Disclaimer: Vocaloid bukan milik Author Rina.

Oke, biar cepet, langsung ja to the point ceritanya. Selamat membaca~


Rin POV


Saat aku menyadarinya, daun-daun mulai berubah warna menjadi kuning, tanda bahwa sekarang sudah memasuki Musim Gugur. Angin dingin khas musim gugur juga mulai terasa di udara Istana.

Sekarang ini aku sedang berjalan-jalan di taman Istana, sambil melihat perubahan-perubahan yang sedang terjadi di sekelilingku. Daun-daun yang menguning memang terlihat sangat indah di mataku.

"Sudah 3 bulan sejak Lily-nee pergi…" gumamku sambil berjalan-jalan di wilayah Timur Istana.

Lily-nee berjanji akan pulang pada saat Tahun Baru, yaitu 3 bulan lagi. Lily-nee sedang pergi melakukan investigasi ke wilayah kerajaan yang lainnya. Dia bahkan sudah mendapatkan surat izin investigasi dari pihak kerajaan, meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku…

Saat aku melamun, aku mendengar suara sapaan dari samping, "Rin!"

Spontan aku menengok dan aku melihat Rei-sama yang sepertinya juga berjalan-jalan. Secara refleks aku merasa takut, takut bahwa Rei-sama akan melakukan sesuatu padaku. Aku ingin menjaga janjiku kepada Lily-nee dan lagipula… hatiku sudah untuk Len.

Tapi, karena aku tetap saja merupakan tunangannya, aku menjawab, "Rei-sama, jarang sekali saya melihat anda berjalan-jalan di sekitar sini," ujarku dengan berusaha mempertahankan kesopananku.

Rei-sama hanya tersenyum kecut, lalu berkata, "Terkadang melarikan diri dari tugas-tugas kerajaan terasa menyenangkan," ujarnya sambil berjalan mendekatiku.

Tanpa kusadari, aku mengambil selangkah mundur dari Rei-sama, dan segera mengalihkan pandanganku pada tempat lain. Aku ingin seseorang datang kesini! Siapa saja pun boleh!

"Aku hanya merasa, akhir-akhir ini kau menghindariku Rin," ujar Rei-sama yang berhenti melangkah mendekatiku. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang berhenti di atas dedaunan yang berserakan.

Aku hanya menelan ludah dan berusaha untuk menghindari kontak mata, saat Rei-sama berkata, "Kau… menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Rei-sama dengan nada yang serius.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghadap ke arahnya dan membungkukkan badanku sebentar. Aku kemudian melihat ke arahnya secara langsung, namun aku tidak memandang matanya. Aku tidak bisa membiarkan Rei-sama melihatku. Aku harus menghalaunya dari mendekati hatiku.

"Saya hanya mengkhawatirkan tentang kesehatan kakak saya yang sedang bertugas," ujarku dengan nada sesopan mungkin.

Rei-sama menghela nafas lega, lalu dengan santai dia berkata, "Kau benar-benar menyayangi Lily, ya… yah, jangan khawatir dia akan segera pulang," ujar Rei-sama.

"Oh… tapi saya masih saja khawatir…" ujarku dengan berusaha untuk membelokkan topik.

Rei-sama dengan lembut berkata, "Kau adik yang baik, Rin…" ujar Rei-sama.

Tepat saat Rei-sama selesai mengatakan itu, aku merasakan tangan besar di pundakku. Aku segera melihat pemiliknya dan menyadari bahwa Rei-sama sudah sangat dekat denganku. Tubuhku tidak mau mundur ataupun melakukan sesuatu. Aku hanya… membeku di tempat.

"Tapi, aku ini tetaplah calon suamimu, Rin…" ujar Rei-sama.

Saat aku menyadarinya, Rei-sama sudah memperangkapku di antara kedua tangannya, dengan punggungku yang bersandar pada sebuah batang pohon. Aku terperangkap…

"R-Rei-sama…" ujarku dengan berusaha untuk melarikan diri. Tidak, aku tidak mau didekati oleh orang lain selain Len!

Rei-sama berada sangat dekat denganku hingga aku bisa merasakan nafasnya di kulitku. Tapi, aku tidak bisa mendorong Rei-sama, karena meski hatiku tidak lagi dia miliki, di luar aku masih merupakan milik Rei-sama. Karena aku adalah… tunangannya.

Saat aku merasakan bahwa kepala Rei-sama sudah mulai mendekati leherku, aku mendengar sesuatu terjatuh, seperti suara sebatang sapu yang jatuh.

Spontan Rei-sama berhenti, dan aku juga melihat ke arah suara. Disana berdiri seorang gadis dengan rambut berwarna silver dengan sedikit hint warna pink yang sangat panjang. Rambutnya itu dia kepang menjadi dua semuanya. Matanya berwarna biru aquamarine dan tampak sangat bulat karena kaget. Tangannya melepaskan sapu yang ada di tanah. Dia yang menyelamatkanku…

Dengan cepat dia segera berkata, "Ma-ma-ma-ma-maaf, sa-sa-sa-sa-saya… a-a-a-a-a-akan pe-pe-pergi…" ujarnya lalu mengambil sapu yang terjatuh dan melarikan diri.

Tapi, entah kenapa aku melihat matanya seakan memerintahkanku untuk mengikutinya. Lagipula, aku juga yakin bahwa dia sebenarnya bukanlah seseorang yang tergabung dalam petugas kebersihan istana. Aku mengenal semua orang yang ada disini.

Tapi, setidaknya dia membantuku untuk kabur, sehingga aku harus berterimakasih…

"Re-rei-sama, maafkan saya. Kau yang disana, tunggu dulu!" ujarku sambil mendorong Rei-sama lalu mengejar gadis yang melarikan diri itu tadi.


(Tanpa sepengetahuan Rin…)

"Cih… dia berhasil kabur…" decak Rei dengan mengacak-acak rambutnya.

Dia melihat ke arah dimana pengganggunya tadi pergi, namun memutuskan untuk meletakkan masalah itu dulu. Masih ada yang jauh lebih penting…

"Kalau aku tidak cepat-cepat, cahaya itu akan bergabung dengan yang satunya lagi… dan kekuatan yang dijanjikan untukku akan menghilang, sial!" gumamnya sambil menendang pohon di hadapannya.


(Back to Rin~)

Aku berlari mengejar orang tadi dengan sekuat tenagaku. Tapi, aku kehilangan jejaknya saat aku sampai di sebuah tempat yang sudah tidak kusadari sebagai bagian dari istana, meski aku tahu tempat ini masih merupakan wilayah istana. Singkatnya, tempat ini belum pernah kulewati sebelumnya.

Disini, terdapat banyak petak-petak bunga yang terisi dengan bunga berwarna-warni yang sangatlah indah. Anehnya, sekarang Musim Gugur, tapi bunga-bunga ini masih belum kering.

Saat aku masih sibuk memikirkan bagaimana keadaan alam ini terjadi, seseorang menyapaku dari belakang.

"Anda merupakan Lady Rin Kagamine, bukan?" ujar suara itu.

Aku segera berbalik dan aku melihat gadis itu lagi sedang berdiri menghadap ke arahku. Aku hanya melihat ke arahnya dengan heran, dia seperti baru melihatku untuk yang pertama kali, tapi dia seperti sudah sangat mengenalku. Belum lagi, aku melihat sesuatu yang runcing di balik rambutnya itu.

"Iya… lalu siapa kau?" ujarku sambil menanyakan tentang siapa dia.

Dia hanya tersenyum dengan gaya misterius, sebelum kemudian berkata, "Nama saya adalah IA. Saya datang kesini atas instruksi dari Tuan Kagamine untuk membawa anda ke Ragnavenia," ujarnya dengan senyumnya itu.

"Ragnavenia?" ulangku dengan heran.

Seingatku, negeri itu adalah sebuah negeri sihir, semua orang yang ada disana hidup dengan menggunakan sihir. Negeriku sendiri, Alvenia, menganggap kerajaan itu musuh, karena sihir dianggap sebagai ilmu yang melanggar hukum dari langit. Tapi, aku sendiri tidak terlalu menganggap bahwa sihir adalah ilmu hitam. Aku pernah membaca buku bahwa sihir yang mereka gunakan tidak seperti itu.

Tapi, dia, IA, bilang bahwa 'Tuan Kagamine' yang memberi dia instruksi untuk membawaku kesana. Tapi, aku yakin dia tidak bermaksud tentang ayahku, dia mengatakan tentang orang lain dengan nama sama, tapi tidak kukenal. Tapi, aku merasa bahwa aku mengenal orang yang dia maksud…

"Benar, ada orang lain lagi yang telah menunggu anda disana. Saya yakin, Lady Rin pasti sudah mengenal orang ini dengan sangat dekat…" ujar IA dengan lembut.

Aku melihatnya dengan penasaran. Aku merasa bahwa aku harus pergi ke Ragnavenia sekarang, tapi bagaimana dengan orang-orang yang ada disini? Apakah mereka tidak akan mencariku? Tempat itu kan sangat jauh dari tempat ini…

Tapi, saat aku melihat IA… dia seperti menyembunyikan sesuatu yang ingin kuketahui. Dia mengulurkan tangannya kepadaku, seakan ingin aku menggapainya.

Entah ini merupakan trik atau bukan, aku merasa bahwa aku mendengar suara Lily-nee yang memintaku untuk mengambil tangan itu. Aku sendiri juga merasa bahwa semakin lama aku berada di tempat ini, maka ikatanku dengan Len akan menjadi semakin tipis sebelum kemudian menghilang. Aku tidak mau… aku tidak mau Rei-sama mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Len…

Aku kemudian mengambil langkah untuk mendekati IA, lalu mengulurkan tangan kananku untuk menggapai tangannya yang sudah terulur. Aku merasa ragu saat aku merasakan jariku dan IA bersentuhan dan aku masih memikirkan apakah keputusanku ini tepat.

IA tetap tersenyum dan menungguku dengan sangat sabar.

Saat aku akhirnya menggenggam tangannya dan melangkah cukup dekat, hingga jarak kami hanya tinggal beberapa langkah. IA berkata, "Apa saya boleh menghentikan aksi bahasa sopan ini dan memanggil anda dengan panggilan Rin?" tanya IA dengan melihatku secara sedih, seakan aku mengingatkannya akan sesuatu atau seseorang yang sudah tiada.

Aku terkejut atas permintaannya, tapi melihat wajahnya yang seperti itu, aku merasa bahwa aku tidak boleh menolak, sehingga aku berkata, "Tentu, tapi sebelumnya boleh aku tahu nama lengkapmu?" ujarku sambil melemparkan pertanyaan. Jika IA akan menjadi temanku, maka seorang teman setidaknya harus tahu nama lengkap temannya itu.

IA nampak terkejut lalu dengan tersenyum cerah dia menjawab, "IA Aria Planet, semua orang memanggilku IA. Senang bertemu denganmu Rin," ujarnya.

Aku terkejut melihat senyum IA yang manis dan dia tampak sangat imut, sehingga tanpa sadar aku berkata, "Aku juga IA. Namaku adalah Rin Kagamine, panggil saja Rin," ujarku dengan menghentikan perkataan sopanku.

IA hanya tersenyum, seakan menemukan sesuatu yang selama ini dia cari, lalu dengan tersenyum dia berkata, "Tutuplah matamu Rin, kita akan segera berangkat ke Ragnavenia," ujar IA dengan senyumnya itu.

Aku hanya menggangguk lalu menutup mataku. Saat aku menutup mata, aku mendengar IA mengucapkan sesuatu yang tidak kumengerti, dan aku juga tidak berniat untuk mengerti. Setelah IA mengatakan itu, aku merasakan tubuhku menjadi sangat ringan seperti kapas, dan terasa seperti melayang di udara, meski aku tidak tahu rasanya.

Perasaan itu mengisi kepalaku selama beberapa lama, hingga aku mendengar suara IA yang berkata, "Bukalah matamu, kita sudah sampai," ujarnya.

Seperti instruksi IA, aku membuka mataku perlahan-lahan dan melihat bahwa tempat aku berdiri sudah berubah dengan drastis.

Di sekelilingku terdapat tembok yang terbuat dari kaca yang berkilauan dengan penyanngga silver. Di kiri dan kanan terdapat banyak sekali bunga berwarna-warni yang belum pernah kulihat di kerajaanku atau kerajaan lain yang pernah kukunjungi. Dari dalam sini, sinar matahari terasa sangat hangat dan juga menenangkan. Di bawah kakiku terdapat banyak sekali gambaran dengan menggunakan huruf yang tidak bisa kubaca, hingga membentuk sebuah hexagram. Jika kalian belum sadar, aku berada di sebuah Rumah Kaca, dan sepertinya tempatku berdiri adalah portal.

"A-a-a-a-a-a…" meski di kepalaku aku sudah bisa tenang, tapi kenyataan bahwa aku sudah dipindahkan ribuan mil dalam waktu singkat membuatku sedikit kaget, oke, ralat, sangat kaget. Dan ini juga pertama kalinya aku melihat sebuah portal yang asli!

"Selamat datang di kerajaan Ragnavenia, Rin,"

Aku tidak bisa berbohong bahwa suara itu terdengar amat sangat tidak asing di telingaku…

Spontan aku berbalik dan melihat seseorang yang tidak kusangka-sangka…


IA POV


Saat aku merasakan tangan Rin di tanganku, aku merasakan kehangatan yang kurasakan pada Rilia-sama. Mungkin ini memang merupakan takdirku, untuk melayani orang-orang dengan 'Cahaya' di dalam mereka. Bukannya aku protes, tapi justru sebaliknya, melayani mereka merupakan sesuatu yang sekarang menjadi tujuanku hidup. Kehangatan mereka membuat hatiku tenang, dan aku ingin terus melihat senyum mereka. Karena itulah, aku ingin Rin berteman denganku…

Rin tampak kaget saat dia melihat Rumah Kaca Istana, bukannya aku tidak kaget tentang reaksinya. Karena Rin bukanlah orang pertama yang berwajah seperti itu saat melakukan teleportasi. Aku ingat dulu aku juga sama saat mencoba pertama kali.

Sesaat kemudian, aku merasakan hawa sihir seseorang yang mendekat. Aku segera menoleh ke arah pintu dan melihat Lilia yang memakai pakaian Valkyrie miliknya disana. Aura sihirnya memiliki warna kuning seperti petir, karena elemen yang dia kuasai adalah petir, dan elemen itu sangatlah jarang dimiliki oleh orang-orang, sehingga menyadarinya sangatlah mudah.

Dia melihatku dengan tersenyum, dan aku hanya membalas senyumannya dengan senyuman juga. Dia kemudian melihat Rin, dan wajahnya menjadi sangat lembut. Dia menutup matanya, sebelum berkata, "Selamat datang di Ragnavenia, Rin,"

Rin segera mengalihkan pandangannya ke arah Lilia, dan dia tampak sangat terkejut dengan penampilan Lilia. Memang rambut Lilia menjadi lebih terang, dan matanya menjadi lebih dalam dibandingkan sebelumnya, tapi dia tetaplah Lilia yang dulu.

"Lily-nee…" ujar Rin dengan nada yang bergetar.

Lilia… atau dikenal Rin dengan sebutan "Lily" merupakan kakak dari Rin. Nama aslinya sebelum pindah kemari adalah Lily Kagamine. Tapi, keinginannya untuk berpihak pada kami, membuatku memberikannya nama baru, Lilia Lily Kagamine, serta penampilan yang sedikit berubah.

"Iya, ini aku Rin. Aku senang akhirnya kau datang," ujar Lilia dengan tersenyum ke arah adiknya itu. Rin melihat Lilia dengan tidak percaya, tapi dengan segera dia berlari menuju Lilia dan mereka berpelukan dengan sangat erat.

Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu saat-saat keluarga mereka, tapi entah kenapa aku tidak ingin tersisih dari tempat ini, sehingga aku menyapa Lilia.

"Aku pulang Lilia…" ujarku sambil berjalan mendekati mereka berdua.

Lilia mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu dengan tetap membelai rambut adiknya dia berkata, "Selamat datang kembali IA. Kau tidak terlambat bukan? Adikku masih aman-aman saja bukan?" tanya Lilia dengan beruntun.

Aku hanya tertawa kecil, Lilia benar-benar memiliki masalah dengan sister complex. Adiknya, Rin, memang sangat cantik dan manis, belum lagi dia memiliki 'Cahaya' yang secara alami akan menarik berbagai macam orang mendekat, baik yang jahat atau yang baik.

"Jangan khawatir Lilia. Aku berhasil menghalangi tepat waktu," ujarku dengan menahan tawaku untuk keluar lagi, karena wajah Lilia tampak sebal melihat tawaku.

Rin sepertinya sudah menjadi lebih tenang, lalu dia melepaskan dari pelukan Lilia, dan bertanya, "Apa yang Lily-nee lakukan disini? Bukannya Lily-nee pergi ke tempat lain? Lalu kenapa IA memanggil Lily-nee dengan nama 'Lilia'?" tanya Rin secara beruntun.

Aku melihat ke arah Lilia dan Lilia mengangguk, memberiku izin untuk mengatakan apa yang telah dia lakukan. Aku berdehem sedikit, membuat perhatian Rin teralih padaku. Setelah aku yakin Rin melihat ke arahku, aku mulai bercerita, "7 Bulan yang lalu, Lilia… atau kusebut Lily, bergabung dengan negeri kami dan bergerak di negeri Alvenia sebagai mata-mata kami. Kami, Ragnavenia beserta dengan aliansi kami, berniat untuk mengobarkan api perang pada negeri itu," ujarku menceritakan garis besar dari rencana aliansi negeri kami.

Mata Rin segera terbelalak kaget lalu dia melihat Lilia dengan tatapan tidak percaya. Kenapa? Tentu saja karena secara tidak langsung, aku menyebutkan Lilia sebagai pengkhianat di negeri Alvenia. Tapi, karena itu kenyataannya, lebih baik Rin tahu.

"Itu benar Rin…" ujar Lilia dengan lembut ke arah Rin.

Rin tampak terkejut, lalu dengan tidak percaya dia berkata, "Ta-ta-ta-ta-ta-tapi… Alvenia… Alvenia itu… la-lalu… Alvenia… dengan Ragnavenia… bu-bu-bukannya… e-e-eh!" ujar Rin dengan tidak baku dan perkataannya sangat tergagap.

Aku kemudian melanjutkan, "Alvenia sudah melanggar janji perdamaian di antara kami. Alvenia, secara diam-diam telah menyelundupkan seorang mata-mata dan membunuh Ratu kami saat Yang Mulia masih berumur 15 tahun. Kami tidak mencurigai secara subyektif, karena secara obyektif, bukti mengacu pada Alvenia… dengan satu serangan itu, hubungan damai sudah putus antara kami. Lalu, kami sudah tidak bisa tinggal diam akan kekejaman Alvenia kepada negeri-negeri di bawah naungan aliansi Ragnavenia," ceritaku lagi.

Rin tampak terguncang, karena dia memang tidak tahu tentang hal ini. Saat itu dia bahkan masih berumur 10 tahun dan dia tidak mungkin tahu tentang hal-hal seperti ini. Para Bangsawan disana hidup dalam kebutaan… kecuali satu orang. Lilia menyadari kesalahan kerajaannya dan dia bersedia menghukum darah dagingnya sendiri sesuai aturan kerajaan kami.

Lilia mencengkram pundak Rin. Rin melihat ke arah Lilia dengan ketakutan, namun Lilia berkata, "Aku tidak peduli akan Alvenia lagi semenjak aku mengetahui hal ini dalam beberapa misi yang pernah kuemban. Aku serius atas tindakanku ini Rin, meski nantinya aku akan membunuh Keluarga Kagamine, karena aku teguh dengan ini. Aku tidak ingin kau menjadi korban juga, karena kau penting bagiku. Kau adalah satu-satunya keluargaku, orang yang paling kusayangi," ujar Lilia dengan nada memohon.

Rin tampak terguncang atas perkataan Lilia, lalu dia bertanya, "Lalu… kenapa aku dibawa kesini sementara aku tahu bahwa kerajaan tempatku tinggal akan hancur? Bukankah ini akan… membuat rencana kalian semua akan gagal?" ujarnya dengan nada tidak mengerti. Wajahnya tampak sangat sedih.

"I-itu…" Lilia tampak kebingungan untuk menjelaskan.

Perkataan Rin memang ada benarnya, tapi dia juga merupakan salah satu alasan kami menyerang Alvenia. Dengan lembut aku menjawab, "Karena kau itu penting Rin. Kau penting bagi Yang Mulia. Kau penting bagi Lilia. Kau penting bagi Ragnavenia. Kau adalah 'Cahaya' bagi kami," jelasku pada Rin.

Rin kemudian berkata, "Kenapa aku penting bagi kalian semua? Aku hanya seorang putri Duke yang ditunangkan dengan Pangeran negeriku, dan akan menjadi Ratu mereka. Aku adalah musuh kalian. Dan jika benar begitu, bukankah seharusnya menjalin hubungan baik dengan Alvenia? A-aku tidak mengerti sama sekali…" ujarnya dengan nada kebingungan dan tersesat.

"Untuk itu… Ragnavenia tidak mampu mengabulkannya. Alvenia sudah melangkahi batas mereka sejak lama dan itu tidak bisa diurai kembali. Kau itu sangatlah penting Rin, karena kau merupakan 'Cahaya', kau memberikan kami kebahagiaan," ujar Lilia dengan berusaha untuk menenangkan Rin yang tampak panik.

Aku merasa marah atas sikap Rin terutama bagian 'Pertunangan'. Karena tidak akan kubiarkan itu terlaksana lebih dari sekedar itu. Rin tidak boleh dimiliki oleh negeri terkutuk itu!

Dengan buru-buru aku mengambil tangan Rin yang mengenakan cincin silver yang merupakan bukti simbolik dari upacara itu. Rin tampak kaget saat aku mengambil tangannya itu dengan wajah yang marah. Oh, aku sangat marah sekarang ini, aku yakin wajahku seperti itu sekarang.

"I-I-I-IA…?" ujar Rin dengan nada tanya padaku saat dia melihat apa yang kulakukan sekarang.

Dengan paksa aku mencabut cincin berwarna silver itu dan menyimpannya dalam sebuah wadah sihir yang hanya bisa dibuka olehku dan kulenyapkan dari pandangan untuk disimpan di ruanganku. Dengan marah aku berkata, "Cincin ini sudah hilang sekarang! Jadi, apakah kau bisa mengatakan bahwa kau adalah tunangan dari Pangeran Alvenia?"

Rin berhenti bergerak setelah aku berkata itu. Dia menjadi jauh lebih tenang. Lilia berhenti memojokkannya dan kini berusaha menurunkan emosiku yang naik.

Rin dengan perlahan mendekatiku, dan dia mengulurkan kedua tangannya, sebelum kemudian memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan bahwa dia menangis, meski menangis tanpa suara. Dengan pelan dia berkata, "Tidak… tanpa cincin itu… tidak lagi…" ujarnya dengan perlahan.

Aku membalas pelukannya, lalu aku bertanya, "Apa kau memiliki keinginan untuk melindungi tempat itu sekarang?" tanyaku dengan perlahan.

Rin kemudian berkata, "Tapi aku tidak tahu kenapa aku harus berkhianat…" ujarnya.

Lilia tampak lega setelah Rin melepaskan pelukannya setelah mengatakan itu. Rin melihat Lilia dengan tatapan yang tampak tersesat. Lilia kemudian memberi tanda mata kepadaku. Aku memahami apa maksudnya dan beranjak duluan untuk memberikan Yang Mulia laporan tentang kehadiran Rin.

Dari jauh, aku bisa mendengarkan suara Lilia berkata, "Ada seseorang yang ingin menemuimu Rin… ikutlah denganku, karena mungkin dia akan menjadi alasanmu…"

Aku hanya tersenyum sendiri. Oh, betapa bahagianya Yang Mulia akan, atas berita ini…


Rin POV


Aku masih merasa sedikit terguncang atas apa yang telah kupelajari dalam setengah hari. Pertama, Rei-sama hendak melakukan sesuatu kepadaku. Lalu, aku bertemu dengan IA, seorang penyihir yang berasal dari negeri Ragnavenia. Lalu… aku juga…

"Ayo Rin, masih ada banyak yang harus kita ceritakan," ujar Lily-nee yang tampak senang di hadapanku.

… bertemu kembali dengan Lily-nee. Lalu, aku juga mengetahui bahwa Lily-nee adalah pengkhianat bagi negeriku (meski tak ada yang tahu). Lalu, IA mengambil cincin pertunanganku dan membuangnya entah kemana, yang entah kenapa membuatku merasa sangat lega.

Aku juga mengetahui bahwa keberadaanku dianggap penting bagi Ragnavenia. Mereka menyebutku sebagai 'Cahaya', cahaya yang membawa kebahagiaan bagi mereka. Tapi, meski aku yang meminta agar mereka tidak mengobarkan perang, sepertinya itu tidak akan terjadi. Negeriku sudah melakukan kesalahan yang fatal dengan melanggar perjanjian damai.

Lily-nee disini dikenal dengan sebutan 'Lilia' dan merupakan seorang 'Valkyrie', prajurit wanita Ragnavenia, dan juga seorang penguasa petir. Meski banyak yang memusuhi Lily-nee, dia merupakan prajurit yang sangat disegani, meski dia baru saja bergabung kurang dari 1 tahun. Keteguhan Lily-nee yang membuat hati orang-orang disini tergerak, sepertinya.

"Lily-nee kita akan kemana?" tanyaku lagi untuk yang entah ke berapa kalinya.

Lily-nee membawaku memasuki wilayah sebuah istana yang memiliki warna gelap. Lily-nee menjelaskan, istana ini berwarna gelap, karena hanya ada 'Kegelapan' disini. Tapi, meski begitu, istana ini tetaplah indah, dengan kemegahan ruangan-ruangan yang ada di dalamnya.

Lily-nee hanya tersenyum dan berkata, "Nanti kau akan tahu," ujar Lily-nee dengan penuh makna.

Setelah beberapa lama kami berjalan menyusuri lorong, melakukan teleportasi kesana kemari. Kami akhirnya sampai di depan sebuah ruangan, dimana IA sudah berdiri di hadapannya, sepertinya menunggu kedatanganku dan juga Lily-nee.

IA tersenyum kepadaku, lalu dia berkata, "Dari titik ini, hanya Rin yang boleh masuk. Ini merupakan perintahnya," ujar IA entah kepadaku atau kepada Lily-nee.

Lily-nee hanya tersenyum, lalu dengan santai dia berkata, "Ohoho, sepertinya dia mulai sedikit egois tentang ini. Baiklah, aku akan biarkan Rin masuk sendirian. Lagipula, 'Kegelapan' dan juga 'Cahaya' sudah ditakdirkan untuk bersatu," ujar Lily-nee yang berhenti di depan IA.

Aku memiringkan kepalaku, lalu dengan lembut IA membukakan pintu, tanpa berpikir untuk melihat ke dalam. Dia bergerak ke pinggiran sambil membungkukkan badan, Lily-nee juga melakukan hal yang sama.

Karena IA berkata bahwa hanya aku yang boleh masuk, maka aku memasuki ruangan, yang merupakan sebuah kamar tidur kerajaan. Setelah aku memasuki ruangan, aku bisa mendengar suara pintu yang tertutup. Tapi, aku tidak peduli akan itu saat ini. Karena, tubuhku membeku dan tidak bisa bergerak, saat aku melihat sesosok orang yang tidak salah lagi adalah dia… jadi… seperti kata Lily-nee, dia…

"Akhirnya kau datang Rin… aku sangat merindukanmu…" ujarnya.

Aku tidak mampu mempercayai mataku sendiri… telingaku juga terdengar berbohong… tapi, ini adalah kenyataan. Orang yang kukira tidaklah seperti yang kupikirkan sebelumnya. Karena…

"Len…?"

… karena kami bertemu lagi… sebagai musuh…


Oke, tolong review kalau mau~ XDDD Ini sebenar na draft udah ada, tinggal upload, tapi lihat2 dulu deh~ XDDD