"Hah…hah…ahn…ngh…mmh!"
Apa yang dialami Yanagi Renji saat ini bukanlah sebuah kenikmatan atau sesuatu untuk bisa dinikmati. Dia merasakan 'milik' Sanada keluar dan masuk tanpa henti dari dalam tubuhnya. Dia tidak mempunyai kekuatan apa pun untuk melawan. Satu kaki dan satu tangannya sudah dilumpuhkan. Rasa sakitnya tidak tertahankan. Apalagi sekarang Sanada Geniichirou sedang memperkosanya.
Ya, memperkosanya sejak 10 menit yang lalu…
"Sakit, huh?" tanya Sanada disela-sela kesibukkannya mendorong dan menarik 'milik'nya dari dalam tubuh Yanagi. "Teriaklah, menangislah, yang kencang! Buat aku terhibur!"
"Huaaa! Aaaah!" semakin dalam Sanada mendorong, Yanagi akan berteriak dan mendesah semakin kuat. Yanagi hampir kehabisan tenaga untuk mengeluarkan suaranya. Tubuhnya basah dengan keringat, darah, dan cairan kotor dari 'milik'nya. Sanada terus menghentaknya, tidak peduli rasa sakit yang dia rasakan.
Sanada telah mencapai klimaksnya. Dia menarik keluar 'milik'nya dengan cepat. Kemudian dia menarik rambut Yanagi untuk memaksanya bangun. 'Milik'nya yang sudah klimaks itu kemudian dimasukkan dengan paksa ke mulut Yanagi.
"Telan, semuanya. Jangan ada sisa," perintahnya sambil menahan kepala Yanagi.
Yanagi ingin menangis, rasa mual itu memenuhi perutnya. Cairan kental Sanada memenuhi mulutnya. Dia harus menelan semuanya meski tenggorokannya sudah terasa panas dan sedikit terbakar. Sanada kemudian menarik kepalanya dan membanting tubuhnya kembali ke lantai. Kedua kaki Yanagi masih mengapit pinggang Sanada. Dia masih mengatur nafasnya yang tersengal. Melalui pandangannya yang mulai kabur, dia melihat sekelebatan bayangan hitam itu masih mengelilingi Sanada. Semakin lama semakin jahat, semakin menakutkannya.
Dengan kekuatan seadanya, dia bangkit dan mendekap Sanada. "Geniichirou…" bisiknya pelan di telinga Sanada. "Geniichirou…"
Reaksi Sanada kemudian mendorong jatuh Yanagi kembali ke lantai. Kedua kakinya dibuka dan dia kembali memperkosanya. Yanagi menutup mulutnya, dia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Kepalanya pusing dan perutnya mual. Tidak ada tenaga tersisa darinya.
"Kau mau bilang apa, huh? Sakit? Atau kau ingin mencapai klimaksmu?" tanya Sanada sambil menyeringai jahat kepada Yanagi. Gerak tubuhnya semakin cepat, seirama dengan detak jantungnya yang sedang memburu. "Tidak cukup! Iya kan?! Kau menikmatinya kan?! Hahahaha…!"
"Ungh…ungh…Genii…ah! Geniichirou!" desah Yanagi.
"Menangislah! Teriaklah! Yang kencang! Hibur aku dengan suaramu!" bentak Sanada.
"Geniichirou…aku mohon…hnngh…!" Yanagi berusaha menenangkan Sanada dengan memegang satu sisi wajah Kaisar Rikkai itu. Air matanya berlinang, bersamaan dengan peluh keringat di keningnya. "Geniichirou…" sekali lagi dia berbisik.
"Diam! Diam! Diaaaam!" Sanada semakin menghentaknya dengan kuat. Darah sudah mulai mengalir keluar dari 'bagian belakang' Yanagi. Satu tangan Sanada mencekik kuat leher Yanagi dan dia berseru, "Mati kau! Matilah! Mati sajalah!"
Tanpa sadar, cengkeraman tangan Sanada di leher Yanagi semakin kuat. Yanagi sudah meronta dan meminta untuk dilepaskan. Satu tangannya masih terulur ke wajah Sanada. Laki-laki bertopi itu tetap tidak menghiraukannya. Nafas Yanagi sudah sampai di ujung tenggorokannya, pandangan matanya sudah terkaburkan oleh air mata dan keringatnya. Mulutnya membuka dan menutup, tetapi tidak ada suara yang keluar dari sana.
Tidak ada suara yang keluar dari sana…
"Hmph…fufu…fufufu…" Sanada tertawa pelan, tertawa lagi, dan tertawa semakin keras. Dia sampai mendongak saking kerasnya tertawa, "Hahahaha! Hahahaha!"
Black Aura itu menyelubungi tubuhnya. Semakin pekat, semakin penuh, merasuk semakin dalam sampai ke jiwanya. Sesuatu bergulat dan memberontak, mencoba keluar dari belenggu yang tidak terlihat. Sanada merasakan sakit di dadanya, seperti mau meledak dan memuntahkan sesuatu. Semakin sakit dia rasakan, semakin dia bisa membuka lebar mata batinnya. Penglihatan semakin jelas, pikirannya semakin jernih. Nafasnya semakin tidak beraturan, jantungnya berdegup semakin cepat. Dia berteriak sambil mencengkeram dadanya, "Huaaaaa!"
-000-
Di kamar, Yukimura sedang berbaring sambil memegang kepalanya. Niou duduk di dekatnya dan mencemaskan keadaannya. Atobe juga berada di sana, sedang duduk tidak jauh dari tempat tidur Yukimura. Dia tampak gelisah, beberapa kali dia berdiri dan berjalan mondar mandir, kemudian duduk lagi. Dia dan Yukimura sudah menceritakan kepada Niou apa yang terjadi di ruang Gym. Sebuah perdebatan kecil yang kemudian menjadi sangat serius sampai Sanada kehilangan kendali. Untung saja belum terlalu parah, sampai kemudian Yanagi dan Niou datang menolong mereka.
Atobe kemudian berdiri, "Aku akan melihat mereka."
"Nanti dulu, Atobe," cegah Yukimura. "Apa yang ingin kau lakukan?"
"Ore-sama gelisah, perasaanku tidak enak karena kita berdua sudah melihat Sanada dengan tampilan mengerikan seperti itu. Dia sudah melukai kita. Bagaimana dengan Yanagi?"
"Yanagi bisa mengatasinya, kau tenang saja, Atobe," kata Niou.
"Aku tidak yakin, Niou," tukas Atobe cepat. "Tsk! Pokoknya aku akan melihat keadaan mereka. Kalian tunggu saja di sini."
Saat Atobe hendak keluar, Yukimura kemudian memanggilnya, "Atobe!"
Laki-laki berambut kelabu itu kemudian menoleh. Yukimura berkata, "Jangan lukai dia. Berjanjilah untuk tidak melukai dia barang sedikit pun."
"Hmph…kita lihat saja nanti," dan Atobe pun bergegas pergi ke ruang Gym.
Pintu ruang Gym tertutup. Atobe berharap tidak dikunci sehingga dia bisa dengan mudah masuk. Dia sempat merasa sangsi, apakah dia harus masuk atau tidak. Namun kemudian dia mendengar suara seseorang berteriak kencang dari dalam. Dia menempelkan telinganya di pintu.
"Renji! Renji!" dan dia yakin itu adalah suara Sanada.
Atobe semakin gelisah dan dia membuka pintunya dengan tergesa-gesa. Dia berseru, "Sanada!"
Dia mendapati Sanada berlutut memandang tubuh Yanagi yang tergeletak di lantai. Laki-laki berambut hitam itu melepas topinya dan mencengkeram kepalanya. Dia terlihat panik dan mengguncang tubuh Yanagi.
"Cih! Apa yang kau lakukan dasar bodoh!" dikuasai amarahnya, Atobe kemudian berlari dan langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Sanada. Kaisar Rikkai itu jatuh menjauh darinya dan dari Yanagi. Hantaman keras dari Atobe membuatnya terdiam. Kini dia hanya bisa melihat tubuh yang terkulai lemah itu sedang di dekap oleh Atobe.
"Yanagi! Bangunlah! Hey!" Atobe mencoba mengguncang tubuh Yanagi, namun tidak memberikan tanggapan apa pun. Dia mendapati semua luka yang dialami Yanagi. Bahkan sampai luka di 'bagian belakang'nya pun sangat mengerikan. Darah segar keluar dari sana. Dia melepas jaket U-17 miliknya dan dipakai untuk menutupi daerah pribadi Yanagi. "Cih! Tidak puas dengan melukaiku dan Yukimura lalu kau melukai Yanagi. Di mata otakmu, hah?!"
Sanada kemudian duduk dan menaikkan satu lututnya untuk menopang tangannya yang mencengkeram kepalanya. "Aku…" gumamnya lirih. "Akulah yang membunuhnya, Atobe."
"Apa?" Atobe terkejut. "Apa kau bilang? Membunuhnya?"
"Ya, aku membunuhnya. Dia mati di tanganku. Aku akan mengundurkan diri dari pelatihan ini. Setelahnya-"
"Kau mau menyerahkan dirimu kepada polisi atas apa yang sudah kau lakukan sekarang, Sanada? Menurutmu dengan begitu segala masalah ini telah berakhir?"
Sempat terdiam sejenak, kemudian Sanada menjawab, "Aku tidak bisa mengembalikan nyawanya, Atobe."
Dengan geram, kemudian Atobe menarik kerah baju Sanada, "Yanagi Renji adalah orang paling penting dalam hidupmu, kaisar tidak punya otak! Dia sudah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan aku dan Yukimura dari tindakan bodohmu! Kau lihat dia sekarang, hah?! Lihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana kondisinya!"
Sanada menoleh ke arah Yanagi. Tubuh sang Master Plan itu masih tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali. Dia sudah berusaha memompa jantungnya, memberikan nafas buatan agar kembali hidup. Tetapi usahanya sia-sia, Yanagi tidak memberikan respon apa pun terhadapnya. Semua sudah berakhir.
Ya, sudah berakhir…
"Maafkan aku, Atobe," ucap Sanada lirih. Dia mendengus tertawa, "Aku akan meminta maaf kepada Yukimura juga."
"Kau tidak akan ke mana-mana sebelum kau bisa mengalahkan aku, Sanada. Hiyaaah!" Atobe meninju Sanada dengan keras di wajahnya. Kaisar Rikkai itu kembali jatuh, namun dengan cepat dia berdiri dan bersiap menerima serangan dari Atobe. Keduanya kini beradu fisik. Tangan lawan tangan, kaki lawan kaki, kepala lawan kepala. Atobe memang tidak begitu menguasai bela diri. Dia hanya bertindak sesuai dengan nalurinya. Jika dia diserang, maka dia harus bertahan dan menyerang balik.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Sanada!" seru Atobe sambil menyerang Sanada dengan tinju dan tendangannya. "Yanagi pun pasti tidak akan memaafkanmu!"
"Aku terima semua itu, Atobe!" balas Sanada. "Biarlah aku tidak dimaafkan oleh siapa pun. Termasuk olehmu, oleh Yukimura, dan Renji!"
Beberapa kali mereka baku hantam, akhirnya Atobe berhasil memukul Sanada dengan kuat dan menyebabkan laki-laki berambut hitam itu jatuh menghantam sebuah sepeda statis. Atobe masih mencoba mengatur nafasnya yang tersengal karena menahan amarah. Dia kemudian berjalan mendekati Sanada. Namun langkahnya kemudian terhenti ketika tiba-tiba dia melihat satu tangan melintang tepat di depannya. Jika dia tidak awas, dia bisa saja menginjak tangan itu. Dia melihat Yanagi perlahan membuka matanya. Sontak dia langsung berlutut dan membangunkannya.
"Yanagi! Hey! Buka matamu!" seru Atobe. Setelah beberapa kali terbatuk, akhirnya Yanagi pun membuka matanya. Atobe tersenyum cerah, "Akhirnya kau kembali, Yanagi. Kau baik-baik saja? Kau dengar aku kan? Ini aku, Atobe!" Kemudian Atobe memanggil Sanada, "Hey, kaisar bodoh, lihatlah! Dia kembali!"
Sanada mencoba berdiri dan melawan rasa sakit akibat pukulan tangan Atobe. Meski pandangan matanya terkaburkan oleh keringat dan darah yang mengalir dari keningnya, dia bisa melihat Yanagi perlahan membuka matanya. Hatinya berkecamuk, segala macam perasaan menjadi satu. Kedua mata Yanagi menatapnya lemah. Laki-laki berambut cokelat itu berusaha mengangkat tangannya dan meminta dirinya untuk mendekat padanya. Tetapi Sanada tidak bergerak. Dia mengepal kedua tangannya. Dia dikuasai perasaan bersalahnya.
Entah apa yang dipikirkannya, Sanada kemudian berjalan menuju pintu ruang Gym. Dia hendak meninggalkan tempat ini. Atobe dan Yanagi terkejut melihatnya bertingkah demikian. "Hey, Sanada!" seru Atobe memanggilnya. Tetapi dia memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Tunggu, Geniichirou!" Yanagi baru akan bangkit, namun tiba-tiba rasa sakit di kakinya membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku. Dia tidak bisa bergerak cepat dengan kondisi seperti ini. "Atobe, tolong hentikan dia."
"Tsk! Dasar bodoh! Sanada!" Atobe berlari secepatnya sebelum Sanada menutup pintu ruang Gym. Dia lalu menarik Sanada dan menjatuhkannya ke lantai. "Dia menyuruhmu tetap di tempat! Kau dengar dia kan?!" seru Atobe.
Yanagi berusaha sebisa mungkin bangkit. Rasa sakit di kaki dan tangannya sedikit mengganggunya. Dengan tertatih, sambil memegangi jaket milik Atobe untuk menutupi daerah pribadinya, dia berjalan menghampiri Sanada yang sedang berlutut di lantai. "Geniichirou…" bisiknya lirih, kemudian ikut berlutut bersama Sanada dan memegang tangannya. "Atobe, maafkan aku. Tapi tolong tinggalkan kami sebentar, berdua saja," kata Yanagi kepada Atobe.
"Kau yakin, Yanagi?" tanya Atobe sambil membersihkan noda darah di sudut bibirnya.
"Ya, kami akan baik-baik saja. Aku akan bicara padamu nanti. Terima kasih…"
Atobe sebenarnya ragu membiarkan mereka berdua berada di sini sendirian. Khawatir akan terjadi hal yang lebih mengerikan lagi. Namun dia juga tidak ingin mengganggu mereka. Perlahan dia melangkah ke pintu, dan berkata, "Jika si bodoh itu berulah lagi, berteriaklah yang kencang maka aku akan menolongmu, Yanagi. Aku tidak akan jauh-jauh dari sini."
"Terima kasih, Atobe…"
-to be continue-
