It's Not About Me or You, It's About Us
.
.
.
Main Cast : Kim Junmyeon, Zhang Yixing
Support Cast : Kwon BoA (Ibu Yixing), Shixun (Oh Sehun), Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Luhan
Rate : T
Author : DeerUnicorn
BoyxBoy. Romance! Angst!
.
.
.
Chapter 2
Hujan mulai turun dengan lebat membasahi kota ketika aku baru saja memasuki rumah sehabis pulang dari kampus. Pakaianku sedikit basah karena aku sempat menembus hujan ketika aku hampir sampai di rumah.
"Ibu, aku pulang!" kataku pelan ketika aku memasuki rumah, sepatu kulepas dan kutaruh di rak sepatu di samping pintu kemudian berjalan dengan pelan menuju kamar. Tak lama, ibu keluar dari dapur menghampiriku dengan panik.
"Xing, kamu kehujanan? Pakaianmu basah. Kau sudah makan? Ibu baru saja memasak makan malam. Mandilah, lalu kita makan malam bersama ya" Ibuku dengan khawatir mengibaskan tangan beliau di pakaianku yang basah. 'ibu, aku telah menyakiti hati Junmyeon. Aku harus bagaimana?' tanyaku dalam hati sambil menggigit bibir bawahku. Sepertinya aku akan menangis melihat ibu. Kalian tahu? Ibuku adalah penggemar berat nomor satu Junmyeon, beliau sangat suka dengan kepribadian Junmyeon yang sopan, baik, pokoknya idaman setiap orang tua. Beliau sangat sangat merestui hubunganku dengan Junmyeon dari awal kami menjalin hubungan sampai sekarang. Kalau beliau tahu aku sedang break dengan Junmyeon, aku tidak bisa membayangkan betapa beliau sakit hati dengan kami. Aku mengangguk lemah, lalu berjalan ke kamar dengan kepala menunduk. Aku berharap beliau tidak menyadari keanehanku malam ini, anggap saja ekspresiku sekarang adalah sedang kelelahan setelah seharian berada di kampus.
Setelah aku masuk ke kamar, aku langsung bergegas ke kamar mandi dan mandi air hangat. Sejenak, pikiranku sedikit merasa rileks ketika air hangat mulai membasahi kepala dan badanku.
.
.
.
"Xing, kenapa kau terlihat pucat begitu? Kau tidak sakit, kan?" Tanya ibu ketika kami sedang makan malam bertiga dengan adik laki-lakiku yang baru berada di kelas dua menengah atas. Ayah sedang lembur bekerja, maka dari itu beliau tidak ikut makan malam. Aku menghentikan suapan nasiku lalu menggeleng pelan dan tersenyum tipis- berharap ibu tidak mengetahui senyum palsuku ini. Saat ini aku tidak ingin ditanyai macam-macam dulu, terlebih tentang Junmyeon.
"Aku hanya merasa sedikit tidak enak badan. Tapi bukan suatu masalah, kok. Mungkin kalau aku tidur lebih awal malam ini, besok pagi aku sudah merasa lebih baik, bu"
"Pasti karena kau kehujanan tadi, ya? Lain kali kau berteduh dulu kalau sedang hujan. Atau membawa payung. Sudahlah, malam ini kau tidur saja. Kalau kau butuh obat, ambil saja di kotak kesehatan. Habiskan makanmu lalu tidur" ibu menasehatiku sambil tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan dah menghabiskan makanku.
.
.
.
Jam sudah bergulir ke jam 01.23. Malam semakin larut. Sampai sekarang aku masih terjaga. Entah mengapa mataku tidak bisa menutup dengan biasanya. Aku berdiri termenung di samping jendela kamar, menatap bulan purnama yang sedang bersinar di sana. 'Apa yang sudah kulakukan? Aku tidak tahu kenapa bisa jadi begini. Kenapa aku merasa jenuh? Kenapa aku menjauhi banyak orang? Kenapa aku menjauhi Junmyeon?'
'Junmyeon. Sedang apa dia sekarang? Apa dia sudah tidur? Atau masih terjaga sepertiku?' gumamku. Tadi setelah makan malam, Junmyeon menelponku. Kalau kalian ingin tahu apa yang aku bicarakan dengan Junmyeon, mungkin kalian akan merasa bosan. Kami hanya membicarakan kabar masing-masing, bagaimana hari ini kami lewati, hal apa yang terjadi –kami sama sekali tidak membahas tentang kejadian kami di kedai kopi tadi siang. Sama sekali tidak. Aku tak ingin mulai membahasnya, dan dia mungkin juga tidak ingin ikut membahasnya, takut membuatku makin merasa canggung. Seperti saat masih menjalin hubungan, kami membahas banyak hal dari yang penting sampai tidak penting. Kami tertawa ketika Junmyeon menceritakan tentang Baekhyun –teman kami yang satu kelas dengan Junmyeon– terlambat masuk kelas yang diajar oleh dosen yang cukup killer di jurusan mereka.
Junmyeon... aku menerawang ke langit dan membayangkan wajah Junmyeon tadi siang saat di kedai kopi. Wajah sedihnya, kecewa. Apakah aku jahat membuatnya seperti itu? Kenapa aku harus merasa jenuh dengan semuanya? Aku merindukan tawanya, merindukan senyumannya, merindukan cerita humornya, merindukan dekapannya di tubuhku. Semuanya. Aku merindukan semuanya.
Sejenak, aku memeluk diriku sendiri dan duduk di atas ranjangku. Rasanya dingin, tidak seperti ketika Junmyeon memelukku yang rasanya begitu hangat, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dadaku. Air mataku menetes mengingat dan membayangkan pelukan hangatnya. Perasaan ketika aku dan dia berpelukan. Aku merindukan tubuhnya memelukku. Begitu pas, begitu nyaman. Seperti sebuah kunci yang mampu membuka suatu pintu yang tertutup sangat erat, merasa cocok satu sama lain.
Junmyeon... apa kau mendengarku sekarang? Aku merindukanmu, sangat. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Maaf karena aku memintamu break. Aku juga tidak ingin itu terjadi. Kumohon maafkan aku, Myeon. Sampai waktunya tiba, aku mohon tunggu aku. Sambut aku dengan pelukan hangatmu ketika waktunya sudah sampai...
Aku menangis dalam diam mengucapkan kalimat-kalimat itu di dalam pikiranku. Kumohon, Myeon... tunggulah aku. Kuharap kita bersabar, ya?
.
.
.
"Xing ge, bangunlah. Kau dipanggil ibu di meja makan" Panggil adikku. Aku membuka mataku berat. Ah, aku baru ingat. Aku baru bisa tertidur jam empat pagi. Aku melirik jam dinding, sudah jam enam. Aku tertidur dua jam. Adikku sudah memakai seragamnya.
"Hei, Shixun. Kenapa ibu memanggil?" Tanyaku sambil mencoba duduk. Shixun mengedikkan bahunya tanda ia tidak tahu.
"Gege masih tidak enak badan? Ibu membuatkan bubur, tuh"
"Terima kasih, Xun. Aku akan mandi dulu, setelah itu ke meja makan. Tunggu sebentar, jangan berangkat sekolah dulu"
"Kalau gege masih merasa tidak enak badan, tak apa. Istirahatlah. Aku tak apa kalau berangkat ke sekolah sendiri. Nanti kalau gege pingsan di jalan, aku tidak ingin tanggung jawab"
"Aku sudah tidak apa-apa. Tunggu saja di ruang tengah. Setelah makan, kita berangkat bersama"
"Jangan memaksakan dirimu. Kalau masih sakit istirahat saja. Tidak usah khawatir, aku sudah tujuh belas tahun. Aku bisa menjaga diri sendiri. Aku berangkat sekarang. Dah"
"Hati-hati, Xun"
Aku merenung di atas ranjangku. Berpikir, apakah kemarin ketika aku dengan Junmyeon memutuskan break itu hanya mimpi? Ya. Semoga. Itu pasti mimpi. Ah, tapi kenapa rasanya sesak dan nyata? Aku meletakkan tanganku di dada, merasakan nyeri yang teramat di sana. Junmyeon... apa kemarin nyata? Tolong katakan itu hanya mimpi burukku dan katakan kita masih bersama.
"Yixing, kau ada di dalam?" Tanya ibu dari luar kamarku. Beliau mengetuk pintu dan membukanya. Beliau menghampiriku yang masih duduk di ranjang dan duduk di sebelahku.
"Sudah merasa lebih baik, sayang?" kata ibuku sambil meletakkan tangan di keningku. Aku menatap beliau sendu, menatap wajah khawatirnya.
"Tidak panas, sih. Tapi wajahmu terlihat pucat, matamu bengkak. Kau ada jadwal kuliah hari ini? Kalau ada, izinlah untuk hari ini. Nanti kau kenapa-kenapa kalau terlalu dipaksakan. Beritahu Junmyeon untuk memintakan izin ke dosenmu"
"Sudah kubilang kami beda jurusan, bu. Mana bisa Junmyeon memintakan izin ke dosenku?" sanggahku pelan. Apa aku harus mengatakannya? Tidak, aku tidak ingin ibu tahu. Nanti saja kalau waktunya sudah tepat.
"Nanti aku minta Chanyeol untuk memberitahu dosen kalau aku izin hari ini" Tambahku. Chanyeol adalah sahabatku sejak sekolah menengah pertama sampai kuliah sekarang. Bahkan kami terus dimasukkan di kelas yang sama.
"Istirahat saja di rumah hari ini, jangan ke mana-mana. Mandilah, lalu makan. Ibu sudah menyiapkan bubur"
"Terima kasih, bu" Aku tersenyum. Kali ini aku benar-benar tersenyum. Ibu memang terbaik, seburuk apapun moodku, beliau selalu tahu apa yang bisa membuat moodku kembali. Ya Tuhan, kapan rasa jenuhku ini hilang?
.
.
.
Saat ini aku sedang berada di ruang tengah, menonton acara TV yang lumayan membosankan. Jam masih menunjukkan jam setengah dua belas siang. Aku beberapa kali mengganti channel mencari acara yang membuat moodku kembali naik, namun satupun tidak ada. Akhirnya dengan pasrah, aku membiarkan sebuah variety show yang menayangkan tentang kuliner memenuhi suasana agar tidak hening.
Aku membiarkan TV menyala dengan volume yang cukup keras untuk kudengar sendiri. Ibu sedang tidak berada di rumah. Beliau sedang bekerja di klinik, beliau bekerja sebagai dokter gigi di sana. Beliau selalu pulang ketika sore sudah menjelang. Shixun pun baru pulang sekolah sore nanti. Dengan bosan aku memainkan handphoneku, siapa tahu ada pesan masuk. Namun tidak ada satupun. Chanyeol tidak membalas pesanku tentang aku minta izin untuk tidak hadir kuliah hari ini. Mungkin kelas masih berlangsung.
Akupun berbaring di sofa dan membuka media sosialku, tidak ada yang menarik. Jari-jariku bergerak mengetik sesuatu di keyboard handphone, mengetik satu nama yang selalu aku pikirkan sejak kemarin. Aku membuka profil Junmyeon dan tersenyum menatap foto profilnya yang sedang berada di tempat fitness (cek foto di 1 day 1 Suho, Suho pakai setelan training merah). Aku mengelus layar handphone dengan jariku, seolah aku sedang mengelus wajahnya.
"Junmyeon-ah, semangatlah hari ini. Tanpa aku..."
.
.
.
Aku melenguh pelan, leherku terasa sakit. Aku membuka mataku pelan, ah aku tertidur di sofa ternyata. TV juga menyala dari tadi. Aku mengambil remote yang berada di meja di depanku dan mematikan TV. Aku bangun dan berjalan ke dapur untuk minum. Langkahku terhenti ketika aku melihat sesuatu di meja kecil dekat pintu masuk. Ada sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru dengan pita berwarna putih. Aku berjalan mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah coklat berukuran besar dengan sebuah kartu ucapan.
'Cepat sembuh, Yixing. Makanlah coklat ini, maka kau akan langsung sembuh.
Fr Junmyeon'
Junmyeon. Dari mana ia tahu aku sedang sakit? Apa Chanyeol yang memberitahunya? Aku tersenyum tipis dan membawa coklat tersebut ke dapur, mandi sebentar lalu kembali ke ruang tengah.
Aku mengecek handphoneku, lumayan ada beberapa temanku yang mengirimiku pesan,
Fr. Baekhyun
Hey, Yixing. Kau sedang sakit? Cepat sembuh kawan. Kenapa tidak bilang kalau kau sakit? Kau tenang saja, hari ini Junmyeon sedang kuawasi agar dia tidak dekat-dekat dengan orang lain. Kkk. Ah, nanti setelah aku selesai kelas aku ke rumahmu ya? See you, Unicorn~
To. Baekhyun
Terima kasih, Baek. Aku hanya tak enak badan biasa. Tak usah berlebihan. Ya, tolong jagakan Junmyeon untukku, Bacon. Kalau dia dekat-dekat dengan yang lain tanpa memberitahuku, kau akan kujadikan daging panggang! Kkk. Kalau kau sibuk tak usah ke rumahku juga tak apa. Aku sudah sehat kembali
Fr. Luhan seonbaenim
Xing, kudengar dari Chanyeol kau sedang sakit? Cepat sembuh! Jangan lupa obatmu diminum. Jangan bandel. Kalau aku tidak ada kerjaan di tim padus, saat ini aku sudah di rumahmu. Maaf tidak bisa menjagamu~
To Luhan seonbaenim
Hanya tak enak badan biasa seonbaenim. Chanyeol terlalu melebih-lebihkan. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Siap laksanakan! Tak apa, justru aku merepotkan kalau seonbaenim mengurusku di rumah. Sampai jumpa nanti di kampus seonbaenim.
Fr. Junmyeon
Sudah menerima kotak dariku? Itu hadiah buatmu. Kata Chanyeol kau sedang sakit. Pantas saja kau tidak kelihatan di kampus hari ini. Maaf aku lancang masuk ke rumahmu. Aku membunyikan bel tapi tidak ada yang menyahut. Jadi aku masuk saja. Pintu rumahmu tidak kau kunci, ngomong-ngomong. Tapi tenang saja, aku hanya meletakkan kotak itu dan langsung pulang. Aku tidak enak membangunkanmu yang sedang tidur. Semoga kau suka hadiahku. Cepat sembuh
To Junmyeon
Terima kasih, Junmyeon. Aku suka hadiahnya. Tak apa, aku lupa mengunci pintu. Aku tertidur karena efek obat.
Fr. Chanyeol
Yo whats up, Xing! Guess what happens today? Pak Kang tidak masuk kelas hari ini, kelas beliau diliburkan. Dan sekarang masih ada kelas Bu Park. Tadi beliau menanyaimu, kujawab saja kau sedang sakit. Beliau mengkhawatirkanmu.
Aku tersenyum miris membaca beberapa pesan yang masuk. Mereka begitu perhatian. Ibu, Shixun, Baekhyun, Luhan Seonbaenim, Junmyeon Chanyeol bahkan Bu Park yang memang dosen idolaku. Mereka begitu memperhatikanku. Aku bahagia, tapi kenapa tetap saja rasanya aku masih merasa jenuh? Apa yang salah dengan diriku? Bisakah aku mati saja? Rasanya tidak sepadan ketika mereka begitu memperhatikanku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan 'aku baik-baik saja, terima kasih sudah memperhatikanku'...
.
.
.
