Aku berjalan menelusuri jalanan yang biasa kulewati ini dengan lesu dan lunglai bagaikan orang yang sudah kehilangan kewarasannya. Ya, aku gila! Aku menjadi gila karena hantu sial itu terus mengikutiku kemanapun aku pergi! Terkadang aku sampai harus berteriak dan mengibaskan tanganku untuk mengusirnya pergi dari hadapanku.

Tentu saja orang - orang akan menganggapku gila, tapi biarlah. Toh mereka juga tak akan percaya jika aku berkata bahwa hidupku sedang kacau akibat hantu gila yang terus menerus menempel padaku.

D+1 Setelah bertemu Hantu

"Hei, siapa namamu? Kenapa kau diam saja? Kau mengabaikanku ya? Warna matamu sangat indah." Hantu itu melayang - layang di atas kepalaku, aku bahkan tak dapat memakan sarapanku dengan baik karena ulahnya yang sangat mengganggu.

"Hei, kau benar - benar mengabaikanku? Huh!" Ia berpaling dari padaku. Akhirnya aku dapat menikmati duniaku yang damai kembali.

"Boo!" Hantu itu muncul secara tiba - tiba dari bawah mangkuk sereal yang sedang kusantap dan berteriak tepat di hadapan wajahku dengan wajah jeleknya. Ia merubah wajah cantiknya - ups, ralat! Maksudku wajah normalnya menjadi wajah seseram zombie!

"Bruh! Ohok ohok ohok!" Kusemburkan sereal yang ada dalam mulutku tepat pada wajahnya. Aku tersedak dan mencoba memukul dadaku untuk memulihkan kembali kondisiku.

"Hei hantu gila! Apa kau berniat membunuhku, hah?!"

"Tidak masalah kan? Bukankah kau sangat ingin mati?" Ujarnya dengan santai, Ia menopangkan tangannya pada kepalaku.

Twitch*

Urat - urat perempatan muncul di seluruh dahiku. Aku tidak tahan lagi! Kumohon, demi Kami sama! Usirlah hantu ini dan jangan biarkan Ia menggangguku lagi!

"Hei, hantu! Apa kau tidak ingin kembali ke tempat asalmu? Di mana rumahmu? Neraka? Surga? Kutebak dari kelakuanmu mungkin kau tinggal di neraka!" Ujarku memanasi.

Namun reaksi yang kuterima sangatlah berbeda dengan ekspektasiku. Gadis itu merubah air wajahnya serta menitikan beberapa tetes air mata, Ia terdiam lalu sesaat Ia pergi menghilang dari hadapanku.

Wajah yang menyedihkan itu, mengapa nampak tak asing bagiku?

D+2

Hari ini gadis hantu itu sama sekali tak menampakkan wujudnya padaku. Terbesit rasa bersalah dalam hatiku saat aku mencoba mengingat ekspresi wajahnya kemarin. Tunggu dulu! Kenapa aku harus merasa kasihan terhadap hantu? Bukankah itu adalah kesalahannya sendiri, siapa suruh terus mengganggu kehidupanku dan menggagalkan rencanaku untuk mati.

"Haah, akhirnya hari ini aku bisa mati dengan tenang." Gumamku, hari ini sudah kuputuskan bahwa aku akan mati di rumah. Biarlah aku mati bersama dengan kenangan yang berada di dalam rumah ini.

Aku ingin kematian yang cepat dan mudah. Bagaimana jika menggunakan racun? Ya, kematian yang cepat dan indah. Kubuka lemari peninggalan Ibuku, beliau menyimpan sebotol racun sianida. Aku sendiri pun tak tau apa alasan Ibu menyimpan racun yang amat mematikan tersebut. Racun itu pulalah yang menjadi penyebab kematian Ayahku di masa lalu.

"Sayonara..." Tangan kananku membuka botol yang berisi sianida yang terbungkus rapi dalam sebuah kapsul. Aroma kematian menyeruak menembus hidungku sesaat setelah aku membuka tutup botol tersebut dan sesaat sebelum aku menegak seluruh kapsul itu, suara teriakan mengejutkanku dari belakang.

"Apa yang kau lakukan!"

"Akh!" Keterkejutanku membuat botol yang berisi racun itu terlepas dari genggamanku dan dengan indahnya berserakan di atas lantai yang basah dan lembab.

"Kau! Kenapa kau kembali?!" Teriakku kesal namun mengapa? Kenapa hatiku terasa begitu hangat dapat melihatmu kembali?

"Karena kau benar - benar bodoh! Tidak bersyukur! Mengesalkan! Kekanak - kanakan! Manja! Tidak menghargai hidup! Mengasihani diri sendiri!" Ocehan - ocehan gadis itu bagaikan pisau yang menusuk kepalaku.

"Tau apa kau tentang kehidupanku?!"

"Aku memang tak tau tentang kehidupanmu! Namun taukah kau tentang kehidupanku? Bagaimana rasanya tak dapat pergi kemana pun? Terjebak dalam dunia ini? Melihat orang - orang bahagia sedangkan aku tersiksa? Apa kau pernah berpikir untuk berada dalam posisiku?!"

Tak pernan terpikirkan olehku tentang kehidupan orang lain yang lebih sulit daripadaku. Sejak dahulu, aku selalu menganggap bahwa diriku adalah manusia paling malang di muka bumi ini. Dan sejak itulah selalu muncul dalam pikiranku, kalau kematian mampu mengubah segalanya.

"..."

"Mulai saat ini sudah kuputuskan! Misiku adalah untuk menyelamtakan jiwa penuh dosa sepertimu! Akan kugagalkan setiap rencana bunuh dirimu dan membuatmu menghargai arti kehidupan ini!" Ujar hantu itu semangat sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengarahkannya padaku.

"Yosh! Ganbatte ne, manusia!"

"Hei! Aku punya nama dasar hantu! Seenaknya saja kau memanggilku manusia!"

"Biar saja, toh kau juga menolak memanggilku dengan nama Hime)*" Jawabnya santai. Oh Kami sama, berikan aku kekuatan agar tidak membunuh gadis ini - Ralat, HANTU ini.

D+ 3, 4, 5 +++++

Semenjak saat itu aku tak pernah bisa pergi kemana pun dengan tenang. Hantu itu, sang Hime selalu mengawasiku selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan tak sederik pun mengalihkan pandangannya daripadaku.

Di kamar tidur

"Manusia, apa kau sudah tidur? Hei, walau kau memejamkan matamu namun aku tau bahwa kau hanya berpura - pura. Iya kan manusia? Hoi, jawab aku manusia." Ujar hantu itu sambil menusuk - nusukkan jarinya ke pipiku yang berusaha untuk tidur.

Di kamar mandi

"Wah, kau sangat tampan ne, manusia. Roti sobek, roti sobek. Aku jatuh cinta." Ujarnya padaku yang sedang telanjang bulat di bawah guyuran shower. Rayuan gombalnya membuatku ingin muntah.

'Sabar Naruto, sabar.'

Di dalam toilet

"Wah, bahkan punyamu sangat besar ya manusia. Hm, apa sudah keluar semua? Sepertinya kau setiap hari makan bunga ya, karena pup-mu tercium sangat harum di indra penciumanku." Cukup! Kali ini aku tak mampu menoleransinya lagi!

"Hei! Bisakah kau beri aku ruang! Dasar hantu sial!" Teriakanku menggema ke seluruh sudut rumah. Biarlah para tetangga menganggapku gila! Karena aku memang sudah gila! Aku tak mampu menghilangkan halusinasi dan bayang - bayangku tentang hantu itu dari hadapanku!

Now

Suara langkah kakiku yang berlari menyusuri jalanan menuju bukit menggema keras, aku berlari dan terus berlari. Menghindari kejaran hantu sinting yang terus mengejarku. Mungkin saja aku bisa mengembalikan hantu itu ke tempat asalnya. Dia berasal dari bukit angker itu dan akan kukembalikan Ia ke sana.

"Oh Kami sama! Tolong bawa kembali makhluk ciptaan-Mu ini kembali ke asalnya! Aku sudah tidak tahan! Aku tidak akan bunuh diri! Aku akan bertobat! Karena itu, kasihani aku!"

"Hmph, hahaha! Percuma saja manusia tampan, Kami sama tidak akan mendengar doamu. Karena ucapan yang kau katakan tidak keluar tulus dari dalam hatimu."

"Berhenti menggentayangiku, sialan!" Teriakku keras. Aku menjambak surai pirangku kasar, aku tidak tahan lagi! Kelereng biruku menatap ke arah jurang yang tak jauh dari sana. Benar juga!

Hantu tidak dapat melakukan kontak fisik dengan manusia bukan? Jadi bagaimana jika, aku terjun saja ke dalam jurang itu? Dan Ia tak akan mampu menghalangiku lagi. Lihat saja dasar hantu brengsek, siapa yang lebih berkuasa kali ini, hahahaha.

"Hei, hantu! Lihat, ada bintang jatuh!" Ujarku mengalihkan perhatiannya.

"Eh? Apa?" Bingo! Dia benar - benar mengalihkan perhatiannya. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk lari dengan kencang menuju jurang yang gelap dan dalam.

Kematian, aku datang!

[•••]

つづく

09.10.16 ©Yuki Hime