Pernikahan? Bahkan tadi pagi Jimin bangun tidur dan sarapan seperti biasa. Tidak ada yang satupun anggota keluarga angkatnya yang menghubunginya dan menyinggung masalah serius tersebut. Apa mungkin mereka masih ingin menjaga perasaan Jimin? Lalu Yoongi? Ucapan itu masih segar diingatannya dan dia malah sudah pergi saja dengan laki-laki lain. Bahkan Yoongi ingin menghampirinya dan Jimin yakin Yoongi ingin mempermalukan Jimin dihadapan namja itu. Akh! Bahkan Jimin tidak ingin menyebut nama namja sialan itu.

"Dia itu sebenarnya serius atau tidak sih? Dan namja itu, uh! Rasanya ingin aku kuliti saja!" Jimin menangis sambil terus memukul guling Jungkook yang tidak bersalah.

"Hyung! Hentikan! Jangan rusak gulingnya! Itu hadiah dari Taetae hyungie. Aigoo!" Jungkook kewalahan menghentikannya dan masih dengan bertarung melawan Jimin, Jungkook menasihatinya, "Aku yakin Yoongi sunbae serius. Tapi, katakan saja kalau kau menerimanya. Aish hyung!"

Jungkook akhirnya berhasil menyelamatkan guling kesayangan pemberian penuh cinta dari Taehyung. Jimin duduk bersila dan bersandar di kepala ranjang. Lalu, Jungkook duduk disampingnya. Pandangan mereka hanya lurus ke depan.

"Kau mencintai Yoongi sunbae kan?"

"Ani!"

"Lalu, kenapa kau cemburu?"

"Aku hanya sakit hati melihat namja itu. Bukan cemburu dengan Yoongi hyung."

"Otakmu sama saja dengan Taetae hyung. Kau-ADUH!"

Jimin masih ingin menjitak jidat Jungkook agar otaknya yang ada dibalik jidat mulus itu bisa memerintah mulutnya untuk berbicara sopan kepada orang yang lebih tua. Walaupun wajah Jimin lebih imut bukan berarti Jungkook bisa seenaknya.

"Apa aku harus mengajarimu tatakrama lagi? Otakmu juga sama dengan Taetae. Kalian benar-benar cocok jadi pasangan IDIOT!"

"Aku tau kau galau, hyungie. TAPI JAGA JUGA KATA-KATAMU!"

Jungkook langsung menahan tangan Jimin yang ingin menjitaknya karena sudah berteriak. Di dalam kamus hidup Jimin, berteriak kepada orang yang lebih tua sangat sangat tidak sopan. Bagaimana cara Jimin bisa mengajari kelinci sialan ini. Jungkook menghempaskan tangan Jimin dan mereka saling bertatapan. Entah mengapa mereka malah tertawa.

.

.

.

Hoseok menghentikan tangan Yoongi yang hendak menuangkan minuman terkutuk itu lagi. Ini sudah botol keenam dan wajah Yoongi benar-benar sudah memerah.

"Yoongi! Hentikan!"

"Hahaha…aku sudah menunggu bertahun-tahun, Hoseok-ah. Aku ke luar negri untuk melupakannya. Aku hampir kehilangan semangat hidup."

Suara Yoongi seperti berdengung karena ia menunduk menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Ia terus meracau tidak jelas. Mengeluarkan isi hatinya yang hanya Hoseok saja yang mendengarkannya.

"Saat aku pulang dan mengetahui dia ada dirumahku, aku kembali mendapatkan semangat hidupku lagi. Nyawaku kembali. Aku senang setiap tahun aku pulang. Tapi, dia tidak pernah mau berbicara kepadaku."

"Yoongi…."

"Dia minta bukti keseriusanku. Aku melamarnya. Aku ingin mengajaknya membicarakan pernikahan. Kenapa dia malah pergi? Kenapa?" Suara Yoongi semakin pelan berganti dengan hembusan nafas teratur. Hoseok mengelus rambut Yoongi.

"Nasib kita memang sama. Aku tidak bisa mendapatkanmu dan kau tidak bisa mendapatkan Jimin. Walaupun aku tidak bisa mendapatkanmu, aku yakin kau akan mendapatkan Jimin. Aku yakin itu. Berjuanglah!"

.

.

.

Cahaya matahari yang berasal dari jendela kamar Jungkook membuat Jimin terbangun. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi dan untung saja hari ini hari minggu. Jimin pun berniat untuk tidur kembali namun, ia langsung mencari ponselnya. Bau masakan tercium oleh Jimin dan ia melihat Jungkook membawa meja kecil. Lalu, ia meletakkannya di hadapan Jimin. Mereka sarapan berdua.

"Taetae tidak datang?"

"Mungkin sebentar lagi hyung. Kau tau kan bagaimana rajinnya dia bangun pagi saat hari minggu?"

Jimin tertawa mendengar sindiran dari Jungkook.

"Hyung, tadi kau mencari apa?"

"Ponselku. Kau melihatnya?"

"Oh itu. Tadi ponselmu berbunyi. Telfon dari Seokjin. Terus, ponselnya mati deh gara-gara habis baterai."

"Aigoo! Pasti eomma sangat mengkhawatirkan aku. Aku harus…." Gerakan Jimin terhenti saat Jungkook menahan tangannya.

"Kau harus sarapan dulu atau aku akan membencimu."

Jimin tersenyum dan mengelus rambut Jungkook karena mengerucutkan bibirnya, "Adikku pandai merajuk rupanya. Baiklah! Aku akan memakannya."

.

.

.

Rasa pusing mendera kepala Yoongi saat ia terbangun. Ia yakin ini pasti efek dari mabuk semalam. Untuk saat ini ia bersumpah untuk tidak mabuk lagi. Yoongi melihat sekelilingnya dan terlihat sangat asing. Lalu, pintu kamar tersebut dibuka oleh pemilik kamar.

"Sarapan dulu sebelum kau pulang. Aku sudah memberitahu ibumu kalau kau ada disini."

"Huh!" Yoongi mengusap wajahnya. Lalu, ia beranjak.

.

.

.

"Aku pulang!" Ujar Jimin setelah membuka pintu. Langkahnya langsung terhenti bahkan ia hampir jatuh jika tidak bisa menahan Seokjin yang tiba-tiba memeluknya.

"Maafkan eomma, Nak! Eomma akan melakukan apa saja agar kau tidak pergi."

"Eomma kenapa bicara seperti itu? Eomma tidak salah. Aku yang salah karena tidak memberitahu eomma. Maaf."

Seokjin melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Jimin. "Kalau kau memang keberatan dengan pernikahan ini, eomma akan bilang kepada Yoongi untuk membatalkannya. Eomma akan bilang sekarang. Eomma…" ucapannya terhenti saat Jimin mencium punggung tangan kanannya dengan penuh perasaan.

"Aku tidak keberatan Eomma. Aku…."

"Jiminnie! Kau kemana saja?" Suara berat Namjoon yang sedang menuruni tangga menyapa telinga Jimin.

"Maaf karena aku selalu menyusahkan kalian. Maaf!" Jimin mulai menangis dan Seokjin langsung menghapusnya.

"Tidak! Tidak! Jangan menangis, Nak. Kami hanya khawatir kau tidak pulang dan tidak ada kabar. Eomma fikir kau benar-benar meninggalkan eomma karena pernikahan ini."

"Aku hanya berfikir dan meminta saran dari sahabatku. Itu saja. Aku menginap di apartemen Jungkook dan ada Taehyung juga disana." Suara Jimin terdengar pelan dikata yang paling terakhir.

"Baiklah. Lalu kau mau bicara apa tadi?"

"Eoh? Ani. Aku tidak ingin berbicara apapun."

"Mandi dulu sana. Lalu makan ya?"

Jimin mengangguk.

.

.

.

Jimin baru saja duduk di kursi meja makan. Matanya terlihat sedang mencari keberadaan seseorang. Siapa lagi kalau bukan laki-laki bernama Min Yoongi? Orang yang lamarannya masih segar diingatan Jimin tapi malah menghilang.

"Kau mencari Yoongi?" Tanya Namjoon yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik bola mata Jimin.

Seokjin yang duduk disebelahnya tersenyum jahil sambil mengelus rambut Jimin, "Dia tidak pulang semalam dan sedang menginap di apartemen Hoseok. Dia akan pulang sebentar lagi."

Nama itu lagi! Kalau saja ia sedang sendiri, pasti Jimin sudah berteriak dari tadi. Selera makannya menghilang begitu saja.

"Kau tidak makan, Nak?"

"Eoh? Tidak eomma. Tadi aku sudah sarapan di apartemen Jungkook."

"Sarapan itu untuk pagi hari, Jiminnie. Sekarang sudah siang."

"Tapi aku tidak lapar eomma."

"Kalau begitu, minum teh ini." Seokjin menyodorkan secangkir teh dan langsung diterima oleh Jimin.

"Gomawo, eomma."

"Aku pulang!" Suara itu terdengar saat Jimin baru akan meneguk tehnya dan entah mengapa Jimin menghembuskan nafas lega.

"Yoongi, ayo makan."

Yoongi menggeleng pelan dan tersenyum.

"Aku sudah makan eomma. Aku ingin istirahat saja." Yoongi langsung menaiki tangga menuju kamarnya.

"Eomma, appa, aku mau menemui Yoongi hyung dulu."

TBC

Thanks buat yang fav, follow, dan review. Sebenarnya mau update seminggu sekali. Tapi author nggak tega biarin kalian penasaran.