindak seenaknya ini, tidak akan pernah mau menjawabku jika aku tanya kemana kami akan pergi. Sopir yang membawa kamipun sepertinya sudah dijahit mulutnya oleh Ulquiorra.

Jalur yang kami lewati perlahan aku kenali. Awalnya kami memasuki jalan rusak dan berlubang, lalu pandangan kami disapa oleh jajaran rumah sederhana dengan cat yang sudah mengelupas di banyak tempat, tapi rumah-rumah itu berjajar dengan rapi dan tertata dengan taman dan pepohonan yang terawat.

"Ini... kita mau ke Hueco Mundo, Pak?" jeritku pada sopir yang sekarang berbelok ke jalan sempit dengan tembok kanan kiri bermotif grafiti hasil para seniman dari Hueco Mundo, yang tidak lain adalah para berandalan di kelasku. Aku senang sekali bisa melihat tembok ini lagi. Tadinya kukira aku tidak akan bisa melihat lingkungan ini lagi. "Kita beneran mau ke Hueco Mundo?" aku mencondongkan tubuh pada Ulquiorra, berharap dengan begini dia berkenan menjawab kegembiraanku yang tak terkira. Ulquiorra hanya melirik padaku dan meraih wajahku, hingga aku mengira dia akan kembali menyerangku dengan ciuman dadakannya, tapi ternyata dia hanya memperpendek jarak kami.

"Jangan memaksaku bicara, Penyihir Kecil," bisiknya pelan, dan anehnya aku bisa membaca nada mengejek dalam suaranya. Jadi aku tidak tersinggung sama sekali ketika dia kembali menghempaskanku duduk dengan manis.

Mobil berhenti tepat di depan lapangan bola yang tidak terurus dekat halaman sekolah. Aku bisa melihat beberapa siluet orang yang asik bermain sepak bola di sana, dan tidak sulit mengenali siapa saja mereka. Aku kembali melompat kegirangan, seketika saja aku meraih pintu mobil, tapi tangan kurus Ulquiorra menahanku, matanya tajam menatapku seolah memintaku untuk menahan diri. Mau tidak mau aku kembali duduk, membiarkan sopir turun dan membukakan pintu untuk Ulquiorra.

Kenapa Ulquiorra yang dibukakan pintu? Bukannya aku!

Ulquiorra keluar mobil. Aku kesal sekali melihat gerakan lambatnya, namun dibalik kesan lambatnya, dia seperti memancarkan aura seorang ningrat yang sesungguhnya. Yah, dia mungkin orang kaya beneran, tidak sepertiku yang hanya adopsi. Sekali lagi aku tegaskan, kalau aku belum mengenal dengan baik sosoknya. Aku malah mengira dia dari keluarga tidak mampu, mengingat seragamnya yang selalu lusuh setiap kali berada di sekolah.

Ulquiorra bergerak ke depan mobil, melihat kanan kiri dengan seksama, bahkan matanya lama menatap langit yang hampir berwarna jingga. Aku sudah hampir berteriak memprotesnya, tapi dia lagi-lagi seperti mengetahui isi kepalaku. Dia bergerak sedikit lebih cepat dan membuka pintu di sebelahku. Aku beranjak dari dudukku, tapi Ulquiorra membungkuk hingga wajah kami hampir bertabrakan. 'Jaga sikapmu,' ucapnya dalam bahasa bibir.

Aku terdiam sejenak sebelum mengangguk dan berlari meninggalkan Ulquiorra. Jujur saja aku tidak akan berpikir banyak dengan peringatannya, jadi iyakan saja dulu apa yang dia minta, karena aku sudah tidak sabar ingin menyapa teman-teman berandalanku.

"Hei!" aku berteriak penuh semangat, tidak peduli ketika empat orang dengan wajah idiot itu menatap ke arahku penuh tanya. Aku memberikan senyum terlebarku pada mereka. Aku sungguh kangen sekali, sampai ingin memeluk mereka semua bersamaan dalam satu rangkulan tangan, tapi sayangnya tanganku pendek.

"Kau... Rukia?" Tesla angkat suara, rambutnya yang berwarna pirang diterpa angin dan melambai indah, matanya melirik Yammy, Szayel dan Nnoitra bersamaan, bahkan tidak terlihat sama sekali ada yang akan menjawab, karena semuanya punya pertanyaan, bukan jawaban atas pertanyaan Tesla.

"Ini aku, kalian kenapa sih? Aku dibawa..." aku berbalik dan melihat Ulquiorra berjalan santai mendekatiku.

"Pacarmu?" Nnoitra buka suara, namun sayangnya nada mencemooh dan jijik dalam dirinya seperti penyakit turun menurun dan tidak akan pernah sembuh, jadi yang didapatkan cowok jangkung dengan rambut hitam lebat itu hanya sebuah tatapan tajam dari Ulquiorra.

"Bukan, aku ti-"

"Aih... Rukia yang manis sekarang sudah punya pacar, dari dunia lain pula! Sejak kau diadopsi, sepertinya kau jadi semakin berbeda. Jadi orang yang tidak kami kenal." Szayel, cowok berkacamata yang umurnya hanya beda beberapa bulan dariku ini melirik Ulquiorra penuh selidik, tapi dia mampu menyamarkannya lewat senyum ramahnya, serta gaya membetulkan letak kacamatanya yang intelek, padahal dia adalah peringkat terakhir di kelas. Dia memang pintar mengatur ekspresi wajah, kebalikan dari Yammy, si gendut berbadan besar yang suka sekali makan tiga kali dari orang normal itu lebih suka menunjukkan dirinya yang apa adanya, terlebih lagi ketika dia sedang lapar.

"Jangan mulai Szayel, nanti kau sendiri yang sakit hati!" Yammy mengulurkan tangan, tapi aku tidak ingin menjabatnya, aku berlari berhambur dan memeluknya erat. Tidak keberatan sama sekali walaupun tanganku tidak akan mampu melingkar di leher besarnya, karena Yammy dengan senang hati menangkap tubuhku, menopangku sementara aku masih melampiaskan kerinduanku padanya. Dia sosok besar yang menyerupai monster bakemono deh pokoknya! Tapi dia memiliki hati paling lembut di antara semua orang yang aku kenal di Hueco Mundo. Dia selalu membelaku, tidak peduli apapun yang menimpaku, jadi aku senang sekali bisa bertemu dengannya lagi.

"Bagaimana kabarmu Monster Kecil?" bisiknya saat aku melepaskan lengkungan tangan dan kembali menjejak bumi.

"Aku baik! Sangat baik! Bagaimana dengan kalian?"

"Yah, seperti yang kau lihat!" jawab Szayel seraya mendekat dan mengacak-acak rambutku. Wajah Szayel terlihat lebih tirus dari biasanya, atau mungkin karena aku sudah tidak melihatnya berbulan-bulan. Aku mengerti bahwa Szayel yang kelihatan urakan ini sebenarnya orang yang memiliki tanggung jawab besar pada keluarganya, karena itu ia bekerja serabutan untuk keluarganya. Aku yakin dia jadi kurus begini karena dia menambah jumlah kerja sambilannya.

Sinar matahari mewarnai kulit para sahabatku yang bersimbah keringat, membuatku ingin ikut bermain bersama mereka. Aku baru saja hendak membuka mulut untuk bicara lagi, tapi kehadiran sosok Ulquiorra yang mengancam, dan tepat di belakangku, membuatku berhenti di tengah jalan. Mau tidak mau aku membalikkan badan dan merasa tatapan Ulquiorra benar-benar mengancam keberadaanku di tengah para sehabatku.

Ulquiorra mengangkat alisnya sedikit, samar dan hampir tidak kentara jika aku tidak benar-benar memerhatikannya. Tatapannya seperti tengah mempertanyakan apakah aku akan terus mengabaikannya.

"Oh ya!" aku menggaruk belakang kepalaku sambil nyengir lebar, "Ini Ulquiorra, teman sekelasku di Karakura," tuturku hati-hati. Takut-takut aku melirik Ulquiorra, dan benar saja, wajahnya semakin tidak bersahabat.

"Hai Sob! Salam kenal!" Nnoitra yang pertama kali menyapa Ulquiorra, namun sepertinya cukup mengerti kalau Ulquiorra bukan tipikal yang mudah bersosialisasi, mungkin karena itu juga Nnoitra hanya mengangkat tangan di udara, dan Ulquiorra menjawabnya dengan anggukan cepat.

Mereka saling memperkenalkan diri, dan sejenak kemudian aku melihat suasana agak mencair, bahkan sampai aura tidak bersahabat Ulquiorra ikut menghilang.

"Aku ikut main ya, sudah lama aku tidak memacu lariku," pintaku cepat, dan mereka mengiyakanku tanpa banyak protes.

"Temanmu tidak ikut?" tanya Tesla, dan aku berbalik menghadap pada Ulquiorra yang berdiri santai di tepi lapangan.

"Ulquiorra, kau ikut tidak?" seruku, dan Ulquiorra hanya menjawab lewat lambaian tangan, pertanda kalau dia tidak akan ikut dalam pertandingan kali ini.

Aku berlari cepat mengejar Nnoitra yang sudah menggiring bola ke tengah lapangan, sontak nafsu untuk merebut bola dari kaki kurus nan lincahnya memenuhi seluruh sel di tubuhku. Aku berlari cepat mengejarnya, dan dia terlalu hebat untuk aku kecoh dalam waktu cepat, bahkan Tesla dan Szayel sendiri tidak bisa memberikan tackle yang bisa menjatuhkannya. Kalau Yammy... jangan harap dia akan berlari lincah seperti kami, dia hanya berlari-lari kecil mengejar bola, dan dengan begitu dia bisa menyebabkan gempa lokal.

Nnoitra hampir membawa bola ke gawang, tapi aku memacu kakiku cepat, dan tepat saat Nnoitra menembakkan bola ke gawang karatan tanpa keeper, aku menghentikkan bola dengan pahaku. Sakit sekali karena tendangan Nnoitra benar-benar bertenaga, tapi aku tersenyum ketika bola berada dalam kendaliku, dan aku menghindari Tesla yang berusaha merebutnya dariku, aku bergerak cepat menghindari Szayel dan Nnoitra yang menyusul, dan saat posisiku cukup aman, aku bersiap menembak bola, tapi tiba-tiba Yammy datang, tanpa pikir panjang lagi aku mengayunkan kakiku ke arah bola. Di saat bersamaan Yammy menjulurkan kaki besarnya ke kakiku, dan aku tersandung hingga tubuhku jatuh berdebam di tanah lapang.

"Akh..." erangku keras-keras saat punggungku menghantam bumi, tapi aku melihat bolaku memasuki gawang dengan indah, sontak membuatku berteriak kegirangan. "Yehaaa! Itu baru gol!" pekikku senang, dan aku segera beranjak dari jatuhku, duduk santai dengan napas menderu.

"Kau memang licik! Itu bolaku!" komentar Nnoitra dengan wajah kesal.

"Tetap saja kau lengah, he he he..." aku mengangkat jempolku ke udara, membuat wajah sinis Nnoitra makin mendesis kesal.

"Mengaku saja kalau kalah, Nnoi!" sahut Tesla meledek si kurus.

"Sorry, Rukia. Kau tidak apa-apa?" Yammy menjulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

"Santai saja! Aku tidak ap-, WHOA...!"

Aku kaget sekali ketika ada sepasang tangan terselip di ketiakku dan mengangkatku bangun. Sontak aku menoleh dan mendapati Ulquiorra berdiri tepat di belakangku. Kapan dia datang? Kenapa bisa tiba-tiba saja ada di belakangku? Bahkan Yammy, Nnoitra dan Tesla sama kagetnya denganku. Szayel malah sudah melengos pergi untuk mengambil bola.

Tapi yang aku heran, tangan Ulquiorra tidak juga meninggalkan pinggangku, dia malah menarikku hingga merapat ke dadanya. "Terima kasih, Ulqui, tapi bisakah... Whoa?!"

Aku makin tidak berkutik ketika Ulquiorra justru menyandarkan kepalanya di bahuku, dengan manjanya dia memelukku di depan sahabatku. Napas hangatnya bahkan sampai terasa di kulitku. Apa lagi yang akan dilakukannya sekarang? Dia suka sekali melakukan hal yang tidak bisa aku mengerti. "Bukankah sudah aku bilang jaga sikapmu?" suara super pelannya menyapa telingaku.

"Wow... Rukia sudah berani bersikap mesra begini di depan orang-orang..." Nnoitra berkomentar, membuatku canggung dan menggeliat resah agar terbebas dari Ulquiorra.

"Bu-bukan begitu, sebenarnya Ulquiorra..." aku makin bingung ketika semua orang menatapku penuh tanya, dan Ulquiorra sungguh suka sekali memperkeruh suasana. Kalau sudah begini bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya ke teman-temanku?

"Kenapa kau memperkenalkan pacarmu sebagai teman sekelasmu?" celetuk Szayel dengan tangan melempar-lempar bola ke udara dan kembali menangkapnya dengan santai. Dia mungkin terlihat tenang, tapi aku entah mengapa aku merasa dia sedang marah padaku.

"Kenapa kau tidak main bersama kami? Jarang-jarang kan kalian bisa ke sini?" Yammy akhirnya menengahi pertanyaan Szayel yang terasa begitu berat untuk aku jawab. Aku sebenarnya tidak begitu mengerti dengan keberadaan Ulquiorra dalam hidupku. Dia hanya teman sekelas yang menyebalkan, dan suka mengubah sikapnya, caranya berkomunikasipun aneh. Yang pasti kami tidak pacaran, lalu dia dan aku juga tidak...

"Tiga lawan tiga? Bukan ide buruk!" Nnoitra tiba-tiba bicara, dan aku tertegun melihat tiga jari Ulquiorra terangkat ke udara.

Akhirnya tim terbentuk, aku bersama Ulquiorra dan Yammy. Sementara lawan kami adalah Tesla, Nnoitra dan Szayel. Pertandingan yang ini lebih sengit, aku merasa dengan jelas udara kompetisi dari semuanya. Yammy dan Tesla menjadi keeper dari masing-masing tim. Aku harus berlari lebih cepat dan mempertahankan kondisi badan karena jarak yang harus aku tempuh semakin jauh, dan hanya bisa berkoordinasi dengan Ulquiorra (yang semakin sulit karena dia tidak mau bicara!). Aku melirik jam tanganku ketika gol pertama di cetak Nnoitra penuh nafsu membara untuk membalasku, dan saat itu kami baru main lima menit. Dia memang sangat berencana untuk membalasku tanpa ampun.

Bola kembali digiring, dan Ulquiorra berhasil merebutnya dari Szayel, membuat si pink semakin geram saja. Ulquiorra bergerak begitu lincah, entah dia dapat darimana stamina seperti itu. Padahal wajahnya pucat dan terlihat seperti cowok penyakitan, tapi dalam waktu singkat dia bisa menggiring bola dan menjebol gawang Tesla.

Kedudukan selalu seperti itu, kami saling menyusul gol, semakin tim lawan mencetak poin, semakin kami terpacu untuk menaikkan ritme permainan. Ulquiorra tidak memberikan jeda sama sekali padaku untuk menggiring bola, dia hanya mengoper bola padaku ketika gawang sudah di depan mata, seolah aku ini hanya petugas pencetak gol.

Szayel berhenti di tengah lapangan dengan kaki menginjak bola, matanya melihat langit sejenak. "Sudah hampir gelap! Aku harus bersiap untuk kerja sambilan!"

"Aku juga sama," jawab Tesla dan Nnoitra dengan tangan terangkat tinggi.

"Yah... tapi kita baru main satu jam," keluhku tidak rela.

Yammy menghampiriku dan menepuk bahuku pelan. "Kami tahu kau masih ingin main, tapi kami masih punya tugas lain. Kita bisa main lagi lain waktu, aku yakin pacarmu bisa sering-sering membawamu kemari." Yammy melirik Ulquiorra yang tidak berkeringat sama sekali, wajahnya tenang dan mengangguk menjawab Yammy.

"Kami pergi, sampai nanti!" Nnoitra menyeret Tesla pergi bersamanya, tanpa repot-repot memberi salam atau semacamnya, dia memang selalu seperti itu.

"Sampai ketemu lagi!" Yammy berjabat tangan dengan Ulquiorra, dan saat aku sudah mengangkat tangan hendak memeluk Yammy, Ulquiorra menarik pinggangku hingga merapat padanya. "Kau harus mulai jaga sikapmu, aku tidak mau nanti pacarmu cemburu buta padaku!" komentar Yammy sambil tertawa lebar.

"Aku pasti datang lagi!" ucapku dengan mata hampir berair.

"Iya, kami akan tunggu. Ayo, Szayel!" Yammy memanggil Szayel yang masih menjaga jarak dari kami. Szayel melangkah berat mendekat padaku, dia menghembuskan napas berat dengan tangan terulur padaku.

"Jaga dirimu," ucapnya singkat seraya beralih pada Ulquiorra. Dengan tangan menjabat tangan Ulquiorra, dia menoleh padaku dan berkata, "Kau punya pacar yang bisa diandalkan, seharusnya kau bangga!"

Aku hanya mampu tersenyum kikuk.

"Sorry, dan terima kasih sudah membawa Rukia," ucap Szayel dengan senyum meyakinkan, sepertinya kemarahan yang tadi dia pendam sudah pergi begitu saja.

Dengan begini, keempat sahabat Hueco Mundoku pergi meninggalkan lapangan.

"Hah... kesenangan berakhir!" seruku tidak rela.

"Mau berjalan-jalan sebentar?"

Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi, tidak percaya Ulquiorra akan mengajakku jalan-jalan, memangnya dia tahu Hueco Mundo?

Jemari kurusnya meraih jari-jari tanganku, menuntunku menuju sebuah jalan setapak yang sangat aku kenal. Sinar matahari sore semakin sedikit tersisa di kaki langit, aku tidak ingin meninggalkan tempat yang sangat aku sayangi ini. Lingkungan yang kebanyakan orang bilang keras dan tidak beradab, tapi bagiku tempat ini adalah surga, tempat aku belajar mengenai nilai kehidupan, persahabatan, kasih sayang mendalam sekalipun bukan dari orang tua langsung.

Pandanganku terlalu terang hingga aku harus menutupinya dengan tangan, namun aku sangat mengenal tempat dengan pancaran cahaya seindah ini. "Kau tahu tempat ini?" tanyaku saat kami semakin dekat dengan tempat bernama Lautan Pasir Hueco Mundo.

"Aku melihat semua catatan tentang dirimu," bisik Ulquiorra seraya menggiringku menuju sebuah batu tepian yang menjorok, tempat aku biasa menghabiskan sore hari jika sedang libur kerja sambilan.

Lautan Pasir Hueco Mundo adalah tempat yang menurut para leluhur, dulunya adalah lautan, tapi karena sebuah peristiwa alam yang tidak begitu jelas aku ingat, kalau tidak salah ada juga cerita legenda kuno yang mengatakan bahwa seorang Shinigami (Dewa Kematian) mencintai seorang pemuda manusia dan dikutuk tinggal di bumi untuk menelan semua manusia yang mencoba melakukan hal yang sama dengannya. Dari cerita yang pernah aku dengar, dulunya lautan itu begitu indah, namun mengering dalam satu malam dan yang tertinggal hanyalah hamparan pasir yang berwarna kemilau pelangi ketika matahari sore menerpakan cahayanya di permukaan pasir. Berkerlip indah seolah memamerkan keindahannya pada setiap orang yang melihatnya. Bagiku Lautan Pasir Hueco Mundo adalah surga tersembunyi dari Hueco Mundo. Tetapi jangan pernah sekalipun mencoba menjejakkan kaki di sana, karena pasir itu akan menghisap, menenggelamkan apapun yang ada di permukaanya, seolah pasir itu tidak pernah mau menerima benda atau makhluk lain di atasnya. Aku pernah mencoba menerbangkan pesawat kertas dan mendarat di tengah-tengah pasir, dan hanya dalam hitungan detik, pesawat kertasku terhisap. Nnoitra bahkan pernah iseng melempar sandal Szayel hingga Szayel menangis karena sandalnya yang paling bagus hilang ditelan pasir. Saat itu kami masih kelas empat sekolah dasar. Aku jadi merindukan saat-saat bersama mereka.

Aku dan Ulquiorra duduk berdampingan, kaki kami menggantung tepat di atas pasir yang berdesir searah angin berhembus. Kami menatap matahari yang perlahan hilang, berganti dengan lampu jalan yang menyala satu per satu.

"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanyaku seraya menoleh padanya.

Ulquiorra diam sejenak, dan menarik napas panjang sebelum menoleh padaku. "Karena kau menginginkannya."

Aku mengernyitkan alis dalam-dalam, tidak mengerti dan ingat kapan aku pernah mengatakan padanya kalau aku ingin ke Hueco Mundo.

"Kupikir mungkin kau akan suka jika aku ajak ke sini. Di rumah Kuchiki kau pasti tidak akan diizinkan ke sini," gumamnya tenang, membalas tatapanku dengan sorot lembut. Sontak aku tersenyum, seperti ada ribuan bunga yang mekar dalam hatiku, membuatku ingin memeluk Ulquiorra sekarang juga. Bagaimana bisa dia begitu mengerti aku, dan dia melakukan hal yang tidak aku minta sama sekali.

"Kau tahu..." bisikku seraya mencondongkan badan agar dia bisa mendengarku.

"Hmm?" dia berdehem pelan, tidak menarik diri sama sekali, aku justru suka melihat sorot matanya yang agak ingin tahu dengan kilat jenaka.

"Kukira aku mulai menyukaimu," lanjutku dengan senyum lebar.

Ulquiorra meraih tanganku tanpa menurunkan pandangannya dariku. "Kau bukannya mulai menyukaiku, tapi kau jadi lebih menyukaiku," desisnya dengan mata menerawang jauh menatapku. Aku seperti mulai tenggelam dalam pesona emeraldnya yang memberikan delusi bahwa ia begitu tampan dan lembut dengan segala pengertian serta sikap yang ia berikan padaku.

"Kau percaya diri sekali," jawabku meledeknya, dan merasakan jantungku semakin berdegup hebat ketika dia tersenyum menjawabku. Jemarinya menyusup ke leherku, dan perlahan naik hingga menyelinap di antara rambut belakang telingaku.

"Aku selalu bertanya, dan tidak pernah tahu kapan aku harus melepasmu." ucapnya tepat di atas bibirku, dan aku membalas genggaman tangannya di tanganku.

"Kalau begitu jangan lakukan," candaku, dan dia tersenyum dengan begitu lembut.

Aku membiarkan Ulquiorra yang semakin dekat, hingga aku tanpa sadar terpejam, menyiapkan diri hingga akhirnya bibir kami bertemu. Perlahan dan tidak memaksa. Ulquiorra selalu memberikan sensasi itu padaku, seolah membiarkan aku memilih apakah aku akan menerimanya atau menolaknya. Sejujurnya aku tidak mampu menolak seseorang yang sudah begitu memikatku seperti ini, mungkin benar apa yang dia katakan, bahwa aku lebih menyukainya sekarang. Ulquiorra memperdalam ciumannya, dia melepas tanganku dan meraih punggungku, membawaku semakin rapat padanya, menyesap madu yang memabukkanku hingga aku terbuai dalam tiap sapuan bibir dan lidahnya.

Tiap kecupan ia ia berikan adalah wujud detak jantungku yang tak beraturan, tiap kali hembusan napas kami bertemu, aku merasa seluruh syaraf dalam tubuhku menyadari bahwa ini tidak salah sama sekali. Bahwa sudah selayaknya aku merasakan tiap sentuhannya, setiap esensi kehadirannya dengan seluruh sadarku.

"Aku mencintaimu, Rukia..." bisiknya ketika ia mengakhiri ciumannya, memelukku begitu erat, seolah takut aku akan pergi dari sisinya dalam sekejap mata.

"Apa aku perlu menjawabnya?" ledekku, berusaha menyembunyikan deburan jantungku yang tak kenal kompromi.

"Tidak perlu..." ucapnya dengan nada riang seraya mengecup lekuk leherku perlahan, dan kembali memelukku erat. Sontak panas menyelubungi wajahku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Aku tidak bisa lagi lepas dari jerat cowok aneh ini, dan aku justru mendapat firasat bahwa aku akan semakin menyukainya.

.


.

.

Malam sudah terlalu larut ketika aku sampai di rumah besar Kuchiki. Kantuk sudah terlalu menguasaiku, karena aku sadar betul kalau aku tertidur sepanjang perjalanan, dan Ulquiorra membiarkanku tidur di pangkuannya. Ada untungnya juga punya badan mungil sepertiku, karena aku hanya perlu menekuk lututku agar aku bisa tidur dengan nyaman. Sengaja kami menghabiskan waktu lebih lama untuk duduk di lautan pasir Hueco Mundo. Tadinya kukira kakak Byakuya akan benar-benar menyusulku seperti apa yang ia katakan, tapi ternyata kakek Yamamoto lebih lama menghabiskan waktunya sehingga tidak bisa menyusulku. Informasi ini aku dapat dari Ulquiorra ketika aku mengingatkannya untuk segera pulang.

"Rukia?" aku berbalik ketika sampai di depan kamar, suara berat kakak Byakuya menyadarkanku sepenuhnya dari kantuk yang masih membayangi. Tapi selain suara kakak, genggaman tangan Ulquiorra yang mendadak mengeraslah yang lebih mengagetkanku. Entah mengapa aku merasa seperti sedang melihat harimau yang sedang menahan kemarahan.

"Selamat malam, Kak..." sapaku takut-takut, tapi Ulquiorra tetap santai dengan kedua tangan masih bersarang di bahuku. "A... aku langsung tidur," ucapku tergugup, tidak ingin terus bertahan dalam suasana kaku seperti ini.

"Kau langsung pulang,.. kan?" tanyaku pada Ulquiorra, memberi isyarat padanya agar segera pergi jika tidak ingin dimakan hidup-hidup oleh kakak Byakuya.

Ulquiorra hanya mengangguk dalam, tapi tangannya justru meraih pintu kamarku, dan mengarahkanku masuk ke kamar, dan menutup pintu tepat di depan wajahku. Aku bahkan belum berucap apa-apa, tapi yang terdengar kemudian hanya langkah kaki tenang, tidak ada lagi suara seperti yang aku takutkan. Mungkinkah kakak Byakuya membiarkan Ulquiorra pergi begitu saja? Semudah itu dia melepaskan orang yang sudah membuatku pulang larut?

.


.

.

Pagi datang lebih cepat, dan aku sebenarnya agak tidak suka dengan pola bangun pagi yang mulai terjangkit sejak aku masuk ke rumah ini. Aku harus mandi dan bersiap pagi-pagi sekali, dan setelahnya harus bergabung dengan anggota keluarga lain untuk serapan. Biasanya aku hanya sarapan bersama kakek dan kakak Byakuya. Tapi sepertinya ada yang berbeda pagi ini.

Aku sampai di ruang makan, dan mendapati meja hanya dihuni oleh kakak Byakuya. Dia belum mulai makan, sedang membaca koran dengan serius, membaca halaman pergerakan keuangan dan bisnis. Inilah rutinitas seorang pebisnis, aku tidak kaget sama sekali. Tapi aku kaget karena kakek tidak ada bersama kami, ini artinya aku hanya makan berdua dengan kakak Byakuya, padahal aku dan kakak belum menyelesaikan adu mulut kami sejak aku bangun dari pingsan pasca festival sekolah. Bahkan pigura saja masih aku biarkan dalam keadaan tanpa kaca, aku tidak berminat untuk memperbaikinya.

"Se-selamat pagi, Kak," sapaku kaku, dan aku meletakkan tasku di kursi kosong setelah menduduki kursi yang letaknya berseberangan dengan kursi kakak.

"Pagi." Kakak melipat korannya, meletakkannya di sisi meja yang kosong, tangannya meraih sumpit di sisi kanannya. Aku melakukan hal yang sama, agak canggung dan menunggunya selesai mengambil beberapa porsi lauk untuknya. "Aku akan mengantarmu ke sekolah hari ini, karena sopir sedang mengantar kakek ke rumah sakit untuk check up," ucapnya dingin.

"Baik," jawabku singkat.

Jadi alasan kakek tidak makan pagi bersama kami karena kakek harus ke rumah sakit. Keadaan ini membuatku semakin terjebak. Selain sarapan bersama kakak, aku masih harus bersabar berada satu mobil dengannya selama kurang lebih lima belas menit. Aku ingin menolak dan beralasan untuk naik bis, tapi aksiku akan semakin mencolok. Kakak pasti langsung tahu bahwa aku sedang menghindarinya.

Seperti dugaanku, selama perjalanan kami hanya saling bungkam sementara kakak Byakuya menyetir dengan konsentrasi tingkat tinggi. Dia menyetir seolah seluruh hidupnya tergantung dari hal itu. Aku hanya melihat ke luar, pemandangan monoton di sepanjang jalan menuju sekolah. Aku melirik jam tanganku, dan parahnya aku masih harus bersabar sepuluh menit lagi. Kenapa kakak Byakuya harus menyetir dengan kecepatan serendah ini? Bukannya dia harus cepat sampai di kantor? Kalau hanya menggas mobilnya dibawah kecepatan 50km/jam, baru jam berapa dia sampai di kantor?

"Rukia..."

Oh, tidak! Aku tidak ingin memulai pembicaraan macam apapun, atau semuanya hanya akan berakhir dengan cekcok. Tapi mau tidak mau aku meresponnya.

"Ya?" jawabku seraya menoleh padanya, aku harus menghormatinya walau bagaimanapun kesalnya aku.

"Kau berumur 17 tahun kurang dari tiga minggu lagi." Kakak mengganti posisi gigi mobil dengan tangan canggung. Ada apa ini? Apa yang salah dengan aku yang akan berumur 17 tahun sampai kakak begitu kikuk?

Aku berdiam diri, menunggu dia menunjukkan maksud inti dari permasalahan ini.

"Aku tidak pernah melarangmu berteman dengan siapapun. Tapi kau berteman dengan cucu kakek Yamamoto. Kau tahu anak itu seperti apa? Aku dengar kalian sudah sangat dekat, apakah kau cukup mengenalnya hanya dalam waktu sesingkat ini? Kau tahu dia tidak bicara pada siapapun, kan? Setidaknya jaga sikapmu hingga kau menginjak usia 17 tahun. Dan yang terpenting, kau harus bisa memilih teman dengan baik."

Bingo!

Kakak Byakuya tepat menusuk pada permasalahan yang tepat. Kenyataan ini membuatku makin tidak bisa berpikir jernih. Mataku menatap bosan pada jalan di hadapanku, pola aspal yang monoton membuatku semakin berat mengalihkan kemarahan yang membara dalam hatiku. Aku memang tidak pernah mengenal pribadi Ulquiorra dengan baik, namun bukan hak siapapun mengadiliku, memvonis harus seperti dan dengan siapa aku berteman. Ulquiorra bukanlah orang jahat, dan aku yakin akan hal itu. Sekalipun sering kali aku tidak mengetahui apa yang dia pikirkan, hati kecilku hanya berkata bahwa dia tidak pernah berniat untuk menyakiti orang lain. Aku justru merasa dia tengah menyiksa dirinya sendiri dengan menahan diri, menyembunyikan semua emosinya dan tidak pernah menyuarakan apa yang ia inginkan.

"Rukia? Apa kau mendengarku?"

"Iya Kak, dengan sangat jelas," jawabku pendek. Sudah cukup perdebatan antara aku dan kakak, dan bukan hal bijak jika aku menambah daftar yang sudah terlalu panjang ini. Aku akan bersikap seperti adik baik yang mendengarkan, tapi jangan salahkan aku jika ternyata pola pikir kami bertolak belakang. Aku tidak akan menjauhi Ulquiorra, karena... Setiap kali melihat ke mata emeraldnya, aku merasa dia seperti akan hilang jika aku tidak berusaha menggapai tangannya. Seperti kehadirannya di sekolah, dia hadir dan ada di antara semua penghuni, tapi semua orang seperti menghapus keberadaannya begitu saja.

Aku turun di dekat halte sekolah, sengaja meminta kakak agar tidak masuk ke parkiran karena aku takut ia terlambat. Alasanku cukup masuk akal, karena hanya tinggal beberapa menit sebelum bel jam pertama berbunyi, jadi aku berlari cepat memasuki gerbang.

Kelas terlihat tenang, dan mataku bergerak cepat mencari sosok Ulquiorra, tapi aku tidak mendapatinya di dalam kelas. Langkahku langsung lunglai, lemas kehilangan semangat. Kukira dia akan hadir setelah bersikap lebih terbuka kepadaku.

"Kau mencari Ulquiorra?" tanya Senna saat aku duduk di kursi.

Kepalaku terangguk lemah.

"Sepertinya penyakit menghilangnya kumat," sahut Senna santai.

"Dia memang selalu menghilang menjelang ujian akhir kenaikan kelas," tambah Keigo lantang, seolah takut aku tidak akan mendengarnya.

"Memangnya kapan kita ujian?" Aku sepertinya tidak cukup peka dengan jadwal sekolah, karena aku tidak tahu sama sekali kalau kami akan menghadapi ujian kenaikan kelas.

"Minggu besok, Kuchiki! Pengumuman sudah ditempel dari minggu lalu," sahut Uryuu agak sewot.

"Aku tidak tahu, makanya aku tanya Ketua Kelas!" jawabku kesal.

"Kau terlalu keras padanya, Uryuu! Kau lupa kalau dia dan pasangannya adalah pahlawan kelas. Karena mereka kelas kita bisa pergi ke onsen tepat setelah ujian. Senangnya hatiku, jalan-jalan ke onsen, menginap di onsen..." Keigo kembali menggila dan menyanyikan lagu kebanggaan onsennya.

"Tanggal berapa kita berangkat ke onsen?" tanyaku lagi, persis orang bodoh, karena semuanya, baik Senna, Keigo, maupun Uryuu langsung menepuk dahi mereka sambil geleng-geleng kepala. Apa iya aku sampai tidak sepeka itu ya? Aku memang tidak tahu kapan kelas kami akan jalan-jalan ke onsen!

"Kau saja yang beritahu, Senna! Kepalaku seperti mau pecah menghadapi Kuchiki," ucap Uryuu yang langsung melengos pergi dengan desahan napas berat.

"Kenapa kau menghela napas begitu? Seperti aku sudah membebani seluruh hidupmu saja, Pak Ketua!" semburku marah.

"Kau memang perlu melihat apa yang tertulis di papan pengumuman, Kuchiki Rukia..." keluh Keigo yang ikutan mengambil langkah mundur dariku.

Senna hanya memberikan seringai lebar padaku, sorot mata hangatnya menyiratkan bahwa ia tidak sedang kesal atau meremehkan ketidaktahuanku. Memang dia satu-satunya penghuni kelas yang paling sabar, seharusnya dia yang menjadi ketua kelas, bukan malah si Uryuu yang tidak pernah bisa mentolerir kesalahan orang. Dasar Pak Ketua Sok Sempurna!

"Kita berangkat ke onsen tanggal 14, tapi sebelumnya kau harus siapkan diri untuk ujian, Rukia. Kita harus satu kelas lagi nanti, ok?" tutur Senna sebelum kembali ke tempat duduknya.

Tanggal 14? Jadi kami berangkat ke onsen tepat di hari ulang tahunku? Kuharap kakak tidak menyiapkan sesuatu yang khusus di tanggal itu, jika tidak maka aku tidak akan bisa pergi bersama yang lain ke onsen. Ironis sekali kalau sampai aku tidak bisa pergi, padahal aku yang... yah, sedikit banyak menyumbangkan tenaga agar kami bisa pergi ke onsen, kan sayang sekali jadinya.

Apakah Ulquiorra juga pergi?

Mataku bergerak cepat melirik tempat duduk kosong di sebelahku. Tempat itu terlihat tidak hanya kosong, tapi juga menyisakan aura dingin yang tidak biasa. Entah mengapa aku merasa ada yang salah dengan ketidakhadiran Ulquiorra di kelas. Mungkinkah benar apa yang dia bilang sewaktu kami di Hueco Mundo? Aku jatuh cinta padanya? Pada gunung es sepertinya? Yang benar saja!

.

.

To be continue…

.


Sorry for the delayed.

Chapter 3 will upload soon, maybe i need 2 or 3 weeks to finish Chapter 3.

-:- -:- Nakki Desinta -:- -:-

01.03.2018