Disclaimer : Persona 4/Animation/ Arena/Golden punya ATLUS. Saya cuma numpang minjem karakternya aja.

Warning : OOC, OC, AU, mistypo, dan kawan-kawan. 1st Fanfic di fandom Persona Series.


"Hah-hah…"

"Hah-hah…"

Di bawah langit kemerahan dan diselubungi kabut tipis, dua sosok remaja, yang satu gadis berambut coklat dengan panjang sebahu yang dikuncir pigtail dan yang satu lagi pemuda berambut pirang, terlihat berlari dari kejaran dua sosok raksasa yang mengejar mereka. Yang satu raksasa berwujud ksatria hitam dengan kudanya, dan yang satu lagi raksasa berotot yang wajahnya ditutupi topeng layaknya. Dan… kedua sosok raksasa itu semakin mendekati kedua remaja itu.

"Nana-chan! Cepat lari! Biar aku yang menghadapi kedua shadow ini!" Kata si pemuda sambil berbalik untuk menghadapi dua shadow berukuran besar yang mengejarnya.

Gadis yang dipanggil Nana-chan itu menghentikan langkahnya. "Tapi—"

"Aku pernah berjanji kepada sensei untuk melindungi Nana-chan!" Potong si pemuda berambut pirang, kemudian mengambil selembar kartu dari saku kemeja putihnya dan menghancurkannya dengan cara mencengkram dengan erat. "Bearsona!" Suara kaca yang pecah terdengar seketika. Sosok berwujud wajah kartun pada bola yang memiliki cakar sebagai tangannya dengan ujung misil yang terlihat seperti ekor di belakangnya, lengkap dengan mantel merah yang berkibar di punggungnya, muncul di belakang si pemuda. "Maka dari itu, aku akan menghadapi mereka!"

Nana-chan, atau Dojima Nanako, terdiam, kekhawatiran akan keselamatan temannya tergambar jelas di wajahnya. Melihat itu, si pemuda rambut pirang hanya mengangguk tersenyum. "Baiklah…" Gumam Nanako sambil bersiap untuk berlari lagi. "Hati-hati, Teddie! Aku akan menunggumu di tempat yang aman!" Teriaknya sambil berlari secepat mungkin, air mata terlihat mengalir di pipinya.

Pemuda yang dipanggil Teddie itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah dua shadow di depannya, bersiap untuk menghadapi mereka. "OK! It's bear time!" Teriaknya sambil dilanjutkan dengan teriakan, "Kamui! Mabufudyne!" Dua shadow itu pun musnah seketika, setelah dibuat membeku dengan kemunculan dua bongkahan es raksasa yang membuat mereka terperangkap di dalamnya. Sayangnya, muncul puluhan shadow yang siap menyerang dari belakang dua shadow raksasa yang musnah tadi. "Tidak mungkin…" Keringat dingin terlihat menetes dari tengkuk leher belakang Teddie. "Tapi aku tidak akan kalah! Bear power!" Teriaknya agar semangatnya kembali. Dan puluhan shadow pun mulai mengerumuni dan menyerangnya. "Nana-chan, aku harap kau bisa menyelamatkan diri…"

Di lain tempat, Nanako menyenderkan tubuhnya di dinding salah satu bangunan yang sudah hancur, untuk menormalkan ritme napasnya dan sedikit mengistirahatkan tubuhnya sejenak. "Big bro…" Air mata kembali mengaliri pipinya. "Big bro" adalah "kakak" terbaik yang pernah dimilikinya. Sayangnya, "Big bro" tewas dalam kecelakaan kereta yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Di sela tangisnya, ia juga mengingat kembali orang-orang yang ia sayangi, yang juga sudah meninggal.

"Hehehe…" Terdengar suara dari dekat tempat si gadis bersender. Suara yang berasal dari sosok shadow berwujud mulut raksasa lengkap dengan lidahya yang terjulur keluar. Suara itu membuat Nanako tersadar dan melanjutkan kembali larinya dari kejaran para shadow. 'Apa mungkin Teddie… Tidak, Teddie pasti masih hidup. Teddie, semoga kau selamat…' Batin Nanako, khawatir dengan keadaan temannya yang ia tinggalkan. Gadis berambut kecoklatan itu terus berlari, sampai akhirnya ia tiba di ujung lorong yang terbentuk dari reruntuhan bangunan. Terjebak di antara dinding besar yang dihiasi sebuah pintu berwarna biru beludru dengan sedikit shadow menghalanginya dan kumpulan shadow berbagai bentuk yang sebelumnya mengejarnya dari arah belakang.

"Aku harus bagaimana?" Tanya Nanako kepada dirinya sendiri, sambil menangis. Shadow-shadow pun semakin mendekatinya. "Big bro… Tolong aku…" Gumamnya, tangisannya semakin menjadi. 'Tunggu…' Gadis itu teringat sesuatu yang tidak ia sadari karena keputus-asaannya. 'Di sana masih ada pintu…' Ia menoleh ke depannya dan melihat sebuah pintu dengan warna biru beludru tertempel di dinding. 'Aku harus kabur lewat pintu itu!' Sepersekian detik kemudian, ia berbalik arah dan mencoba melewati shadow yang menghalangi pintu itu.

Akhirnya ia berhasil mencapainya dan membuka pintu biru beludru itu kemudian masuk ke dalamnya. Ketika memasukinya, Nanako baru sadar kalau di dalam pintu biru beludru itu tidak ada apa pun. Tidak ada dinding, tidak ada langit-langit dan… tidak ada lantai. Hanya kegelapan. Dan ia langsung terjatuh ke dalam kegelapan tak berujung.

"Kyaaaaa!"


Persona 4 : After End

Chapter 2 : Coming Back


"Dan setelah itu aku bertemu dengan kakek berhidung panjang tapi bengkok dan wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang yang mengenakan seragam warna biru. Dan setelah itu, aku tidak sadarkan diri dan tiba-tiba kembali ke masa ini." Cerita Dojima Nanako versi remaja kepada Big bro-nya, Seta Souji. Mereka berdua kini tengah menyusuri jalan raya untuk kembali ke Inaba. Kenapa menyusuri jalan raya? Karena mereka berdua tidak punya uang untuk menyewa kendaraan. Kalau Souji karena dompetnya ada di dalam tas miliknya yang tertinggal di kereta yang baru saja hancur, sedangkan Nanako… karena uang yang ia miliki habis untuk membeli tiket kereta menuju Tokyo.

"Maksudmu… Igor… dan Margaret?" Tanya Souji memastikan.

Nanako menjawabnya dengan anggukan.

Setelah beberapa menit mereka berdua berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata, Souji teringat akan sesuatu. "Nanako, apa yang Igor dan Margaret katakan kepadamu?"

"Itu… kalau tidak salah…"


Flashback


Gadis berambut coklat dengan panjang sebahu yang dikuncir pigtail itu tersadar di dalam sebuah ruangan yang bergerak. Di dalamnya ada seorang kakek dengan hidung panjang yang membengkok ke bawah yang sedang duduk di sofa yang berada di hadapan si gadis sambil memejam kedua matanya. Rambutnya yang sudah memutih hanya terlihat di pinggiran kepalanya. Selain itu, ia juga melihat seorang wanita cantik berambut pirang panjang dengan sedikit bergelombang yang duduk di sebelah si kakek. Ia mengenakan seragam warna biru dan rok yang juga berwarna sama. Di pangkuannya, ada sebuah buku tebal berwarna biru beluru, sama seperti warna dinding dan lantai ruangan di mana mereka berada. 'Huh? Bukannya tadi aku… jatuh?' Batin si gadis, ekspresi wajahnya terlihat bingung.

Beberapa saat kemudian, si kakek membuka matanya. "Selamat datang di Velvet Room. Perkenalkan, saya Igor." Ucap kakek itu sambil tersenyum, yang menurut Nanako cukup mengerikan. "Dan wanita yang berada di samping saya ini adalah Margaret, asisten saya." Lanjutnya, wanita yang diperkenalkannya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil. "Sebelum saya melanjutkan, bersediakah anda menandatangani ini?"

Nanako kemudian mengambil lembaran kertas yang diberikan oleh Igor. 'Apa ini?' Batinnya kebingungan. Dilihatnya dengan seksama lembaran kertas itu sampai ia menemukan nama yang sangat tidak asing baginya di pojok kiri bawah kertas. 'Nama ini kan…'

Seringai mengerikan terlihat menghiasi wajah tua si kakek. "Menurut apa yang saya lihat, anda pasti menemukan nama yang sangat anda kenal. Bukan begitu?"

Nanako mengangguk pelan. "Ini sebenarnya apa?" Tanya si gadis ingin tahu.

"Kertas itu akan menjadi pengikat bagi mereka yang memilih untuk tidak melarikan diri dari takdir yang akan mereka hadapi, dengan Velvet Room ini." Tutur si kakek, kedua matanya terpejam. "Dan nama yang anda temukan itu merupakan salah satu dari beberapa yang berani menghadapi takdir yang akan mempengaruhi masa depan mereka… dan bahkan masa depan manusia." Igor menyudahi penjelasannya, matanya kembali terbuka, begitu pula dengan seringainya. "Jadi… apakah anda bersedia menandatanganinya?"

Nanako mengangguk mantap. Diambilnya sebuah pena yang tersedia di meja di depannya dan kemudian ia menandatangani lembaran kertas yang tadi dipegangnya, tidak lupa menuliskan nama lengkapnya di bawah tanda tangan yang ia torehkan.

Igor melihat sejenak lembaran kertas yang diserahkan oleh gadis di hadapannya. "Nona Dojima Nanako… Anda pasti bingung bagaimana anda bisa berada di sini. Apa yang saya katakan benar?" Tanyanya, matanya kini menatap Nanako.

Nanako mengangguk, teringat kembali pertanyaan-pertanyaan yang ingin ditanyakan sebelumnya. "Memangnya ini di mana? Lalu ini tempat apa? Kenapa aku bisa berada di sini?" Tanyanya penasaran akan tempatnya kini berada dan bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di dalamnya. Karena seingatnya tadi ia jatuh ke dalam kegelapan.

"Ini adalah Velvet Room, ruangan di dalam sebuah kendaraan yang menuju antah berantah dan berasal dari antah berantah." Igor menjawab pertanyaan pertama Nanako, masih dengan senyuman yang agak mengerikan. "Velvet Room adalah tempat di mana kebenaran dapat terungkap, jika mereka berniat dan berusaha keras untuk mengungkap kebenaran itu." Lanjutnya, menjawab pertanyaan kedua Nanako. "Dan, hanya orang-orang yang terpilihlah yang bisa masuk ke Velvet Room ini." Jelas Igor, menjawab pertanyaan ketiga Nanako.

Meski begitu, Nanako masih tetap bingung. "Orang-orang yang terpilih? Maksudnya?"

Kali ini, di mata Nanako, Igor terlihat menyeringai. "Orang-orang yang terpilih adalah… mereka yang mencari kebenaran demi sebuah masa depan... Seperti nama yang anda temukan sebelumnya." Jawab Igor, mulai menatap Nanako, membuatnya agak ketakutan. "Dan… mereka yang mencari kebenaran di masa lalu demi memperbaiki masa depan yang diambang kehancuran. Atau bisa disingkat dengan mengubah masa depan yang sudah terjadi." Lanjutnya, membuat Nanako tersadar akan sesuatu.

"Maksudmu… aku bisa mengubah yang terjadi saat ini… dengan kembali ke masa lalu?" Tanya Nanako, mencoba memastikan apa yang ia pikirkan benar atau tidak.

Igor mengangguk, membuat Nanako tersenyum senang. Namun, kemudian Igor kembali menatapnya dengan tajam. "Tapi… setiap pilihan selalu ada konsekuensinya." Keseriusan terdengar dari nada bicaranya. "Mereka yang kembali ke masa lalu akan menghilang… setelah kebenaran di masa lalu berhasil terungkap dengan jelas."

Perkataan Igor itu membuat Nanako terdiam, senyum yang tadi ia perlihatkan menghilang. "Kenapa… menghilang?"

Igor menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Karena masa depan berubah, mereka yang berasal dari masa depan yang sebelumnya akan menghilang." Kata Igor sambil memejamkan mata, kemudian muncul tumpukan kartu tarot di tangan kanannya. "Untuk sementara, kita lupakan hal itu." Lanjutnya sambil mengocok kartu-kartu tersebut, senyum mengerikan kembali terlihat di wajahnya, dan kemudian melemparkan tiga lembar kartu yang terbalik ke meja yang ada di depannya. "Ketiga kartu ini akan memperlihatkan masa depan anda, atau lebih tepatnya apa yang menunggu anda ketika anda "kembali"."

Kini gadis berambut coklat yang dikuncir pigtail itu memperhatikan dengan seksama ketiga kartu yang tebalik tersebut. 'Ini sama seperti ramalan tarot yang pernah kulihat di televisi.' Batinnya saat melihatnya.

Kartu tarot pertama berbalik dengan sendirinya. Gambar yang diperlihatkan kartu tarot itu adalah lambang dari The Fool Arcana. "The Fool Arcana dengan posisi ke atas." Ucap Igor, senyum mengerikan masih menghiasi wajahnya. "Melambangkan awal dari sebuah perjalanan." Lanjutnya, pandangannya masih tertuju ke Nanako. "Di dalam perjalanan itu, anda akan menemukan berbagai hal. Mulai dari hal-hal biasa yang anda ketahui, sampai hal-hal di luar nalar yang terkadang tidak ingin anda ketahui." Kini senyumnya lebih terlihat seperti seringai. "Dan… anda akan dibantu oleh mereka yang anda kenal dengan baik."

Nanako terdiam. 'Apa mungkin… Big bro…' Batinnya, sedikit berharap.

Giliran kartu tarot yang kedua berbalik dengan sendirinya. "Kartu yang kedua adalah The Hanged Man dengan posisi ke bawah." Ucap Igor. "Melambangkan sebuah kemampuan untuk melakukan tindakan dalam berbagai hal." Lanjutnya, menatap gadis yang duduk di seberangnya. "Tapi ingat, jangan gegabah dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Atau hasil yang didapat tidak akan sesuai dengan apa yang diinginkan."

'Sepertinya… aku memang harus hati-hati.' Batin si gadis, menatap kartu tarot terakhir yang belum berbalik.

Kartu tarot terakhir akhirnya berbalik. Igor agak terkejut ketika melihatnya, dan kemudian ia menyeringai. The Tower Arcana. "Oh… Menarik sekali… The Tower Arcana dengan posisi menghadap ke atas. Melambangkan ancaman dari sebuah kehancuran dan hilangnya seluruh harapan." Kata Igor, masih menyeringai dengan pandangan masih mengarah ke gadis di depannya. "Sepertinya anda akan menghadapi kehancuran yang nantinya akan melanda masa anda dan sedikit sekali atau bahkan tidak ada harapan untuk mencegah kehancuran itu." Lanjutnya, membuat Nanako sedikit kaget. "Tapi… tidak ada yang tidak bisa kita cegah. Meski banyak yang mengatakan tidak ada harapan, selalu ada harapan jika kita menginginkannya, meskipun sangat sedikit. Yang berarti anda akan menemukan sebuah atau lebih cara untuk mencegah kehancuran itu terjadi." Igor kemudian kembali dengan senyum mengerikannya. "Sayangnya, saya sendiri tidak tahu cara untuk mencegah terjadinya kehancuran itu. Itu adalah tugas anda untuk mencaritahu dan mengungkapnya." Tambahnya, seakan menjawab pertanyaan yang belum sempat keluar dari mulut gadis yang duduk di hadapannya.

Nanako sebenarnya masih ingin menanyakan beberapa hal kepada Igor, namun sayangnya kakek tua itu sudah mendahuluinya. "Sekian yang bisa saya sampaikan kepada anda untuk saat ini." Kata Igor, menyudahi pertemuan antara Nanako dengan penghuni ruangan bergerak itu. "Oh ya… Untuk pertemuan selanjutnya, tampaknya Margaret akan memberikan sedikit bantuan." Lanjutnya, Margaret terlihat tersenyum kecil. "Nah… Selamat menikmati perjalanan "kembali" anda, Nona Dojima Nanako."

"Tapi—"


Flashback End


"Setelah itu aku langsung tidak sadarkan diri, padahal ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Dan setelah aku sadar, aku sudah berada di rerumputan dekat stasiun, tepat beberapa jam sebelum keberangkatan Big bro." Nanako menyudahi ceritanya, lagi.

"Nanako, apa kau bisa menggunakan Persona?" Tanya Souji setelah mendengar dengan seksama cerita Nanako sebelumnya.

"Persona? Maksudnya seperti kekuatan yang dimiliki Big bro dan teman-teman Big bro ketika menyelamatkanku dulu? Tidak… sepertinya…" Jawab Nanako. "Memangnya kenapa?"

'Berarti Persona-nya belum bangkit…' Batin Souji. "Ah… hanya bertanya saja…" Jawabnya, mencoba menghindari menjawab pertanyaan sepupunya.

"Oh…" Gumam si gadis, kecewa tidak mendapat jawaban yang diinginkannya. "Big bro, memangnya apa yang Big bro alami setelah pertama kali bertemu Igor dan Margaret?"

Souji pun menceritakan awal dari semua petualangannya ke sepupunya itu, mulai dari keberangkatannya dari Tokyo hingga keberhasilan mengalahkan Izanami. Nanako terkejut mendengarnya, tidak mengetahui kalau Big bro-nya itu memiliki kisah heroik seperti itu. "Tapi sepertinya kontrakku dengan Igor belum berakhir…" Ucap Souji, pandangannya masih tertuju ke jalan raya di depannya.

"Kontrak? Apa maksudnya?" Nanako bingung dengan apa maksud dari perkataan kakak sepupunya.

"Bertemu dengan Igor berarti kita akan terikat kontrak dengannya. Kontrak yang berhubungan dengan masa depan kita dan orang-orang di sekitar kita." Jelas Souji. "Kertas yang kau tandatangani itu merupakan pengikat kontrak yang kita miliki."

Nanako mengangguk mengerti. "Berarti karena itu aku bisa berada di sini…" Gumamnya, mengerti alasan kenapa ia bisa berada di masa ini. Keheningan melanda mereka berdua setelahnya. Mereka bingung apa lagi yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Setelah sekitar 10 menit tanpa bicara, Nanako menoleh ke arah Souji dengan malu-malu. "Aku tidak percaya bisa bertemu langsung dengan Big bro lagi."

"Maksudmu? Oh ya… Aku seharusnya mati saat kecelakaan kereta tadi…" Gumam si pemuda berambut keperakan, pandangannya teralih ke arah langit di mana terlihat bulan purnama yang bersinar cerah pada malam itu. "Terima kasih telah menyelamatkanku, Nanako." Ucapnya sambil tersenyum ke arah gadis berambut coklat yang berjalan di sebelah kirinya. Dan wajah Nanako langsung dihiasi rona merah karenanya.

"A-ah… Iya… Big bro…" Gumam Nanako sambil menundukkan kepalanya, memandang kerikil jalanan yang entah kenapa menarik untuk diperhatikan. Entah kenapa, langkahnya terlihat sedikit melambat, kelelahan sepertinya mulai menyerang tubuh gadis itu. Padahal mereka belum sampai setengah jalan untuk dapat kembali ke Inaba.

Souji menoleh ke arah gadis di sebelahnya. Nanako terlihat kelelahan. Souji menyadari kalau sepupunya versi remaja itu sudah lelah berjalan. 'Bagaimana caranya agar cepat sampai tujuan tapi tidak kelelahan?' Batinnya, langkah kakinya terhenti karenanya. Nanako juga ikut menghentikan langkahnya, bingung melihat Big bro-nya yang terlihat tengah berpikir keras.

TING!

Terlihat lampu menyala di dalam otak cemerlang Seta Souji.

'Kendaraan yang lewat!' Souji menyadari penyelesaian masalahnya. Yang diperlukannya adalah menunggu kendaraan yang melewati jalan raya itu, meski kecil kemungkinannya. "Nanako, sebaiknya kita menunggu kendaraan yang lewat saja." Kata Souji sambil duduk di rerumputan yang ada di pinggir jalan, diikuti dengan Nanako. "Untuk menumpang, supaya bisa tiba di Inaba secepatnya." Lanjutnya, sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 02.30 pagi. "Dan tidak membuat kita kelelahan." Tambahnya. Nanako hanya bisa tersenyum malu ketika mendengar kalimat Souji yang terakhir.

30 menit berselang, yang mereka berdua tunggu akhirnya datang. Sebuah taksi yang kebetulan lewat jalan raya itu. Dengan lambaian tangan kanan Souji, taksi itu berhenti tepat di depannya dan Nanako. Setelah melakukan sedikit negosiasi dengan supir taksi, yang dilakukan oleh si pemuda berambut keperakan, akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kendaraan itu. Dan taksi itu kemudian bergerak menuju destinasi yang diminta Souji.

"Big bro." Panggilan Nanako membuat Souji menengok ke arah sepupu perempuan yang duduk di sebelahnya.

"Hnn?"

"Memangnya Big bro punya uang untuk membayar taksi ini?" Bisik Nanako agar tidak terdengar si supir taksi.

Souji terdiam sejenak dan kemudian menjawabnya dengan berkata pelan, "Itu urusan nanti…"

Nanako hanya bisa sweatdropped mendengarnya. "Lalu sekarang kita mau ke mana?" Tanyanya lagi, tidak mengetahui ke mana Souji meminta taksi ini menuju.

Dengan singkat Souji menjawab,

"Kediaman Dojima, rumahmu."


A/N :

Hosh… Hosh… Hosh…

Ahem…

Ahahahahahahahahaha (tawa khas Laharl yang saya pinjam sementara (/plak)) Akhirnya Chapter 2 selesai juga.

Ucapan terima kasih kembali saya ucapkan kepada para reader yang bersedia membaca fanfic saya yang masih tergolong newbie ini, terutama kepada agan Sepicis (Sp-Cs) yang telah repot-repot mereview (hiks… terharu…)

Mohon maaf kalau saya agak lama mem-publish chapter 2 ini, dikarenakan keterbatasan media yang saya miliki. Jadi harap dimaklumi.

Untuk chapter selanjutnya… Rahasia. Biar reader penasaran. Hehehehe….

Well, sekian dari saya untuk chapter 2 ini. Maaf kalau saya ada kesalahan penulisan dan kesalahan lainnya di dalam fanfic ini. Saya juga minta maaf kalau saya akan sedikit lambat untuk meng-update fanfic ini.

Semoga reader sekalian puas dan bersedia memberi saya masukan berupa review atau pun flame (kalau bisa flame yang bersifat membangun).

Satu lagi… Selamat Hari Ibu untuk semua ibu di dunia, terutama untuk ibu saya yang rela merawat dan membesarkan saya, dan juga untuk ibu para reader sekalian.

Terima kasih

.

.

.

.

Tambahan, kalau ada yang mau melihat Dojima Nanako versi remaja (yang menjadi salah satu tokoh utama di fanfic ini), bisa dilihat di sini :

monochrome-girl'tumblr'com/image/16340470680 (tanda ' (petik tunggal) diganti dengan . (titik), karena entah kenapa saya gagal terus masukin linknya)

.

.

.

Hyaaa! Kawaiiiii! Kalah Yukiko sama Nanako yang ini! Kalau begini sih, saya pasti pindah dari Yukiko FC ke Nanako FC... Ehehehe

.

.

.

Ahem...

Gambar bukan buatan saya, saya cuma iseng nge-search di Google setelah chapter 2 selesai diketik.

Err... Sekian dari saya, lagi.

Terima kasih