Chapter 2

Place To Hide

Main Cast : Byun Baekhyun

Park Chanyeol

EXO support member

Genre : Yaoi, Boys Love , Romance, Absurd.

Rating : T

Author : Yeolvin

Note : No bash, No plagiat And No copas because this is purely my thoughts.

Music Recomented : Ye Eun WG - Hello To My Self [OST Dream High 2]

Warning : Sorry for Typo

Don't like don't read!

Happy Reading..

Tap tap tap

Baekhyun terus melangkah sampai di depan pintu rumahnya ia bertemu pandang dengan manik mata Park Chanyeol yang memang sedang berdiri sejajar dengannya karena rumah baru yang akan di tempati chanyeol saling berhadapan dengan rumah Baekhyun. Chanyeol menurunkan ponsel di telinganya.

"Kau..." suara berat itu membuyarkan pikiran Baekhyun.

Place To Hide(?)

Baekhyun membungkukan sedikit memberi salam lalu mengeluarkan kunci rumah yang berada di dalam saku celana.

"Aku... ini rumahku." Baekhyun memperlihatkan kuncinya pada Chanyeol dengan ekspresi datar.

Lalu ia masuk begitu saja tanpa mau mendengar kata – kata Chanyeol selanjutnya yang memang menurut Baekhyun adalah orang asing.

Greepppp

Baekhyun menutup pintu sedangkan Chanyeol termangu melihat pintu berwarna biru sudah tertutup rapat.

Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum melenggos masuk ke dalam flat.

Terukir senyuman yang tidak terlalu lebar saat mengartikan bahwa Chanyeol selesai melihat-lihat ruangan di tempatnya.

Sekarang Chanyeol di sibukkan dengan menata barang – barang yang ia keluarkan dari kotak miliknya seperti bingkai foto. Terlihat foto dirinya tersenyum lucu menggemaskan. Jam waker di taruhnya di meja dekat tempat tidur. Dan benda- benda lainnya seperti earphone, buku, camera digital, parfum, atau kacamata. Sebelumnya perabotan yang di butuhkan sudah tersedia semua.


Di sore hari Suho turun dari mobilnya. Ia berjalan menaiki anak tangga membawa map hasil tes Baekhyun. Ia seperti kebingungan di sepanjang jalan apartemen.

Suho berpapasan dengan orang yang lebih tinggi di ambang pintu sebelah yang sepertinya akan keluar.

"Kau adalah pemilik baru rumah ini?" tanya Suho kepada anak yang lebih muda.

"Iya, lalu... apa yang dokter lakukan?"

"Sebenarnya ini rumahku." nada suaranya terdengar santai.

"Eh?" Chanyeol sedikit terkejut karena menurutnya dunia sangat kecil dan sebelumnya ia juga melihat seseorang memasuki tempat tinggalnya.

Suho terkikik pelan. "Mengetahui kau tetangga baruku, itu tidak buruk Chanyeol-ah."

"Tapi, um.. kau tinggal bersama seseorang yang lain? soalnya aku melihat-

seseorang yang lain. "Maksudmu Baekhyun?"

"Apa?"

"Dia adikku. kami tinggal berdua."

"Ahh..." Chanyeol mengangguk-angguk mengerti.

"Kita bisa saling membantu kalau begitu." Suho tersenyum pada Chanyeol dan setelah itu melirik pada kenop pintu dan memutarnya. "Aku akan masuk." Saat Suho sedikit berbalik, Chanyeol menghentikkan pergerakannya dengan bergumam kata 'tunggu'. sementara Suho menatapnya kembali dengan seperti ingin bertanya. Apa?

"Kapan bibi pengurus apartemen akan datang?"-


Baekhyun dan Suho sedang duduk di sofa merundingkan tentang kondisi Baekhyun yang sesungguhnya.

"Sudah aku periksa ulang. Aku kira dokter yang memeriksamu salah cetak. Tapi hyung bersyukur karena sebenarnya hasil mu baik. Tidak ada penyakit apapun dan semua tes menyatakan normal." Suho memberikan map berisi kertas itu pada Baekhyun dan Baekhyun membacanya dengan teliti.

"Benar, kalau begitu aku tidak sakit?" Baekhyun memicingkan matanya bulat walau kita lihat dia tetap saja sipit.

"Tidak. maka dari itu aku memeriksanya kembali di lab." Suho memainkan jarinya yang bertaut melipat di atas lututnya.

"Lalu apakah hyung bisa menjelaskan apa yang sering terjadi padaku?" Baekhyun menurunkan kertas itu dari tangannya.

"Menurutku, kau harus ceritakan semua masalahmu. Mungkin kau banyak pikiran, bisa juga karena gangguan psikis. Jadi intinya kau jangan mengkhawatirkan tentang penyakitmu karena buktinya kau tidak apa – apa."

"Tapi... mengapa? ini semua sulit untuk di pahami."

"Biasanya apa yang membuatmu... merasakan seperti itu?" Suho melihat pada lengannya tapi setelah itu melirik Baekhyun kembali.

"Huh?"

"Apakah karena 'peristiwa hebat' di masa lalu? jujur saja semenjak itu kau... menjadi aneh dan berubah. itu menurut pemikiranku saja, apakah benar karena itu?"

"Ahh... hyung, bisakah kau tidak mengungkitnya. Aku... aku... mungkinkah?!"


BAEKHYUN

Hari sudah mulai larut dan aku sedang browsing dengan komputer di meja belajar.

Aku sedang mencari sebuah pengetahuan yang mungkin harus ku ketahui tentang diriku. Sekedar informasi atau semacamnya yang bisa ku dapatkan.

perkataan Suho hyung tadi sore, membuatku penasaran dan ingin mengulik sebuah gangguan psikis. Dan itu adalah kunci keyboard pertama yang ku ketik di layar.

Ada banyak sekali macam-macam dari gangguan tersebut, lalu aku memilih Kata Agoraphobia yang memang pertama terurut di list.

Klik

Kedua mataku tidak lepas dari bacaan di monitor. Aku merasa tertarik untuk tahu lebih jelas mengenai hal itu. Aku terus membacanya dan pada saat itu mataku tercengang. entah perasaan menyiksa atau lega.

"Benarkah?" Lirihnya pelan lalu menghela nafas dan sedikit membendung liquid di kelopak matanya.

Perasaanku tidak bisa di gambarkan karena bercampur aduk dengan rasa senang karena aku telah mengetahui jawaban mengapa aku seperti itu dan juga perasaan buruk yang mengelilingiku.

Entah mengapa aku ingin sekali mengeprint semua artikel itu dan menunjukkannya pada Suho hyung. Kali ini aku butuh bantuan, aku tidak bisa lagi menyangkal bahwa aku baik-baik saja dan Suho hyung tidak akan terlalu khawatir tentang itu walaupun di tulisan tersebut Agoraphobia tidak mengancam jiwa.

Terlarut dalam pemikiran kesal dan tertekan ku tenggelamkan wajahku di lengan sambil menunggu mencetak kertas selesai.

Drrrrttt drrrtttt...

"Sehun..." Suaraku terdengar sedikit parau dan serak.

"Hi, kau baik-baik saja?" Suara di seberang telepon menginterupsi.

"Y..yya. Aku baik."

"Mengapa kau menangis?"

"Sejelas itu kah kau mendengar? Sebenarnya aku... sedang menonton film. kau tahu filmya sangat bagus. membuatku terharu."

"Film apa? apa itu romance, sad, atau-

"Film Miracle In Cell No.7"

"Ahh... sepertinya kau sangat menikmati acaramu. Apa aku mengganggu?"

"T..tidak. tentu saja tidak." jawabnya dengan cepat.

Hening sejenak.

"Aku/Aku" ucap Baekhyun dan Sehun berbarengan.

"Kau saja dulu." Sehun memberi kesempatan.

"Tidak, bicaralah. lagi pula aku tidak terlalu penting."

"Hm.. baiklah. Aku ingin kita menonton film bersama di bioskop."

"Apa? Sehun-

"Itu ajakan kencan. yah, walaupun itu terdengar klise.. Kau mau?"

"um.. mengapa tiba-tiba? Aku-

"Jika kau merasa ini terlalu mendadak, kita bisa menggunakan hari di sabtu depan."

"Entahlah, aku rasa akan merasa canggung jika kita melihat satu sama lain secara langsung."

"Wae? Kau tidak suka ajakan kencanku?"

Tidak ada suara yang menjawab.

"Hah." Sehun tertawa hambar. "Aku tidak memaksa. hanya saja.. aku ingin melihatmu. Aku... menyukaimu." suaranya menjadi lembut setelah Sehun tertawa membuat keheningan di antara mereka semakin terselubung walau bercakap di telepon.

Sedangkan Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan merah merona di pipinya saat di seberang telepon mengatakan perasaannya.

Terdengar helaan nafas di bibir mungil Baekhyun "Kau serius ingin berkencan denganku?"

"Iya. aku tahu kita belum mengenal lebih jauh, tapi dengan kau menerima ajakkan kencanku, kita bisa memulai untuk lebih mengenal diri kita."

Baekhyun tidak menjawab.

"Kalau begitu, aku tunggu Sabtu depan di Sungai Han jam lima sore."

"Sehun-

"Ahh.. tadi kau mau bilang apa?"

"Tidak ada. aku bilang itu tidak penting." Tadinya Baekhyun ingin menutup sambungan telepon saat kertas-kertas print nya sudah selesai di cetak.

"Baekhyun, maaf jika aku meminta hal seperti itu tapi sungguh aku menginginkan kau untuk datang. hm.. ini bukan memaksa tapi sebuah permintaan dariku."

"Baiklah akan ku usahakan untuk datang."Akhirnya Baekhyun luluh dengan itu tanpa sadar mengatakan bahwa ia sedang masa sulit untuk mencegah dirinya berpergian ke luar rumah. Mungkinkah Baekhyun mulai menyukai Sehun?

...

Baekhyun berdiri untuk membuka pintu kamar Suho dengan kertas di genggamannya, tapi setelah melihat hyungnnya itu tertidur, Baekhyun mengurungkan niatnya dan kembali berjalan ke tempat tidurnya yang berada di sebelah ruangan dan menyimpan yang di genggamannya itu di atas meja. Baekhyun berfikir mungkin besok ia bisa memberitahunya.


AUTHOR

Chanyeol membuka pintu rumahnya seperti siap untuk pergi sekolah pagi ini. Dilihatnya pintu berwarna biru itu masih tertutup. Di pikirannya mengapa ia tidak bertemu Baekhyun lagi. Entah mengapa Chanyeol ingin melihat orang itu yang tadi malam sempat muncul di mimpinya. Lalu ia pergi dengan semangat hari ini memakai Bus.

Sedangkan Baekhyun baru saja bangun dari tidurnya dan di carinya Suho tidak ada karena telah pergi bekerja dan niatnya untuk memberitahukan hyungnya itu harus di urungkan lagi.

Baekhyun membuka jendela dan melihat dari atas apartemen, orang tinggi berambut coklat itu berjalan menaiki Bus. Ternyata orang itu masih sekolah tapi dilihat dari seragamnya bukan dari sekolah Baekhyun dulu. Baekhyun pikir orang yang menjulang tinggi yang baru pindah itu adalah anak mahasiswa yang sudah kuliah ternyata ia salah.

...

Chanyeol sudah pulang dari sekolahnya sore ini. Ia kembali melirik pintu biru itu dan masih sama saja. Pintu yang masih tertutup. Memang apa yang di harapkan Chanyeol?

Saat hari sudah mulai sore dan sampai malam ini Baekhyun tertidur di kamarnya. Suho masuk dan berniat untuk meminjam Komputer Baekhyun untuk mengerjakan data pekerjaanya karena laptop milik Suho tertinggal di tempat kerja.

Dengan hati- hati Suho melangkah karena takut membangunkan adik kesayangannya. Tiba – tiba ia melihat kertas tertumpuk di meja belajar Baekhyun bersampingan dengan komputer itu. Suho duduk dan membacanya.

-Seseorang dengan Agoraphobia akan merasa takut untuk berpergian keluar rumah. Mereka akan merasa cemas dan panik pada suatu hal yang sebenarnya tidak berbahaya. Sehingga orang-orang seperti itu selalu menghindari tempat keramaian atau ruangan tertutup bila ada banyak orang di sekelilingnya yang bisa memicu terjadinya serangan panik mendadak. seperti menghindari jalanan umum, transportasi umum, sekolah, bioskop, kereta bawah tanah, mall, atau tempat publik lainnya. Orang dengan seperti itu akan merasa nyaman bila di dalam rumahnya sendiri dan di temani. mereka juga takut bila di tinggalkan seorang diri di tempat jauh dengan orang-orang terdekatnya. Penderita agoraphobia cenderung memiliki sikap tertutup dengan tidak banyak bersosialisasi dengan kebanyakan orang sehingga itu kadang membuatnya kesepian tapi membuatnya nyaman. Lisa Capps dan Elinor mengatakan bahwa ketakutan yang tidak masuk akal itu sulit untuk di buang jauh-jauh, mereka menyadari bahwa mereka tidak dalam ancaman bahaya tetapi tetap saja merasa panik, jika sudah memuncak mereka akan merasa sendirian dan depresi. Juga Dokterpun belum bisa banyak membantu. Di Amerika, serangan panik adalah persoalan kesehatan yang serius dan negara ini mempunyai paling sedikit 1.7% dari orang dewasa atau 3 juta penduduk akan mendapatkan serangan panik sewaktu-waktu dalam kehidupannya. Penyebab seseorang bisa menderita Agoraphobia karena salah satunya mempunyai kenangan pahit di masa lalu atau kejadian di mana orang tersebut tidak bisa melupakannya.-

Suho membelalakan kedua matanya terkejut dan itu tidak mungkin terjadi. ia masih memegang artikel yang tidak di bacanya semua lalu menatap pada anak yang sedang tertidur dengan mata teduhnya.

Suho berdiri dari duduknya dan mulai mendekati tempat tidur untuk membangunkan Baekhyun dengan menepuk bahunya pelan.

"Ya! Ireona... hyung harus bicara." Ucapnya dengan wajah sendu di dudukkannya di tepi ranjang king size Baekhyun.

"Eugghhh... mengapa kau membangunkanku hyung? wae?" Baekhyun mengusik matanya.

"Ini... kau harus menjelaskannya." Suho memberikan artikel itu pada Baekhyun. Baekhyun langsung membulatkan matanya lalu duduk dari posisinya.

"Itu... kau sudah membacanya?"

"Oh.."

Hening...

"Aku... tidak tahu harus menceritakannya dari mana. Kau benar aku mempunyai gangguan psikis. Aku juga baru mengetahui hal ini. Aku mulai merasa aneh saat delapan tahun yang lalu saat eomma dan appa meninggal ketika bencana gempa bumi dulu."

"Lalu...?" matanya berkaca – kaca.

"Aku masih mengingatnya dengan jelas. Aku takut kejadian itu menimpaku lagi dan aku akan kehilangan orang yang ku sayangi."

"Itu sudah sangat lama dan kau masih bertahan dengan seperti ini sekarang?" Suho menitikkan air mata.

"Iya, aku rasa phobiaku semakin memburuk hyung."

"Jadi... kau tidak mau sekolah karena ini?"

"Aku rasa begitu."

"Jadi selama ini kau selalu membeli barang lewat internet karena kau takut pergi keluar?"

"Benar sekali hyung..." Baekhyun menangis.

"Waktu itu... kau sakit. sebelumnya apa yang kau lihat dan kau rasakan hmm...?"

"Saat itu aku takut karena aku sendirian di rumah. lalu sebelum sakit, aku melihat pemandangan yang membuatku sangat takut dan cemas di jendela saat melihat keluar sana." Baekhyun menghentikkan perkataanya karena ia melihat raut wajah kakanya yang ingin mengetahui lebih jelas kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Aku sangat takut dengan tempat terbuka dan tempat umum. Makanya tiba- tiba aku sakit seperti itu...setiap aku pergi keluar kemanapun itu. Mau itu sekolah atau naik kendaraan umum perasaanku menjadi aneh. Aku juga takut keramaian sehingga aku tidak pernah bersosialisasi dengan banyak orang. Tapi saat di rumah aku merasa nyaman." bicaranya terbata – bata dan air mata mencelos begitu saja.

"Hyung mengerti. Maafkan hyung karena menuduhmu yang tidak – tidak. Hyung sudah menuduhmu seorang teroris waktu itu. mianhae..."

"Gwaenchan hyung.. aku merindukan eomma dan appa. Hiks. Hiks. Hiks"

"Nado. Tapi kau jangan mengganggap dirimu sendirian. Disini masih ada hyung yang selalu bersamamu." Suho yang berusia 23 tahun itu mengusap lembut liquid bening Baekhyun dengan ibu jarinya.

"Pasti aku bisa membantumu mengatasi semua ini. yang aku sesalkan adalah kau sering mengalami hal seperti itu tapi kau sama sekali tidak berbicara apapun padaku. jika kau menjelaskannya dari awal pasti tidak akan seburuk ini. mungkin dari dulu aku akan berusaha untuk menyembuhkanmu agar tidak terlambat jadinya iya kan?"

"Ne, maafkan aku hyung." Suho memeluk adiknya dan mengelus surai hitam Baekhyun sayang.

How are you, eotteoni kkumeul irundaneun

(Bagaimana kabarmu, Bagaimana dengan meraih mimpimu)

Gon jeongmal kkojibodo apeuji anni

(Tidakkah terasa sakit saat kau mencubit dirimu)

Eojjeomyeon ijen negen pyeongbeomhan ilsangira ttaeron jigyeomni

(Mungkinkah sekarang bagimu hari-hari biasa terasa membosankan)


FLASHBACK ON

Delapan tahun yang lalu.

Saat itu Baekhyun berusia sembilan dan hyungnya lima belas.

Hari di mana gempa bumi menggemparkan kota Myeong-dong sore hari. Guncangan besar meruntuhkan semuanya. Banyak orang telah menghempaskan nyawa dengan naas sekali. Orang – orang ramai menjerit berteriak keluar untuk menyelamatkan diri.

Sementara Baekhyun sedang belajar di sekolah dasar wajahnya masih sangat ceria. saat itu ibu guru yang mengajar memerintahkan semua murid untuk keluar menyelamatkan diri dan di sini Baekhyun menjadi takut dan menuruti perintah ibu gurunya di dalam kelas.

Baekhyun selamat tapi ia mendapatkan luka ringan dan ia sangat panik. Beberapa menit berlalu setelah kejadian itu Baekhyun memikirkan nasib keluarganya. Baekhyun menangis karena beberapa temannya tidak di temukan.

Bangunan sekolahnya sudah runtuh seperti lenyap di telan bumi hanya dinding pembatas yang masih terlihat utuh. Jalanan agak retak dan bisa di bayangkan bagaimana ramainya suasana sore hari itu.

Beberapa jam kemudian Baekhyun mendengar kabar eomma dan appa nya telah tiada. Hatinya sangat terpukul untungnya Baekhyun bertemu dengan hyungnya. Ia memeluk erat sang kakak menumpahkan semua kesedihannya. Tapi hyungnya itu tetap tegar dan hanya menangis dalam diam. Suho juga terluka bahkan lukanya lebih parah dari Baekhyun.

Beberapa hari kemudian keduanya telah di beri pengobatan oleh bantuan pemerintah setempat.

Baekhyun dan Suho di pindahkan ke Seoul untuk menetap di sana. Selama semua biaya sekolah di tanggung oleh pemerintah keduanaya bisa mencukupi kebutuhan hidup. Sampai Suho sudah berhasil menjadi orang sukses pemerintah tidak lagi membiayai kebutuhan mereka.

Dan disini mereka masih menetap di Seoul sampai sekarang, Suho memilih untuk membeli apartemen baru untuk tempat tinggalnya bersama Baekhyun.

FLASHBACK OFF


dua hari kemudian Chanyeol mulai penasaran dengan sosok Baekhyun yang selalu hadir dalam mimpinya. Di pikirannya mengapa orang itu tidak pernah muncul untuk sekedar keluar atau melakukan apapun. Apkah dia sakit karena waktu itu ia bertemu dengannya di hospital ? Chanyeol memiringkan kepalanya. Sebenarnya Chanyeol tidak berniat untuk mengintip di lubang pintu berwarna biru itu tapi tidak tahu kenapa Chanyeol mulai mencondongkan kepalanya ke lubang knop pintu lalu sedikit menyipitkan matanya.

"Dia sedang apa? Aku tidak bisa melihatnya." Chanyeol masih dalam posisinya.

"Kau ingin bertemu Baekhyun? Dia sedang tidak melakukan apapun." Tiba – tiba Suho sudah berada di samping Chanyeol sedang berdiri mengalungkan kedua tangannya di dada. Chanyeol langsung tersadar lalu menggerakkan kepalanya ke atas dan terbentur gagang pintu itu.

"Akkhhh...d..d..dokter? a..aku..."

Suho menatap Chanyeol dan pintu bergantian dengan sebuah lantasan pemikiran.

"Chanyeol aku harus bicara. Kajja ikut aku." Suho dengan tatapan smirk nya. Sedangkan Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mengikuti Suho dari belakang ke tempat seperti taman di dekat apartemen.

"Begini... aku perlu bantuan seseorang. Adikku Baekhyun... aku ingin kau menjadi temannya. Dia selalu sendirian, aku ingin kau bisa menemaninya jika kau mempunyai waktu. Buat dia menjadi bergairah."

"Bergairah?Tapi... mengapa?"

"Baekhyun tidak punya teman. Dia tidak banyak kontak sosial dengan orang- orang. Ia tidak mau pergi keluar ia selalu ingin di rumah, aku meminta bantuanmu karena aku percaya dan kita adalah tetangga."

Chanyeol masih terdiam merenungkan alisnya dan ingin mendengar lebih jauh penjelasan dari Suho.

"Mungkin kau juga merasa Baekhyun aneh kan? Makanya tadi kau mengintipnya. Karena kau ingin tahu tentang dia benar? " jeda sebentar.

"Baekhyun mengidap agoraphobia. Ia takut berada di luar dan itu akan membuatnya sakit tapi jika berada dirumah ia akan merasa nyaman."

"a..ago..bia?"

"A-go-ra-pho-bia Chanyeol." Jelas Suho menekan kalimatnya.

"Ahh.. arraseo. Aku akan membantumu dokter."

"Jeongmal gamsahamnida. Ahh... kau jangan memanggilku dokter jika disini. Sekarang aku sedang tidak mengerjakan tugasku. Hanya panggil aku dokter jika sedang di hospital. Panggil aku Suho hyung ne?" Chanyeol menggangguk paham.

"Tapi.. kau jangan memberitahu tentang Baekhyun pada orang-orang di dekatmu.

"Iya dokter... ehh, maksudku hyung."


Chanyeol memikirkan tentang sebuah rencana untuk menjadi teman Baekhyun. Tidak mungkin ia harus berdiam diri sedangkan Baekhyun hanya diam saja di rumahnya bagaimana bisa ia mendekati Baekhyun. Chanyeol tak ambil pusing. Ia pergi ke restoran terkenal milik ayahnya sore ini menjelang malam hari.

Dengan membawa beberapa kantong bekal makanan, Chanyeol menyiapkan itu untuk di berikannya pada Baekhyun.

Ting Tong

Dibukanya pintu itu oleh pemilik rumah. Baekhyun buru – buru membukanya karena dikira itu adalah tukang yang mengirim barangnya. Setelah tahu siapa yang ada di hadapannya raut wajah Baekhyun menjadi datar.

"Ahh... kau rupanya. Ada perlu apa?" ini adalah ketiga kalinya Chanyeol bertemu Baekhyun yang sekarang memakai baju kaos gambar kartun desney warna abu dengan celana jeans.

"A.. aku... ingin memberimu ini." Chanyeol menyodorkan bekal makannya.

"Apa itu?"

"Samgyetang. Aku memberikan itu karena... kita tetangga. Aku ingin kita bisa saling membantu karena aku baru pindah ke sini." Chanyeol tersenyum.

"Aku mengerti kebetulan aku sedang lapar. Gamsahamnida." Baekhyun menerimanya lalu menyunggingkan sedikit senyumnya yang sangat manis membuat Chanyeol ingin berlama – lama mengenal Baekhyun.

"Jika tidak ada lagi hal yang mau di bicarakan aku akan tutup pintunya."

"Ca..cakkaman! apa kau mempunyai... hm.. alat penyedot debu? Aku membutuhkannya, alat penyedot debu ku lupa ku bawa."

"Gomawo. Setelah selesai aku akan cepat – cepat mengembalikannya." Chanyeol yang sudah memegang alat itu lalu sedikit tersenyum kikuk setelah pintunya di tutup. Sebenarnya Chanyeol sama sekali tidak berniat meminjam alat penyedot debu itu. untuk apa di malam seperti ini menggunakan alat itu? konyolnya Chanyeol saat Baekhyun menanyainya seperti itu dan Chanyeol hanya diam merutuki kebodohannya. Ia melakukan itu supaya bisa bertemu Baekhyun lagi di suatu hari.

Chanyeol menyimpan alat itu di samping dekat rigen pakaian kotor. Ia sama sekali tidak menggunakannya hanya memandangnya bingung. Ini adalah bukan tipe pekerjaannya karena Chanyeol adalah orang pemalas. Anehnya orang seperti dia bisa mendapatkan ranking di sekolah dengan memiliki sifat buruknya yang pemalas.

Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur memikirkan sesuatu tentang orang itu yang belakangan selalu ada dalam mimpi indahnya. Chanyeol menatap langit- langit kamarnya gelap hanya di terangi lampu tidur. Sesuatu mengernyit hatinya ketika bayang – bayang Baekhyun melantasi khayalnya. Masih jelas terukir senyuman pertama Baekhyun untuk dirinya walau memang seperti di paksakan. Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan. Sekarang dia harus melupakan bayangan tentang Baekhyun karena ia takut orang itu muncul di alam mimpinya lagi. Memang apa yang Chanyeol takutkan? Bukankah orang seperti Baekhyun adalah sangat imut jika berada di mimpinya, selama Baekhyun tidak mengganggu atau membuatnya kesal di dalam mimpi, itu tidak masalah. Tapi yang Chanyeol takutkan hatinya akan benar – benar menyukai Baekhyun sedangkan ia menyangkal di hadapan Sehun dan Kai bahwa dia tidak gay. Dan nyatanya sekarang Chanyeol tidak bisa terlelap ia memilih untuk menelpon Jongin alias Kai atau si Kkamjong hitam itu untuk lebih memahami tentang perasaanya yang selalu membayangi Baekhyun.

"Wae?"

"Aku... aku..."

"Ahh... kau sudah pindah ke apartemen baru ya? Mengapa tidak memberitahuku lebih awal jika kau juga tinggal sendiri?"

"Kau sudah mengetahuinya?"

"Oh.. eomma mu yang bilang, seharusnya kau mengadakan pesta kecil- kecilan bagaimana? Hanya aku dan Sehun."

"Oke, oke setuju hm... besok setelah pulang sekolah kita langsung mampir ke apartemenku."

"Ne, aku akan membawa soju. Makanan lainnya dari kau dan Sehun."

"Ne.."

"Kalau begitu sampai jumpa besok. Ohh tadi kau mau bicara apa?"

"ahh.. tidak jadi."

...


"Kau memasak samgyetang? Bukankah persediaan makanan di rumah kita habis." Suho bertanya setelah dari supermarket membawa beberapa kantong sedang menghampiri Baekhyun di meja makan.

"Ahh.. ne hyung. Aku tidak memasak, orang yang baru pindah di rumah sebelah itu yang memberikannya." Mulutnya penuh pipinya berisi.

"Jinjja? hmm..." Suho meletakkan kantong di atas meja.

"Hyung sudah makan? Ayo makan berdua saja, dia memberikannya banyak aku tidak bisa memakannya semua, ini sangat enak hyung."

"Ne, kau sudah melihat orang itu? bagaimana menurutmu?" Suho duduk lalu mencicipi samgyetang dengan sendok."

" Entahlah."

Hening...

"Aku rasa kau harus terus melanjutkan belajarmu." Baekhyun langsung menatap Suho dan yang di tatap balik menatap dengan wajah santai.

"Maksudmu aku harus melanjutkan sekolahku lagi?"

"Tenang saja, kau pasti bisa. Kau harus bisa melawan semua perasaanmu itu dengan menghadapi hal – hal yang kau takuti."

"Tapi hyung... aku tidak yakin. Jangan membuatku sakit lagi." Baekhyun memasang wajah seperti tidak tertarik dengan usulan hyungnya itu. Suho menghela nafas.

"Baiklah jika kau belum yakin. Ada cara lain. Kau tetap berada di rumah tapi kau terus belajar mengerjakan soal – soal negara. Kau akan mendapati ijazah dengan sekolah paket mu yang telah di siapkan pemerinah. Bagaimana?" Baekhyun langsung mengangguk setuju dan bibirnya melengkung ke atas.

"lagian hyung sudah registrasi jadi tinggal tunggu saja soal – soal dan buku yang harus kau kerjakan."

"Benarkah? Aku akan siap mengerjakannya. terimakasih hyung."

"Ahh.. ada satu lagi."

"Mwo?"

"Hyung mempunyai teman satu rekan. Dia bukan dokter melainkan seorang psikiater yang akan membantumu mengatasi agoraphobia. Jadi kau boleh menemui dan meminta penjelasan darinya."

"Siapa?"


Keesokan harinya.

Kai dan Sehun membuntuti Chanyeol dari belakang saat di koridor apartemen.

"Jadi ini tempat tinggalmu sekarang?" tanya Sehun.

"Ayo masuk." Chanyeol.

"Ternyata dekat dengan sekolah." Tambah Kai mendahului masuk setelah Chanyeol membuka pintu.

"Duduklah dulu, aku akan mengganti baju." Chanyeol menghampiri kamarnya dan meninggalkan Kai dan Sehun di ruang tamu.

"Apa yang akan kita lakukan?" Sehun dengan ekspresi datar.

"Kita akan mengadakan pesta bodoh. ahh aku lupa tidak membawa soju. Kau juga kan?

"Apa?"

"Aissshhh... bagaimana bisa berpesta tanpa makanan."

"Kalau begitu kita beli di supermarket. "

"Uang jajanku tinggal sisa 18.000 won." kai mengeluarkan uangnya di saku seragam.

"Aku tambahkan, aku punya 35.000 won."

"Waahhh..." Kai menghitung uang miliknya dengan Sehun.

"Apakah kau punya beberapa persediaan makanan untuk di masak?" Sehun bertanya saat Chanyeol menghampirinya memakai kaos oblong tanpa lengan warna hitam dengan celana pendek menutupi kakinya sampai lutut. Lalu Chanyeol memeriksa ke dalam lemari makanan yang tergantung.

"Aku hanya mempunyai ramen cup."

"Yeol, apakah kau tidak akan mengeluarkan uangmu untuk membeli makanan? supaya lebih banyak saja, kau kan yang punya rumah." Kai berbicara seolah- olah uang yang di pegangnya masih kurang.

"Tentu saja." Chanyeol mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar pada kai.

"Kalian beli apa saja. jangan lama- lama. Aku akan menyiapkan penggorengan."

"Sippp. Aku percayakan pasti ada kembalian dengan uangmu." Tambah kai.

"Ayo kita pergi sebelum hari makin sore." Sehun meletakkan tas ranselnya di sofa.


"Kau duluan saja." ucap Sehun pada Kai yang memegang kantong belanjaan setelah dari supermarket. Sepertinya Sehun berpapasan dengan appa nya di jalan saat sudah dekat di apartemen Chanyeol.

"Ne, Annyeong ahjusi." Kai yang juga membawa kantong telah pergi.

"Ayah, mengapa kau turun dari bis? Mengapa kau jalan kaki? Mana mobil ayah?"

"Mobil ayah sedang di perbaiki di bengkel. Ayah ada urusan di kantor sekarang jadi terpaksa naik bis."

"Ahh..."

"mengapa kau tidak pulang ke rumah?"

"Hehe aku sedang ada pesta di rumah teman." Sehun tersenyum menunjukkan kantong belanjaanya.

"Ahh... dasar. Seharusnya kau ganti dulu bajumu itu."

"Iya ayah. Maaf."

"Kalau begitu ayah harus pergi."

Kai berjalan di koridor melihat tukang pengirim barang sedang berada di depan rumah Baekhyun memencet – mencet tombol. Sepertinya pemilik rumah belum membuka pintu.

"Itu... album CNBLACK ? Kau mengirimnya pada orang di rumah ini?" tanya Kai pada tukang post itu.

"Iya, anak muda."

"Wahhh..." pandangannya masih tertuju pada album yang sangat menginspirasinya terutama Kyungsoo yang hubungannya masih belum bisa di sebut status.

CEKLEKK

"Ini barang anda." Sambil tersenyum ramah.

"Waahhhh...Terimakasih ahjussi. Setelah berhari – hari menunggu baru sekarang kau kirim. Ini ongkosnya."

Setelah itu tukang pos pergi. Baekhyun sangat senang dan tiba – tiba ia memasang wajah datar karena melihat orang yang tidak di kenalnya terus berdiri di sana melihat ke album yang di pegang Baekhyun dan sepertinya orang itu ikut senang.

Baekhyun akan menutup pintunya tapi Kai menahannya.

"Siapa yang kau sukai dari grup CNBLACK?" Tanya Kai tiba – tiba.

"Ehh..?" Baekhyun mengerjap matanya menyelidik orang hitam yang lebih tinggi seperti pernah melihatnya.

"Jangan bilang kau menyukai Kyungsoo. Dia adalah bias ku. " Kai menatapnya dengan tatapan smirk.

"Ciihhhhh memangnya siapa yang boleh melarang ? aku juga menyukai Kyungsoo... aahhhhhh...k... kau...kau..." Baekhyun semakin melebarkan matanya dan mulutnya sedikit menganga.

"Apa?" Baekhyun mengeluarkan ponselnya di dalam saku celana lalu menunjukkan foto Kyungsoo bersama orang hitam yang mungkin adalah dia sebnenarnya. Kai membulatkan matanya tidak percaya.

"Itu... bagaimana bisa ada padamu?"

"Jinjja! jadi kau benar-benar orang yang ada di foto ini bersama Kyungsoo ku?"

"Apa? Kyungsoo mu? Dia adalah milikku! Cepat kau hapus gambar itu."

"Bagaimana yah. Aku tidak akan menghapusnya."

Tiba – tiba Sehun mulai berjalan ke koridor dan melihat Kai bersama orang lain sedang mempeributkan sesuatu.

"YAA!" Kai berdecak kesal saat pintu sudah di tutup oleh Baekhyun.

"Kau sedang apa? Siapa orang itu?" Sehun mulai mendekat.

BRUUKKK

Pintu di sebelah terbuka lebar. Chanyeol sempat ingin menyusul Sehun dan Kai karena mereka lama sekali.

"Kalian bodoh? mengapa hanya berdiri. Cepat masuk!"

Baekhyun masih di balik pintu. ia mendengar beberapa suara dari luar dan Baekhyun mengira orang – orang itu adalah teman dari yang punya rumah sebelah. Ahh Baekhyun tidak tahu nama tetangga barunya itu.

Baekhyun melihat foto kyungsoo dan orang tadi yang sempat ribut dengannya. sedikit menyayat hatinya karena orang berkulit Tan itu bisa foto bareng idolanya. Malah terlihat sangat akrab. Baekhyun merutuki dirinya karena tidak seharusnya ia bersikap seperti tadi pada orang itu. mungkin saja jika mengenalnya lebih dekat ia bisa dapat peluang untuk menemui Kyungsoo atau berfoto dengannya karena mungkin saja orang yang berkulit Tan tadi adalah orang- orang terdekat di bagian terpenting dalam hidup Kyungsoo. Pikirnya.


Sudah pukul 7 pm. Semua sampah makanan, piring kotor , minuman kaleng, kresek. Berserakan di meja. Memutar lagu keras-keras tidak mempeprdulikan gendang telinga mereka rusak. Seperti Park Chanyeol yang sepertinya enak-enak saja mendengar tanpa kebisingan sesuatu yang membuatnya pusing padahal telinganya besar seperti yoda. Sehun dan Kai sudah mabuk begitu pula dengan Chanyeol.

"Sehun, kau...ck...yang dekat dengan spiker ..ck.. Tolong hentikan musiknya..ck."

"Wae?... aku tidak mau Kkamjong..ck..ck."

"Aku bilang hentikan bodoh.. ck.."

Tuttt

Chanyeol mematikan musiknya. Suasana jadi hening.

"Aku rasa... aku... menyukai seseorang, tapi bukan yeoja."

Kai yang saat itu memakan daging gosong panggang buatan Sehun langsung tersadar setelah mendengar perkataan Chanyeol.

"Sudah ku bilang kan yeol.. ck... kau menyukai namja."Sehun menyilangkan kaki kirinya ke atas. Duduknya seperti pejabat sok becus.

"Oh.. aku baru menyadarinya..ck.."

"Aihhhh...Kau serius mengatakannya? Kau sedang mabuk yeol..."tambah Kai meleletkan lidahnya lalu memuntahkan daging gosong itu ke telapak tangan Sehun.

"Aisssshhhh..." decak Sehun kesal lalu mengelapkan tangannya di wajah Kai tepatnya menumpahkannya di sana.

"Kau gila! Sulitnya aku memutihkan wajahku dengan krim dan sekarang kau tambah aku dengan ini? bagaimana wajahku jika tambah gosong hmm... kau mau tanggung jawab? ck"

Chanyeol melihatnya cengo dua sahabatnya itu.

"Habisnya kau keterlaluan...ck... Itu kan muntahmu sendiri." Sehun mengambil tisue basah di meja. Kai langsung merebutnya untuk membersihkan kotoran di wajah sexy nya.

Hening... mereka tidak menghabiskan minumannya karena takut resiko.

"Tumben kau tidak chatting?" tanya Kai pada Sehun.

"Aku ingin orang itu duluan yang mengirimi ku pesan. Aku menunggunya tapi sudah empat hari dia tidak mengirim apapun. Aku sudah bilang padanya bahwa satu minggu ini aku tidak akan menelpon atau mengabarinya karena kami sudah berjanji akan bertemu nanti."

"wahh.. pasti kau tidak hanya sekedar bertemu. kau mengajaknya kencan iya kan?"

"Awalnya dia tidak akan, tapi akhirnya dia mau. Aku ingin cepat-cepat hari itu tiba untuk melihatnya."

"Kalau aku... malah setiap hari aku mengirim kabar pada Kyungsoo tapi dia tidak membalas apapun. Aku sangat sedih."

"Wajar. Dia kan selebritis mungkin tidak ada waktu untuk membalas pesan darimu." Chanyeol duduk di lantai karpet hangat dengan satu kaki di luruskan sedangkan tangan kanannya di sandarkan pada salah satu kaki yang di tekuk.

"Yahh.. aku juga berfikiran begitu. Ohh.. Kyungsoo ku yang sangat ku rindukan."

"Tadi.. kau mengatakan menyukai namja. Kau tidak berbohongkan Chanyeol?"

Chanyeol tidak menjawab apapun.

"Yeol, orang yang ada di sebelah rumahmu siapa? Hha! Tadi aku sedikit ribut dengannya."

"Apa yang kau lakukan padanya?"

"Hanya bertengakar kecil. ck."

"Kau tahu, aku menyukai tetangga baruku." Akui Cahnyeol pelan.

"Jinjja? tadi kami mempeributkan tentang Kyungsoo karena dia salah satu fansnya."

"Apa? Dia fans Kyungsoo." Chanyeol.

"Ohh jadi kau mempeributkan tentang itu sehingga tadi kau belum masuk ke rumah Chanyeol." Sehun.

"Iya." Kai

"Chanyeol yang sekarang baru mengatakan dia adalah seorang gay menyukai tetangganya yang benar saja." Kai

"Memang seperti apa dia?" Sehun.

"hm... hari pertama pindah aku selalu bermimpi tentangnya. Di dalam mimpi itu ada sesuatu yang membuatku ingin melindunginya. Perasaan yang tidak bisa ku jelaskan. "

"Tapi menurutku dia lumayan yeol, kau tidak salah menyukainya."

"Waktu pertama bilang di kantin. Chanyeol berbicara seperti ini." Sehun bersiap – siap.

"AKU- BUKAN- YAOI."Sehun mengulang part Chanyeol dengan tekanan di kalimat yang di buat sing a song dan mimik wajahnya berusaha untuk semirip mungkin seperti Chanyeol waktu itu.

Langsung saja Kai tertawa terbahak – bahak di ikuti dengan Sehun yang menertawakannya. Sedangkan Chanyeol juga ikut tertawa tapi dengan di hiasi rasa malu sehingga tawanya sedikit hambar.

"Apakah sekarang kau akan mengakuinya dengan nada yang sama yeol hahaha?" Kai

"Itu konyol." Chanyeol berubah ekspresi menjadi datar.

"Ohh ayolah..." Sehun merengek.

"Jangan paksa aku melakukan itu bodoh."

"Yeol, apakah ciuman gay di kantin itu yang mempengaruhimu?" Kai

"Apa? Ciuman? Siapa yang berciuman di kantin?" Sehun menyela.

"Waktu ku bilang saat kau telat melihatnya. Padahal itu tepat di belakangmu." Ujar Kai pada Sehun.

"YA! Aku tidak terpengaruh. Itu... itu...

"neon geotjimal. Aku tahu yeol, cara mu melihatnya seperti-

BUGGH

Chanyeol memukul perut Kai untuk menghentikan kelanjutannya mempermainkan tingkah lakunya saat itu.

"YAA! Aku benar yeooool..."

"Aisssshh... kau menyebalkkan kkamjong! Sudah sana kalian pergi ini sudah malam." Ucapnya masih mabuk.

...

Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan Chanyeol baru menyelesaikan acara bersih-bersih di rumahnya yang berantakan karena ulahnya sendiri dan dua sahabatnya itu.

Ia memakai alat penyedot debu yang di pinjamnya kemarin dari Baekhyun dan sekarang ia akan mengembalikannya.


"Hyung, kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Baekhyun duduk di sofa.

"Tidak apa-apa kan kau sendirian di rumah? Hyung ada urusan. Mungkin aku pulang jam dua malam." Ucap Suho sambil memakai jaket dan hoodie.

"Mwo? Kau tidak sedang bekerja kan? Mengapa selarut itu hyung?"

Teeeettt –teeeeeett...

Suho menoleh pada pintu dan membukanya.

"Annyeong Haseyo." Chanyeol berdiri di sana.

"Ahh.. Kau rupanya, Ada apa? Ayo masuk."

.

.

.

...

To Be Countinued...

Jangan lupa buat Review..

FF ini terinspirasi dari drama Flower Boys Next Door di mana pemeran utamanya sering banget meluangkan waktunya seharian di rumah/kamar. jadi keinget juga pemeran di Secret Garden di mana yang jadi Kim Joo Won punya phobia terhadap tempat tertutup tapi di sini author bikin Baekhyun jadi phobia tempat terbuka. tahu kan ? pasti tahu dong.

Okay mungkin itu penjelasan yang singkat dan maaf kalo ada bahasa yang tidak di mengerti.