DON'T KNOW WHAT WE ARE

Fanfiction by crowncare
copyright © 2016

This story is mine except the cast.
seperti note dan warning yang ada di bab pertama, jika kalian tidak suka silakan tinggalkan page ini.
You've been warned!

.

Chapter 01: Clapped Eyes On You

.

Jimin memasuki sebuah kelab malam dengan mata mengedar ke sekeliling ruangan, suara berisik sudah memenuhi gendang telinganya sejak ia melangkah masuk setelah turun dari mobil. Ia sendiri adalah salah satu tamu undangan di pesta ulang tahun si playboy terbaik di seluruh kota Seoul di kelab malam karena posisinya sebagai sahabat baik sejak sekolah menengah atas, Jung Hoseok.

"Kau datang!" Hoseok menyambut sambil menepuk bahu sahabatnya sok asik. Sosok yang mendapat tepukan ringan pun mengangguk sambil memberi senyuman sederhana, basa-basi menyadari ada banyak orang yang mungkin mengetahui dirinya dan tidak siap menjadi bahan perbincangan. Meski hanya fotografer, wajahnya yang tampan beberapa kali menjadi model sebuah majalah yang membahas tentang fotografi ataupun iklan sebuah kamera mahal membuatnya harus menjadi orang yang lumayan dikenal.

Hoseok mengedarkan matanya dan menemukan sosok Taehyung, tangannya terangkat untuk sekedar memberi kode agar sosok itu datang ke tempatnya sekarang. Setelah beberapa detik, Taehyung menghampiri mereka berdua sambil memberi senyum lebar pada Jimin—padahal jelas-jelas yang memanggilnya adalah Hoseok.

"Hai Jimin-ah!" Ia menyapa riang teman satu kelasnya dulu, membuat giginya terpamerkan sempurna seperti mengejek orang di hadapannya yang bahkan membuat giginya terlihat pun sungkan. "Kabarnya kau setengah bulan di London, mengambil foto lagi?"

Jimin mengangguk sambil tersenyum tipis, "kali ini untuk foto album Homme. Kau tahu sendiri aku sudah menjadi langganan BigHit mengambil foto artis mereka yang satu itu."

Taehyung mengangguk paham sambil membentuk mulutnya menjadi O sempurna, ia kemudian memberi senyuman tengil. "Omong-omong, masih single?"

Hoseok yang mendengar pertanyaan itu tertawa, melirik Jimin yang kini terlihat malas sambil memutar bola matanya. Wajahnya nampak jengkel karena ditertawakan. "Kau masih belum move on dari gadis itu?"

"Bukan," yang ditanya menggeleng jengah. Ia menatap dua temannya bergantian kemudian mendengus kasar, "susah mencari yang cocok denganku. Aku tidak terlalu senang mengabari, tapi semua orang mengharapkan mendapat kabar. Apa kurang cukup untuk percaya padaku?"

Hoseok dan Taehyung tertawa bersamaan, mengangguk paham pada tabiat kurang senang memegang ponsel yang ada pada Jimin dan mempengaruhi pemuda itu untuk tidak terlalu sering memainkan ponsel apalagi mengabari sedang apa atau blablabla.

"Kau perlu kekasih yang cuek," Hoseok memberi saran. Matanya mengerling pada Jimin sambil menggodanya, "kau bi? Berminat pada laki-laki? Biasanya laki-laki jauh lebih tidak peduli dibanding perempuan yang minta ini-itu."

"Aku pikir aku gay sekarang," Jimin mengangkat bahunya cuek melihat Taehyung dan Hoseok yang ada di hadapannya melotot tidak percaya. Park Jimin yang selama sekolah menengeh memegang teguh jiwa lurusnya itu sekarang gay? Woah, keajaiban luar biasa apa yang terjadi setelah beberapa tahun mereka berpisah?

"Jung Hoseok?" Suara dalam seseorang menginterupsi pemuda yang sejak tadi terlihat sibuk mengedarkan pandangan mencari-cari orang yang cocok untuk Park Jimin. Saat Hoseok menoleh, ia menemukan laki-laki dengan rambut abu-abu platina berada di sebelahnya.

Hoseok tersenyum sambil mengangguk, "Min Yoongi! Lama tidak melihatmu," ia menepuk bahu sempit laki-laki di hadapannya, lagi-lagi untuk bertingkah sok asik.

Min Yoongi, ia juga seorang tamu undangan dari playboy nomor satu, Jung Hoseok. Menjadi teman kerja sama Hoseok membuatnya harus bersabar menghadapi undangan pesta hampir sebulan sekali karena Jung hoseok adalah si gila pesta, laki-laki kekinian penyuka keramaian.

"Seharusnya kau mengundangku bukan di malam Minggu," Yoongi bersuara dengan nada tenang namun dalam, matanya menatap sekeliling kelab dengan pandangan menilai. "Seandainya di malam Senin mungkin aku bisa beralasan bolos kerja."

"Sial," sang pemilik pesta mendelik sambil tertawa kecil, menghela napas yang awalnya tertahan karena ucapan mengejutkan pemuda rambut platina. "Kau benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku terkejut dasar Min Sialan."

Yoongi tertawa kecil mendengar pernyataan temannya. "Senang mengetahui aku masih cukup baik untuk melakukan hal itu."

"Ya sudah sana nikmati pestanya."

Setelah Yoongi berlalu, Jimin yang sejak tadi memperhatikan lelaki itu menyenggol lengan Taehyung. Ia menoleh pada Taehyung dan mengerling sebentar pada sosok Yoongi yang mulai tenggelam diantara tamu-tamu lain. "Yang tadi itu Min Yoongi?"

Taehyung mengangguk tanpa curiga, "menarik ya? Kabarnya dia tsundere susah dipacari, tapi oke juga di ranjang. Bukan berarti dia mudah didapatkan, tapi dari wajahnya pun sudah terlihat 'kan?"

"Ne?" Mata sipit Jimin melebar kaget, mencoba meyakinkan pendengarannya. "Di ranjang?"

Sekali lagi yang diajak mengobrol mengangguk tenang. "Aku berniat mencobanya waktu itu, tapi caranya menatap saja sudah membuatku merinding. Aku lebih baik tidak."

"Kau membuatnya terlihat murahan," Jimin mendecak. "Tapi oke, aku akan mencobanya."

"Coba sa—APA?!" Taehyung memekik heboh menyadari kalimat Jimin, apalagi saat melihat sosok itu sudah menjauh untuk mengikuti arah langkah si rambut abu-abu platina tadi pergi. "Park Jimin, kau serius?" Ia berteriak heboh hingga Hoseok menatap bingung dua sahabatnya dan menahan Taehyung mengejar Jimin untuk sekedar bertanya apa yang salah.

.

"Min Yoongi?" Suara seseorang membuat pemuda yang tengah meneguk sampanye dalam gelas di antara jemarinya itu menoleh, menatap orang yang memangil.

Yoongi mendengung sebentar lalu kembali meminum dengan cara anggun sampanyenya. "Ada apa?" Suaranya yang serak ke luar, mengerling pada laki-laki asing di sebelahnya.

"Jimin, aku Park Jimin," si laki-laki asing mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. "Aku fotografer."

"Eoh," Yoongi mengangguk cuek sambil menarik ke luar ponselnya yang tadi membuat suara getar menganggu, melihat pesan yang mungkin dari orang penting lalu berdecak membaca isinya. Matanya kini berpindah atensi pada Jimin meski tidak berniat membalas sedikit pun uluran tangan laki-laki di sebelahnya. "Aku tahu kau Park Jimin, ada apa?"

Jimin menyeringai tipis mendapati pertanyaan ada apa, berpikir itu mungkin permulaan dari pembuktian perkataan Taehyung. "Keberatan mengobrol bersamaku?"

Tidak segera menjawab, mata sipit itu memicing dan memindai seluruh ruangan seolah mencari sesuatu penting. Hingga matanya berakhir pada titik yang sama saat ia memulai, lelaki itu mengangguk kecil. "Tentu. Sepertinya Seokjin memang tidak bisa datang," ujarnya dengan suara lirih di kalimat terakhir, seperti tengah berbicara sendiri.

Mereka diam lumayan lama sambil meneguk alkohol yang ada di tangan, hingga Jimin meneguk gelas ke tiganya menyerah terus diam dan saling melirik namun tidak berniat bersuara.

"Yoongi–ssi, kau tidak mudah mabuk huh?" Ia bertanya sambil memainkan gelasnya yang kosong, jari telunjuknya menuding diri Yoongi yang menatapnya masih dengan fokus yang baik.

Yoongi mengangguk ringan, meneguk cepat alkohol dalam gelasnya sambil menatap Jimin. "Kenapa? Ingin membuatku mabuk, huh?"

Jimin menyeringai dan terkekeh kecil, "mungkin begitu."

"Kalau kau mendengar seseorang tentangku dan ranjang atau blablabla, aku akan mengatakan seharusnya kau berhenti," pemuda itu meletakkan agak kasar gelasnya dan menatap malas laki-laki di sebelahnya. "Aku tidak akan semudah itu menyerahkan diri meski kondisi mabuk."

Satu sudut bibir Jimin tertarik ke atas, membentuk lengkungan meremehkan pada pernyataan yang Yoongi ucapkan beberapa sekon lalu. "Aku dengar pengusaha sukses pemilik Yoongi Mall berumur dua puluh tujuh, itu berarti kau, Min Yoongi, lebih tua dariku 'kan?"

Yoongi mendengung, "dan kau, fotografer Park Jimin, yang aku dengar kau dua puluh lima? Itu berarti seharusnya bocah sepertimu tidak mencoba sesuatu tentang ranjang, anak kecil."

Jimin mengangkat bahunya acuh, kemudian mencondongkan tubuhnya untuk mendekati wajah Yoongi. Meneliti wajah putih yang terlihat tanpa cela dengan hidung bangir dan mata sipit, bibirnya pun merah seperti buah cherry yang menarik untuk dicicipi. "Kau cantik," komentar Jimin dengan posisi yang sangat dekat.

Yoongi tidak berniat untuk mundur dan justru mendengus di hadapan Jimin, memberi reaksi tidak suka pada pernyataan yang baru saja lelaki itu lontarkan tepat di wajahnya. "Aku takut kau harus menelan ucapanmu tadi, Jimin–ssi," matanya menatap tajam pada mata Jimin.

"Aku akan menelannya segera dan menggantinya dengan seksi setelah melihat wajahmu berkeringat, aku bersumpah."

"Woah, kau mengatakannya seperti dirimu seorang ahli," Yoongi menyeringai, menantang Jimin tepat di wajahnya dan mendengus kecil. "Kita lihat—"

Jimin dengan cekatan menarik dagu dan meraup bibir tipis Yoongi, mengigitinya seperti permen dan menghisapnya kuat hingga suara erangan terdengar dari yang lebih tua.

Merasa tertantang, Yoongi menangkup pipi laki-laki yang mencuri start dan menghisap bibir bawahnya. Ia mengulum habis bibir itu hingga basah lalu mengigitinya dan merasakan rasa kenyal di sana.

Mereka beradu ciuman, menunjukkan kekuatan siapa yang akan menang dan memperlihatkan betapa hebat ciuman itu seharusnya. Beberapa kali bertukar dengan mengulum atas menjadi mengulum bawah dan sebaliknya, mati-matian mengatur napas dan mencuri ruang untuk menghirup udara agar tetap bisa bertahan dalam perang bibir ini.

Jimin menjadi yang menyerah lebih dulu, tapi jauh lebih pintar karena lidahnya sudah menelusuri habis mulut Yoongi dan mengalahkan lidah itu agar tidak mendorong ke luar lidahnya. Bibir Yoongi jadi yang lebih bengkak dan beberapa saliva lebih banyak mengalir di dagunya, cukup untuk membuat yang menyerah lebih dulu tetap memasang senyum bangga. Masih sibuk mengatur napas, tangannya terangkat untuk mengelus dagu Yoongi, membersihkan saliva dari ciuman panas mereka yang mengalir ke luar tanpa sempat ditelan.

Yoongi lebih payah dalam mengatur napas, saat Jimin sudah dengan napas teratur menyeringai dan mengelus pahanya, ia masih bersuara serak mengerang dan menyingkirkan tanpa tenaga jemari Jimin di kakinya.

"Min Yoongi," Jimin tersenyum meremehkan, "apa kau selemah itu?"

"Brengsek," yang diberi senyuman remeh mendesis, ia mengusap bibirnya yang sudah terasa bengkak dan basah. "Memangnya kau sehabat apa, huh?"

Jimin menyeringai mendengar pertanyaan Yoongi yang sedikit memancing, ia kemudian turun dari bangkunya dan menarik lengan Yoongi agar ikut turun. "Kita buktikan," bisiknya pada telinga Yoongi dan mengigit cuping sosok yang sibuk berontak dalam tarikannya. "Kita buktikan seberapa hebatnya diriku."

Tidak ada alasan khusus kenapa mereka sekarang berakhir di sebuah hotel di dekat kelab tempat pesta Hoseok di adakan. Suara ribut kelab malam masih mengiringi telinga mereka karena terlalu lama ada di sana, tapi bagi Jimin suara erangan dan desahan dari bibir tipis Yoongi jauh lebih membekas dibanding ributnya speaker besar di tempatnya berpesta tadi.

Sebelum ke sini Jimin sudah sibuk mengerayangi tubuh Yoongi di dalam mobil, Yoongi pun tidak tinggal diam. Mereka saling meraba meski tetap saja Jimin yang menang. Jimin mencapai pada tonjolan dada Yoongi, membuatnya mendesah keras karena ia memelintir tonjolan itu hingga batasnya dan melepasnya lalu kembali memelintir ke arah yang berbeda. Yoongi hanya mampu meraih perutnya yang berbentuk dan memberi gelitikan di sana karena tangan Jimin yang lain lumayan kuat untuk menyingkirkan permainan nakal yang ada di bangku penumpang.

"Kau sudah memegang perutku tadi," Jimin menyeringai pada Yoongi yang tengah berdiri di sisi ranjang, terlihat tanpa beban menata bajunya yang sempat dibuat berantakan sebelum datang ke sini, di dalam lift. "Menikmati bagaimana bentuknya yang indah?"

Yoongi membalikkan tubuh menghadap Jimin sambil melipat tangannya, matanya menatap malas penuh penilaian pada seringaian Jimin. Meski tatapan Jimin kali ini terlihat seksi dan menantang bahkan mampu menarik diri Yoongi untuk bertekuk lutut, Yoongi tetap memberi ekspresi jual mahal untuk sekedar menjunjung tinggi harga dirinya. "Aku sudah sering melihat enam kotak seperti itu, kupikir biasa saja."

"Aku tidak tahu kenapa kau begitu senang menantangku padahal kau akan selalu kalah," seringaian Jimin makin lebar.

Yoongi memutar bola matanya menyadari baru saja diejek bocah di hadapannya. "Kau pikir kau menang huh?"

Jimin menggeleng, "belum," ia menyeringai lebar dan mendorong kuat tubuh Yoongi hingga terbanting ke arah kasur. Ia bisa mendengar suara erangan dari yang lebih tua karena terkejut dan mungkin sakit, "kalau gitu tunggu apa lagi? Kita lihat bagaimana caraku menang."

Dengan cekatan ia membuka baju Yoongi, karena terlalu tergesa membuat beberapa kancing terlepas dan pekikan jengkel dari yang ada di bawah. Jimin tidak peduli, ia dengan segera membuka bajunya sendiri dan melemparnya asal seperti baju Yoongi. Dirinya topless begitupun dengan Yoongi. Matanya menatap tajam pada tubuh putih Yoongi dengan abs yang harus diakui, bentuknya indah, Yoongi sangat kurus dan bentuk six pack-nya justru jadi seperti eleven abs meski tetap ada beberapa garis membentuk kotak pada perut rata itu.

Yoongi yang ada di bawah tiba-tiba saja menggerakkan tangannya, meraih perut Jimin yang berbentuk dan mencubit pelan salah satu dari enam kotak di sana. Ia tersenyum senang saat mendengar suara desisan Jimin karena jarinya yang bermain di tiap sela-sela six pack-nya. "Badanmu oke juga," komentar Yoongi saat tangannya sampai di dada Jimin untuk mengelus dada bidang itu.

Jimin tersenyum bangga, ia yang awalnya diam mengagumi Yoongi pun mulai bergerak untuk menyentuh perut Yoongi dengan abs yang sejak awal menarik hatinya. Tiap Yoongi menarik napas bentuknya akan terlihat lebih jelas, jemarinya menelusuri bagaimana perut laki-laki di bawahnya bisa begitu putih, rata, dan berbentuk indah. Sesekali mencubit bagian paling bawah hingga suara erangan terdengar. Tidak mau membiarkan suara erangan itu hanya beberapa kali, Jimin mendekatkan wajahnya pada leher putih Yoongi, menjilati permukaannya hingga erangan berubah menjadi desahan. Tangannya berpindah pada tonjolan milik Yoongi, memelintirnya hingga lengannya di remas kemudian mengigit keras kulit leher di depan bibirnya hingga remasan pada tangan berubah cakaran. Jimin tersenyum menyadari tubuh Yoongi menegang karena bibirnya yang bergerak aktif pada leher putih dan siap berubah menjadi leher putih penuh memar. Beberapa kali Yoongi berteriak keras saat Jimin menghisap kuat lehernya atau mengigit kulitnya hingga menggesekkan gigi pada kulit itu.

"Saekki-ya," suara berat Yoongi dengan napas tersenggal terdengar begitu seksi. "Kau akan membuat leherku penuh bercak besok pagi," keluhnya jengkel sambil berusaha mendorong tubuh Jimin yang penuh dengan otot.

Jimin mendongak untuk menatap Yoongi, memberi senyuman menawan pada laki-laki di bawahnya. "Begitu?" Ia bertanya dengan nada mengjek. "Baiklah, biar aku buat bercak di tempat lain saja."

Belum sempat mengeluarkan suara, Jimin dengan jemari lihainya membuka bawahan Yoongi, menelanjangi tubuh itu hingga tidak ada satu benang pun tersisa. Ia bersiul kurang ajar saat tangannya dengan sengaja membuka lebar kaki kurus Yoongi, membuat paha dalamnya yang putih kini terlihat begitu menarik untuk dibuat banyak memar. Tanpa membuang mikrosekon pun, ia langsung menunduk dan menciumi paha putih itu. Yoongi mendesah keras merasakan kakinya sudah berada dalam kendali Jimin, tangannya meremas sprei karena terlalu jauh untuk meraih bahu Jimin.

Selesai dengan paha kanan, Jimin beralih pada paha kiri Yoongi. Jimin membuat banyak jejak saliva dengan lidahnya dan meninggalkan bekas gigitan dan hisapan kuat untuk membuat noda memar beberapa waktu ke depan. Ia menyeringai bangga melihat dari bawah saat Yoongi bergerak terlalu gelisah dan tangan meremas apa saya yang bisa ia raih, bibirnya pun sibuk menggumam dan meloloskan suara merdu lewat erangan dan desahan.

"Kau membuatku panas," Jimin bersuara setelah selesai menghabiskan paha Yoongi, ia menatap lapar sosok di bawahnya.

Ia berpikir perlu membuat Yoongi menungging tapi kemudian takut menyesal karena tidak bisa melihat wajah seksi yang akan ia masuki, jadi ia menaikkan satu kaki Yoongi ke bahunya setelah melepas celananya. Ia memposisikan dirinya di depan Yoongi hingga sosok itu mendesis bersamanya karena merasakan ujung miliknya menggesek bibir lubang Yoongi.

"Masuk—akh kan," Yoongi menjerit jengkel dengan mata menatap nyalang, tangannya meremas sprei hingga kusut dan ujung sprei terlepas dari kasur. Mendesah keras karena sebelum instruksinya selesai ujung milik Jimin yang bergesekan dengannya sudah masuk. Rasanya besar meski baru ujungnya, ia memejamkan mata tiap merasakan milik Jimin yang tumpul makin melesak masuk ke dalam dirinya. "Jimin–ashh."

Jimin menyeringai senang mendengar suara bergetar Yoongi, memberi tatapan lapar yang makin besar pada sosok di bawahnya. Tidak tahan terlalu pelan, ia pun mendorong cepat hingga seluruh miliknya masuk ke dalam Yoongi. Suara teriakan Yoongi terdengar seperti alunan merdu, ia tersenyum senang mendengar suara tersiksa Yoongi saat miliknya melesak masuk begitu tiba-tiba hingga memenuhi lubang sempit itu.

"Ugh– sialan," Yoongi memaki keras. Tubuhnya bergerak seperti merasa tidak nyaman dengan gigi mengigit bibir bawahnya, mungkin menahan sakit karena milik Jimin memenuhi lubangnya hingga pangkal.

"Aku bergerak," Jimin berbisik yang dijawab dengan anggukan lemah dari yang di bawah. Ia mulai menarik perlahan dirinya dan kembali menakan masuk miliknya hingga suara erangan keras terdengar. Melakukannya banyak kali sampai yang di bawah mulai mendesah menikmati tanpa teriakan kesakitan.

Hingga saat ia menekan sebuah titik dan mendengar suara nikmat Yoongi dengan wajah menyukainya, menyadari bahwa ia menemukan titik manis. Jadi ia menekan titik itu banyak kali hingga sosok di bawahnya mendesah keras dengan mata menatap sayu dan fokus yang berantakan. Terlihat sangat menyukai apa yang ia lakukan.

"Se–hhh sebentar lagi," Yoongi meremas lengan Jimin, mengetatkan dan membuat milik Jimin terpijat di dalamnya.

Jimin mengangguk sambil terus menekan Yoongi dalam, menggumam aku juga dengan kecepatan tak beraturan. Napasnya tersenggal karena mulai merasa lelah. Dan saat tubuhnya menekan keras titik manis Yoongi, ia merasakan perutnya basah juga terakan nikmat serak yang bergetar, Yoongi sampai lebih dulu.

Merasakan miliknya pun sudah mulai basah karena beberapa cairannya yang ke luar, ia mulai bergerak cepat untuk menyusul Yoongi. Ia sampai tepat saat miliknya berada di dalam Yoongi dan menekan lebih masuk agar seluruh cairannya memenuhi lubang Yoongi hingga menetes ke luar karena terlalu penuh. Ia terjatuh di sebelah Yoongi setelah itu.

"Sialan," Yoongi mendesis masih dengan napas tak teratur, matanya terpejam sambil lengan bawah menutup matanya.

Jimin terkekeh melihat orang di sebelahnya kemudian memeluk tubuh kurus itu, "aku menang 'kan?"

Mendengar pernyataan Jimin, Yoongi mengangkat lengannya dan melirik sosok yang berbaring di sebelahnya. Matanya terlihat tajam tapi kemudian ia mendengus kecil. "Terserah apa katamu."

Jimin mendaratkan kecupan pada kening sempit Yoongi kemudian terkekeh kecil melihat reaksi delikan dari yang ia kecup. "Sleep well, Min Yoongi."

.

Yoongi terbangun di pagi hari dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, matanya mengedar dan tidak menemukan apapun selain pemandangan bagaimana hotel seharusnya. Ia mendengus, merasa setengah jengkel pada sosok yang semalam membawanya ke sini dan sudah tidak tertemukan di manapun. Bibirnya tersenyum penuh cela entah untuk dirinya atau seorang Park Jimin yang menjengkelkan.

Ia duduk dari baringannya, menyadari pakaiannya semalam masih berceceran di lantai dan kini ada di ujung kakinya membuat ia merasa sedikit lega laki-laki semalam tidak meninggalkannya begitu saja tanpa mengurusnya. Ia menemukan ponselnya ada di atas baju juga selembar kertas, bertanya-tanya untuk apa kertas yang ada di sana.

Mengabaikan ponsel dan kertas, ia menarik bajunya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri yang terasa lengket dan tercium bau tidak menyenangkan dari tubuhnya.

Tubuhnya terasa lebih segar setelah dibersihkan, ia mengenakan pakaian semalam mengingat ia memang tidak membawa pakaian lain. Setelah itu ia meraih ponsel serta selembar kertas yang ditinggalkan Jimin tanpa membacanya, memasukkan dua benda itu ke dalam kantongnya lalu melangkah ke luar meninggalkan kamar hotel.

Ia sudah menelepon sahabatnya, Seokjin, untuk menjemputnya di hotel yang beruntung diiyakan oleh orang itu. Saat ke luar, mobil merah kebanggaan sahabatnya sudah ada di depan dengan senyuman khas sosok itu menyapanya. Ia mengerakkan kepalanya untuk sekedar menyapa Seokjin lalu masuk dengan elegan ke dalam mobil yang membuat sosok di balik kemudi mencibir sedikit.

"Mau ke kedai kopi bersamaku?" Seokjin bertanya sambil menjalankan mobilnya pelan.

Yoongi mengangguk kecil, "bukan masalah selama kau membuatku makan gratis."

"Menggelikan," yang menyetir memajukan bibirnya untuk mencibir sahabatnya. "Kita brunch di sana sekalian, oke?"

"Oke."

Seokjin mengemudi dengan tenang sementara Yoongi memejamkan matanya menikmati semilir angin di awal musim semi. Ketika akhir musim gugut dan memasuki musim dingin Seokjin akan ribut tentang cap mobil yang harus ditutup karena dingin dan saat musim itu terlewati Seokjin akan sangat senang membuka cap yang katanya untuk menunjukkan pada dunia wajah tampannya. Yoongi awalnya akan sibuk mencela sosok penuh percaya diri di sebelahnya, tapi akhirnya malas juga karena Kim Seokjin jelas tidak memiliki malu dengan sifat percaya diri lebih dari siapapun.

Yoongi senang saat cahaya matahari menimpa wajahnya dan membuat rasa hangat mengelus pipinya, mood-nya sedikit membaik karena hanya sinar kekuningan dari benda bulat ribuan kilometer di sana selalu jadi satu-satunya hal baik hati untuk dirinya.

"Kita sampai," Seokjin menepuk bahu Yoongi setelah mesin mobilnya dimatikan dan menutup cap mobilnya; kata Seokjin tiap parkir ia harus menjaga baik-baik benda kesayangannya agar tidak ada orang melompat masuk atau apapun jadi itu sebabnya cap harus tertutup ketika tidak ada orang di dalam.

Yoongi mengangguk dan membuka matanya. Tidak ada alasan merengek sebentar lagi karena cahaya matahari yang menghiburnya pun sudah terhalangi benda yang selalu diributkan Kim Seokjin. Ia ke luar sambil merapikan pakaiannya, kemudian mengikuti langkah Seokjin masuk ke dalam kedai kopi yang menjadi langganannya.

"Beri aku coklat panas dengan marshmallow, juga chocolate cake dengan oreo. Aku mau itu cepat," Yoongi memesan dengan cepat setelah duduk dan dihampiri pencatat pesanan. Ia melipat tangannya di dada sambil bersandar pada bangku setelah sang pencatat menatap Seokjin.

Seokjin terkesiap dari terkesimanya melihat Yoongi yang terlihat begitu serius kali ini, ia mengerjap. "Aku juga mau coklat panas, tapi untukku dengan whipped cream. Dan aku minta strawberry cheese cake."

Pelayan itu mengangguk, kemudian melangkah mundur beberapa langkah dan berlalu menuju tempat pesanan mereka akan di buat.

Seokjin menatap penasaran Yoongi yang terlihat sudah memejamkan mata, memberi ekspresi penasaran penuh pada sosok itu. "Ceritakan padaku," ia bersuara sambil menekan pelan bahu Yoongi setelah harus sedikit berdiri.

Yoongi membuka matanya dan mendengus jengkel setelah itu, "cerita apanya?"

"Kenapa kau bisa berakhir di hotel? Aku pikir kau sudah tidak tertarik bersenang-senang."

"Dia seksi," Yoongi kembali memejamkan mata, mengingat-ingat bagaimana sosok Jimin di matanya semalam. Ia tertawa kecil kemudian. "Dan terlihat begitu naif, aku tertarik."

Seokjin memutar bola matanya malas. "Siapa namanya?"

"Dia fotografer terkenal," bibir Yoongi menyeringai. "Park Jimin."

"Gila!" Sosok di hadapan Yoongi memekik tidak percaya, menatap penuh apresiasi pada sosok di hadapannya. Ia meringis sebelum bersuara, "aku dengar dia oke, apa memang seperti itu?"

Yoongi menggeleng dan mempertahankan seringaiannya. "Kau tahu, lebih dari oke."

"Min Yoongi!" Seokjin menendang kaki sahabatnya gemas. Hampir berteriak keras jika saja tidak ingat mereka sekarang ada di tempat umum. "Astaga—aku jadi penasaran."

"Apa? Kau membuatku terlihat murah," sosok yang mendapat tendangan itu memutar bola matanya. "Lagi pula aku pikir kau sudah punya pasangan tetap, si Namjoon itu."

"Kau memang murah," Seokjin menekan pelan kening Yoongi sambil terkekeh kecil. "Aku baru menyadarinya sekarang. Yoongi, sebaiknya kau jangan terlalu banyak bergaul denganku, aku jadi merasa merusakmu sejak pertama membantumu."

Seokjin kembali teringat pada masa di mana mereka masih kuliah, saat dirinya menawarkan apartemen untuk Yoongi tinggal dan disetujui oleh sosok itu. Setelah itu mereka menjadi sahabat dekat dan mulai terlibat pada hal-hal yang sama. Seokjin seorang gila senang-senang, Yoongi sendiri bukan sepenuhnya bocah lugu yang akan mengingatkan Seokjin bahwa itu tidak baik. Ia mengikuti permainan yang diajarkan Seokjin. Mereka berdua sama-sama menjadi sukses setelah lulus kuliah, tapi memiliki sedikit masa muda penuh senang-senang yang salah dan sedikit merusak mereka saat kesuksesan mengiringi. Meski hanya rumor yang beredar tentang Min Yoongi dan Kim Seokjin, terkadang mereka berdua memang ingin mengiyakan. Tapi mengingat pamor sebagai orang penting tentu saja rumor harus tetap menjadi rumor, lagipula publik tidak benar-benar peduli pada apa yang terjadi diantara orang penting macam mereka soal hubungan khusus. Jadi rumor akan terus menjadi rumor.

"Aku senang berteman denganmu," Yoongi ikut terkekeh. "Yeah, terlepas dari merusak itu."

Pesanan mereka datang dan cukup untuk membuat obrolan berubah arah. Seokjin menceritakan apa yang ia kerjakan di China beberapa hari lalu bersama ayahnya, mendapatkan beberapa kenalan dan mempercayakan sebagian sahamnya untuk ditanam pada kantornya juga teman kerja sama bisnis. Yoongi mengangguk kagum sambil sesekali menggumam pada apa yang dihasilkan sahabatnya dalam kunyahannya, atau beberapa kali mencela tiap Seokjin dengan kepercayaan dirinya memberi tahu berapa banyak orang yang memujinya tampan dan sebaiknya menjadi model.

Yoongi sendiri tidak benar-benar memiliki cerita saat Seokjin menyuruhnya bicara, ia hanya memberi tahu rencananya membuat sebuah paket liburan musim panas untuk anak sekolah bersama seorang artis yang tengah naik daun dan meminta saran siapa artis itu. Yoongi memikirkan tentang Kim Jongin, salah satu aktor muda yang juga saudara Seokjin, atau mungkin Kim Seolhyun, salah satu anggota girl band yang kebetulan saudara dari kekasih Seokjin. Yoongi memang sedikit berani tentang acara musim panas mengingat tahun lalu mall-nya membuat tiket liburan ke Jepang untuk sekeluarga yang beruntung.

Saat Yoongi menarik keluar ponselnya yang bergetar, selembar kertas meluncur jatuh dan menarik hati Seokjin untuk memungutnya. Yoongi terlihat tidak peduli saat sahabatnya itu mengambil kertas dari Jimin saat di hotel tadi dan memilih mengangkat telepon dari salah satu relasinya.

"Lihat ini," Seokjin menunjukkan kertas yang tadi ia pungut setelah Yoongi menutup telepon dengan seseorang, membuat tulisan tangan yang ada pada kertas itu terpampang di hadapan Yoongi.

Kita akan bertemu lagi

"Itu pesannya?" Seokjin bertanya sambil menatap bingung orang di hadapannya.

Yoongi mengangkat bahunya acuh setelah membaca isi pesan itu, "aku juga baru membacanya. Tapi bertemu lagi atau tidak aku tidak peduli, itu tidak akan menghasilkan apa-apa."

Seokjin mendengus, "kau mau terus sendiri ya?"

Mata sipit itu menajam, keningnya mengerut. "Maksudmu?"

"Ya—terus sendiri, jomblo. Single. Tidak punya kekasih kalau kau mau yang lebih jelas."

Yoongi tertawa keras mendengar pernyataan Seokjin, "tunggu dulu. Menurutmu makna dari kertas itu berarti dia menyukaiku, begitu?"

"Tentu saja," Seokjin mendengus dan mengangguk tanpa beban. "Dia berharap untuk bisa bertemu denganmu lagi dan seharusnya kau peduli, bodoh!"

"Yak!" Kaki Yoongi menendang betis Seokjin dan memasang ekspresi jengkelnya. "Berhenti mengataiku bodoh!"

Tiba-tiba saja ponsel Yoongi berbunyi, membuat Yoongi sedikit terkejut dan langsung melihat siapa peneleponnya.

"Eh—Park Jimin?"

Ia mengerutkan kening bingung, tapi kemudian menggeser warna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo?"

Seokjin di hadapannya memasang ekspresi penasaran yang menjengkelkan sambil mencondongkan tubuh lebih dekat padanya untuk sekedar menguping pembicaraan mereka berdua—yang sialnya hanya suara Yoongi yang sampai ke telinganya.

Yoongi menjauhkan ponsel dari Seokjin—meski sebenarnya tanpa begitu pun suaranya tidak akan sampai pada sosok di hadapannya.

"Min Yoongi!"

Yoongi memutar bola matanya mendengar suara riang sosok di seberang. "Apa, Park Jimin?"

"Aniya!" Orang di seberang sana membuat suaranya seperti ditarik. "Aku tiba-tiba saja merindukanmu, bagaimana ini?"

Yoongi berdecak, memutar bola matanya. "merindukan apanya? Kita bertemu tanpa sesuatu berarti."

"Yang semalam sangat berarti bagiku."

"Berisik. Sudahlah, aku matikan telepon. Dah."

Seokjin tertawa kecil melihat Yoongi meletakkan ponselnya dengan jengkel. "Nomormu dicuri Park Jimin, ya?"

Yoongi mendengus, mengangguk malas. "Sepertinya aku harus mulai mengunci ponselku."

Seokjin tertawa lagi, "sia-sia. Dia sudah tahu nomormu, bodoh."

"Setidaknya meghindarikan hal seperti ini akan terulang lagi. Oh, atau mungkin aku bisa mengganti nomorku nanti."

To Be Cont.


waktu aku minta pendapat teman aku tentang ini, dia bilang dia semacam pernah baca sesuatu semacam diawali dengan one night stand seperti ini. tapi aku harap berikut-berikutnya enggak semacam yang pernah temanku baca, karena, yeah, ini sungguhan murni dari pemikiran aku :')

tapi, kalau memang banyak yang berpikir ini mirip di kemudian kemudiannya, mungkin aku bakal hapus ini atau rombak habis ceritanya. entahlah. kita lihat aja nanti, biar aku lihat fiksi mana yang sama dan kalau emang alur yang aku buat sedikit menyerupai, biar aku yang rombak. karena aku yang kedua muncul dengan ide ini, jadi ada baiknya aku cari jalan aman daripada dapet celaan haha


ya ya, aku nggak tau kenapa aku buat ff dengan opening one night stand dan berakhir malah jadiin ini fanfic panjang hahaha

aku punya satu lagi project ff dan berharap ff ini bisa selesai cepat (ff ini udah dapte 4 chapter dan aku berharap di chapter sebelum 10 udah selesai) jadi aku bisa post ff yang aku niatkan buat hahaha

hm- aku nggak tau apa berikutnya konflik yang aku buat sesuai sama ekspetasi yang kalian bayangkan di teaser kemarin, aku lihat ada yang begituuu semangat sama gimana ceritanya dan mulai bayangin kelanjutannya. jujur itu sedikit bikin aku takut enggak bisa bikin konflik seoke yang kalian bayangkan, jadi aku harap kalian mau terus kasih komentar semacam gimana imajinasi kalian yang bisa aja jadi bantuanku buat gambarin kelanjutan yang lebih sesuai sama ekspetasi kalian hahaha

yaaa mungkin segini aja, terima kasih sudah berminat membaca sampai akhir!