Nyonya Nakamoto akhir-akhir ini banyak tersenyum. Saat ditanya kenapa oleh ibu-ibu tetangga, beliau hanya terkekeh kecil sebelum mengalihkan pembicaraan. Nyonya Nakamoto mana mungkin mengatakan alasannya yang tak lain dan tak bukan ternyata karena anak gadis satu-satunya memiliki satu perubahan signifikan; Yuta merapikan kamarnya sendiri! Jika mengatakan hal ini pada para tetangga, sama aja ia menyebar aib pribadi yang gagal mendidik anak gadisnya. Yuta memang sangat sembrono dan juga malas sehingga tak jarang Nyonya Nakamoto kerap mengeluh setiap masuk ke dalam kamar Yuta.
Tapi, beberapa hari belakangan Yuta selalu merapikan kamarnya. Dengan rapi. Dan bersih. Tentu saja improvisasi ini membuat Nyonya Nakamoto berseri-seri.
Hanya saja, wanita paruh baya itu tak pernah mengetahui alasan di balik anak perempuannya mulai merapikan kamarnya. Semoga saja beliau tidak pernah tahu bahwa Yuta membersihkan kamarnya karena tiap malam gadis itu kedatangan tamu seorang vampire yang menjunjung tinggi kebersihan.
.
.
In Return
aspartam
NCT © SM Ent.
Much Inspired by El Lavender's The Truth
Contains typo(s), OOC, Vampire!AU, GS.
Taeyong x Yuta fic, I've warned you.
.
.
Taeyong duduk dengan santai di sisi jendela kamar Yuta. Sedang sang empunya kamar menatap pria itu dengan gusar. "Ugh. Ano ne, Taeyong-san." Yuta mulai bercicit.
"Ajak aku bicara saat pekerjaan rumahmu sudah selesai," respon Taeyong dingin membuat Yuta mengerucutkan bibirnya sebal. Ia pun memaksakan diri untuk kembali fokus pada buku yang tertulis soal-soal yang perlu dijawab. "Jangan memasang wajah tidak ikhlas seperti itu. Sudah seharusnya seorang siswi melaksanakan kewajibannya."
Yuta merotasi bola matanya. "Percayalah, Taeyong-san. Aku punya caraku sendiri untuk selamat dari tuntutan tugas sekolah. Lagipula aku sebentar lagi lulus. Untuk apa aku masih mengerjakan pekerjaan rumah?!" Oh, gadis itu mulai meledak.
Taeyong menghela napas sebelum berjalan mendekati Yuta. Tangan Taeyong bergerak menjitak dahi Yuta dan tentu saja dibalas rintihan kesakitan dari korbannya. "Justru karena kau siswi kelas akhir. Kau harusnya semakin rajin."
Yuta kesal. Bukan karena jitakan Taeyong apalagi pekerjaan rumahnya, karena sesungguhnya ia punya cara sendiri dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Ia punya seorang teman katakan saja namanya Mina. Mina itu anak rajin. Yuta selalu mencontek pekerjaan Mina pagi-pagi sebelum jam pelajaran dimulai. Tapi, ia tidak dapat menggunakan metode bertahan hidup―di sekolah―itu lagi. Penyebabnya bukan Mina sendiri, tapi seorang vampire yang―ia kira―jatuh cinta padanya.
Cuih.
Yuta sangat senang saat Taeyong mencium bibirnya malam itu, omong-omong. Ciuman itu menjadi hadiah ulang tahun terindah baginya. Sekaligus Yuta asumsikan sebagai jawaban iya dari Taeyong atas pertanyaannya soal perasaan pria itu padanya. Tapi nyatanya, ini sudah hampir masuk pertengahan minggu pertama bulan november dan Taeyong tak pernah mengatakan perihal perasaannya dengan jelas meski vampire itu masih kerap menemuinya. Setiap hari, dua kali sehari.
Sungguh, Yuta merasa kesal.
Semakin kesal, karena setiap malam Taeyong bertanya apakah Yuta punya pekerjaan rumah atau ulangan esok hari. Jika Yuta menjawab iya, maka Taeyong akan menyuruhnya belajar. Jika Yuta berbohong berkata tidak, Taeyong entah bagaimana langsung tahu dan pula memaksanya belajar. Lalu Taeyong akan mengawasinya seperti guru privat.
Ya, guru privat.
Yuta merasa bukannya memiliki seorang kekasih vampire seperti dalam cerita fantasi melainkan seorang guru privat sok tampan dengan sikap dingin.
Oh, bodohnya. Taeyong tidak pernah meminta Yuta jadi kekasihnya atau apapun. Benar juga. Ia bukan apa-apa bagi Taeyong. Ia hanya manusia yang pernah hampir jadi mangsa seorang Lee Taeyong yang juga kebetulan sering dikunjungi pria itu.
.
.
Malam sabtu, ayah Yuta pulang lebih cepat dari biasanya. Andai saja kakak Yuta tidak sedang kuliah di Tokyo, maka makan malam keluarga hari ini akan dihadiri seluruh anggota keluarga dengan lengkap.
"Yuta, kau sudah memutuskan untuk lanjut ke mana?" Ayah Yuta bertanya di sela-sela makan malam.
Yang ditanya mengangguk singkat karena mulutnya masih penuh dengan oyakodon buatan ibu. Setelah ia menelan kunyahannya, Yuta melengkapi jawabannya. "Hubungan Internasional atau Sastra Korea, kurasa aku akan mengambil salah satunya."
"Geh! Jangan bilang kau memilih jurusan itu untuk mengejar oshi-mu itu! Changmin siapalah itu." Belum apa-apa, Yuto sudah berkomentar. Membuat Yuta kesal lantas menginjak kaki Yuto keras dengan sengaja. Padahal Yuto bahkan sebenarnya ingin menyindir tentang pria Korea tampan yang mengunjungi rumah mereka beberapa waktu lalu. Tapi Yuto cukup baik hati untuk tidak membocorkan rahasia kakaknya di depan ayah dan ibu mereka.
"Pikiranku tidak sedangkal itu memilih masa depan hanya karena idolaku!"
"Maa, maa. Lagipula Yuta tidak mungkin mengambil jurusan eksakta. Kurasa itu pilihan yang bagus." Sang ibu mencoba menenangkan suasana dengan opininya mengundang senyum merekah di wajah Yuta serta anggukan setuju sang ayah.
"Jadi ibu merestuiku? Termasuk kalau aku pilih Universitas di Tokyo?" Yuta bertanya dengan antusias.
Kedua orang tua Yuta saling berpandangan sejenak. "Universitas di Osaka juga banyak yang bagus. Kenapa harus jauh-jauh ke Kanto?" balas sang ayah. Ah, dia masih belum berani melepas putri satu-satunya untuk pergi jauh.
Yuta sendiri sudah menduga jawaban itu. Kedua orang tuanya memang protektif entah kenapa. Padahal ia sendiri lebih tangguh dari perempuan kebanyakan. Sungguh Yuta tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Neechan jangan pergi. Kalau kau pergi, pada siapa aku meminjam komik?"
Oh, Yuto. Meski kalimat terdengar mengesalkan, tapi Yuta tahu adik laki-lakinya tak mau berpisah darinya. Yuta terkikih geli. "Akan kupikirkan. Tapi Ayah, Ibu. Universitas di Tokyo bagaimanapun juga lebih bagus. Kumohon pertimbangkan itu juga."
.
.
Yuta kembali ke kamarnya dengan perut kenyang. Tepat saat ia menutup pintu, ia hampir berteriak karena dikejutkan oleh sosok Taeyong yang sedang tiduran santai di atas kasurnya. Taeyong datang lebih cepat dari biasanya itu yang membuat Yuta kaget.
"Oh, Yuta. Selamat malam!" sapa Taeyong begitu menyadari keberadaan Yuta.
Yuta sendiri mengambil duduk di sisi ranjang yang berlawanan dari tempat Taeyong berbaring. "Tumben lebih cepat?" tanya Yuta berbasa-basi.
"Hm. Hanya sedang ingin," jawab Taeyong sekedarnya sebelum mendudukkan diri dari posisi berbaringnya. Ia menatap serius ke arah Yuta membuat gadis itu heran. Oke, Taeyong memang selalu terlihat serius. Hanya saja entah sejak kapan Yuta jadi seperti sudah bisa membedakan aura Taeyong. Kapan pria itu sedang santai, serius, atau sangat serius. Lalu yang Yuta rasakan sekarang, Taeyong sedang sangat serius. "Ada yang ingin kutanyakan."
Tuh, kan. "Apa?"
"Sastra Korea? Kau serius?"
Yuta terhenyak. Tidak menyangka Taeyong malah membahas jurusan yang jadi tujuannya untuk kuliah. Sungguh.
"Aku mendengar pembicaraan keluargamu. Pendengaranku tajam."
Oh. "Memang kenapa kalau aku memilih mengambilnya?" Yuta membalas tatapan Taeyong sama seriusnya.
"Kau memilihnya bukan karenaku, kan?"
Yuta mendengus. "Tentu saja bukan." Memang sebenarnya Taeyong itu salah satu faktor yang meyakinkannya untuk memutuskan pilihan, tapi bukan alasan utamanya. "Lagipula itu pilihan alternatifku. Aku lebih fokus pada yang satu lagi."
Taeyong memilih menyimak.
"Aku tidak mungkin mengambil eksakta. Memilih mendalami sepak bola pun percuma. Peminat sepak bola putri tidak sebesar itu. Tidak ada pertandingan yang menjanjikan untuk hidupku." Yuta mengendikkan bahu. "Jadi kupikir satu-satunya yang bisa kuandalkan adalah kemampuan berbicara dan wawasanku."
Taeyong menyetujui dalam hati. Yuta itu pandai bicara. Dia tidak pintar, tapi dia berpengetahuan. Taeyong yang hidup lama saja terkejut gadis semuda Yuta wawasannya sangat luas. Dia bisa membuat argumen masuk akal. Taeyong sebenarnya heran kenapa Yuta tidak masuk tim debat sekolahnya.
Taeyong menggeser badannya mendekat pada Yuta. Ia mengusap kepala gadis itu. "Kau sangat tahu dirimu sendiri. Baguslah." Taeyong sedikit berkomentar sebelum mengacak rambut gadis itu pelan.
Mendapat perlakuan begitu, Yuta sedikit merona. "Apa itu pujian?" tanya Yuta.
Taeyong hanya menjawab dengan senyuman tipis, cukup menjawab pertanyaan Yuta, sebenarnya. Tapi kenapa harus dengan senyuman, sih?
Taeyong itu terlalu memesona saat tersenyum. Hati Yuta tidak cukup kuat untuk itu.
.
.
Yuta baru saja mendudukkan dirinya tapi tiba-tiba mejanya sudah dikerubuni satu-dua temannya. "Ne, ne, Yuta-kun!" seru salah satunya. Yuta-kun, karena Yuta murid paling tampan di sekolah itu, sekolah putri, memang. Yuta memang cantik dan punya aura tampan di saat yang bersamaan tanpa sadar ia malah mengundang orang-orang di sekitarnya memanggilnya dengan suffix kun.
"Ada apa?" tanya Yuta.
"Kau ada janji besok siang?"
Yuta lantas menggeleng. "Sama sekali tidak."
"Bagus! Kau juga tidak punya pacar, kan, saat ini? Ayo, goukon!" Temannya yang di tengah mengajaknya dengan semangat. Goukon atau kencan buta, kencan kelompok. Apalah itu. "Kami butuh satu orang lagi. Kamu mau, ya? Mina-chan menolak dengan tegas!" Temannya mulai memelas.
"Uh, aku tidak bisa." Yuta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"He... kenapa?!"
"Ada seseorang yang aku..."
"KAU PUNYA PACAR?!" Temannya yang berada di sisi kiri langsung menyela dengan keras.
Yuta tertawa sarkatis. "Bukan pacar juga, sih." Ya, sampai sekarang Lee Taeyong belum mengajaknya berkencan atau apapun. Ia tidak bisa bilang kalau mereka berpacaran, kan?
"Oh. Masih digantung?" tanya temannya yang satu lagi dan entah kenapa rasanya menusuk telak di ulu hati.
"Entahlah."
Tanpa sadar, entah sejak kapan ketiga temannya sudah menarik kursi mengelilingi mejanya. "Eyy, tapi kalian belum pacaran, kan? Kita hanya perlu menggenapkan jumlah perempuannya untuk goukon ini," bujuk temannya sekali lagi.
"Benar, kau tidak perlu melakukan apa-apa, Yuta-kun. Tidak ada keharusan untuk lanjut hubungan dalam goukon. Anggap saja kita hanya bersenang-senang!"
Yuta menatap teman-temannya ragu. Mereka memaksa sekali. Akan sulit untuk menolak. "Biar kupikirkan dulu."
.
.
Yuta turun dari bus yang ditumpanginya sore itu. Sudah tidak terkejut lagi menemukan Taeyong sedang menunggunya di halte saat itu. Tanpa banyak berkata-kata, Taeyong bangkit menghampiri Yuta. Tanpa berkata apapun pula, ia mengajak Yuta pulang dengan berjalan lebih dulu ke arah rumah Yuta.
Yuta menatap punggung itu sejenak sebelum menyusulnya. Yuta sebenarnya masih heran kenapa Taeyong tiap hari repot-repot menjemput dan mengantarnya sekolah setiap hari. Apa Taeyong benar-benar tak punya sesuatu yang dikerjakan?
Yuta tidak tahu apa-apa tentang Taeyong. Taeyong adalah misteri terbesar dalam hidup Yuta. Terlalu banyak yang ganjal dan perlu dipertanyakan. Tiap Yuta bertanya, Taeyong hanya menjawab sekenanya. Tidak benar-benar menjawab. Membuat Yuta malah lelah terus bertanya karena setiap jawaban Taeyong selalu meninggalkan pertanyaan baru. Sedangkan Taeyong sendiri berbicara terlalu sedikit. Berbeda saat Yuta masih merupakan mangsa Taeyong, lelaki itu banyak berbicara yang membuat mata Yuta berbinar. Taeyong terlalu berusaha keras menarik perhatian Yuta saat itu.
Tapi saat ini ia benar-benar pendiam. Apa ini diri Taeyong yang sebenarnya?
Tapi Yuta akui Taeyong itu perhatian bahkan pada hal-hal kecil. Berbanding terbalik dengannya. Meski Taeyong enggan sekali menunjukkannya. Mungkin keengganannya itu juga yang membuat Taeyong tidak berbicara banyak.
Ah, setiap memikirkan tentang Lee Taeyong Yuta selalu jadi pusing sendiri.
.
.
"Taeyong-san." Tinggal beberapa meter jarak mereka dari persimpangan terdekat dari rumah Yuta.
Taeyong tak menjawab verbalis. Ia membalikkan badannya menghadap Yuta sebagai respon.
"Teman-temanku mengajakku mengikuti goukon." Yuta memutuskan untuk menceritakannya pada Taeyong. Ia tak benar-benar serius memikirkan tentang ajakan itu, omong-omong. Ia tak punya minat dalam kencan buta. Pergi ke tempat karaoke bersama kelompok laki-laki asing, ia bisa dikurung orang tuanya jika sampai mereka tahu. Tapi tercetus dalam benak Yuta, rasa penasaran akan reaksi Taeyong terhadap hal ini.
"Oh?" Taeyong mengerjapkan matanya beberapa kali. Tampak agak kaget; ah, sedikit lebih baik dari dugaan Yuta. "Lalu kau mengiyakan ajakan itu?"
Yuta menggeleng. "Kubilang aku masih memikirkannya."
"Berarti ada kemungkinan kau menerima ajakan itu?"
Alis Yuta terangkat sebelah heran. "Kau tidak suka aku menerima ajakan kencan kelompok itu?"
Taeyong mendengus. "Tentu saja. Ujian universitas sebentar lagi dan kau masih sempat bermain-main?"
Yuta terdiam sejenak. "Hanya karena itu?"
"Memang karena apalagi?" Taeyong menjawab sekenanya meski ada sedikit ragu dalam tatapannya.
Namun sayang, Yuta tidak menangkap keraguan dalam tatapan Taeyong itu. Terlanjur termakan oleh spekulasi kurang menyenangkan dalam pikirannya. "Oh." Yuta merespon singkat. Ia langsung menambah kecepatan kakinya berjalan. "Selamat sore, Taeyong-san!" ucapnya sebelum melesat cepat menuju gerbang rumahnya sendiri.
Taeyong hanya termangu heran, apa ia berbuat salah?
.
.
Begitu sampai di kamarnya, Yuta langsung mengirim pesan melalui LINE pada salah satu teman yang mengajaknya ikut goukon tadi.
Sacchi?
Ajakan goukon itu masih berlaku?
Hitung aku dalam kelompok kalian.
.
.
TBC
a/n: *Ketawa* ternyata bisa lanjut juga ini fic (walaupun pendek dan kurang memuaskan?) hahahaha setelah sempet berkali-kali niat drop aja dan jadiin chapter pertama sebagai oneshoot dengan ending gantung. Tapi untung masih sayang sama ide yang terlanjur ada. Ya, karena sudah terlanjur lanjut, semoga bener-bener bisa dilanjutin sampe Jaemin lahir :') /Inget? Fic ini sebenarnya sejenis side story dari fic punyanya kak El Lavender/ Chapternya gabakal panjang juga sih karena aku males, gabiasa nulis GS juga. Semoga aku kuat jangan sampai aku drop ini fic, duh.
Special thanks for: Rim, angstpoem, deerianda, Min Milly, Arisa Hosho, JenTababy, seeuhun, preidshik, rethasuh, El Lavender, wakaTaeYu, kim991, yxnghua, cacacukachanhun, Yuta Noona, yutasbrightfuture, pepibabykyu and those who did fav and follow! Also ones who give support through chat and PMs
Lastly, thanks for reading!
