Tidak. Adil.
Pernahkah kalian merasakan perasaan itu dalam sejarah kehidupan membosankan kalian?
Pasti pernah sih ya? Pernah 'kan ya? Pernah ya?
Ya sudah sih ngaku aja pernah biar gak repot.
Jimin membatin sewot dalam hati.
Setidaknya pasti kalian pasti punya perasaan semacam terdiskriminasi seperti yang saat ini Jimin rasakan 'kan? Meskipun hanya sedikit saja, Jimin benar-benar akan menghargainya dengan sepenuh hati.
Ia menatap pantulan dirinya yang berada di hadapan cermin kamarnya, bertanya-tanya bagaimana mungkin ada wajah semanis ini di dunia?
Eh, iya, iya, kau benar.
Jimin sedang bernasis ria sekarang.
Pemuda itu menghela napasnya, sebenarnya ia tidak ingin masuk kuliah saja hari ini. Tapi bagaimana kalau orang-orang bermulut pedas di luar sana makin mencacinya dengan gosip baru tentang; bajingan Park bisa patah hati juga rupanya. Memikirkannya saja sanggup membuat kadar tekanannya meninggi.
Apalagi jika hal itu menjadi kenyataan dan tersebar di media kemudian menjadi begitu viral di SNS? Maka matilah Jeon Jungkook dengan segala kegantengannya itu.
Ish, kenapa Jimin selalu menyebut orang itu ganteng sih?
Apa ia sudah diguna-guna oleh Jungkook?
Krik.
"UUU-WAAAA!" Jimin memekik heboh seorang diri. Ia melompat-lompat kecil dan segera mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang. Jimin menggeser layar ponselnya dengan jari, mencari-cari siapa yang kiranya bisa ia jadikan orang untuk bertukar pikiran.
Jongdae?
Uhm, tidak, tidak, Jongdae mana mungkin percaya pada ilmu hitam, pelet, guna-guna, bahkan tuyul sekalipun. Eh, kenapa malah bawa-bawa nama hantu yang suka mengoleksi uang dari negeri kecil di ujung dunia sana sih?
Lewat.
Namjoon?
Oh, tidak, tidak, lewat saja. Terima kasih banyak karna Namjoon dan Jongdae sama saja.
Sama-sama keparat sialan yang sejak kemarin mem-bully-nya.
Lewat.
Taehyung?
Dia sih lebih keparat lagi. Tapi mengingat fakta bahwa sebenarnya Jimin dan Taehyung bersahabat lebih lama dari yang lain-mereka bertemu sejak dibangku SMA, dan mengingat fakta bahwa Taehyung selalu membela Jimin, maka tidak ada salahnya mencoba.
Jimin menunggu untuk beberapa saat sampai panggilan teleponnya tersambung, suara serak Taehyung menyambut indra pendengaran Jimin.
"Uh, Tae-"
"Ini masih pagi Jim," desis Taehyung di seberang sana. "Ada apa? Jangan bilang kau sedang bermasturbasi dan tak bisa melepaskan hasrat sebelum ada penis yang menusuk lubangmu?"
"FUCK!" pekik Jimin histeris. " Asal kau tahu saja ya, selama setahun ini aku belum pernah menancapkan penis siapa pun dilubangku!"
"Lalu kau yang menancapkan penismu di lubangnya Jungkook?" tanya Taehyung terkejut. "Wow, aku tak menyangka-"
"ITU JUGA TIDAK!"
"Akh, jangan berteriak di telingaku Jimin!"
Jimin mengerang frustrasi sembari mengacak-acak rambutnya.
"Aku tidak meneleponmu untuk melakukan dirty talk di pagi hari Taehyung!"
"Baiklah, baiklah... Lalu?"
"Ya, itu-" Jimin menggigit bibirnya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir dengan panik, sesekali tangan kanannya memegangi keningnya untuk mengecek suhu badannya yang sepertinya mulai meningkat.
"Taehyung, kurasa..."
"Kau rasa?"
"Kurasa, karna Jungkook... sesuatu terjadi padaku..." adu Jimin dengan suara kecil.
"Sesuatu?" beo Taehyung lalu kemudian ia memekik di ujung sana. " Tunggu dulu Jim! Kau merasa mual? Apa sudah periksa ke Dokter? Apa kau mengeceknya sendiri? Bukannya tadi kau bilang kalian tidak melakukan seks ya? Lalu bagaimana mungkin kau- kau- Ham...il?"
Mata Jimin melebar mendengar kata demi kata dari mulut berdosanya Taehyung. Ia menjerit dengan nada melengking tinggi, "APA KAU GILA?"
"Aaiish!"
"Aku laki-laki keparat! Mana mungkin bisa hamil!"
"Ya! Apa Kau tak tahu istilah Male-pregnant?"
"Mana kutahu?" bentak Jimin gemas. "Lagi pula apa peduliku?"
"Jangan berteriak di telingaku Jeon Jimin!"
"Namaku Park, bajingan!"
"Ah, iya, iya, maksudku Park Bajingan Jimin."
"Kim Taehyung kau-Woah! Daebak! Apa yang harus kulakukan padamu?"
"Haissh! Cepat katakan apa yang sudah dilakukan Jeon padamu?"
"Ya-i, itu..." Jimin jadi ragu mengatakannya. "Aku hanya... Merasa, sepertinya-Jungkook... Hei! Berjanjilah tidak menertawaiku Tae!"
"Kurasa tidak-aku juga tidak akan kaget kalau kau bilang kau hamil. Aku akan menyeret kalian ke Gereja agar bisa menikah secepatn-"
"Aku bilang aku tidak hamil idiot!"
"Oh, ok, ok, lalu?"
Jimin terdiam, untuk beberapa saat dengan mata bergerak-gerak liar dan berkaca-kaca.
"Taehyung..."
"... Ya?"
"Kurasa... Jungkook-Jungkook... Ia..."
"Ia?"
"... Ia sudah melakukan sesuatu padaku. Aku yakin... Jungkook sudah mengguna-guna diriku Tae..." lirih Jimin dramatis.
Kriiiik.
Hening melanda di ujung sana, tak ada suara sekecil apa pun yang bisa ditangkap telinganya Park Jimin sampai di detik ke lima belas terdengar helaan napas yang sangat berat.
"Tae...?" tanya Jimin hati-hati.
Taehyung mendengus dan kemudian berkata dengan nada rendah, "Serius Jim, aku ingin sekali menghentakan penisku ke dalam mulutmu. Sekarang."
"HUUUWWAAAAAA!" dan lengkingan suara Park Jimin pun berhasil memutuskan pembicaraan tak beradab barusan.
Reina Of El Dorado Present
My Ex-Lover
Disclaimer : BTS milik Tuhan, Keluarga, Sahabat, Diri mereka sendiri, dan juga Fans.
(Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun saat menulis fanfiksi ini, semata-mata hanya untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri).
Genre : AU, Yaoi, Drama, Friendship, Romance, etc.
Warning : Boys Love, Yaoi, Crack-Pairing, Bromance, OOC, Typo(s), Non EYD, etc.
(Bahasa kasar, tidak baku, dan tindakan yang sekiranya tidak perlu dicontoh).
Don't Like? Don't Read! So? Don't Bash!
Happy Reading
.
.
.
Move. On.
Jimin harus bisa melakukan hal itu. Ia yakin ia hanya shock saja kemarin, itu bukan masalah besar yang perlu dikhawatirkan; terkait dugaannya telah diguna-guna oleh sang Jeon.
Ah! Bukan! Bukan! Maksudnya, terkait perubahan Jungkook yang 180 derajat mencengangkan. Lagi pula kalau ia tidak move on, apa yang harus ia lakukan?
Park Jimin berbalik mengejar-ngejar mantannya?
Cih, mimpi saja kalian.
Jangan harap!
Jimin punya segalanya.
Ia tampan, muda, kaya, keren, bergaya, penuh pesona, manis, dan sudah pasti ia seksi.
Siapa sih yang akan menolak ditawari kesempatan menjadi kekasih Park Jimin yang sempurna ini?
Harusnya Jeon Jungkook itu bersyukur pernah menggandeng status menjadi mantannya yang paling bertahan lama karna jelas sekali itu bukan gaya seorang Jimin.
Jadi dengan rasa percaya diri yang berada dititik maksimal, Park Jimin melangkahkan kakinya di lorong fakultasnya, menebarkan tiap bibit feromon yang membuat orang-orang mencuri tatap pada sang pemain hati dengan lirikan sensual, berharap bisa di notice sang bajingan tengik itu.
Tapi senyuman miring nan menghanyutkan itu hangus dalam sekejap saat melihat sosok sang Jeon berjalan menuju arahnya. Dengan rambut basah berantakan yang ia acak sembarangan dan mata setengah terpejam. Tubuh Jimin menegang di tempat, kakinya melangkah mundur sekali. Terkejut dengan fakta bahwa pemuda bernama Jeon itu bisa se-menyegar-kan ini di pagi hari. Beberapa orang gadis menyapa Jeon Jungkook dan dibalas senyuman kecil yang membuat mereka memekik sempurna.
Sialan!
Jimin jadi ingin mencolok mata mereka semua kalau begitu.
Tap!
"Jimin-ie?"
Uhuk!
Jimin tersedak air mata eh, air liur maksudnya, mendengar suara rendah lembut Jungkook menegurnya. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat.
Itu... Itu panggilan yang selalu Jimin suka dari bibir tipis Jungkook.
"Selamat pagi," sapa Jungkook sembari tersenyum tulus. Kedua matanya yang berbinar hangat terasa melumerkan tubuh Jimin. Pemuda itu berdeham lalu mengangguk kecil, dan kemudian melangkah melewati Jungkook yang menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Jimin mempercepat langkahnya tanpa mendengarkan bisik-bisik kecil dari orang-orang di sekitarnya, ia bisa gila kalau begini caranya!
MOVE ON HAH?
TERNYATA EKSPETASI VS KENYATAAN ITU JAUH BERBEDA!
KENYATAAN YANG JIMIN HADAPI TAK SEMUDAH MENGIKAT TALI SEPATU!
Jimin berbelok ke arah lorong sebelah kiri dan terus berjalan cepat, hilang sudah niatnya membagi-bagi feromon secara gratis di pagi ini. Setelah dirasanya keadaan sudah cukup sepi, maka Jimin segera merapatkan tubuhnya di dinding lorong dan mengedukkan keningnya di sana dengan kuat.
"Sialan Park Jimin! Jangan tergoda! Jangan mau tergoda dengan pemuda sok tampan itu! Ah! Kenapa kau mengatainya tampan? Dia tidak tampan sama sekali!" jerit Jimin sembari memukul-mukul dinding lorong dengan gemas dan kemudian mencakarnya brutal.
"SIALAN! KEPARAT! BIADAP! BAJINGAN! AAAAAAA!" Jimin berteriak di akhir acara maki memakinya saat kerah jaketnya terasa ditarik seseorang dengan kuat hingga ia terpisah dari dinding bercat putih cream tersebut.
"Aw! Aw! Aw! Siapa ini?" bentaknya sembari mencoba menyingkirkan tangan laknat yang sudah membuat lehernya tercekik.
"Jimin-ie? Kau kenapa?"
Taehyung, itu sudah pasti Taehyung.
"Demi Tuhan Kim Tae! Aku punya tangan! Tak bisakah kau bersikap sedikit manusia dengan menarik tanganku bukan kerah bajuku?" marah Jimin tak tertahankan. "Ah! Aku lupa! Kau bahkan bukan manusia!"
"Cih!" Taehyung melepaskan cengkeramannya dan membuat Jimin terbebas dengan mudah. "Untung kau itu teman terbaikku Jim."
"Tentu saja! Memang siapa yang mau mengajakmu bicara saat kau baru datang ke Seoul dari Daegu selain aku hah anak kampung?" hina Jimin sembari memutar tubuhnya dan menatap Taehyung dengan gaya mencibir. Taehyung mengacungkan jari tengahnya dan dibalas Jimin dengan satu pukulan di kepala.
"Geez Jim! Kau benar-benar..." Taehyung mengusak bekas pukulan Jimin dengan kasar.
"Apa? Tampan? Terima kasih tapi aku tak punya uang kecil untuk membayar rayuan basimu itu."
Taehyung mendengus lalu membuang wajahnya, lalu teringat akan kejadian yang baru saja ia lihat.
"Kau kenapa? Kenapa menggaruk dinding begitu?" tanyanya penasaran dan membuat Jimin merasakan wajahnya memerah karna malu dan marah.
"Tidak. Aku hanya meruncingkan cakarku untuk menerkam seseorang," ketusnya dengan nada jengkel.
"Si Jeon eeh?" Taehyung tersenyum meledek dan dibalas death glare yang sama sekali tak mempan untuk Taehyung. "Ah, ya! Aku baru ingat!" Taehyung membuka tasnya, mengobrak-abrik isinya dengan telaten sebelum mendapatkan satu buah botol yang diisi air mineral di sana.
"Cobalah," katanya sembari menyodorkan botol itu pada Jimin yang mengernyitkan dahinya.
"Untuk...?"
"Coba saja!" desak Taehyung dan membuat Jimin menatapinya seolah-olah Taehyung adalah pasien yang baru kabur dari Rumah Sakit Jiwa.
"Kenapa aku harus mencobanya? Bagaimana aku tahu air itu aman atau tidak? Bagaimana aku yakin kau tidak mencampurkan sesuatu di dalam sana? Apa kau tahu kasus terbaru yang sedang santer di luar sana? Kabarnya ada seorang gadis yang meracuni teman wanitanya dengan kopi yang-"
Byur!
Taehyung menyiram wajah Jimin dengan kurang ajarnya.
"U-uhuk-" Jimin terbatuk-batuk karna sebagian air itu sudah memasuki lubang hidungnya dengan kurang ajar. Untung lubang hidung, bukan lubang yang lain.
Eh, lubang apa memangnya?
"YA! KIM TAEHYUNG! KA-UHUK, UHUK, KAU BENAR-BENAR!" Jimin mengusap wajahnya berulang kali ditemani berbagai sumpah serapah untuk Taehyung. Pemuda jangkung itu menyodorkan handuk kecil padanya dan disambut Jimin dalam satu kali sambaran. Ia mengusap wajahnya berulang kali dengan kasar.
"Kau bilang kau diguna-guna, jadi aku meminta Ibuku mencarikan air penawar," jawab Taehyung dengan nada polos, berhasil membawa tangan Jimin memukul kepalanya lagi.
"KAU GILA? MANA MUNGKIN ADA GUNA-GUNA ATAU SIHIR JAMAN SEKARANG!" pekik Jimin dengan hidung kembang kempis karna menahan gejolak emosinya. Taehyung memutar bola matanya dan kemudian mengendikan bahunya.
"Kupikir kau serius," jawabnya dengan nada enteng dan membuat Jimin menendang tulang keringnya hingga Taehyung menjerit sakit.
"AKH! JIMIN!"
Jimin mencibir dan melangkah lebih dulu dari Taehyung, tapi matanya kembali dipertemukan dengan objek yang tidak ingin ia temui di pagi harinya ini.
Min Yoongi.
Pemuda itu hanya melewati Jimin dengan mudah, tanpa melirik ataupun sekedar menyapa Jimin untuk berbasa-basi. Jimin merasakan aura yang aneh terjadi setelah pemuda itu melewati pundaknya, dan ia tak bisa mencegah kepalanya untuk menoleh ke belakang. Jimin mendapati tatapan mata Taehyung yang terasa begitu asing, ia memandang lurus dan kaku pada sosok Yoongi yang mulai mendekat padanya.
Tap!
Yoongi berhenti untuk sesaat, tepat di sisi Taehyung dengan arah berlawanan sebelum kemudian melangkah lagi dengan ringan. Taehyung berpaling, menatap punggung sempit itu dengan saksama dan membuat Jimin makin merasakan hal yang ganjil dari teman bajingannya yang satu itu.
"Yo! Apa yang kalian lakukan di sini? Menjadi patung lorong kampus?" secara mengejutkan Jongdae muncul di sisi Jimin, merangkul pemuda itu dengan sentakan keras diikuti Namjoon disisinya.
"Kenapa dia?" Namjoon bertanya pada Jimin sembari menunjuk Taehyung dengan dagunya. Yang ditanya hanya menatap Namjoon dan Jongdae dengan tatapan malasnya dan mengendikan bahunya.
"Kalian siapa ya?" tanya Jimin sarkastis sembari menghentakan tangan Jongdae jauh dari pundaknya.
"Woa~ Park Jimin. Bagaimana bisa kau memperlakukan kami seperti itu?" tanya Jongdae sembari menggenggam kedua tangan Jimin dengan ekspresi dramatis, wajah terluka yang begitu berlebihan. "Padahal kami begitu mencemaskanmu Jimin-ie. Kami takut terjadi sesuatu padamu sejak tadi malam. Jadi kami memeriksa tiap club dan pub kesukaanmu karna takut kau frustrasi dan melakukan pesta liar di sana."
Jimin mengernyitkan dahinya dengan tatapan menilai. Ia tak mungkin percaya begitu saja kalau dua keparat cilik itu mencemaskannya atau bagaimana.
Tapi-tunggu... Kata-kata Jongdae tadi...
"Kenapa aku harus... Frustrasi?" tanya Jimin tak mengerti.
Namjoon menambahi dengan menepuk pundak Jimin dengan wajah memelasnya. "Memangnya kenapa lagi? Tentu saja karna kau menyesal telah menyia-nyiakan mantan seganteng Jungkook 'kan?"
Ha? Ha-ah?
"Maaf?" Jimin rasa ia tadi tuli sementara.
Apa katanya? Menyesal?
"Menyesal katamu? Aku frustrasi dan menyesal?" tanyanya tak percaya. Jongdae dan Namjoon menganggukkan kepala mereka secara bersamaan dengan imut.
Jimin berdecak dan segera menarik cepat kedua tangannya guna mendorong kening Jongdae dengan kasar sebelum kemudian menepis tangan Namjoon dari pundaknya.
"Eat this!" Jimin melayangkan kedua jari tengahnya dengan kesal untuk dua manusia sialan di hadapannya. Tapi Jongdae dan Namjoon malah terbahak sembari saling menepuk pundak satu sama lain.
"Aduh, duh, duh! Hahahahahaha!" Jongdae memegangi perutnya yang terasa kram sangking kerasnya ia tertawa. Namjoon bahkan sudah memukul-mukul dinding dan menyusutkan setitik air mata di kelopaknya.
"Fuck you eeh?" tanya Jongdae disela tawanya.
"No, no, no, Jimin-ah!" Namjoon menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri dengan lambat dan seringaian setan.
"I will fuck you," ujar kedua pemuda itu secara bersamaan. Jimin membelalakkan matanya tak percaya, mukanya kembali tersapu warna merah samar mendengar ucapan kedua sahabat baiknya itu.
"KA-"
"KIM NAMJOON!" Belum sempat Jimin mengeluarkan kata-kata mutiaranya, suara lembut dengan nada tinggi melengking di ujung lorong. Mereka menoleh dan fuck-itu Kim Seokjin, kekasih Namjoon selama hampir lima bulan terakhir ini. Seokjin adalah Senior dua tahun di atas Jimin, Namjoon, Taehyung, dan Jongdae. Jadilah teman-teman Namjoon itu tidak begitu akrab dengan pemuda itu.
"I will fuck you?" ulang pemuda putih tersebut dengan nada rendah. Seokjin melangkah dengan mata yang berkilat-kilat emosi. "Kau homo-an sama dia ya?!" teriaknya menggebu.
Jimin dan Jongdae jadi sweatdrop di tempat. Ya Tuhan! Kalau misalnya Namjoon dan Jimin homo-an, terus Seokjin dan Namjoon itu apa? Gay-an? Teori aneh yang mencengangkan.
"Jin-ie, ini tidak-begitu..." Namjoon menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Aku hanya bercanda!"
"Hanya bercanda? Hanya bercanda katamu? Enteng sekali kau ini!" Seokjin memukul dada Namjoon dengan keras. "Sialan Kim! Aku membencimu!"
"Mau popcorn?" tanya Jongdae pada Jimin. Belum sempat Jimin menjawab, sekantung penuh popcorn sudah tersosor di depan hidung Jimin, membuat pemuda itu bertanya-tanya dari mana asalnya popcorn yang tak tahu malu ini. Jongdae sudah mengunyah beberapa butir popcorn dengan tenang sembari menatap serius adegan Namjoon dan Seokjin di depan matanya, mau tidak mau Jimin ikut memakan butiran popcorn rasa karamel yang lumer di lidah tersebut. Jongdae kembali menyerahkan satu pak tisu berukuran kecil dan berkata agar Jimin menyimpannya. Taehyung yang sejak tadi jadi patung arca di tengah lorong mulai menyimak keadaan yang terjadi.
"Tenang dulu Chagi-ya..." Namjoon berusaha membujuk Seokjin, ia memegangi kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan lembut. "Aku benar-benar hanya bercanda dengan Jimin. Ini sudah biasa di antara kami."
"Biasa? Minum dari gelas yang sama itu biasa? Suap-suapan di kantin itu biasa? Gandeng-gandengan itu biasa? Apa itu semua semata-mata hanya untuk bercanda?" Wajah Namjoon terlihat memucat karna ucapan kekasihnya. Kepalanya langsung memutar bayangan orang yang suka menempelinya, dan itu hanya ada satu; Jung Hoseok.
"Astaga! Itu bukan aku!" seru Jimin tersadar maksud Seokjin. "Itu Jung Hoseok, Sunbae!" protesnya tak terima disebut sebagai PHO alias Perusak Hubungan Orang.
"Terserah! Aku tak peduli siapa pun itu karna bukan itu yang ingin kupedulikan sekarang! Tapi kau, kau, dan kau!" Seokjin menunjuk Jimin, Jongdae, dan Namjoon dengan mata yang memancarkan kemarahan maksimal.
"Aku selalu berusaha memahamimu Kim Namjoon! Aku memaklumimu yang bermesraan dengan orang lain meskipun yang kekasihmu itu aku! Tapi apa? Apa yang kau lakukan padaku? Kau ingin melakukan seks dengan dia? Dengan dia juga? Kalian ingin melakukan threesome?"
Taehyung tersedak dengan wajah menahan tawanya. Bajingan itu menggigit bibirnya agar tak tertawa keras-keras sekarang juga. Jimin hanya bisa memandang dua insan dramatis di hadapannya dengan raut wajah datarnya.
"Ani-ya! Aah jebal! Jangan bersikap begini Jin-ah! Kami murni hanya berteman!" kata Namjoon berusaha meyakinkan Seokjin yang makin menatapnya sinis.
"Ini tidak akan berakhir dengan baik," bisik Jongdae di sisi Jimin. "Menurutmu mereka akan putus atau tidak?"
Jimin mendengus sembari menepak kepala Jongdae.
"Kau benar-benar keterlaluan Chen!" kesalnya memanggil nama kecil Jongdae, yang dipanggil hanya memutar bola matanya tak senang.
"Cih! Persetan! Aku ingin putus!"
"Hei! Jangan mudah mengatakan kata-kata itu! Nanti kau bisa menyesal tahu?!" kesal Jimin dengan nada marah, tapi itu saja tak cukup untuk menginterupsi dua pasang kekasih yang sedang berdebat itu. Mereka tidak mengindahkan suara lembut Jimin barusan.
"Aku tidak mempercayaimu lagi!"
"Jin-"
"Jangan sentuh aku!"
"Mwo-ya~?" tanya Jongdae dengan nada dipanjangkan. "Apa kau baru saja mengungkapkan isi hatimu?" sindir bajingan satu itu dan membuat Jimin ter jengit kaget.
"Sialan kau!" sumpahnya sembari meninju pundak Jongdae dengan keras.
"Fuck you're self bastard!" sumpah Seokjin sembari berjalan menjauhi Namjoon yang menggaruk kepalanya antara jengkel dan frustrasi.
"Jin-ah! Tunggu!"
"Bahk! Hahahaha! Selamat Kim Namjoon! Berkat kau bertambah lagi satu orang Jones di kelompok kita!" tawa Taehyung meledak setelah Seokjin melewati pundaknya. Ia menunjuk-nunjuk wajah Namjoon dengan tawa makin menggema nyaring. Namjoon yang marah melepas salah satu sepatu putihnya dan melemparnya pada wajah Taehyung karna begitu kesal.
Plak!
"STRIKE OUT!" teriak Jongdae dengan mulut penuh hingga popcorn yang tadinya tidur cantik di mulutnya melompat keluar dan mengenai Jimin.
"YAK! ISH! KAU JOROK!"
Taehyung mengelus keningnya yang bekas terkena lemparan sepatu Namjoon, dan dengan kesal melempar sepatu itu ke belakang sana hingga-
PUK!
Menghantam tepat pada tengkuk seseorang, dan terlebih lagi ... Orang itu adalah Kim Seokjin.
Seokjin menoleh dengan tangan memegangi kepalanya, matanya makin berkilat marah. Mungkin kalau ini adalah anime di mana tokoh utamanya adalah seorang pemuda dobe pencinta ramen, maka mata Jimin sudah akan berputar-putar dan mengeluarkan api hitam membakar tubuh semua orang di sana.
"Dia!" tunjuk Taehyung spontan. Yang ditunjuk (Namjoon) hanya terbengong-bengong tak sadar situasi sampai Seokjin mengambil sepatu putih itu dengan kasar dan memeganginya dengan kuat-kuat.
"Woo~ woo~ho~" gumam Jongdae geregetan sembari meremas kantung popcorn-nya. "Kita lihat apa yang terjadi antara keduanya pemirsa!" serunya bersemangat, berbeda dengan Jimin yang sedikit-ya, sedikit, hanya sedikit sekali-bersimpati.
Seokjin berbalik dan mengambil ancang-ancang sebelum melempar jauh sepatu Namjoon ke arah lapangan Universitas itu.
"AAANDWAAAEEE~!" teriakan histeris Namjoon memberikan kesan dramatis yang begitu traumatis di telinga orang-orang yang menonton adegan opera sabun itu sejak tadi. Seokjin menoleh dan mengacungkan jari tengahnya pada Namjoon lalu berlalu pergi.
... KRIK.
Untuk sesaat tiada orang yang berani menghembuskan napas mereka sampai Jongdae memekik dengan nada melengkingnya.
"HOME RUUUUNNNNNN! KIM SEOKJIN BERHASIL MELAKUKAN HOME RUN DENGAN CANTIK!" teriaknya sembari melompat kegirangan, Taehyung yang menjadi sumber kekacauan mengangakan bibirnya tak percaya sebelum berlari ke arah Jongdae dan berpelukan sembari melompat-lompat seperti orang idiot.
"Home Run! Home Run! Home Run!"
Namjoon memukul-mukul dinding, kali ini ia benar-benar frustrasi karna kelakuan teman-temannya yang tak membantu banyak itu dan Jimin-
Puk!
Jimin menepuk pundak Namjoon lembut dan mengusapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersimpati.
Ya, nyaris saja Namjoon berpikir begitu kalau saja ucapan Jimin tak menghancurkan momen barusan.
"Berjuanglah mencari sepatumu Cinderella!" katanya dan disusul ledakan tawa Taehyung dan Jongdae di belakang mereka sebagai backsound-nya.
"Sialan kalian!" seru Namjoon lalu bergegas pergi dari sana, masih diikuti tawa nyaring tiga bajingan kental itu yang saling ber-highfive ria.
Belum ada beberapa menit kepergian Namjoon, suara rendah seorang gadis menggema lembut.
"Jongdae Oppa~"
"Hahahaha-ha...ha...ha..." tawa Jongdae mencicit seketika, ia menoleh dan kaboom! Firasatnya menjadi nyata. Yeah! Seorang gadis dengan tubuh mungil dan mata sipitnya yang menajam, rambut berwarna highlight cokelat dengan sedikit sentuhan warna keemasan berdiri di belakangnya.
Oh. Tamat. Sudah. Riwayatnya.
"Fi-Fira-ya," sebut Jongdae tergagap memanggil nama kekasihnya, Fira Wu. Anak fakultas Arsitektur yang terlihat sangat jarang hadir di sekitar empat pemuda tampan bajingan itu. Terlebih dengan adanya kehadiran sang kakak, Kris Wu-yang tidak merestui hubungan Jongdae dan Fira karna menurutnya Jongdae tak cukup pantas bersama adiknya itu.
Gadis cantik keturunan Kanada-Korea yang menjabat posisi sebagai kekasihnya selama hampir dua tahun lebih itu tersenyum, senyum yang sangat cantik tapi mematikan.
"Chukkae Oppa~" ujarnya dengan nada sing a song, sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding. Ia menatap Jimin dengan tatapan berkilat jenaka yang terasa menghakimi. Matanya itu menatap seluruh sel di diri Jimin dengan kilatan tak mengenakan.
"Jeongmal chukkae," senyuman manis itu luntur seketika, berganti dengan cebikan bibir yang mencibir, dan dalam detik berikutnya Fira sudah berbalik dengan langkah anggun menuju seorang pemuda jangkung dengan rambut cream choco yang menunggunya sejak tadi.
"Kajja Kris-ie Oppa," ajak Fira sembari menggandeng lengan kakaknya dengan manja. Kris Wu, mengangguk dan segera merangkul pundak sempit favorit Jongdae dan melayangkan kutukan kematian dari matanya untuk Jongdae, Jimin, dan Taehyung.
"MATI AKU!" Pekik Jongdae sembari mengacak-acak rambutnya frustrasi. Taehyung terkekeh menyebalkan sembari menepuk pundak Jongdae dengan senyuman miringnya.
"Tenang saja dude. Percayalah lubang laki-laki lebih menyenangkan daripada lubang wanita."
"Fuck off Tae!"
"What up?"
"Oh hell No! I'm extremely unhappy about this!" pekik Jongdae mulai berbicara menggunakan bahasa asing. "Jangan sama kan Uri Fira (Fira-ku) dengan jalang di luar sana! Dia perempuan terhormat! Kekasihku tidak seperti jalang-jalang yang menjilat kakimu itu!"
"Well, sebentar lagi akan menjadi 'Mantan kekasih' dan ya- selamat datang di dunia para jomblo Jongdae-ya~" ujar Jimin dengan nada main-main. Jongdae melotot heboh dengan satu jari tengah terancung pada Jimin.
"Get off my ass!" bentak Jongdae sembari melangkah pergi entah ke mana. "She gonna ape shit on me!"
"WHAT A SHITTY DAY?!"
Jimin dan Taehyung saling melirik sebelum tertawa menyebalkan bersamaan.
"Holly shit! Aku baru tahu Jongdae bisa se-mellow itu." Jimin bergidik ngeri sebelum Taehyung menyeringai kecil.
"Cinta bisa mengubah seseorang Jimin-ie."
Jimin berdecak sambil mencibir. "Ehw!"
"Just like you."
"Haah?"
"Cause Kook-ie," Taehyung menyeringai setan. "You look like shit."
"Heck! To hell with him!" ujar Jimin sembari membuat ekspresi muak, tapi Taehyung malah melebarkan senyumannya sebelum merangkul pundak Jimin mendekat.
"Kurasa kau perlu angin segar Jimin."
"Huh?"
"Bagaimana malam ini?" Taehyung memainkan alisnya naik turun, dengan mata berbinar nakal. "... Seperti biasa... Kita?"
Mengerti maksud Taehyung, Jimin mendorong wajah itu menjauh darinya.
"FUCK THAT SHIT!" teriaknya sebelum bergerak menjauh.
"Ya! Park Jimin mulutmu perlu di sekolahkan!" Taehyung bergegas menyusul Jimin meski Jimin menghiraukannya, berusaha mengambil jarak yang jauh dari Taehyung meski percuma. Taehyung bisa segera menyusulnya dan mereka pun terlibat dalam perbincangan berisi talk dirty yang sangat tidak halal untuk dicontoh.
Tanpa Jongdae, Taehyung, Namjoon, atau bahkan Jimin sekalipun sadari, sejak tadi sosok pemuda tampan tengah memperhatikan mereka semua di balik tembok bersama dengan pemuda lainnya yang hanya menatapnya malas.
"Mau sampai kapan kau begini Jeon Jung?" Min Yoongi bertanya malas. Tadinya ia meminta Jungkook pergi lebih dahulu saja ke ruang administrasi karna ia mampir membeli sekotak cokelat kesukaannya. Tapi ternyata pemuda itu berbalik lagi ke arahnya untuk-Yoongi yakin ia tak suka yang satu ini, bertemu dengan Park Jimin.
Jungkook menundukkan kepalanya, sejak tadi pundaknya menempel ketat pada dinding putih di belakangnya.
"Entah lah Hyung. Kau tahu?... Yah, maksudku semuanya terlalu tiba-tiba. Kemarin ia masih meminta ciuman dariku, tapi esoknya-"
"Kau masih mau mengoceh soal mantanmu?" tanya Yoongi dengan nada sarkasme yang kental. "Kalau iya aku akan menelepon Sekretaris Kang untuk memesankan tiket ke Jepang sekarang."
Jungkook langsung bungkam sebelum menunduk dan memberikan satu kecupan manis di pipinya.
"Mianhae."
Yoongi berdesis sebelum mengusap pipinya. "Kau-" matanya berkilat emosi, membuat Jungkook terkekeh dan beralih mencium kening Yoongi lama-lama sebelum memeluk tubuh mungilnya dengan sayang.
"Karna selalu mengalah dan membelaku, terima kasih..." bisik Jungkook sebelum menciumi puncak kepala Yoongi. "Karna selalu mencintai dan memaafkanku, terima kasih."
"Karna telah mendampingiku, menjaga, melindungi, dan menopangku, aku benar-benar berterima kasih Hyung."
"Kau salah makan?" sinis Yoongi di dada Jungkook, yang dibalas gelengan kepala dari yang lebih muda dan Yoongi sadar bahwa Jungkook sedang serius. Maka, meredam seluruh urat malunya, ia pun membalas pelukan hangat yang sudah lama tak ia rasakan sembari menepuk-nepuk pundak Jungkook dengan sayang.
"Kenapa kau selalu berterima kasih untuk hal yang sudah seharusnya kulakukan Kook?" lirih Yoongi dengan nada kecilnya. "Tentu saja aku melakukan itu semua karna aku mencintaimu."
"Yah..." Jungkook menghirup dalam-dalam aroma sampo yang dipakai Yoongi. "Kau benar-benar yang terbaik Hyung."
Yoongi hanya bisa menghela napas sebelum berbisik kecil, "Kaulah yang terbaik Jungkook."
Keduanya terlarut dalam pemikiran sendiri-sendiri tanpa sadar berapa banyak mata yang telah mengabadikan momen itu.
Reina Of El Dorado
Jimin tahu cepat atau lambat ini akan terjadi.
... Tapi tidak saat ini juga sih.
Sebagai satu dari sedikit orang yang populer di kalangan mahasiswa, bukan hal besar lagi kalau ada orang tenar yang mengajaknya pergi berkencan. Itu sudah seperti makanan sehari-hari bagi Jimin-dulunya, sebelum ia dan Jungkook berkencan. Jadi ia tak terkejut saat kakinya baru melangkah keluar dari kelasnya sudah ada pemuda berambut pirang keperakan menunggunya. Pemuda itu bernama Jang Hyunseung.
Tampan?
Ha! Tentu saja.
Tenar?
Oh ya, meski tak sepopuler Jimin.
Hot?
Uh, tapi Jimin yakin ia hanya akan jadi pihak bottom jika bersama pemuda itu.
Berengsek?
Well, bahkan mungkin lebih keparat lagi dari Jimin. Pemuda ini suka mencuri kesempatan saat berdekatan dengan mangsanya dan maaf-Jimin lagi tak ingin dalam mode 'dimangsa'.
"Kau menolak ajakanku?" tanya Hyunseung kecewa. Jimin mendatarkan ekspresinya sebelum menampilkan senyuman palsu sang Kasanova.
"Bukan begitu Sunbae. Aku hanya..."
Jimin tersadar saat mendengar suara bisik-bisikan orang-orang di sekelilingnya.
Bitch! Dia baru sadar bahwa akan ada gosip tak penting baru yang menyebar!
Kalau ia menolak Jung Hyunseung ini, maka ia akan dicap sebagai 'Pihak di campakkan yang gagal move on dan tampak menyedihkan hingga orang-orang akan membuat gerakan peduli Jimin yang jauh lebih tidak penting.'
Tapi kalau Jimin menerimanya, oh tidak-kalau acara jalan mereka hanya akan berakhir di ranjang dan seks. Terima kasih karna Jimin tak ingin disentuh siapa pun untuk sekarang ini.
"AH!" Jimin berseru agak keras, lalu tertawa gugup. "Aku akan pergi kencan bersama Taehyung."
Ok, hanya ada dua pilihan.
Tempat sampah atau toilet, karna jujur Jimin ingin muntah sekarang.
Kencan bersama Kim Taehyung? Well done, how a shitty day? Very Nice Jimin!
"Oh, benarkah?" Hyunseung menaikkan satu alisnya tak percaya. "Kau ada hubungan spesial dengannya?"
Tidak.
"Ya, aku-" Jimin jadi salah tingkah, aduh! Mau jawab apa memangnya? Taehyung sudah lebih dulu pergi meninggalkannya menuju kantin sementara ia sendiri ingin ke perpustakaan-makanya Taehyung memutuskan untuk pergi lebih dulu dari tadi. Belum sempat ia menjawab seseorang secara mengejutkan datang dan merangkul pundaknya serta pundak Hyunseung dengan tidak sopannya.
"Sedang apa?"
Beberapa gadis memekik heboh, sembari menatap tak percaya ataupun kembali membuat beberapa bisikan lirih yang membuat telinga Jimin panas.
Wangi addicted yang tak pernah berubah dan selalu menghantuinya, Dunhill blue dengan sedikit aroma manis Anthology yang memikat. Aish! Sudah pasti itu Jeon Jungkook.
Hyunseung menatap sengit Jungkook meski bibirnya menyampaikan senyum memuakan.
"Aku hanya... Ingin mengajaknya berkencan. Tentu saja kau tak keberatan kalau kami pergi berdua bukan?" tanya Hyunseung dan membuat Jimin memelototinya.
Sialan Jang satu ini! Apa maksudnya coba?
Ia memaki dalam hati.
Jungkook melepaskan rangkulannya dan mengangkat bahu dengan gaya santai. "Tentu saja tidak, aku 'kan bukan siapa-siapanya Jimin lagi."
Uhuk.
Kok rasanya perih ya? Agak gimana gitu?
Kalau kau jadi siapa-siapaku juga bukan masalah! Pekik Jimin dalam hati, tapi please ya, demi harga dirinya yang setinggi Gunung Fuji itu, mana mungkin Jimin mengatakannya. Hyunseung tersenyum puas, baru saja ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, seseorang sudah menyerukan namanya dengan nada tinggi, "Seung-ie!"
O-ooh itu Yang Yoseob. Teman-Jimin meragukannya, baik Hyunseung. Pemuda manis itu mengembungkan pipinya sembari menatap Jimin sinis dan seketika Jimin tersadar bahwa ini kali ke tiganya ditatapi sinis oleh seseorang.
Oh, bagus.
Sebentar lagi akan mencuat kabar bahwa ia resmi dinyatakan menjadi PHO.
"Kalau begitu aku akan menghubungimu nanti Jimin-ah."
Jimin hanya menganggukkan kepala sekedar menghargai, dan Hyunseung berlalu dari sana bahkan tanpa melirik ataupun berbasa-basi sesaat dengan Jungkook.
"Jadi kalian akan berkencan?" tanya Jungkook dengan nada ringan. Jimin meliriknya sebal sebelum berkata dengan nada kesal dan cuek bebeknya, "Kenapa tanya-tanya? Terserah aku 'kan! Memangnya itu urusanmu?" tanyanya dengan nada senewen. Jungkook tersenyum kecil.
"Mian..." bisik Jungkook sembari menggaruk lehernya yang tak gatal. "Apa kau mau pergi ke kafetaria bersama?"
He? Sumpah demi apa diajak ke kantin?! A-apa maksudnya nih?
"Yoongi Hyung!" teriakan Jungkook pada sosok Yoongi yang berjalan ke arah mereka dengan mata terpejam meredam suara Jimin yang baru saja akan menjawab ajakannya.
"Ayo ke kantin!" kata Jungkook dengan semangat saat Yoongi sudah sampai di sisi mereka. "Ah, kau mau ikut Jimin? Biar ramai."
Biar ramai apa biar jadi obat nyamuk?
Jimin mendengus lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Terima kasih." Ia ingin segera pergi dari sana kalau saja ucapan Jungkook selanjutnya tak menghentikan langkah kakinya.
"Kita... masih berteman 'kan?"
Oh ok, Jimin butuh paru-paru tambahan. Sekarang.
Teman? Te. Man? T. E. M. A. N?! Kita hanya teman?
Jimin tersenyum lebar dengan mata menyipit dan kekehan menyedihkan, "Tentu saja."
... Ya, tentu saja.
Teman. Te. Man. Tentu saja hanya teman.
Reina Of El Dorado
Sebenarnya; Ini lucu.
Maksudku, di sini memangnya siapa yang menyakiti siapa? Harusnya 'kan Jimin? Harusnya Jimin 'kan yang menyakiti Jungkook? Tapi kenapa jadi dia yang merasa tersakiti? Kenapa Jimin yang jadi sedih? Kenapa Jimin yang-yang-yang-
"Kau tak mau menari?" suara Taehyung menyentak Jimin, pemuda manis itu segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dentuman musik dan hingar bungar suara-suara kericuhan malam membuat kepalanya berputar-putar.
Ia sudah tidak pernah lagi pergi ke klub, tapi karna pikirannya begitu ruwet maka Jimin pun menyanggupi ajakan pergi menjajah dunia malam bersama Taehyung. Lupakan Namjoon dan Jongdae. Dua kunyuk itu sibuk mengejar-ngejar kekasih (yang akan menjadi mantan) mereka. Membuat Jimin ingin menangis mengasihani diri.
Duh, kenapa Jungkook tidak berusaha sedikit saja mempertahankan dia sih?
Just ok and we are done!
Jimin juga bodoh, kalau tahu begitu kenapa harus putus sama Jungkook? Ah! Sebenarnya siapa yang mencampakkan siapa sekarang?!
"Baiklah, kau tak masalah kutinggal?" pertanyaan Taehyung dibalas kibasan tangan oleh Jimin, dan pemuda itu segera pergi ke lantai dansa. Jimin yang berada di lantai dua mengamati semua orang yang bergerak bersama di ruangan menyesakkan ini.
Uh, Jimin sebenarnya benci kalau terlibat lagi dalam alkohol dan ... Seks? Well, tujuanmu putus bukannya ingin meraih kebebasan Park Jimin?
Jimin menuangkan lagi shoju dalam gelas kecilnya. Ia sengaja tidak mau memesan White Wine ataupun Tequila karna Jimin tak ingin mabuk-mabukan dan-yah, begitulah.
"Butuh teman?" seorang wanita dengan baju yang memiliki belahan dada rendah menghampiri Jimin, ia merendahkan sedikit tubuhnya dan berbisik dengan nada kecil, "Kim Yuri."
Jimin mendengus lalu menatap menilai gadis yang kini tersenyum sensual padanya. Cih. Jimin menguman sebal.
"Aku tak tertarik pada dada ataupun bokongmu," kata Jimin dengan nada datar. Dara muda di hadapannya mengernyitkan dahi lalu bertanya dengan nada hati-hati, "Apa kau... Gay?"
Jimin tersenyum miring meremehkan. "Ini bukan karna aku gay atau apa-" Ia berdiri sebelum menepuk-nepuk tubuhnya. "Tapi karna tidak ada dari bagian tubuhmu yang membuatku bergairah."
Jimin sudah akan pergi saat ia menangkap bayangan seseorang, Hyunseung!
Sial!
Kenapa dia bisa di sini juga? Memangnya cuma ini bar terkenal di Gangnam? Jimin segera berbalik meski ia mendengar makian dari gadis tadi. What ever!
Ia mencari-cari sosok Taehyung di antara lautan manusia yang sama bergerak menyentuh satu sama lain. Jimin mencoba menghubungi Taehyung meski percuma, pemuda jangkung itu tak menjawab panggilannya, jadi dengan langkah mungilnya ia pun mencoba mengitari ruangan besar itu. Ia bergerak makin ke sudut-dan Jimin tercekat menemukan sosok Jeon Jungkook yang berada di depan konter bar tender. Meneguk segelas Wine di temani Hoseok dan seorang pemuda yang tak berhenti menjamah Hoseok dengan jari-jari besarnya dan tak henti-hentinya mencium bibir Hoseok.
Celaka!
Di atas ada Jang Hyunseung dan di bawah ada Jeon Jungkook! Jimin harus pulang dari pada bertemu dengan kedua makhluk yang lebih bajingan darinya itu! Dengan kepala berputar-putar ia menolehkan kepalanya ke sana ke mari, persis seperti maling ayam yang hampir ketahuan dan Bang! Jimin menemukan Taehyung yang bergerak menjauh dari kumpulan orang-orang yang membuatnya merasa perlu kaki atau sayap tambahan!
Holly shit Tae!
Jimin bisa saja langsung pergi dan memesan taksi, tapi ia takut Taehyung berakhir terkapar di kasur bersama seorang wanita tua yang haus belaian atau dengan kata lain Ahjumma-Ahjumma kesepian atau malah diperkosa Ahjusshi paedofil! Hiih! Kenapa mendadak Jimin jadi paranoid begini? Biasanya juga ia mengabaikan Taehyung mau bercinta sama siapa.
"Tae!" teriak Jimin meski sia-sia. Ia makin menyerobot barisan-barisan manusia, menyibaknya semudah menyibak korden kamarnya di pagi hari.
Taehyung makin melangkah masuk ke dalam lorong toilet-yang membuat Jimin mengutuk dalam-dalam setiap langkahnya yang ikut masuk ke sana. Desahan dan geraman beradu, ia bisa melihat berapa banyak pasangan yang berciuman dengan gairah tinggi, membuatnya menahan napas karna demi Tuhan! Taehyung kau kemari untuk seks?
Jimin mempercepat langkahnya, dan benar saja Taehyung-eh? Ia baru sadar Taehyung bersama seseorang? Ok, Jimin jadi ragu sekarang. Ia melambatkan langkahnya saat Taehyung masuk ke dalam toilet bersama sosok itu. Jimin menimbang apakah ia harus pergi atau meneruskan langkahnya, tapi pintu yang terbuka kecil membuatnya tergoda untuk masuk, maka dengan langkah kecilnya ia mengintip ke dalam. Taehyung tampak mencium bibir sosok tersebut dengan brutal dan keras, membuat Jimin bergidik saat sosok bersama Taehyung mencoba melepaskan diri, tapi percuma saja karna Taehyung menekan tubuhnya ke salah satu pintu cubical.
"Berhhh! TAEHYUNG BERHENTI!"
Jimin lebih terbelalak lagi sekarang karna-FUCK! ITU MIN YOONGI!
Bibir Taehyung malah berakhir di leher Yoongi, menjilat dan menggigit sampai pemuda itu mendesah tak karuan dan membuat Jimin menganga-Hell ya! Astaga! Apa-apaan ini? Apa ia sedang berkhayal atau bagaimana?
"Tapi aku merindukanmu," suara Taehyung terdengar lirih.
"Hmmhh," Yoongi hanya menggumam kecil ketika bibir Taehyung kembali menyambar bibirnya.
"Uh... Tae hentikan!"
Jimin menarik kepalanya mundur, jantungnya berdebar keras. Baru kemarin pemuda itu berkenalan dengannya tapi hari ini ia sudah berciuman dengan Taehyung? Lalu besok apalagi? Besok ia seks dengan Jongdae? Atau mengoral penis Namjoon? Atau foursome-an sama teman-temannya? Woah! Hebat sekali! Jimin merinding dan melangkah mundur dengan teratur.
Lalu Jungkook? Apa Jungkook tahu kalau- kalau- kekasihnya selingkuh? He! Tunggu! Sejak kapan Taehyung kenal sama Yoongi? Lalu... Ada hubungan apa Taehyung dan Yoongi dan yang terpenting... Yoongi itu siapanya Jungkook? Kekasihnya? Lalu kenapa? Kenapa ia ciuman sama Taehyung?
"Jimin?" suara berat itu menyadarkan Jimin dan ketika ia menoleh-WTH? WTF? WTS? ALAMAK! KENAPA JUNGKOOK DI SINI?
"JUNGKOOK?" teriak Jimin kencang, yang diteriaki hanya menutup mata sembari memiringkan kepala sedikit, agar mengurangi rasa pengang dari frekuensi teriakan Jimin.
"Benar... Benar Jimin? Hik."
"Ke-kenapa kau di si-" belum sempat Jimin mengucapkan kalimatnya secara utuh, bibirnya ditekan oleh benda lembut yang melumatnya agak kasar. Jimin membelakan matanya, terlalu kaget dan tak sanggup berkata-kata saat tangan Jungkook menarik tubuhnya mendekat, memeluknya dengan ketat dan erat tak berjarak. Bibir Jungkook menyatu sempurna dengan bibir Jimin, pemuda itu melumat bibirnya penuh gairah hingga Jimin merasakan pening di kepalanya. Tangan Jimin meraih dada bidang Jungkook, berusaha mendorong-dorong dadanya agar menjauh.
Berhasil!
Jungkook melepaskan bibir Jimin dengan tak rela.
"Hei baj-"
"Hei..." bisik Jungkook dengan nada kecilnya, ia mengusap pipi. "... I miss you."
Astaga!
... Ini di mana?! Aku siapa? Dia siapa? Ini kenapa?
Kepala Jimin bertambah pusing saat beban tubuhnya bertambah dan-
BRUK!
Keduanya jatuh di atas lantai dengan posisi awkward yang tak menyenangkan. Jungkook menimpa tubuhnya tepat ketika pintu toilet, terbuka, menampilkan Min Yoongi dengan mata membolanya yang begitu mengerikan.
"Jungkook!"
Well done, maka ini kali keempat ia ditatapi sinis oleh seseorang dan Selamat Park Jimin. Hari. Ini. Kau. Resmi. Di. Cap. Sebagai. Perusak. Hubungan. Orang!
HELL YA!
Jimin ingin pingsan saja sekarang!
.
.
.
To Be Continued
[Samarinda 29 Oktober 2016]
Reina Of El Dorado
