Pagi ini langit cerah.

Matahari mengintip dari awan-awan putih yang lembut bak permen gulali yang hanya dijual waktu festival musim panas. Burung-burung mengarungi lazuardi yang tanpa batas, sayapnya melebar menantang angin lembut yang berhembus. Rumput-rumput yang tertata rapi di pinggiran tidak kuasa untuk menolak ajakan dansa sang bayu, mengalun lembut seolah mengikuti irama lagu mellow yang dimainkan oleh orkestra alam.

Pagi itu semarak. Langitnya indah.

Saat yang cocok untuk terbang.

Hiruk-pikuk manusia sudah terlihat biarpun beberapa elemen alam bahkan masih tertidur dengan tenang. Mungkin karena ini adalah bandara, hal itu menjadi sebuah pemandangan yang wajar. Sebuah tempat—selain rumah sakit—yang tidak pernah sepi dengan pendatang, baik mereka yang pergi maupun yang pulang. Pelukan dan tawa, obrolan dan tangisan, bisa kau saksikan di tempat ini. Perpisahan yang menyayat jiwa, pertemuan yang mengharukan, yang lebih nyata dibandingkan dengan drama di layar kaca.

Meja resepsionis yang tidak pernah kosong. Loket yang selalu berisi antrian. Layar monitor besar yang selalu memberikan kabar, seolah tidak pernah sepi dan tidak pernah mati. Membuat bandara selalu tampak hidup dan semarak. Ramai oleh tawa, oleh obrolan, oleh tangis membuat bandara selalu nyata dengan emosi jiwa.

Suara bel berdenting dari pengeras suara, suara datar seorang pemuda berkata kemudian.

"Penumpang pesawat Kiseki Airbus A-8006 harap segera memasuki ruang boarding. Sekali lagi, penumpang pesawat Kisei Airbus A-8006 harap segera memasuki ruang boarding karena pesawat akan segera berangkat."

.

.

Kiseki Airlines is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Arleinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

1 of 3 Airlines Mini-series

An alternate universe, TYL!Generation of Miracles, lot of typos, possibly out of character with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

1 hour before Flight

Aomine Daiki menahan kuap, tapi sayangnya ia tidak kuasa melawan kehendak tubuhnya sendiri. Kedua tangannya sibuk memegangi tas berisi peralatan sehingga seluruh dunia kini bisa melihat deretan giginya yang tidak rata dan lidahnya yang nyaris menjulur karena kuapannya yang terlalu lebar, "Hah merepotkan sekali shift pagi. Tidak tahu apa aku semalam sibuk membaca majalah Mai."

Pemuda berkulit karamel itu berdiri di dekat ekor sebuah pesawat besar. A-8006 nomor penerbangan pesawat itu tertera di kertasnya. Sebuah kertas yang berisi rincian dan detail pengecekan mesin sebelum keberangkatan.

Aomine Daiki—dengan luar biasa mengejutkannya—merupakan lulusan dari Universitas ternama di Amerika Serikat, jurusan Teknik Mesin. Akashi Seijuuro, rekannya yang tahu akan hal itu tidak butuh waktu lama untuk menemukan Aomine, menawarinya kontrak dan membuat Aomine menjadi babu. EH! Maksudnya membantunya membangun Kiseki Airlines. Ia yang memeriksa semua spek mesin untuk pesawat Kiseki Airlines. Biarpun sekarang Aomine punya tim yang terdiri dari junior-junior manja yang bisa ia suruh seenaknya, tapi Akashi dengan tegas membuat peraturan bahwa hanya dan hanya Aomine seorang yang bisa mengecek spek mesin pesawat mereka dan melakukan pemeriksaan sebelum terbang.

Lalu apa tugas anak buah Aomine? Nah pertanyaan yang bagus. Karena sejauh ini Aomine hanya mengerahkan minionnya untuk membeli oli atau avtur atau cat atau apapun yang sama sekali tidak berhubungan dengan mesin pesawat.

"Ah, melelahkan sekali sih," Aomine mengangkat dirinya ke bagian ekor pesawat, membuka pintu kecil di sana dan masuk ke dalam untuk mengecek mesin bagian dalam. Ia menyalakan senter dan menerangi kertasnya. Ada beberapa hal yang harus ia cek di dalam sini.

Aomine sudah terbiasa dengan mesin-mesin seksi itu. Ia tahu bagaimana memuaskan mereka kalau-kalau ada yang macet dan rusak. Dulu, ia selalu di puji oleh Dosen Aero-nya, karena katanya sentuhannya mampu memuaskan mesin-mesin pesawat yang haus akan belaian. Well, sepertinya pujian dosen itu tidak sia-sia. Karena disinilah ia, Aomine Daiki, sang pemuas birahi mesin pesawat.


15 minutes before Flight

Ia sudah selesai mengecek bagian dalam pesawat. Sepertinya tidak ada masalah… tapi entah mengapa ia merasa ada yang tertinggal, "Ah sudahlah," dengan entengnya Aomine berjalan di atas peawat dan meluncur, ia kini berdiri di sayap pesawat. Matanya yang jeli memperhatikan baling-baling yang berputar perlahan. Derunya membisingkan.

Tiba-tiba ia mendengar bunyi kemeresek dari alat komunikasi yang ia kenakan. Sebuah tanda bahwa ada rekannya yang akan segera menghubunginya, "Aominecchi!" suara itu hanya samar-samar ia dengar akibat deru baling-baling. Plus Aomine sedang fokus memperhatikan putara baling-balingnya dan mesinnya untuk mengetahui apakah ada masalah atau tidak.

"Aominecchi!" suara itu dengan persistennya mengganggu Aomine biarpun di telinga pemuda berkulit eksotis itu, suaranya terdengar putus-putus.

"HAH? APA AKASHI?!" Aomine berteriak, berusaha mengalahkan deru baling-baling pesawat.

"Aominecchi kenapa berteriak? Telingaku sakit tahu!" Aomine mengambil senter dari sakunya dan menerangi bonggol dari baling-baling pesawat.

"AKU SEDANG MENGECEK BALING-BALING. SUARAMU TIDAK TERDENGAR!" Aomine membalas.

"Aominecchi, mesinnya tidak mau menyala. Di layar ada peringatan satu," rupanya Kise Ryouta sang pilot sedang berusaha mengabari teknisi mereka kalau ada yang tidak beres dengan mesinnya. Sayangnya, yang bersangkutan sedang menderita ketulian sementara jadi entah apa yang ia dengar versus apa yang Kise katakan.

"APA? KAU KEHILANGAN SEPATUMU, AKASHI?" Aomine berdecak sebal. Ya terus kenapa kalau Akashi kehilangan sepatunya? Itu kan tugas sahabat masa kecilnya untuk menyediakan segalanya yang Akashi butuhkan.

"Bukan sepatu, Aominecchi! Dan aku bukan Akashi!" Kise masih terus brusaha berkomunikasi dengan rekannya itu. Sebentar lagi pesawat akan terbang, kalau mesinnya tidak diperiksa lagi, tanda peringatan bahaya akan terus menyala dan mereka tidak bisa terbang.

"APA? KAU KEHILANGAN SEPATUMU DI BAGASI?" Aomine geleng-geleng kepala, sejenak mengalihkan perhatiannya dari bonggol baling-baling yang sedang ia periksa.

"BUKAN BUKAN SEPATU TAPI MESINNYA, AOMINECCHI!" kali ini Kise berteriak.

"KAU KEHILANGAN MESIN DI BAGASI?" untuk apa Akashi membawa-bawa mesin ke bagasi? Memangnya dia mau terbang dengan pesawat ini? Dan pertanyaan utamanya adalah, untuk apa Akashi bawa-bawa mesin? Itu kan bukan urusannya. Seolah Akashi sedang kurang kerjaan sebagai CEO saja sehingga sempat mengurusi mesin, "UNTUK APA KAU MEMBAWA MESIN KE BAGASI, HAH?"

"AKU TIDAK MEMBAWA MESIN KE BAGASI. ADA YANG ANEH DENGAN MESINNYA, AOMINECCHI!" Kise berteriak sekuat tenaga, agar pesannya kali itu sungguh-sungguh tersampaikan.

"HAH? KAU MAU BICARA DENGAN MURASAKIBARA ATSUSHI?" Aomine mengangguk puas setelah selesai memastikan baling-baling di sayap kiri tidak ada masalah. Dengan gesitnya ia naik ke bagian atas pesawat dan mendarat di sayap kanan.

"INI KISE, AOMINECCHI! MESINNYA RUSAK!" Kise berteriak tempat ketika jarak Aomine dan baling-baling sayap kiri cukup jauh dan baling-baling sayap kanan tidak terlalu dekat sehingga pendengarannya kembali normal.

"Kenapa kau berteriak sih, Kise? Kampungan deh, ck," Aomine melangkah mendekati baling-baling, "Mesinnya kenapa?"

"APA, AOMINECCHI? AKU TIDAK BISA MENDENGAR SUARAMU!" Kali ini Kise yang berteriak.

"KISE? MESINNYA KENAPA, HAH?" Aomine berteriak. Ia kembali mengambil senter dari sakunya. Tapi hanya memegangnya karena Aomine perlu melihat kinerja baling-balingnya dulu sebelum mengecek ke dalam.

"APA? KUROKOCCHI TIDAK APA-APA KOK. KENAPA KAU BERTANYA?" sang pilot semakin putus asa dibuatnya. Kenapa Teknisi yang satu itu malah bertanya tentang co-pilotnya? Padahal lebih membantu kalau Aomine mengurusi mesin dan mematikan tanda peringatan yang masih terus menyala.

"HAH? MESINNYA HILANG LIMA? KAU ITU BODOH APA, MESIN PESAWAT TIDAK SAMPAI LIMA TAHU!" Aomine menahan diri untuk tidak langsung berlari ke kokpit dan melempar pemuda pirang itu dari kokpit. Aomine tahu biasanya seorang pilot tidak memiliki pengetahuan yang banyak soal mesin pesawat. Tapi sepertinya kebodohan Kise sudah keterlaluan.

"BUKAN, AOMINECCHI! MESINNYA TIDAK HILANG SATU. MESINNYA MASIH LENGKAP TAPI ADA TANDA PERINGATAN!" Kise tidak tahu kenapa Aomine menyimpulkan kalau mesinnya hilang satu. Pencurian perhiasan memang sekarang sedang marak di kota-kota besar. Tapi sepertinya pencurian mesin pesawat belum menjadi tren belakangan ini.

"HAH? KAU ADA PEMOTRETAN?" Si Bodoh itu ngapain mau terbang kalau ada jadwal pemotretan? "APA HUBUNGANNYA MESIN SAMA PEMOTRETAN SIH?"

"MESINNYA HARUS IKUT PEMOTRETAN? PEMOTRETAN APA?" Kise menggaruk rambut pirangnya yang sudah tersisir rapi. Sejak kapan ada pemotretan khusus untuk mesin?

Sang co-pilot yang duduk diam di kursinya menekan sesuatu di dekat telinganya, tempat alat komunikasinya terpasang. Ia langsung menyambungkannya dengan operator mereka yang ada di ruang kendali, "Midorima-kun tolong hubungi Aomine-kun aku lelah mendengar Kise-kun teriak-teriak di kokpit."


5 minutes before Flight

Aomine dengan puas memandangi pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas itu. Ia mengangguk ketika memandangi daftar detail apa saja yang harus ia cek. Semuanya sudah diberikan tanda ceklis disana. Ia hanya tinggal tanda tangan dan menyerahkan itu ke Midorima Shintarou. Aomine Daiki merogoh sakunya, dengan panik menatap kosong ke angkasa yang luas, pulpennya hilang.

Sebagai seorang mantan mahasiswa teknik, Aomine tahu kalau kehilangan pulpen bisa berakibat fatal. Suara kemeresek itu kembali terdengar di waktu yang tidak pas, "Apa?" Aomine merogoh sakunya yang lain, pasti pulpennya ada di suatu tempat.

"KAU ITU KERJA NGAPAIN AJA, NANODAYO?" suara keras pemuda berambut hijau itu membuat Aomine terlompat. Sayang sekali ia tidak bisa main lepas alat komunikasinya. Kalau bisa, ia pasti sudah melempat headset kecil itu jauh-jauh.

"APA MAKSUDMU, HAH? PULPENKU HILANG TAHU!" Aomine balas berteriak.

"Panel mesin di kokpit merah. Ada peringatan satu, nanodayo," wajah eksotis itu berubah panik.

"Aku menjatuhkan sesuatu di ruang mesin," Aomine berlari ke bagian belakang pesawat dan dengat gesit memanjat ke dalam.

"Mungkin itu pulpenmu, nanodayo," rekannya yang berkacamata itu kembali tenang, "Pesawat sebentar lagi berangkat, nanodayo. Kuharap kau bisa menemukan pulpenmu dengan cepat."

Manik biru gelapnya dengan gesit menyisir lokasi-lokasi yang mungkin bisa menjadi tempat jatuhnya pulpennya yang berharga, "Nah, bisa kau beritahu aku dimana aku menjatuhkan pulpenku hm, Manis?"

"Kau bicara dengan siapa, nanodayo?" Midorima bertanya.

"Lebih baik kau tutup mulut, Kacamata. Aku sedang mencari pulpenku," Aomine berujar dengan dinginnya. Keringat dingin mulai membahasi dahinya. Kalau ia tidak segera menemukan pulpennya, pesawat bisa di delay. Dan kalau pesawat di delay, ia bisa jadi target amukan Akashi.

"Ayolah, Seksi, beritahu aku dimana pulpenku, hm? Apa kau menyembunyikannya di balik tubuhmu yang licin dan basah itu? Kau mau aku belai dulu baru jawab pertanyaanku?" Aomine menyentuh mesinnya satu per satu dengan kelembutan yang luar biasa. Bagaikan seorang kekasih membelai pujaan hatinya.

"Kau menjijikkan, nanodayo," dan bunyi 'klik' pelan menandankan kalau Sang Operator sudah tidak tersambung dengannya lagi. Aomine menyeringai. Bukan karena ia tidak lagi bisa diganggu oleh Midorima Shintarou, tapi karena ia menemukan pulpennya dan selamat dari amukan Akashi Seijuuro yang terkenal menakutkan.

"Kau mesin paling indah yang pernah aku temui. Aku akan menyikatmu dengan penuh kasih sayang setelah kau kembali," Aomine bergegas keluar dan berlari ke depan kokpit. Ia mengacungkan jempolnya kepada pilot dan co-pilot yang tampak tidak nyaman duduk di kursinya. Beberapa saat kemudian pesawat mundur ke jalur. Siap mengudara.

Aomine menatap pesawat yang semakin mengecil itu dengan bangga. Aomine Daiki, Sang Pemuas Birahi Mesin Pesawat, menyelamatkan hari—dan menyelamatkan diri sendiri dari amukan Akashi.

.

.

To be Continued

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Aru: "…no comment."

Azu: "Harusnya ini masuk rated-M ya karena banyak mesum-related. Tapi Aomine emang mesum dan saking mesumnya jadi all age tahu kalau dia mesum."

Aru: "Yha… masalah mesin pesawat dan letaknya plus hal-hal yang berbau mesin pesawat banget Aru mengarang semuanya. Kurang lebih begitu lah ya yang terlihat dari luar karena Aru bukan anak teknik mesin. Jadi… kalau ada yang kurang tepat maafkan Aru." *sembah sujud*

Azu: "Maafkan Aru juga karena udah nulis hal yang mesum-related begini." *sembah sujud sambil nahan kepalanya Aru*

Aru: "Woey!"

Azu: "Terima kasih banyak untuk reader yang menyempatkan mampir membaca, mampir mereview, menjadikan fict ini sebagai fav, mem-follow fict ini. Semoga kalian puas dengan update-an kami kali ini."

Aru: "Kami tunggu kalian di kotak review dan sampai jumpa di chapter berikutnya!"