Don't Go

Fiction by Syokola x newmansae

Review:

Mark uke Jackson, MMahlynda maaf sebelumnya kalo jacksonnya dijadiin uke. Soalnya menurut author si Jackson muka uke walaupun mark juga. Tapi si Jackson lebih dominan gitu.. jadi author minta maaf kalo misalnya gak sama pendapat.

Lovewang makasih banyak ya saran sama kritiknya. Author bakal coba lambatin sama memperpanjang chap nya deh. :)

Hanbinunna oke..

Okta kadang kadang author bingung mau pake yang mana. Tapi, makasih saranya bakalan author usahain :)

Vchim makasih ya..

.

.

.

Aku membaringkannya di ranjangnya. Sebelum itu, aku merasa bahwa suhu badan Mark tinggi. Akupun menempelkan punggung tanganku ke dahinya.

Omo, panas sekali. Jadi aku memutuskan untuk mengambil kompres untuknya.

Grepp

Ia menarik tanganku dan membuatku duduk dipangkuannya. Aku pun mencoba untuk menarik tanganku.

"Aku mau mengambil kompres, Mark." Pintaku padanya

"Jangan… tetaplah disini, Jack."

"Memangnya ada apa?"

Chuu..

Chapter 2

Mark POV

Hah..hah.. ternyata itu Cuma mimpi

Ting..

Jackson mengirim pesan chat padaku.

"Mark, apakah kau terjaga?" tulisnya padaku.

"Ya. Memangnya kenapa?"

"aku tak bisa tidur."

"Sama denganku."

"apakah kau bisa kesini? Mungkin kita bisa nonton film atau bermain game atau mungkin yang lain?"

"Arraseo.."

Setelah itu, aku pun langsung memakai kaosku karena dari tadi aku memang topless dan langsung menuju apartemen sebelahku. Yaitu, apartemen Jackson.

Ting.. tong..

Aku menekan bel apartemennya. Dengan cepat, Jackson langsung membukakan pintu untukku. Ia hanya memakai celana pendek dan kaos dalam yang menunjukkan kulit putih mulusnya. Oh my god, kurasa aku harus menyelesaikannya nanti.

Akupun masuk ke dalam apartemennya.

"Rapi banget apartemenmu, Jack."

"Memangnya sepertimu yang selalu kotor setiap saat!"

"Tapi kan gitu-gitu yang punya tampan." Ucapku pede

"Bodo ah. Terus, sekarang kita mau ngapain?" Tanya Jackson padaku.

"Kamu punya makanan nggak?"

"Ada sih. Tapi Cuma ramen."

"yaudah sih gapapa. Masak sana."

"Bantuin kali Mark. Dasar ga peka. Pantesan aja sampe sekarang gak punya pacar." Ejeknya

"Punya kaca gak lu?"

"Hehehe.." ucapnya dengan cengiran konyolnya itu.

Akhirnya, akupun mengekor Jackson menuju Dapur. Karena pensaran isi kulkasnya, akupun membukanya. Woah.. ternyata terdapat banyak makanan.

"Loh, Jack. Ini kulkasmu banyak bahan makanan. Kenapa gak masak ini aja?" ucapku padanya.

"emang, tapi sekarang aku pingin makan ramen." Ucapnya santai padaku.

"Loh, Jack.. tapi aku pingin Aku pingin mandu. Boleh ya?"

"Yaudah, tapi besok pagi aja ya buat sarapan." Ucapnya sambil memasukkan ramen ke panci.

"Benarkah?"

"Iya, Dimsum~"

"Dimsum? Siapa yang kau panggil dimsum?"

"Kamu. Karena kamu kamu mirip dimsum."Ucapnya dengan senyum yang super duper imutnya itu.

Karena nggak tahan sama senyumnnya, aku pun langsung mencubit pipi Jackson.

"Aw! Mark~ sakit~." Ucapnya sambil memelas.

"Benarkah? Mianhae.." ucapku sambil mngelus pipinya yang tadi kucubit.

Sejenak, pandangan kami bertemu dan mendekat. Hingga suatu saat..

Drrtt.. drrtt..

"Oh, Ramennya sudah matang." Ucap Jackson sambil memalingkan wajah.

"ya, kau benar, Jack."

Dasar alarm sialan. Jika saja, Jackson tidak memakai alarm untuk menghitung kapan ramen itu siap. Pasti, ah sudahlah.

"Selamat makan~" Ucap Jackson dengan aksen imutnya itu.

"Se..lamat makan~"

Uh.. Jack. Jika saja, kau adalah milikku seutuhnya. Pasti sekarang aku sudah memakanmu Jack. Tunggu, seutuhnya? Apakah aku bisa menjadikan Jackson milikku dengan cara itu? Ah.. tidak.. tidak… aku pasti sudah gila sekarang.

"Mark.. Mark…." Ucap Jackson membuyarkan lamunanku.

"Ah.. maaf"
"Makanlah. Masa aku aja yang makan, mentang-mentang kamu pingin makan mandu. Aku janji bakal masakin kamu mandu Mark. Asal, kamu makan ini dulu."

Akupun mengangguk mendengar itu. Saat kami makan, tanpa sadar ramen yang dimakan Jackson sma dengan milikku. Dan kami baru sadarr saat bibir kami tinggal beberapa cm lagi tak ada jaraknya. Tapi dengan cepat, Jackson langsung memutuskannya dengan sumpit.

Tanpa sengaja, aku melihat semburat merah di pipinya. Akupun tersenyum dalam hati. Ia begitu manis.

Mungkin dulu, Jackson adalah sesorang yang bertubuh kecil dan kurus. Tapi sekarang, ia menjadi lebih tinggi dari sebelumnya dan berotot. Mungkin ia lebih berotot dari aku. Tapi, bagimanapun juga, akulah yang harus menjadi semenya.

"Mmm. Jack, apakah kamu mau ikut ke café bersama teman-temanku di China yang berkunjung kemari?" tanyaku padanya.

"Kurasa tidak. Karena, kurasa kau butuh waktu pribadi dengan temanmu." Jawabnya dengan nada lembutnya.

"Arraseo. Jack, apa kau punya film horror?"

"kurasa ya. Tapi aku tidak prnah menontonya. Aku terlalu takut untuk itu."

Tuh, kan. Walaupun ia berotot ia adalh namja yang imut prilakunya.

"Tenang saja, kan ada aku. Aku juga nonton, Jack."

"Baiklah."

Film pun dimulai. Jackson duduk sangat dekat bahkantidak ada jarak lagi diantara kami. Mengambil kesempatan dalam kesempita, aku merangkul Jackson dengan erat. Saat hantu itu muncul, Jackson langsung memelukku dengan sangat erat.

Akupun menyeringai.

"Jackson, gakpapa. Itu Cuma di tv aja nggak bakal keluar sayang."

Ups.. apa yang barusan kukatakan. Sayang?

Jackson langsung menatapku dengan tatapan polosnya. Sejenak, pandangan kami bertemu. Wajah kami saling mendekat dan..

Chu..

Ciuman yang sempat terbayangkan olehku akhirnya terjadi. Aku melumat bibir atasnya dan ia melumat bibir bawahku. Tapi, tak lama kemudian, alarm pagi Jackson berbunyi. Itu menyadarkan kami dari apa yang barusan kami lakukan. Jackson langsung mendorongku guna melepas ciuman itu.

Aku tahu bahwa ia shock karena first kissnya diambil olehku. Sebenarnya yang tadi kuberikan juga first kissku. Jadi, menurutku kami adil. Walaupun tidak sepnuhnya adil karena aku mengambil dan memberikan tanpa ia memintanya.

"Karena ini sudah pagi, berarti aku harus memasakkanmu mandu hari ini sesuai janjiku sebelumnya." Ucap Jackson untuk lari dari kecanggungan ini.

"Oh, iya. Kau bisa tidur di kamarku jika kau malas untuk kembali ke apartemenmu. Aku tahu kau sangat mengantuk." Lanjutnya.

Akupun menuju kamarnya. Kamarnya sangat bersih dan rapi. Di rak bukunya, terdapat album foto. Karena, penasaran akhirnya, aku membuka albumnya. Lalu, aku mendapati secarik kertas yang bertuliskan namaku disitu dengan tanda love. Apakah ia menyukaiku?

Mark POV end

Jackson sudah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan Mark. Ia memilih untuk menuju kamarnya dan membangunkan Mark. Tetapi, yang ia dapati disana bukanlah Mark yang sedang tertidur.

"Loh?! Kamu ngapain buka buka albumku Mark."

"Aku kan berhak tau karena aku pacarmu, Jackson."

"Ya! Sejak kapan kau jadi pacarku dimsum?"

"Sejak ciuman tadi malam."

Jackson merasa pipinya memanas sekarang. Iapun memilih untuk menutupi wajahnya dan berkata.

"Makanlah. Aku sudah membuatkan mandu untukmu." Ucapnya sambil berbalik.

"arraseo chagiya. Tapi, tunggu," ucap Mark sambil membalikan tubuh Jackson.

"Aku belum meminta morning kiss ku" lanjutnya

Chupp

Setalah itu, Jackson langsung melarikan diri ke ke meja makan.

.

.

.

"Jack, kamu yakin nggak bakal ikut ke café?"

"Iyaaa."

"yaudah, aku tinggal dulu ya." Ucap Mark lalu mendaratkan sebuah ciuman di pipi Jackson.

Setelah Mark keluar dari apartemen tersebut, Jackson baru ingat jika bahan dikulkasnya sudah habis. Karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke supermarket.

Di café..

Tringg..

Pintu café terbuka ,

"Hai guys.." ucap Mark kepada temannya dengan nada yang super duper senangnya.

"Hei Mark. Bagaimana kabarmu?" ucap salah satu temannya.

"Tentu saja baik. Bagaimana denganmu?" jawab Mark.

Setelah lama berbincang bersama, pintu café terbuka lagi dan memunculkan seorang yeoja cantik. Yeoja itu langsung menhampiri Mark dan menangkup pipi Mark. Lalu, yeoja itu mencium Mark. Mark tak bisa berkutik.

Tanpa mereka sadari, seseorang melihat mereka sambil menahan air matanya.

TBC