Summary:
'Kaa-chan dan Tou-chan' tak pernah terpikirkan oleh Frau dan Teito saat bangun tidur, mereka mendapati seorang bocah manis di dalam kamar dan memanggil mereka berdua dengan sebutan 'Kaa-chan dan Tou-chan'. What the? Apakah ini mimpi buruk di pagi hari? Lalu siapa anak itu sebenarnya?
Collab Fanfic with Namikaze-Naruni!
Warning:
AU. OOC (Maybe). Shonen-ai. Don't like, Don't read. RnR Please!~
Rate: T
Genre:
Family/ Fantasy/ Romance/ Humor(dikit)
Disclaimer:
07-Ghost © Amemiya Yuki & Yukino Ichihara
Past Family © Namikaze-Naruni & Hanabi Kaori
Pairing:
Frau x Teito
.
.
.
Teito sedikit mengernyit heran mendapati sesuatu bewarna pirang menyembul di dekat dagunya, atau yang lebih tepatnya sesuatu bewarna pirang itu tengah Ia dekap.
'Ngh? Apa ini... boneka?' tanya Teito dalam hati. Pemuda mungil itu sedikit melonggarkan pelukannya untuk memastikan apa benar yang tengah Ia dekap adalah boneka atau bukan. Karena, rasanya saat tidur tadi malam, Ia sama sekali tidak membawa boneka bersamanya. Dan matanya langsung terbelalak semaksimal mungkin ketika menemukan seorang anak kecil..
Di pelukannya.
"Gyaaaaaaaaa...!"
—Past Family—
Chapter 2: Tou-chan dan Kaa-chan
o0o0o0o0o0o
"Gyaaaaaaaaa...!"
GABRUK!
UGH!
Saking syoknya, mendapati seorang anak dalam pelukannya. Membuat, pemuda bermarga Klein itu sukses terjatuh dari ranjang (baca: ranjang Frau). Beruntung Teito tidak harus mengadakan kontak fisik secara langsung dengan dinginnya lantai kalau saja Frau yang kebetulan tidur di bawah memakai futon kini menahan tubuhnya. (baca: menindih Frau).
Frau langsung terbangun sambil terduduk, "KUSO GAKI! Kau mau mencari masalah, HAH?" amuk Frau yang nasibnya harus jadi matras dadakan.
Tidak ada jawaban dari si penindih a.k.a Teito yang kini tengah menduduki kaki Frau yang diselimuti selimut tebal, Frau mengernyit heran mendapati wajah Teito yang tampak pucat pasi dengan pandangan mata lurus ke arah ranjang.
"Kuso gaki? WOI!" seru Frau sambil menepuk cukup keras punggung Teito. Pemuda mungil itu tersentak.
"Ittai! Sakit, tahu!" ringisnya menatap Frau dengan kesal.
"Justru aku yang harusnya bilang seperti itu! Cepat menyingkir dari kakiku, kuso gaki!" seru pemuda blonde itu sama kesalnya.
"Itu tidak penting sekarang! Cepat lihat ke ranjangmu!" Teito berteriak pada Frau dengan wajah horror. Frau mengerutkan alisnya.
"Apa maksudmu, kuso gaki? Jangan bilang kalau kau ngompol..." tanya Frau heran sambil menyipitkan matanya kearah Teito.
JDUAG!
Sebuah jitakan manis yang masih hangat made in Teito mendarat di puncak kepala Frau.
"Kau... mau coba merasakan yang namanya 'mati' sekarang, hah?" tanya balik Teito dengan tatapan pembunuh berdarah dingin. "Sudahlah! Cepat lihat!" perintah Teito sambil bangkit dari kaki Frau lalu menunjuk tepat ke atas ranjang, atau lebih tepatnya pada seorang bocah yang tertidur pulas di atasnya yang juga sukses membuat pemuda mungil itu hampir terkena serangan jantung pagi-pagi begini.
Dengan malas, Frau menoleh pada ranjang miliknya dan sukses mendapati seorang anak berambut pirang tengah tertidur pulas di ranjangnya sambil mengemut ibu jari.
"Ee..?" gumam Frau tidak jelas. Maklum, nyawanya belum kumpul semua.
"Ungh.. Kaa-chan.. Tou-chan.. umm.."igau anak itu, lalu kembali pulas.
"Ee.. anak kecil..." gumam Frau. Meloading apa yang dilihatnya kini.
Countdown
...
..
.
"Gyaaaaaaa...~!"
Sama halnya dengan Teito, Frau yang menemukan seorang anak kecil tengah tertidur pulas di ranjangnya juga ikut syok dan langsung berdiri. Ya, iyalah! Mana ada orang yang tidak syok kalau pagi-pagi begini disambut oleh sosok seorang anak kecil asing tengah tertidur di ranjang miliknya. Syok? Sangat!
Frau langsung menoleh pada Teito cepat, "Ku-kuso gaki! A-anak siapa itu?" serunya sambil menunjuk anak kecil di ranjangnya dengan syok.
"Mana aku tahu! Justru akulah yang seharusnya bertanya, Siapa anak itu? Kau kan pemilik apartemen ini, baka!" balas Teito tak mau kalah.
"Aku juga baru pertama kali melihat anak itu, kuso gaki!"
"Kalau begitu jangan bertanya padaku, karena aku juga tidak tahu siapa anak itu!" balas pemuda mungil itu, kembali menunjuk anak pirang itu yang kini tengah membuat 'sebuah pulau' di bantal yang diidentifikasi merupakan bantal kesayangan milik Frau.
Frau yang melihat bantal kesayangannya menjadi korban langsung memegang kedua kepalanya histeris, "Ba-bantalkuuu..~!"
Brug!
"Berisik, Baka! Kalau dia terbangun bagaimana?" kata Teito sambil menyikut pinggang pria bermata blue sea itu.
"Jadi anak siapa itu?" seru Frau lagi.
"Baka! Aku sudah bilang, aku tidak tahu kan?" balas Teito jadi kesal sendiri.
Tring!
Sebuah lampu menyala di atas kepala Frau, "Aha! Ja-jangan-jangan... kau melahirkan tengah malam tadi ya, Kuso Gaki?" setelah berkata seperti itu, Frau langsung meringis ketika kakinya ditendang oleh pemuda berambut coklat itu dengan keras.
"Apa maksudmu, hah? Pikir pakai logika, Baka!" amuk Teito, "Apa kau lupa, gender-ku apa? Mana ada laki-laki yang bisa hamil dan melahirkan dalam satu malam, terlebih langsung keluar sebesar itu, hah?" seru Teito dalam satu tarikan nafas.
"Ya, sudah! Tadi hanya asumsi-ku saja. Kau tak perlu sampai menendang kakiku, Kuso Gaki!"
"Kau sendiri yang mulai duluan dengan asumsi bodohmu itu!" balas Teito kesal.
"Apa? Ngajak berantem nih?" tantang Frau.
"Siapa takut! Kita sele-,"
"Ungh.."
Perkataan Teito terpotong saat mendengar igauan dari arah ranjang, pemuda mungil itu langsung menoleh. Begitu pula Frau yang juga ikut menoleh ke arah ranjang.
Akibat kegaduhan yang sejak tadi terjadi, membuat sepasang mata besar bewarna musim gugur terbuka. Anak itu mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu perlahan mengubah posisinya menjadi terduduk di ranjang. Anak itu lalu menguap sebentar dan langsung menatap 2 orang yang berada di depannya itu dengan mata mengantuk.
Glek!
"Dia bangun!" pekik Frau dan Teito bersamaan.
Anak itu kembali mengerjapkan matanya. Lalu kemudian, lengan kecil itu bergerak mengucek mata musim gugur yang tampak masih mengantuk, "Ungh.. ohayou, Kaa-chan.. Tou-chan.." gumam anak itu dengan suara khas anak-anak.
Frau dan Teito yang mendengar itu, lalu saling menoleh satu sama lain.
"Kaa-chan..." gumam Teito.
"Tou-chan..." gumam Frau.
Sontak mereka berdua langsung menoleh pada sang anak yang masih terduduk di ranjang dengan manis.
Setelah 2 orang lelaki di kamar itu dapat dilihat dengan jelas olehnya. Senyum lebar terlukis di wajah imut anak berambut pirang itu. Melihat senyuman anak kecil itu, malah membuat mereka berdua merinding. Sempat terlintas pikiran kalau jangan-jangan apartemen ini angker dan anak kecil di hadapan mereka itu adalah hantu.
Senyum itu makin melebar senang, "Ohayou! Kaa-chan! Tou-chan!" seru anak itu lagi dengan riangnya.
Teito yang mendengar itu langsung menatap Frau dengan pandangan memohon, "Frau ini mimpi, ya? Kalau ini mimpi, bangun kan aku, please~"
Frau menghela nafas, "Kuso Gaki, aku pun berharap seperti itu. Tapi sayangnya, ini semua bukan mimpi." Katanya sembari memegang kedua bahu kecil pemuda bermata emerald itu.
Merasa dikacangi oleh kedua lelaki itu, anak berambut pirang itu kembali berseru lebih keras, "Kaa-chan! Tou-chan! Ohayou!"
Frau dan Teito kembali menoleh dan mendapati anak itu tersenyum makin lebar. Seolah, baru saja mendapatkan harta karun besar di hadapannya.
"Bocah, kau siapa? Kalau kau hantu, cepat pergi." Kata Frau.
"Ja-jangan keras padanya, Frau. Bagaimana pun dia masih anak kecil," Teito berkata sambil menarik baju Frau. Frau menoleh pada Teito.
"Ya, ya. Aku tahu, Kuso Gaki," Lalu menoleh kembali pada anak kecil itu yang kini pasang tampang tak berdosa yang sangat imut. "Bocah, kau bisa menjawab pertanyaanku tadi?" tanya pria bermata blue sea itu lagi dengan agak pelan.
Anak itu mengernyitkan alisnya dengan mengerucutkan bibirnya sambil sedikit memiringkan kepala tampak berpikir. Melihat itu, membuat Frau dan Teito sulit untuk tidak mengakui kalau anak itu benar-benar imut!
Frau berdehem, "Khng! Bocah kau dengar? Lalu kenapa kau memanggil kami Kaa-chan dan Tou-chan?" tanya Frau, rasanya ada perasaan aneh yang masuk ke dalam hatinya saat Ia mengucapkan kata 'Kaa-chan dan Tou-chan'.
Anak itu tetap tersenyum lebar menatap Frau dan Teito, "Tentu caja, kalena Kaa-chan dan Tou-chan adalah olangtua Mika-chan!" seru anak itu cadel lalu nyengir sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya. Jadi, seperti melihat model iklan pasta gigi secara live!
"NANIII?" pekik mereka berdua kompak tak percaya.
Anak itu mengangguk sekali, "Um! Tentu caja! Mika-chan anak kalian beldua!" seru anak bermata musim gugur itu dengan riangnya, bagaikan sebuah deklarasi pernyataan yang sanggup membuat Frau dan Teito syok di tempat. Aneh, padahal saat deklarasi kemerdekaan, bangsa Indonesia justru senang kok! Tapi kenapa Frau dan Teito syok segala ya? *Frau & Teito: Jangan disamain WOI!*
"Mu-mustahil.." kata Frau tak percaya. Kalau diperhatikan secara seksama, bukan mau mengakui, ya! Tapi, anak itu memang memiliki kemiripan dengannya. Yaitu, rambut bewarna pirang yang mencolok. Kalau wajahnya, sedikit mirip Teito. Cuma Ia baru baru menyadari, ada luka samar berbentuk huruf 'X' kecil di pipi bawah bagian kanan wajah anak itu. Tapi, masa' sih, kalau anak itu anak mereka? Bertemu dengan Teito saja baru kemarin! Kenapa tiba-tiba anak ini mengaku kalau mereka berdua..
"Hahhh..."
Gabruk!
" Kuso Gaki!?"
"Kaa-chan!?"
Mungkin dengan Teito tidur sebentar lagi, semua kekonyolan yang terjadi ini akan segera berakhir. Dan saat terbangun nanti, Ia berharap ini cuma mimpi buruk di pagi hari dan kalau Ia boleh berharap lagi, Ia ingin terbangun di atas ranjang king size miliknya saja di rumah. Bukan disini.
.
.
.
Teito POV
"—to..."
Ungh... suara apa itu..?
"Teito..."
Siapa yang memanggilku? Malas... biarkan aku tidur sebentar lagi..
"Cepat bangun Kuso Gaki!"
BRUAK!
"Siapa yang kau panggil 'Kuso Gaki', HAH?" seketika aku terbangun karena panggilan kurang ajar yang diberikan Frau padaku. Yang kulihat saat itu adalah Frau yang langsung melayang indah ke pojok ruangan setelah menerima pukulan dariku. Huh! Salah sendiri memanggilku begitu!
"Kaa-chan! Kaa-chan sudah bangun!"
DEG!
aku membeku begitu mendengar suara itu. Dan saat menoleh, kulihat seorang bocah berambut pirang yang tersenyum lebar sambil menatapku. Oh my... jadi itu bukan mimpi? Bocah yang kutemui ada dalam dekapanku pagi ini nyata?
"Ahk! Kenapa kau malah meninjuku, Kuso Gaki? Aku hanya berusaha membangunkan mu!" gerutu Frau sambil berjalan mendekatiku dan memegangi pipinya yang sedikit bengkak. "Wajahmu manis tapi tingkahmu kasar. Kalau begitu nanti tidak akan ada yang naksir padamu!"
Entah kenapa kurasakan wajahku memanas mendengar perkataan Frau. Manis? Lagi-lagi dia bilang bahwa wajahku manis? Sebenarnya dia sadar tidak sih? Aku ini LAKI-LAKI! Masa' wajahku dibilang manis! Keterlaluan!
"Salahmu sendiri memanggilku Kuso Gaki! Dan kau masih berani mengatai wajahku manis!" keluhku kesal pada pria pirang yang tinggi menjulang itu. Uhk... mau-tidak mau aku harus jujur bahwa aku iri dengan tinggi badannya...
"He? Dibilang manis malah marah. Dasar bocah."
"Apa katamu! Dasar—"
"Kaa-chan dan Tou-chan jangan bertengkar..." ucapanku terputus begitu mendengar bocah misterius itu meminta kami berhenti. Nampak ia menatap kami dengan puppy eyes miliknya yang memang imut.
"Ehem! Baiklah, sebaiknya kita sudahi saja debat yang tidak penting ini. Kembali ke masalah awal..." Frau menatap bocah itu sedikit tajam. "Siapa kau sebenarnya?" sambung Frau lagi pada akhirnya, hingga keheningan menyelimuti kami.
Teito POV end
Bocah misterius itu masih menatap Frau dan Teito dengan senyum manis khas anak-anak. Suasana tetap hening, hanya suara detik jarum jam dinding yang terdengar. Hingga akhirnya bocah itu buka suara.
"Namaku Mikage, Tou-chan!" jawabnya riang gembira.
"Uhm... Mikage-chan, kenapa kau panggil kami dengan sebutan 'Tou-chan dan Kaa-chan'?" Teito berusaha kembali menanyakan pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh Frau tadi.
"Karena kalian orangtua Mika-chan!" jawaban yang sama lagi terlontar dari mulut bocah mungil itu. Frau dan Teito menghela nafas, nampaknya percuma menanyakan hal itu lagi.
"Ganti pertanyaan, kenapa kau bisa ada di kamar kami bocah? Dari mana kau masuk? Rasanya aku sudah mengunci semua pintu dan jendela semalam," selidik Frau.
"Aku menembusnya!" anak yang mengaku bernama Mikage itu kembali menjawab dengan riang gembira dan tanpa beban.
S i i i i n n g g ~
Hanya keheningan yang menghinggapi kamar itu sekali lagi.
"Mikage-chan, kami serius... tolong jangan bercanda..." pinta Teito berusaha selembut mungkin pada bocah itu.
"Jangan bohong kau bocah. Apa kau tidak tahu, kalau anak yang suka bohong nanti hidungnya akan memanjang!" Fru berusaha menakut-nakuti Mikage dengan cerita dari dongeng pinokio.
"Mika-chan tidak bohong. Tou-chan!" Anak itu tetap bersikeras sambil menggembungkan kedua pipinya kesal karena dianggap berbohong.
"Kalau begitu, bagaimana caranya kau bisa menembus jendela dan pintu yang terkunci itu, Mika-chan? Mana ada manusia yang bisa menembus jendela tanpa membukanya," tanya Teito lagi. Senyum manis kembali menghiasi wajah Mikage.
"Kalena Mika-chan bukan manucia! Mika-chan adalah penyihil!"
.
.
.
"Benarkah kabar itu?"
"Ya, Zehel dan Tiashe... telah terlahir kembali..." perkataan para Tetua membuatku beku seketika. Aku tahu jika ketahuan sedang menguping obrolan para Tetua, aku pasti akan dihukum. Karena, biasanya aku pergi saja tanpa peduli apa yang tengah dibicarakan para orangtua itu. Hanya saja.. yang ini berbeda! Dan harus aku dengar!
"Setelah 110 tahun, akhirnya mereka telah terlahir kembali."
"Di kehidupan yang inipun... tali jodoh telah mengikat mereka. Mereka pasti akan dipertemukan kembali," seorang Tetua menjelaskan sambil mengelus jenggot putihnya.
"Tapi.. dimana mereka saat ini?" pertanyaan seorang Tetua makin membuatku antusias untuk mendengarkan.
"Dunia manusia, mereka ada di sana."
Dunia manusia...? sungguhkah... Kaa-chan dan Tou-chan ada di sana? Jika benar, aku harus menemui mereka apapun yang terjadi. Aku akan menepati janjiku dulu, bahwa aku pasti akan melindungi mereka.
Mendengar itu, segera aku langkahkan kakiku menjauh dari pintu putih besar itu. Kaa-chan.. Tou-chan.. tunggulah!
Tunggulah aku!
.
.
.
"Pe..nyi...hir..." ucap Frau pelan dan terputus-putus.
"Apa mungkin...?" kini Teito buka suara. Rasa tidak percaya dan pikiran mustahil menggelantungi otak mereka saat ini. Tapi kalau dipikir ulang... memang tidak mungkin manusia bisa menembus jendela kan? Berarti memang hanya ada satu jawaban, bahwa anak di hadapan mereka ini memang bukan manusia. Tapi... apa mereka bisa mempercayai perkataan bocah yang mengaku dirinya penyihir ini?
"Lupakan dulu masalah ini," ucapan Frau memecah keheningan.
"Frau..?" panggil Teito bingung.
"Ini hampir siang. Sebaiknya kita siapkan dulu sarapannya, aku yakin bocah itu juga pasti lapar," jelas Frau sambil berlalu dari kamar itu. Tindakan Frau benar, dari pada mereka harus dibuat gila karena memikirkan kenyataanya, lebih baik lewati dulu masalah ini.
"Ah, Frau!" panggil Teito lagi.
"Apa lagi?" tanya Frau sembari menghentikan langkahnya.
"Kali ini biarkan aku yang memasak," ucap Teito mantap.
"Hah?"
o0o0o0o0o0o
"Jadi Kuso Gaki... ini masakan apa..?" tanya Frau ragu-ragu sambil menunjuk sepiring nasi plus masakan Teito di hadapannya. Kini Frau, Teito dan Mikage tengah terduduk di meja makan. Setelah memakan waktu kurang lebih satu jam, akhirnya Teito berhasil menyelesaikan acara masaknya. Sebenarnya ini kali pertama Teito memasak. Sejak kecil Ia memang sering membantu Okaa-sama-nya membuat kue. Tapi itu kue! Bukan makanan berat untuk sarapan atau sejenisnya.
"I-itu... uhm... kare..." jawab Teito ragu-ragu.
"Kare? Yang benar saja? Kenapa warnanya bisa hitam begini?" tanya Frau shock. Tak heran jika Frau shock, penampilan kare buatan Teito itu bisa dibilang cukup mengerikan (A/N: Silahkan Readers bayangkan penampilan kare favorite Rock Lee dari anime Naruto!).
"Tapi kelihatannya enak, Kaa-chan! Itadakimacu!~" Mikage dengan penuh semangat menyendok dan melahap kare buatan Teito itu.
"W-woi..! nanti kau bisa sakit perut!" peringat Frau. Tapi itu tetap tak menghentikan Mikage sama sekali. bocah itu tetap makan dengan penuh semangat.
"Hiks... Mikage-chan... kau pengertian sekali... kau tahu bahwa aku berusaha keras membuatnya ya... hiks..." tangis Teito terharu yang justru membuat Frau sweatdrop.
"Iya! Ini enak kok! Tou-chan, ayo coba juga!" ajak Mikage riang dengan mulut yang belepotan nasi dan kare.
"Hei, hei! Makannya pelan-pelan saja. Sini, ada nasi yang menempel di dekat mulutmu!" Teito menghampiri kursi tempat Mikage duduk, dan secara perlahan membersihkan butiran-butiran nasi yang menempel di dekat mulut bocah itu. Frau terdiam melihat pemandangan itu. Entah kenapa pemandangan itu nampak familiar baginya. Bagaikan sebuah déjà vu. Tanpa sadar, Ia tersenyum lembut.
Mikage sendiri terdiam, membiarkan Teito dengan lembut membersihkan mulutnya. "Kaa-chan..." panggil Mikage pelan.
Tes...
Sebulir air mata mengalir dari mata muim gugur milik bocah itu. tiba-tiba dipeluknya tubuh Teito erat. Dengan suara tertahan, bocah itu mulai menangis.
"Mikage-chan! Kau kenapa?" tanya Teito bingung agak panik juga saat mengetahui bocah itu menangis.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?" Frau ikut-ikutan panik karenanya. Tapi Mikage hanya menggeleng menanggapi pertanyaan kedua pria itu, dan tetap menangis sesegukan.
"Sudah lama sekali... aku ingin bertemu dengan kalian..."
Deg!
Sebuah perasaan aneh merasuki hati Frau dan Teito ketika mendengarnya. Kenapa..? kenapa mereka terasa begitu rindu..? perasaan yang begitu mereka rindukan...
"Mikage-chan..." panggil Teito pelan sambil mengusap-usap rambut pirang bocah itu untuk menenangkannya.
"Sudahlah, ayo kembalilah makan," ucap Frau sambil mengacak-acak lembut rambut pirang bocah itu. Mikage mengangguk dan menghapus air matanya, lalu melanjutkan acara makannya dengan semangat.
"Kau sendiri tidak makan Frau?" tanya Teito karena Frau tak menyentuh sedikitpun makanan yang ada di piringnya.
"Tidak, nanti aku akan buat makanan sendiri. Makananmu terlalu mengerikan," ucap Frau mengejek. Teito mengepalkan kedua tangannya kesal. Oh, hinaan yang Frau ucapkan barusan itu sudah keterlaluan sepertinya. Padahal Teito sudah berusaha keras membuat kare itu, hingga menghasilkan banyak luka di tangannya. Setidaknya, hargai sedikit kerja kerasnya yang susah payah membuat masakan ini...
BRAAKKK!
"Apa? Asal kau tahu saja! Aku sudah susah payah memasak ini! Apa kau tidak bisa menghargainya sedikit?" seru Teito marah sambil menggebrak meja makan dengan keras. Frau dan Mikage tersentak kaget atas perlakuan Teito. Sekilas mata Frau menangkap beberapa plester yang menghiasi tangan Teito. Cukup menyesal juga akan perkataannya barusan, sebenarnya Ia tak bermaksud menghina masakan Teito. Ia hanya ingin sedikit bercanda. Namun, sepertinya ditanggapi serius oleh pemuda mungil itu.
"Baik-baik, aku minta maaf. Kau puas Kuso Gaki? Tadi, aku hanya bercanda." balas Frau santai. Walau Ia benar-benar menyesal, tak terdengar sedikitpun nada menyesal dari cara bicaranya. Jelas membuat Teito semakin geram.
"Sejak kemarin kau selalu seenaknya! Dan aku terus yang harus menahan diri! Asal kau tahu, aku juga sebenarnya tidak mau tinggal bersamamu! Lebih baik aku tinggal sendirian saja di rumahku!"
"Huh, baiklah! Terserah jika itu maumu, Kuso Gaki. Memangnya kau pikir, aku juga tidak repot harus mengurusi bocah sepertimu?"
"Apa? Baik! Aku pergi!"
Tap
Tap
Tap
BRAK!
Pintu yang terbanting dengan keras seakan menjadi musik penutup perdebatan diantara keduanya. Frau sendiri sudah tersulut emosi tadi, wajar saja jika Ia malah ikut berdebat dengan Teito.
"Ck!" Frau berdecak sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal. 'Mungkin aku sedikit keterlaluan...' batinnya menyesal.
"Tou-chan... Dan Kaa-chan bertengkar?" tanya Mikage pelan sambil memegangi ujung bawah pakaian Frau. Bisa terlihat kesedihan yang terpancar dari kedua bola matanya, membuat Frau merasa tak tega juga.
"Jangan khawatir, kami tidak akan bertengkar lama. Aku akan coba minta maaf padanya. Jangan sedih begitu, ok?" hibur Frau sambil mengelus-elus rambut pirang bocah itu. Frau sendiri tak tahu... Entah mengapa Ia merasa sangat menyayangi Mikage. Padahal bertemu saja baru pagi ini, karena entah apa penyebabnya hingga bocah itu bisa nyasar ke dalam kamarnya.
'Siapa sebenarnya bocah ini? Apa yang dikatakannya itu sungguhan? Tapi... Ah, bodoh! Mana mungkin aku bisa percaya dengan ucapan bocah aneh berusia 5 tahun!'
"Yakusoku?" tanya Mikage tiba-tiba, memastikan ucapan Frau sambil mengulurkan jari kelingking kanannya. Frau terdiam memandangi jari kelingking mungil bocah itu, tapi bagaimana pun Ia memang harus minta maaf kan?
"Baiklah, yakusoku," jawab Frau pada akhirnya sambil membalas janji kelingking Mikage. Senyum ceria merekah di wajah bocah mungil itu. Kedua pipinya sedikit merona merah bagai apel. Ia kelihatan sangat puas mendengar jawaban Frau. Sedang dari luar kamar Frau bisa terdengar suara Teito yang dengan kasar tengah membereskan barang-barangnya sambil marah-marah sendiri. Err.. sepertinya suasananya memang sudah seperti pertengkaran biasa antara suami dan istri.. ('^^)
"Dasar Kuso! Aku benar-benar membencinya! Biar saja aku pergi dari tempat ini!" amuk Teito tak jelas. Dengan kasar pemuda mungil itu memasukkan barang-barangnya dalam koper. Tapi dalam hati sebenarnya ia setengah khawatir juga. Terutama pada Mikage.
Bagaimana dengan Mikage jika ia pergi? Masa' iya, Frau mau mengurus anak itu jika ia tak ada. Walau entah itu anak siapa sebenarnya, tapi ada perasaan aneh pada diri Teito... Seperti... Sebuah perasaan sayang pada bocah yang baru ditemuinya hari ini. Sayang? Aneh bukan. Tapi memang itu yang Teito rasakan, dan Ia tak bisa mengelak dari kenyataan itu.
Klak!
Bunyi koper yang ditutup menjadi tanda bahwa pemuda berambut coklat itu telah selesai beres-beres. 'Uhk... Masa' aku harus menarik kata-kataku sendiri bahwa aku akan pergi dari tempat ini...' batin Teito bimbang. Pasti malu banget tuh kalau pada akhirnya ia harus menarik kata-katanya lagi, dan seorang Teito Klein punya harga diri yang teralu tinggi untuk menanggung malu meminta maaf pada orang semacam Frau.
"Memangnya mau kemana kau?" tanya sebuah suara dari belakang Teito. Pemuda berambut coklat itu berbalik untuk melihat sosok Frau yang tengah bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pulang," jawab Teito dingin. Ia menarik koper miliknya bermaksud pergi dari tempat itu. Namun sejenak Ia berhenti di hadapan Mikage. "Mikage-chan, jaga diri baik-baik ya. Mulai sekarang kau akan tinggal dengan paman ini," jelas Teito lembut pada bocah yang sudah memasang puppy eyes itu karena perkataannya.
"Ayolah, Teito! Tadi itu aku hanya bercanda. Jangan kau anggap serius seperti ini," bujuk Frau.
"Oh ya? Kupikir kau tahu cara bercanda yang baik hingga terdengar seperti benar-benar menghina," balas Teito tetap tak terima.
"Aku minta maaf. Tidak bisakah kita lupakan saja masalah ini?" pinta Frau lagi yang kelihatannya mulai kesal dengan Teito yang keras kepala. Sedangkan Teito, tanpa peduli tetap menarik kopernya menuruni tangga. "Dengarkan aku, Kuso Gaki!" Frau kehilangan kesabarannya. Ditariknya koper Teito kearah berlawanan hingga membuat pemuda bermata emerald itu menghentikan langkahnya.
"Lepas Frau..." desis Teito sambil menatapnya tajam. Teito berusaha menarik kopernya kembali dari tangan Frau hingga membuat tubuhnya sedikit mundur kebelakang tanpa sempat menginjak anak tangga berikutnya.
"Eh?" hanya berjarak persekian detik, Teito kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia merasa tubuhnya begitu ringan saat terhempas kebawah.
"Kaa-chan!"
"Tei—!" Frau tak repot-repot berteriak, tubuhnya bagai bergerak sendiri untuk menangkap pemuda mungil itu. Frau ikut melompat tanpa peduli bagaimana akhirnya nanti.
"Frau!" teriak Teito shock karena tubuhnya mungkin akan segera menghantam lantai ditambah melihat Frau ikut-ikutan melompat kearahnya. Inikah akhir hidupnya? Tidak elit sekali. kesannya seperti orang mau bunuh diri saja. Padahal Ia jatuh karena tergelincir dari tangga. Teito menutup kedua matanya, takut untuk tahu kelanjutan hidupnya.
GREP!
Hangat...
Teito membuka matanya kembali. Menemukan dirinya ada dalam dekapan Frau. Pemuda pirang itu memeluk Teito erat, berusaha melindunginya... tapi apa sudah terlambat? Sebentar lagi tubuh mereka akan menghantam lantai!
30 cm...
"Uhk... sial..." gumam Frau.
20 cm...
'Apa sudah berakhir...?' pikir Teito
15 cm...
"Aku akan melindungi kalian..."
S r i i i i n n g g g!
Tiba-tiba sebuah cahaya mengelilingi tubuh Frau yang mendekap tubuh Teito erat. Seketika itu pula, menghentikan tubuh Frau yang hanya berjarak 5 cm lagi dari lantai. Itu bukan cahaya biasa... itu adalah zaiphon. Perlahan tubuh Frau mendarat dilantai dengan lembut.
"A-apa? Apa itu tadi...?" tanya Frau kaget bercampur bingung.
"Kita... baik-baik saja..." Teito pun buka suara.
"Tapi bagaimana mungkin?" pekik Frau lagi.
"Karena aku sudah berjanji, aku akan melindungi kalian.." sebuah suara khas pemuda menyadarkan kedua pemuda itu. ya, mikage... bocah berambut pirang itu menghampiri Frau dan Teito yang masih terduduk kaku di lantai.
"Mikage-chan... apa maksudnya? Tadi itu apa?" tanya Teito. Mikage tersenyum ceria seperti biasa. Bocah pirang itu tiba-tiba mengangkat tangannya, menghasilkan sebuah lingkaran aneh yang terbentuk dari sebuah simbol.
"Ini, mantla zaiphon!" jelas Mikage riang dengan suara anak-anaknya lagi sambil memainkan lingkaran zaiphon di tangannya. Sedang Frau dan Teito sendiri masih terpaku tak percaya pada apa yang mereka lihat. Jadi yang Mikage katakan itu bukan kebohongan? Anak ini benar-benar seorang penyihir?
"110 tahun yang lalu... ada Demon menyerang dunia sihir tempatku tinggal. Kaa-chan dan Tou-chan, ikut serta sebagai salah satu prajurit perang. Bahkan kalian dianggap sebagai pahlawan dalam perang itu. Tapi..." ujar Mikage menggantung. Merubah cara bicaranya menjadi tidak cadel lagi. Ia menatap sendu kedua pemuda dihadapannya yang memasang wajah tak percaya. "Kalian gugur dalam perang..."
"A-pa..?" tanya Frau kaget.
"Kini kalian, sudah terlahir kembali sebagai manusia... Zehel... dan Tiashe..." air mata meluncur mulus diatas pipi Mikage. "Aku sudah berjanji pada kalian Tou-chan, Kaa-chan... aku pasti akan melindungi kalian lagi suatu saat nanti... karenanya aku datang ke sini..."
Tak ada lagi yang buka suara. Entah itu nyata atau tidak. entah apa mereka bisa mempercayainya. Zehel, dan Tiashe... kedua sosok yang Mikage sebut sebagai kedua orangtuanya, adalah Frau dan Teito?
"Ini membuatku pusing..." keluh Teito lemas.
"Kali ini, aku sependapat denganmu, Kuso Gaki..." Frau meng-iyakan. Kedua pemuda itu beranjak menuju tempat Mikage yang masih berdiri di hadapan mereka. Mereka berlutut secara berbarengan. Mensejajarkan wajah mereka dengan wajah bocah itu.
"Laki-laki tidak boleh cengeng," ucap Frau sambil menghapus airmata Mikage. Membuat bocah bermata musim gugur itu sejenak terpaku.
"Mikage-chan, ayo tersenyum!" ucap Teito sambil tersenyum lembut, bermaksud membuat Mikage kembali tersenyum.
"Tou-chan... Kaa-chan..."
"Kami... memang sulit untuk mempercayainya. Tapi kami akan coba untuk percaya," ucap Frau lembut.
"Berarti mulai sekarang, Mikage-chan boleh memanggil kami 'Kaa-chan dan Tou-chan'!" ucap Teito sambil mengelus puncak kepala anak itu. "Ehk? Frau, berarti Mikage mulai sekarang tinggal di sini juga kan?"
"Yah... tidak ada pilihan lain kan," jawab Frau sembari beranjak pergi.
"Aku lapar, gara-gara kau aku tidak sempat sarapan," tambahnya lagi dengan malas.
"Frau..."
"Hm?"
"Arigatou, sudah melindungiku tadi..." ucapan Teito membuat pemuda beriris blue sea itu berbalik, menatap mata emerald yang sungguh-sungguh mengucapkan terima kasih. Senyum seringai terlukis di wajahnya, sebelum Ia akhirnya kembali berlalu menuju dapur. Meninggalkan Teito dan Mikage di ruang tengah begitu saja.
"Hehehe.. mulai cekalang kita akan tinggal belcama Kaa-chan?" tanya Mikage penuh semangat. Kembali berbicara cadel layaknya anak-anak.
"Ya, kita akan tinggal bersama mulai saat ini," jawab Teito lembut pada bocah manis nan imut itu. ya, mulai sekarang mereka akan tinggal bersama bagai sebuah keluarga. Keluarga yang terpisah di masa lalu itu telah bersatu kembali sekarang. Entah bagaimana kedepannya? Tapi, jalani sajalah! Ya, bersama-sama dalam sebuah ikatan baru yang bernama 'keluarga'.
o0o0o0o0o0o
-TBC-
o0o0o0o0o0o
Balasan review bagi yang nggak log in! Untuk yang log in, sudah dibalas lewat PM!
=Putri=
Naru: Hehehe... sankyuu udah menyukai fic kami..~ #nebar bunga
Banyakin FrauTeito-nya? Sip! XDDD
Ini udah update! Semoga terhibur..~ ^^
=maash=
Hana: Arigatou reviewnya! ~_~
Ceritanya imut? Lebih imut lagi kedua Authornya!~#PLAK#
Siapa anak itu, kini sudah terjawab kan? (^_~)
Yosh! Udah updet, silahkan review lagi!~
A/N:
3...
2...
1..
—Welcome to the GaJe Show With Namikaze-Naruni and Hanabi Kaori!—
Naru & Hana: Konichiwa Minna! Bertemu lagi dengan kami, 'The Duo Author GaJe'! *tebar kertas warna warni*
Naru: #ngambil mic, kaki kanan naik meja# Huwoo..~ akhirnya bisa bertemu lagi, para Readers!
Hana: *sweardrop* haha.. Nee-san bersemangat sekali. ok! Kali ini kita tedatangan tamu yang sangat spesial!
Frau: Ha? Spesial? Jangan-jangan kalian bawa sodara dari kebun binatang lagi ya? *disambit mic sama Naru & Hana*
Teito: Memang siapa Naru, Hana? *penasaran*
Naru: Mereka adalah...
Hana: *nyetel lagu Sen no Yoru wo Koete *
Naru & Hana: Ichigo Kurosaki dan Toushiro Hitsugaya dari Bleach!
Frau: Memang mereka siapa? *disambit Naru+Hana*
Teito: Ya ampun! Kau tidak tahu? Tidak tahu? Wong deso! #niru Tukul#
Hana: Tei-chan... kau tahu juga iklan itu.. O_O
Naru: Hahaha.. #sweatdrop#
Naru & Hana: Baiklah, ayo! Beri tepuk tangan yang meriah untuk mereka berdua, YA-HAA!
All Chara 07-Ghost: #tepuk tangan#
Ichigo & Toushiro: #muncul dari tirai dengan pose khas#
S i i i n n n g g g g . . ~
Teito: Ano... itu beneran pose khas mereka?*sweatdrop*
Naru & Hana: Yupz! *angguk-angguk penuh semangat*
Frau: Aku juga ragu, lagian... kenapa pose khas mereka kayak pose sang pangeran ngegendong sang putri? *shock ngelihat pose Ichi ngegendong Hitsu ala pengantin*
Hana: Kawaii ne!~ *sibuk ngambil gambar IchiHitsu*
Naru: Aih~ kalian nggak tahu ya? Mereka kan emang punya hubungan terlarang~
All Chara 07-Ghost: WHAT THE HELL? *shock tingkat dewa*
Hana: Udah deh!~ silahkan para bintang tamu, duduk bersama kami! *lambai-lambai*
Toushiro: Kurosaki, turunkan aku! #muka nahan malu#
Ichigo: Tidak, Yuki Hime...#smile sambil jalan ke tempat Naru & Hana#
Naru & Hana: Kyaaa..~ IchiHitsu! \(^o^)/
Libelle+Rosalie+Athena: Mereka pasangan yang manis sekali..~ #kagum dari bangku penonton#
Kuroyuri: Biasa aja ya Haruse? *nggak tertarik*
Haruse: Iya, Kuroyuri-sama...
Member Black Hawks yang lain: *suara hati: Jelas kalian pikir biasa aja, orang kalian aja tiap hari begitu! *
Ichi & Hitsu: *duduk di kursi khusus bintang tamu*
Naru: Yo, Ichigo! Shiro-chan! Gimana nih kabarnya?
Ichigo: Yo! Baik sekali Naru, Hana!
Toushiro: #ngejitak Ichigo# baik gundulmu! Kau saja selalu buat masalah di Gotei 13! Sampai-sampai seluruh divisi bernafsu menangkapmu Kurosaki!
Ichigo: Yuki Hime... kau khawatir? Q.Q #terharu#
Toushiro: U—urusai! #blushing#
Mikage: Kok rasanya kayak ngelihat film drama, ya? -_-
Naru & Hana: Lumayan, tontonan gratis! *sibuk makan popcorn*
Frau: Dasar Baka Author, sebenarnya apa tujuan kalian ngedatengin chara anime lain, hah? *frustasi*
Naru: Oh, itu sih...
Naru & Hana: Buat ngadain adu kemesraan! *Background music: Treng~ treeng~ treeeng~*
Mikage: Ha?
Teito: What?
Frau: Maksud Loe? *esmosi*
Hana: Kami ingin menilai antara pair IchiHitsu dan FrauTei, mana yang paling mesra! *penjelasan ala Bu Guru*
Naru: Yup! Untuk itu, Frau & Teito silahkan bergabung kemari! #ngambil mic#
All Chara 07-Ghost: #bersiul semangat#
Teito: Ugh! #blush#
Frau: Hah? #kaget namanya dipanggil tiba-tiba#
Ichigo: #Langsung berdiri# Okeh! Ayo Toushiro! Kita tunjukkan kemesraan kita! #semangat membara#
Toushiro: #CTAK# *urat sabarnya udah putus* Kau saja sendiri! #nendang Ichigo sampai nabrak tembok#
Naru & Hana: Huwooo..~ nice kick! *acungin jempol*
All Chara 07-Ghost: #suara hati: rasanya situasinya sama... pernah lihat di mana ya? -_-"#
Frau: #mandang Ichi prihatin# rasanya aku tahu, bagaimana rasanya.. =_="
Teito: Kalau macam-macam, aku akan melakukan hal yang lebih mengerikan dari itu padamu! *ngancem*
Frau: Benarkah?~ *nada mesum**peluk pinggangnya Teito*
All Chara: *siul-siul makin kenceng*
Mikage+Hakuren+Ayanami: *nahan diri buat nggak ngebantai Frau karena udah peluk pinggangnya Teito*
Teito: Frau... *nada horror* dasar MESUM! *nonjok Frau sampai melayang indah dan nabrak dinding*
Ichigo: *masih pingsan*
Hana: Hei, Ichi... *toel-toel pakai ranting* masih hidup kan?
Naru: Yare-yare..~ kenapa tokoh utama seme-nya pada tepar... -_- *sweatdrop*
Castor: Untungnya, Uke-ku 'lembut'. #meluk pinggang Labrador#
Labrador: Ca—Castor.. #blush#
Hakuren: Entah kenapa ini show malah kayak show 'Kesengsaraan Seme'? -.-
Teito+Toushiro: Inilah emansipasi Uke! #berjabat tangan sepakat#
All: #sweatdrop#
Hana: Uhm, Nee-san... gimana nih? Masa' seme-nya pada tepar?
Naru: Ya, mau gimana lagi~ terpaksa kita tutup dulu acara kali ini! Jaa Minna! Sekian The GaJe Show kali ini!
Hana: Jumpa lagi dengan kami di chapter depan!
Naru & Hana: Dan jangan lupa...
All Chara: REVIEW pleas!
Frau & Ichigo: Re—review, yaaa..~ #tepar lagi#
_Review?_
